Chapter 4 : Closer
Disclaimer ~ Masashi Kishimoto
Find You ~ Keinarra Minami
Warning : Au, Ooc, Typo sana - sini, Gejelas, Ide pasaran
Genre : Romance / Drama / Ficsong
If not like, do not read
.
.
.
"Hey lihat, mereka ada di sana." kata gadis berambut merah menunjuk ke arah dua remaja yang sepertinya saling melempar sesuatu.
Tanpa basa - basi Gaara dan dua anggota osis lainnya berjalan menghampiri keduanya, di sepanjang kelas yang ketiganya lewati para murid menatap dengan tatapan takut, pasti akan ada sesuatu yang terjadi setelah ini. Karena terlihat begitu jelas wajah Gaara sang ketua osis yang begitu kesal dan di tambah dua temannya yang juga sama - sama anggota osis paling kejam di sekolah NHS, Karin dan Suigetsu memasang raut muka dingin yang siap melahap siapa saja yang menghalangi jalan mereka.
..
Naruto dan Hinata masih terus saling melempar kotak kacamata itu, tanpa mereka sadari ada tiga orang yang menghampiri mereka.
"Ya ampun, tidak usah Hinata."
"Tidak Naruto, ini untukmu."
"Tidak usah."
Dan terus keduanya saling melemparkan kotak kecil itu ke sana dan kemari, membuat beberapa murid yang lewat menjadi terheran dengan kelakuan dua remaja itu.
Tap tap tap
"Kalau memang dia tidak mau, lebih baik itu untukku saja."
Mendengar ada seseorang yang tiba - tiba berbicara kepada mereka berdua, lantas keduanya menatap ke arah sumber suara.
Sontak Hinata merasa moodnya menjadi hilang seketika, saat ia melihat ternyata Gaara yang baru saja bersuara.
"Untuk apa kau kemari?" ucap Hinata dengan nada bosan.
Gaara tersenyum dan berjalan mendekati Hinata dengan senyum semanis mungkin untuk gadis bermata bulan itu.
"Begitukah cara berbicara seorang gadis dari keluarga Hyuga kepada seseorang!" ucapan Gaara membuat Hinata tertohok dan mengerutkan dahi seketika.
Grep
Belum sempat dirinya membalas perkataan Gaara padanya, ternyata dengan cepat tangan besar Gaara sudah menarik lengan Hinata mendekatkan jarak mereka berdua. Dan para murid yang berada di sana mulai sedikit mendekat saat melihat kejadian itu, beberapa bisikan mulai terdengar di sana.
"Kyaa... hey, lepaskan." Berontak Hinata saat ia merasa lengannya di tarik paksa.
Naruto yang melihatnya hanya diam, menunggu apa yang akan pemuda bertato Ai itu lakukan pada sang gadis.
Gaara menatap datar Naruto yang juga menatapnya dengan tatapan malas. "Kenapa kau diam saja! Apa kau sudah tidak peduli dengan gadismu ini, hah?"
"..."
"Baik. Diam berarti itu adalah tanda jika ucapanku benar." Sambung Gaara.
Hinata terus berusaha melepas genggaman Gaara walaupun usahanya hanya sia - sia. "Tch, sakit Gaara."
"Oh, sayang." Sebelah tangan Gaara membelai lembut pipi Hinata, "Ternyata kekasih pirangmu tidak benar - benar mencintaimu, ya!" sungguh perkataan Gaara membuat dada gadis bermata bulan itu terasa begitu sesak.
"Lepaskan aku Gaara."
"Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu Hinata - chan."
"Ugh... kau menyakitiku." Semakin Hinata memberontak, semakin kencang genggaman Gaara pada lengan kecilnya.
Grep
Tiba - tiba kini Hinata sudah berada di dalam pelukan Gaara, membuat semua yang berada di sana terkejut. Dan murid lainnya yang berada di kelas berhamburan keluar dan semakin banyak yang mendekat ingin melihat apa yang sedang terjadi di sana.
"Sekarang aku sudah tahu semuanya, kau dan si pirang itu tidak pernah ada hubungan apa - apa. Jadi... jangan pernah kau berhubungan dengannya." Ujar Gaara sambil mempererat genggaman pada lengan Hinata dan membuat sang gadis sedikit kesakitan dengan perlakuan kasarnya.
Naruto mengepalkan sebelah tangan saat melihat ekspresi wajah Hinata yang menahan rasa sakit pada lengannya, maju beberapa langkah menarik kasar Hinata hingga terlepas dari pelukan Gaara.
Bukk Bukk
Dan dengan cepat melayangkan beberapa kali pukulan pada wajah Gaara, sukses membuat pemuda berambut merah itu mundur beberapa langkah sambil memegang wajahnya yang terlihat sedikit memar di sana.
"Berani kau menyentuhnya sekali lagi akan ku ha-"
Depp
Bukk
Belum sempat Naruto menyelesaikan ucapannya, tiba - tiba Kiba yang entah datang dari mana sudah berada di hadapannya menangkis pukulan Suigetsu yang ternyata ingin melayangkan pukulan itu pada Naruto.
"Berani kau menyentuh sahabat pirangku, tak akan aku biarkan kau hidup tenang seumur hidupmu." Ujar Kiba dengan nada tinggi dan wajah sangat emosi.
"Cih. Kau..." desis Suigetsu.
"Sudahlah Inu, jangan kau hiraukan mereka. Itu akan membuang - buang waktu belajar kita." Naruto berusaha menenangkan sahabat karibnya yang juga sahabat Hinata ini agar ia tidak terkena masalah setelah kejadian ini karena ulahnya dengan Gaara.
"Hey kau pemuda bertaring, lebih baik kau tidak usah ikut campur." Karin tidak tinggal diam melihat situasi yang semakin memanas.
Gaara maju beberapa langkah hingga berada di hadapan Kiba sekarang. "Ya, lebih baik kau dengarkan perkataan si pirang sialan itu, jangan buang - buang waktumu dengan urusan kami. Dan aku tidak ada urusan denganmu, jadi menyingkirlah dari hadapanku!" ucapnya begitu sinis dan terkesan mengejek pada Kiba.
