Disclamer : Hiro Mashima
Title : Aku kembali, Natsu
Genre : Romance, Hurt
Pairing : Natsu x Lucy
Warning : OOC, OC, Typo, Aneh dll.
.
.
Hallo minna Sheilchan kembali membawakan chapter selanjutnya dari fanfic ini! ^_^
Sebelumnya Sheilchan mau minta maaf karena baru bisa update sekarang. Sebenernya Sheilchan bisa update bulan depan tapi karena banyak tugas dan kerjaan juga rasa males ngetik yang tiba-tiba datang, membuat Sheilchan jadi mundur buat update.
Sebenernya banyak yang dah minta Sheilchan cepet-cepet update, bahkan banyak juga yang nyempetin nulis permintaannya di PM segala. Sheilchan jadi merasa bersalah karena terlalu lama nggak update.
Makasih buat reades yang dah ngereview dan mendesak Sheilchan buat kembali update. Juga buat yang dah nunggu terlalu lama sampai lumutan.
Masih pada inget cerita chapter kemarin kan? Pokoknya tetep ikuti terus kelanjutan ceritanya ya!
Pasti dah pada penasaran nih sama chap ini karena cuplikan next chapter kemarin. Biar nggak penasaran lagi langsung aja deh, READ ENJOY!"
.
.
###########
CHAPTER 4
"S-sangat mengerikan...aku melihat Kota dan Guild hancur...dan itu akan terjadi sebentar lagi..."
"APA?!"
Semua orang terlonjak kaget mendengar penuturan dari Carla.
Natsu mengepakan tangannya kuat. Pemuda itu sangat terkejut bercampur marah setelah mendengar tentang penglihatan Carla. Jadi, Acnologia berniat menghancurkan kota dan guild?
"Carla, sejak kapan kau mendapat penglihatan ini?" tanya Natsu. Tatapannya sangat serius.
Carla menundukkan kepalanya, "Sebenarnya, aku sudah mendapat penglihatan ini sejak beberapa hari lalu. Tapi penglihatan itu masih samar. Aku belum bisa menerka apa yang terjadi. Hingga tadi Happy datang membawakan berita tentang kemunculan Acnologia, dan tepat saat itu penglihatan itu muncul kembali...dan semakin jelas. Aku yakin, penglihatanku berkaitan kuat dengan kemunculan Acnologia."
Happy mengiyakan, "Ya. Carla langsung memberitahuku tentang penglihatannya lalu kami langsung terbang kesini."
Erza tampak gelisah, ia beralih pada Makarov, "Bagaimana ini Master?"
Master Makarov hanya diam, sepertinya dia terlalu larut dalam pikirannya. Terlihat jelas dari kerutan di dahinya yang bertambah banyak. Master beralih pada Exceed putih itu.
"Carla, coba ceritakan detail penglihatanmu." perintahnya.
Carla tampak berusaha mengingat, "..kepulan asap...reruntuhan guild dan kota...lalu sosok bayangan hitam berdiri, bercokol di atas reruntuhan guild dengan mata berkilat.."
"Itu pasti Acnologia!" pekik Sting.
"Dia juga telah menghancurkan kota dan Guild Saber..." tambah Rogue. Tatapannya menyiratkan rasa sedih dan terluka.
"Rogue..." Frosh memeluk lengan pemuda itu. Mencoba membuatnya tenang.
Master duduk sambil melipat kedua kaki kecilnya untuk bersila, "Hm...jadi begitu. Lalu kapan hal ini akan terjadi? Bukankah kau bilang sebentar lagi?" tanya Makarov.
Exceed milik Wendy itu mengangguk, "Ya. Saat itu langit berwarna kemerahan. Kegelapan hampir menelan cahaya. Jadi kemungkinan itu akan terjadi...saat matahari tenggelam."
Lucy dan lainnya langsung melirik jam dinding besar di dinding aula untuk menerka waktu yang mereka miliki saat ini. Tapi seketika netra mereka membulat, menatap nanar jarum jam yang menunjukkan pukul...5 sore!
Tubuh Lucy langsung bergetar, "J-jadi...k-kita hanya punya waktu kurang dari...s-satu jam?"
Suasana tiba-tiba berubah kacau. Satu jam! Dalam waktu satu jam semuanya akan berubah menjadi hancur?!
Semua orang jadi resah memikirkan apa yang akan dan bisa mereka lakukan dalam waktu yang sangat singkat itu.
Lucy juga sama resahnya. Pikirannya kembali berkecamuk memikirkan nasibnya dan teman-temannya, juga seluruh penduduk kota Magnolia. Penduduk Magnolia sama sekali tak tahu tentang hal ini. Lalu Fairy Tail juga belum mempersiapkan diri untuk bertarung melawan Acnologia. Dan Mereka juga harus mengungsikan seluruh penduduk ke tempat aman.
Tapi bagaimana mereka bisa melakukannya? Mereka hanya punya waktu kurang dari satu jam dan waktu juga semakin berjalan kedepannya. Bunyi jarum detik yang bergerak seolah menyatakan detik-detik pengantar kematian. Romansa tegang, resah, gelisah, takut dan sebagainya bercampur menjadi satu, menambah kesan kekacauan saat ini.
Lucy tak bisa berpikir jernih. Ia menatap sekeliling di mana semua teman-temannya tengah berdiri dengan tubuh lemas, penuh keputusasaan. Dan Lucy juga merasakan hal yang sama. Seolah ia benar-benar ingin menyerah. Menyerah dengan takdir suram yang akan menimpanya. Bahkan air matanya tak dapat turun lagi sekarang.
Lucy menggenggam ujung roknya, menahan rasa. Menggigit bibirnya yang terlihat bergetar.
Jadi...apakah seperti ini-
PUK
Akhirnya?
Tiba-tiba Lucy merasakan sebuah tepukan di pundaknya yang langsung menyadarkannya dari pikirannya. Gadis itu menoleh dan mendapati Natsu yang berdiri menatapnya intens.
"Jangan takut dan Jangan pernah berpikir untuk menyerah Luce." ucapnya.
Pemuda bersyal kotak-kotak itu tersenyum sekilas pada Lucy lalu menurunkan tangannya. Natsu beralih pada teman-temannya yang tampak putus asa. Ia berdiri di depan Lucy sambil sebelah tangannya menggenggam tangan gadis itu untuk membuatnya merasa tenang. Lucy agak sedikit kaget karena perlakuan Natsu.
