A/N: Mygodd, makasih banyak buat review ama favorite-nya! *kisses**hugss* Sepertinya banyak yang kaget ya sama Gaara di chapter sebelumnya. Gaara kita kan laki-laki normal, jadi wajar kalo dia seneng liat Hinata (cowo mana sih yang ga seneng liat cewe yang cuma pake handuk aja? *evil laughs*)
Buat : Thank you Kingi udah ngikutin cerita ini dari awal :) semoga nilai TO kamu bagus. (thank god nilaiku bagus!) Kamu jangan khawatir. Aku suka happy-ending. So Hinata pasti bakal dapat kebahagiaannya ;)
Buat Anzaki Ayanami : Gaara dari awal udah di Konoha selama seminggu, trus dia minta perpanjangan waktu seminggu. Jadinya dia di Konoha 2 minggu. nah Kankurou jadi pengganti Kazekage 2 minggu deh :)
Buat Arukaschiffer : Mmm, kayaknya ratingnya ga akan nambah sih buat sementara. ehehehe
And... thank youu buat Saruwatari Yumi udah ingetin aku bikin disclaimer. Aku emang suka lupa :[ (Kebiasaan buruk)
Disclaimer : I do not own Naruto. If I did, Gaara would ask for Hinata's hand XD
Kay now on with the story!
Chapter 4
"Erm, K-Kazekage-sama... t-tolong kembalikan ornamen rambutku."
Hinata berdiri dengan gelisah di hadapan sang Kazekage. Tangan kanannya terulur ke depan, meminta ornamen rambut yang baru saja dilepas pria itu hingga membuat rambut yang sudah ia gelung dengan susah payah tergerai kembali.
"Jika kukembalikan, kau akan menggelung rambutmu lagi?" tanya Gaara, tangannya menggenggam ornamen rambut tersebut, menolak untuk mengembalikannya ke pemiliknya.
Mereka berdua masih berada di kamar si pewaris Hyuuga. Setelah Hinata setuju untuk makan malam dengan Gaara, sang Kazekage langsung keluar dari ruangan tersebut dan memberi Hinata privasi untuk ganti baju.
Hinata bersyukur pria itu keluar atas kehendaknya sendiri. Jika tidak, ia terpaksa harus ganti baju di kamar mandi. (Tapi, demi Tuhan! Ini 'kan kamarnya! Bukan dia yang harus menyingkir dari sini!)
Setelah selesai, Hinata berdiri di depan cermin menatap bayangannya yang mengenakan yukata biru. Ia memutuskan bahwa malam itu ia akan menggelung rambutnya tinggi-tinggi diatas kepala. Tangannya terangkat hingga sebatas bahu saat ia mencoba menahan gelung tersebut dengan ornamen rambutnya.
Beberapa detik kemudian, matanya menangkap gerakan di jendela, dan Gaara tiba-tiba melangkah masuk lagi. Langkahnya langsung terhenti saat ia melihat si gadis berambut lavender memamerkan belakang lehernya.
Hinata terpana melihatnya. Dan mereka bertatapan melalui cermin.
Gaara menolak menurunkan pandangannya, yang membuat usaha Hinata untuk menahan gelungan rambutnya menjadi dua kali lipat lebih sulit. Tangannya menjadi berkeringat gara-gara pandangan intens si Kazekage.
Akhirnya setelah beberapa menit, yang terasa seperti berjam-jam, Hinata pun berhasil membuat rambutnya tergelung anggun dengan ornamen rambut peninggalan mendiang ibunya itu. Dalam hati ia mengucapkan selamat pada dirinya sendiri, kemudian bergegas menuju lemari untuk mengambil sandal. Matanya sengaja menghindari si Kazekage yang masih menatapnya dengan tajam.
Sampai ia merasakan gelungan rambutnya lepas.
Ketika ia melihat ke belakang, benar saja, Gaara sudah menggenggam ornamen rambut itu di tangannya. Wajahnya yang masih tanpa emosi melihat kebawah kearah Hinata seakan-akan menantangnya untuk merebut ornamen itu darinya.
"K-Kazekage-sama, tolonglah..."
