Maaf buat yang udah lama nunggu.. lagi kena writer's block. Chapter ini udah lama selesai tapi masih disimpen, pengen nyelesain chapter selanjutnya dulu biar bisa update cepet, alhasil karena jari-jarinya gatel pengen mencet tombol update, ya udahlah.
Disclaimer: you wouldn't sue me, when i said it's mine, right?
Bad schedules, warning for mistakes, nonsense, similarity (if there is), etc, etc. We're just hoomann (not funny -_-)
Happy Reading.
...
CHAPTER 4 – Penyerangan Rumah
...
Semua orang berdiri dari kursi mereka, mata mereka tertuju pada Albus. Pita dan tirai mendekorasi di seluruh penjuru ruangan, warna-warna pastel memenuhi setiap sudutnya, setiap pandangan. Hidangan-hidangan lezat tersaji di setiap meja di kedua sudut ruangan, musik mengalun lembut di ruangan tersebut. Aneh, terdengar seperti nada Here comes the bride. Orang-orang terlihat begitu gembira. Albus tak tahu ada acara apa di rumahnya saat ini, dia sangat bingung sekaligus merasa senang entah kenapa. Dan baru disadari dia juga memakai jas formal ala penyihir seperti orang-orang yang ia lihat saat ini. Semua orang berpakaian menawan, pipi-pipi mereka memerah karena saking bahagianya tertawa, tetapi mereka seperti menertawakannya. Setiap kali mereka melihat Albus, tawa mereka semakin keras, apalagi saat dia berjalan melewati kerumunan orang-orang berjubah itu di atas karpet merah, sampai dia tiba di depan sebuah altar. Noosey, kucing milik Lily, duduk diam di altar itu dengan pakaian yang terlalu mewah untuk seekor kucing, dia terlihat seperti kucing pengantin. Di sampingnya Mike berdiri dengan memakai pakaian yang sama seperti Albus, di tangannya terdapat kotak beludru merah dan itu membuat apa yang ditakutkan Albus menjadi lebih nyata. Tak usah meminjam otak Lily untuk mengerti apa yang terjadi saat ini, kotak beludru merah, kucing pengantin di altar, dan Albus berjalan di karpet merah menuju altar...
"Albus, apa kau sudah siap? Albus?" Albus panik, suara Mike bertanya terdengar samar olehnya, dia terdiam di tempat.
"Albus, Albus? Albus!"
Albus terlonjak kaget, mata ngantuknya berkedip beberapa kali untuk memeperjelas penglihatannya. Cuma mimpi, batinnya lega. Di sampingnya Mike masih dengan piama tidurnya –syukurlah, tambah batin Albus- terlihat bingung.
"Ada apa?" Suara Albus terdengar aneh dengan tenggorokan kering sehabis tidur, ia berdehem.
"Apa kau ingat aku menaruh kaos kakiku dimana?" Mike menggaruk kepala belakangnya.
"Bawah ranjangmu?"
"Sudah aku cari, tak ada."
"Mungkin sudah diambil peri rumah." Jim Nick-Carry bersuara, "kemarin lalu seragamku juga dipunguti mereka padahal baru aku pakai sekali." Gerutunya.
"Dimana kalian menaruhnya?" Giliran Frank yang bertanya.
"Bawah ranjang." Jawab Mike dan George bersamaan, entah karena apa secara refleks semua orang di kamar itu menengok ke bawah ranjang mereka masing-masing, seperti mengharapkan ada sesuatu disana.
"Wah kalau gitu aku juga tak akan taruh barangku di bawah ranjang." Gumam George Makarone.
Mike mendengus "untung aku masih punya beberapa pasang kaos kaki." Gumamnya pada dirinya sendiri sebelum berjalan ke koper besarnya.
Albus berjalan menuruni anak tangga menuju ruang rekreasi asramanya mengekor di belakang Frank dan Jim sementara Mike dan George bertukar cerita tentang kehidupan muggle mereka atau lebih tepatnya rata-rata tentang klub sepak bola favorit mereka. Sebenarnya Mike berdarah campuran hanya saja keluarganya jarang berhubungan dengan dunia sihir, malahan mereka tak pernah menyebut tentang dunia sihir sampai Mike mendapatkan suratnya dan Mrs. Carbret dengan segera mengkontak keluarga sihirnya untuk meminta bantuan, sementara George kelahiran muggle.
