Kami berbeda.
Tentu saja, kami berdua sangat tahu akan hal itu. Orang luar tidak perlu memberi tahu kami.
Bagaikan langit dan bumi, perbedaan di antara kami terlampau bertolak belakang.
Biarkan kami yang mengatasinya. Ini hidup kami, tidak perlu campur tangan orang lain. Hanya aku dan dia yang memiliki perbedaan ini lah yang bisa.
Karena kami memiliki satu hal berharga yang akan menutup semua perbedaan itu.
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Story © Air Mata Bebek & Kira Desuke
.
Sasuke POV version
.
.
.
ROMANCE
.
.
.
Annoying
.
.
.
Demi Kami-sama, mengapa aku begitu bodoh?
Aku mengerang kecil bersamaan dengan kedua tanganku yang mencengkram rambut biru dongker milikku semakin keras, kakiku terasa lemas hingga aku membiarkan tembok di belakangku menyangga tubuhku agar tidak merosot jatuh. Aku menghela napas keras sampai terdengar menggema di sekitarku.
Aneh, mengapa aku jadi begini?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu terus memenuhi kepalaku. Tanpa bisa kutemukan jawabannya, aku terus membebani pikiranku dengan semua pertanyaan menyebalkan tersebut. Tentu saja, sebelum ini aku tidak pernah memikirkan apa yang akan terjadi pada seseorang jika aku mengatakan sesuatu yang menyakitinya. Lebih tepatnya, aku tidak peduli. Karena itulah aku masih ingat dengan jelas saat aku menduduki sekolah menengah pertama, selain dikenal dingin, aku juga cukup dikenal bermulut tajam.
Aku akan menghela napas lagi jika seandainya tidak ada suara yang menghentikan niatku tersebut, "Sasuke-kun..."
Kedua bola mataku membulat kaget. Tidak hanya karena aku mengenal suara itu, tapi juga karena terdengar nada lirih di sana. Kepalaku menoleh dengan cepat melihat ke arahnya yang masih berdiri di atas tangga. Sejak kapan dia di sana? Sudah berapa lama? Dia menatapku dengan kedua bola mata berkaca-kaca, seakan air matanya siap jatuh kapan saja. Aku sedikit tertegun, belum pernah kulihat ekspresinya yang seperti itu. Haruno Sakura yang kutahu selalu memasang senyum di wajahnya.
Kalau begitu... inikah ekspresi lain yang dimilikinya?
Kenapa melihatnya terasa begitu... menyakitkan?
Kenapa?
Kenapa?
Aku tidak mengerti.
Seolah tersadar aku membalas tatapannya, dia sedikit tersentak dan sempat kulihat tubuhnya bergetar. Gadis itu menggigit bibir bawahnya sebelum air matanya yang sedari tadi tertahan akhirnya mulai jatuh mengalir. Aku tersentak melihat itu sementara tangan kanannya mulai bergerak untuk menghapus air matanya sendiri.
Tanpa sadar kakiku melangkah sendiri, mencoba kembali menaiki tangga untuk mendekatinya. Bibirku terbuka ingin mengatakan agar jangan menangis, namun tidak ada satu kata pun yang keluar. Rasanya lidahku terasa kelu. Aku seperti ketakutan. Ketakutan karena melihatnya menangis. Hanya itu yang bisa kumengerti saat ini walau aku masih belum tahu mengapa. Mungkin alasan ini bisa kutemukan nanti.
"Sa—"
"Sakura!"
Mendengar suara orang lain yang memanggil namanya dari atas sana, membuatku menghentikan langkah. Aku dan dia sama-sama terkejut. Sakura reflek menghapus air matanya dalam sekali usapan dan cepat-cepat membalikkan tubuhnya sementara aku entah kenapa kembali menuruni tangga dan terdiam di turunan tangga yang kedua. Aku merasa heran pada diriku sendiri. Sekarang pertanyaan di kepalaku kembali bertambah...
Kenapa aku lari?
Kenapa sekarang aku menjadi pengecut?
Aku masih terdiam menyandar pada pegangan tangga. Entah mengapa kakiku enggan membawaku pergi dari sini. Seolah aku ingin mendengar percakapan antara dirinya dengan pemilik suara tadi yang sepengetahuanku adalah teman-teman dekatnya. Ketika kuperhatikan dari posisi ini, dia sudah memasang kembali senyum yang biasa dia tunjukkan pada orang-orang termasuk diriku.
Namun entah kenapa, sisi lain dari dalam diriku mengatakan...
...senyum itu palsu.
"Sakura, kau jangan langsung keluar dari kelas begitu dong! Membuat kami khawatir saja!" seru salah satu sahabatnya yang berambut pirang. Jika aku tidak salah, dia bernama Yamanaka Ino.
