SAPPHIRE EYED BOY
.
.
.
.
Cast : XI LUHAN, OH SEHUN and other
.
.
.
.
Genre : romance, supernatural, mistery, and friendship
.
.
.
.
Warning : boy x boy ,typo bertebaran, kalimat tak beraturan dan abal-abal.
.
.
.
.
HAPPY READING
.
.
.
.
Sekolah ribut lagi, kali ini gosip yang menyebar mengatakan bahwa Luhan menggunakan sebuah trik aneh untuk menarik Sehun berada di pihaknya. bukan tanpa alasan mereka berfikir begitu, karena faktanya, pangeran sekolah itu memang mengekori Luhan kemana-mana seperti anak ayam pada induknya, mereka tidak berada di kelas yang sama namun Sehun selalu ada di mana Luhan berada.
Dengan begitu, aksi bully sembunyi-sembunyi yang mereka lakukan juga terhenti karena entah bagaimana, Sehun selalu tau siapa yang mengerjai Luhan dan melaporkan semuanya ke guru BP setiap harinya.
Luhan menjadi kesal, dia sudah mengusir dengan berbagai cara namun Sehun anak yang keras kepala, jika Luhan bilang A maka sehun bilang AA dan Luhan berakhir dengan kekalahan karena dia bukan tipe orang yang mampu berdebat, pada akhirnya Sehun akan tetap mengikutinya kemanapun selama dia berada di lingkungan sekolah.
"haruskah aku mengerjainya agar dia menjauh darimu" Yoon suk meluncur pelan mengikuti langkah luhan turun dari tangga.
"jangan melakukan apapun, aku sudah cukup di benci dengan dia yang terus mengikutiku" Luhan menyapa Lay yang sedang meletakkan sarapan ke atas meja dan duduk di hadapannya "jika kau sampai membautnya celaka, aku bisa pulang dalam keadaan babak belur"
"tak masalah asalkan kau masih bisa berjalan, setidaknya dengan begitu aku jadi punya alasan untuk mematahkan kakinya agar tak bisa mengganggumu lagi" Suho ikut bergabung di samping lay.
"hyung, kita sudah membahas ini sebelumnya, kekerasan takkan berhasil" Luhan menerima roti yang Lay tawarkan "terakhir kali kau mematahkan kaki teman sekelasku, kau harus mendekam di penjara selama sebulan dan aku di keluarkan dari sekolah"
"kali ini aku akan memastikan tak ketahun dan menyeret namamu"
"bukan seperti itu hyung, aku tak mempermasalahka namaku yang terseret. hanya saja, sekarang kau sudah dewasa, kau bisa mendapat hukuman lebih berat dari kejahatan sewaktu remaja—pokoknya jangan lakukan apapun" Luhan cepat menabahkan ketika Suho terlihat ingin memberi alasan lain.
"lalu kau hanya akan membiarkannya?" Lay menumpukan lengan ke meja dan menatap Luhan intens "apa kau senang bersamanya? Tanyanya.
Luhan tak menjawab, lebih tepatnya tak tau.
"Kau suka padanya?" pria itu selalu berhasil menekan seseorang dengan suara lembutnya.
"Tebakan yang bagus" Jiyeon tertawa nyaring dan berputar-putar di atas meja makan "aku juga merasa ada rasa suka di antara mereka"
Luhan mendelik marah kemudian menatap pada Lay lagi "tidak, aku tidak menyukainya, tapi aku juga tidak membencinya" adalah jawaban yang mengundang tukikan tajam di mata Suho.
"kau membuatku semakin tak suka padanya" katanya.
Luhan menghela nafas, dia berdiri memutari meja dan berhenti di belakang dua pria terpenting dalam hidupnya, dia merentangkan tangan dan mendekap mereka dalam senyuman "aku bisa mengatasinya sendiri, aku bukan anak kecil lagi, aku tau siapa yang seharusnya menjadi teman dan lawan"
"tidak" Lay menangkup lengan luhan yang melingkar di lehernya "teman dan keluargamu hanya kami, yang lainnya adalah lawan" Seho melakukan hal yang sama dan mengangguk.