Albus menghela nafas saat teringat mimpinya, semakin hari semakin aneh saja mimpinya. Seaneh si kaca-mata Diophan yang hampir tiap hari memanggilnya, gadis itu seperti ingin bertanya sesuatu atau ingin memberitahunya sesuatu, entahlah, tetapi selalu berhenti setelah menyebut nama Albus, dia terlihat bingung, linglung. Albus awalnya berpikir karena malu si Diophan tidak jadi melanjutkan pertanyaannya tapi selama hampir empat minggu penuh, semenjak dia siuman dari pingsannya dan setelah mengembalikan botol tinta Albus yang baru sampai sekarang dia hanya memanggil namanya dengan nada bertanya kemudian terhenti dan si Diophan bingung, seperti lupa dengan apa yang akan dikatakannya. Dan kelihatannya itu tidak ada kaitan dengan sifat pemalunya, bahkan Ian Aggrove dari Ravenclaw yang terkenal sangat sangat pemalu sudah berani mengangkat tangannya di kelas setelah seminggu di Hogwarts untuk izin ke toilet.
Mereka tiba di aula besar, bangku panjangnya hampir terisi penuh. Beberapa labu oranye besar dengan ukiran mata dan mulut sudah tampak menghiasi ruangan besar itu, mengingat besok malam adalah malam Halloween. Seperti biasa Albus melihat si Diophan, George dan lainnya memanggilnya 'penggemar Albus' –tentu saja saat dibelakangnya- duduk di ujung meja panjang dekat pintu aula, sehingga susah jika ia ingin mengabaikannya. Albus berjalan dengan tatapan lurus berusaha agar tidak bertemu mata dengan si kaca-mata, berharap kebiasaan 'memanggil'-nya sejak empat minggu lalu telah berakhir atau paling tidak gadis itu lupa. Dia menahan nafasnya ...
Dan si Diophan memang lupa kelihatannya.
Albus melepaskan nafas leganya seraya melangkahkan kakinya untuk duduk di bangku panjang, mengambil tempat di samping Mike yang menggosok kedua telapak tangannya dengan senyum lebar menatap jajaran makanan di hadapannya. Belum Albus menuangkan penuh jus labu dalam pialanya, burung hantu pengantar koran berserbuan masuk ke dalam aula. Satu Daily Prophet jatuh di hadapan Jim, lebih persisnya jatuh di dalam mangkuk sup kacangnya sehingga membuat cipratan di seragam barunya, yang lain tertawa. Dengan kesal ia menyingkirkan koran yang hampir separuh basah itu dan membuka gulungan.
"Bloody hell!"
Semua orang di sekitar Jim mendekat.
Albus dengan posisi aneh meringkuk mendekat ke koran itu, penasaran. Di halaman depan koran itu terpampang foto besar sebuah rumah berlantai 2 yang sebagiannya telah hancur seperti terhantam meteor yang lumayan besar. Albus tahu rumah itu, sangat tahu malahan, tak perlu lagi membaca judul Headline-nya yang dicetak tebal dan sama ukurannya dengan foto di bawahnya.
RUMAH KELUARGA POTTER DISERANG,
Persaingan keras untuk kursi Menteri, atau
Ada hubungannya dengan Kau-Tahu-Siapa?
Semua orang di aula besar mendesis, membaca berita terheboh selama sepekan ini setelah berita terbukanya keempat brankas Gringotts, seorang murid bahkan ada yang membacanya keras-keras untuk orang lain di sekitarnya mendengarkan. Perlahan setelah semua orang selesai berkomentar tentang berita itu perhatian mereka tertuju pada Albus.
"Albus?"
Albus tak tahu apa itu suara Mike, Frank, atau siapalah, atau mungkin Narcissa? Tak penting, rumahnya telah diserang, dihancurkan. Refleks kepalanya menengok ke meja panjang Ravenclaw jauh di hadapannya, mencari rambut coklat gelombang Lily, menghiraukan tatapan dan bisikan mengganggu dari para murid di sekitarnya. Tak menemukan sosok yang ia cari, Albus langsung membalikan tubuhnya menghadap meja Slytherin sambil tetap mengabaikan tatapan dan desisan itu, dia menangkap mata Scorpius yang kemudian menggelengkan kepalanya. Rose juga tak ada. Albus tak tahu harus apa lagi sekarang, dimana mereka berdua sekarang? Apa mereka sudah tahu berita itu? Bagaimana ia menghubungi ayah dan ibunya saat ini, burung hantu terlalu lama, terlalu jauh. Dia sangat ingin tahu keadaan mereka –tidak, dia harus tahu secepatnya.
