PERFUME bag 4

By : Han Kang Woo

Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Exo Member, etc.

Main Cast : ChanBaek

Genre : Romance

Warning : BL (Boys Love), NC Banyak Typo, FF ini hanya pinjam nama saja

Rated : M

DLDR

= Happy Reading =

O…O…O…O…O…O…O…O…O

o

o

o

o

"Sembunyi." ulang Chanyeol.

"Tapi, aku tidak bisa bergerak. Aku tidak bisa kemana mana." timpal Baekhyun, tetap memasang wajah manja dan tersakiti.

"Aish. Kau ini." Chanyeol bergerak cepat, lalu membopong Baekhyun. Dia membawa Baekhyun ke lemari tua yang berada disudut gudang. Tempat itulah yang pertama terpikir olehnya.

Brugh. Chanyeol mendudukkan Baekhyun kedalam lemari tua itu.

"Sembunyi disini, dan jangan mengeluarkan suara." kata Chanyeol, memerintah.

"Cium aku dulu." Baekhyun membuka mulutnya, seperti ingin menyedot.

"Kau jangan bercanda terus. Sembunyi saja." ketus Chanyeol.

"Kau tega memasukkanku didalam lemari kotor ini. Bagaimana kalau kulitku yang mulus ini lecet." Baekhyun malah berkata tidak jelas.

"Tolonglah, diam dan sembunyi..."

"Tapi cium aku dulu."

"Ok. Aku akan menciummu nanti." Chanyeol akhirnya menyanggupi permintaan cabe si Baekhyun. Dia menoleh kearah pintu gudang.

"Yuhuu. Yes." Baekhyun bersorak.

"Sttt. Diamlah. Tetap disini dan jangan bersuara." tukas Chanyeol, dia sedikit kaget karena baru saja Baekhyun menyentil penisnya yang sudah melemas, dia belum menaikkan celananya. Namja itu menutup pintu lemari itu.

Blam.

Chanyeol masih menoleh ke pintu gudang dengan pandangan was was. Dia dengan gerakan ala anak SMA yang baru saja menjamah pacarnya di kos merapikan celananya dan memasukkan kembali kejantanannya kedalam celana. Yang jadi masalah sekarang adalah bajunya yang robek bagian depan, pasti sangat sulit menyembunyikan itu dari ibunya.

Kreek blam. Pintu gudang terbuka, sosok ibu Chanyeol muncul dibaliknya.

"Chanyeol, kau dimana?" nyonya Park itu mencari cari anaknya, matanya menyempit.

"Ak..aku disini omma." jawab Chanyeol, dia berjalan kaku mendekati ibunya, dengan beberapa tumpukan buku lama di dadanya. Dia menumpuk buku itu untuk menyembunyikan robekan besar bajunya. Buku itu diambilnya didalam lemari tadi. Ide yang cemerlang.

"Ah, rupanya kau disana." ibu Chanyeol harus menyesuaikan cahaya minim didalam ruangan itu dengan matanya.

"Kenapa omma?" Chanyeol memasang wajah anak baik baik dan belum pernah menjamah.

"Appamu mencarimu. Apa kau sudah menemukan buku yang kau cari?" jawab ibu Chanyeol, sambil melayangkan pertanyaan.

"Sudah omma." Chanyeol menjawab, sambil tersenyum kaku.

Nyonya Park mengangguk pelan, dia berjalan keluar gudang, diikuti Chanyeol dibelakangnya.

"Aku akan segera kembali." kata Chanyeol, kalimat itu ditujukan untuk Baekhyun yang ada didalam lemari.

"Apa? Kau bilang apa?" tanya ibu Chanyeol, menoleh kearah anaknya.

"Bukan apa apa omma. Hehehehee." Chanyeol cengengesan, lalu tersenyum lima jari ala iklan sikat gigi berlubang.

Ibu dan anak itu akhirnya masuk kedalam rumah. Chanyeol mendesah lega karena ibunya sama sekali tidak curiga padanya. Huufff.

o

o

o

o

Chanyeol lekas masuk kedalam kamarnya, melempar buku yang dibawanya lalu menyegerakan diri berganti baju. Dia memakai kaos polos hitamnya dan membuang baju robeknya ke tempat sampah dalam kamar. Baju itu sama sekali tidak layak pakai lagi. Namja tinggi itu kemudian menemui ayahnya yang sejak tadi menunggunya diruang keluarga.

