Mission to Boy's School

By: Fujita2004Namikaze

Disclamer: Masashi Kishimoto-sensei

Rated: T

Summary:

Naruto, Sakura, Ino dan Tenten. 4 Agen dari sekolah kemiliteran khusus perempuan mendapat misi lapangan pertama mereka. Ke-4 gadis yg berumur 20 thn itu sangat bersemangat. Tapi apa jadinya kalau misi mereka mengharuskan mereka untuk menyamar dan menyelinap kesekolah khusus lelaki?

Note:

Karna author sudah harus mulai sekolah lagi dan laptop author dipake kerja sama mama author, jadi fic ini akan jadi lambat dilanjutin.

Pliss refiew supaya author bisa semangat lagi dan ngelanjutin fic ini!

Pairingnya sekali lagi saya ulangi:

Sasufemnaru, SaiIno, NejiTen.

Untuk Sakura mungkin: ItaSaku vs SasoSaku

Coba tebak yg mana bakal jadi pasangannya?! Ikuti ceritanya dulu baru tentuin!

Itu saja untuk sekarang senpai! Happy reading!~

Chapter 4: Who's...?!

Turnamen karate antar sekolah di Kyoto, hari ke-3!

Semua peserta yg lulus babak pertama pada hari pertama bersiap-siap untuk turnamen mereka hari ini. Masing-masing peserta dipisahkan sesuai asal kota mereka yaitu Tokyo, Kyoto dan Osaka. Dalam satu hari, ada 3 babak dan pada hari ke-3 ada 4 babak dan pada hari ke-4 ada 5 babak berturut-turut. Pada babak terakhir, akan ditentukan juara umum dari pertandingan antar sekolah di Tokyo, Kyoto dan Osaka.

Sakura saat ini ada diruang latihannya disebuah hotel mewah. Dia sedang berlatih sambil meninju sebuah karung pasir besar yg berat. Tapi walaupun besar dan berat, Sakura masih bisa membuat karung pasr itu hancur, tergoyang dan robek mengeluarkan beberapa pasirnya.

Sudah 3 jam Sakura berlatih tanpa henti. Dia memutuskan untuk beristirahat sejenak di ruang T.V kamar hotelnya.

'ternyata enak juga kalau ikut turnamen besar seperti ini!' batin Sakura sambil meminum air mineralnya dan menghidupkan T.V.

Lalu terdengar sebuah suara pintu dibuka dari arah pintu keluar masuk ruangan itu. Dari pintu itu, terlihat Itachi-sensei masuk dg pakaian formal-nya.

"kau sudah siap latihan Sakuya-san?" tanya Itachi dg nada lembut sambil menghampiri Sakura.

Sakura hampir tersedak oleh air minumnya karna nada bicara Itachi. Mukanya seketika mulai memerah. Dg segera dia menghilangkan rona merah dimukanya itu tanpa diketahui Itachi.

"i-iya! A-aku baru saja selesai! Aku akan mandi sebentar, berpakaian, sarapan dan kita bisa pergi!" kata Sakura sedikit grogi.

"baiklah, take your time... jangan terburu-buru, pertandingannya dimulai jam 9 dan sekarang masih jam 8 lewat 10 menit!" kata Itachi mengambil posisi duduk disamping Sakura.

"n-nee... sensei..." Sakura buka suara. "...a-apa sensei sudah punya pacar?" tanya Sakura tekad.

"hn? Belum? Kenapa kau tanya?" kata Iatchi melihat kearah Sakura dg tatapan bingung.

"ah tidak! Aku hanya penasaran, kenapa pria tampan seperti sensei beum punya pacar, ya?" kata Sakura sedikit gelagapan. 'sial! Kenapa aku tidak bisa menahan diri seperti ini?!' batinnya kesal.

"hahaha! Pertanyaanmu cukup bagus! Kenapa, ya? Kau sendiri bagaimana Sakuya-san?" kata Itachi sedikit tertawa geli.

"eh? Aku? A-aku belum punya pacar sensei! Aku belum punya minat untuk hal seperti itu akhir-akhir ini!" kata Sakura mencoba menyembunyikan rona merah diwajahnya.

"oh begitu... padahal Sakuya-san juga cukup imut untuk dipacari! Ada juga beberapa wanita yg suka pria imut, lho! Jangan menyerah!" kata Itachi menepuk kepala Sakura lembut. Sakura semakin blushing karenanya.

'kenapa ini? Wajahku semakin memanas! Jantungku serasa mau copot saja! Kenapa sekarang Itachi-sensei, hanya dg menepuk kepalaku aku merasa sesenang ini?!' teriak inner Sakura menjadi-jadi.

"hn? Kau tidak apa-apa Sakuya-san? Mukamu merah, apa kau demam?" tanya Itachi melihat wajah Sakura yg semakin memerah.

"ah, daijobu! Aku hanya kelelahan karna latihan terlalu lama!" kata Sakura menggaruk kepala belakangnya yg tidak gatal sambil tersenyum kikuk. "oh ya, umur Itachi-sensei berapa?" tanya Sakura lagi.

"kau akhir-akhir ini penasaran dg kehidupanku Sakuya-san, ada apa?" kata Itachi menaikkan satu alis matanya.

"tidak ada apa-apa kok sensei! Aku Cuma ingin tau lebih jauh dg para guru!" kata Sakura membuat alasan.

"hm... begitu ya?" gumam Itachi. "kalau begitu umurku 24 tahun!" sambungnya.

"24 tahun ya?" ulang Sakura sambil tersenyum. 'KYAAA! CUMA BEDA 4 TAHUN!~' teriak inner Sakura.

"Sakuya-san kenapa? Kok senyum-senyum sendiri kayak perempuan sih?" tanya Itachi menatap lekat wajah Sakuya.

"a-aah! Tidak kok sensei! Sensei mungkin sa..." Sakura tertegun saat dia berbalik untuk menghadap Itachi. Karna sekarang wajah Itachi berada cukup dekat dg wajahnya. Mungkin tinggal 3,5 cm lagi sebelum mereka berciuman.

"aa-a—ah! T-tta-ta-c-h-i..." kata Sakura gelagapan. Sekarang dia sudah kalang kabut seperti Hinata saja.

"ya? Tadi kau bilang namaku, kan?" kata Itachi dg nada polos yg semakin memperparah keadaan.

"i-i-i-itu! A-aku... aku sebaiknya segera mandi dan bersiap-siap! Nanti kita terlambat!" kata Sakura segera berdiri dari tempat duduknya dan akan berjalan pergi.

Tapi entah kenapa, Sakura tersandung oleh karpet terlipat yg ada didepan sofa yg tadi dia duduki. Dia tidak sempat mengelak karna itu terjadi diluar perhitungannya, dan sekarang dia sudah bersiap-siap menahan rasa sakit dan rasa malu apapun yg ada dihadapannya saat ini. Tapi sekali lagi, entah kenapa dia tidak merasakan sakit apapun di tubuhnya.

Sakura memutuskan untuk membuka matanya perlahan. Dia ternyata ditahan oleh sesuatu atau seseorang. Saat dia melihat kearah orang yg menahannya, dia sangat terkejut dan langusng ber-blushing ria. Tentu saja siapa lagi selain Itachi yg menangkapnya dalam posisi Sakura membelakanginya, dia memegang perut dan tangan kanan Sakura.

"kau baik-baik saja?" tanya Itachi.

"a-ah-ahk-ku b-baik-baik s—sa-ja!" kata Sakura yg sudah tidak bisa merangkai kata-kata lagi. 'gawat! Kalau lama-lama seperti ini bisa mati karna jantungan aku!' teriak inner Sakura.

Dg segera, Sakura melepaskan gandengan Itachi dan pelukannya dan berlari kearah kamar mandi sambil teriak. "AKU MANDI DULU YA!"

Itachi hanya bengong ditempat melihat tingkah laku aneh Sakura. Beberapa detik kemudian dia tersenyum kecil dan sebuah tawa kecil tapi panjang keluar dari mulutnya. Selang beberapa detik lagi, tawanya sudah mereda dan dia sedang mengatur nafasnya.

"hahaha...hah...oh, Sakuya-san...hah... kau manis juga..." gumam Itachi sambil mengatur nafasnya.