"Seindah-indahnya lehermu, tapi aku tetap lebih suka melihat rambutmu tergerai. Biarkan saja seperti itu." ia berkata dengan suara parau, kemudian menjatuhkan ornamen rambut itu ke tangan pemiliknya.
Wajah Hinata memerah mendengar suara si Kazekage. Apakah ia bermimpi atau si Kazekage baru saja mengatakan lehernya indah? Ia menunduk dan berbisik lemah, "B-Baiklah..."
Ia berbalik membelakangi Gaara lagi, dan kembali menggeledah lemarinya untuk mencari sandal. Ia bersyukur bahwa ia punya alasan untuk membelakangi pria itu.
"Apa yang kau cari?" tanya Gaara yang tak bergerak dari tempatnya di belakang di Hinata.
"Umm, sandal... Aku y-yakin aku menyimpannya disini."
"Bukannya sandalmu disitu?" Hinata menoleh ke belakang dan melihat Gaara mengacungkan jarinya ke seberang ruangan.
Dan benar saja, sandal-nya memang berada dekat lemari buku. "O-Oh, ya." Hinata mengutuk kebodohannya dalam hati, lalu dengan kikuk menyebrangi ruangan dan mengenakan sandalnya.
"N-Ngomong-ngomong... K-Kita akan kemana Kazekage?"
Namun Gaara mengabaikan pertanyaan Hinata. Ia berkonsenterasi melihat ke arah penjaga-penjaga yang berlalu-lalang mengitari rumah utama keluarga Hyuuga.
Saat Hinata dan Gaara berjalan menjauhi komplek Hyuuga, gadis itu merasa ia bisa menaklukkan dunia.
Si Kazekage sudah meyakinkan Hinata bahwa lebih baik jika ayahnya tahu kalau gadis itu pergi bersamanya. Namun Hinata lebih tahu, menjelaskan keberadaan Gaara yang mendadak di kamarnya akan lebih sulit daripada meyakinkan ayahnya untuk mengencani sang Hokage.
Orang tua itu pasti akan berpikir yang tidak-tidak dan akan menuntut macam-macam dari Gaara.
Maka Gaara pun menuruti keinginan si gadis Hyuuga yang ingin menyelinap diam-diam dari rumahnya. Pria itu menyuruhnya membuat clone dirinya agar tidur di tempat tidurnya untuk berjaga-jaga siapa tahu Hanabi atau Hiashi mengecek kamarnya.
Sementara Gaara mengalihkan perhatian para penjaga dengan pasirnya, dia dan Hinata melenggang keluar dari komplek Hyuuga.
Dan untuk pertama kalinya, Hinata merasa... bersemangat. Sangat sangat bersemangat. Ia tahu ia seharusnya merasa cemas kalau-kalau clone-nya ketahuan. Namun alih-alih merasa cemas, dia justru merasa sangat lega.
Menentang ayahnya seperti ini memberikannya kepercayaan diri yang ia bahkan tak sadar ia miliki.
Dia hanya berharap dirinya tak mengambil keputusan yang salah malam ini. Atau ia akan menyesalinya seumur hidup.
"Kazekage..." suara Hinata yang lembut memecah keheningan yang menggantung diantara mereka sejak mereka meninggalkan komplek klan Hyuuga.
"Hn?"
"M-Mungkin ini terlalu cepat... tapi... terima kasih sudah... membujukku untuk pergi malam ini." Saat Gaara menoleh kearahnya, Hinata berusaha menghindari tatapannya. Ia tahu jika mata mereka bertemu wajahnya pasti langsung memerah.
"Tidak masalah." jawabnya singkat, kemudian kembali menoleh kedepan lagi.
Hinata tahu mereka berdua sama-sama tidak berbakat dalam mengobrol. Namun entah mengapa ia merasa kecewa saat Gaara langsung memalingkan wajahnya. Bukannya tadi pria itu yang matanya jelalatan terus ke tubuhnya?
Hinata menghela nafas. Mungkin dia harus menunggu sampai Gaara yang mengajaknya berbicara. Namun, meskipun mereka sudah tiba di pusat desa Konoha, si Kazekage dan pewaris Hyuuga tetap tidak berbicara sepatah kata pun.