"Ada apa appa?" tanya Chanyeol, setelah sampai diruang keluarga, disana sudah ada ayah dan ibunya.

"Duduklah." ayah Chanyeol bergumam, dia memegang beberapa foto ditangannya.

Chanyeol duduk, sekarang ini pikirannya bercabang. Karena masih ada Baekhyun didalam gudang. Dia bukanlah tipe namja yang tega meninggalkan seseorang dalam keadaan sakit seperti itu (Baekhyun mengaku sakit), dan didalam gudang tentu saja tidak nyaman, banyak nyamuk dan serangga lain.

"Katakan pada appa, siapa pacarmu sekarang?" ayah Chanyeol memulai percakapan.

"Maksud appa?" Chanyeol gagal paham.

"Jawab saja."

"Hm.. Sekarang aku sudah tidak punya pacar appa." jawab Chanyeol, jujur.

"Lalu, siapa gadis gadis ini?" ayah Chanyeol menunjukkan foto ditangannya, ingin klarifikasi langsung.

"Oh. Mereka itu mantan mantanku appa. Aku sudah setahun lebih putus dengan mereka." jawab Chanyeol lagi.

Ayah Chanyeol nampak berpikir.

"Apa kau pernah berhubungan badan dengan mantan mantanmu itu?"

"Tentu saja tidak appa. Aku tidak pernah melakukannya. Aku sangat menghargai wanita." Chanyeol menjawab, dengan penekanan dalam suaranya.

"Lalu kenapa dua dari tiga gadis dalam foto ini mengaku hamil anakmu? Kenapa?" ayah Chanyeol akhirnya mengutarakan inti ingin berbicara dengan anaknya. Dia melirik singkat istrinya yang duduk tepat disampingnya.

Chanyeol mendesah kasar,

"Itu bisa bisanya mereka appa. Mereka mengatakan itu karena ingin dinikahi. Itu adalah alasan klasik jaman sekarang untuk bisa menikah. Mereka menyukaiku appa. Aku sudah lama memutuskan mereka. Aku sama sekali belum pernah melakukan itu pada mereka. Aku bersumpah." tegas Chanyeol, jujur.

Ayah Chanyeol berdiri dari duduknya, disertai helaan nafas panjang.

"Semua ini terjadi karena kau Chanyeol. Kau menjadi playboy di sekolahmu yang dulu. Kau memacari banyak gadis." tuduh tuan Park.

"Aku bukan playboy appa. Gadis gadis itu yang mengejarku. Mereka itu kumpulan gadis genk yang kompak menyukaiku. Aku menerima mereka bukan karena menyukai mereka." tangkis Chanyeol.

"Tapi tetap saja kau salah, Chanyeol."

"Ini bukan salahku appa."

"Baiklah Chanyeol, percuma juga berdebat. Dua gadis gadis ini mengaku kau hamili. Dan appa harap kau bisa meyakinkan dan memperoleh bukti bahwa kau sama sekali tidak melakukan itu."

"Bagaimana kalau Tes DNA saja appa."

"Tidak bisa. Tes itu hanya bisa dilakukan jika anak telah lahir."

"Arrrhh..." Chanyeol mengacak rambutnya.

"Sekarang masuk kedalam kamarmu. Cari bukti itu, sebelum masalah ini melebar dan tetangga mendengarnya. Kita bisa malu." ayah Chanyeol menutup percakapan, dia memberikan kode pada istrinya untuk masuk kedalam kamar.

"Baik appa." angguk Chanyeol, lesu. Namja itu berjalan gontai menuju kamarnya.

Chanyeol memang tidak bohong. Dia sama sekali belum pernah melakukan seks dengan para mantan mantannya itu. Dan seks pertamanya malah dilakukan bersama seorang namja cabe yang kini 'teronggok' tidak elit dalam lemari gudang, Byun Baekhyun.

Huufff.

o

o

o

o

O...O...O...O

Chanyeol masuk kedalam kamarnya, dia mengacak acak rambutnya kasar, lalu duduk di atas ranjangnya.