"Kau..." Kiba sudah bersiap - siap dengan kepalan tangannya, dan siap melayangkan pukulan selanjutnya kepada pemuda di hadapannya.
Grep
Tangan besar Naruto dengan sigap dan cepat memegang lengan Kiba yang sudah terangkat dan berada beberapa centi di depan wajah Gaara.
"Hentikan Inu, ini masalahku dengannya. Mereka benar, ku mohon jangan campuri urusan kami." perkataan Naruto barusan membuat Kiba mendelikkan mata.
Tidak puas dengan apa yang sahabatnya katakan, padahal ia berharap Naruto akan mempesilahkannya untuk menghajar Gaara, karena tangannya sudah sangat gatal sekali ingin segera menghajar si ketua osis sialan ini, dan tidak perduli bila nantinya ia akan terkena masalah besar setelah semua kejadian ini pikirnya.
Gaara tersenyum simpul, "Sudah selesai dramanya? Hm.. rupanya kau ini memang tidak punya malu, ya? Apa perlu aku yang mengatakannya pada semua orang tentang yang sebenarnya, hah!"
"Apa maksud perkataanmu? Aku tidak mengerti dan katakan saja apa yang ingin kau katakan, sialan." Desis Naruto pelan di akhir kalimat.
"Ck. Memukulnya saja kau sudah akan terkena masalah besar setelah ini, dan sekarang kau berani - beraninya berkata seperti itu pada ketua osis." Kini Suigetsu bersuara.
"Lakukan saja apa yang kau inginkan, apa kau pikir dengan mengancamku seperti itu aku akan takut pada kalian. Dan persetan dengan jabatan ketua osismu itu!"
"Cih. Benar - benar kau..."
Perepatan di dahi Gaara mulai tercetak jelas, maju beberapa langkah dan di ikuti oleh Suigetsu yang terlihat begitu menahan amarahnya terlihat dari wajah yang memerah padam.
Tap tap tap
"Minggir...,"
Kerumunan murid yang berada di sana seketika membuka jalan untuk dua orang yang baru saja berjalan melewati mereka.
"Ada pesta dadakan rupanya!" ucap salah satu guru bernama Kakashi.
"Apa yang sedang kalian lakukan? Semuanya kembali ke kelas kalian masing - masing." suara tegas Tsunade membuat semua yang bernyali besar menjadi menciut seketika, dan semua murid langsung berhamburan kembali ke kelas mereka masing - masing. Mereka tidak menyangka kalau kepala sekolah yang ternyata turun tangan sendiri menanggapi kejadian kali ini.
Gaara dan Suigetsu yang kini sudah berdiri di hadapan Naruto dan Kiba langsung menyembunyikan tangan mereka yang siap melayangkan tinju ke arah lawan.
"Ha'i, Ke - kepala sekolah Tsu - Tsunade - sama." Jawab Suigetsu dengan nada terbata.
"Kecuali kalian berlima," kata Tsunade sambil menatap kelima remaja yang membuat sekolah NHS pagi ini menjadi begitu kacau. "Naruto, Gaara, Kiba, Suigetsu dan Hinata. Ikut ke kantorku sekarang juga." Ucapnya dengan lantang dan mulai berjalan di ikuti kelimanya yang sekarang kembali menjadi pusat perhatian seisi NHS.
.
.
"Ini semua salahmu." desis Kiba pada Suigetsu di dalam ruang kepala sekolah saat ini.
Suigetsu memalingkan wajah dengan mengerucutkan bibir tanpa membalas ucapan Kiba padanya.
"Jadi begitu kejadiannya." Tsunade menatap tajam ke arah Gaara, "Baiklah. Sekarang kembali ke kelas kalian masing - masing kecuali, Naruto." Kembali suara tegas sang kepala sekolah menggema di dalam ruangan.
"Ha'i." Keempat remaja dengan raut wajah takut mereka mulai berjalan keluar dari ruangan bercorak putih itu.
Kecuali Naruto yang sedari awal hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi, dan saat melihat Hinata yang mulai berjalan mendekati pintu keluar segera ia memegang salah satu lengan sang gadis yang membuatnya terkejut dan melihat ke arah sang pemuda.
"Tunggu, jangan pergi dulu Hinata."
"Ada apa Naruto? Tsunade - sama menyuruhku untuk segera kembali ke kelas."
Mata sebiru lautan itu menatap tajam mata bulan sang gadis yang begitu cantik namun terlihat sayu. "Tunggu aku di dekat lapangan, ajak Inu bersamamu juga agar Gaara tidak menghampirimu lagi."
"Tapi, kenapa ak-"
Dengan cepat telapak tangan Naruto membungkam mulut Hinata sebelum ia menyelesaikan perkataannya.
"Ssttt... Sudahlah lakukan saja."
Hanya mengangguk melihat reaksi pemuda pirang di hadapannya yang terlihat begitu meyakinkan walaupun sedikit memaksa.
.
.
Di dekat lapangan basket Hinata dan Kiba masih menunggu Naruto yang sedari tadi tidak kunjung menampakkan diri, hingga di lihatnya ada seorang siswa yang terlihat berlarian dan terlihat sedang di kejar oleh Kakashi wali kelas mereka.
Setelah di lihat dengan teliti, ternyata siswa itu adalah Naruto yang kini tengah berlari menuju ke arah mereka berdua.
"Bukannya itu Naruto? Tapi kenapa dia di kejar - kejar oleh Kakashi sensei?" tanya Kiba pada Hinata.
"Aiisshh... mana aku tahu, sedari tadi aku 'kan bersama mu di sini, Kiba - kun."
Sekilas pertanyaan konyol yang di layangkan oleh Kiba pada gadis di sampingnya sebelum Naruto datang dan langsung menarik cepat tangan Hinata, yang kini membuat sang gadis ikut berlarian dengannya.
"Kyaaa... Naruto... apa yang kau lakukan..."
"Hey... kalian berdua... berhenti..." Teriakan Kakashi begitu kencang sampai membuat beberapa murid yang sedang berada di lapangan tertawa melihat adegan kejar - kejaran antara guru dan siswanya itu.
"Kalian mau kemana Naruto... Hinata - chan..." Kiba ikut berteriak memanggil keduanya tanpa ada niatan ikut mengejar.