"aku tau" luhan mengecup pipi keduanya dan berpamit ke sekolah. Yoon suk dan Jiyeon melakukan hal yang sama pada Lay dan Suho kemudian menyusul Luhan, meski kedua orang itu tak bisa melihat mereka, tapi Luhan mengatakan bahwa mereka tau tentang keberadaan Yoon suk dan Jiyeon, jadi mereka bisa menganggap Lay dan Suho layaknya keluarga, juga.
"apa yang harus kita lakukan" Lay membuka suara setelah memastikan Luhan keluar dari rumah "orang itu bisa membawa bahaya untuk Luhan"
Suho meraih jemari kekasihnya dengan lembut dan mengecupnya "tentang mematahkan kakinya, aku tak main-main" dia mendekatkan wajah dan meraup bibir ranum yang tersaji ketika mendapat izin, Keduanya larut dalam ciuman mesra tanpa menyadari sosok roh transparan yang sejak tadi mengawasi mereka.
.
.
.
.
.
Setelah pertemuannya dengan Luhan, Sehun tak lagi bermimpi buruk, dia makan dengan baik tanpa harus memuntahkannya kembali karena bayangan mengerikan supir kim, dia juga tak perlu lagi ketakutan dan meminta siapapun untuk menemaninya.
Namun, hal itu tak serta merta menyelesaikan kejadian lainnya, karena perasaan terawasi masih mengganggunya, terlebih dengan kejadian-kejadian yang mulai menimpanya.
Dimulai dengan ledakan mobil di rumah Luhan, kejadian lainnya datang menyusul. Seperti ular berbisa yang tiba-tiba saja ada di bak mandinya, obat tidur di dalam jus dan rem mobil yang blong. Sederetan kejadian itu terjadi berturut-turut, Sehun masih selamat pun karena peringatan yang Luhan berikan.
Mereka memang bertukar nomor ponsel untuk berjaga-jaga, dan hasilnya, itu memang berguna, karena Luhan bisa menyampaikan peringatan bahaya yang supir kim beritahu.
Pria paruh baya itu mengatakan akan membantunya dan mengamati semua pergerakan berbahaya yang ada di sekitar Sehun, dan sebagai gantinya Sehun akan membiayai operasi putrinya.
Secara diam-diam tentu saja.
Dari sederetan kejadian yang menimpa Sehun, ayahnya sudah menyelidiki dengan sangat teliti, melalui cctv, mereka menemukan pelayan-pelayang yang terlihat melakukan semua aksi itu, tetapi yang janggal adalah pelayan yang bersangkutan dengan masing-masing kejadian mengaku tak ingat melakukan hal yang terekam di cctv.
Dan mereka memperkuat pengakuan ketika mereka semua lolos dalam mesin pendeteksi kebohongan, hanya dengan satu kata 'mereka tak mengingat kejadian apapun di hari kejadian'.
"aku selalu penasaran mengapa kau begitu menyukai makan siang di atap seorang diri" Sehun mendaratkan bokongnya pada lantai atap dan bersandar pada pagar pembatas, menatap langit sambil memangku kotak bekal miliknya tanpa peduli dengan satu manusia yang mendelik tak suka dengan keberadaannya.
"kenapa kau di sini?" Luhan sama sekali tak berusaha menyembunyikan nada tak senangnya.
"kenapa?tidak boleh?" Sehun balik bertanya cuek tanpa menoleh "lagipula tak ada peringatan seperti 'tempat ini hanya milik Xi luhan' di depan pintu"
"aku tak mengatakan kau tak boleh kemari, aku hanya bertanya kenapa kau di sini?"
Sehun menoleh dan tersenyum tipis "jawabannya mudah, karena aku ingin"
Berdecak sekali, Luhan mengunyah telur gulung dengan emosi "bukankah biasanya kau makan bersama teman-taman mu di kantin, di sana makanannya lebih enak"
"aku suka di sini, lagipula aku perlu berhati-hati dalam memilih makanan, bisa saja seseorang memasukkan sesuatu lagi dalam makananku" Sehun mengangkat kotak bekalnya di hadapan Luhan "karena itu, aku membuat bekal sendiri, lebih aman kan?"
