-aihime-
LEGACY OR LOVE
Cast: YunJae
Other Cast: YooSu, MinKyu and Many More
Genre: Romance, Family
Rate: T
-AU, OOC, BLtoYAOI, Mpreg, Typo(s)-
:: Haruskah mengalah lagi ::
A/n: Bacanya pelan-pelan ne, karena ini ff implisit. Ada kemungkinan, satu kalimat ketinggalan bisa membuat kalian kurang masuk atau malah kurang mengerti.
PART 04
Jaejoong bergerak gelisah dalam posisi duduknya. Apa karena ia begitu menghayati malam pertamanya dengan Yunho? Sepertinya tidak. Lalu, mengapa ia berulang kali menoleh pada pintu kamar mandi, dimana didalamnya terdapat Yunho yang sedang membersihkan diri, menghanyutkan lelahnya melalui bulir air yang keluar dari shower.
Clek!
Jaejoong menggigit bibirnya ketika mendengar pintu terbuka. Jantungnya berdegup kencang. Bahkan, ia bisa merasakan wajahnya menghangat. Ia terlalu gugup. Ia mengepalkan tangan kirinya didepan dada. Menguatkan hati dan tekadnya agar ia bisa menghadapi Yunho malam ini. Aish, ia Hero kan? Ia pasti bisa.
"My Princess belum tidur eoh?" tegur Yunho. Mendengarnya, Jaejoong mengalihkan pandangannya pada yang menikahinya tadi pagi di Kanada. Menelan ludahnya kala tak sengaja melihat otot-otot yang tercetak diperut suaminya. Tapi, mencoba menutupi rasa gugup yang menjadi dengan mendengus kesal.
"Siapa 'My Princess'mu itu eoh?" tanyanya jengkel.
"Ok, My Hero. Kau belum tidur? Tidak lelah?"
"Sangat lelah," tekan Jaejoong, "Tapi, aku, a-aku ingin melakukan sesuatu dulu denganmu." gugup Jaejoong.
"Omona! Istriku ingin melakukan 'sesuatu' denganku?"
"Aish, berhenti menyebutku istrimu." jengah Jaejoong. "Kemarilah." Jaejoong menepuk tempat disampingnya agar Yunho ikut duduk bersamanya dikasur bersprei putih itu.
"Oke, bersabarlah." Yunho mengerling nakal. Ia pun naik dan duduk ditempat yang diharapkan Jaejoong. Jaejoong semakin gugup. Tak sadar ia menjilat bibirnya sebelum menghela napas demi menenangkan hatinya. Sayangnya, Yunho menyalah artikan gerakan kecil lidah Jaejoong itu. Ditambah sekarang, Jaejoong tengah menutup matanya dikarenakan mencoba menarik oksigen sebanyak-banyaknya.
Pelan tapi pasti, Yunho mendekatkan wajahnya. Ia ingin merasakan lagi cherry merekah milik istrinya. Sebentar lagi, tak lebih dari satu senti. Tapi,
Sreet!
Selembar kertas menghalangi pertemuan bibir itu. Ah~ ditambah dengan ekspresi kaget Jaejoong.
"Apa yang kau lakukan?" teriak Jaejoong panik.
"Menciummu. Apa lagi? Tapi, apa ini? Mengganggu." Yunho menarik kertas itu dan melihatnya bulak-balik.
"Baca saja." ketus Jaejoong.
Yunho melakukannya, ia membaca isi yang tertulis dikertas itu. Ia terkekeh setelahnya, membuat Jaejoong menyatukan alisnya bingung.
"Wae?" tanyanya.
"Surat perjanjian eoh? Tapi, kau harus menghilangkan setidaknya satu poin." jawab Yunho.
"Eh? Aniyo! Kau harus setuju!" pekik Jaejoong.
"Aish, kau pikir poin ini masuk akal?" Yunho menunjuk-nunjuk kertasnya.
"Wae?"
"Kau lupa? Apa yang diharapkan dari pernikahan kita?"