Dan sekarang menjadi dua murid yang akan kabur dari sekolah.
"Kunci mobilmu..." ucap Naruto pada Hinata yang kini sedang merogoh saku seragamnya.
Hinata tergagap. "Se - sebentar..."
Setelah menemukan apa yang di cari, ia menyodorkan sebelah tangannya yang memegang kunci mobil pada pemuda pirang yang kini sepertinya akan mengajaknya membolos.
"Cepatlah Hinata." Sambil terus berlari menuju parkiran sekolah. "Yang mana mobilmu?"
Kali ini Hinata yang menarik Naruto ke arah di mana mobilnya terparkir, sungguh beruntung mereka berdua karena mobil Hinata ternyata terparkir di tempat yang sangat strategis dan tidak terlalu sulit untuk mengeluarkan kendaraan bercorak ungu hitam itu.
Dengan langkah tergesa - gesa keduanya segera masuk sebelum guru Kakashi datang dengan raut wajah pucat dan kelelahan.
"Cepat kenakan sabuk pengamanmu, Hinata."
"Ha'i"
Melihat kaca spion yang berada di sampingnya, terlihat guru Kakashi yang ternyata masih saja mengejar mereka.
"Kakashi sensei, maaf membuatmu kelelahan. Haahaa." setelah mengatakan itu, Naruto menggas mobil dengan kecepat tinggi.
"Hah... hah... Kusso."
Tin Tin Tin
Beberapa kali Naruto membunyikan klakson agar penjaga sekolah membukakan pintu gerbang, awalnya memang sang penjaga sekolah tidak mau membukakan gerbang itu karena saat jam pelajaran berlangsung seperti ini, tidak boleh ada satu murid pun yang boleh meninggalkan sekolah tanpa ada ijin khusus dari sang kepala sekolah. Tapi, Naruto tidak kehabisan akal, ia membuka kaca mobil dan mengeluarkan kartu nama sang ayah yang kebetulan ada di dalam dompet miliknya.
Tanpa berkata apa - apa lagi sang penjaga langsung membungkukkan badan dan membukakan pintu gerbang.
"Jangan... jangan buka gerbangnya..." teriak Kakashi yang sudah beberapa meter dari mobil mereka.
Tapi terlambat, karena pintu gerbang NHS sudah terbuka lebar sekarang, dan tanpa basa - basi lagi Naruto menggas cukup kencang hingga terdengar sedikit decitan dari ban mobil yang ia kendarai bersama Hinata, meninggalkan sekolah NHS.
"Hah... hah..." Kakashi masih berusaha mengatur nafasnya yang tidak beraturan, "Hah... lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu besok, pirang sialan."
Flashback On
Tsunade berdiri dari duduknya mendekati pemuda pirang yang sedari tadi hanya memasang wajah datar nan bosan. "Jujur saja, Nenek sangat kecewa melihat kelakuan kalian di sekolah ini.
"Aku sudah tahu semuanya, Gaara sengaja berbohong padaku agar kalian semua tidak mendapat hukuman karena ulahnya dan... kau, Naruto." Lanjutnya geram.
"Tidak bisakan Nenek tidak menatapku dengan tatapan seperti itu!" Tsunade semakin mendelikkan mata saat mendengar jawaban sang cucu.
"Bukannya kau sendiri yang memintaku untuk menyamakan perlakuanku padamu dan murid lainnya di sekolah ini, Naruto?"
"Memang aku sendiri yang menginginkannya, tapi tatapan Nenek membuatku seperti tersangka utama di sini." Naruto mengerucutkan bibirnya.
"Kalau kau merasa peraturan yang sudah berlaku di sekolah ini memberatkanmu, lebih baik kau kembali saja ke tempat asalmu."
"Tidak mau."
"Kalau kau tidak mau, jangan pernah membuat keributan lagi di sekolah ini, berjanjilah."
"Tidak. Aku tidak bisa janji."
Perempatan di dahi sang kepala sekolah kini terlihat jelas. "Kau memang sangat bisa membuat Nenekmu ini kesal ya, Naruto."
Hanya mendengus kesal dengat raut wajah garang, Tsunade kembali duduk di kursi singgah sananya.
"Lebih baik kau saja yang mengurusnya, Kakashi." Menunjuk Kakashi yang sedari tadi duduk di sofa empuk di ruangan itu untuk menyelesaikan semua.
"Ha'i, apakah saya boleh menghukumnya dengan peraturan yang sudah di tetapkan di sekolah ini, Tsunade - sama?" tanyanya karena masih ragu bahwa ia di perbolehkan menghukum cucu dari sang pemilik sekolah NHS yang juga merangkap sebagai kepala sekolah.
"Hn." Satu anggukan sudah cukup membuat Kakashi tahu apa yang harus ia lakukan pada pemuda berambut pirang nyentrik di hadapannya ini.
Mengambil gunting yang ada di laci ruangan itu dan kembali melangkah mendekati Naruto yang kini menatap Kakashi penuh cemas.
"Nenek, apa yang sebenarnya sudah kalian rencanakan?"
"..." Tidak ada jawaban dari sang nenek.
"Apa kalian ingin membunuhku?" kembali pertanyaan konyol namun itu satu pertanyaan serius dari Naruto.
Menatap ke arah Naruto dengan senyum simpulnya, "Kalau kami memang ingin membunuhmu, apa kau keberatan?"
"Wahaa... ampun Nek, aku masih ingin merasakan tumbuh dewasa dan jangan khawatir, aku pasti akan cepat memberikan Nenek seorang buyut..." sungguh kali ini ucapan Naruto ingin membuat Tsunade tertawa terpingkal, benar - benar cucunya ini masih sangat kekanakan dan begitu konyol sama seperti ayahnya Minato.
Lelah menahan tawanya yang hampir saja kecolongan, Tsunade mendelikkan mata pada Kakashi yang langsung di mengerti olehnya maksud dari sang kepsek.
"Jangan bergerak, Naruto..."
Semakin panik saat Kakashi yang kini sudah berdiri tepat di sampingnya dengan gunting yang sang wali kelasnya genggam, dengan ujung tepat menghadap ke arahnya.