Itachi terdiam sebentar dan terlihat sedang memikirkan sesuatu.

"apa dia benar-benar seorang laki-laki? Padahal dia akan jadi lebih manis kalau dia seorang perempuan!?" kata Itachi pada dirinya sendiri.

Lalu tanpa sengaja dia membayangkan Sakura -Sakuya- saat jadi perempuan(tentu saja dg wig merahnya) dan memakai bikini tipis. Dan entah kenapa Sakuya -Sakura- laki-laki juga ikut dia bayangkan hanya mengenakan celana berenang dan sedang bertelanjang dada. Muka Itachi sedikit merona merah. Dia segera menggeleng-gelengkan kepalanya menghapus imajinasi-nya itu.

'apa-apaan kau Itachi!? Masak nge-fantasi-in anak murid-mu sendiri kayak gitu?! Ditambah dia laki-laki!' teriak inner Itachi.

Tiba-tiba ada sebuah pendapat terlintas di benaknya.

"apa dia menyamar menjadi laki-laki... atau memang aku sudah menjadi seorang gay seperti adikku?" gumamnya mengemukakan pendapatnya pada para reader.

.

.

.

.

Ini sudah hari ke-4 Naruto dkk menyamar menjadi laki-laki di sekolah khusus laki-laki ini. Dan sejauh ini dia baru bisa memecahkan misteri ini sebanyak 5% saja. Dia sudah berdiskusi dg Tenten dan Ino tapi walau mereka sudah mencoba memata-matai ke-4 guru yg diduga tersangka utama itu, mereka masih menemukan peta harta karun lainnya disana.

Sekarang ini mereka sedang berdiskusi di perpustakaan. Kebetulan guru kelas mereka semua rapat dan mereka diberi tugas untuk membuat laporan di perpustakaan. Tapi tentu mata pelajaran mereka berbeda-beda. Naruto: sejarah, Ino: kimia dan Tenten: biologi.

"hei, sudah menemukan sesuatu?" tanya Naruto dg malasnya menyalin apa yg menurutnya penting untuk laporannya dari salah satu buku sejarah disana.

"belum! Aku terlalu sibuk dg tugas sensei ular itu!" kata Ino membaca buku kimia dihadapannya dg malas.

"aku sama! Otakku lagi buntu karna kemarin!" kata Tenten meletakkan kepalanya dimeja.

"kemarin kau ngapain Tenten?" tanya Naruto dan Ino.

"aku dikalahkan dalam adu panahan sama si cowok banci!" kata Tenten dg aura frustasi disekelilingnya.

"wah... ternyata ada yg bisa mengalahkanmu juga ya Tenten!" kata Ino dan Naruto kompak sambil melihat kearah Tenten dg mata kecewa.

"tolong jangan ingatkan aku itu lagi!" kata Tenten semakin depresi dan seperti tak bernyawa lagi.

"kalau saja aku dapat bantuan lebih! orangnya yg lebih pintar dikit!" gumam Naruto melihat kepada ke-2 sahabatnya itu.

Memang Ino dan Tenten sebenarnya lebih ahli kalau soal strategi dan penyerangan bukan cara mengumpulkan informasi. Dan biasanya Sakuralah yg membantunya untuk mengumpulkan informasi. Tapi sekarang dia tidak ada disini jadi siapa yg bisa mmbantunya sekarang? Tuhanlah yg bisa membantunya sekarang!

Tanpa disadari ke-3 cewek yg menyamar jadi cowok itu, mereka sedari tadi sudah diperhatikan dari jauh oleh anggota sebuah geng cowok-cowok top. Siapa lagi kalau bukan Sasuke cs.

"hei Sas, Neji, Sai! Kenapa kalian serius sekali menatap mereka?" tanya Kiba.

"bukan urusanmu anak anjing!" kata Neji masih memperhatikan ke-3 pemuda -cewek- itu.

"kenapa akhir-akhir ini semua orang memanggilku anak anjing?" kata Kiba menundukkan kepalanya di meja dihadapannya dg aura depresi.

"mungkin sejak si 'rebung rebus' itu membilangmu anak anjing saat pertandingnku waktu itu?!" kata Gaara. Wajahnya masih ada beberapa perban dan memar kebiru-biruan.

"kau benar! Aku harus balas dendam sama si rebung rebus itu!" kata Kiba setengah berteriak. Dan dia sukses mendapat lemparan penghapus papan oleh guru penjaga perpustakaan.

"aduh! Dasar mulut sialan!" kata Kiba merutuki dirinya sendiri sambil menggosok kepalanya yg kena penghapus papan.

"baiklah, mulai aksi balas dendam!" kata Kiba. Dia kemudian merobek sebuah kertas dari buku tulisnya dan memasukkan penghapusnya yg lumayan besar. Kemudian dia menggulungnya menjadi sebuah bola kertas dan melemparkannya kearah kepala Naruto.

Tapi saat bola kertas itu hampir mengenai Naruto, entah kenapa Naruto langsung bisa menangkapnya dg satu tangan secara sempurna tanpa harus melihatnya. Dia tidak terlalu mempedulikan bola kertas itu dan langsung membuangnya entah kemana.

Kiba dan Gaara cengong melihatnya.

"orang itu berbahaya!" kata Kiba dg tatapan horor.

"dia seperti punya mata di setiap sisi kepalanya!" kata Gaara ikut menatap Naruto dg tatapan horor.

"pasti Cuma kebetulan! Aku akan coba sekali lagi!" kata Kiba membuat bola kertas yg baru.

Dia langsung melemparkan bola kertas itu kearah Naruto. Tapi anehnya bola kertas itu tidak sampai-sampai kearah Naruto. Itu karna ada seseorang yg menahannya sebelum bisa sampai 1 centi-pun. Siapa lagi kalau bukan adik dari Itachi, Sasuke Uchiha!?

"hei anak anjing, jangan pernah kau lakukan itu lagi padanya!" kata Sasuke dg death glear andalannya yg sukses membuat Kiba gemetaran.

"i-iya-iya! Kau tak perlu menatapku seperti itu juga, kale!?" kata Kiba mencoba menenangkan dirinya.

"huaamm... kalau sebegitu sukanya kalian sama ke-3 pemuda itu, kenapa nggak langsung dijadiin uke baru kalian aja?" kata Shikamaru yg baru bangun dari tidurnya.

"kami sudah coba! Tapi mereka jual mahal sekali!" kata Neji dg nada kesal.

"tapi aku yakin laki-laki pirang itu juga menyukaiku! Tapi dia seperti tidak mau menyukaiku saja..." kata Sai dg wajah tenang. Tapi dari air mukanya, jelas sekali terlihat rasa kekecewaan dari Sai.

"kau betul! Seperti mereka sedang menyembunyikan sesuatu dari kita saja!" kata Neji lagi.

"kalau begitu bagaimana kalau kita cari tau?" usul Sasuke tiba-tiba.

"kau serius, Sas?! Tidak biasanya!" kata Neji menatap Sasuke dg pandangan terkejut.

"ini pertama kalinya Uchiha Sasuke sangat tergila-gila dg seseorang!" kata Sai dg senyuman khas-nya.

"terserah kalian mau bilang apa, aku akan cari tau lebih dalam tentang mereka!" kata Sasuke bangkit dari tempat duduknya dan berjalan kearah 3 pemuda -cewek- itu.

"aku ikut!" kata Neji membuntuti Sasuke. Sedangkan Sai tidak mengatakan apa-apa, dia hanya ikut bersama mereka berjalan kearah ke-3 pemuda -cewek- itu.

"ehm! Permisi murid baru, boleh kami duduk disini?" kata Sasuke dg nada sok sopan.

"terserah! Aku capek berdebat dg-mu sekarang teme!" kata Naruto dg asap yg mengepul keluar dari kepalanya karna lelah mengerjakan tugas susah itu. "AGH! Terkutuklah kau buku tebal!" kata Naruto sambil menghentakkan buku sejarah yg tebal itu dimejanya dg cukup kuat.

