Author : jinluuu

Title : Neo Ttaemune / Chapter 4 [KaiHun]

Cast : Oh Sehun, Kim Jongin

Other Cast : Do Kyungsoo, Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Key as Kibum Saem, Kris,

Tao (Other cast bisa berubah di setiap chapter)

Genre : Romance, Friendship, YAOI, Typo(s)

Rate : T

.

.

.

Neo Ttaemune Chapter 4

Jongin POV

Aku bukan tak ingin bersosialisasi dengan mereka. Namun bagiku hanya ada aku, Luhan Hyung, dan Kyungsoo Hyung saja sudah cukup membuatku bahagia. Tak apa jika aku tak punya teman di sekolah. Pada dasarnya aku memang tidak mudah mempercayai orang lain. Ini semua karena wanita itu! Aku tak akan pernah lagi mempercayai siapapun! Bahkan aku tak mempercayai kedua orang tuaku sendiri. Beginilah aku. Aku tak melarang mereka untuk membenciku. Silahkan! Aku tidak peduli jika mereka menganggapku angkuh dan tak tahu diri.

Angin membelai rambutku lembut. Dari tempat ini aku bisa merasakan apa itu kebebasan. Dan hanya tempat ini satu-satunya yang tampak tak tersentuh oleh keramaian di sekolah ini. Aku tidak suka dengan keramaian. Apalagi jika banyak wanita di sekelilingku.

Kutatap ponsel yang kini tengah kugenggam. Hanya nama Kyungsoo Hyung yang terbersit saat ini. Jari-jariku mulai mencari namanya di phone book dan kuakhiri dengan menyentuh icon berwarna hijau di ponselku.

"Yeoboseyo?" suara yang selalu membuat jantungku berdebar kencang itu menyahut. Tanpa harus kuperintah, bibirku terangkat menyunggingkan sebuah senyuman. Cukup mendengar suaranya saja aku benar-benar merasa tenang. Aku tak butuh obat penenang lagi jika Kyungsoo Hyung ada bersamaku.

"Hyung, kau sedang apa eoh? Apa aku mengganggumu?" ujarku sedikit berbasa basi. Aku tahu jika aku pasti mengganggunya. Dia pasti sedang bekerja part time atau sibuk dengan kuliahnya.

"Mianhae, Jongin-ah. Aku sedang bersama Profesor. Aku benar-benar sibuk sekarang. Bisa kau hubungi aku nanti?" pintanya dan tebakanku memang benar. Senyumku bergati menjadi sebuah rasa kecewa.

"Baiklah, Hyung. Aku akan menghubungimu lagi." Walau bagaimanapun aku harus menyembunyikan rasa kecewaku. Tak ingin membuatnya terganggu dan khawatir. Dengan cepat kuakhiri panggilan kami. Aku terdiam sejenak hingga layar ponselku meredup dengan sendirinya. Andai saja kau tahu jika aku menyukaimu, Hyung~

"Jangan menyentuhnya!" tiba-tiba saja suara seseorang membuatku menoleh. Sehun? Dan eh? Siapa wanita ini?

.

.

.

Author POV

"Jangan menyentuhnya!"

Jongin menoleh dengan kaget. Ia mengerutkan keningnya saat seorang yeoja bermasker sudah berdiri di belakangnya ditambah Sehun yang tiba-tiba saja berteriak dari ambang pintu.

Sehun berjalan dengan langkahnya yang besar-besar mendekat ke arah mereka berdua.

"Apa yang kau lakukan?" ujar Sehun pada yeoja yang kini sudah bersiap untuk melarikan diri. Dan dalam hitungan seper sekian detik yeoja itu melesat pergi.

"Cih, yeoja aneh." Dengus Sehun lalu ia menoleh dengan pelan ke arah Jongin. Namja itu tengah menatapnya dengan datar.

"Mwo? Dia ingin melakukan sesuatu padamu!" ujar Sehun seolah mengerti dengan tatapan seram itu.

"Memangnya kenapa jika dia ingin melakukan sesuatu padaku?"

Sehun menggerakkan bola matanya sebal.

"I-itu~" Sehun tak melanjutkan ucapannya. Ia sedikit ragu untuk mengatakan bahwa ia sudah tahu jika Jongin fobia pada wanita.

Tak ada respon apapun dari Jongin. Suasana canggung terlihat menggantung. Sehun sibuk memainkan ujung seragamnya sementara Jongin kembali melemparkan pandangannya ke arah lain.

"Ya!" Sehun berusaha memecah keheningan di antara mereka. Alisnya sedikit naik saat Jongin tak merespon panggilannya.

"YA!" Ujar Sehun sekali lagi. Kali ini Jongin menoleh. Sedikit.