Menggerakkan sedikit kaki selangkah demi selangkah dan.
Wuushh
"Huwaa... menjauhlah dariku..."
Secepat kilat Naruto berlari dari tempat duduknya.
Braakk
Membuka dan membanting pintu sekencang mungkin dan berlari sekuat tenaga meninggalkan ruangan kepala sekolah.
Kakashi yang mengetahui hal itu dengan sigap langsung ikut berlari mengejar Naruto yang terlihat sudah cukup jauh dari pandanganya.
"Kejar dia dan segera bawa dia kemari." Teriak Tsunade yang tidak menyangka kalau cucunya itu akan kabur hanya karena ia dan Kakashi ingin memotong rambut pirang sebahunya yang sangat menjijikan itu.
Flashback Off
.
.
.
Mobil sport Bugatti veyron berwarna ungu berpadu dengan hitam melaju dengan kecepatan sedang di jalanan kota Konoha, masih mengenakan seragam sekolah. Kini dua remaja berbeda warna rambut itu sampai di sebuah danau yang cukup indah.
Letaknya cukup jauh dari pusat kota, berada tepat di pinggiran kota Konoha yang masih begitu asri dengan hamparan perkebunan bunga yang sepertinya menjadi mata pencarian warga sekitar.
Keduanya duduk bersandar di salah satu bangku yang berada di tepian danau tepat di bawah pohon sakura, terlihat jelas tidak ada percakapan di antara mereka. Canggung, begitu terasa menyelimuti sepasang remaja yang sama - sama sedang menatap ke arah danau yang begitu tenang.
"Hm... Hinata." Suara bariton Naruto memecah keheningan di antara keduanya, ingin memulai percakapan walaupun sebenarnya ia takut jika Hinata kali ini akan benar - benar marah padanya karena mengajak gadis indigo di sebelahnya membolos sekolah.
Hinata tergagap. "Ha - Ha'i."
Grep
Hinata terkejut saat tiba - tiba Naruto menggenggam sebelah tangannya dan menatap tajam ke arahnya, membuat rona merah langsung terlihat jelas di kedua pipi sang gadis.
"Na - Naruto... A - apa yang kau la - kukan!"
"Maafkan aku Hinata, kuharap kau tidak marah padaku karena semua yang telah terjadi."
Mengibaskan sebelah tangannya yang masih terbebas di depan wajah, "Na... Naruto, kau tidak perlu meminta maaf padaku."
"Tapi, aku telah-" dengan cepat Hinata menempelkan telunjuknya tepat di bibir Naruto, membuatnya menghentikan ucapannya.
"Seharusnya aku yang meminta maaf padamu, Naruto. Karena aku... kau jadi terkena masalah seperti ini." Tatapan Hinata kembali sayu saat mengatakan hal itu. "Jadi kumohon maafkan aku."
Hinata berdiri dari duduknya dan sedikit membungkuk, seraya meneteskan sedikit air mata yang entah sejak kapan mengalir membasahi mata bulannya.
Berdiri dari duduknya, Naruto memegang kedua pundak Hinata dan menegakkannya. Saling bertatapan blue sapphire miliknya kini kembali menatap tajam mata bulan yang tergenang air mata.
"Jangan seperti ini, Hinata."
"Na - Naruto..."
"Ini semua bukan kesalahanmu, Hinata. Semua kulakukan karena memang tidak sepantasnya seorang lelaki memperlakukan wanitanya seperti itu, aku sangat menyayangi mamaku, dan aku tidak akan membiarkan lelaki mana pun menyakitinya. Meskipun itu papaku sendiri, aku akan melawannya sekalipun aku tahu pasti aku yang akan kalah, tapi semua tidak akan selesai sampai di sana sebelum aku yang akan menjadi pemenang." kata Naruto panjang lebar kembali membuat Hinata terkejut untuk yang kesekian kalinya.
"Hiks... hiks... A - arigatou, Naruto." ucapnya pelan dengan nada lemah karena begitu tersentuh dengan perkataan pemuda pirang di depannya.
Tanpa ia sadari kedua tangan mungilnya memeluk tubuh Naruto erat dengan air mata yang juga kembali mengalir membasahi pipi seputih salju itu.
Kini Naruto yang di buat terkejut oleh perlakuan gadis indigo di hadapannya yang memeluk erat tubuhnya, dadanya berdegup tak karuan, sungguh ia ingin sekali membalas pelukan sang gadis. Tapi, kedua tangannya terasa begitu berat seperti tidak ingin membalas pelukan itu. Karena ia tahu jika dirinya bukan siapa - siapa, hanya orang baru yang sok tahu dan dengan mudahnya ikut campur di dalam kisah asmara orang lain.
Apa yang harus ia lakukan sekarang, mendengar suara sesegukan sang gadis membuat hatinya begitu sakit. Berusaha melawan otaknya yang menolak untuk membalas pelukan itu, tetapi hati kecilnya terasa semakin nyeri dan ngilu.
Apa yang sebenarnya Naruto rasakan saat ini sungguh membuatnya sama sekali tidak mengerti, dan terus bergejolak dengan pikirannya. Ia putuskan dengan satu keyakinan, perlahan kedua tangannya membalas pelukan itu. Memeluk Hinata dengan erat dan meletakkan pelan pipinya di atas surai indigo Hinata.
"Jadilah kekasih ku, Hinata."
Melepas pelukannya pada pemuda di hadapannya dengan tatapan tak mengerti. "A - apa yang ba - baru saja kau ka - takan, Naruto." Kembali Hinata tergagap karena perkataan Naruto.
"Jadilah kekasihku, Hinata..."
Batin Hinata mulai berkecamuk. 'Oh kami - sama apa kau sedang mempermainkan perasaanku? Apa yang baru saja aku dengar sungguh membuatku tidak percaya, aku harap kau tidak sedang mempermalukan aku, Kami - sama.'
Melihat wajah Hinata yang masih menatapnya tanpa berucap sepatah kata pun, Naruto tahu jika gadis itu pasti sedang mempertimbangkan ucapan konyolnya ini.