Hal itu membuat semua orang yg ada diperpustakaan itu terkejut tapi untuk sesaat. Dan sesaat kemudian mereka melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing. Guru pustaka saking terkejutnya langsung melempar penghapus papan kearah Naruto sekuat tenaga.

Naruto yg merasakan bahaya segera mengambil kembali buku tebal itu dan bersiap-siap dg posis kuda-kudanya. Saat penghapus papan itu sudah cukup dekat dg-nya, dg secepat kilat dia memukul balik penghapus itu. Sehingga penghapus itu jadinya terpantul dan mengarah kepada Kiba. Dg sangat indah, penghapus itu kembali melanda kepala Kiba dan membuatnya pingsan untuk sesaat. Gaara dan Shikamaru yg melihat itu langsung bergidik ngeri melihat kekuatan Naruto.

"oh... Cuma penghapus papan, toh!" kata Naruto melihat kearah Kiba yg pingsan dg tatapan tak bersalah.

"kau mengerikan N-Menma! Jangan seperti itu lagi!" kata Ino yg juga menyaksikan hal itu.

"kau seperti saat kita bermain tenis waktu itu saja!" kata Tenten tanpa memalingkan pandangannya dari buku yg dia baca.

'dia juga seperti itu saat main tenis?!' batin Gaara, Shika, Neji dan Sai bersamaan dg tatapan horor.

'aku agak kasihan kepada Sasuke karna uke-nya harus seganas ini!' batin Neji dan Sai bersamaan dg muka pucat.

"kau harus tenang sedikit dobe! Nanti wajah manismu itu keriput, jadi cepat tua!" kata Sasuke yg sukses mendapat death glear dari Naruto yg tentu saja tidak mempengaruhinya. "Tapi tak apa, akulah satu-satunya manusia di bumi ini yg akan tetap menikahimu!~" kata Sasuke lagi dg nada gombal.

"aku mau muntah!" kata Naruto membekap mulutnya dg wajah pucat.

"hei, jangan salahkan aku karna aku mengatakan kenyataan dari masa depan! Aku sudah mematangkan diriku untuk menikahimu setelah kita lulus dan setelah hatimu luluh olehku!" kata Sasuke semakin menggombal.(playboy + homo mode:on)

"teme berhenti, atau aku akan muntah di kepala ayam gay sialanmu itu!" kata Naruto dg wajah yg semakin pucat karna perkataan Sasuke.

"baiklah-baiklah! Sekarang apa yg susah bagimu dipelajaran sejarah ini?" kata Sasuke mengambil posisi duduk disamping Naruto.

"aku tidak tahan saat membuat laporan panjang seperti ini, kau tau? Tanganku sudah pegal! Tidak ada yg masuk ke kepalaku dan aku masih tidak tau bagaimana cara menyingkatkan kalimat-kalimat panjang di buku tebal ini!? Memangnya seberapa panjang aku harus mencatat tentang perang antara Takeda Shingen dan Kenshin Uesugi?!" oceh Naruto menyalahkan semuanya pada buku sejarah yg tebal itu.

"kau terlalu banyak bicara dobe!" kata Sasuke. Dia kemudian berjalan kearah meja yg awalnya tadi dia pakai dan mengambil buku tulisnya. Setelah itu dia berjalan kembali kearah Naruto cs. Dia membuka sebuah halaman di buku itu dan menyerahkannya pada Naruto.

"eh? Apa ini? Buku tulismu, teme?" tanya Naruto melihat halaman yg dibuka Sasuke tadi.

"hn. Salin saja!" kata Sasuke kembali duduk disamping Naruto.

Naruto tanpa babibu lagi langsung menyalin tugas Sasuke ke buku tulis-nya. Lama kelamaan dia menyalin tugas Sasuke, dia jadi semakin mengerti tentang pelajaran sejarah yg susah itu. Dan belum sampai 10 menit, tugas Naruto sudah siap.

"YEAHH! Akhirnya siap juga tugas laknat ini! Terimakasih teme! Ternyata kau bisa jadi baik juga teradang!" kata Naruto setengah berteriak lagi. Kali ini si penjaga perpustakaan tidak mau melempar penghapus papan lagi kearah Naruto karna merinding melihat nasib Kiba yg kena pukulan home run Naruto tadi.

"eh~? N-Menma, tunggu kami! Kami kan belum siap!" kata Ino sambil sedikit cemberut.

"ayolah Menma, bantu kami juga disini!" kata Tenten dg nada kesal.

"bagaimana kalau aku saja yg membantumu, Tenshi-san?" kata Neji mengambil posisi duduk di samping Tenten tanpa permisinya.

"jangan panggil namaku dg sok akrab! Ditambah kelas kita beda, tugas kita juga beda!" kata Tenten memalingkan mukanya cemberut.

"sekarang aku bingung apa kau seorang laki-laki? Kau bertingkah seperti seorang perempuan yg sedang ngambek saja!" kata Neji melihat Tenten dg wajah bingung.

Tenten menelan ludahnya sendiri. 'sial! Aku kelepasan!' batinnya khawatir.

"tentu saja aku seorang laki-laki! Kalau aku seorang perempuan bagaimana aku bisa punya ini?!" kata Tenten membuka sedikit baju seragam bagian perutnya. Menampakkan otot perut palsu-nya.

"oh... kau ternyata juga punya! Lumayan sexy juga... kalau begitu mau lihat punyaku?" kata Neji juga mulai membuka kancing baju bagian bawah.

"tidak, tidak, tidak! Tidak usah! Aku akan muak kalau melihatnya!" kata Tenten menghentikan tangan Neji untuk membuka kancing baju bagian bawahnya.

"kenapa? Bukannya kau penasaran juga?" kata Neji dg seringaian khasnya.

BLUSH.

"s-siapa b-bilang a-a-aku p-p-penaasaran!?" kata Tenten menahan rona merah diwajahnya yg jelas-jelas percuma.

'wah~ ternyata dia imut juga!' batin Neji.

"sudahlah, nanti kau lihat saja tubuhku saat pelajaran renang besok! Lalu pikirkan keputusanmu baik-baik!" kata Neji sedikit... narsis maybe?

"sekarang ini kau sedang mengerjakan tugas! Dan walaupun aku tidak sekelas dg-mu, karna aku pintar aku masih bisa membantumu!" kata Neji lagi. Kemudian Neji mengambil buku yg sedang dibaca Tenten, mengambil pensil Tenten dan menggaris beberapa kalimat yg ada dibuku itu. Setelah dia pikir cukup, dia mengembalikan buku itu pada Tenten, tidak mempedulikan Tenten yg mendelik kearahnya karna menggunakan barang-barangnya tanpa izin.

"cepat salin semuanya!" kata Neji dg nada lebih tegas.

Tenten hanya mendengus pasrah dan mengikuti kata Neji. Ternyata dg menyalin apa yg Neji garis bawahi, pekerjaannya jadi lebih cepat siap, mudah dimengerti dan memiliki hasil yg memuaskan. Tenten melihat kagum kearah buku tulisnya yg tidak jadi habis karna mencatat satu isi buku biologi itu.

"woah! Aku tak menyangka ada banci yg sepintar ini!" kata Tenten setengah memuji, setengah menghina. Sementara Gaara, Shikamaru, Kiba, Sai hanya bisa menahan tawa mendengar penuturan Tenten. Neji mendengus kesal.

"itu karna aku bukan banci! Dan berhenti memanggilu banci!" kata Neji dg kesalnya. Dan terjadilah sebuah perdebatan antara 2 pemuda -satunya cewek- berambut panjang itu.

"bagaimana dg-mu?" kata Ino melirik kearah Sai.

"hm?" sedangkan orang yg dimaksud hanya menggumam tak jelas dg sebuah senyum khas diwajahnya.

"apa kau tidak berniat membantuku?" kata Ino memalingkan muka karna sedikit malu.

"apa kau mau bantuanku sekarang?" kata Sai dg senyum palsunya.

"terserah kau saja! Kalau kau tak mau yaudah! Aku nggak pa-pa, kok!" kata Ino dg wajah merah menahan marah dan malu.

"hei, jangan tsundere gitu, dong! Wajahmu terlihat lebih manis kalau kau menunjukkan eskpresimu yg sebenarnya!" kata Sai tanpa ijin duduk di sebelah Ino.