"Bisakah kau pergi dari tempat ini?" usir Sehun yang diakhiri dengan tatapan tajam Jongin kepadanya. Sehun melempar tatapan menantangnya pada Jongin.

"Wae? Aku juga membayar untuk semua fasilitas di sekolah ini."

"Tidak bisa! Ini tempatku dan juga Chanyeol! Aku mau istirahat disini! Kau tak boleh menggunakannya!" Sehun semakin meninggikan suaranya membuat Jongin merasa risih. Namun pria tan itu sekali lagi tak menghiraukan Sehun. Ia memasang headphone yang sejak tadi menggantung di lehernya dan memutar musik dengan volume keras hingga tak ada suara lain yang bisa didengar olehnya.

"Aissshhhh Kim Jongin!" dengus Sehun kesal. Ia menggembungkan pipinya lalu meninggalkan Jongin yang sudah tenggelam dalam dunianya. Percuma saja jika berbicara dengan Jongin.

"Apa-apaan dia itu? Kemarin dan tadi pagi dia baik padaku. Sekarang? Micheosseo!" Sehun menggerutu sepanjang jalan. Saking kesalnya ia menendang sebuah tempat sampah di bawah tangga hingga isinya berserakan. Dan sial! Kibum melihat aksi brutalnya.

"YA KAU YANG ADA DISANA!" teriak Kibum dan seketika membuat langkah Sehun terhenti.

"Mati aku!" umpat Sehun yang bersiap melarikan diri. Namun Kibum segera berlari ke arah Sehun dan menatapnya dengan mata yang hampir saja keluar dari rongganya. Sehun hanya bisa menelan salivanya dengan kasar dan disusul dengan sebuah cengiran bodoh.

.

.

.

Sehun POV

Sial! Bagaimana mungkin aku harus membuang sampah sebanyak ini? Apa Seonsaengnim gila? Ini sudah begitu larut. Tapi hukumanku masih juga belum selesai. Hanya karena menendang tempat sampah. Aku yakin Eomma akan mengomeliku saat aku pulang nanti. Terang saja! Jongin pasti akan mengadu padanya jika aku dihukum! Dan aku tak akan bisa mengelak!

"Kenapa hidupku harus seperti ini~ Aissh aku benar-benar lapar." Tak ada makan siang hari ini karena aku harus berdebat dengan si bodoh itu! Dia benar-benar membuat waktuku terbuang sia-sia! Kulihat jam besar yang menempel di dinding menara di depan sekolah. Sudah pukul 6. Aku harus cepat-cepat! Sambil setengah berlari tanganku dengan susah payah menjinjing 2 kantong besar sampah menuju tempat pembuangan di belakang gedung sekolah. Setelah selesai aku pun segera melesat pergi mengingat berbagai cerita menyeramkan yang banyak beredar.

.

.

.

Kuperhatikan pria berambut semi keriting itu dengan seksama. Sedang apa dia? Sejak kapan dia senang bermain-main dengan benda seperti itu?

"Chanyeol!" panggilku yang hanya direspon dengan sebuah gumaman. Ia tampak begitu serius dan tak bisa diganggu.

"Sejak kapan kau jadi feminim seperti itu?" cibirku dan ia melirikku sekilas lalu kembali pada pekerjaannya.

"Diamlah Oh Sehun! Kau pikir hanya yeoja saja yang bisa melakukan hal ini?" ujarnya. Aku meletakkan komikku dan mendekat kepadanya. Ia tengah menjahit sebuah huruf di dada sebelah kanan sweater rajutan polos berwarna biru langit. Dan jari-jari Chanyeol dipenuhi dengan plester. Dasar! Dia memang terlalu memaksakan diri.

"B? Byungseok? OMO! Kau benar-benar ingin merayu Eomma-ku?" aku tak mengerti dengan anak ini. Jadi dia memang menyukai Eomma?!

"Yang benar saja Oh Sehun! Jangan sok tahu ya! Apa kau gila? Menjauh! Jangan menggangguku! Kau hanya akan merusak konsentrasiku saja! Dan lagi untuk apa kau datang ke rumahku? Hanya untuk membaca komik? Bukankah koleksi komikmu lebih lengkap dari pada komik-komikku?"

"Jadi aku tak boleh main kesini? Kau mengusirku? Baiklah! Aku pulang! Lanjutkan saja pekerjaan bodohmu itu!" aku pun segera beranjak dari kamar Chanyeol dan membanting pintu kamarnya dengan keras.

"Chanyeol ada apa?" teriakan Eommanya terdengar samar di telingaku. Mungkin ia sedang berkebun di taman belakang. Dengan cepat kakiku melangkah keluar dari rumahnya tanpa sempat berpamitan pada Eomoni.