Dengan cara satu-satunya yang ia ketahui Albus bergegas keluar dari aula besar, mengabaikan panggilan dari teman-temannya. Dia berlari di koridor panjang, menabrak satu atau dua murid lainnya, atau lebih.
'Semoga mereka tidak apa-apa. Semoga mereka baik-baik saja.'
Kalimat itu diucapkannya seperti mantra, berulang-ulang sambil terus berlari dan berharap dia tidak berada di koridor yang salah, apalagi tersesat.
Selama sesaat ia bernafas lega di sela nafas terengah-engahnya melihat patung Gargoyle tua dan kemudian mengutuki dirinya sendiri karena tak tahu password ruang Kepala Sekolah.
"Albus?"
Lehernya hampir saja terkilir karena menengok terlalu cepat ke asal suara di belakangnya. Wanita tua jangkung dengan jubah gelap khas melihat ke bawah, ke Albus. Rambut hitam abu-abunya tersanggul rapi, kerutan di dahinya menambah saat wanita tua itu menyipitkan kedua matanya.
"Profesor?"
Albus kehilangan kata-kata, tidak, hanya saja saraf di otaknya kurang cepat untuk merangkai kata, ditambah nafasnya yang masih tersengal-sengal dari lomba lari dadakan dengan waktu. Dia hanya menengok ke patung di depannya tadi sekilas dan kembali ke Profesor McGonagall, memberi isyarat. Seperti tahu apa yang dimaksud Albus, penyihir tua itu melangkah ke depan,
"Acid Globe."
Patung Gargoyle di hadapan mereka bergeser perlahan bersama bunyi gesekan batu dengan batu, menampakkan sebuah tangga melingkar ke satu-satunya ruangan yang ada di belakangnya. Albus mengekor di belakang penyihir tua itu.
Ruang Kepala Sekolah terbuka.
"Lily? Rose? Paman –eh, Profesor Neville –maksudku, Longbottom?"
Paman Neville tersenyum, "tak apa Albus, kita tidak di kelas."
"Profesor McGonagall, bisakah kami meminjam jaringan floo sebentar?" Lily langsung menyahut pembicaraan,
"Kami ingin tahu keadaan orang tua kami." Lanjut Rose, membuat Albus ingat kembali tentang keberadaan dua kakak kembarnya di ruangan.
Semua orang menatap Kepala Sekolah yang menghela nafas, wanita tua itu mengerutkan dahinya sambil menatap lantai batu di bawahnya seolah ia sedang melakukan pengamatan, kemudian tanpa mendongak
"Albus?"
Tanpa pikir panjang, Albus sigap menjawab. "Iya, Profesor?"
Profesor McGonagall langsung mendongak sambil tersenyum, "tidak kamu, Mr. Potter."
Albus nyengir malu sadar kalau Albus lain yang dipanggil, sementara Profesor McGonagall berjalan lebih ke dalam ruangan, menuju deretan portrait penyihir-penyihir besar, dia berhenti di depan portrait kosong dengan background biru elektrik seperti mata si empunya.
"Albus?" McGonagall memanggil lagi.
Albus Dumbledore datang dari samping kiri dalam portraitnya. Sangat nyentrik, pikir Albus. Dengan kaca-mata setengah lingkarannya apalagi dengan jubah biru elektrik seperti iris mata yang kadang berkedip aneh ditambah topi kerucut yang tak pernah berdiri sempurna, selalu tergeletak di atas rambut putih perak panjang yang menyatu dengan jenggot yang sama panjangnya itu.
"Ah, Minerva." Senyum samar terlihat di wajahnya.
"Albus, bagaimana kondisi mereka? Apa kau sudah kesana?"
Senyum samar itu perlahan hilang.
"Tidak, aku tidak bisa masuk ke sana, jalanku terpotong entah kenapa, aku menyuruh Phineas untuk mencoba masuk ke St. Mungo dan Kementrian, mencari kabar, kita tunggu saja. Aku yakin mereka berdua baik-baik saja."
Mata Dumbledore berkedip pada ketiga Potter muda di ruangan dengan senyum samarnya lagi.