Malam itu adalah salah satu malam yang hangat dimana penduduk Konoha lebih memilih untuk makan malam diluar. Tidak heran jika pusat desa Konoha yang dipenuhi restoran, kedai, dan toko-toko pun ramai dipadati orang.
Walaupun jalanan dipadati, Hinata menemukan dirinya tetap berjalan dengan santai. Biasanya ia selalu menghindari jalanan seperti ini karena selalu ditubruk oleh orang lain. Namun sekarang berbeda.
Hinata melirik kearah pria yang berjalan disampingnya. Pria itu tidak terlihat kaget dengan orang-orang yang menepi untuk memberinya jalan. Mungkin ia terbiasa dengan tingkah orang-orang seperti itu di desanya, pikir Hinata.
Saat itulah Hinata merasakannya, sebuah tangan besar mengenggam tangan kanannya. Hinata melirik kebawah dan melihat tangan si Kazekage menutupi tangannya. Gaara kemudian menarik tangan Hinata agar gadis itu merapat padanya.
"Jangan jauh-jauh dariku." gumamnya pelan pada si gadis Hyuuga.
Belum pernah dalam hidupnya seorang pria selain Naruto membuatnya tersipu sebanyak ini dalam satu hari. Tetapi, meskipun pria yang berjalan disampingnya ini adalah versi berambut merah, dingin, dan pendiam dari Naruto, Hinata tidak menolak ketika tubuh pria itu merapat padanya. Ia bisa mencium bau cendana yang menyegarkan dari mantel pria itu. Dan ia menyukainya.
Mulutnya berair saat piring berisi sandwich itu diletakkan di depannya. Dengan hati-hati Hinata membuka kertas pembungkus sandwich-nya. Roti buatan sendiri itu terasa panas, berminyak, renyah di bagian luar, namun lembut di bagian dalam. Lapisannya tebal, penuh irisan udang goreng berlemak, selada, dan saus lemon.
Gadis itu menggigit rotinya besar-besar. "Inilah yang terlezat," katanya setelah menelan gigitannya. "Sudah lama aku tidak makan yang seperti ini." Ia tersenyum lebar pada pria diseberangnya.
Mereka duduk di sebuah meja kecil di pojok sebuah kedai ikan yang terletak di pusat desa Konoha. Tempatnya kecil, tapi selalu ramai karena mereka menyediakan hidangan laut terlezat dengan harga yang murah. Gaara tahu tempat ini dari Temari yang sering diajak kesini oleh Shikamaru.
Sebagai orang yang tinggal di gurun, hidangan laut adalah makanan mewah bahkan untuk seorang Kazekage sekalipun. Namun bukan berarti di Sunagakure mereka tidak punya hidangan lezat yang membuat orang Konoha iri. Hanya saja, hidangan laut benar-benar membuat Gaara ketagihan. Ia menemukan dirinya selalu ke kedai ini jika sedang berada di Konoha.
Dan sesuai dugaannya, Hinata pun juga menyukai tempat ini.
"B-Bagaimana dengan tiram-mu?" tanya Hinata sambil mengunyah gigitan ketiganya. Gaara suka melihat ekspresi di wajah gadis itu. Kedua mata pucatnya berbinar, membuat wajahnya lebih bercahaya.
"Enak. Kau mau coba?" Gaara mendorong piringnya kearah Hinata, menawarkan tiram yang dilumuri saus merah itu.
"T-Tidak. Tidak usah repot-repot."
"Kau dari tadi mengamati piringku. Pasti kau penasaran ingin mencobanya." Gaara mengenai poin yang tepat, karena Hinata langsung tersipu mendengar kata-katanya.
Setelah terdiam beberapa saat, Hinata akhirnya berkata, "Mmm, a-asalkan kau juga m-mencoba p-punyaku." Ia menyodorkan sandwich-nya ke arah Gaara. "K-Kau bisa menggigitnya dari sisi sebelah sini yang belum kugigit."
Si Kazekage langsung menerima tawaran Hinata. Ia melihat saat gadis itu mengangkat sepotong tiram dan memasukkannya ke mulutnya. Semua gerakannya terlihat seperti slow-motion bagi Gaara. Terutama saat gadis Hyuuga itu menjilati jari-jarinya.