Setelah berjalan cukup jauh aku memperlambat langkahku karena mulai merasa lelah. Terik matahari bisa-bisa membuat kulitku menjadi gosong! Aissssh bahkan matahari pun~ Kenapa semua orang begitu menyebalkan eoh? Padahal aku datang ke rumahnya karena di rumah pun Eomma tak berhenti mengomeliku. Isshhh! Apa aku kembali ke rumah saja dan menghabiskan akhir pekanku bersama omelan Eomma? Aniyo! Aku tak boleh berakhir menyedihkan!

"Aisshh! Ya! Tak bisakah kau turunkan layang-layangku, pohon bodoh?" aku sedikit memicingkan mataku kemudian menghentikan langkahku di sebuah tempat yang tidak begitu ramai. Seorang anak kecil tengah marah-marah di bawah pohon besar sambil mendongak ke atas. Tangannya memegangi sebuah bambu panjang dan menggerakkannya dengan susah payah. Kepalaku ikut terangkat mengikuti arah pandangnya. Wah! Tinggi sekali! Bagaimana mungkin anak pendek itu bisa mendapatkannya? Aku pun menghampiri anak itu bermaksud untu menolongnya.

"Kau kenapa eoh?" ujarku sedikit membungkuk untuk mengimbangi tingginya yang hanya sebatas pinggangku. Ia seperti terkejut dengan kedatanganku lalu tangan kecilnya dengan refleks melepas bambu panjang tersebut hingga mengenai kepalaku. Aku tak sempat menangkapnya.

"Sakit tahu!" bentakku sambil memegangi kepalaku yang sebentar lagi pasti akan segera benjol.

"Mian, Hyung! Habisnya kau datang tiba-tiba! Aku kaget tahu!" ia balas membentakku dan aku hanya membelalakkan mataku kaget. Apa-apaan anak ini? Dia benar-benar kurang ajar! Aku menyesal karena sudah menghampirinya.

"Heh, kau itu~"

"Mwo?" wajahnya benar-benar terlihat nyolot. Ingin sekali menjitak kepalanya saat itu juga. Tenang Oh Sehun... Dia hanya anak kecil. Jadi maklum saja jika dia bersikap seperti itu. Aku pun segera memungut bambu yang tergeletak di rumput dan mencoba melakukan hal serupa dengan apa yang anak ini lakukan tadi. Aku sudah berusaha berjinjit dan melompat, tapi rasanya layang-layang itu sulit sekali untuk dijangkau.

"Jika memang tak bisa, dari awal kau tak perlu sok sok-an ingin menolongku!" cibir anak menyebalkan itu yang kini tengah menontonku dengan kedua tangan terlipat.

"Ya! Setidaknya kau harus mengucapkan terimakasih padaku! Aishh kau itu masih kecil tapi cara bicaramu benar-benar tak terlihat seperti anak kecil!" ucapku geram. Ia hanya memutar bola matanya yang besar kemudian mencibirku dengan gayanya yang menyebalkan.

"Aisshh jika ada Kris Gege dia pasti sudah bisa mengambilnya! Kau itu memang pendek jika dibanding dia!" anak itu kembali meneriakiku. Gege? Dia bukan orang Korea?

"Pendek? Aku? Apa Gege-mu itu tiang listrik? Aishhhh benda ini benar-benar tidak berguna!" aku pun membanting bambu dengan kesal. Merepotkan! Aku melirik anak itu sekilas.

"Hyung juga tak berguna!" ia kembali mengambil bambu yang sudah kubuang dan mengangkat benda itu tinggi-tinggi. Anak bodoh. Aku saja tak sampai apalagi dia?-_- Tak ada cara lain. Aku pun mendekat ke arah pohon dan mulai memanjatnya.

"H-Hyung! Apa yang kau lakukan?!" anak itu berteriak dengan suara yang bisa memecahkan gendang telinga siapa saja.

"Kau diam saja! Aku akan mengambilnya!" ini pertama kalinya aku harus memanjat pohon setinggi ini! Tapi ini tidak begitu sulit untukku. Karena waktu kecil aku dan Hyung selalu memanjat setiap pohon di kebun belakang rumah sehingga aku menjadi terlatih seperti ini.

"Hyung~ Turunlah! Huks.. Huks..." aku yang sudah memanjat setengah jalan, menoleh ke bawah. Kulihat anak itu menangis sambil terus menyuruhku untuk turun.

"H-hei, kau kenapa? Ini sudah terlanjur!" aku kembali memanjat dan tidak menghiraukan tangisannya yang semakin keras. Dasar anak aneh.

Aku terus memanjat hingga sampai di sebuah dahan yang cukup kokoh dimana layangan anak itu tersangkut. Dengan hati-hati aku merangkak, berusaha meraih benda tipis itu dengan tanganku.

"S-s-sedikit.. lagi!"

Dapat! Aku sudah memegangi benda itu.