Luhan melirik sekilas pada kotak itu ketika Sehun membukanya, dan dia prihatin dengan semua bahan bakanan yang Sehun sia-siakan hanya untuk makanan berwarna hitam itu "aku malah khawatir kau meracuni dirimu sendiri"
"jangan menilai dari penampilannya, jika kau mencicipinya, kau pasti akan menyuruhku membuatkan satu untukmu" meski mengatakan itu, sehun memilah dengan sumpit telur gulung yang tak hangus untuk di makan.
"tidak, terima kasih" Luhan menutup kotak bekalnya yang masih menyisakan beberapa jenis makanan dan menegak air minum, sehun diam-diam melirik sambil menelan liur.
"kau sudah selesai?" luhan mengangguk, dan ikut melirik kotak bekalnya yang di lirik oleh sehun dengan perut berbunyi "tapi kau menyisakan banyak sekali"
"kau mau" luhan menawarkan.
Sehun berdehem pelan, menelan makanan yang terasa aneh di mulutnya dengan paksa, kemudian menatap kotal bekalnya dan kotak bekal luhan bergantian. "aku baru ingat, tadi aku sempat meninggalkan bekalku di kelas, dan sekarang rasanya jadi aneh. kurasa seseorang memasukkan sesuatu ke dalamnya" dia meletakkan kotak bekalnya dan menyambar kotak bekal luhan "aku akan makan ini saja" katanya, tak menyadari tatapan aneh yang luhan berikan padanya.
"kau percaya padaku?" Sehun sudah memasukkan satu nasi kepal ke dalam mulutnya ketika Luhan bertanya, dan itu membuatnya tak bisa berbicara, dia hanya menatap dengan bingung apa maksud perkataan pria di hadapannya "kau tak takut aku menaruh sesuatu ke dalamnya" Sehun terbelalak, tapi dia tak memuntahkan makanan di mulutnya, sebaliknya, dia menelannya.
"aku melihatmu memakannya tadi, kau tak mungkin memasukkan sesuatu yang aneh pada makananmu sendiri" sehun berusaha agar tak terdengar ragu.
"bukankah kau berfikir aku orang yang aneh, lalu apa kau tak pernah berfikir jika kemungkinan aku juga makan sesuatu yang aneh?"
Untuk sesaat Sehun terdiam, Luhan nyaris berfikir pria itu akan melempar kotak bento padanya, namun aksi Sehun selanjutnya adalah melahap habis semua makanannya hingga tak tersisa, kemudian tanpa permisi sehun juga merampas dan menegak habis air minum miliknya.
"kurasa aku jauh lebih aneh karena berfikir kau aneh tapi masih ingin berteman denganmu" Sehun meletakkan kotak bento kosong di hadapan Luhan yang masih menatapnya tanpa kedip "jadi, Xi Luhan-ssi, apakah kau mau menerima orang super aneh ini menjadi temanmu?" nada yang Sehun keluarkan tak main-main.
Awalnya Luhan tak memberi respon apapun, hanya menatap Sehun seolah pria itu lebih tidak normal dari hantu-hantu yang sering dia temui, namun di menit berikutnya dia tertawa untuk pertama kalinya di hadapan Sehun, sebuah tawa merdu yang indah, membekukan Sehun bersama detakan jantung yang hampir pecah.
.
.
.
.
.
Luhan memiliki mata birunya sejak lahir, dan itu bukan hal umum untuk di miliki orang asia, jika mereka memiliki keturunan asing, mungkin kelahirannya takkan menyebabkan banyak cibiran, tapi keluarga Xiao adalah kelaurga terhormat yang menjunjung tinggi adat dan bersiifat sangat tradisional, yang bahkan tak menerima pernikahan jika tak berasal dari klan sendiri, yang berarti tak satupun orang luar yang bertanggung jawab dengan kelahirannya, Karena itulah Luhan di anggap sebagai kutukan.
Ibunya adalah anak dari ketua klan dan ayahnya adalah calon ketua klan, mungkin karena itulah dia tak di bunuh pada hari kelahirannya dan hanya di asingkan ke suatu tempat yang jauh dari keluarga.
Hidup dengan dua pasang pelayan yang kini telah meninggal dan menghadiahkan Luhan dua keluarga. Lay dan Suho adalah keluarganya dan satu-satunya manusia yang berinteraksi baik dengannya.
Dia tak pernah menetap lama di suatu tempat, jika di asia orang-orang mengasingkannya karena warna matanya, maka di negara barat, dia di asingkan karena dia adalah orang asia.