"K-Kazekage? K-Kau belum menggigit rotinya." Oh ya. Gaara sampai lupa pada roti ditangannya.
Sambil tetap menahan pandangannya pada Hinata, Gaara menggigit bekas gigitan si gadis Hyuuga pada roti itu, kemudian mengunyahnya dengan seksama. Benar kata Hinata, sandwich isi udang goreng itu memang yang terlezat. Dan mengetahui kalau roti itu baru saja digigit oleh gadis itu membuat rasanya berkali lipat lebih lezat.
"Ini memang yang terlezat." kata Gaara, sambil memperhatikan reaksi si gadis Hyuuga. Dan benar saja, gadis itu langsung sewarna tomat.
"Y-Ya," Hinata tidak bisa melihat ke arah pria itu saat ia menerima sandwich-nya kembali. Pria itu dengan sengaja menggigit bekas gigitannya. Dan sekarang Hinata tidak punya pilihan lain tapi harus menggigit bekas gigitan pria itu juga. Jika tidak, dia pasti mengira Hinata jijik padanya.
"Hinata?" sebuah suara nyaring tiba-tiba terdengar dari belakang. Hinata langsung menoleh untuk melihat siapa yang memanggil namanya.
Dibelakang Hinata berdiri gadis yang merupakan sumber dari segala rasa cemburu yang pernah Hinata rasakan selama ini. "S-Sakura-san?"
Ketika berumur delapan belas tahun, Sakura memutuskan untuk berhenti memotong rambutnya dan membiarkannya terus memanjang. Sekarang, di usia dua puluh tahun; dengan rambut dan wajah yang indah serta reputasi sebagai murid terbaik sang Hokage, Sakura Haruno adalah kunoichi idaman nomor satu di Konoha.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya si ninja medis ramah. Ia mendekati meja Gaara dan Hinata. Alisnya yang indah melengkung saat melihat orang yang berada semeja dengan si pewaris Hyuuga.
"Mmmm..." Tidakkah dia melihat apa yang sedang dilakukan Hinata? "Aku sedang makan malam..." dia berhenti sebentar sebelum menambahkan, "...dengan Kazekage."
"Aha. Hello Gaara-san. Senang bertemu lagi denganmu." Sakura menyapa Gaara dengan senyuman lebar.
"Haruno-san." Si Kazekage hanya mengangguk padanya. Namun jelas sekali mata pria itu menjelajahi si ninja medis.
Hinata yakin bahwa ia terlihat sedikit lebih cantik malam ini. Pujian yang diberikan Gaara pun membuat ego-nya melambung. Namun sekarang setelah melihat pandangan yang diberikan Gaara pada Sakura, Hinata merasa dirinya seperti bunga yang layu.
Bagi Sakura tampil cantik itu alami. Sundress putih selutut yang ia kenakan seakan-akan mengejek yukata biru Hinata. Sementara Hinata membiarkan rambutnya tergerai alami, malam ini Sakura memilih mengikat ponytail rambutnya yang membuat Hinata tampak acak-acakan.
Kenapa Gaara sampai sebegitunya melihat Sakura?
"Kau dengan Gaara-san?" Sakura mengarahkan pertanyaannya pada Hinata. Jelas-jelas tak mempercayai pasangan yang duduk di meja itu.
Kehadiran Sakura sama sekali diluar perhitungannya. Gadis itu pintar. Jika Hinata salah ngomong sedikit saja, gosip tak enak pasti langsung beredar. Namun ia tak tahu jawaban apa yang tidak akan membuat gadis berambut pink itu salah paham. Ia melihat ke arah Gaara mencari pertolongan.
Gaara yang melihat sekilas ke arah Hinata mengerti pesan gadis itu, kemudian berkata, "Ya." Perhatian Sakura pun teralih ke si Kazekage. "Aku bertemu dengan Hyuuga-san di rapat dengan Hokage tadi. Wanita itu menyebut-nyebut soal kedai ini. Dan Hyuuga-san pun bersedia menunjukkan padaku tempat ini." kata Gaara lancar tanpa ada tanda-tanda kebohongan sedikit pun.