Krek!

"Hyung! Huaaa! Huaa! Dahannya pat-patah!" anak itu semakin meraung-raung. Gawat! Jika aku jatuh aku pasti akan mati! Tuhan, apa aku akan berakhir seperti ini?

"Tao! Kau kenapa?" tiba-tiba saja sebuah suara berat terdengar mendekat. Seorang pria tinggi menghampiri anak kecil itu.

"Kris Gege!"

Aigooo! Masih sempat-sempatnya mereka berpelukan di saat aku sudah hampir mau mati? Aku hanya memeluk dahan pohon dengan erat tanpa bisa bergerak sedikit pun.

Krek!

"YAAAA OTOKHAE?" teriakku dan 2 orang itu mendongak.

"HYUNG!"

"MELOMPATLAH! AKU AKAN MENANGKAPMU!" teriak pria itu sambil merentangkan kedua tangannya. Apa dia gila? Tapi ini terlalu tinggi!

"PPALI!"

Aku seperti melayang.

Dan bebas.

BRUK

Rasa sakit menjalar di seluruh tubuhku dan semuanya berubah menjadi gelap.

.

.

.

Author POV

Chanyeol terus menggigiti bibirnya dan menimang-nimang tas karton berwarna biru langit di tangannya. Ia ragu untuk masuk ke dalam. Sudah 30 menit ia berdiri dengan gelisah di depan pintu cafe. Cemas dan takut jika Baekhyun tak akan menerima pemberiannya. Bahkan mungkin saja Baekhyun masih marah karena kejadian tempo hari itu. Tapi pria tinggi ini memang berkepala batu. Lebih tepatnya, tak tahu malu? Sedikit.

"Park Chanyeol, fighting!" ia menyemangati dirinya sendiri. Kemudian kaki panjangnya hendak melangkah ke dalam cafe namun matanya lebih dulu menangkap sosok mungil yang berlari dengan terburu-buru sambil menyebrang jalan. Chanyeol dengan cepat menyembunyikan tas yang dijinjingnya di belakang punggung. Tampaknya Baekhyun tak melihat Chanyeol yang berdiri disana. Padahal penampilannya benar-benar mencolok. T-shirt berwarna kuning cerah dipadukan dengan skinny jeans berwarna orange dengan sneaker berwarna senada sehingga membuatnya terlihat begitu silau. Tak hanya satu dua orang yang melirik Chanyeol sejak tadi. Namun hampir semua orang yang lewat cafe melirik ke arahnya heran karena melihat wajah Chanyeol yang seperti menahan pipis. Padahal ia hanya sedang berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.

"Cho-chogiyo!" Chanyeol memberanikan diri memanggil Baekhyun yang kini tengah mendorong pintu masuk di depannya. Pria mungil itu berhenti, kemudian menoleh.

"Kau?" bisa dipastikan jika raut wajah Baekhyun berubah drastis. Ia menaikkan sebelah alisnya kesal. Pria mungil itu membuang nafasnya kasar kemudian menutup kembali pintu dan berbalik menghadap Chanyeol. Ia menarik nafasnya dalam, mencoba menenangkan hatinya yang masih kesal pada bocah di depannya.

"Mau apa lagi kau kesini?" tanya Baekhyun ketus tapi berusaha untuk tidak membuat intonasinya meninggi. Ia tak ingin membuat keributan lagi. Menatap sinis Chanyeol yang tampak begitu gugup.

"A-aku ingin memberikan ini padamu!" Chanyeol menyodorkan tas karton yang sejak tadi ia bawa. Baekhyun mengerutkan dahinya bingung dan tak kunjung mengambil benda yang disodorkan Chanyeol.

"Ambillah!" pinta Chanyeol sekali lagi.

"Shireo! Apa kau sedang menyogokku agar aku memaafkanmu atas sikap mesummu tempo hari?" ujarnya skeptis. Baekhyun menatap Chanyeol tajam. Tak terbersit sedikitpun pikiran baik tentang bocah ini di otaknya. Chanyeol dengan cepat menggelengkan kepalanya.

"Aniyo! Aku tidak sedang menyogokmu! Aku hanya ingin memberikan ini saja padamu! Kurasa kau akan membutuhkannya jika pulang malam." Ujar Chanyeol panjang lebar namun Baekhyun hanya memutar bola matanya lalu tersenyum sinis.

"Tak perlu." Ia pun melangkahkan kaki pendeknya ke dalam cafe tanpa bisa Chanyeol cegah.

"Aisshhhhh!" tangan besarnya mengacak rambut semi keritingnya dengan gemas. ia benar-benar tak habis pikir dengan sikap Baekhyun yang begitu sinis kepadanya.