'Pasti dia tidak akan menerimaku! Sebenarnya apa yang baru saja kau katakan itu sungguh bodoh, Naruto. Kenapa di saat seperti ini mulut embermu sama sekali tidak bisa di rem, lihat saja setelah dia menolakmu, habis sudah harga dirimu sebagai anak tunggal keluarga Uzumaki. Tapi aku benar - benar tidak bisa menahan perasaanku setelah ciuman pertama itu, hah... apa yang harus ku lakukan sekarang.' Kini batin Naruto yang mulai berkecamuk saat Hinata tetap diam dengan seribu teka - teki tanpa satu kata pun terucap dari bibir peachnya.
"Em... begini, maksudku... jadilah kekasihku saat kita berada di sekolah. Di luar itu kita tetap teman, ya teman." Cengiran khas lima jari Naruto yang memamerkan deretan gigi rapi itu berhasil membuat sang gadis indigo membalas dengan senyum kecut.
Tetapi sebenarnya hati Naruto terasa seperti tercubit saat mengatakan kata 'teman' di akhir ucapannya, tidak rela jika ia dan Hinata akhirnya hanya berakhir sebagai teman saja dan tidak akan pernah bisa lebih dari kata teman.
"Kita berpura - pura pacaran saat di sekolah! Begitu maksudmu?" sungguh memperjelas ucapan Naruto membuat hatinya patah seketika.
"Ya, itu maksudku. Kau tahu 'kan kalau sekarang seisi sekolah telah mengetahui tentang semua kejadian ini, dan aku yakin mereka percaya jika kita berpacaran. Tanpa mereka sadari sebenarnya kita itu hanya, teman." kembali Naruto berucap dusta pada hati dan dirinya sendiri dengan tatapan serius untuk meyakinkan Hinata.
Memiringkan sedikit kepalanya dan memikirkan perkataan pemuda pirang di hadapannya, ada benarnya juga perkataan Naruto. Saat ini seisi sekolah pasti sudah mengira kalau mereka sekarang berpacaran dan jika mereka tidak berpura - pura dekat saat di sekolah, pasti mereka akan tahu jika ucapan Gaara adalah benar jika mereka sama sekali tidak ada hubungan apa - apa.
Dan pasti si pemuda berambut merah itu akan besar kepala karena semua tuduhannya pada mereka berdua adalah benar, jika hal itu benar - benar terjadi pasti Naruto tidak akan bisa menikmati masa remajanya di sekolah barunya dengan tenang karena Gaara pasti tidak akan ambil diam. Hinata tahu itu dan benar, itu semua tidak boleh sampai terjadi. Ia harus menyelamatkan Naruto kali ini, karena dia telah berulang kali menyelamatkan hidupnya dari Gaara, meski pun sebenarnya hatinya begitu sakit dan nyeri saat ternyata ucapan Naruto padanya hanya sekedar untuk menutupi setatus palsu mereka.
Ingin rasanya ia menangis karena sungguh saat ini sebenarnya ia begitu sedih, benar dugaannya kalau Naruto tidak akan mungkin dengan mudahnya jatuh cinta padanya hanya karena ciuman bodoh itu.
"Kau ada benarnya juga, Naruto." Ucap Hinata pasrah.
"Kalau begitu mulai besok jangan jauh - jauh dari ku, dan aku akan menjemputmu setiap pagi." sekarang Naruto benar - benar berhasil membuat Hinata tercengang.
"Me - menjemputku?"
"Aah... iya, aku lupa. Aku 'kan belum tahu rumahmu dimana! Ayo aku akan mengantarmu pulang." Telapak tangan Naruto menggenggam tangan mungil itu dan menariknya lembut menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka.
Hinata mengikuti langkah Naruto pelan. "Tu - tunggu Naruto, kenapa kita pulang? Kenapa kita tidak kembali saja ke sekolah?"
Menghentikan langkah saat mendengar desisan kecil sang gadis indigo yang terdengar sangat jelas dan berbalik menatapnya dengan senyuman manis. "Ne... Hinata, jika kita kembali sekarang pasti kita akan di hukum. Dan jika kita kembali ke sekolah besok, pasti kita juga akan di hukum."
"Jadi lebih baik kita kembali besok saja." kini Hinata yang melanjutkan perkataan Naruto barusan.
Naruto mengangguk pelan. "Hn."
"Em... bagaimana kalau kita jalan - jalan dulu! Aku lapar dan..." ajak Hinata dengan nada sedikit manja.
"Apapun untukmu." Potong Naruto cepat, "Emm... satu lagi maafkan aku karena sudah mengajakmu membolos, Hinata."
"Tidak apa, aku senang karena baru pertama kali ini aku membolos sekolah." Senyum kecil Hinata membuat hati Naruto kembali menghangat.
.
.
.
Kembali ke kelas 2 - 1, sekelompok remaja putra dan putri tengah berdiskusi membahas sesuatu yang di luar mata pelajaran mereka dengan antusias.
"Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi Inu?" suara Sakura serius bertanya pada sang pemuda pecinta anjing.
"Iya cepat ceritakan semua yang kau tahu." kini suara Ino terdengar mulai mendesaknya.
"Katakan atau kau tidak akan bisa merasakan udara segar 1 menit setelah ini." ancaman Sasuke membuat Kiba menjadi semakin prustasi.
Dan menarik rambut coklat yang semakin berantakan karena tarikannya sedari tadi pada kepala yang serasa ingin pecah itu. "Huwaa... hentikan... iya aku akan mengatakannya, tapi bagaimana aku bisa mengatakan semua jika kalian terus bertanya dan mendesakku." ucapannya berakhir dengan dengusan lega yang terdengar jelas dari mulutnya.
Sai memasang senyum anehnya pada para sahabat yang sekarang sedang mengintimidasi pemuda bersurai coklat. "Santailah sedikit kawan - kawan, biarkan Inu menjelaskannya dulu."
"Dengarkan baik - baik." kata Kiba sambil menatap satu persatu para sahabatnya. "Naruto... dan Hinata - chan... mereka. Ternyata. Adalah. Sepasang kekasih." ucapannya terhenti dengan tatapan tak percaya dari para sahabat dan ekspresi tak percaya dua gadis yang kini berdiri di hadapannya dengan mulut ternganga.
