Wedding Organizer VS Architect
Chapter 4
…
..
.
Luhan sudah terbiasa dengan keluhan para pelanggan tentang gaun rancangannya, dulu. Dulu itu ia selalu menyiapkan telinganya untuk mendengar keluh kesah juga tentang cerita pelanggannya sebelum akhirnya ia dikhianati asistennya, sekarang ia bisa mendengar pujian yang dilontarkan untuk karyanya, dan Luhan tidak berbesar hati untuk itu. Awalnya Luhan memperlihatkan gambar rancangannya sesuai keinginan mereka, dan Luhan dengan sangat senang hati akan menambahkan dan mengganti bagian yang perlu dan tidak perlu, lalu pelanggannya akan menyerahkan segalanya pada Luhan agar gaunnya tampil cantik. Sebenarnya waktu untuk mendiskusikan gaun rancangan dan mengukurnya hanya sebentar, mungkin hanya sekitar 35 menit atau kurang karena Luhan memang cepat tanggap dengan apa yang diminta pelanggan. Tapi waktu yang hanya sebentar itu hanya sebagai ekspektasi saja karena akan berujung dengan Luhan yang mendengarkan curhatan dan keluh kesah pelanggannya tentang hari pernikahan mereka atau tentang pasangan mereka. Luhan tidak marah dan kesal, ia malah menikmati hal tersebut, karena itu berarti ia dapat dipercaya, jadilah waktu 35 menit itu berubah menjadi dua jam. Luhan memang belum menikah, tapi ia bisa merasakan bagaimana resahnya ketika akan menikah, tentang persiapannya, komitmen, komunikasi, diskusi, dan lain-lain. Memikirkan hal itu mungkin dapat membuatnya tua mendadak. Tapi entah kenapa hari ini mungkin Luhan dapat benar-benar tua dengan kepala yang tiba-tiba akan meledak.
Oh Sehun, sang arsitek tersebut adalah alasan Luhan yang akan tiba-tiba tua mendadak. Ia dengan segala tingkahnya yang membuat Luhan harus mengelus dadanya —sabar. Sebenarnya jika difikir-fikir Luhan lebih menyukai sifat Sehun pada awal pertemuan mereka, dingin, tidak peduli, cuek dan acuh, walaupun pada kenyataannya Luhan memang takut akan sifat Sehun tersebut. Bukan sifatnya yang beberapa hari belakangan ini membuat Luhan ingin bersembunyi di tempat terjauh, terpencil dan tersembunyi. Sehun dengan segala perkataannya yang tidak disaring —pedas itu membuatnya ingin sekali menghajar wajah datarnya itu. Selama 24 tahun ini sebenarnya Luhan mempunyai sifat yang bisa dikatakan sangat bagus, Luhan itu jarang marah atau bahkan hampir tidak pernah, ceria, ramah pada semua orang, dan selalu tersenyum. Lain halnya dengan beberapa hari ini, Luhan menjadi seorang penggerutu dengan tingkah menggemaskan, salahkan saja Oh Sehun yang membuatnya seperti itu.
"Kenapa tidak yang tadi saja?" tanya Luhan
"Jelek" jawab Sehun cuek, dan jadilah Luhan menggerutu tidak jelas.
Mereka sedang dalam perjalanan dari Busan ke Seoul, tadi sore tepatnya pukul 05.17 p.m Sehun datang kebutiknya dan langsung menyeret Luhan yang benar-benar baru beristirahat setelah mengerjakan gaun pengantin Baekhyun. Ketika Luhan bertanya akan kemana, Sehun dengan wajah datar dan suara dinginnya hanya berkata Busan, dan Luhan hanya menghela nafas setelahnya.
Saat ini waktu menunjukkan pukul 10 malam, dan mereka berdua memang sangat lelah, Luhan bahkan belum makan siang, tadi di butiknya ketika ia bahkan baru memakan roti itupun hanya tiga gigitan setelahnya Sehun menyeretnya pergi. Luhan benar-benar lapar sejak tadi perutnya meraung minta diisi. Tapi daripada itu ia lebih memilih cepat-cepat ke apartemennya, setidaknya berendam dengan air hangat bisa membuat kepalanya rileks, sedari tadi kepalanya ini berdenyut tidak jelas, mungkin efek karena ia juga belum makan.
"Sehun, bisa kau antarkan aku ke apartemenku?" tanya Luhan takut-takut
"Dimana?"
"Di Apgujeong" Sehun hanya melirik sekilas kearah Luhan
Mobil hitam Sehun melaju dengan kecepatan sedang dan Luhan bersyukur pria disebelah kirinya ini tidak mengebut.