Jaejoong terdiam. Ia memutar memori segala yang diucapkan ayah dan ibunya saat pertemuan dengan keluarga Yunho. Tentang alasan yang diberikan orang tuanya agar menerima Yunho, yaitu namja itu tampan, namja itu kaya, namja itu akan membantunya kelak. Lalu, tentang ancaman ayahnya tentang posisi hak waris. Dan tentang fakta dimana, aish~
"Seharusnya aku bisa menyentuhmu Jae. Agar aku bisa membuatmu hamil." dirinya bisa hamil. Aish, gila. Ia namja, tapi harus memberikan seorang keturunan bermarga Jung untuk mengamankan posisinya. Posisi apa? Aish, Jaejoong bingung. Walau begitu, ia tetap mengikuti saran ibunya. Setidaknya, ibunya masih memikirkan kebahagiaannya. Ini semua, pasti ada alasannya.
"Hapus poin ini, dan aku akan menandatanganinya." tambah Yunho.
"Jinja? Kau baca dulu semua." saran Jaejoong.
"Sudah."
"Kau yakin?" Jaejoong memicing, "Tentang perceraian itu juga?"
"Ne. Kau mengandung, melahirkan, dan kita bercerai."
"Be-benarkah?" Jaejoong berlonjak girang.
"Untuk kebahagiaanmu, apapun kulakukan" ucap Yunho dengan senyuman diwajahnya. Dan entah mengapa, debaran halus terjadi di rongga dada Jaejoong. "Jadi, bagaimana jika kita melakukan 'itu' sekarang. Agar kau cepat hamil." Yunho mengangkat alisnya.
Tanpa berpikir panjang akibat kebahagiaan atas pengertian Yunho, Jaejoong mengangguk. Dengan cepat ia melucuti semua pakaiannya. Yunho tersenyum. Ia mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Jaejoong.
Terus mengecupi bibir Jaejoong, lalu menjelajah sampai leher Jaejoong. Tangannya bergerak ke bagian bawah tubuh Jaejoong. Dan ketika menemukan sesuatu yang dicarinya,
Plak!
"Apa yang kau lakukan Jung Yunho?" pekiknya seperti perempuan dan segera menutupi tubuhnya dengan selimut.
Yunho mendengus. Jiwa Hero dalam diri Jaejoong menghilang malam ini. Jaejoong lebih mirip perempuan yang suka memekik. Lagipula, mengapa namja itu plin plan? Ia yang melucuti pakaiannya sendiri. Tapi, aish.
-YJ-
"Kau tidak kuliah?" sinis Jaejoong melihat Yunho menonton dengan santainya.
"Untuk apa?"
"Apa kau juga disuruh cuti?" tanya Jaejoong. Yunho menggeleng.
"Aku sudah bekerja. Untuk apa lagi kuliah."
"Jadi, kau benar-benar hanya mengawasi University itu?" tanya Jaejoong setelah sebelumnya mendecih sinis. Dan jawaban yang didapatnya adalah anggukan.
"Aku berniat mengubah University itu agar berskala internasional. Semua dimulai dari siswanya bukan?" tanya Yunho. "Lagipula, aku juga ingin menyambut istriku. Tak menyangka, Hero diam saja ketika ada yang menghajarnya. Payah!" ejek Yunho. Baru saja Jaejoong akan membalas Yunho. Tapi, bel apartment hadiah pernikahan mereka berbunyi.
"Bukalah." perintah Yunho.
Jaejoong mendengus. Tapi, ia hanya bisa menurut. Dan ketika ia membuka pintunya, seorang namja tinggi menyerobot masuk dan—
"Hyung, kau tega!"—berteriak kencang membuat Yunho menolehkan wajahnya.
Jaejoong berniat menutup pintu. Tapi, seorang namja cute menghampiri indra penglihatannya. Namja putih itu memandang datar Jaejoong. Jaejoong hanya menyeringai.
"Anyeong!" sapanya setelah melihat seringai itu.
"Masuklah." ucap Jaejoong. Ia beranjak diikuti namja tadi menuju Yunho dan namja tinggi kekanakan tadi.
Jaejoong bisa melihat Yunho yang sedang berdecak kesal dan bergumam "Berisik." dengan cukup keras membuat namja tinggi itu menekuk bibirnya.
"Habis, kau tega. Menikah tanpa memberitahuku. Kau tak menganggapku eoh?" rajuknya.