"Mereka pikir aku siapa, eh? Aku Phineas Nigellus Black, Kepala Sekolah Hogwarts yang terkenal dan terbaik, salah satu keluarga penyumbang besar disana dan mereka tak ada hormatnya padaku, tak ada sopan, dasar anak jaman sekarang. Mereka seharusnya dikurung dalam kamar selama tiga bulan seperti jamanku dulu."
Terdengar gerutu dari portrait kosong di samping kanan atas portrait Dumbledore. Bayangan si empunya perlahan datang.
"Phineas, apa kau sudah?" tanya McGonagall tak sabar.
"Iya-iya, mereka ada di St. Mungo, tapi hanya yang wanita yang terluka kata healer kurus, dia persis kayak tongkatku dulu, apalagi hidungnya, persis kayak bocah kayu di cerita muggle." Phineas tertawa sinis.
"Phineas." Suara McGonagall memperingatkan tajam.
"Mum? Ada apa dengan Mum?" Albus menyahut, perhatiannya sepenuhnya tertuju pada portrait di atas Dumbledore, menunggu jawaban.
"Aku yakin ibumu masih hidup, dia hanya terkena beberapa kutukan kata healer muka lonjong itu, well, tapi mungkin dua puluh tidak bisa kau hitung beberapa juga, apalagi ada empat orang yang bisa saja menyerang secara bersamaan, tapi.. well, aku yakin dia masih hidup,.. atau tidak."
Nafas Lily terhenti keras selama sesaat, kedua tangannya langsung menutupi mulut terbukanya, tak percaya. Sementara Rose mendekat dan mengusap punggungnya perlahan, siap merangkulnya.
"Phineas, tolong jangan tambah ketakutan mereka." Kata Dumbledore dengan kerlingan mata sambil melihat di samping atasnya seolah dia bisa melihat sosok portrait yang baru selesai bicara.
Portrait yang paling tua itu menghela nafas, "well, tenanglah anak muda, setelah mendengar cerita kehebatan ibumu aku yakin dia pasti akan baik-baik saja."
"Apa kami bisa menjenguknya sebentar, kumohon?" Lily kembali bertanya setelah mengambil nafas panjang.
Profesor McGonagall menatap portrait Dumbledore seperti meminta saran, atau mungkin persetujuan, kemudian ke Paman Neville yang mengangguk pelan.
"Baiklah. Kalian akan ditemani Profesor Longbottom ke St. Mungo, berhati-hatilah Neville." Paman Neville mengangguk pelan lagi sebelum menuju ke perapian.
"Ayo Albus, Rose, Lily."
Satu persatu ketiga Potter mendekat ke perapian,
"Ucapkan dengan jelas, okei?" kata Paman Neville sebelum Lily menaburkan bubuk ditangannya.
"St. Mungo." Lily menghilang bersama kobaran api hijau, diikuti Rose, kemudian Albus.
Seraya mengambil nafas lumayan dalam dia mengambil segenggam bubuk floo, melangkah ke dalam perapian. Sekejap setelah ia mengucapkan tempat yang dituju dan menaburkan bubuk itu, Albus seperti tersedot oleh semacam vacum cleaner, berputar-putar, ini bukan pertama kalinya dia menggunakan jaringan floo, tapi tetap saja pasti ada rasa terkejut tiap sesuatu entah darimana dan apa menarik tubuhnya. Dan detik kemudian Albus muncul di area floo rumah sakit sihir terbesar di London.
Orang-orang dengan jubah hijau limau lalu lalang di koridor rumah sakit, mereka terlihat begitu sibuk.
Albus melangkah keluar dari area floo, melihat ke sekelilingnya mencari kedua kakaknya saat Paman Neville muncul di belakangnya.
"Dimana ka-?"
"Paman Neville!" Potong Lily sebelum Paman Neville sempat menyelesaikan pertanyaannya.
"Lewat sini! Mereka ada di koridor ini." Rose menunjuk koridor di samping kanan dengan salah satu tulisannnya 'Bangsal Perawatan Darurat'.
Mereka berlari.
Lily langsung cepat-cepat bertanya saat melihat seorang helaer pria paruh baya baru saja keluar dari salah satu kamar pasien.
"Permisi, apa anda tahu dimana kamar pasien Mrs. Potter atau Healer Potter?"
"Oh –kebetulan sekali, ini kamarnya, Nona Potter." Jawab healer itu dengan senyum ramahnya, ketiga Potter muda menghela nafas lega.