Sepertinya dia sudah mempersiapkan buku kimia-nya dari tadi sejak dia ikut dg Sasuke dan Neji kearah meja 3 pemuda -cewek- manis itu. Dia menyodorkannya kedepan Ino. Dg ragu-ragu, Ino meraihnya dan menyalin isinya. Dan ternyata Sai tidak sedang menipunya. Isi buku Sai sangat rapi, sikat, padat, jelas dan sesuai dg apa yg diminta Orochimaru-sensei. Setelah selesai dia menutup bukunya dan buku Sai lalu menyodorkan buku Sai kehadapan si pemilik.

"t-terimakasih...lagi..." cicit Ino sambil memalingkan mukanya yg mulai memerah.

Sai sedikit bengong melihat muka merah Ino. Dia merasa Ino sangat mirip dg perempuan sekarang. 100% mirip! Ah, bukan... rasanya Cuma 75%, karna tidak luput dari matanya kalau dada Ino rata dan rambutnya terlalu pendek. Dia mengambil kembali bukunya dari tangan Ino.

"aku mau tanya... apa boleh aku memastikan kelaminmu?" tanya Sai dg wajah polos.

Hening sementara.

Lalu Ino mengambil buku tebal yg tadi dibaca Naruto dan menggunakan buku itu untuk memukul Sai sekuat tenaga. Sai terhempas cukup jauh dari meja teman-temannya. Dia bahkan sampai ke rak buku bahasa dunia yg terletak hampir 6 meter lebih dari tempat mereka duduk.

Semua orang menatap Ino dg tatapan sangar.

'rasanya Sai lebih kasihan daripada Sasuke!' batin Kiba, Gaara dan Shikamaru.

'untung uke baru gue nggak separah mereka ber-2!' batin Neji.

'lain kali gue jaga bicaralah kalau sama 3 pemuda aneh ini!' batin Sasuke.

'aku harap Ino tidak membunuhnya!' batin Naruto.

'kasihan pria itu!' batin Tenten.

Lalu mendadak, saat semua orang terkaget melihat Sai yg terpental cukup jauh sampai menghanmtam rak, terdengar sebuah pengumuman dari kepala sekolah.

"perhatian murid-murid, bagi yg bernama Menma Namikaze, Inu Yamanaka dan Yasuhara no Tenshi, silakan segera pergi ke kantor kepala sekolah secepat mungkin!"

"kalian dapat masalah?" tanya Neji.

"...nenek kalian datang untuk menyampaikan sesuatu pada kalian!" sambung pengumuman itu seolah-olah menjawab pertanyaan neji.

"sebaiknya kita segera kesana! Nanti baa-san marah kalau kita lama-lama!" kata Naruto berdiri dari tempat duduknya dg membawa buku dan kotak pensilnya.

"ah, kau benar!" kata Ino mengikuti Naruto dan disusul oleh Tenten.

"hei! Tidak ada terimakasih?" tanya Neji pada Tenten.

"hm..." gumam Tenten tidak jelas dan kembali melangkahkan kakinya mengikuti ke-2 sahabatnya.

Neji yg melihat itu langsung tertunduk lemas. Sasuke hanya menepuk punggung Neji pelan sebagai tanda ibanya. Tanpa mereka berdua ketahui, Tenten berhenti sebentar di pintu perpustakaan dan melirik kebelakang kearah Neji secara diam-diam.

"Arigato..." bisiknya tanpa didengar oleh siapapun dg sebuah senyum tipis di wajahnya yg tidak diketahui oleh siapapun kecuali tuhan dan Tenten sendiri.

.

.

.

.

BRAK.

Terdengar sebuah suara gebrakan yg cukup keras. Dan pelaku yg telah menyebabkan meja tersebut kesakitan adalah Mito Uzumaki. Sedangkan ke-3 anak gadisnya -yg sedang nyamar- hanya bisa bergidik ngeri melihat kekuatan tangan Mito yg tetap sama walaupun dia sudah tua.

"apa yg membuat kalian lama sekali!?" kata Mito dg suara yg lumayan keras.

"e-eto... k-kami harus menyimpan buku dan peralatan tulis kami duu ke kelas masing-masing sebelum kesini! G-gomenne baa-san!" kata Naruto dg gugupnya sambil terus menundukkan kepalanya.

BRAK.

Sekali lagi Mito menggebrak meja itu dg cukup kuat. Membuat Naruto dan lainnya menjadi bisu dan semakin gugup. Inilah kenapa mereka takut membuat kesalahan kepada Mito. Dia seperti instruktur kejam pasukan khusus!

"sudah kubilang seorang agen tidak boleh terlambat dalam keadaan apapun! Jika dia terlambat satu detik saja, maka semuanya game over untuknya dan rekannya!" ceramah Mito setengah berteriak.

"sudahlah Mito, mereka kan Cuma terlambat 5 menit! Ditambah kita tidak ada bilang batas waktu sampainya kapan!" kata Madara yg masih duduk tenang.

"tapi mereka ini agen rahasia kemiliteran! Harus diajarkan dg serius!" kata Mito berteriak didepan muka Madara.

"sifat naik darahmu memang selalu sama ya!" kata Madara sweatdrop. 'apa semua Uzumaki seperti ini?' batin Madara mengingat istri Tobirama yg dari keluarga Uzumaki juga suka naik darah seperti Mito.

"cih! Percuma aku berdebat dg-mu! Kau selalu membalas perkataanku tanpa henti!" kata Mito memalingkan mukanya yg sudah merah menahan marah.

"ehm! Kami hampir lupa memberitahu kalian tujuan kalian dipanggil kesini!" kata Madara berusaha mengalihkan topik pembicaraan. "kami memanggilmu kesini karna ingin bertanya sudah berapa jauh kalian memecahkan kasus ini?" sambungnya lagi.

"sejauh ini kami Cuma bisa memperkecil kemungkinan tersangka yg menjadi pelaku pembunuhan ini!" kata Ino masih tertunduk.

"memperkecil tersangka? Coba ceritakan bagaimana kalian melakukannya!" kata Mito mulai mengambil posisi duduk manis.

"b-bukan saya yg melakukannya. T-tapi Naruto yg berhasil memecahkan siapa tersangka utamanya!" kata Ino mulai coba-coba melirik kearah Mito. 'sepertinya dia sudah tidak marah lagi!' batin Ino lega.

"benarkah begitu? Tolong ceritakan selengkapnya Naru!" kata Mito melihat kearah Naruto yg masih tertunduk. "angkat kepalamu saat bicara!" suruh Mito dan langsung diikuti oleh Naruto.

"saat pesta BBQ kemarin, saya tidak sengaja bertabrakan dg 4 guru disini! Mereka semua membawa beberapa pakaian, Cuma seorang yg hanya membawa 1 pakaian. Semua pakaian mereka pernah aku sentuh untuk mengembalikannya pada mereka. Dan saat pelajaran kimia, kebetulan sekali aku belajar tentang reaksi luminol, jadi salah satu toples berisi cairan luminol itu pecah dan cairannya tumpah sangat banyak di tanganku. Saat aku ingin membasuhnya, aku baru sadar ternyata tanganku mengeluarkan reaksi luminol, tapi aku tidak ingat pernah menyentuh banyak darah sebelumnya! Itu berarti, salah satu guru yg aku tabrak itu membawa pakaian dg noda darah yg berusaha di bersihkan. Dan seperti yg baa-san tau, polisi tidak menemukan pakaian berlumuran darah dimanapun disekitar TKP. Itu artinya si pelaku kemungkinan membawa pakaian yg dia pakai untuk membunuh Kidomaru pada malam sebelum pesta BBQ!" jelas Naruto panjang lebar.

"jadi kau bilang bahwa dari 4 guru itu, ada pelaku pembunuhan beruntun ini? Dan si pelaku membuat satu kesalahan yaitu bertabrakan dan bertemu dg-mu yg seorang agen rahasia kemiliteran!" simpul Mito. "menarik..." gumamnya lagi.

"selain itu apa kalian menemukan hal lainnya?" tanya Madara selama Mito berpikir.