"MINNA!" Teriak Natsu.
Semua di dalam ruangan itu kembali dari lamunan mereka dan menatap pemuda berambut salmon itu.
Natsu kembali meneruskan kata-katanya, "Kita tidak boleh putus asa dan pasrah begitu saja! Tak peduli jika kita hanya punya waktu satu jam, satu menit, atau satu detikpun, kita tetap tidak boleh menyerah! Pasti ada jalan keluar untuk masalah ini! Jadi jangan pernah berpikir untuk menyerah pada takdir suram ini begitu saja!" tegasnya.
Ketika mengatakan kalimat terakhir, genggaman tangannya pada Lucy makin mengerat dan itu berhasil membuat jantung Lucy makin berdetak cepat. Merasakan kehangatan dari telapak tangan sang Fire Dragon Slayer. Bahkan ia juga dapat mencium bau tubuh Natsu yang menurutnya sangat maskuline dan menenangkan, seolah Natsu berada di dekapannya sekarang.
Lucy tahu pemuda itu melakukan semua ini untuk membangkitkan semangat teman-temannya...terutama dirinya. Lucypun balas menggenggam tangan Natsu kuat. Tanpa Lucy sadari, Natsu tengah tersenyum tipis sekarang.
Master Makarov yang tadi tampak diam, kini bangun dan turut bicara, "Benar apa kata Natsu. Apa kalian akan tetap berdiam diri saja? Terpuruk dalam detik-detik menjelang kehancuran? Apa kalian tak bisa memikirkan nasib masa depan? Nasib diri kita? Nasib anak-anak kalian menjelangnya? Nasib dunia ini? Anak-anak, cucu-cucu kita masih punya masa depan yang terang! Jika masa depan itu tertutup oleh kabut tebal, kegelapan, ataupun tembok tinggi, kita harus bisa membukakannya untuk mereka! Apapun dan bagaimanapun caranya!Jadi, apa kalian masih mau berputus asa dan pasrah?"
Sesshhh...
Semua terpaku mendengar perkataan Makarov barusan. Benar apa yang di katakan Master ke-6 Fairy Tail itu. Bagaimana bisa mereka berputus asa dan pasrah begitu saja tanpa memikirkan nasib anak-anak mereka kelak?
Gray mengusap kepala putranya yang sama sekali tak tahu situasi saat ini. Kemudian beralih pada Juvia yang menggendong bocah itu. Wanita pengguna sihir air itu menganggukkan kepalanya. Gray tersenyum lalu beralih pada teman-temannya.
"Natsu dan Master sudah mengatakannya! Jadi untuk apa kita menyerah! Sangat egois jika kita melakukannya tanpa memikirkan nasib generasi kita mendatang. Jadi, ayo semuanya! Kita bangkit dan lakukan apa yang harus kita lakukan sekarang!"
Jellal tersenyum sambil menatap gadis kecilnya? "Ya! Ini demi masa depan kita semua! Masa depan mereka! Dan masa depan semua orang!"
Bagaikan pohon layu yang tumbuh subur kembali, semua orang mulai bangkit setelah mendengar kata-kata empat orang tadi.
"Mereka benar!"
"Ya! Kita tak boleh berdiam diri saja!"
"Seorang pria tak akan menyerah!"
"Akan ku ubah masa depan!"
"YAAA!"
Natsu tersenyum melihat ia berhasil membangkitkan semangat nakamanya. Kemudian ia beralih pada gadis di belakangnya yang juga menatapnya dengan tatapan haru. Natsu mengusap kepala Lucy.
"Lihatlah, semua orang sudah bangkit, jadi kau juga harus bangkit. 'Kita' masih punya masa depan Luce.."
Lucy tak dapat berkata apa-apa selain menganggukkan kepalanya. Perlakuan Natsu benar-benar membuatnya sulit berkata.
Natsu kembali berteriak pada teman-temannya, "Kalau begitu, sekarang lebih baik kita mempersiapkan diri untuk pertarungan melawan Acnologia!"
"YA! TENTU SAJA!" Pekik semuanya, terbakar oleh semangat.
Tiba-tiba Mira menyela, "Tapi sebelumnya, kita harus membawa anak-anak ke tempat yang aman dan mengungsikan semua penduduk kota Magnolia."
"Itu benar. Sekarang prioritas utama kita adalah menyelamatkan penduduk dan anak-anak." ucap Master.
"Tapi Master, bagaimana cara kita mengungsikan seluruh penduduk kota?" tanya Gajeel. " Kita tak punya cukup waktu untuk melakukannya".
"Benar juga. Kita harus mencari cara alternatif yang cepat dan efektif!"
Lucy ikut berfikir, "Seandainya kita bisa menteleport semua penduduk sekaligus-Ah! Baimana kalau Doranbolt menteleport semuanya-"
"Aku tak akan sanggup menteleport orang sebanyak itu Lucy" potong Doranbolt. Lucypun mengiyakan juga karena memang mustahil menteleport lebih dari 5000 orang.
Hingga tak beberapa lama, Levy menjentikkan jarinya dan tersenyum, "Aku punya ide!" pekiknya.
Semua orang beralih kepada wanita bertubuh mungil itu dengan pertanyaan yang sama yaitu, 'Ide seperti apa?'.
Levy mulai menjelaskan, "Freed bisa membuat dinding lingkaran sihir yang akan melingkupi kota dan Doranbolt bisa melakukan teleportasi. Jika aku bisa menggabungkan sihir mereka berdua dengan menghubungkan sihir Doranbolt pada dinding sihir Freed yang mengelilingi kota, Doranbolt akan bisa menteleport semua orang sekaligus ke tempat yang aman."
"WHOA! BENARKAH BISA BEGITU?!"
Wanita itu mengangguk, "Ya. Ini hampir sama dengan unision raid. Tapi aku harus mengubah beberapa mantra sihirnya dan aku butuh beberapa buku dan waktu untuk melakukannya. Tapi aku yakin aku bisa. Hanya saja..." Levy menatap Doranbolt dan Freed yang sedang terluka. Lebih tepatnya hanya Freed yang teluka.
Mengerti maksud wanita itu, Freed mengangguk, "Aku masih bisa melakukannya. Tenang saja." katanya yakin.
