Duh, lama sekali saya tidak update fic ini. Hampir 6 bulan kayanya. Hah, lupa #plakkk Yups, langsung ja yuk...
Naruto dkk milik Masashi Kishimoto
Pair : GaaIno
Genre: -
Rate: T semi M
Warning: Typo belepotan, bahasa kacau, EYD ancur, OOC dan lainya.
Chapter 4...
Semilir angin sore begitu lembut menggoyangkan surai merah seorang pemuda. Pemuda bernama Gaara itu tengah melangkah santai menelusuri bangunan yang telah lama tak diinjaknya. Manik azurenya memandang setiap ruang kelas yang telah tertutup rapat. Yups, Gaara memang saat ini tengah berada di KJHS, tempat sekolahnya dulu. Karna hari ini sabtu, jadi jam 3 sore sekolah tlah sepi. Rencanya minggu pagi ia akan berangkat kembali ke Amerika untuk menyelesaikan S2'nya. Ia akan berangkat bersama Naruto yang memang satu fakultas. Ia menyempatkan diri mengunjungi tempat penuh sejarah baginya sebelum ia pergi besok.
Gaara berjala di antara deretan pohon sakura yang menghiasi taman. Ia berjalan lurus, sesekali menghirup udara yang begitu menyejukan.
"Hei Gaara, kau percaya bila kita mengelilingi sebuah pohon bersinar maka permohonan kita akan terkabul,".
Gaara tersenyum tipis saat gendang telinganya mendengar suara cempreng Ino yang dulu selalu berada di sekitarnya. Ia juga tersenyum atas pertanyaan konyol yang diajukan Ino padanya.
Pohon bersinar?
Benarkah ada pohon semacam itu?
Dulu ia hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Ino yang terus mencecarnya. Baru kali ini ia merindukan sesuatu yang mengganggu di sekitarnya. Ia merindukan suara Ino yang terus melontarkan pertanyaan konyol dan ucapan tak penting. Ia rindu saat dimana Ino mengembungkan mulutnya saat ia kesal. Ia juga rindu akan omelan Ino yang memekakan telinga. Oh alangkah ia merindunya akan segala tentangnya.
Langkah Gaara terhenti di depan sebuah pohon tua yang masih kokoh berdiri. Ia mulai memanjati satu per satu tangga yang menempel di batang pohon itu. Naik menuju sebuah rumah pohon yang terlihat tak terawat. Sepertinya setelah kelulusan angkatannya, tak ada yang berani memakai tempat ini. Harus ia acungi jempol pada Ino yang telah menyebarkan gosip bahwa pohon ini menyeramkan hingga membuat siswa lain takut untuk menginjak pohon itu.
Manik azure Gaara memandang sudut-sudut rumah pohon miliknya. Masih sama seperti saat ia tinggalkan. Namun ia sedikit tertarik dengan sebuah papan, dimana papan itu berisi anggota "Lovely kid". Nama yang konyol memang, tapi begitulah seluruh penghuni sekolah menjuluki Gaara cs. Lovely kid yang beranggotakan Gaara, Ino, Shikamaru, Chouji, Tenten, Fuu, Karin dan Suigetsu.
Gaara mengamati setiap potret yang tertempel di sana. Ia mengamati dari mulai atas. Dimana bagian itu ada potret seluruh anggota "Lovely Kid" tengah tersenyum lebar kecuali Shikamaru dan Gaara yang memasang wajah bosan.
Lalu ia juga melihat potret dirinya dan Shikamaru tengah di peluk bahunya oleh Ino. Dan ada pula Ino yang tengah berkacak pinggang memarahi Shikamaru yang tertidur. Dan ada pula Ino tengah menyodorkan sebuah kostum kepada Gaara.
Ia tersenyum melihat itu semua. Ia ingat, potret itu diambil saat persiapan pentas seni. Dulu, ia dan Shikamaru enggan mengenakan kostum yang begitu aneh menurutnya. Namun, tetap saja kalah dengan ancaman Ino yang katanya akan membeberkan rahasia mereka. Gaara akui, waktu dulu Ino memang memegang rahasia yang sangat memalukan baginya.