Saat itulah Luhan merasa dia tak memiliki tempat di dunia ini, dan menyerah untuk hidup, tetapi dia tak pernah berhasil bunuh diri karena terikat dengan darah keluarganya, bagi mereka, jika Luhan mati dengan cara seperti itu adalah melukai nama baik keluarga meskipun Luhan tak pernah memakai nama Xiao sebagai marganya.
Luhan merasa tak memiliki hak untuk hidup, tapi juga tak di beri hak untuk mati.
Dia berhenti menangis di usia 10 tahun, sebagai gantinya, Lay dan Suho lah yang menangis sangat keras ketika Luhan mendapat perlakuan tak adil dan pulang dalam keadaan luka ataupun berbau lumpur.
Goresan-goresan di nadinya berhenti mengucurkan darah dan sembuh bersama ratusan luka lain di sekujur tubuhnya, hanya meninggalkan goresan yang takkan pernah hilang bersama memorinya. Setiap dia melihatnya di pantulan cermin, luka itu seperti terbuka lagi di hatinya.
Kehidupan tak pernah membuatnya tertawa seperti manusia yang tak pernah memberinya rasa dari sebuah kehidupan—pengecualian untuk Lay dan Suho, karena luhan menganggap mereka adalah malaikat— dia bermain dengan kematian dan tertawa hanya bersama mereka yang sudah mati. Luhan berfikir itu akan berlangsung selamanya.
Namun, hari ini, untuk pertama kalinya luhan tertawa, di hadapan seseorang yang memiliki detak jantung, tidak berlangsung lama, hanya sepersekian detik, namun luhan merasa dia menjadi normal.
Kata-kata Sehun sangatlah sepele, pria itu hanya mengatakan ingin berteman dengannya, namun bagi Luhan, kata itu adalah sejarah, karena selama ini tak seorangpun pernah mengatakan itu padanya.
Pertahanannya luruh hanya dengan satu kata pertemanan. Yahh, dia kebal dengan semua kata-kata pedas maupun hinaan apapun, tapi dia lemah dengan kata-kata yang lembut dan menyentuh.
Saat itu jugalah, Luhan menangis di tengah-tengah tawanya.
Menyerang Sehun dengan rasa panik, pria itu terus menepuk pundak Luhan sambil menayakan apakah dia baik-baik saja, namun Luhan justru berhenti tertawa dan menangis sekencang-kencangnya.
Satu-satunya hal yang bisa Sehun lakukan adalah memeluknya dan Luhan sama sekali tak menolak.
"Sehun-ssi, kau pastilah orang paling aneh yang pernah aku temui" ucapnya dengan senyuman yang lebih tulus.
Tak menyadari tatapan penuh kebencian yang mengawasi mereka dari balik pintu.
"dia milikku"
.
.
.
.
.
Tao menangkup kepala di atas meja, berkali-kali dia menghela nafas seolah hidupnya adalah yang paling sengsara, mengubah posisi dan mendesah lagi, ubah lagi dan menghela nafas lagi, Tao melakukan itu hampir ratusan kali dan berhasil menampakka garis siku-siku di jidat teman sebangkunya.
"jika kau merasa sangat lelah dengan kehidupanmu, atap sekolah bisa jadi tempat melompat bebas yang strategis" Baekhyun berucap sinis dan menutup bukunya dengan sebal, menaikkan kacamata yang melorot, dia berniat mencari tempat yang lebih baik untuk membaca ketika Chanyeol muncul di depan kelasnya dengan senyuman lebarnya bersama Kai.
"ada apa dengannya?" Kai melompat dan duduk di atas meja Tao tanpa peduli delikan tajam dari Baekhyun "putus cinta?"
"jangan tanya padaku, kalian adalah temannya"
"temanku adalah temanmu juga, sayang"
Baekhyun ganti memelototi chanyeol "jangan memanggilku sayang" desisnya.
"sweety...awww"
Buku ribuan halaman mendarat mulus di kepala Chanyeol dan pria itu meringis manja.
"jadi, apakah Sehun benar-benar mengekori anak baru itu sepanjang hari?" Baekhyun bertanya pada Kai yang segera memasang wajah masam seperti Tao.