"Sehun, kenapa kau belok kiri ? harusnya belok kanan" kata Luhan menginterupsi ketika Sehun membelokan mobilnya menuju ke kiri
"Sehun, aku ingin pulang. Kalau kau tidak mau mengantarku tidak apa-apa. Turunkan aku disini saja, aku akan naik taksi"
"Sehun ayolah"
"Diamlah, kau berisik" sahut Sehun
"Aku ingin pulang Sehun, aku sudah lelah" Luhan merengek dan sedikit memajukan bibirnya. Sayang hal tersebut tidak ditangkap oleh pandangan Sehun. Luhan terlihat begitu menggemaskan.
"Kita makan"
"Kenapa kau tidak bilang dari tadi?" Luhan melipat kedua tangannya
Mereka makan dalam keheningan. Tentu saja karena Sehun tidak suka ketika ia makan ada suara yang mengoceh tidak jelas seperti sebelumnya, dan Luhan sudah hapal akan sikap Sehun yang satu ini.
"Sehun, bagaimana jika kita memakai hotel saja?" saran Luhan ketika mereka selesai makan
"Ah, hotel yang dekat dengan pantai, bagaimana? Mereka bisa melaksanakan upacaranya dekat dengan pantai"
"Kurasa itu ide bagus. Tumben kau tidak bodoh. Dapat darimana ide itu?" kata Sehun setelah meminum cappucinonya. Sebenarnya Sehun sudah memikirkan ide yang Luhan utarakan sejak awal Chanyeol berkata, tapi karena yang Chanyeol bahas hanya gedung dan gedung saja membuat Sehun malas mengeluarkan pendapatnya ini.
"emm Sehun, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Dan omong-omong soal ide, pernahkah kau mendengar ketika kita sedang kelelahan kadang ide selalu muncul"
"Ya terserah, aku tidak peduli" tapi dalam hatinya, Sehun membenarkan apa yang diucapkan Luhan. Ketika dirinya sedang kelelahan membuat sketsa pada malam hari, kadang ide-ide itu muncul begitu saja.
"Cepat habiskan. Kita pulang" kata Sehun bersiap
"Aku sudah selesai. Ayo kita pulang" sahut Luhan ceria, Sehun hanya menggelengkan kepalanya kecil.
Sehun mengantarkan Luhan tepat didepan lobby apartemennya. Sehun tidak menyangka jika apartemen mereka bersebelahan dan itu cukup dekat.
"Terimakasih Sehun" kata Luhan ketika dirinya berada diluar mobil Sehun
"Ya"
…
Sehun mendudukan tubuhnya pada pinggiran ranjang setelah mandi. Ia mengambil ponselnya yang sudah beberapa jam ini tidak ia perhatikan. Terdapat nomor yang tak dikenalnya menghubunginya beberapa jam yang lalu. Nomor yang sama yang beberapa hari ini juga selalu menghubunginya namun diacuhkan Sehun. Nomor lima tahun yang lalu, yang tidak diganti oleh orang itu. Seseorang dibalik derai masa lalu, wanita yang dulu sangat Sehun cintai yang lebih memilih pria lain isbanding dirinya. Dan Sehun masih mengingatnya dengan jelas sampai saat ini, bahkan masih mencintainya. Sehun memutar-mutar ponsel pintarnya, menghela nafasnya frustasi, dan Sehun memilih mengabaikannya. Sehun lebih memilih mengistirahatkan tubuh lelahnya, esok dirinya harus berbicara dengan Suho hyung yang merupakan pemilik hotel.
…
Southern California Institute of Architecture yang bertempat di Amerika Serikat merupakan tempat Sehun menimba ilmu Arsitekturnya. Kampus ini merupakan kampus yang tepat bagi Sehun yang menyukai ilmu arsitek dan ingin berkembang dengan sudut pandangnya sendiri. Sci-Arc —sebutan kampus Sehun adalah tempat pertama kali dirinya bertemu gadisnya. Seorang yang juga berkebangsaan Korea Selatan bernama Ji Won, Jung Ji Won lebih tepatnya. Seorang gadis yang lebih tua dua tahun dari Sehun. Mereka bertemu saat pengenalan kampus. Sehun yang dulunya ramah dan tidak sedingin sekarang membuat ia mudah mendekati Ji Won. Empat bulan kemudian mereka menjadi sangat dekat, Sehun bahkan sering berangkat bersama dengan Ji Won, menjemputnya bahkan ketika hujan deras saat itu. Sehun mulai mengungkapkan perasaannya pada bulan kelima mereka dekat, dan tidak menunggu waktu lama jawaban "Ya" dari Ji Won mewakili bahwa mereka resmi menjadi sepasang kekasih hari itu. Kebersamaan mereka membuat Sehun semakin mencintai Ji Won karena tingkahnya, sikapnya, sifatnya bahkan hal terkecil sekalipun, Sehun mencintai gadisnya itu apa adanya.