"Tapi-"
"Aku bisa menyembuhkan Freed-san saat Levy-san membuat mantra untuk sihir gabungannya." kata Wendy. Levy tersenyum.
"Benar juga! Kita kan punya Wendy yang bisa menyembuhka-"
"Jangan lupakan aku, bocah." kata suara wanita tua berambut pink dengan suara mengintimidasi. Levy hanya bisa tersenyum kikuk.
"Wanitaku ini memang cerdas." puji Gajeel. Pipi Levy langsung bersemu merah.
Master tampak berfikir, "Hmm...tapi ke mana kita akan menteleport mereka?" tanya Makarov.
Levy tampak berfikir. Benar juga! Walaupun bisa menteleport, tapi ke mana mereka akan menteleport semua orang?
"Bagaimana kalau pulau Tenryoujima?" usul Doranbolt.
"Tapi pulau itukan makam Master Pertama. Pulau itu juga berbahaya karena banyak hewan liar dan binatang buas. Lagi pula apa kau bisa menteleport dalam jarak sejauh itu?" tanya Gray tidak yakin.
Doranbolt mengangguk, "Itu bisa saja ku lakukan. Jadi bagaimana Master?" tanyanya beralih pada Makarov.
Makarov tampak masih berfikir, tapi kemudian ia menghela nafas, "Hah...tak ada cara lain. Kalau begitu teleport semuanya ke Tenryoujima."
"Tapi Kakek, bagaimana dengan kita? Apa kita juga akan di teleport ke sana?" tanya Laxus.
"Tenang saja Laxus, Aku akan membuat dinding sihir lain yang akan melingkupi guild. Orang-orang di dalam guild tidak akan diteleport ke Tenryoujima." kata Freed.
"Kalau begitu baiklah. Aku akan membagi tugas pada kalian. Ada yang bertugas ke Tenryoujima untuk melindungi penduduk dan ada yang di sini untuk membantu mengalahkan Acnologia. Ku serahkan semuanya pada kalian."
"Ya. Serahkan pada kami Master!" ucap mereka yakin.
Setelah itu Master mulai membagi beberapa tugas untuk anggota Fairy Tail. Levy bertugas membuat mantra sihir gabungan bersama Freed, Doranbalt dan Jellal (Jellal karena dia adalah mantan 10 Dewan sihir), sementara Wendy bertugas mengobati Freed. Porlyusica bertugas mengobati Laxus dan Tim Raijinshu, juga Sting, Rogue, Yukino dan Minerva yang terluka lumayan parah. Sebagian anggota tengah sibuk mencari buku-buku yang berkaitan dengan sihir Unision Raid dan Sebagian Lagi pergi ke kota untuk memberikan kabar ini pada semua penduduk Magnolia. Anggota yang berada di luar guild akan di teleport ke Tenryoujima untuk melindungi orang-orang.
Sementara itu, Lucy memanggil salah satu seireinya, Virgo dan memintanya membawakan ramuan penyembuh racikannya dari dunia Roh. Virgo mengerti dan kembali ke dunia roh lalu kembali lagi ke dunia manusia sambil membawa beberapa botol ramuan penyembuh.
Lucy menyerahkan ramuan itu pada Laxus dan Tim Raijinshu.
Setelah memberikannya pada Laxus dan lainnya, ia beralih pada Sting, Rogue, Yukino dan Minerva. Keadaan mereka memang cukup parah, walaupun tadi sudah di obati oleh Porlyisica.
Di dekat Sting dan Rogue ada Natsu dan Gajeel. Mereka tampak membicarakan sesuatu, mungkin tentang peperangan melawan Acnologia yang akan terjadi sebentar lagi. Mereka duduk di salah satu bangku Bar.
Tanpa sadar Lucy menatap Natsu cukup lama. Entah kenapa dia sangat ingin melakukannya sekarang, sebelum semuanya berakhir.
Walaupun penampilan pemuda itu sedikit berbeda dan sikap juga sifatnya berbeda dari Natsu yang dulu, Natsu masihlah menjadi Natsu yang percaya diri dan dapat menenangkan. Hanya dengan perkataannya yang selalu optimis, semua nakamanya berhasil bangkit dan bersemangat kembali.
Lucy jadi ingat bagaimana Natsu terus meyakinkannya agar tetap kuat, tegar dan optimis. Bagaimana pemuda itu berusaha melindunginya. Dan bagaimana pemuda itu memperlakukannya...dengan lembut dan perhatian. Bahkan Lucy masih dapat merasakan hangatnya tangan Natsu yang beberapa saat lalu menggenggam tangannya erat. Bagimana harum tubuh Natsu yang sangat menenangkan.
Lucy...tak ingin hal ini hilang. Ia ingin tetap bisa merasakannya...merasakan kehadiran Natsu. Ia tak ingin semuanya hanya menjadi kenangan.
Natsu ternyata dapat merasakan ada seseorang yang menatapnya. Lalu ia mengedarkan pandangan dan menemukan Lucy yang tengah menatapnya dalam. Menatapnya...seolah dia akan pergi.
Natsu kemudian berdiri dan memanggil nama gadis itu, "Luce.."
Gadis itu tersadar ketika namanya di sebut oleh Natsu. Luce...Lucy juga ingin tetap mendengar nama panggilan itu darinya.
Natsu masih menatap Lucy yang masih berdiri agak jauh darinya. Lucy tersenyum sedikit lalu berjalan mendekati Natsu.
"Ada apa?" tanya Natsu.
"Tidak. Aku hanya ingin memberikan ramuan penyembuh dari Virgo ini kepada Sting, Rogue, Yukino dan Minerva. Ku harap ini dapat membantu memulihkan mereka." jawabnya.
Lucy menyerahkan botol-botol ramuan itu kepada mereka berempat.
"Terimakasih Lucy-san, kau selalu baik seperti biasanya." kata Yukino.
Lucy tersenyum, "Ah...jangan terlalu memuji. Aku hanya sedikit membantu."
"Kau sangat membantu Lucy. Lihat saja si Salamander, dia jadi mau bicara lagi dan dia jadi bisa mengatakan hal-hal sembrono lagi, Gehehe" celetuk Gajeel.
Natsu langsung menendang Gajeel hingga pria itu terpental jauh, "Sialan kau Iron head!" ucapnya.