"sejauh ini masih belum! Karna sekarang Sakura sedang pergi dan baru pulang 2 hari lagi, pengumpulan informasi kami sedang terbatas! Jadi kami baru mengungkap 5% dari misteri ini!" jelas Naruto sambil tertunduk lagi dg wajah yg sendu.

"begitu ya...?" gumam Madara.

"kalau begitu, apa kau tau nama-nama para tersangka itu?" tanya Mito.

Naruto mengangguk dg mantap. "pertama Mitarashi Anko, Dia guru yg mengurus administrasi sekolah. Kedua Yugao Uzuki, dia guru wali kelas 1-2 dan guru bahasa disini. Ketiga Orochimaru, dia guru sains kami. Dan terakhir yg menurutku paling mencurigakan, Danzo! Dia bilang dia guru PK disini!" jelas Naruto.

"kenapa kau sangat mencurigai si Danzo ini?" tanya Mito.

"saat saya, Ino dan Tenten membantu memunguti pakaian-pakaian kostum klub drama yg dia bawa, saya tidak sengaja mendapati sebuah kaos berlengan panjang berwarna putih yg memiliki percikan darah cukup banyak!" jelas Naruto lagi.

"percikan darah? Terus kenapa kau tidak segera bilang pada kami?" tanya Mito lagi dg wajah kaget yg disembunyikan.

"itu karna saya belum punya bukti konkrit-nya! Dia bilang kalau itu pakaian yg akan digunakan klub drama, untuk drama hari Minggu ini! jadi saya ragu untuk melaporkan hal ini!" kata Naruto dg rasa bersalah.

"begitu ya...?" gumam Mito menghela nafas pasrah. "Madara, apa kau mengenali ke-4 tersangka utama kita?" tanya Mito kepada Madara yg sedari tadi sudah berkutak-katik dg komputernya.

"ya, aku mengenal mereka! Mereka sudah cukup lama bekerja sebagai guru disini!" kata Madara masih sibuk dg komputernya.

"kalau begitu baiklah..." kata Mito. "baa-san akan meminta Yamato, Kakashi dan Tsunade untuk lebih mewaspadai ke-4 guru itu! Sementara untuk kalian!" kata Mito memfokuskan penglihatannya kembali pada ke-3 anak gadisnya yg sedang menyamar itu.

"untuk sementara kalian jangan terlalu memaksakan diri! Kalau kalian mendapatkan percakapan mencurigakan segera laporkan pada Kakashi, Yamato atau Tsunade!" kata Mito dg tegasnya. "karna sejauh ini kasus ini masih belum bisa tertangani dan sepertinya kita mendapat jalan buntu, baa-san akan memanggil bantuan tambahan untuk kalian!" lanjutnya lagi.

"bantuan tambahan?" tanya Tenten.

"iya! Baa-san akan mengirimkannya untuk ikut menyamar dan membantu penyelidikan kalian! Dia orang yg pintar, cerdik dan sangat pandai berakting! Walaupun sifat jahilnya menjadi masalah utama yg harus kalian urusi!" kata Mito memasang pose berpikir dikalimatnya yg terakhir.

"dia perempuan atau laki-laki?" tanya Ino.

"berapa umurnya?" tanya Tenten.

"apa dia bisa diajak bernegoisasi?" tanya Naruto.

"sudah-sudah! Semua tentang dia rahasia! Kalian akan tau nanti saat bertemu dg-nya besok! Dia salah satu dari keluarga Senju dan juga seorang agen di kemiliteran di umurnya yg sangat muda! Sekarang dia sedang menyelesaikan kuliahnya di Inggris dan akan kusuruh dia pulang sekarang juga!" jelas Mito dg tatapan jahil kepada ke-3 gadis yg sedang menyamar dihadapannya itu.

Ke-3 gadis yg sekarang sedang jadi laki-laki itu hanya bisa menatap Mito dg tatapan kecewa dan memelas. Dan Mito hanya bisa tertawa didalam hatinya karna berhasil membuat anak-anaknya penasaran.

Setelah itu, Mito menyuruh mereka untuk kembali ke kelas mereka karna bel tanda istirahat pertama sudah berbunyi. Mereka memberi hormat kepada Mito dan melaksanakan apa yg diperintahkan Mito tadi.

.

.

.

.

Sementara itu di Oxford, Inggris:

Sebuah sosok sedang duduk santai disebuah sofa yg terletak didepan sebuah jendela besar. Jendela itu menampakkan pemandangan kota Oxford secara keseluruhannya. Sosok itu menyesap teh-nya dan meletakkannya kembali di meja kecil yg terletak disebelah sofanya. Dia kembali menatap pemandangan kota Oxford di jendela besarnya. Matahari terlihat bersinar dg sangat terang dan sangat panas. Tentu saja karna sekarang musim panas.

Tiba-tiba, saat sosok itu tengah menikmati pemandangan yg tersaji di hadapannya, seseorang masuk kedalam ruangan pribadinya itu.

"ada perlu apa?" tanya sosok itu.

Orang itu membungkuk sopan kepada sosok tersebut.

"saya mendapat telpon dari Mito-sama untuk anda, nyonya!" kata orang itu sambil masih membungkuk.

"dari baa-chan?" gumam sosok yg diketahui perempuan itu. "baiklah, tolong sambungkan ke telepon genggam pribadiku!" katanya lagi.

"saya mengerti nyonya!" kata orang itu. Kemudian dia kembali berdiri tegak dan berjalan keluar dari ruangan itu.

Sosok itu kemudian mengeluarkan sebuah telepon genggam dari dalam saku celana yg sedang dipakainya. Dan saat dia mengeluarkan telepon itu, telepon itu langsung mengeluarkan bunyi dan getaran. Dia langsung menekan tombol untuk mengangkat telepon dari orang yg bernama 'baa-chan' di layar telepon itu.

"moshi-moshi?" kata sosok itu setelah menekan tombol tersebut.

"moshi-moshi! Ini aku baa-chan mu! Apa kau tidak merindukanku, darling?" kata orang yg ada diujung satu telepon tersebut yg ternyata adalah Mito.

"tentu saja aku kangen baa-chan! Baa-chan kemana saja? Kenapa jadi jarang ngunjungin aku?" kata sosok itu dg nada cengek anak kecil.

"gomen! Gomen! Baa-chan sekarang sedang sibuk-sibuknya! Baa-chan juga tidak mau mengganggumu yg sekarang juga sedang sibuk!" kata Mito diujung sana.

"hm...! Padahal ujian kelulusanku sudah siap 1 minggu yg lalu!" kata sosok itu dg wajah cemberutnya.

"eh? Sudah siap? Kalau baa-chan tau begitu, pasti baa-chan sudah menelponmu sejak 3 hari yg lalu!" kata Mito dg nada yg sedikit kaget.

"hehehe... gomen! Aku lupa bilang! Soalnya habis tes kelulusan aku langsung berencana pergi berlibur sebentar selama 5 hari!" kata sosok itu menggaruk kepala belakangnya yg tidak gatal sambil nyengir-nyengir sendiri. "jadi ada apa baa-chan menelponku?" sambungnya lagi.

"ah, begini... baa-chan ingin meminta bantuanmu! Sekarang ini baa-chan sedang menyelidiki kasus pembunuhan beruntun yg terjadi di salah satu sekolah terkenal di jepang! Kau sudah dengar beritanya, kan?" kata Mito mulai menenangkan nada bicaranya.

"iya, aku sudah lihat beritanya di T.V.! Beritanya sedang viral di satu jepang jadi sampai kesini!" kata sosok itu lagi. "baa-chan ingin minta bantuanku bagaimana?" sambungnya lagi.

"baa-chan tau kau baru saja selesai tes kelulusan... tapi baa-chan mau kau pulang ke jepang untuk membantu baa-chan menyelesaikan kasus tersebut! Kau kan punya otak cerdas, licik dan pandai berakting, kan? Itu akan sangat bermanfaat saat ini bagi ke-4 gadis baa-chan ini!" kata Mito dg nada sedikit memelas.

"ke-4 gadis baa-chan? Maksudnya gadis-gadis yg pernah baa-chan ceritakan itu?" tanya sosok itu seperti sedang memastikan.