"Sial. Bagaimana caranya aku mendapat bukti itu. Aku sama sekali tidak pernah menjamah gadis gadis itu." resah Chanyeol, dia berbicara sendiri. Pikirannya jadi ruwet sekarang.

Chanyeol pusing tujuk keliling, namun rasa pusingnya itu terganjal setelah mengingat bahwa Baekhyun masih ada di dalam lemari gudang.

'Ah, aku harus melihat si cabe dulu. Jangan sampai dia digigit nyamuk.' Chanyeol membatin, dengan penuh rasa kemanusiaan yang dalam. Dia berdiri.

Namun tiba tiba, sekonyong konyong selimut diatas ranjang Chanyeol membuka. Sesosok bom cabe, ah bukan, seorang namja keluar dari sana dan langsung memeluk Chanyeol dari belakang.

Brugh.

Si pemeluk itu adalah Baekhyun, namja itu berhasil masuk kedalam kamar Chanyeol tanpa ketahuan. Dia memeluk Chanyeol dari belakang dengan sangat erat, keras.

"Hai... Ketemu lagi tampan."

"Dari mana kau masuk" tanya Chanyeol, matanya membeliak. Kaget. Dia sadar jika yang memeluknya adalah si Baekhyun.

"Aku masuk melalui celah cinta dan birahimu. Menerobos hingga ke relung relung kalbumu, hingga bersemayam disini." jawab Baekhyun, berlebihan. Dia menekan dada Chanyeol tepat pada kata 'disini'.

Chanyeol cuma bisa mendesah, dia tidak tahu menangkis kalimat berlebihan Baekhyun itu. Dan seperti yang sudah sudah, dia membiarkan Baekhyun memeluk dan meraba rabanya.

"Katamu kau tidak bisa jalan, kau bohong." tukas Chanyeol, dengan mata tertuju ke pintunya, takut jika ibu atau ayahnya tiba tiba membuka pintu kamarnya.

"Aku memang tidak bisa jalan, tapi dengan kekuatan bulan dan kekuatan ninja... Aku bisa sampai di kamarmu ini." timpal Baekhyun lagi, dia meniup niup leher Chanyeol yang menimbulkan sensasi geli.

"Ckk.. Kau bisa memberikanku masalah Baekhyun."

"Masalah apa? Aku bukanlah masalah. Aku adalah anugrah." tepis Baekhyun.

"Kau biang masalah. Bagaimana jika omma dan appaku melihatmu. Apa yang harus kujelaskan kepada mereka." kata Chanyeol, pelan.

"Yaa katakan saja kalau aku kekasihmu yang tercampakkan dan sekarang datang meminta keadilan." jawab Baekhyun, asal bicara.

"Aku serius Byun Baekhyun."

"Aku juga serius Park Chanyeol yang tampan. Katakan saja pada appa dan ommamu kalau aku adalah temanmu yang ingin belajar bersama. Gampangkan." sahut Baekhyun, enteng.

"Tidak semudah itu. Ommaku sama sekali tidak melihatmu masuk melalui pintu depan. Kau bukan tamu. Terlebih lagi jika mereka mendapati dalam keadaan kau memelukku seperti ini. Aku bisa dipecat sebagai anak." risau Chanyeol, matanya masih mengarah ke pintu kamarnya yang tidak terkunci.

Baekhyun tertawa kecil mendengar penuturan Chanyeol yang terkesan seperti anak mami. Tawa yang terdengar seperti permintaan untuk minta tambah alias dijamah lagi. Tawa binal.

Hening sejenak.

"Kenapa kau begitu ketus dan dingin padaku Park Chanyeol? Padahal aku bukan nenek lampir yang akan memakanmu." tanya Baekhyun, membisik ditelinga Chanyeol.

"aku bukannya ketus dan dingin. Tapi...aku tidak terbiasa dengan hal hal seperti ini. Aku tidak terbiasa dipeluk, dipegang dan... Akhh intinya tidak biasa. Dan kau membuatku risih dan tidak nyaman." jawab Chanyeol, jujur. Dia sebenarnya ingin menambahkan kata ' diisap, dijilat dan menusuk'.

"Jadi kau mengatakan jika kau itu namja polos. Begitu?"

"Bukan seperti itu juga. Tapi..."