Lucy tertawa kecil melihat tingkah Natsu. Sting dan Rogue juga tertawa sementara Yukino dan Minerva tersenyum. Minerva beralih pada Lucy.
"Ne, sepertinya banyak yang harus kau ceritakan pada kami berempat Lucy" kata Minerva.
Lucy mengangguk, "Hm! Akan ku ceritakan semuanya nanti. Ehm...ngomong-ngomong aku ingin minta maaf pada Sting dan Rogue karena ku dengar Natsu hampir membunuh kalian di pertandingan Daimatou Enbu."
Natsu duduk dengan wajah datar "Itu hanya masa lalu Luce." katanya.
"Tapi tetap saja! Kau kan hampir melakukannya Natsu. Dan apa kau sudah minta maaf? Belum kan?" tegas Lucy. Natsu hanya memutar bola matanya malas.
Sting menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Oh kalau soal itu tenang saja, kami sudah melupakannya kok. Lagi pula Natsu-san benar, itu hanya masa lalu. Kami juga tahu kenapa Natsu-san hampir melakukannya. Dan sekarang kami sangat berterimakasih pada Lucy-san karena kau sudah kembali dan membuat Natsu-san berubah seperti dulu lagi."
"Fro pikir begitu!"
Lucy hanya bisa tersenyum. Sepertinya kedatangannya memang sangat di harapkan semua orang. Bukan hanya anggota Fairy Tail, anggota dari guild lain juga. Apa lagi Sting, dia sangat memperhatikan Natsu dan menjadikannya panutan. Lucy bersyukur, setidaknya kedatangannya yang berhasil merubah Natsu membuat semua orang ikut bahagia.
Tiba-tiba Lucy merasakaan seseorang menarik lengannya lalu tubuhnya oleng ke samping dan menubruk tubuh seseorang. Tangan orang itu melingkar di perut Lucy. Lucy tentu saja kaget dan mendongakkan kepalanya hingga akhirnya ia mendapati Natsulah yang telah melingkarkan lengannya ke tubuh Lucy.
"Ya. Dan aku takkan membiarkannya pergi lagi." ucapnya sambil menunjukkan grins andalannya.
Pipi Lucy langsung bersemu merah. Natsu jadi bersikap...ehm...romantis seperti ini. Apa pemuda itu tak sadar jika perbuatannya bisa membuat Lucy pingsan begitu saja. Apa lagi ia melakukannya di depan banyak orang. Lucy jadi malu.
Kita beralih pada bangku Levy. Di sana dia tengah sibuk menuliskan sesuatu yang terlihat sangat rumit di bantu Freed, Doranbolt dan Jellal. Wendy berada di samping Freed, sedang mengobati pria itu. Tumpukan buku terlihat berserakan di atas meja dengan posisi terbuka.
Levy bergumam, "..ehm..lalu...seperti ini...mencampurkan...dan...ehm...sedikit lagi..Ah! Akhirnya selesai juga!"
Levy bangkit sambil mengangkat beberapa kertas di tangannya. Semua orang menatap takjub Levy.
"KAU HEBAT LEVY!" pekik mereka.
"Aku juga sudah selesai mengobati Freed-san." kata Wendy. Freed berterimakasih pada gadis itu.
"Terimakasih Wendy. Kalau begitu kami akan ke pusat kota dan mulai melakukan gabungan sihirnya. Aku sudah memasang dinding sihir di sekeliling guild agar tak terpengaruh sihir gabungannya."
Doranbolt melirik jam dinding, "Kita masih punya waktu sekitar 30 menit."
"Ini lebih dari cukup." kata Levy. "Kami pergi dulu, Master!"
"Ya. Semoga berhasil."
Freed, Levy dan Doranbalt langsung pergi ke pusat kota menggunakan sihir teleportasi.
Orang-orang yang berada di dalam guild, berjalan ke arah pintu besar guild untuk menyaksikan apakah rencana yang di buat oleh Levy berjalan lancar. Mereka berdoa semoga saja berhasil.
Dapat mereka lihat dengan jelas, tiba-tiba sebuah cahaya berwarna keunguan terlihat di tengah kota lalu cahaya itu membentuk sebuah dinding yang kemudian meluas hingga melingkupi seluruh kota. Setelah itu sebuah cahaya putih memancar di ikuti hilangnya orang-orang yang berada di kota itu, kecuali orang-orang di dalam guild Fairy Tail.
Rencana mereka berhasil dan semua orang bersorak senang.
"Sepertinya mereka berhasil." kata Porlyusica.
Makrov mengangguk, "Ya. Mereka adalah anak-anakku. Anggota Fairy Tail. Jadi ide gila seperti apapun pasti berhasil."ucapnya bangga.
Tak lama Doranbalt, Levy dan Freed kembali. Mereka bertiga di sambut dengar sorakan yang sangat keras karena berhasil menteleport semua orang.
Kemudian Doranbolt menteleport anak-anak di dalam guild bersama Minerva, Yukino, Evergreen dan Bikslow untuk ke Tenryoujima agar mereka aman. Anak-anak itu menurut dan sama sekali tidak menangis,seolah tahu bagaimana keadaan saat ini. Lalu Doranbolt kembali lagi ke dalam Guild.
"Ku harap mereka akan baik-baik saja." kata Juvia.
Gray menggenggam tangan istrinya, "Mereka akan baik-baik saja. Tenanglah Juvia."
Makarov berjalan lagi ke arah meja bar lalu berdiri di sana, "Sekarang kita tinggal menunggu kedatangan Acnologia. Karena itu akan ku tugaskan beberapa orang untuk memata-matai kedatangannya. " kata Makrov.
Makarov memilih orang-orang yang akan di kirim untuk mematai-matai kapan kedatangan Acnologia. Ada sekitar 20 orang termasuk Doranbolt dan Lucy. Tapi ketika Lucy akan pergi, tiba-tiba Natsu menahan tangan Lucy.
"Tunggu!"
"Natsu? Ada apa?" tanya Lucy bingung.
Natsu tak menjawab dan malah beralih pada Makarov, "Kakek, bisakah kau mengirimkan orang lain selain Lucy? Aku ingin dia tetap di sini."
"Tapi Natsu, Lucy cukup bagus dalam hal memata-matai karena dia bisa menggunakan roh bintangnya." tolak Makarov.
Natsu tetap bersikukuh, "Tapi aku ingin dia tetap di sini! Kalau dia pergi, aku tak bisa melindunginya!"