"anak albino itu menggoda Luhan-ku"
Tao tiba-tiba mengangkat kepalanya dengan cepat dan hampir melukai Kai jika saja dia tak sigap melompat turun dan menyelamatkan wajahnya "apa maksudmu menggoda?" Tao mendelik "bukankah sangat jelas, anak baru itu melakukan sesuatu pada dongsaeng-ku hingga rela mengikutinya kemana-mana"
"itu karena Sehun terpesona padanya"
"omong kosong, dia punya warna mata yang mengerikan, bagaiaman bisa kau menyebutnya mempesona"
"tarik kata-katamu sebelum aku membuatmu menyesal"
"kau yang akan menyesal"
Chanyeol dan Baekhyun berdecak bersamaan.
Dua orang itu ribut karena hal yang sama, lagi. Tao terlalu menyayangi Sehun dan Kai mengidolakan Luhan. ketika orang yang mereka kagumi itu terlihat dekat satu sama lain, dua orang yang tertinggal di belakang, saling cakar-cakaran untuk mengklaim siapa yang menggoda siapa.
"apakah menurutmu ini tidak aneh" Baekhyun berpaling dari adegan Kai dan Tao "kedekatan Sehun dan Luhan yang tiba-tiba, padahal baru kemarin aku mendengar Sehun terus mengumpat dan mengatakan bahwa hidup normalnya hancur karena si anak baru"
"aku tidak kaget sama sekali" Chanyeol tersenyum "sejak awal, aku sudah melihat bahwa Sehun tertarik pada Luhan, sangat jelas" katanya yakin.
"bagaiman kau tau?"
Chanyeol menyebar senyuman seribu watt dan mendekat "lihat mataku" mau tak mau Baekhyun menuruti karena jika tidak chanyeol akan semakin mendekat dan mendempetnya di antara meja "aku tau karena dia menatap Luhan seperti aku menatapmu, saat itulah aku tau, bahwa dia sudah tergila-gila" dia mengedip.
Baekhyun berdecak dan mendorongnya menjauh, menyesal karena sempat percaya, seharusnya dia tau, Chanyeol hanya sedang berusaha menggodanya.
"apa kalian sedang berbicara tentangku?" yang menjadi topik pembicaraan muncul dan bersandar pada kusen pintu sambil memamerkan senyum "jika kalian punya waktu untuk bergosip, aku punya banyak cerita yang bisa aku bagi dengan kalian" dia menggesturkan kepala, meminta para hyung untuk mengikutinya.
"hey,, itu tidak sopan" Kai berteriak jengkel yang hanya Sehun respon dengan lambaian tangan.
"Sehun-ah, tunggu aku" Tao berteriak heboh setelah memeletkan lidahnya pada Kai dan berlari cepat menyusul Sehun sebelum Kai menarik rambutnya.
.
.
.
.
.
"aku bertemu arwah supir kim"
Hening. Kondisi meja paling pojok di kantin adalah yang paling senyap, lima penghuninya terdiam menatap pria yang baru saja mengeluarkan kata-kata itu.
"ahhh...maksudmu kau sudah melihat mayatnya?" Chanyeol adalah yang pertama merespon, dia berusaha tersenyum dan meyakinkan diri sendiri bahwa dirinya salah mendengar. Tao mendukung dengan anggukan cepat sedangkan Baekhyun hanya menatap Sehun sejenak kemudian melanjutkan membaca.
Dia tidak peduli, lagipula di hanya di seret oleh Chanyeol tanpa niat untuk ikut berdiskusi.
"bukan, dia jelas mengatakan bertemu arwah supir kim" Kai menyahut "benarkan?" dan menoleh pada sehun untuk meminta pembenaran, dan hasilnya, Sehun mengangguk.