Lily segera berlari ke dalam sambil mengucapkan "terima kasih." Diikuti Rose dan Albus yang tak lupa juga mengucapkan terima kasih kepada si helaer, sementara Paman Neville mengangguk pelan dan tersenyum padanya yang dijawab dengan anggukan yang sama sebelum ia masuk dan menutup pintu.
Mulut Albus terbuka tak percaya sambil terus mendekat ke satu-satunya ranjang di kamar itu. Di sana terbaring dengan tanpa tanda kehidupan selain detak lemah jantung yang tentu saja tak bisa Albus dengar dengan telinga telanjang, ibunya, begitu pucat bahkan rambut coklat bergelombangnya yang biasanya berkilau dan sekarang terurai terlihat tak hidup.
"Mum?" suaranya terdengar lemah, tenaganya seperti menurun drastis.
Rose dan Lily mengambil tempat di samping kiri ranjang dan dengan sigap menggenggam tangan ibu mereka, keduanya. Sementara Albus di samping kanan ranjang dan ikut menggenggam tangan ibunya yang lain.
Pintu terbuka lagi, semua menengok melihat siapa yang masuk.
"Harry!" Paman Neville menyapa orang yang baru masuk itu yang tampak terkejut juga, ayahnya.
"Neville?" Tak perlu waktu lama, berurutan bola mata ayahnya memandangi orang-orang di ruangan, kemudian dia melangkah mendekat ke keluarganya.
"Dad, Mum?" Tanya Lily lirih.
"Tidak, dia baik-baik saja, aku pastikan dia akan kembali normal dua atau tiga hari ini. Kalian jangan khawatir, okei?" Ketiga anaknya mengangguk.
Albus melihat ayahnya, memandangnya lekat-lekat, mencari tahu apa dia berbohong atau tidak tentang kondisi ibunya yang akan kembali normal dengan cepat. Kaca-mata bulatnya masih bertengger setia di hidungnya, rambut hitamnya yang mulai memudar terlihat lebih acak-acakan dari biasanya, dia nampak sedikit lebih tua dari terakhir kali Albus lihat di peron 9 ¾ . Dan tidak, Albus cukup yakin ayahnya tidak menyembunyikan sesuatu. Dia kembali mengalihkan perhatiannya ke wanita di ranjang, sesekali meremas tangan yang ia pegang saat Paman Neville memanggil ayahnya.
"Harry?"
Ayahnya berjalan menghampirinya, beberapa langkah mendekat ke pintu, cukup jauh dari mereka, seperti ingin tak didengar keras-keras oleh yang lain.
"Apa ini hal yang serius?" Terdengar Paman Neville menekankan kata 'serius' dalam pertanyaannya.
Tentu saja ini serius, ibunya terkena dua puluh kutukan –mungkin lebih- dan berakhir di rumah sakit dan belum sadarkan diri, tentu saja ini serius. Batin Albus, dan ia tergoda untuk mendengarkan lebih jauh.
"Sepertinya, entahlah." Suara ayahnya terdengar kesal, frustrasi. "Aku belum memikirkan hal itu,'Mione.." ayahnya menghela nafas berat dan lelah.
"Aku minta maaf. Tapi apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Paman Neville lagi.
"Aku tak tahu, aku baru saja kembali dari misiku, beberapa hari terakhir ini banyak laporan tentang penggunaan sihir hitam kau tahu, dan sampai rumah yang aku lihat.. hanya Hermione yang tahu detailnya. Dia sudah pulang dari sini mungkin saat mereka datang. Yang aku tahu empat dari mereka 'berkunjung' dan menghancurkan, entah apa yang mereka sebenarnya inginkan."
"Apa kau tahu salah satu dari mereka?"
"Dolohov. Hermione memberitahuku dengan jelas sebelum ia pingsan."
"Dolo- tapi dia 'kan?"
"aku tahu, sepertinya ada yang membawanya."
Mereka diam sesaat sebelum ayahnya berkata seperti menjawab pertanyaan yang Paman Neville belum suarakan.
"Mereka diam-diam masuk dengan cara muggle sepertinya." Terdengar humor di suara ayahnya.
"Dengan kunci?" Suara Paman Neville terdengar terkejut.
"Yeah, hanya dengan itu. Jaringan floo selalu aku amankan, apalagi di sekitar rumah. Kau bisa bilang aku terlalu paranoid tapi, well, apa yang dikatakan Moody dulu, tetap waspada?" Mereka tertawa pelan, kemudian diam sejenak.
"Apa kau pikir ini ada hubungannya dengan yang terjadi di kantor Unspeakable dan Gringotts?"