Flashback...
"Oi Gaara, cepatlah turun. Orochimaru pasti akan membunuhmu bila kau tak segera masuk," teriak Ino dari bawah rumah pohon. Gaara yang sedikit malas hanya memandang ke bawah sekilas lalu merebahkan tubuhnya kembali.
"Woy baka, kalau kau tak turun, aku akan naik dan menyeretmu, Panda," ancam Ino yang mulai kehabisan kesabarannya.
"Berisikkk," ucap Gaara ketus. Walaupun sedikit marah bila tidurnya terganggu, toh ia menuruti pula ucapan Ino. Ia mulai bangkit dari rebahannya. Dan menuruni tangga demi tangga.
Ino yang berada di bawah hanya tersenyum puas, melihat usahanya berhasil.
Gaara menurunin tangga dengan tak hati-hati, hasilnya di tangga terakhir, kakinya sedikit tergelincir dan ia kehilangan keseimbangannya. Dan ia pun terjatuh.
Breettt
Bruukkk
Manik Ino membulat melihat Gaara yang terjatuh. Ia segera berlari mendekati Gaara.
"Kau tak apa-apa?" Tanya Ino khawatir. Ia membantu Gaara untuk duduk di atas rerumputan.
"Mana yang sakit?" Ucap Ino lagi, ia mengecek tangan Gaara.
"Aku tak apa," ucap Gaara datar.
"Benar tak apa?" Tanya Ino ragu.
"Hn,"
"Perlu ku bawa ke UKS?,"
"Hn,"
"Hah, kau ini. Kalau tidak diam, pasti jawabnya 'Hn. Apa tak bisa menjawab sesuai pertanyaan hm?" Ino menghela nafas pelan. Sahabatnya ini memang aneh. Kadang menyebalkan, kadang juga menyenangkan.
"Cerewet! Kalau kau terus cerewet, telingaku yang akan sakit," ucap Gaara sarkastik.
"Hei, apa yang kau katakan? Mana bisa suaraku yang merdu ini membuat telingamu sakit hm," dengus Ino tak terima.
"Dasar narsis. Ah sudahlah, aku mau masuk kelas," ucap Gaara. Ia mulai berdiri dan menepuk celana sekolahnya.
"Ppppffftttt,".
Gaara mengernyit mendengar suara tertahan. Secepatnya ia menoleh pada sahabat blondenya itu. Ia melihat Ino tengah menutup mulutnya dengan dua tangannya.
"Apa yang kau tertawakan? Tidak ada yang lucu! Berhenti seperti itu Ino!" Ucap Gaara sinis.
"Bwahahaha," Ino semakin menjadi tertawanya bahkan makin keras.
"Are you crazy?"
"Bwahahaha,"
"Hah, terserahlah gadis gila," ucap Gaara yang merasa kesal dengan tingkah Ino yang terus menertawakannya. Ia mulai beranjak pergi.
"Pink polkadot dengan gambar Dora ƗƗɑƗƗɑƗƗɑƗƗɑ,"
Glek
Gaara menelan ludah terpaksa dan menghentikan langkahnya. Ke-kenapa Ino bisa tahu, batinya. Ia mulai meraba celana sekolah bagian belakangnya. Dan shitt... Ia mendapati lubang besar di celana belakangnya. Wajah yang biasanya terlihat datar kini memerah padam. Ia merasa sangat malu. Apalagi yang memergoki Ino, teman yang paling usil ini. Bisa habis reputasinya sebagai badboy bila ketahuan memakai boxer pink dan lagi, kenapa harus gambar Dora. Ini semua gara-gara Temari, kakaknya, yang seenaknya mencuci semua baju dan boxernya. Dan ia terpaksa memakai milik Temari dan kenapa harus warna pink. Dengan muka merah padam dan menunduk, ia berbalik ke arah Ino.