"Hey Natsu, tenanglah, dia tidak akan apa-apa. Tugasnya hanya memata-matai bukannya bertarung." kata Gray.
"I-iya Natsu. Tenanglah..aku tak akan apa-apa. Lagi pula jika terjadi sesuatu Doranbolt bisa menteleportku." kata Lucy.
"Tetap saja! Aku tak ingin Lucy jauh-jauh dariku! Kalau begitu, aku akan ikut dengan Lucy!" tegasnya lagi. Manik onixnya menatap Lucy sangat serius. Natsu jadi sangat overprotective padanya.
Gajeel berdecak, "Ck, dasar overprotective. Kalau begitu gantikan saja Lucy denganku Master agar dia tidak ribut terus."
"Tidak!"
Master melarang Gajeel, "Ingatlah, saat ini kalianlah, para Dragon Slayer yang di incar oleh Acnologia." Makarov menghela nafasnya, "Haah...tapi karena Natsu terlalu keras kepala..baiklah, Elfman, kau gantikan posisi Lucy."
"Baik Master! OTOKO!" pekiknya semangat.
Akhirnya karena Natsu tetap bersikeras mempertahankan Lucy, Makarovpun mengirimkan Elfman untuk menggantikannya.
"Kalau begitu kami pergi dulu Master "
SLAPP
Kedua puluh orang itu langsung menghilang.
Lucy jadi merasa tidak enak hati pada Master Makarov karena Natsu mempertahankannya untuk tetap di dalam Guild. Sebenarnya ia senang karena Natsu benar-benar menepati perkataannya untuk melindunginya, tapi ia agak kesal karena Natsu jadi bersikap overprotective.
"Natsu, kenapa kau melarangku pergi? Kau jadi bersikap over-"
"Bukankah aku pernah bilang akan melindungimu?" potong pemuda itu. Lucy akhirnya diam.
"Aku tak mau kau jauh-jauh dariku Luce karena akan lebih mudah melindungimu jika kau ada di dekatku!"
Lucy masih diam mendengar alasan Natsu. Natsu melanjutkan, pandangannya melembut, menatap dalam karamel Lucy sambil tangannya menggenggam tangan Lucy dan mengangkatnya di depan dada, "Dan aku masih ingin bersamamu... lebih lama...kumohon mengertilah.."
DEG!
Lucy benar-benar tak dapat berkata apa-apa lagi. Tatapan itu...tatapan yang mampu menggetarkan hati Lucy. Sebegitu khawatirkah Natsu padanya? Lucy jadi heran, seharusnya Ialah yang mengatakan hal itu pada Natsu karena Natsu yang di incar oleh Acnologia.
Erza, Gray, Juvia dan orang-orang di sana hanya bisa tersenyum melihat Natsu dan Lucy. Mereka tak akan menyalahlan sikap overprotective Natsu karena Lucy juga baru dua hari kembali dan lagi...Natsu pasti tak akan membiarkan orang yang ia cintai berada dalam bahaya.
Lucy mengalihakan pandangannya dari Onix Natsu, pipinya merona, "K-kau terlalu berlebihan...harusnya aku yang melindungimu karena kau lah yang di incar oleh Acnologia."
Natsu menyentuh pipi Lucy, lalu membawa mata gadis itu agar kembali menatapnya, "Apa aku salah jika melindungi orang yang ku sayangi?"
Karamel Lucy membulat. Ia merasakan seperti ada sengatan listrik ketika Natsu mengatakannya. Tapi bersamaan dengan itu, ia juga merasakan perasaan nyaman dan desiran yang membuatnya ingin pingsan sekarang.
Natsu melanjutkan, tapi kini tatapannya berubah serius, "Dan...entah kenapa perasaanku tiba-tiba jadi tidak enak"
Lucy memiringkan kepalanya,tak begitu mengerti dengan perkataan Natsu. Perasaan tidak enak? Tapi kenapa? Dan apa hubungannya dengan dirinya?
"Hey, sudah-sudah. Bisa-bisanya kalian bermesraan saat situasi seperti ini." kata Gajeel sedikit mengejek. Natsu langsung menjauhkan tubuhnya darj Lucy dan menatap kesal Pria penuh tindik itu dengan pipi merona.
Wendy yang sedang mengobati Sting dan Rogue tertawa kecil. Rogue bertanya pada Wendy,
"Sejak kapan ya Natsu-san jadi tsundere begitu?" tanyanya geli.
"Sepertinya...sejak Natsu-san mencium Lucy-san." jawabnya asal lalu mereka bertiga tertawa.
Carla yang ada di dekat Wendy hanya tersenyum sebentar. Tapi tiba-tiba ia merasakan sesuatu seperti mengahantam kepalanya dan tubuhnya tegang seketika.
Happy yang ada di dekatnya langsung menahan tubuh Carla yang terlihat hampir jatuh.
"Carla! Kau kenapa?!"tanyanya khawatir.
Tapi Carla masih diam. Matanya sama sekali tak berkedip dan sebelah tangannya memegangi kepalanya. Maniknya membulat.
"A-Apa maksudnya ini?!"
.
##########
"Ck, Natsu itu benar-benar terlalu overprotective pada Lucy." kata Jet.
Alzack membenarkan, "Ya. Dan lihat tadi bagaimana bersikerasnya dia mempertahankan Lucy..."
"Setidaknya karena Lucy, Natsu bisa kembali seperti dulu."
"Padahal aku ingin melakukan pendekatan dengan Lucy." ucap Max asal lalu tertawa bersama teman-temannya
Doranbolt memukul kepala Max, "Kalian ini. Kita di tugasi untuk mengawasi. Jadi jangan bercanda terus."
Saat ini mereka tengah berjalan di pinggir kota. Doranbolt membagi kelompok menjadi 4 untuk berpencar menyelidiki arah datangnya Acnologia.
"Yaya...kami tahu, tapi sedari tadi tak ada tanda-tanda kemunculan Acnologia"
Doranbolt jadi diam. Benar juga. Matahari sudah hampir terbenam dan mereka sama sekali belum mendapatkan tanda-tanda keberadaan Naga itu.
"Walau begitu kita tetap harus terus menca-"
TAP TAP TAP
Doranbolt langsung berhenti bicara ketika mendengar suara langkah kaki. Ia membalikkan badannya karena suara tersebut terdengar dari arah belakang.