"A-Apa yang kau lakukan d-disini Sakura-san?" tanya Hinata sebelum Sakura bisa bertanya lebih lanjut.
Jika Sakura ada disini, maka Naruto kemungkinan juga ada disini. Mata Hinata pun diam-diam menjelajahi seisi kedai, namun ia tidak menemukan rambut pirang yang familiar, maka perhatiannya kembali ke Sakura.
"Mungkin akan makan malam juga," ia tertawa manis sebelum melanjutkan, "Naruto menyuruhku kesini duluan. Katanya dia punya sesuatu untukku." Ia tersipu kemudian terkesiap seakan-akan baru ingat akan sesuatu. "Oh, aku belum memberitahumu Hinata. Aku dan Naruto resmi pacaran tiga hari yang lalu."
Ya, Hinata sudah tahu. "Ya, Naruto sudah memberitahuku." kata Hinata datar. Ia sama sekali tidak ingin menunjukkan kesan bahwa ia cemburu pada Sakura. Tapi melihat gadis yang cantik itu sedang menunggu kekasihnya; yang kemungkinan akan membawa teddy bear, cokelat, atau bunga padanya; ditambah lagi mata si Kazekage yang terus jelalatan, Hinata pun langsung kehilangan selera makannya.
"Benarkah?" Dia tersipu lagi. "Dasar si Naruto itu! Dia pasti berkeliling Konoha dan membeberkannya ke semua orang!" Meskipun ia terdengar marah, namun Hinata tahu Sakura sebenarnya hanya terlalu malu untuk menerima fakta bahwa seisi Konoha sudah tahu tentang hubungannya dengan Naruto.
"S-Selamat ya Sakura. K-Kuharap... kalian bisa ba-bahagia... selamanya."
"Thanks Hinata," Sakura melihat bolak-balik antara Hinata dan Gaara. "Mmm ngomong-ngomong, apa aku mengganggu makan malam kalian berdua?"
Ya! Tentu saja ya! teriak Hinata dalam hati.
Namun Gaara yang sedari tadi diam saja tiba-tiba menjawab. "Tidak. Sama sekali tidak."
"Mmm, p-permisi sebentar... a-aku ingin ke toilet," ucap Hinata lirih. Ia tidak mau lagi menatap ke arah Gaara. Karena ia yakin mata pria itu yang tadi hanya berbinar-binar padanya sekarang sudah teralih.
"Baiklah," kata Gaara. Sakura pun juga mengangguk-angguk dan berkata "Oh tentu saja Hinata."
Sementara Hinata menjauh dari meja itu, ia dapat mendengar Sakura yang dengan ceria bertanya "Boleh aku duduk disini?"
Hinata tak perlu menoleh ke belakang untuk tahu si Kazekage mengizinkan Sakura duduk di tempatnya tadi.
Begitu sampai di toilet, Hinata tidak masuk ke bilik melainkan bergegas menghampiri wastafel. Ia memercikkan sedikit air ke wajahnya kemudian menatap bayangannya dalam cermin diatas wastafel.
Rambutnya memang berantakan.
Hinata menyisir bagian rambutnya yang kusut dengan jari-jarinya. Ia tidak percaya pada Gaara yang memuji rambutnya yang tergerai. Ia hanya mengatakan itu untuk membuat Hinata senang.
Pelan-pelan Hinata mulai menggelung rambutnya. Ia bersyukur ia tetap membawa ornamen rambutnya di dalam tas tangan bahkan setelah Gaara mengatakan ia tidak membutuhkannya. Setelah gelungan rambutnya cukup rapi, Hinata menahannya dengan ornamen rambut tersebut.
Hinata menghela nafas saat melihat gadis pucat di dalam cermin.
Dari awal ia memang bingung mengapa Gaara begitu berusaha mengajaknya makan malam. Ia membuat Hinata merasa... spesial. Dan sekarang, saat si cantik Sakura muncul, mata pria itu langsung berubah.
Apa semua pria memang sedangkal itu?