Ayahnya tidak menjawab, hanya hening sesaat kemudian seperti ingin mengalihkan pembicaraan ayahnya bertanya dengan santai, anehnya Paman Neville juga setuju untuk mengubah topik mereka.
"Bagaimana Luna dan Avalon? Apa mereka balik lagi?"
"Well, mereka baik-baik, baru saja pulang seminggu yang lalu. Lisa Scamander baru saja berkunjung kemarin katanya. Kau tahu Weeping Wirgleton sangat efektif untuk menjaga kebun kita dari jembalang?"
Mereka tertawa pelan lagi.
"Akan ku sampaikan itu pada Mrs. Weasley saat dia berkunjung lagi nanti. Mereka baru saja pulang sekitar dua jam yang lalu." Kata ayahnya disela tawa kecil.
"Kuharap mereka tidak menghancurkan kamarku."
Albus mendongak melihat Rose.
"Yeah, apalagi bunga hydrangea unicorn-ku. Sudah susah aku merawatnya tanpa sihir, dan itu-"
"Kau 'kan bisa minta Bibi Luna lagi." Rose memotong.
"-sangat langka. Dengarkan sampai selesai omonganku." Sahut Lily.
"Wow, kau tak perlu melotot juga untuk mengatakannya." Rose menggeleng pelan dengan seringaian kecil, Lily mendengus. Albus memutar bola matanya sebelum kembali memperhatikan ibunya lagi. Pasti dia juga akan memutar bola matanya seperti yang Albus lakukan jika saja mendengar kedua kakaknya saat ini, Albus tersenyum.
...
Hari Halloween. Kalau Albus di rumah saat ini, keluarganya akan berkunjung ke makam James dan Lily Potter, kakek-neneknya yang telah tiada, kemudian makan besar bersama Weasley atau bersama Kakek-Nenek Granger. Tapi sekarang dia sudah di Hogwarts, dan kemarin rumahnya baru saja dijadikan kentang tumbuk. Sampai sekarang belum diperbaiki karena keperluan penyelidikan dan syukurlah ibunya sudah siuman setelah tiga belas jam menunggu kemarin. Hampir sehari penuh mereka berada di St. Mungo dan Albus bermaksud untuk menginap, menemani ibunya, sekalian menghindar dari tes mantra hari ini maksud utamanya. Well, kalau saja Lily tak mengingatkannya di depan ibu mereka, dan Rose juga ikut-ikutan turut andil.
Akhirnya tes tertulis mantra telah selesai, lega itu tak sesulit ramuan.
Labu besar maupun kecil bertambah jumlahnya di aula besar Albus lihat dan meja panjang para guru belum ada penghuninya padahal sudah waktunya makan siang, atau mungkin Albus dan Mike terlalu awal keluar dari kelas mantra, meninggalkan Frank dan yang lain. Hanya Profesor Selwyn yang sudah menampakkan diri bersama beberapa gerombol murid angkatan tujuh di belakangnya. Dan sekarang guru PTIH yang ramah itu sedang berjalan ke arah Albus.
"Siang, Mr. Potter."
"Siang, Profesor. Apa ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya.
Prof. Selwyn menggabungkan kedua tangannya di depan, "oh tidak, tidak." Perlahan senyum ramahnya pudar, "aku turut sedih atas apa yang terjadi pada Mrs. Potter."
"Terima kasih Profesor, tapi itu tidak apa-apa. Ibu saya sudah siuman."
Senyum kecil ramahnya muncul kembali, mengangguk pelan sambil melepas kaitan kedua tangannya "oh, kuharap semoga Mrs. Potter lekas sehat dan kembali normal."
"Kalau begitu, selamat menikamati makan siangmu, Mr. Potter." Lanjut profesor itu, tangannya menggeser piala jus labu yang sudah Albus tuangkan penuh ke hadapannya tepat, dan pergi keluar.
Aneh, pikir Albus sebelum mengangkat pialanya.
"Jangan diminum!" Kalimat itu diucapkan terlalu cepat.
Albus dan Mike serentak menengok ke gadis berkaca-mata Diophan yang tersenyum kaku.
"Tadi ada lalat yang masuk ke dalam jusmu." Sambung gadis itu cepat-cepat.
Albus menengok lagi ke dalam pialanya, tak melihat sesuatu yang menjijikan dia kembali ke gadis yang baru mengambil tempat duduk di sampingnya. Alis Albus terangkat, bertanya. Terlihat sekali gadis itu tak pandai berbohong.