Onixnya langsung membulat begitu melihat sosok di sana, berjalan dengan langkah santai dengan tangan...berlumuran darah.
"Di-dia..."
.
.
#########
"Ada apa Happy?" tanya Wendy.
Wajah Happy terlihat panik, "Carla...Carla tiba-tiba seperti ini." katanya sambil masih menahan tubuh Carla agar tak jatuh.
Carla masih dalam posisi seperti ingin jatuh, tapi matanya tampak membulat seperti syok dan terkejut. Wendy langsung berusaha menyadarkan Carla.
"Carla! Hey! Carla! Kau kenapa?!"
Carla masih diam. Suara Wendy barusan berhasil menarik perhatian semua orang di dalam guild. Mereka menatap ke arah gadis berambut biru panjang itu.
Tubuh Carla tampak tersentak kembali. Perlahan ia mulai berdiri di bantu Happy.
"Carla, kau kenapa?!" tanya Happy khawatir, tapi Carla tak menjawab. Matanya malah menatap ke arah dua orang di dalam guild. Menatap Lucy dan Natsu bergantian.
"I-ini..."
Natsu dan Lucy berniat mendekat karena arah tatapan Carla jelas-jelas ke arah mereka. Perasaan keduanya berubah menjadi tidak enak karena Exceed itu menatap mereka dengan tarapan syok.
"Kenapa Ca-"
DUAAARRR!
BRUUKK BRUUUKK GRUUDUKK!
Perkataan Lucy terpotong ketika terdengar suara ledakan yang sangat memekakkan telinga.
"Suara apa itu?!"pekik Gray.
Natsu membulatkan onixnya, "Jangan-jangan.."
TAP TAP TAP
Semua orang berlari ke arah pintu dengan panik dan keluar dengan jantung berpacu cepat. Mata mereka membulat sempurna melihat pemandangan di depan.
Bangunan-bangunan di kota hancur, luluh lantak. Kepulan asap membumbung tinggi dengan latar matahari yang menghilang perlahan.
"Ko-kotanya...b-benar-benar...hancur.."
"Bagaimana bisa secepat ini?!"
"B-bagaimana dengan teman-teman kita?"
TAP TAP TAP
SREK SREK...
Dari balik kepulan asap yamg cukup tebal terlihat bayangan sesosok manusia yang berjalan mendekati guild. Sosok itu terlihat menyeret sesuatu. semakin jelas hingga akhirnya, tampaklah wujud darinya. Wujud seorang pria berambut putih panjang dengankulit hitam. Tubuhnya di balut oleh jubah hitam yang memperlihatkan dadanya yang terkespos. Semua orang membulatkan manik mereka.
"I-itu.."
"ACNOLOGIA!"
Dia adalah sosok yang telah mereka semua tunggu...Acnologia! Sosok itu terus berjalan mendekat dengan tatapan dinginnya.
Yang membuat mereka bertambah syok adalah...sosok yang ia seret sepanjang jalan. Itu..
"DORANBOLT!" Pekik Master dengan mata terbelalak, menatap sosok yang di seret sang Raja Naga.
Acnologia, dalam wujud manusianya akhirnya menampakkan diri. Ia menyeret tubuh Doranbolt yang tampak tak sadarkan diri.
Acnologia mengangkat sosok yang di seretnya tadi dan dengan santainya melempar tubuh Doranbolt ke arah guild, tepat ke arah Master Makarov.
"DORANBOLT!" pekik semuanya. Mereka langsung menghampiri Doranbolt.
"DORANBOLT-SAN!"
Wendy langsung berjongkok di hadapan tubuh Doranbolt yang tak sadarkan diri.
"Doranbolt! Hey! Sadarlah!" teriak Natsu. Doranbolt tak menyahut karena ia tak sadarkan diri.
Keadaan Doranbolt sangat parah. Sekujur tubuhnya penuh luka dan mengeluarkan darah. Wendy langsung melakukan sihir lost magic. Porlyusica ikut membantu. Ia memerikasa keadaan Doranbolt.
"Empat tulang rusuknya patah...sendi di lengan kirinya lepas...lalu organ dalamnya hancur...keadaannya sangat parah .." katanya.
"Doranbolt-san! Bertahanlah!" pekik Wendy sambil menangis.
"Happy, Lily bawa Doranbolt menjauh dari sini bersama Porlyisica dan Wendy adar mereka bisa mengobatinya!" perintah Makarov.
"Hai! Master!"
"Lector, Frosch, kalian juga bantulah mereka!"
"Hai! Sting-kun!"
Exceed-exceed itu kemudian membawa Doranbolt, Porlyusica dan Wendy menjauh.
Natsu menggeram. Ia mengepalkan tangannya lalu menatap tajam Acnologia yang memasang wajah datarnya.
"Hm...jadi ternyata benar dugaanku. Kalian para Dragon Slayer berkumpul di sini?" kata Acnologia.
Natsu marah, " Apa yang kau lakukan pada Doranbolt! Dan bagaimana dengan nakama nakamaku?!"
Acnologia masih memasang wajah datar "Maksudmu kumpulan manusia rendahan tak berguna tadi? Bau darah mereka sangat memuakkan, jadi ku timbun mereka dengan bangunan" jawabnya santai.
Semuanya kembali syok. Lucy tersentak dan menutup mulutnya. Jadi...Acnologia...sudah membunuh semua nakamanya?!
"J-jadi...Elfman juga..." Mira tak meneruskan perkataannya karena tiba-tiba Laxus memeluknya. Mira menangis kencang dalam pelukan Laxus.
"T-tidak...Alzack, Max...teman-teman..." Erza mengeluarkan air matanya.
"Sialan!" pekik Gajeel.
Makarov merasa sangat terpukul. Idenya untuk mengirim ke 20 anggotanya untuk memata-matai kedatangan Acnologia, malah membawa mereka menuju ke kematian. Ia tak menyangka jika hal ini terjadi.
Natsu marah. Sangat marah hingga rasanya seluruh tubuhnya mendidih. Teman-temannya...mereka...
Ia menatap nyalang sosok Acnologia dalam wujud manusianya. Tangannya terkepal erat hingga mengeluarkan api.
Mengerti apa yang akan di lakukan Natsu, Gray coba menahannya.
"Natsu! Janga-"
"SIALAN KAU!" teriam Natsu lalu berlari.