"Hahaha gomen gomeen~! Habis mereka menyebalkan sekali sih, membuatku jadi ingin cepat pulang saja ehehe." Balasnya seraya menggaruk belakang kepalanya.
"Tapi kan setidaknya kita bisa pulang bersama seperti biasa Saku, kau juga bisa menceritakan masalahmu pada kami."
"Iya benar. Sudah, mereka memang gila. Anggap saja omongan mereka sebagai angin lalu."
Dan pembicaraan mereka pun terus berlanjut seputar perempuan-perempuan menyebalkan tadi. Aku menghela napas dan memejamkan kedua mataku. Sepertinya sisanya bisa kuserahkan pada teman-temannya itu. Tidak ada gunanya juga aku berlama-lama di sini, lebih baik aku pulang. Sampai setidaknya lagi-lagi perkataan dari mereka menghentikan langkahku yang akan menuruni tangga.
"Sakura, maaf kalau pertanyaanku mengganggumu. Tapi... benarkah kemarin kau pulang bersama Uchiha-san seperti yang mereka katakan?"
Waktu mendengar pertanyaan itu, tubuhku menegang antara takut dan penasaran untuk mendengar jawabannya. Mengingat bagaimana kata-kataku tadi cukup menyakitinya, mungkin dia akan membalasnya sama seperti yang kulakukan. Cengkeramanku pada lengan ransel yang kukaitkan semakin mengerat. Dia terdiam sepersekian detik sampai akhirnya dia menjawab dengan senyum kecil di bibirnya.
"Iya benar, aku memang berjalan bersama Uchiha-san. Tapi itu kebetulan karena ternyata rumah kami searah. Tidak lebih. Lagipula bukankah sisanya sudah dijelaskan Uchiha-san tadi di kelas? Jadi tidak mungkin kami menjalani hubungan seperti yang mereka kira, hahahaha!" dia tertawa di akhir penjelasannya. Seperti mengikutinya, teman-temannya yang lain pun ikut tertawa bersamanya.
Sementara aku yang mendengar jawabannya dari bawah, tidak bisa berkata apa-apa. Setelah menyakitinya seperti tadi, aku tidak mempunyai hak untuk memarahinya karena telah berbohong seperti itu. Sangat susah untuk memberi tahu pada mereka bahwa saat ini kami sedang menjalani hubungan tanpa tahu alasannya. Aku tersenyum kecil. Dengan langkah pelan agar jangan sampai terdengar olehnya dan teman-temannya, aku kembali menuruni tangga.
Benar.
Mungkin lebih baik seperti ini.
#
.
.
.
#
Libur nasional yang diadakan Konoha adalah alasan mengapa sekolahku libur selama dua hari setelah hari dimana kejadian tersebut terjadi. Dan besok aku sudah kembali masuk sekolah seperti biasa. Aku menggerutu kesal, waktu selalu berjalan cepat saat kita tidak menginginkannya. Menyebalkan sekali.
Aku bangkit dari posisi tidurku sehingga sekarang aku duduk di atas kasurku. Kuputar posisiku sehingga aku bisa menyandar pada tembok di samping tempat tidur dan menatap pantulan wajahku pada cermin di seberang sana. Ekspresiku terlihat begitu kusut. Aku menggaruk belakang kepalaku melihat betapa berantakannya diriku sekarang.
Setelah cukup lama memandang pantulan diriku, aku mengangkat kepalaku dan menyandarkannya pada frame jendela di belakangku. Aku menarik napasku dalam-dalam lalu mengeluarkannya dengan keras. Memikirkan bagaimana dan apa yang harus kulakukan besok jika bertemu dengannya. Aaaaaaargh! Aku mengacak rambutku frustasi, aku belum pernah bingung berhadapan dengan perempuan sebelumnya.
Fuh, sepertinya aku mulai merindukan diriku yang lama.
Mendengar bunyi jam yang menyatakan bahwa waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam, membuatku tersadar. Aku segera berdiri dan mematikan lampu kamarku kemudian membaringkan tubuhku cepat—sebelum kaasan datang ke kamar dan marah melihatku yang masih belum tidur juga. Cukup lama aku menatap langit-langit kamarku sebelum akhirnya aku memejamkan kedua mataku dan pergi ke dalam alam bawah sadarku.
Keesokan harinya aku sudah terbangun dan segera bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Mungkin karena terlalu banyak pikiran, hari ini aku bisa bangun lebih pagi dari biasanya. Saat aku melangkah keluar dari pintu rumahku, matahari belum sepenuhnya menyinari bumi. Suasana masih cukup gelap walau tidak segelap gulita tengah malam.
Aku menghela napas pelan sebelum benar-benar menutup pintu rumahku dan berteriak meminta izin untuk berangkat pada kaasan di dalam. Kumasukkan kedua tanganku ke dalam saku celanaku dan mulai berjalan menuju sekolah yang kutempati saat ini.