"Wah... ini berita hebat, akhirnya Hinata - chan tidak menjomblo lagi. Andai saja tadi aku cepat datang ke tempat kejadian perkara, pasti aku akan melihat adegan romantis tadi." teriakan semangat Ino membuat beberapa siswa di sana mendelik tajam menatapnya. "Heehee... maaf teman - teman, lanjutkan kegiatan kalian dan hiraukan saja aku."
Braakkk
"Dasar dobe... kenapa kau tidak mengatakan hal itu dari awal kepada kami." kembali suara terikan terdengar, tapi kini Sasuke yang bersuara namun tidak ada satu pun dari para siswa yang berada di sana berani menatap ke arahnya kecuali mereka ingin pulang tanpa bisa kembali ke sekolah besok pagi.
Shikamaru melipat kedua tangannya di depan dada, "Sekarang mereka berdua kabur dari sekolah? Benar - benar mereka berdua ingin mati besok."
"Apa kau percaya jika mereka akan mati besok, Shika?" ujar Sai santai.
"Mungkin saja, tapi itu tidak akan menjadi sesuatu yang seru jika Naruto yang menjadi tersangka."
Sakura dan Ino yang sama sekali tidak mengerti dengan ucapan kedua pemuda di depannya mulai saling bertatapan dengan mengerutkan dahi.
"Sebenarnya apa sih yang sedang kalian bicarakan?"
"Sayang, sudahlah jangan terlalu di pikirkan! Kita lihat saja besok apa yang akan terjadi, Sakura - chanku."
"Ta - tapi Sasuke - kun, pasti besok kepala sekolah akan menghukum mereka berdua."
Ino tidak tinggal diam, "Hn. Dan Hinata - chan, ya ampun... apa yang harus kita lakukan, jidat? Kasihan jika gadis polos sepertinya harus di hukum karena pemuda culun itu." ujarnya seenaknya.
Sasuke yang mendengar perkataan Ino tidak ambil diam. "Hey... hey... Ino, apa kau baru saja mengatakan bahwa si jahil itu gadis yang polos. Oh... ayolah, dia itu sering mengerjai K5 dan murid lainnya, kapan lagi kita bisa melihatnya teraniaya dengan hukuman kepala sekolah, hah."
"Ya, kau benar Sasuke. Dengan begini aku tidak perlu repot - repot membalas pebuatannya padaku waktu itu.
"Ternyata kau masih menyimpan dendam itu ya, Inu!" kepalan tangan Sasuke meninju pelan sebelah bahu Kiba.
Ino mengerucutkan bibir dengan raut wajah kesal. "Kalian benar - benar tidak punya perasaan pada wanita."
"Sudahlah sayang nikmati masa muda mu yang menyenangkan ini." Melangkah dari duduknya dan merangkul pinggang Ino, "Lebih baik kita ke kantin, aku akan mentraktirmu." beranjak meninggalkan yang lain.
"Sai - kun... jangan seperti mereka."
"Hey kalian berdua, tunggu." Ikut beranjak dari duduknya, Shikamaru mengejar dua sejoli yang sudah menghilang di balik tembok beton di hadapannya.
Di ikuti oleh ketiga remaja yang menatap kepergian Shikamaru.
"Hey... bisa - bisanya kalian meninggalkan kami." Sakura berucap kesal tanpa jawaban.
.
.
.
Setelah mereka puas berjalan - jalan, akhirnya Naruto mengantar sang gadis pulang. Di kediaman Hyuga yang terlihat begitu sepi, hanya terlihat seorang pelayan sedang menyiram bunga di halaman depan.
"Baiklah, sampai di sini saja. Lebih baik aku pulang sekarang." Melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil sport mewah itu.
"Tu - tunggu Naruto," Hinata menghentikan langkah Naruto.
"Hn, Ada apa Hinata?"
"Terima kasih karena sudah mengajakku jalan - jalan hari ini... Dan lain kali bisakah kita jalan - jalan bersama lagi?"
Naruto begitu senang saat Hinata mengatakan hal itu, hatinya menghangat seketika. "Tentu saja, kapanpun kau mau."
"Benarkah! Lain kali aku boleh 'kan berkunjung kerumahmu?"
"Besok akan aku ajak kau kerumahku."
"Ha'i." Senyum mengembang di wajah cantik Hinata membuat sang pemuda semakin tak bisa mengatur degup jantung yang ingin keluar dari tempatnya.
"Sudah ya, Hinata. Aku pergi dulu." Melangkah pergi meninggalkan Hinata yang masih setia berdiri di depan pintu gerbang kediamannya, menatap punggung tegap Naruto yang semakin menjauh, dan tak terasa Hinata memegang dada yang sejak tadi berdebar tak karuan.
"Aishiteru, Naruto - kun." gumamnya pelan.
.
.
NARUTO POV
Di sepanjang jalan Naruto terus memasang senyum di bibirnya, menatap layar smartphone miliknya karena merasa ada getaran di sana.
Yang ternyata itu adalah pesan dari Hinata yang semakin membuat senyum itu melebar hingga terlihat seperti orang gila jika ada orang lain di sana yang melihatnya.
From : Hinata
"Maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang, Naruto :("
To : Hinata
"Tidak apa - apa, aku jadi lebih sehat karena berjalan kaki seperti ini :)"
Terus berjalan menyusuri trotoar, tidak lupa ia mengaktifkan GPS - nya untuk menunjukkan arah agar tidak tersesat, karena memang ia belum benar - benar hafal dengan jalanan di kota Konoha ini.
Tin Tin Tin
Suara klakson mobil terdengar begitu kencang dari arah belakang Naruto, membuatnya membalikkan badan dan ternyata itu adalah mobil neneknya Tsunade.
"Ga - Gawat... Nenek..." gumamnya pelan dengan wajah panik saat mengetahui jika mobil hitam yang berhenti di depannya sekarang ternyata mobil sang nenek.
Membuka kaca mobil dan sedikit berteriak. "Naruto, cepat masuklah."
Memikirkan sejenak ajakan Tsunade yang begitu mencurigakan baginya.