"Berhenti Natsu!" pekik Jellal
"Jangan gegabah Bodoh!" pekik Erza.
"NATSU!"
TAP
Natsu yang sudah berlari ingin menghajar Acnologia langsung berhenti ketika merasakan seseorang memelukknya dari belakang. Lucy menghentikan Natsu dengan memeluk pemuda itu dari belakang.
"Luce, Lepaskan!" ucapnya dengan nada marah. Matanya masih menatap tajam sosok Acnologia.
Lucy menggeleng di balik punggung Natsu. Ia mengeratkan pelukannya pada pemuda bersyal itu, "Ku mohon...jangan gegabah Natsu...Dia bukan lawan yang mudah di harus menyusun rencana untuk mengalahkannya. Jadi ku mohon..tahan emosimu.."
Tubuh Natsu yang semula kaku karena emosi yang memuncak perlahan-lahan lahan melemas. Api di tangannya juga perlahan hilang. Teman-temannya menghela nafas lega karena Lucy berhasil menahan Natsu. Jika saja Natsu nekat menyerang Acnologia...entah bagaimana jadinya.
Natsu merenggangkan pelukan Lucy lalu berbalik menghadap gadis itu.
"Ya. Terimakasih" ucapnya lirih.
Master Makarov dan lainnya, kecuali Wendy dan Porlyusica, langsung menghampiri mereka berdua.
"Kau ini! Selalu saja membuat kami khawatir!" kata Erza.
"Kita tak bisa gegabah menghadapinya Natsu-san. Walaupun kita menyatukan kekuatan belum tentu kita bisa mengalahkannya." cerca Rogue.
"Kita harus membuat strategi untuk mengalahkannya." kata Gray.
"Tapi-teman-teman kita..."
"Tabahkan dirimu Levy! Kita tak bisa begini terus!" teriak Gajeel.
"Mereka...maafkan Orang tua ini...aku terlalu ceroboh.." sesal Makarov.
"Sudahlah Master. Jangan menyalahkan diri anda sendiri. Sekarang kita harus fokus dengan Acnologia!" pekik Erza.
Acnologia masih berdiri di sana, tak bergerak sedikitpun. Tapi sedari tadi, ia terus mengawasi sesuatu. Tatapan tajam Raja Naga itu tertuju pada satu hal. Tertuju pada salah satu sosok di antara anggota Fairy Tail.
"Sebenarnya apa yang kau ingunkan?! Kenapa kau melakukan semua ini?!" tanya Natsu dengan nada marah.
Wendy yang tadi sedang mengobati Doranbolt kini berdiri dan berlari ke samping Natsu.
"Bukankah kau menginginkan kami? Dragon Slayer? Jika kau memang ingin membunuh kami kenapa kau harus membunuh nakam-nakamaku? Mereka tak bersalah!" teriaknya. Air mata mengalir deras ketika Wendy mengatakannya.
"Wendy..." gumam Lucy.
"Membunuh adalah hal yang mudah dan menyenangkan. Dan itu adalah salah satu keahlianku." jawab Acnologia dengan wajah dingin
Sting mengepalkan tangannya, "Jadi begitu...kau memang ingin membunuh semua manusia?"
"Ya. Dan aku...sangat ingin membunuh...semua Dragon Slayer." jawabnya.
Natsu dan para Dragon Slayer tak kaget ketika Acnologia mengatakan jika ingin membunuh Dragon Slayer. Mereka sudah tahu jika memang merekalah yang Acnologia inginkan.
Laxus melpaskan pelukannya pada Mira. Ia mendecih, "Jadi, kau memang menginginkan kami, huh? Jangan kau pikir kau akan dengan mudah membunuh kami." ucapnya.
"Sebenarnya...tidak juga." jawabnya ambigu.
"Apa maksudmu?" tanya Natsu.
Acnologi menyeringai. Matanya mengkilat, menatap tajam sosok yang berada di belakang Natsu.
"Akhirnya aku menemukanmu...pirang."
DEG!
PIRANG?!
APA ACNOLOGIA BARU SAJA MENGATAKAN PIRANG?!
Dengan serentak semuanya menatap sosok gadis berambut pirang yang berada di belakang Natsu , karena Acnologia dengan jelas mengatakan pirang. Tatapannya juga tertuju pada gadis itu.
"Lu-Lucy..."
"Ke-kenapa..."
"I-ini...t-tidak...mungkin.."
Natsu membulatkan onixnya. Bibirnya terbuka, nafasnya tercekat. Kemudian ia menolehkan kepalanya untuk menatap orang yang berada di belakang tubuhnya.
Dapat ia lihat gadis itu amat syok. Tubuhnya bahkan gemetaran. Manik karamelnya menatap kosong penuh letidak percayaan.
Lucy?! Jadi Acnologia mencari Lucy?! Tapi kenapa?! Bukankah Acnologia mengincar para Dragon Slayer? Bahkan dia telah membunuh Cobra! Lalu kenapa sekarang mahluk itu malah menginginkan Lucy?
SET!
Dengan sigap, Natsu langsung menarik tubuh Lucy merapat ke punggungnya untuk menghalangi tatapan Acnologia. Entah apa yang di inginkan oleh Raja Naga itu dari Lucy. Tapi Natsu tetap berusaha melindungi gadis itu.
"Jangan mengada-ada! Bukankah kau mengincar kami, para Dragon Slayer?! Kenapa sekarang kau malah menginginkan Lucy?!" teriak Natsu Murka.
"Sebenarnya apa tujuanmu?!" tanya Erza. Wanita berambut scarlet itu sudah siap dengan Armor terbaiknya.
Jellal tampak berpikir. Ternyata ia salah perhitungan. Jellal mengira Acnologia hendak membunuh Dragon Slayer karena Acnologia jelas-jelas menyerang Guild yang memiliki Dragon Slayer. Bahkan dia juga telah membunuh Cobra. Jellal tahu, Acnologia pasti telah memiliki kemampuan Cobra sekarang setelah membunuh teman satu Guildnya itu. Tapi kenapa sekarang Acnologia menginginkan Lucy?
Apa Acnologia ingin membunuh Lucy?