"iya! Mereka ber-4 itu! Sekarang mereka sedang menyamar dan menyusuk ke sekolah tempat terjadi kasus pembunuhan itu dan tempat dimana kemungkinan pelaku itu berada! Tolong kau ikut menyamar disekolah tersebut dan bantu mereka! Saat ini mereka benar-benar sedang membutuhkan bantuan seseorang yg pintar dan cerdik!" jelas Mito lagi.

"hm... boleh juga! Aku juga sekarang sedang bosan dan tidak ada pekerjaan saat ini! Jadi kapan aku harus kesana?" kata sosok itu sambil memasang pose berpikirnya.

"terserah kau! Lebih cepat lebih baik!" kata Mito dg nada cuek.

"kalau begitu aku akan kesana hari ini saja! Tunggu aku di landasan helikopter kediaman Senju dalam hm..." sosok itu melihat kearah jam di ruangannya dan melihat keadaan cuaca diluar. Cerah tanpa awan. "aku akan kesana dalam 3 jam 25 menit 49 detik lagi!" kata sosok itu dg sebuah senyuman diwajahnya.

"kau tidak perlu menghitung menit dan detik-nya juga!" kata Mito sweatdrop di ujung telepon.

"hehehe... aku hanya mengetes apa otakku masih sepintar dulu!" kata sosok itu sambil sedikit terkekeh geli.

"hm... dasar! Baiklah, aku akan menunggumu dan menghitung waktu yg kau perkirakan! Jaa nee!"

Pittss.

Tuuutttt...tuuuuuttt...

Setelah Mito memutuskan sambungan teleponnya, sosok itu menekan histori panggilan. Dia memencet salah satu nomor yg ada disitu dan meneleponnya. Tidak lama setelah bunyi 'ppiiippp', orang yg dia telpon langsung mengangkat teleponnya.

"moshi-moshi Senju-sama, Ada perlu apa?" tanya orang yg ada diujung satu lagi itu.

"tolong siapkan helikopter pribadiku 5 menit lagi! Aku ingin pergi ke jepang secepatnya!" kata sosok itu berdiri dari duduknya dan berjalan kearah sebuah pintu bercat putih dg beberapa motif-motif unik disekelilingnya. Pintu yg tidak berukuran terlalu besar itu ternyata adalah lemari sosok tersebut. Lemari sosok itu seluas 1/3 dari ruangan pribadinya itu yg sangat luas.

"akan segera saya laksanakan!" kata orang itu lagi.

"bagus!" kata sosok itu. Dia mematikan ponselnya. Dia masuk kedalam ruangan yg adalah lemarinya itu dan memilih salah satu pakaian yg ingin dia pakai.

"sudah lama sekali aku tidak pulang!" gumam sosok itu sambil memilih baju diantara semua bajunya itu dg sebuah senyuman lebar diwajahnya.

.

.

.

.

Malam hari dijepang-pun tiba. Semua murid-murid dan guru-guru sedang bersiap-siap untuk tidur di kamar mereka masing-masing. Biasanya ada beberapa anak-anak yg bermain-main sebentar keluar sekolah. Tapi dg syarat harus meminta izin dari guru PK dan satpam untuk keluar, lalu anak-anak diwajibkan untuk pulang minimal jam 6 malam. Pelajaran sekolah berakhir pada jam setengah empat sore, jadi murid-murid punya waktu 2,5 jam untuk bermain. Menurut kepala sekolah dan guru PK, itu sudah cukup untuk bermain-main sebentar keluar sekolah untuk menyegarkan otak.

Naruto keluar dari kamar mandi yg ada di kamarnya itu. Tentu saja dia sudah melepas semua penyamarannya dan sekarang hanya memakai selembar handuk yg melilit tubuh mungilnya. Dia membuka laptop yg dia bawa untuk kerjanya. Kemudian dia membuka sebuah aplikasi kamera CCTV. Setelah memasukkan password untuk masuk ke aplikasi itu, muncullah beberapa rekaman video CCTV di rumah dinas 4 guru. Dan tentu saja ke-4 guru tersebut adalah si tersangka utama. Sepertinya Naruto memasang kamera CCTV di rumah dinas mereka dg bantuan Kakashi dan Tsunade secara diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun.

Naruto melihat satu-persatu rekaman CCTV itu secara bergantian dan mengamati apa kegiatan ke-4 tersangka tersebut. Yg dia sudah lihat, Anko-sensei sedang menonton drama faforitnya sambil makan snack keripik kentangnya. Yugao-sensei juga sedang menonton drama tersebut tapi sambil memeluk kaos yg katanya dia curi dari si 'dia'. Sedangkan Orochimaru-sensei sedang memberi makan peliharaan ularnya yg dia sebut-sebut namanya Manda. Sedangkan Danzo-sensei sedang berbicara di telepon dg seseorang. Sepertinya bukan orang penting atau mencurigakan, karna Danzo-sensei terlihat santai-santai saja. Tidak seperti saat sekolah.

Naruto menghela nafas. "sejauh ini belum ada yg mencurigakan!" gumamnya kembali mengganti-ganti rekaman CCTV itu.

KRIIING...KRIIING...

Ponsel Naruto berbunyi. Dia mengambil ponselnya dan melihat siapa yg meneleponnya. Dan ternyata itu nomor tak dikenal. Untuk berjaga-jaga, dia mengambi kalung coker pengubah suara itu dan memasangnya ke mode suara Menma. Lalu dia menekan tombol hijau di ponsel layar sentuhnya itu.

"moshi-moshi? Siapa ini?" tanya Naruto pada orang tak dikenal itu dg suara laki-lakinya.

"moshi-moshi! Wah~ aku tak pernah membayangkan bisa berbicara dg-mu seperti ini!" kata orang misterius itu tidak jelas.

"maaf, apa anda salah orang?" kata Naruto dg nada bingung.

"hihihi... tidak... aku tidak salah orang, kok! Aku memang mau meneleponmu! Salam kenal, ya!~" kata orang itu semakin tak jelas.

"eh... maaf, siapa anda? Apa maksud anda menelepon saya?" tanya Naruto semakin bingung.

"eh~Naru-chan nggak tau sama aku? Oh iya-ya, kita kan belum pernah ketemu?!" kata orang itu berbelit dan nggak jelas.

Naruto yg mendengar orang itu tau identitas aslinya walau sudah mengubah suara langsung melotot kaget kearah ponselnya itu.

's-siapa dia? Darimana d-dia tau i-identitas ku? A-apa dia s-si pelaku?' batin Naruto dg keringat dingin di pelipisnya.

"hello? Naru-chuaan?~" kata orang itu dg nada manja. Tapi Naruto masih saja diam membisu, bingung apa yg mau dia bilang.

"hello? Naru-chan syok, ya? Yasudah, nanti saja aku memperkenalkan diriku saat kita bertemu!" kata orang itu terdengar lewat telepon dia menghela nafas kecewa. "tapi untuk sekarang aku hanya mau bilang..."

.

.

"... i'm coming!~"

.

.

Keesokan harinya, semua siswa-siswa yg ada disana entah kenapa menjadi ribut. Mereka seperti membicarakan sesuatu yg sangat menarik bagi mereka. Sedangkan Naruto hanya bisa meletakkan kepalanya yg mengantuk di mejanya. Sejak tadi malam dia tidak bisa tidur dg nyaman sampai jam 4 dini hari. Sampai sekarang-pun dia masih memikirkan apa yg dikatakan orang tak dikenal itu sebelum dia memutuskan sambungan teleponnya. Dia mencoba bertanya pada Ino dan Tenten, tapi mereka bilang mereka juga mengalami kejadian yg sama dg dialog yg berbeda. Saat dia menelepon Sakura, dia bilang dia tidak mendapat telepon aneh seperti itu karna dia terlalu sibuk dg latihan dan turnamennya. Ah, dia baru ingat Sakura akhirnya besok pulang!

Tiba-tiba saat dia asik melamun, seseorang dg lancangnya memotret-nya secara diam-diam. Dan saat dia menoleh untuk melihat siapa orang tersebut, ternyata itu hanya si teme pantat ayam homo sialan.

"teme, apa yg kau lakukan?" kata Naruto dg ekspresi malasnya.