"Cepatlah Naruto, atau kau ingin aku turun dari mobil dan menyeretmu masuk?" kembali Tsunade berucap kencang.
"Iya... iya..." Tanpa ba bi bu lagi segera Naruto berlari kecil memutari mobil dan duduk tepat di sebelah sang nenek.
Dan mobil mewah berwarna Hitam mengkilat itu melaju dengan kecepatan tinggi membelah keramaian jalanan kota sore itu.
..
HINATA POV
Merebahkan tubuhnya di atas kasur queen size, Hinata membuka aplikasi line dan mengetik sebuah pesan di sana.
Ting
Terdengar sebuah pesan yang baru saja masuk, segera menyambar smartphone yang tadi ia lempar di sebelah tubuhnya.
Melihat pesan masuk yang ternyata dari Naruto, padahal baru saja ia mengirim pesan itu dan ternyata Naruto langsung membalasnya cepat.
From : Naruto - kun
"Tidak apa - apa, aku jadi lebih sehat karena berjalan kaki seperti ini :)"
Berdiri dari tidurnya, kini Hinata berjalan mendekati meja belajar dan mendudukkan diri di sana.
Membuka laptop kesayangannya dan seperti biasa membuka vlog pribadi milik Menma, yang ternyata masih membuatnya begitu kecewa. Karena sudah beberapa bulan ini pemuda itu tidak pernah lagi mengunggah satu video pun di sana setelah kejadian pertengkaran mereka malam itu.
"Apa dia masih marah padaku? Apa aku harus meminta maaf padanya?" gumam Hinata pelan pada dirinya sendiri.
Mengambil kembali smartphone yang tergeletak di sebelah laptopnya dan mengetik sebuah pesan di salah satu email yang tertera di sana.
"Haruskah aku mengirimnya? Tapi kalau dia tidak membalasnya bagaimana? Atau dia marah padaku bagaimana?" rancaunya sendiri sambil terus mengotak atik laptop kesayangannya yang kini menampilkan halaman instagram milik Menma.
Melihat sebuah foto tanpa keterangan yang sepertinya sang pengunggah sedang berada di dalam sebuah mobil dengan latar jalanan yang sepertinya tidak asing bagi Hinata.
Meletakkan kembali smartphone - nya di atas meja tanpa menekan tanda kirim setelah menulis pesan yang baru saja ia ketik. Sedikit mendekatkan wajahnya pada layar laptop dan mengamati setiap sudut gambar itu, dengan kembali bergumam pelan.
"Sepertinya aku pernah melihat jalanan ini? Tapi di mana? Kenapa terlihat tidak asing, ya?"
Berpikir sejenak sambil menyandarkan tubuhnya di kursi yang ia duduki, di lihatnya baru 15 menit yang lalu foto itu di unggah oleh sang empunya.
"Sepertinya ini di Jepang! Tapi mana mungkin dia ada di sini. Ah... lebih baik aku tanyakan saja langsung padanya." Desisnya dan kembali meraih smartphone itu, mengubah pertanyaan yang tadi sudah ia ketik.
.
.
.
Restoran bernuansa hitam dengan corak mega mendung berwarna merah, akatsuki sea food yang berada di dalam mall besar ternama di Konoha East Mall, menyediakan berbagai macam makanan laut yang menggugah selera.
Terutama sup kepala ikan dan sup kerang yang paling banyak di buru oleh para pengunjung, apa lagi saat musim dingin berlangsung. Restoran ini terkadang sampai harus menyetok persediaan bahan utama mereka hingga tiga kali lipat di banding hari biasa.
Setelah apa yang tadi Naruto lakukan di sekolah, sampai acara pelariannya bersama Hinata seharian tadi dari sekolah.
Bukannya Tsunade sudah lupa atau pun mengabaikannya, tapi di luar lingkup sekolah ia memang tidak pernah ingin terlalu memikirkan setiap perkara yang terjadi di sekolahnya. Tapi setidaknya ia bisa menyerahkan tugas hukum menghukum, dan bimbingan untuk para murid yang bermasalah pada Kakashi tangan kanannya yang juga wali kelas dari Naruto cucunya.
Tsunade Namikaze dan Naruto Uzumaki saat ini tengah berada di salah satu meja berbentuk persegi, tidak ada perbincangan yang berarti di antara keduanya sampai Tsunade selesai memesan semua makanan yang ia inginkan dan berpamitan pada sang cucu untuk ke toilet, sekedar menyetorkan sesuatu yang sedari tadi sudah ingin keluar karena tidak bisa di tahan lagi.
"Ehem... kenapa sedari tadi kau hanya mendiamkan makanan ini, Naruto?" tanya Tsunade yang baru saja tiba dari buang air kecil.
"Aku menunggumu, Nek? Tidak enak kalau aku makan sendiri."
Telapak tangan Tsunade mengusap pipi Naruto sekilas. "Kau memang cucu Nenek yang paling romantis."
"Siapa dulu gurunya, Minato Namikaze." Ujar Naruto dengan cengiran bodohnya.
"Aku sudah menduganya, memang dia pandai sekali merayu dan memanjakan wanita."
.
.
"Ya ampun... sungguh benar - benar sial aku hari ini. Senpai pirangku benar - benar berpacaran dengan senpai cantik teman satu kelasnya, Gaara terus - terusan merengek padaku agar aku mau membantunya, dan sekarang mama menyuruhku untuk berbelanja semua kebutuhan satu bulan kedepan ini sendirian.
"Kami - sama... tolong aku... siapa pun bantu aku membawa semua barang - barang berat ini." ocehan Shion di sepanjang langkahnya menuju parkiran di mall besar itu membuat beberapa orang yang ia lewati menatap heran ke arahnya, sungguh gadis yang malang dan aneh pikir mereka.
Seorang gadis dengan troli penuh dengan bungkusan bertumpuk cukup tinggi, dan terlihat seperti sangat berat hingga membuatnya mendorong troli di depannya dengan sedikit kuat agar benda itu mau bergerak.
Braakk
Menutup kasar bagasi mobil yang sudah terisi penuh belanjaannya hari ini, merasa perut yang begitu amat lapar dan tidak bisa lagi untuk di ajak kompromi, setelah melakukan kegiatan kuli angkut belanjaan bulanan.