"Aku harus mencari cara lain untuk mendapatkanmu, Byun Baekhyun!" ujar Chanyeol menggebu. Ia pun menjauh dari cafe dengan lemas sambil menatap sendu benda di tangannya.

"Padahal sudah kukerjakan dengan susah payah." Ia mengacungkan kelima jarinya yang dipenuhi plester. Luka-luka tusukan jarum akibat menjahit sebuah huruf B di sweater yang kemarin sengaja dibelinya. Berjalan menunduk seolah beban berat menumpuk di kepalanya. Namun lebih terlihat seperti sedang mencari koin yang terjatuh. Ia kembali mengangkat wajahnya kemudian mencoba mempertajam penglihatannya.

"Itu kan Kim Jongin?" memperhatikan Jongin yang berjalan beriringan bersama Kyungsoo di sebrang sana.

"Bersama pria yang kemarin? Kalau begitu Jongin mengenal Baekhyun?!" ujarnya histeris. Ia menutup mulutnya tak percaya. Kemudian menurunkan tangannya yang mengepal karena terlalu senang.

"Yes! Aku punya ide." Ia pun tak berhenti menyunggingkan senyum lebarnya sepanjang jalan dan membuat orang-orang menatapnya takut.

.

.

.

Sehun masih belum membuka matanya juga. Tao sejak tadi setia menunggui Sehun yang kini tengah terbaring di ranjang miliknya. Ia sudah tak menangis lagi. Hanya saja semua perasaan bersalah terhadap Hyung yang baru ia temui tadi siang itu membuatnya tak mau meninggalkan Sehun barang satu inchi pun.

"Tao, dia masih belum bangun?" Kris muncul dengan nampan berisi makanan lalu meletakkannya di meja belajar Tao. Pria kecil bermata panda itu hanya menggeleng pelan.

"Apa dia akan bangun lagi?" Tao menatap Sehun cemas dengan wajah cemberut.

"Sebentar lagi dia pasti akan bangun." Kris berusaha meyakinkan Tao yang terlihat murung.

"Ini semua gara-gara aku." Air mata Tao sudah menggenang di kedua pelupuk mata besarnya. Melihat adiknya yang terus-terusan merasa bersalah, ia pun menghampiri Tao lalu menepuk kepalanya pelan.

"Jangan takut. Terus bangunkan dia, arachi? Setelah dia bangun kau suruh dia makan. Dan kau juga harus makan, anak pintar!" ucapan Kris membuat Tao mengangguk. Pria tinggi itu pun pergi meninggakan mereka berdua.

"Hyung, ireona~" Tao mengguncang lengan Sehun cukup keras tapi masih tak ada respon darinya.

"Hyuuung~" rengeknya lagi.

"Eungghh~" Sehun tiba-tiba saja menggeliat sambil menguap lebar. Tao hanya mengerutkan dahinya bingung. Mata kecil Sehun terbuka sedikit demi sedikit kemudian mengerjap beberapa kali.

"Dimana aku?" Sehun celingukan kemudian kembali menguap. Ia memperhatikan sekeliling ruangan yang tidak terlalu luas itu kemudian tatapannya berakhir pada Tao yang duduk di samping ranjang yang tengah ia gunakan.

"Kau? Dimana aku?" tanyanya bingung.

"Huks..." Tao kembali terisak dan membuat Sehun terkejut.

"Y-ya, wae~"

"Hyung! Akhirnya kau bangun juga! Aku benar-benar takut!" Tao memeluk tubuh besar Sehun dengan kedua tangan pendeknya. Sehun tak melarang Tao untuk memeluknya kemudian membalas pelukan anak yang beberapa jam lalu membuatnya naik darah. Ia menepuk punggung Tao pelan.

"Gwaenchana. Kau lihat kan aku masih bisa bangun? Lagian aku masih belum punya pacar jadi aku tak mau mati dulu." Ia menjauhkan tubuh mungil Tao lalu menatap wajah anak itu lekat-lekat. Di mata Sehun ia terlihat lucu saat tidak marah-marah seperti tadi.

"Memangnya Tuhan akan menunggumu dulu hingga kau punya pacar? Kematian bisa datang kapan saja Hyung."

Sehun menatap Tao takjub. Bahkan anak sekecil ini memiliki pemikiran yang jauh lebih dewasa dibandingkan Oh Sehun.

"Aisshhh aku hanya bercanda hahahaha!" Sehun menggaruk kepalanya yang memang terasa gatal. Ia benar-benar malu oleh ucapan Tao yang bahkan baru menginjak kelas 4 SD.

"Ngomong-ngomong siapa namamu?" Sehun yang merasa bodoh dihadapan anak kecil dengan segera mengalihkan topik pembicaraan.

"Huang Zitao! Kau bisa memanggilku Tao!" ujar Tao begitu semangat. Sehun mengangguk-angguk kemudian tersenyum.