"mengambil foto ekspresimu!" kata Sasuke enteng sambil kembali memotret Naruto tanpa izin dg ponsel-nya.

"itu suatu pelanggaran privasi orang! Kemarikan ponsel sialan itu!" kata Naruto mencoba mengambil ponsel Sasuke.

"tidak akan! Ini adalah salah satu harta karunku!" kata Sasuke menahan Naruto dg satu tangan dan tangan satunya lagi menjauhkan jarak tangan Naruto dg ponselnya.

"kembalikan teme sialan!" kata Naruto setengah teriak.

"tidak akan dobe manisku!" kata Sasuke dg nada jahil. Lagipula tenaga Sasuke memang lebih besar dari Naruto melihat perbandingan tubuh mereka yg drastis.

"hei-hei! Kurenai-sensei sudah datang!" kata salah satu murid yg mengintip keluar kelas. Dg hitungan detik, semua murid-murid sudah kembali ke bangku mereka masing-masing dan duduk manis.

"berdiri!" kata ketua kelas. "Ohayo ne Kurenai-sensei!" kata satu kelas kompak.

"ohayo murid-murid!" kata Kurenai dg senyuman biasanya. "murid-murid, hari ini sensei akan mengenalkan guru baru yg akan menggantikan sensei untuk pelajaran matematika! Sensei di pindah tugaskan mengajar matematika di kelas 1 dan 2 sekarang!" kata Kurenai. "Senju-san silakan masuk!" sambung Kurenai melihat kearah pintu yg diikuti oleh seluruh murid disana tidak terkecuali Naruto.

'Senju? Apa Tsunade-nee dipindah tugaskan? Atau Mito baa-san mau ikut nyamar? Dg wajahnya yg seperti tu dia bisa saja menipu umurnya.' Batin Naruto berusaha melihat siapa si 'Senju' ini.

Perlahan sesosok wanita bertubuh mungil itu masuk kedalam kelas. Dia memiliki rambut coklat panjang se pinggang yg dibiarkan lepas. Mata hitam ke coklatan seperti kebanyakan Senju lainnya dan sebuah senyum tipis yg selalu tertampang diwajahnya.

'eh? Dia bakal jadi guru disini? Tapi wajahnya saja keliatan lebih lolita dariku! Berapa umurnya? 17?18? atau 19 thn?' batin Naruto sedikit kaget.

"ini Hashirama-sensei! Dia akan menggantikanku untuk mengajar matematika di kelas 3 sekarang! Hashirama-sensei, silakan perkenalkan dirimu!" kata Kurenai mempersilakan guru itu.

DEG.

'H-hashirama? Hashirama jii-san? T-tapi... d-dia perempuan... dan j-jii-san sudah m-mati, kan?' batin Naruto dg tatapan tak percaya dan wajah pucat.

"Ohayo ne minna-san! Watashi namae wo Hashirama Senju desu! Umurku 22 tahun! Yoroshiku onegaishimasu! Oh yeah, i'm from US! " kata guru yg bernama Hashirama itu.

"baiklah, sensei akan meninggalkan kalian dulu untuk saling kenal-mengenal!" kata Kurenai sambil berjalan keluar kelas itu.

"sensei!" teriak salah satu murid disana.

"ya? Ada apa?" tanya Hashirama.

"sensei mirip orang jepang, tapi sensei bilang sensei dari Inggris?" tanya murid itu.

"ya, itu karna aku lahir di jepang lalu saat aku baru 8 tahun, aku pindah ke Inggris karna pekerjaan ayahku dan bersekolah disana! Ada pertanyaan lagi?" kata Hashirama dg senyum manis diwajahnya.

Hening.

"ayolah jangan malu-malu, akan sensei jawab semuanya!" kata Hashirama lagi.

"sensei yakin?" tanya salah satu murid disana.

"yakin!" kata Hashirama.

"nggak akan marah?"

"nggak akan nolak jawab?"

"nggak akan suruh kami diam?"

"iya! Sensei janji!" kata Hashirama agak sweatdrop.

Hening sesaat. Lalu...
"sensei, apa sensei punya pacar?"

"sensei sudah melakukan 'itu' belum?"

"apa sensei masih perawan?"

"sensei, sensei cantik sekali walau sudah 22 tahun!"

"sensei, apa sensei mau jadi kekasihku?"

"tidak, jadi milikku saja sensei!"

"sensei, berapa ukuran dada sensei?"

Dan semua pertanyaan tentang masalah asmara dan pribadi Hashirama perempuan ini pun terus dilontarkan. Sedangkan yg di tanyai hanya bisa melihat anak muridnya itu dg tatapan sebal nggak kepalang dan sweatdrop.

"baiklah anak-anak, cukup dg pertanyaannya! Ayo kita lanjutkan pelajaran kita!~" kata Hashirama dg nada yg manis.

"YAAHHH~ SENSEI~" kata -hampir- semua murid disana.

"belajar. Sekarang!" kata Hashirama dg nada yg mengintimidasi di setiap katanya.

Dan seketika semua orang menjadi diam dg keringat dingin diwajah mereka. Hashirama menghela nafas lega. Dia berbalik untuk mengambil kapur dan memulai pelajaran. Tapi seseorang tiba-tiba membuka pertanyaan yg daritadi dipikirkannya. Dan ternyata itu adalah Naruto.

"sensei, apa benar umur sensei sudah 22 tahun?" tanya Naruto dg nada datar dan ekspresi yg sama datarnya.

Hashirama berbalik untuk melihat kearah mata biru laut Naruto. Mata Naruto terlihat berkilat tajam walau hanya Hashirama yg bisa mengetahui hal itu. Wajah Hashirama yg awalnya menampakkan keseriusan, langsung rusak menjadi wajah tersenyumnya.

"hihihi... sensei memang awet muda dan terlihat seperti remaja seumuran kalian! Tapi sensei ini sebenarnya sudah 20 tahunan lho!~" kata Hashirama dg sedikit nada centil.

Walaupun semua orang disana percaya, tapi Naruto masih memiliki sedikit keraguan di otaknya. Dia merasa curiga pada guru baru itu yg menyebut namanya sebagai 'Senju' dan 'Hashirama' yg sudah lama meninggal. Tapi karna tidak mau membuat masalah dikelas, dia memutuskan untuk kembali menahan pertanyaan-pertanyaan yg ingin dia lontarkan.

Pelajaran-pun berlangsung tanpa satu gangguan-pun dari para murid maupun guru dikelas itu. Dan tak terasa bel istirahat pertama sudah berbunyi.

.

.

.

.

"APA?! KAU BERTEMU ORANG YG BERNAMA SAMA DG HASHIRAMA JII-SAN?!" teriak Ino dan Tenten bersamaan.

"shhhht! Jangan keras-keras, nanti ada yg dengar!" kata Naruto membekap mulut kedua sahabatnya itu.

"maaf!" kata mereka berdua.

"lalu?" tanya Ino meminta melanjutkan cerita Naruto tadi. Ya... mereka memang sekarang ada di kantin.

"aku tidak yakin kalau guru baru ini benar-benar berumur 22 tahun! Aku merasa curiga kalau dia terlibat dalam kasus pembunuhan yg sedang kita selidiki ini! Ditambah dg kejadian orang mistierius yg menelpon kita semalam, rasanya ada hubungannya?!" kata Naruto dg pose berpikir ala detective conan.

"hm... kau ada betulnya juga, Naru! Kurasa dia sangat mencurigakan saat ini!" gumam Tenten juga memasang pose berikir yg sama.

"ah! Aku tahu!" kata Ino mendadak.

Tenten dan Naruto melihat kearahnya dg ekspresi sedikit kaget. "tau apa?" tanya mereka berdua serentak.

"jangan-jangan..." nada bicara Ino mulai berubah seram. "... dia hantu Hashirama jii-san yg bergentayangan sebagai seorang perempuan!"

"APA?!" kata Naruto dan Tenten setengah teriak dg ekspresi kaget sekaligus horor.

"iya! Siapa tau dia melihat kita dalam kesusahan dan datang menjelma menjadi seorang perempuan untuk membantu kita?!" kata Ino malah semakin melenceng lagi dg cerita abal-abalannya.