"Err anu," Diophan menghela nafas, "aku tahu ini kedengarannya konyol, tadi aku lihat Profesor Selwyn baru saja menuangkan cairan ungu ke dalam pialamu."
"Beneran konyol." Sahut Mike, "apa alasan Profesor Selwyn melakukan itu? Mungkin lensa kaca-matamu minta diganti dengan yang baru."
Diophan berusaha tak memutar bola matanya dari balik kaca-mata. "Tak percaya, minum saja." Suaranya tenang tak menantang sambil menunjuk piala Albus.
"Kau gila, kau baru saja bilang jangan diminum, sekarang malah menyuruhnya untuk minum."
Diophan mengangkat satu alisnya ke Mike, seperti ingin bilang 'apa? Kau takut?' sebelum mengalihkan perhatiannya ke Albus lagi.
"Penyerangan di rumahmu telah direncanakan, dan mungkin juga di Gringotts dan kantor Unspeakable. Ini memang kedengarannya konyol, percaya atau tidak, Profesor Selwyn mungkin terlibat dalam merencanakan hal itu." Katanya pelan.
"Maksudmu, Profesor Selwyn orang jahat?" tanya Albus ragu.
"Aku tak tahu dia orang jahat atau bukan, tapi dia memang berniat buruk."
"Darimana kau tahu?" giliran Mike bertanya, suaranya penuh curiga.
"Aku ingat sekarang, sebelum aku pingsan empat minggu yang lalu, aku mendengar pembicaraan aneh seorang pria dan wanita yang mungkin sudah tua aku rasa –suaranya terdengar seperti nenek-nenek menurutku- di dalam kelas kosong yang dekat perpustakaan. Aku tahu itu Profesor Selwyn karena, mungkin dia tahu kalau ada orang yang menguping jadi dia keluar untuk memastikan dan karena itu aku tahu dia Porfesor selwyn, saat pintu kelasnya dibuka aku jadi tahu,"
"dan kau tak bersembunyi?" potong Mike.
"Disana tak ada tempat sembunyi, kalau aku langsung pergi kemungkinannya kecil jika dia tak curiga melihatku berlari, itu koridor satu arah dan aku saat itu terlalu terkejut –takut- untuk berpikir cepat." Semburat merah terlihat di wajah gadis itu, ia melanjutkan, "sesaat yang kutahu dia merapalkan mantra dan membuatku pingsan." Mike langsung menyahut,
"Oh, dan aku lihat jejak sepatu dengan tinta hitam di dekat kau pingsan. Aku ingin mengembalikan buku Sejarah Hogwarts ke perpus waktu itu, setelah Diophan dibawa ke Hospital Wing. Apa mungkin itu sepatunya?"
Tak ada yang menjawab, semuanya sedang merangkai informasi.
"Lalu, kenapa baru sekarang mengatakannya? Kenapa tidak sebelum penyengaran itu?" Albus tak bisa menyembuyikan amarahnya, kalau saja yang dikatakan si Diophan itu benar, kalau saja si Diophan mengatakan itu jauh-jauh hari mungkin rumahnya tak akan hancur dan ibunya tak akan berada di St. Mungo sampai sekarang. Well, meskipun ia tak mati tapi tetap saja, dasar.
Dengan ekspresi tak nyaman dan semburat merah bersalah, gadis itu menjawab "Well, aku baru saja ingat semuanya tadi pagi, maksudku benar-benar mengingat kejadian itu."
"Apa maksudmu baru ingat semuanya?" Mike bertanya lagi.
"Well, setelah aku sadar aku hampir tak mengingat semua yang terjadi di hari itu, yang aku ingat jelas cuma waktu aku sarapan dan sebelum itu, semuanya terlihat samar -maksudku yang kejadian-kejadian setelah aku sarapan itu-, semuanya samar. Kau tahu, seperti kau bermimpi melakukan sesuatu dan terlihat -terasa nyata- padahal itu hanya mimpi. Jadi, aku merasa kejadian yang setelah aku sarapan itu seperti mimpi padahal itu beneran nyata, oke, jadi kebalikannya. Dan setiap pagi aku bangun aku merasa ingat harus memberitahumu sesuatu tapi tiba-tiba lupa -bukan tiba-tiba juga- tapi samar-samar ingat dan bingung, apa itu hanya di mimpiku atau sebenarnya nyata, sekarang aku beneran bingung dengan kalimatku. Oke –menghela nafas- aku punya firasat kalau mantra yang dirapalkan Profesor Selwyn sudah mengacak-acak memoriku, kau tahu seperti.. well, seperti itu." Albus -yang mulai lupa amarahnya- dan Mike sesekali mengangguk, menyembunyikan tawa pelan mereka mendengar Diophan menerangkan panjang lebar dan sesekali membetulkan posisi kaca-matanya. Dan Diophan akhirnya mengambil nafas setelah beberapa saat, senyum kaku kembali muncul bersama semburat merah, malu dan baru sadar kalau dia terlalu bicara banyak yang aneh lagi, sebab itu dia lebih baik diam.