"Aku Sehun. Kau mau tahu asal usul namaku?" Sehun bersiap menceritakan sejarah namanya.

"Tidak Hyung." Ucap Tao dengan segala kepolosannya. Jika saja suara 10 desibell bisa terdengar oleh telinga mereka, mungkin suara retakan hati Sehun sudah seperti suara mangkuk porselen yang di banting hingga pecah. Sehun menepuk-nepuk dadanya untuk menenangkan diri. Penolakan Tao lebih kejam dibandingkan dengan ia tak diberi uang jajan oleh Eomma-nya selama satu minggu penuh.

"Hyung, lebih baik kau makan dulu. Kris Gege menyuruh kita untuk makan tadi. Aku juga sudah lapar." Tao memegangi perutnya dengan wajah memelas.

"Tao, aku harus segera pulang. Ini sudah malam." Sehun menunjuk jam weker berbentuk Panda yang terletak di atas meja belajar Tao. Sudah pukul 8 malam.

"Yaahh padahal kau bisa makan sebentar saja." Tao mengerucutkan bibirnya membuat Sehun mencubit pipinya gemas.

"Jangan seperti itu. Lain kali aku akan mentraktirmu! Otte? Oh iya, aku ingin bertemu dengan Hyung-mu sekalian pamit." Sehun memijakkan kakinya di lantai kayu yang terasa dingin kemudian beranjak dari ranjang. Ada beberapa bagian tubuhnya yang terasa sakit dan perih.

"Baiklah. Ikut aku!" Tao pun ikut berdiri lalu tangannya memutar knop pintu. Namun rupanya Kris sudah berdiri di depan kamarnya hendak memeriksa keadaan Sehun.

"Eh, kau sudah bangun?"" ujar Kris yang masih berdiri di ambang pintu.

"A-anyeonghaseyo! Kamsahamnida karena sudah menolongku!" Sehun membungkuk dalam sambil memegangi punggungnya yang terasa sakit. Ia hanya meringis pelan.

"Apa itu sakit?" Kris menghampiri Sehun dengan cemas.

"Sedikit." Memberi cengiran bodohnya agar orang lain tidak khawatir.

"Jika besok masih sakit, kau bisa datang ke klinik tempatku bekerja." Kris memberikan sebuah kartu nama pada Sehun yang langsung dibaca oleh pria berkulit putih itu.

"Kau seorang dokter?" ujar Sehun antusias. Kris hanya mengangguk pelan disertai dengan senyum hangatnya.

"Maaf, jika adikku merepotkanmu." Kris pun membungkuk dan memberi isyarat pada Tao dengan matanya agar anak itu ikut membungkuk.

"A-ah gwaenchana." ia merasa salah tingkah dan kembali tersadar saat melihat jam yang sudah menunjukkan waktu yang cukup larut.

"Jwesonghamnida! Aku harus segera pulang! Sekali lagi kamsahamnida karena sudah menolongku." Sehun sedikit membungkuk.

"Maaf aku tak bisa mengantarmu~" Kris mengangkat sebelah alisnya, tak tahu harus memanggil Sehun apa.

"Sehun. Namaku Oh Sehun."

"Maafkan aku Sehun-ssi. Mobilku sedang di bengkel. Tak apa jika aku tak mengantarmu pulang?"

"Gwaencahana. Aku bisa pulang sendiri. Annyeong!" Sehun pun melangkah pergi bersama Tao yang begitu ingin menemaninya hingga ke pintu depan.

"Hyung, hati-hati!" Tao seperti tak rela saat harus membiarkan Sehun pulang ke rumahnya. Pria itu melambaikan tangannya lalu menghentikkan lagkahnya sesaat di depan pgar rumah bergaya minimalis itu. Ia begitu familiar dengan suasana di sekitar sini. Dan rupanya dugaannnya memang benar. Pria tinggi dengan rambut semi keriting keluar dari rumah di depannya.

"Chanyeol?" pekik Sehun membuat Chanyeol menoleh.

"Sehunnie?!"

"Jadi Hyung jelek itu temanmu, Sehun Hyung?" Tao ikut antusias melihat pertemuan 2 makhluk kekanakkan di depannya.

"Siapa yang kau bilang Hyung jelek, anak nakal?!" teriak Chanyeol hingga suara baritonnya membuat Sehun menutup telinganya. Tao yang takut melihat Chanyeol segera berlari ke dalam rumah.

"Kris Gege!"

Sehun mati-matian menahan rasa sakitnya saat berjalan bersama Chanyeol. Sepertinya insiden tadi membuat kakinya terkilir dan sakitnya baru terasa sekarang. Jalannya memang sedikit pincang dan membuat Canyeol curiga.

"Kakimu kenapa?" Chanyeol memicingkan matanya.