"Tak ku sangka, Gaara, bad boy number one memakai boxer pink ƗƗɑƗƗɑƗƗɑƗƗɑ, ini gosip terlangka," ucap Ino enteng dengan diiringi tawa.
"Puas, mengejekku," tanya Gara singkat.
"Woy santai men, aku takan membeberkan ini, tapi ada syaratnya,".
"Apa syaratnya?"
"Kau... Harus mematuhi perintahku,"
Flashback off
Gaara tersenyum mengingat hal itu. Benar saja, Ino tak mengatakannya pada siapapun dan rahasianya aman. Tapi ia juga sangat jengkel dengan Ino yang sok bossy. Permintaannya sangat aneh. Ia ingat saat Ino menyuruhnya mengumpulkan segala jenis bunga dalam waktu 3 hari. Itu permintaan yang begitu gila. Belum lagia permintaan untuk menggendongnya. Semua itu terasa menjengkelkan sekaligus menyenangkan.
"Ino, aku merindukanmu," lirihnya.
Manik azure Gaara beralih pada secarik kertas putih yang telah kusam termakan waktu. ia mengernyitkan alisnya. Sejak kapan kertas itu ada di sana? Seingatnya, setelah lulus sekolah, tidak ada satu pun yang menempelkan kertas tanpa foto. Diiringi rasa penasarannya, Gaara segera meraih kertas tersebut. Maniknya membola melihat siapa yang menulis di kertas itu. Ia mulai komat-kamit membaca setiap kata yang tertulis indah di sana.
Dear panda... Bagaimana keadaanmu di sana? hihihi ku harap kau selalu baik-baik saja. Hah, ini sangat aneh. Entah mengapa aku ingin menulis ini untukmu. Walau aku tahu, semua ini takan tersampaikan padamu dan mungkin kau takan pernah membaca ini. Ku rasa aku telah menyadarinya. Meskipun begitu, aku tetap ingin menuliskannya untukmu. Gaara, selepas kepergianmu, entah mengapa, ada sesuatu yang hilang dari hidupmu. Aku merasa kehilangan sikap menyebalkanmu, sikap narsismu, egomu dan sikap datarmu. Ah, jangan lupakan ucapan 'hn yang entah apa itu artinya. Aku merasa kehilangan segalanya yang ada pada dirimu. Hingga tanpa terasa aku merindukan semua itu. Telah ku coba yakinkan diri bahwa dirimu akan kembali secepatnya. Namun sebuah kenyataan pahit harus ku telan. Sebuah penantian tak kunjung mendapatkan sebuah jawaban. Kau tak jua kembali. Derai air mataku pun tak sanggup memanggilmu pulang. Amerika? apa yang membuatmu betah di sana? Apa kau senang melihat gadis-gadis berbikini di sana? Tak cukupkah gadis-gadis di Konoha hingga kau pergi ke sana? Jawab Gaara... jawab? Apa yang menyebabkanmu meninggalkanku di sini?
Gaara... ku coba memanggilmu kembali. Berteriak di tengah derasnya hujan, berharap kau dapat mendengar suaraku. Suara yang terus memanggilmu. Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum getir mendengar gemuruh petir sebagai jawabnya. Gaara... sampai kapan kau akan menyiksaku dalam kesepian ini? sampai kapan? kau pergi saatku terjatuh, saat ku membutuhkanmu sebagai motivasiku. Gaara, apa kau mendengarnya? mendengar degupan jantungku yang terus memintamu pulang?
Kembalilah Gaara, ku mohon. Kembalilah di sisiku. Aku berjanji tidak akan menyusahkanmu lagi, bila kau kembali. Pulanglah... Kita rangkai kisah cerita bersama kembali. Denganku dan anak-anak Lovely Kid lainnya. Bercanda ria bersama. Cepatlah kembali Gaara. Kami menantimu...