"Tenang, tampan. Aku akan membuatmu terbiasa dengan itu semua. Kau akan terbiasa dilihat, diraba dan diterawang... Ah, bukan. Tapi diisap. Aku akan selalu memberikan isapan yang selalu bisa memanjakan dan membuat crot penismu yang besar itu." Baekhyun berkata dengan vulgar dan no sensor. Dia terkikik aneh.

Chanyeol mendesah lagi, dia menundukkan wajahnya dan memperhatikan jemari lentik Baekhyun yang menekan nekan dan merangsang bagian nipplenya yang tertutup kaos. Dia merinding disko.

"Ahh, Baekhyun... Berhentilah. Kau membuatku kege..."

"Aku tidak akan berhenti. Aku punya permintaan lagi. Kau harus mengijinkanku bermalam di kamarmu, tidur bersamamu didalam selimut. Berdua. Kau mau kan?" pinta Baekhyun, dengan nada memelas dan manja yang dilebih lebihkan.

"Tidak. Itu sulit Baekhyun. Ommaku pasti me..."

"Omma lagi omma lagi. Kau harus berusaha jangan sampai ketahuan ommamu. Kau bisa belajar dengan adegan dingin kita di gudang. Adegan seks yang kuprediksi adalah yang pertama buatmu dan itu tidak diketahui oleh ommamu. Kau mengijinkanku kan?" Baekhyun memotong ucapan Chanyeol, dan melanjutkannya dengan argumen cabenya sendiri.

Chanyeol diam, berpikir. Dia mendesah panjang dengan mata terpejam. Baekhyun masih meraba raba dada dan perutnya dengan agresif dan masif. Rabaan itu membuat adik kecilnya yang masih sedikit basah dengan bekas sperma jadi ereksi. Terangsang.

"Jika kau mengijinkanku bermalam di kamarmu, maka aku berjanji akan membantu masalahmu. Aku bisa membantumu memperoleh bukti bahwa kau tidak pernah berhubungan seks dengan gadis seperti yang dituduhkan appamu." Baekhyun memberikan penawaran yang menggiurkan.

"Eh? Kau tahu masalah itu?"

"Tentu saja, dengan kekuatan ninja aku berhasil mendengar percakapan inti antara kau dan appamu yang tua itu. Aku sudah tahu permasalahannya." jawab Baekhyun, jujur.

Beberapa saat yang lalu, Baekhyun dengan tertatih tatih (karena holenya memang sakit, tapi masih bisa jalan.) berjalan masuk kedalam rumah Chanyeol tanpa ketahuan, dia mengendap endap seperti pencuri jemuran tetangga. Dan mencuri dengar percakapan keluarga Park yang menyudutkan Chanyeol.

"Bagaimana tampan? Penawaranku akan kadaluarsa tiga menit lagi. Ambillah keputusan dengan cepat." ucap Baekhyun, centil tingkat dewa.

Hening lagi, Chanyeol masih berpikir. Menimbang.

"Baiklah. Aku setuju. Kau boleh bermalam hanya untuk malam ini." jawab Chanyeol, dengan nada pelan.

"Cihuii. Yess." Baekhyun berseru girang. Ingin rasanya dia memberikan isi celengan ayamnya kepada Sehun (lagi), saking gembira dan senangnya.

Sesaat kemudian, Baekhyun menelusupkan salah satu tangannya kedalam baju kaos Chanyeol, dia mengusap dan meraba nipple Chanyeol dengan gaya seksi dan erotis. Namja itu hampir menarik dan merobek baju Chanyeol lagi, namun dicegah oleh Chanyeol.

"Jangan. Kau sudah merobek baju kesayanganku. Jangan lakukan lagi." Chanyeol memperingatkan, dengan sedikit desahan karna geli. Ahh.

"Kalau begitu angkat kedua tanganmu dan biarkan aku membuka bajumu." sahut Baekhyun, dengan nada memerintah yang manja.

Lagi lagi Chanyeol tidak bisa melakukan apa apa, dia untuk kesekian kalinya menuruti kemauan cabe seorang Byun Baekhyun. Dia mengangkat kedua tangannya dan Baekhyun melepaskan bajunya itu. Baekhyun melempar sembarangan baju kaos hitam tersebut ke lantai.