"Gwaenchana." Jawab Sehun singkat. Ia masih marah karena kejadian siang tadi. Ia masih kesal karena Chanyeol mengabaikannya.

"Ya Oh Sehun, maafkan aku. Kau tahu? Aku benar-benar menyesal karena tadi mengusirmu. Dan yah, karma memang berlaku. Dia mengusirku." Chanyeol memajukan bibirnya. Hatinya benar-benar patah bahkan tak ada lem yang mampu merekatkannya lagi.

"Dia itu siapa? B?" Sehun melirik Chanyeol yang masih tertunduk.

"Eoh." Sahutnya lemas. Ia mendesah panjang kemudian menjambakki rambutnya kesal.

"Rasakan!" ujar Sehun puas. Ia menjulurkan lidahnya setengah mengejek.

"Eiiii! Berani kau ya!" tangan besar Chanyeol melingkar di leher Sehun.

"Ya! kau mau membunuhku? Lepas!"

"Byun Baekhyun?" Canyeol dengan cepat melepas Sehun hingga pria itu sedikit terpelanting. Mata Sehun memperhatikan langkah Chanyeol dan matanya menangkap 2 pria mungil di depan sana tengah dikepung 4 orang berandalan. Dengan langkah tertatih Sehun pun mengejar Chanyeol.

"YA! Apa yang kalian lakukan pada mereka?!" teriak Chanyeol geram dan membuat si ketua geng menoleh ke arahnya.

"Rupanya ada jagoan disini. Habisi dia!" pria bertattoo naga dan anak buahnya itu segera menyerang Chanyeol tanpa aba-aba. Untung saja Chanyeol diberkahi kemampuan bela diri yang lumayan jago. Ia dengan gesit bisa menghindari pukulan-pukulan mereka. Sehun datang dengan keringat dingin di dahinya. Ia merasa bodoh. Kenapa dia harus mendekat ke area berbahaya? Ini benar-benar bukan keahliannya. Tapi saat melihat Chanyeol dalam bahaya, ia tak mungkin meninggalkannya begitu saja.

"Apa kalian baik-baik saja?" ujar Sehun pada Kyungsoo dan Baekhyun yang tengah saling menggenggam tangan dengan erat. Air mata Baekhyun sudah meleleh di pipinya. Di lubuk hatinya yang paling dalam ia begitu khawatir jika terjadi sesuatu pada Chanyeol yang kini tengah berkelahi dengan mereka.

"Ada pengganggu lagi rupanya!" ujar suara di belakang mereka bertiga. Sehun segera berbalik dan ia menelan salivanya dengan kasar.

"Ma-mau apa kau?" Sehun berdiri di depan Kyungsoo dan Baekhyun. Ia berusaha melindungi 2 pria mungil itu agar tak tersentuh oleh berandalan itu.

"Mau apa? Rasakan!"

BUGH!

Sebuah pukulan membuat Sehun terhempas begitu saja. Ia tak bisa melawan. Ia tak tahu bagaimana caranya berkelahi. Jika memanjat dan mengganti lampu, itu baru ahlinya dia. *apa ini-_-*

"Oh Sehun!" teriak Chanyeol saat melihat Sehun kini tersungkur di aspal. Sehun merasakan asin dan perih di sudut bibirnya. Darah segar menetes di bajunya.

"Pria lemah!" ujar pria bertattoo itu hendak memukul Sehun sekali lagi. Namun sebuah tangan menahan pergerakkannya.

"Jongin!" teriakan Kyungsoo membuat Sehun mendongak. Jongin menghabisinya tanpa ampun. Begitu pun Chanyeol yang sudah membuat 3 pria lainnya tak berkutik lagi dan melarikan diri.

"Gwaenchana?" Kyungsoo menyodorkan sebuah sapu tangan pada Sehun yang disambut Sehun dengan cengiran garingnya. Ia meraih sapu tangan itu lalu membersihkan darah di sekitar bibir dan dagunya diiringi dengan ringisan kecil menahan sakit. Jongin dan Chanyeol segera menghampiri mereka dengan cemas.

"Hyung, apa ada yang terluka? Dimana yang sakit?" Jongin terlihat begitu khawatir sambil terus memeriksa keadaan Kyungsoo. Pria itu hanya menggeleng pelan sambil tersenyum. Sehun melirik ke arah mereka berdua. Kenapa rasanya begitu sakit?

"Sehunnie? Kau baik-baik saja kan?" Chanyeol mengguncang tubuh Sehun yang terlihat melamun hingga membuatnya berjengat kaget.

"Tentu saja! Hehe~" hanya cengiran itu lagi yang bisa Sehun gunakan sebagai senjata untuk mengelabui orang lain agar tidak khawatir padanya.