"Kau tau Min? Umma yang merencanakan semua ini. Jadi salahkan saja umma." jawab Yunho pelan.
"Um, baiklah. Akan kusalahkan Umma." jawabnya. "Oh, diakah istrimu?" tanyanya seraya menunjuk Jaejoong tidak sopan. "Neomu yeppo hyung."
"Tentu saja, istriku memang harus begitu." bangga Yunho. "Dan, hari ini aku sarapan enak."
"Ia~" Changmin mulai berpikir yang tidak-tidak. Wajahnya menegang ketika Yunho mengangguk.
"Jaejoongku pintar memasak." ucap Yunho, menghancurkan segala pikiran buruk Changmin.
"Whoa! Hebat." Changmin menghampiri Jaejoong, "Hyung, Jae-hyung. Kenalkan, aku Changmin. Aku adik tunggal suamimu. Kumohon, sayangi aku dengan memasakkan makanan untukku ne." pinta Changmin. Jaejoong salah tingkah, hingga ia mengalihkan matanya dari Changmin. Tak sengaja melihat Kyuhyun yang berwajah sendu.
···
"Ne hyung. Ini Kyuhyun." ucap Changmin seraya memasukkan sesendok cake kedalam mulutnya. "Wah, ini enak. Yunho-hyung. Boleh kah istrimu untukku?"tanyanya lagi. Jawaban yang didapatkannya? Jitakan keras dari Yunho.
"Enak saja." dengus Yunho.
"Setidaknya carikan untukku seseorang seperti Jae-hyung." Changmin merengut serta mengusap-usap kepalanya.
"Sudah kutemukan." Jaejoong turut serta dalam obrolan hangat kakak beradik ini.
"Siapa?" tanya Changmin.
"Kyuhyun." jawab Jaejoong singkat. Kyuhyun yang merasa namanya disebut langsung salah tingkah. Yunho mengangguk-angguk setuju, dan Changmin―
"Tidak mungkin!"― berteriak lantang. Menolak ide kakak iparnya. "Membuat omelette saja hangus. Bagaimana ia bisa memasak?"
"Yah, kau lihat? Kyuhyun begitu manis." ucap Yunho disertai anggukan Jaejoong. Wajah Kyuhyun memerah.
"Tapi, Kyu tidak bisa masak."
"Kau bisa belajar padaku Kyu." sela Jaejoong.
"Ne, Min. Bagaimana jika kalian berpacaran saja?" usul Yunho membuat Changmin terkekeh geli. Berbeda dengan Kyuhyun yang susah payah menetralkan perasaannya, hatinya dan tentu saja, rona merah diwajahnya.
-YJ-
"Huh, semoga saja Kyuhyun bisa sabar menghadapi nafsu makan Changmin." keluh Jaejoong. Ia tengah membersihkan alat makan yang dipakainya, Yunho, Changmin, dan Kyuhyun untuk makan siang sebelum dua objek untuk digoda itu pulang.
"Ne, kupikir Kyuhyun menyukai Changmin. Mengapa monster food itu tidak menyadarinya ya?" ucap Yunho seraya beranjak dari dapur.
Jaejoong mengeringkan tangannya begitu selesai. Ia melihat koran yang akan dibaca Yunho di counter dapurnya.
"Yun! Koranmu!" teriaknya.
"Ne." Yunho balas berteriak.
Jaejoong membuka lipatan koran itu bersamaan dengan tibanya Yunho dipintu dapur. Wajah pria itu menegang melihat Jaejoong dengan muka kagetnya.
"Ada apa Jae?" Yunho mendekati Jaejoong.
Jaejoong tercekat. Ia menoleh pada Yunho dengan air mata menggenang dipelupuk matanya.
"Dia mengambilnya Yunho. Dia mengambil kebahagiaanku lagi." isaknya seraya melempar koran tepat dihadapan Yunho.
Yunho tak menjawab. Ia mengambil koran itu, dan tersenyum kecut ketika melihat headline koran itu. Kembali melemparnya, lalu merengkuh Jaejoong.
TBC~
Terimakasih yang udah baca dan reviews, Hie gx bisa bales reviews karena update di hp.
Mian *bow*
Tetep Reviews ne.