"Badanmu sangat bagus Chanyeol. Apa kau rajin gym akhir akhir ini?" tanya Baekhyun, dengan tangan yang bergerilya disetiap inci tubuh bagian atas Chanyeol yang sudah polos. Dia merangsang Chanyeol dengan gaya ala karyawati panti pijat plus plus.

"Ahh...hm..." Chanyeol tidak mampu menjawab, yang keluar dari mulutnya hanyalah desahan. Kejantanannya dibawah sana semakin mengeras saja.

Baekhyun tersenyum kecil, dia bersorak dalam hati dengan penuh kemenangan. Dia berhasil membuat Chanyeol terangsang, dan kemungkinan ronde kedua akan terjadi didalam kamar si namja jangkung itu. Baekhyun bertindak lebih jauh, dia menjilat kuping dan leher Chanyeol secara berganti ganti. Jilatan itu membuat Chanyeol menggelinjang kegelian. Ahhh.

"Hen..hentikan Baekhyun... Ini...ini geli..ahh..." desah Chanyeol.

"Nikmati saja. Kepolosanmu sudah sirna Park tampan. Kau sudah menggunakan penismu yang besar itu. Kau sudah basah dan sekalian mandi dan berenang saja. Berenanglah bersamaku tampan... Kita akan mengarungi samudra cinta yang penuh dengan gejolak dan ombak nafsu yang membara." kata Baekhyun, disela sela jilatannya. Tangannya berusaha masuk dan menyusup kedalam celana Chanyeol. Dia merindukan benda panjang itu.

Ahhh, Chanyeol terus mendesah nikmat. Dia memejamkan matanya. Baekhyun betul betul membuatnya terangsang, dia sulit berpikir. Namja itu berusaha meminimalisir rangsangan Baekhyun dengan memikirkan masalahnya.

"Ahh. Ba..bagaimana caramu membantuku untuk memperoleh bukti?" tanya Chanyeol, beralih topik.

"Uuff... Serahkan padaku, tampan. Kau hanya perlu menunjukkan dua gadis itu padaku, dan semuanya akan beres. Lupakan itu sejenak, nikmatilah malam ini." Baekhyun menjawab, mendesah desah seperti gadis kupu kupu malam yang mendapatkan pelanggan perjaka. Tangannya sudah berhasil masuk kedalam celana Chanyeol. Dia memegang dan meremas 'rudal' Chanyeol didalam sana. Bekas basah akibat sperma Chanyeol masih terasa.

Baekhyun terus melancarkan berbagai jurus andalan untuk membuat Chanyeol jatuh dalam pelukannya. Dia menginginkan Chanyeol menjamahnya lagi, dan kali ini dilakukan di dalam kamar, diatas ranjang Chanyeol. Baekhyun ingin Chanyeol menusuknya dalam dalam sampai sperma namja itu habis. Kalau bisa sampai pagi. Baekhyun tidak ingin pulang sebelum 'digoyang'.

'Malam ini, kau harus menciumku Chanyeol. Aku ingin merasakan bibir dan penismu secara bersamaan... Ah, indahnya.' Baekhyun membatin, mulai menggila.

Dalam dua hari terakhir, ada 4 hal yang diinginkan Baekhyun, yang disingkat FFC (Four For Chanyeol) yaitu : mengisap penis Chanyeol, mencium Chanyeol, berhubungan seks dengan Chanyeol dan menjadikan Chanyeol pacar abadinya. Dan empat hal itu belum sepenuhnya tercapai.

Baekhyun masih harus berusaha keras, dan semuanya sudah setengah jalan mulai malam ini.

'Tampan, sepertinya aku mencintaimu. Aku ingin menikmati penismu lagi. Selamanya.'

o

o

o

o

o

o

o

TBC

O...O...O...O...O...O...O

Chap 4 update. Maaf jika membosankan dan menoton, tapi mudah2an bisa dinikmati dan terhibur, heheheheee.

FF ini tidak lama lagi tamat kok, hanya tinggal beberapa chap aja. Dan terima kasih reviewnya di chap lalu, betul betul membuat semangat untuk lanjut.

Review lagi ya chingu.

Selamat menyambut tahun baru 2016.

Salam cinta.

Han Kang Woo