"Maaf membuatmu menunggu lama Sehun" kata JiWon mendudukan dirinya dibangku café tempatnya bertemu sang kekasih.
"Tak apa sayang, aku baru lima belas menit disini" Sehun tersenyum agar Jiwon tidak merasa bersalah karena membuatnya menunggu
"Kita akan kemana ? kenapa kau memintaku bertemu disini?"
"Sebelum itu, selamat hari jadi kita yang ketiga tahun sayang" kata Sehun tulus menyerahkan buket bunga mawar merah yang berada disamping kursinya
Jiwon menerima bunga itu dengan tatapan bahagia sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan dengan tatapan tidak percaya.
"Kau suka?" tanya Sehun
"Sangat suka"
"Selamat hari jadi kita yang ketiga tahun juga sayang. Aku mencintaimu" ucap Jiwon
"Aku juga mencintaimu sayang. Sangat" tulus Sehun
Dan hari itu mereka menghabiskan waktu berdua. Mereka melewati Golden Gate Bridge dan tentu destinasi yang mereka kunjungi adalah Fishermans Wharf Ghirardelli Square Aquatic Park yang dahulunya merupakan tempat pusat perkembangan industry perikanan yang sekarang sudah berubah menjadi objek wisata yang sering dikunjungi oleh para wisatawam yang datang. Melihat pertunjukan sulap jalanan, toko souvenir yang menyediakan berbagai pernak-pernik cantik yang membuat mata kekasihnya berbinar-binar, melihat mata kekasihnya yang memandang sebuah gelang yang dihiasi berlian kecil cantik membuat Sehun memutuskan membelikannya secara diam-diam untuk sang pujaan hati yang pasti dengan harga yang tidak murah. Dan terakhir mereka masuk ke kawasan Aquarium Of The Bay. Pukul tujuh malam mereka memutuskan makan malam disebuah restaurant. Hari itu mereka sangat bahagia, bercanda bersama, tertawa bersama, bergandengan tangan, berpelukan, membuat Sehun tak pernah melupakan moment tersebut. Sampai diapartemen sang kekasih, Sehun dengan gentlenya membukakan pintu untuk Jiwon, Sehun memberikan hadiah gelang yang dibelinya tadi. Dengan tiba-tiba Jiwon menghambur dalam pelukannya dan beruntung Sehun mempunyai reflex yang bagus dengan menahan tubuhnya agar tak terjatuh.
"Terimakasih Sehun, aku mencintaimu"
"Aku juga mencintaimu"
Sehun mencoba mendekatkan wajahnya ke wajah Jiwon. Jiwon yang menyadari apa yang akan Sehun lanjutkan setelahnya, menutup matanya dan memiringkan kepalanya. Sehun yang diberi lampu hijau oleh sang kekasih, memiringkan juga kepalanya dan berakhir dengan ciuman lembut untuk Sehun. Sehun semakin meraih tengkuk Jiwon untuk memperdalam ciumannya, kepala mereka terus bergerak bergantian kekiri dan kekanan. Ciuman tulus dari Sehun untuk wanitanya. Masa bodo dengan orang-orang yang melihatnya, ini negara liberal siapa yang akan peduli.
…
Kring !
Kring !
Jam weker yang berada dinakas samping tempat tidur Sehun terus berbunyi sedari tadi. Sehun membuka matanya perlahan lalu mematikan wekernya, melirik sedikit jamnya yang ternyata sudah pukul tujuh lebih tiga menit. Sehun bangun degan malas-malasan. Sial, gara-gara mimpinya tadi malam membuat tubuhnya jadi seikit lelah. Entah kenapa ia jadi memimpikan Jiwon —mantan kekasihnya, mungkin karena malam tadi Jiwon terus menghubunginya sampai-sampai terbawa mimpi. Terserahlah, apapun itu. Yang pasti hari iniia harus kekantornya dan menjemput Luhan untuk bertemu dengan Suho hyung untuk membahas masalah hotel.
…
..
.
TBC
…
HI GUYS~ IM BACK~
HOW ARE YOUUUUUUU?
Pendek ? iya tau kok
…
FF sudah lanjut nihhh, mohon ripiyuwnyaa gaes..
Bingung mau ngomong apa sebenernya..kekeke
Ini FF MAU DILANJUT APA NGGAK?
Kalau aku baca lagi ini cerita jelek banget perasaan TTATT
Jadi pengen dihapus aja rasanyaa T.T
Ah syudahlah
…
Sincerely,
Deerlu794