PLAK.

"KAU MALAH SEMAKIN MENGADA-ADA!" teriak Tenten setelah memukul Ino sampai terbang ke langit dg sebuah kipas kertas (seperti yg dipakai Tenten di Naruto SD!)

"Itte!" ringis Ino setelah kembali ke tempat duduknya.

"aku akui, ceritamu sama sekali tidak masuk akal Ino!" kata Naruto agak sweatdrop.

"tapi siapa tau ada benarnya!" kata Ino sambil menundukkan kepalanya di meja didepannya dg aura suramnya.

Lalu setelah itu, tidak ada pembahasan tentang orang misterius, guru baru ataupun kasus pembunuhan yg mereka sedang tangani. Mereka hanya berbincang dan sesekali bercanda seperti anak SMA biasa. Bedanya mereka sedang menyamar menjadi laki-laki sekarang jadi mereka berusaha untuk tidak membahas cowok, kisah asmara ataupun bergosip seperti perempuan.

Saat mereka tengah berbincang, Naruto tanpa sengaja melihat guru baru yg menyebut dirinya bernama Hashirama, keluar dari kantin tersebut.

'sepertinya dia habis selesai makan?' batin Naruto.

Mendadak Naruto berdiri dari tempat duduknya yg membuat Ino dan Tenten melihat kearahnya.

"ada apa N-Menma?" tanya Tenten.

"aku mau ke toilet sebentar! Kalau aku terlalu lama tunggu aku perpus, tapi kalau orang sudah masuk kalian duluan aja!" kata Naruto sambil berjalan meninggalkan mereka berdua yg hanya diam sambil menganggukkan kepala tanda setuju.

Naruto dg hati-hati mengikuti Hashirama. Dia terus menjaga jarak aman agar Hashirama tidak mengetahui keberadaannya. Sesekali saat Hashirama menoleh kebelakang, dia akan pura-pura membaca pamflet yg tersebar di sekolah itu atau sibuk memainkan ponselnya. Pernah 1 kali dia pura-pura berganti arah agar Hashirama tidak curiga lagi.

Naruto terus mengikutinya sampai ke daerah halaman belakang sekolah. Dia masih mengikuti Hashirama di lorong terbuka disebelah arena memanah. Perlahan-lahan orang-orang terus berkurang dan akhirnya hanya Naruto yg sedang bersembunyi dan Hashirama saja yg tertinggal.

'aduh! Nih orang mau kemana, sih?' batin Naruto agak kesal dan capek. Dia sudah mengikuti Hashirama selama 30 menit dari tadi dan dia masih berjalan-jalan tidak menentu.

Tiba-tiba saat Naruto sedang berbicara sendiri di pikirannya, Hashirama hilang dari pengawasan Naruto. Naruto yg panik keluar dari persembunyiannya.

'sial! Aku lengah!' batinnya kesal.

Dia berlari kearah tempat terakhir kali Hashirama menghilang yaitu sebuah persimpangan 2. Dg cepat dia menoleh kearah kanan untuk melihat apa Hashirama tadi belok ke kanan. Tapi tidak ada siapa-siapa disana.

Naruto menggeram kesal. Dia memutuskan untuk berbalik dan kembali ke kelasnya karna sebentar lagi bel tanda masuk akan berbunyi.

Tiba-tiba saat dia hendak berjalan pergi, seseorang menariknya dan mendorongnya kearah tembok. Naruto yg sempat menutup matanya, perlahan membuka matanya untuk melihat orang itu.

'oh god! Aku harap orang ini bukan si teme homo itu!' batinnya berharap.

Tapi saat matanya terbuka penuh, orang itu ternyata Hashirama yg sedang menjebaknya diantara tembok dan tangannya. Karna jarak mereka sedekat ini, Naruto bisa bandingkan kalau dia lebih tinggi dari pada si guru baru ini.

'hah? Rasanya ada yg kagak beres ama pertumbuhan nih guru!' batin Naruto.

Tapi dia segera sadar. Saat ini dia sedang jadi laki-laki, dan guru baru ini yg seorang perempuan mengukungnya diantara tembok dan tangannya. Bukannya ini mirip di adegan drama sinetron yg pernah dia tonton tentang hubungan rahasia murid dan guru?! Bedanya si guru laki-laki dan si murid perempuan.

'g-gawat! Kalau Hashirama-sensei punya perasaan sama aku! Bisa-bisa dia malah jadi menyelidiki dan mengintaiku sampai identitasku terungkap! Ataupun sekarang ini dia bakal memperkosaku dan terungkap bahwa aku ini perempuan! Kalau kayak gitu nasibku dan nasibnya saat ini benar-benar gawat!' batin Naruto panik.

"s-sensei, sensei ngapain?" tanya Naruto dg keringat dingin di pelipisnya.

"hm~ nggak ngapa-ngapain!~ sensei cuma mau mastiin..." Hashirama menjeda perkataannya sebentar dan menatap Naruto dg tatapan mengejek. "... apa pria yg semalam aku telpon benar-benar kau Naru-chan?~" sambungnya.

Naruto jadi sadar. Setelah mendengar suara Hashirama lebih teliti lagi, memang suaranya mirip-mirip dg orang misterius yg menelponnya semalam. Tapi... kalau dia pelaku pembunuhan, bukannya dia bakal pakai alat pengubah suara supaya tidak ada yg tau suaranya? Kalau dia langsung menelpon tanpa mengubah suara (apalagi dg seorang mata-mata) itu akan sangat beresiko, kan?!

'itu berarti, apa dia bukan pelakunya?' batin Naruto lagi. 't-tunggu! Sekarang ini aku sedang membahas, bagaimana dia tau identitas asliku? Hm... sepertinya dia tidak tau kalau aku ini perempuan?!' batin Naruto lagi.

"s-sensei ini bicara apa? Namaku Menma, dan kenapa kau memanggilku dg suxfit 'chan'? Aku kan laki-laki!" kata Naruto berusaha mendorong Hashirama menjauh darinya. Untungnya dia bisa sedikit menjaga jarak.

"eh?~ bukannya kau dulu suka dipanggil dg suxfit 'chan'..." Hashiram sedikit terkekeh misterius. "...Naru-hime kecil?"

DEG.

'e-eh? D-darimana dia tau k-kalau d-dulu aku dipanggil seperti itu sama keluargaku?!' batin Naruto dg wajah sedikit pucat.

Sementara Hashirama hanya semakin menyeringai puas melihat ekspresi terkejut Naruto. Tapi seringainya seketika luntur saat melihat ekspresi Naruto kembali datar dg tatapan mata tajam.

"Who are you? "

"fufufufu...~"

.

.

.

"...i'm that pescy lil girl~"

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

Hello minna-san! Long time no see! (padahal baru 1 minggu lebih beberapa hari pisah)

Hehehe... entah kenapa rasanya senang sekali bisa posting cerita chap 4 ini!

Mungkin karna sekarang udah muncul Hashirama satu lagi-nya ya? Apa aneh kalau author pake 2 Hashirama berbeda umur di cerita ini? apa para reader bingung siapa Hashirama yg satu lagi?

Hehehe... apa saya terlalu cerewet senpai? Gomen!

Ah, saya mau bahas tentang beberapa kesalahan saya!

Pertama, saya bikin Kakashi ngajar IPA dan Orochi ngajar sains. Padahal IPA dan sains itu sama saja! Maksud saya itu seharusnya, Kakashi ngajar biologi dan Orochi ngajar kimia! Maaf atas kesalahan informasi ini minna-san!

Kedua, saya pernah bikin Tsunade bilang kalau dia sudah kepala 3, kan? Maksud saya Tsunade sudah masuk umur 30-an! Bukan dia sudah nikah atau punya anak dan semacamnya! Ditambah Tsuna saja masih belum menikah atau punya pacar (Bisa dibilang dia jones!). jadi kedepannya saya akan berhati-hati lagi menggunakan kata 'kepala 2-dst'.

Mungkin Cuma itu saja kesalahan saya yg baru saya sadarai! Jika reader-san tau kesalahan saya apa lagi, tolong di refiew, ya!~

Jaa nee minna-san! Pliss refiew!~