Tapi apa alasannya? Dan jika memang Acnologia berniat begitu, pasti dia sudah melakukannya sejak dulu, saat perang melawan Alvarez karena Naga itu juga muncul di sana. Dan saat perang melawan Tartaroz Acnologia juga muncul. Jika dia menginginkan Lucy bisa saja dia membunuh gadis itu saat itu juga. Tapi saat itu untunglah para Naga dari Dragon Slayer mun-
Tunggu sebentar!
Naga?!
Para Naga datang dari masa lalu keasa depan.
Acnologia adalah Naga dari masa lalu
Dan Dragon Slayer juga datang dari masa 400 tahun.
Dan Acnologia menginginkan Lucy.
Gadis celestial Spirit!
Jangan jangan...
"Tinggu sebentar!" pekik Jellal. "J-jangan bilang kau kenginginkan kekuatan Lucy untuk membuka gerbang ke masa lalu?!"
Semua orang terkejut. Apa?! Membuka gerbang ke masa lalu?!
Acnologia menyeringai, "Hm. Ternyata kau sudah tahu ya?"
Semua orang tampak makin terkejut. Apa lagi Lucy. Jadi Acnologia menginginkan kekuatan Lucy untuk membuka gerbang ke masa lalu? Eclipse?!
"Ternyata benar..." gumam Jellal.
"T-tapi,b-bukankah gerbang Eclipse sudah hancur?" tanya Lucy. Akhirnya ia ikut membuka suara.
"Ya. Memang gerbang itu sudah hancur, tapi...kau bisa membuatnya lagi pirang, atau boleh ku panggil Lucy Heartfilia? Anak dari Layla Heartfilia, keturunan Anna Heartfilia."
Lucy makin terkejut. Bagaimana Acnologia tahu Namanya? Nama mamanya? Dan juga nama pendahulnya yang telah menciptakan gerbang Eclipse?
"Me-membuat? Itu mustahil!" pekik Juvia.
"Tak ada yang mustahil. Kau pikir dengan cara apa Anna Heartfilia membangun gerbang Eclipse? Tentu saja dengan bantuan 12 kunci emasnya, 12 seirei. Dan dengan 12 kunci itulah gerbang Eclipse dapat tercipta dan terbuka."
Acnologia melanjutkan, "Jika gerbang Eclipse terbuka, aku bisa kembali ke masa lalu. Dan di masa itu, aku bisa membunuh Naga-Naga yang belum ku bunuh dan menjadi Mahluk terkuat di alam semesta. Lalu aku akan membinasakan kehidupan di dunia ini. Karena itu, serahkan gadis pirang itu padaku. Tenang saja, aku tak akan membunuhnya."
Setelah mengatakan tujuannya yang sebenarnya, Acnologia berjalan makin mendekat. Natsu makin menarik Lucy agar makin merapat ke punggungnya, berpose melindungi. Teman-temannya juga merapat ke arah Natsu dan Lucy untuk melindungi gadis itu. Sekarang rencana mereka berubah, bukan melindungi para Dragon Slayer, tapi melindungi Lucy agar tak di bawa oleh Acnologia.
Lucy yang menjadi target incaran tak bisa berbuat banyak. Ia makin mengeratkan cengkramannya pada baju Natsu.
"Tak akan ku biarkan kau membawa Lucy!" teriak Natsu.
"Dan kami juga takkan berdiam diri saja!" teriak Makarov.
"Semuanya! Ayo kita lindungi Lucy!" pekik Erza.
Mereka mempersiapkan diri dengan sihir mereka ketika Acnologia makin mendekat. Mahluk itu berjalan sangat santai sambil mengangkat sedikit tanganya.
"Natsu..." gumam Lucy yang berada di balik punggung Natsu.
"Tenang Luce. Aku takkan membiarkanmu di bawa olehnya." kata Natsu menenangkan.
Tapi Lucy tetap saja merasa takut. Lawan mereka adalah Acnologia. Dan apakah mereka akan berhasil-
TAP
-mengalahkannya?
"A-AP-"
BWOSSSHHH!
BUUUMMM
"UAAAKKKHH!"
"A-K-MINNAAA!"
.
.
#########
BERSAMBUNG
.
.
Yohoho...bersambung di hal yang nggak terduga lagi. Jadi apa yang terjadi selanjutnya? Kenapa Lucy berteriak? Lalu hal mengejutkan apa lagi yang akan tampak di cahp berikutnya? Kalau penasaran ikuti terus fanfic ini ya! Jadi mohon ...
REVIEW! ^_^
.
.
Ini adalah isi penglihatan Carla...
.
Carla pov.
Ada apa ini? Kenapa kepalaku terasa pusing dan berat?
Lalu sebuah layar terbuka...ini...penglihatan! Aku mendapat penglihatan lagi!
Penglihatan ini sama seperti yang ku dapat tadi...
Kota yang hancur...lalu kepulan asap membumbung tinggi...dan sosok hitam yang berjalan menembus kabut...itu...Acnologi!
Tapi...
Ap-apa ini?!
Aku melihat Sosok itu lagi! Sosok dengan mata berkilat yang berdiri di reruntuhan guild. Tapi...s-sayap? Tanduk? I-itu bukanlah Acnologia?!
Lalu siapa?
Dan...i-ini...Lucy...Lucy duduk...sambil...bernyanyi? Kenapa dia melakukan itu?
Tapi...air mata...mengalir melewati pipinya...
Lucy...menangis?
Tapi kenapa dia menangis?
Dan...
Apa lagi ini?!
Sebuah panah terlontar...es..
Lalu...
Seseorang tergeletak...
Syal putih kotak-kotak ternodai dengan...darah...
Panah itu...panah es...
Syal putih kotak-kotak berlumuran darah...
Lucy menangis...
Apa yang akan terjadi sebenarnya?
.
.
Next chapter...
"Gray...apapun yang terjadi...jangan pernah lepaskan panah esmu...pada Natsu"
.
"Aku tak bisa membukanya! Sudah kubilang kan?! Aku tak punya kunci aquarius!"
"Kalalu begitu..." Acnologia mengeluarkan sesuatu dari jubahnya, "Bagaimana dengan kunci ini?"
"A-A-"
.
"Natsu! Berhenti Natsu! Tahan dirimu! Jangan sampai kau 'melepaskannya kembali!'
.
"I-itu...NATSU!"
.
Sementara itu dua sosok berjalan melintasi dimensi...untuk merwdam kekacauan yang terjadi saat ini...
Mavis dan Zeref
.
#######