"Hyung, kajja kita pulang. Aku akan mengantarmu." Jongin menggenggam tangan Kyungsoo sambil menariknya pelan.

"Tapi Baekhyun~" ujar Kyungsoo sambil melirik Baekhyun cemas.

"Dia akan pulang bersamaku." potong Chanyeol tiba-tiba membuat Baekhyun membulatkan mata sipitnya. Pipinya kini berubah merah.

"A-aku pulang sendiri saja." Tolaknya.

"Aku titip Baekhyun padamu. Tolong antarkan dia dengan selamat! Arasseo? Dan kau~" Kyungsoo kini menatap Sehun yang hanya tertunduk. Chanyeol mencolek lengan Sehun dan mengisyaratkan pria itu agar mendongak.

"Gomawo~ Jika tak ada kau mungkin aku atau Baekhyun sudah terkena pukulan mereka tadi." Kyungsoo tersenyum begitu hanya mengangguk pelan sambil tersenyum hambar. Kakinya mulai berdenyut dan bertambah sakit. Ia hanya menggigiti bibirnya pelan.

"Sehunnie, kau bisa kan pulang sendiri?" Chanyeol berbisik di telinga Sehun. Sementara mata Sehun kini tengah menatap Kyungsoo dan Jongin yang sudah meninggalkannya. Baekhyun berjalan di samping Kyungsoo sambil sesekali menoleh ke arah Chanyeol. Sehun mengembalikkan pandangannya pada Chanyeol kemudian mengangguk mantap.

"Ne. Pergilah."

Chanyeol dengan wajah sumringahnya segera mencubit pipi Sehun pelan kemudian berlari mengejar Baekhyun, Kyungsoo, dan Jongin yang sudah menjauh dari mereka. Sehun hanya bisa tersenyum hambar melihat mereka berempat. Mencoba berdiri dengan perlahan dan rasa sakit yang begitu hebat membuatnya mengaduh pelan. Air mata tiba-tiba saja turun dari kedua pelupuk matanya. Ia merasa tak ada seorang pun yang peduli padanya. Bahkan Chanyeol pun lebih memilih menemani pria bernama Baekhyun itu dibandingkan dengan dirinya yang notabene adalah sahabatnya yang meskipun tak pernah bersikap baik layaknya seorang sahabat. Ia menggusur kaki kirinya perlahan sambil sibuk mengusap air matanya kasar. Terlebih luka di sudut bibirnya terasa perih karena terpaan angin dan juga lelehan air mata yang melewatinya. Kepalanya sedikit berdenyut. Menahan emosi yang tak bisa ia luapkan. Menahan rasa sakit yang tak bisa ia ekspresikan. Sehun lebih memilih menghentikan langkahnya kemudian duduk di trotoar karena sudah tak kuat untuk menahan rasa sakit di kakinya. Ia terlihat berantakan dan menyedihkan. Ia kini tahu siapa seseorang yang dimaksud Luhan. Seseorang yang Jongin suka. Ia tak perlu lagi mencari kebenarannya. Ia tahu jika itu adalah Kyungsoo. Jongin begitu mencemaskannya. Begitu mengkhawatirkannya hingga genggaman tangannya seolah tak mau terlepas. Mengetahui kenyataan itu membuat tangis Sehun meledak. Ia sudah tak peduli dengan posisinya saat ini. Ini di pinggir jalan! Bukan di kamarnya. Ia memeluk lututnya dan menenggelamkan wajahnya. Sehun sudah gila. Ya, dia gila.

"Huks..."

"Oh Sehun~" suara itu membuat Sehun menghentikan tangisannya meskipun ia masih terisak. Kepalanya menengadah walau terasa berat.

"J-Jongin?" Sehun segera mneghapus air matanya. Ia berdiri dengan hati-hati dan mengerutkan dahinya heran.

"Bukannya tadi... Kau... Mereka.." Sehun sibuk menunjukki jalan dan berbicara dengan tergagap. Jongin kembali tak menghiraukannya kemudian berjalan meninggalkannya. Sehun menatap punggung itu. Entah kenapa ada sedikit perasaan lega saat Jongin kembali. Tapi kenapa ia tak jadi mengantar Kyungsoo?

Sehun berjalan 2 meter di belakang Jongin. Hanya tatapan pedih yang bisa ia berikan. Kembali menangis dalam diam. Berjalan pincang dengan kepala tertunduk dalam.

DUK

"Ya~" ujarnya lemas dengan suara serak saat mengetahui Jongin yang tiba-tiba saja menghentikan langkahnya. Apa yang dilakukan Jongin selanjutnya membuat Sehun tertegun. Ia hanya menatap kosong punggung itu.

"Naiklah~"

Jantung Sehun kembali berdetak tak normal. Apa yang membuat Jongin tiba-tiba bersikap seperti itu padanya?

-To be Continued-