Lagipula 'kan Sakura itu pacar sahabatnya. Jadi gadis itu off-limit. Tidak mungkin 'kan dia juga mau mengincar Sakura? Lalu bagaimana dengan Naruto? Apa mereka berdua akan bersaing demi Sakura?
Hinata menggigit bibirnya. Bukankah ini yang terbaik?
Dia bukanlah tipe gadis yang biasa dikejar-kejar oleh pria. Jika Gaara mengincar Sakura maka pria itu akan keluar dari kehidupannya dan berhenti membuat perasannya kacau balau seperti ini. Ia akan kembali ke dirinya yang biasa, gadis yang selalu mengagumi Naruto dari jauh.
Ayahnya benar. Melanggar peraturan Hyuuga memang membawa sial.
Setelah mengamati bayangannya untuk terakhir kali, Hinata pun keluar dari kamar mandi. Begitu sampai di mejanya, Sakura langsung berdiri untuk memberikan kursinya kembali pada Hinata. Namun gadis itu menolak. Ia harus cepat-cepat pergi dari situ sebelum Naruto datang.
Atau sebelum Gaara menunjukkan lebih banyak ketertarikan pada si kunoichi berambut pink.
"Mmm, t-tidak apa. A-Aku sudah selesai," kata Hinata lirih sambil merogoh tas tangannya untuk mencari beberapa koin emas.
Tangan Gaara langsung mencengkeram tangan Hinata ketika gadis itu meletakkan koin-koin emasnya diatas meja. "Ya, kami sudah selesai." Ia pun ikut berdiri. "Simpan uangmu." katanya pada Hinata. Namun si gadis Hyuuga tidak bergeming dan tetap meletakkan uangnya disitu. "Simpan uangmu Hyuuga." Gaara mengulangi.
Pandangan Sakura pun otomatis jatuh ke makanan kedua orang itu yang belum selesai. "Apa kalian yakin? Aku benar-benar tidak bermaksud untuk mengganggu kalian..."
Sakura merasa canggung ketika melihat Hinata yang berusaha melepaskan tangannya dari Gaara serta wajah merengut si Kazekage yang tertuju ke arah Hinata.
"L-Lepaskan tanganku Kazekage."
"Simpan uangmu."
"Uhh... Gaara... Hinata... Kurasa aku akan mencari meja lain dan menunggu Naruto disana." Sakura tidak ingin keberadaannya membuat ketegangan diantara Gaara dan Hinata makin memuncak. Menjauh dari mereka adalah yang terbaik. "Aku permisi dulu. Kuharap bisa bertemu kalian berdua lagi nanti."
Baik Gaara maupun Hinata tidak mendengarkannya. Si gadis Hyuuga berusaha membuat wajahnya sedatar mungkin untuk menyembunyikan rasa sakit akibat cengkraman maut ditangannya.
"A-Aku tidak ingin berhutang padamu, Kazekage-sama." ujar Hinata lirih. "Le-Lepaskan tanganmu. Kau m-menyakitiku." Mendengar kata 'menyakiti' Gaara pun langsung melepaskan tangannya seakan-akan kulit Hinata adalah air mendidih.
"Kau tidak akan berhutang apapun. Aku yang mengajakmu kesini. Aku yang bayar. Simpan uangmu."
Hinata menghela nafas frustasi. Karena ia ingin secepat mungkin meninggalkan si Kazekage, ia pun memasukkan koin-nya kembali, kemudian tanpa mengucapkan apa-apa ia langsung melesat pergi. Meninggalkan Gaara yang masih berusaha mengeluarkan koin emasnya.
Begitu menyadari Hinata sudah menghilang, Gaara secara refleks menjatuhkan kantong emasnya diatas meja, tidak peduli berapa besar ia memberikan tip pada kedai itu. Ia kemudian mengambil guci yang tadi ia sandarkan di dekat meja mereka dan melesat mengejar si gadis berambut lavender.
Ia sudah membiarkan gadis itu melarikan diri dua kali. Dia tidak akan melepaskannya lagi kali ini.
Aku tahu chapter ini terlalu dramatis... O,,,O
Makasih udah baca cerita ini! As usual, jangan lupa review yaa biar aku tahu gimana menurut kalian cerita ini :D
xoxo