Ku tuliskan kisah cerita... Tentang aku dan dirimu... Saat pertama berjumpa... kau anggapku mengganggu..KuKita memulai kisah kita... mencoba percaya arti sababat... Menorehkan tinta bahagia... melukiskan tawa untuk semua coba yakinkanmu... aku tak berdusta... Tuk jadi sabahatmu... kau tetap tak percaya
Reff: Rentangkan tanganmu peluklah aku... Saat kau terluka dan terjatuh... Percaya aku ada untukmuuu... Ku bentangkan sayapku tuk menggapaimu... membawamu ke dalam mimpiku... kan ku jaga dirimu sampai nafas terakhirku.. huuu...
Lagu ini tercipta di tengah penantianku. Gaara "aku menyayangimu".
Yang menantimu : Ino Piggy
Air mata Gaara tak sanggup terbendung. Isakan kecil mulai terdengar. Sakit, sungguh terasa sakit. Membaca surat Ino membuat hatinya begitu teriris. Sebegitukah inginnya Ino akan hadirnya? Sesakit inikah perasaan Ino saat ia tinggalkan dulu? Beribu tanya mengalir dalam benak Gaara. Ia merasa begitu bodoh karna tlah meninggalkan seseorang yang slalu mengharapkan dirinya. Gaara mendekap erat surat dari Ino. Meninggalkan Ino bukanlah inginnya dan berpisah dengan Ino bukanlah maunya. Ia tak mau pergi jikalau ia tahu akan seperti ini jadinya. Dijauhi Ino saat ia dewasa. Gaara akui ia memang salah tapi... itu sudah 5 tahun dan Ino masih belum memaafkannya, mengingat di acara pernikahan Sasuke dan Sakura, Ino masih saja menguarkan aura permusuhan di antara dirinya.
'Puk' Gaara menegang merasakan tepukan kecil di bahunya. Menoleh perlahan, ia mendapati calon kakak iparnya aka Shikamaru berdiri tepat di belakangnya. Lalu ia juga melihat Shikamaru duduk di sampingnya. Hening, tak ada satu pun memecahkan keheningan itu. Gaara ingin sekali membuka mulut dan menanyakan banyak hal tentang Ino. Gaara tahu bahwa di antara anak "Lovely Kid" yang paling dekat dengan Ino hanya Shikamaru. Gaara ingin sekali menanyakan segala yang terjadi dengan Ino selepas ia pergi. Namun egonya terlalu tinggi, saat ingin membuka suara pun ia mengurungkan niatnya. Alhasil ia masih duduk terdiam menunggu Shikamaru membuka pembicaraan lebih dulu. Dasar egois.
Shikamaru menghela nafas. Ia paham betul sifat Gaara yang takan bicara apabila ia tidak memancingnya. Sifat gengsi ataupun egois Gaara benar-benar membuatnya repot. Sebetulnya ia enggan mencampuri urusan orang. Tapi melihat Gaara seperti itu membuat dirinya tidak rela pula. Dan Shikamaru juga telah mengetahui perasaan Ino terhadap Gaara sewaktu masih duduk di KJHS. Tapi dulu Ino berkata bahwa ia tidak akan berhubungan dengan lelaki manapun sebelum dirinya genap 17 tahun. Prinsip Ino tersebut seolah menjadi belati yang melukai perasaanya sendiri. Karena diumur 15 tahun, ia tahu bahwa Ino menyukai Gaara walau Ino berkali-kali menepis anggapan itu. Dan Ino berkata bahwa dirinya akan mengatakan hal sebenarnya ketika sudah waktunya. Namun, Gaara pergi sebelum Ino sempat mengatakannya. Ia bisa merasakan kesedihan Ino apalagi ditengah duka yang masih menyelimuti. Shikamaru kembali menghela nafas.
"Kau tahu mengapa Ino sangat membencimu?" Ucap Shikamaru menatap birunya langit. Tiada jawaban dari lawan bicaranya. Shikamaru menoleh ke arah Gaara yang masih saja diam tak bergeming.
Meskipun begitu, jauh di dalam hati Gaara menyimpan berjuta keingin-tahuan tentang Ino. Ia ingin Shikamaru cerita lebih dan lebih banyak lagi tentang gadis blonde itu.
"Apa kau ingat bagaimana keadaanya saat menemuimu untuk terakhir kalinya sewaktu dulu?" Tanya Shikamaru kembali.