Seiring dengan perjalananku, matahari mulai semakin bersinar hingga pagi hari pun terlihat lebih cerah dari sebelumnya. Aku tetap melangkah dengan tenang walau sebenarnya pikiranku kembali penuh sampai-sampai rasanya ingin sekali kuledakkan kepalaku sendiri. Kupejamkan mataku erat dan menggeleng kecil, lupakan Uchiha Sasuke... lupakan...
Dia hanya... gadis yang sama seperti yang lain.
Iya, itu benar.
...hanya?
Lalu kenapa aku memintanya menjadi kekasihnya?
Aaaaarghhh! Sekarang pertanyaannya justru jauh lebih rumit. Tanganku mengepal lalu memukul dahiku sendiri dengan pelan. Entah sudah berapa kali aku menarik napas dan mengeluarkannya—aku tidak mau menghitungnya. Benar-benar... Rasanya aku seperti kekurangan udara di bumi ini.
Aku berhenti ketika akhirnya aku sampai di depan gerbang sekolahku. Sekali lagi aku menghela napas keras, sekolah pasti masih sangat sepi sekarang. Biarlah, toh aku masih bisa tidur di kelas nanti. Kupejamkan mataku lalu membukanya sebelum melangkah masuk ke dalam halaman sekolahku ini.
"Sasuke-kun."
Aku tertegun saat itu juga ketika mendengar suaranya memanggilku. Dengan cepat aku menoleh dan membalikkan tubuhku. Seperti dugaanku, dia sedang berdiri beberapa meter jaraknya di belakangku. Kami saling memandang satu sama lain. Ekspresinya hampir sama seperti waktu terakhir kali kami bertatapan sedangkan aku... aku sudah tidak tahu lagi seperti apa ekspresi yang saat ini tertera di wajahku. Bahkan aku sudah tidak mempedulikan mengapa dia datang ke sekolah sepagi ini.
"Ano ne... sebelumnya... aku ingin minta maaf jika aku pernah mengatakan hal-hal yang menyakitimu dan..." dia terlihat menarik napas dalam-dalam. Kedua bola mata hijau emerald miliknya seolah enggan menatapku setelah mengatakan kalimat yang menggantung itu. Aku juga sama, sudah beberapa kali aku melirik ke ujung bawahku. Kami saling menghindari tatapan satu sama lain. Hanya saja sikapku jauh lebih tenang daripada dia.
Mulutku masih membisu saat gadis itu kembali melanjutkan, "...setelah kupikir berulang kali, kita juga... memiliki hubungan khusus seperti ini tanpa tahu alasannya jadi... lebih baik..." seakan sudah tahu kemana pembicaraan ini akan berhenti, aku memejamkan mata pelan. Mendengarkan baik-baik kata-kata selanjutnya yang akan dia ucapkan.
"...bagaimana kalau kita sudahi saja hubungan ini?"
Pertanyaan itu sangat jelas masuk ke dalam telingaku. Terlebih aku memang sengaja memfokuskan diri dengan kata-katanya. Aku melirik dirinya dengan bola mata onyx milikku. Dia berkali-kali menundukkan kepalanya lalu mengangkatnya lagi. Hanya perasaanku saja atau memang dia berusaha terlihat tegar di hadapanku? Terutama senyum kakunya itu.
Ya sudahlah, mungkin itu tidak penting lagi untuk sekarang.
Apa yang dia katakan ada benarnya. Tidak, bukan tidak mungkin semua yang dia katakan memang benar. Baik aku maupun dia sama sekali tidak memiliki alasan atas dasar hubungan yang kami terima ini. Aku kebetulan menyatakannya lalu dia kebetulan menerimanya. Hanya itu. Benar, semua ini adalah kebetulan semata. Benar... kan?
Aku dan dia yang membuat hubungan ini tidak diketahui oleh siapa pun.
Jadi...
"Iya, aku mengerti."
Aku dan dia juga yang akan mengakhiri hubungan ini tanpa perlu diketahui siapa pun.
Tidak perlu ada yang tahu, cukup kami berdua.
Dengan senyum tipis yang terasa begitu perih, aku membalikkan tubuh dan membelakanginya. Rasanya punggungku terasa begitu berat dan aku tidak ingin menoleh ke belakang lagi untuk beberapa waktu ke depan setelah ini. Hal bodoh seperti waktu itu dan sekarang... tidak boleh terulang lagi dalam hidupku. Aku berjanji pada diriku sendiri. Namun, ada satu hal yang kusesali—
—aku belum menemukan jawaban dari semua pertanyaanku.
"Sudah selesai..."
.
.
.
To be Continued
.
.
.
Terima kasih pada semua readers yang telah mereview fic kami :)