Dan itu ternyata alasan Diophan memanggilnya setiap hari. Albus menengok ke Mike yang ternyata juga, seperti sepakat tentang pemikiran Albus.
"itu pasti mantra Oblivious." Melihat dua orang di depannya tampak bingung, Albus menjelaskan "para penyihir rata-rata menggunakannya untuk menghapus ingatan muggle tentang sihir. Mungkin Profesor Selwyn terlalu kuat merapalkannya sehingga itu membuatmu tak sadarkan diri."
"Oh dan ekstrat tumbuhan Cerubrall Cocon membantu memorimu."
"Apa? Itu baru saja diajarkan kemarin di Herbologi," ucap Mike setelah melihat tatapan Albus seolah tak percaya dia bisa mengingat nama tumbuhan aneh. "Profesor McGonagal mengisi sebentar kemarin karena Profesor Longbottom menemani kalian ke St. Mungo." Lanjutnya.
"Di kelas sangat lucu. Kau tahu, kemarin Diophan terpleset dan menjatuhkan mangkuk isi lendir kuning Cerubrall ke mukanya, lucu sekali tapi menjijikan. Untung itu tidak beracun, cuma halusinasi saja efeknya." Lanjut Mike lagi dengan tertawa, sementara gadis berkaca-mata di seberangnya duduk tak nyaman dan terdengar menggerutu pelan. Albus tahu dia tak boleh tertawa di depan orangmya sendiri, tapi itu beneran lucu di bayangan Albus. Dia akhirnya menghela nafas sebelum bertanya serius lagi,
"Jadi, apa yang kau dengar dari pembicaraan mereka? Dan untuk apa dia memasukkan sesuatu ke dalam minumanku? Lalu siapa wanita yang ia ajak bicara?"
"Entahlah, yang pasti wanita itu bukan salah satu guru atau staff disini, aku sudah hafal suara guru-guru disini soalnya. –Albus dan Mike mengangkat alisnya- Untuk soal minumanmu, mungkin ada hubungannya dengan yang aku dengar, tapi itu kurang jelas, kau tahu pintu kelasnya ditutup dan itu dinding batu yang lumayan tebal, oke –menghela nafas- mereka bilang, hanya Potter yang tahu, tak tahu Potter yang mana yang mereka maksud, tapi kupikir itu mungkin ayahmu, bisa juga ibumu, atau –mendengus kesal pada dirinya sendiri- Mereka mencari.. sesuatu yang hilang." Nada terakhir Diophan terdengar seperti bertanya balik ke Albus, sementara Albus terdiam berpikir, bingung mungkin.
.
.
A/N: Huh –menghela nafas- terima kasih sudah baca sampai ini. Silahkan saran atau komentarnya, apa ini terlalu gaje, gak masuk akal di plot cerita/karakternya, di style penulisannya mungkin. Kelebihan bumbu (kebanyakan koma!) atau kurang apa gituu, sekalian kalau mau tanya-tanya tentang cerita ini, tulis di kotak review/PM, OK?
Ada yang tahu apa yang mereka cari? Mungkin kalian sudah menebak-nebaknya dan benar, yang belum tunggu aja di chapter selanjutnya, btw ini pertama kalinya nulis cerita yang genre-nya begini, maaf.
A/N2: Terima kasih lagi untuk yang sudah review teruss :) semangat! Kalau ada kalian yg dah baca fic-ku is he? disini, terima kasih juga sekalian :) dan maaf itu bukan multichapter, hanya selingan, belum ada rencana mau bikin kelanjutan tapi mungkin kalau The Return: First Year sudah selesai,... gak tau juga sih, gak janji ;)
See you on next pages! Terima kasih.
-Ann