"Ia memakai gaun hitam yang basah karena hujan dan dandanan yang tak pernah ku lihat," lirih Gaara.
"Kau tahu apa sebabnya dia seperti itu?"Tanya Shikamaru kembali. Ia melihat Gaara menggeleng pelan. Shikamaru menghela nafas sejenak. "Ayahnya meninggal waktu itu,".
Deg
Tubuh Gaara menegang. Seperti sebuah sengatan listrik yang menghujam jantungnya.
"Keluarga Yamanaka mengalami kecelakan sewaktu berlibur ke Hawai dan ayah Ino meninggal di tempat kejadian," jelas Shikamaru. "Saat itu Ino sangat terpukul, ia bahkan tetap berdiam diri di tanah makam ayahnya meski hujan mengguyur lebat. Kami bahkan tidak bisa membujuk, kami tahu hanya kau yang bisa membujuknya. Aku masih ingat ketika dirinya menanyakanmu dengan air mata yang masih mengalir. Dan aku masih ingat betapa paniknya dirinya saat ia tahu bahwa kau akan pergi ke Amerika. Dengan keadaan hancur, ia nekat pergi menemuimu bahkan kami tidak bisa mencegah tindakannya," sambung Shikamaru sembari menerawang kejadian 5 tahun yang lalu.
Gaara menatap kosong. Kenyataan yang sebenarnya jauh menyakitkan dari surat yang dibacanya. Sungguh ia tak tahu bahwa Ino tengah hancur karna kehilangan ayahnya. Sungguh Gaara tidak tahu saat itu. Yang ia ingat bagaimana Ino datang menemuinya di bandara. Berteriak kencang meminta dirinya agar tetap tinggal dan juga memaki dirinya bila dirinya tetap pergi meninggalkan Ino.
"Pergilah Gaara! Pergi! Kau akan selamanya buta tentangku!Saat kau kembali, jangan harap bisa mengenalku kembali! Aku akan melupakanmu!"
Gaara masih ingat kalimat terakhir yang diucapkan Ino dengan nada terluka dan amarah yang menutupi. Ingin sekali Gaara berlari memeluknya dan mengatakan ia takan pergi. Lagi-lagi ego Gaara yang berbicara. Satu sisi ia ingin bersama Ino, satu sisi ia ingin mendapat nilai baik di mata ayahnya.
Sesak, sangat sesak. Gaara memegang dadanya yang begitu sesak. Inikah hukuman atas egonya? Inikah karma atas sifat pecundangnya? Nasi telah menjadi bubur. Pahit yang telah tertelan tak mungkin termuntahkan kembali. Penyesalan hanya penyesalan. Yang ia bisa lakukan adalah memperbaiki kesalahannya di masa lalu, meski ia tahu bahwa membenarkan kesalahan itu tidak semudah membalikan tangan.
"Kau tahu dimana ia sekarang?" Tanya Gaara penuh harap.
Shikamaru tersenyum tipis dan bangkit dari duduknya. "Meskipun aku tahu, aku takan memberi tahumu," ucap Shikamaru.
Gaara mendengus kesal mendengar ucapan Shikamaru. Ia mengepal tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih.
"Tapi aku akan memberi tahu bila waktunya tiba. Jalanilah hidupmu lebih baik hingga tiba waktunya aku memberi tahumu. Aku berjanji. Saat ini Ino butuh waktu untuk tenang,".
Srriinggg
Mendengar perkataan Shikamaru laksana sihir penyemangat yang memberikan harapan. Hatinya yang sedari tadi terasa begitu berat kini terasa sedikit ringan.
"Terima kasih nii-san,"
To be continued...
Mwuhehe akhirnya chap 4 selesei juga... Aihh maaf udah ngaret ampe 6 bulan hihihi. Nah apa ada yang masih nungguin cerita ini?
Terimakasih untuk kalian semua yang bersedia meluangkan waktu membaca fic gaje milikku hihi..
Sampai jumpa next chap...