Shion memutuskan untuk mengisi perut datarnya dengan makanan yang bisa menghangatkan tubuhnya dan mengenyangkan.
Kembali berjalan memasuki Konoha East Mall dan berkeliling mencari makanan yang ingin ia makan hari ini, di lantai paling atas.
"Wah... pasti sangat enak jika cuaca sejuk seperti ini, aku menyantap sup di restoran akatsuki. Sup kepala ikan, aku datang..."
Melangkah masuk dengan penuh semangat dan mendudukkan diri di meja yang berada di pojok ruangan, sebelum ia menyadari kalau di salah satu meja di ruangan itu ada sesosok pemuda yang selalu membuat hati dan pikirannya berkecamuk.
Naruto, iya tak sengaja melihat senpai pirangnya yang kini tengah duduk di salah satu meja restoran. Namun sepertinya ia tidak sendiri, karena di mejanya terlihat ada begitu banyak makanan yang ia pesan.
Tidak mungkin jika semua makanan itu akan ia makan sendiri, lalu dengan siapa dia di sana? Bersama kekasihnya, 'kah? Keluarganya? Atau para sahabatnya K5?
Tap tap tap
Seorang wanita datang menghampirinya. Bukankah, itu Tsunade - sama kepala sekolah NHS.
Kenapa Naruto senpai bisa bersama dengan Tsunade - sama? Sepertinya mereka terlihat begitu akrab dan sedikit mesra. Apa jangan - jangan senpai pirang itu suka dengan seorang yang lebih tua darinya.
Ah... itu tidak mungkin, lagi pula mana mungkin juga seorang Tsunade - sama yang begitu tegas menyukai bocah ingusan dan culun seperti senpai pirangku.
Karena rasa penasaran yang sedari tadi beradu di pikirannya tak kunjung selesai, Shion memberanikan diri mendekatinya dengan berpindah posisi duduknya tepat satu meja di belakang Naruto.
Menundukkan kepalanya dalam - dalam agar pemuda itu tidak melihat wajahnya dan bersikap senormal mungkin agar tidak di curigai oleh pengunjung lain dan para pelayan di sana, atau kalau tidak ia akan di tendang keluar restoran karena di curigai.
Sekarang terdengar begitu jelas apa yang mereka obrolkan, ada gunanya juga Shion perpindah tempat duduk hanya untuk sekedar menguping pembicaraan mereka.
.
.
Seorang pelayan wanita berambut ungu tua dan seorang lagi pelayan laki - laki berambut kuning agak seikit panjang datang menghampiri dan meletakkan beberapa hidangan yang beraroma begitu lezat, bahkan bisa membuat orang yang sudah kenyang kembali lapar sepertinya.
Setelah meletakkan semuanya, keduanya mempersilahkan dan membungkuk, "Silahkan dinikmati, tuan... nyonya..." Kemudian mereka melangkah pergi.
Naruto sungguh terkejut melihat semua makanan yang begitu banyak di hadapannya saat ini.
"Apa ini tidak terlalu banyak, Nek?" tanya Naruto yang masih tidak menyangka kalau sang nenek memiliki porsi makan yang amat sangat banyak.
Tsunade memutar bola mata, "Ini belum seberapa, Naruto. Lagi pula kalau hanya makan, makanan seperti ini saja masih belum bisa membuatku kenyang." Jawabnya santai.
"Hah... yang benar saja, makanan sebanyak ini belum bisa membuat Nenek kenyang? Kalau begitu makan batu saja biar tetap awet kenyang!" ucapnya asal pada Tsunade.
Bletak
Satu pukulan mendarat di kepala Naruto dengan cepat tanpa aba - aba, berdesis pelan sambil mengusap - usap kepalanya yang terasa berdenyut.
"Huu... Kenapa Nenek memukulku?" bibir Naruto mengerucut menandakan ia sangat kesal saat ini.
Tsunade membantu mengusap kepala Naruto dengan belaian cukup lembut, "Jaga bicaramu pada Nenekmu ini, jika kau tidak ingin aku menghajarmu di sini."
Mendengus kesal mendengar perkataan sang nenek. "Aku 'kan hanya bercanda, Nek."
"Ya sudah, sekarang ayo cepat habiskan makanan ini, agar kita bisa segera pulang."
"Ha'i. Itedakimasu."
Melahap sesuap demi sesuap makanan laut itu tanpa ia sadari ada seorang gadis yang tengah mengawasinya dari jarak yang cukup dekat.
.
.
Membulatkan kedua bola mata kabutnya yang amat begitu terkejut setelah mendengar dengan jelas semua percakapan antara Naruto dan sang kepsek Tsunade - sama, langsung membuat Shion kenyang seketika.
Ternyata tidak sia - sia hari ini dirinya bersusah payah sebelum akhirnya mendapatkan sesuatu informasi yang begitu amat penting dan tentu saja belum di ketahui oleh seisi sekolah Namikaze High School.
Tidak, kecuali sahabat senpai pirangnya yang pastinya mereka sudah tahu semua tentang setatus dari Naruto.
Meremas smartphone miliknya tanpa sadar. "Pantas saja Hinata senpai mau berpacaran dengan senpai incaranku ini." gumamnya begitu pelan sampai hampir tidak bisa di terdengar oleh telinganya sendiri.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Kim Jin Yoon : Maaf baru bisa bales ya, ini sudah lanjut :)
HariwanRudy : Iya makasih, ini sudah lanjut kok :D
dindra510 : Siap...
Annur Azure Fang : Iya ini udah lanjut :)
hime : Udah up lagi nih, makasih udah mau nunggu #hug
heira : Pasti lanjut kok ^^
UCHIHAFAMILY SARADA : Iya pasti lanjut dattebayo, heehee :))
..
Makasih buat semua yang udah baca dan yang udah ninggalin jejak di cerita Kei ini...
Maaf kalau jelek, atau mungkin ada dari para reader dan juga author yang merasa kurang pas dengan kata - katanya, mohon kritik dan saran.
Supaya saya bisa lebih baik lagi dalam menulis cerita.
#Gomenasaiminna
#hug #hug #hug dari Kei...
...
Mind to RnR?