Tao sudah menghabiskan setengah jus ketika dia tersedak. Baekhyun berdecak kesal ketika beberapa cairan mengenai bukunya, dan semakin sebal ketika pria yang duduk di hadapannya itu hanya berucap maaf pelan kemudian menoleh kembali untuk memusatkan perhatiannya pada si maknae yang duduk di antara dia dan Kai "Sehun-ah, jangan membuatku takut" dan mulai merengek "carilah bahan candaan lain, kau tau bagaimana kondisi sekolah ini setelah anak baru itu masuk kan?, jadi jangan membuat suasananya semakin horror dengan mengatakan hal seperti itu dengan wajah serius"
"aku tidak sedang bercanda hyung" kali ini Sehun menatap pada Chanyeol yang duduk tepat di hadapannya "aku serius"
"aku percaya" Kai menyahut "Sehun tak mungkin mengakui hal memalukan seperti ini setelah penyangkalannya kemarin jika dia tak serius melihat dengan mata kepalanya sendiri" dia menaik turunkan alis kanannya sambil tersenyum mengejek, dia tak sedang mendukung, melainkan mengingatkan bahwa Sehun telah melanggar perkataanya sendiri.
Tapi Sehun sedang serius, karena itu dia tak repot untuk terpancing dengan omongan Kai dan melanjutkan apa yang ingin dia sampaikan "kalian tau kan, akhir-akhir ini beberapa insiden terjadi padaku" yang lain mengangguk "seseorang sedang mengincarku, kondisi ini tidak seperti insiden penculikan lainnya, ini jauh lebih serius karen dia tak mengincar uang tembusan"
"dia mengincar nyawamu?" Baekhyun meletakkan bukunya ke meja dan memutuskan untuk bergabung dalam percakapan, karena topiknya menarik daripada tulisan-tulisan yang ada dalam buku.
"itu benar"
"karena itukah pengamanan di rumahmu semakin ketat?, sampai puluhan cctv terletak di setiap sudut rumahmu?" Tao menatap Sehun lekat, seolah percakapan tentang arwah yang tadi membuatnya gemetar tak pernah terjadi, pria itu jauh lebih tertarik dengan percakapan yang sekarang.
Sehun mengeryit "bagaimana hyung bisa tau?" dia menatap Tao lekat.
"apanya?"
"tentang puluhan cctv yang terpasang di rumahku, cctv yang lama hanya terpasang lima, yang lainnya terpasang dua hari yang lalu setelah insiden ular di kamar mandiku dan tak satupun dari kalian berkunjung setelah hari itu"
"kau ini bicara apa?" Tao berkedip terkejut "aku sudah menemukan banyak setelah kau keluar dari rumah sakit"
"apa?"
"aku menemukan setidaknya tiga di dalam kamarmu"
DEG
"tidak mungkin, ayahku tak pernah memasang cctv di kamar—" sehun terdiam, mengundang keryitan dari orang-orang di dekatnya, dia mengepalkan tangannya yang berkeringat, jika bukan ayahnya yang memasang cctv, lalu siapa? Benarkah kata supir kim bahwa dia di awasi 'olehnya' selama ini. Dia memusatkan perhatian pada Tao "bisakah kau memberitahuku semua lokasi cctv yang kau temukan?"
Tao mengangguk dan berkedip-kedip aneh.
"ada apa sebenarnya" Baekhyun menaikkan kacamata yang melorot "apakah ini ada hubungannya dengan kematian supirmu itu?"
Sehun mengangguk "sebenarnya...—
"Oh sehun-ssi" Dia tak melanjutkan perkataannya ketika seseorang tiba-tiba menepuk pundaknya.
Luhan berkeringat dan kelelahan, pakaiannya kusut dan rambutnya lepek, menatapnya dengan cemas dari balik lensa kacamata yang sedikit melorot, dia pasti baru saja berlari ketika kemari.
"ada apa?"
"minumannya" Luhan berusaha berbicara di tengah-tengah nafasnya yang putus-putus "apa kau minum?"
"minuman?" Seketika itu, Sehun mengerti apa yang terjadi. Dia menoleh panik "jusnya" dan menatap ngeri pada gelas di atas meja yang kini bergeser di hadapan Tao dan hanya tersisa setengah.
Di sisi lain, Tao sudah terlihat dalam kondisi tak baik.
"panggil dokter, CEPAT" suaranya mengaung di dinding kantin, bersamaan dengan ambruknya Tao dalam pelukannya, dengan nafas putus-putus dan wajah pucat pasi.
"HYUNG"
Dia ada, di antara kerumunan orang-orang dalam kantin, tersenyum sangat tipis hingga tak seorang pun yang menyadarinya.
T.B.C
.
.
.
.
.
REVIEW PLEASE
