Genre: Romance & hurt, drama

NARUTO © MASASHI KISHIMOTO

WARNING: AU, OOC, OC (sedikit) typo (mungkin banyak), alur GaJe, (masih perlu banyak belajar)

Because I Love You Mickey_Miki

.

.

Mohon maaf jika ada kesamaan ide cerita

.

DLDR

.

ENJOY THIS

.

.

.

Naruto kembali berguling di atas tempat tidurnya. Seberapa keras pun dia berusaha untuk memejamkan matanya, kedua mata itu tak mau menutup. Sudah berjam-jam ia terbaring gelisah, pikirannya selalu melayang pada gadis yang tanpa sengaja─dan secara sembunyi-sembunyi─ ia lihat beberapa kali di pantai, tepat ketika bulan berada pada puncak tertinggi malam itu.

Kembali ia bergelung. Memikirkan gadis yang sudah mencuri perhatiannya sejak dulu─ yang entah kenapa bisa melupakannya.

Jarum jam berdenting mengisi kesunyian di kamar itu. Batinnya menghitung tiap detik yang sudah berlalu hingga banyak menit sudah berlalu. Kini jam sudah menunjukkan lewat pada jam tidur malamnya namun tetap saja matanya tidak juga bisa menutup.

Naruto mengerang, mencoba mengalihkan bayang gadis itu benaknya dengan sesuatu yang bisa membuat perasaannya lebih nyaman dan bisa terlelap. Tapi seberapa keraspun dia mencoba, jantungnya tetap berdetak cepat dan rasa cemas semakin mencengkramnya. Ia tidak bisa menahan diri untuk bertanya-tanya, bagaimana keadaan gadis kecil itu? Bagaimana jika ada orang jahat yang mencoba mencelakainya? Bagaimana jika ia pingsan karena hipotermia lantaran terlalu lama berada di pinggir pantai yang suhu udaranya sangat rendah?

Dan, astaga demi Tuhan... pemikiran itu benar-benar membuat jantungnya semakin berdetak tak karuan. Hatinya dilanda rasa cemas luar biasa.

Buru-buru dia bangkit dari tempat tidurnya. Dengan jantung yang berpacu cepat dia kembali menyelinap keluar─seperti malam-malam yang lalu. Pandangannya awas mengamati sekitar kediamannya yang dipenuhi oleh pelayan dan juga penjaga. Kaki-kakinya dengan lihai bergerak menjauhi kediamannya seperti seorang pencuri profesional yang melarikan diri dari penjara.

Well, salahkan pada orang tuanya yang sudah memberinya hukuman karena kesalahan yang tidak sengaja dia lakukan pada sekolahnya. Alih-alih liburan, berniat menemui gadis yang sudah mencuri hatinya, dia malah tak diperbolehkan keluar selama berada di kota itu. Bukankah hukumannya itu berlebihan?

Dan, oh...Tuhan semoga saja dia tidak terlambat, semoga saja gadisnya masih dalam keadaan utuh, tak tergores ataupun dalam keadaan yang...

Naruto menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Mengenyahkan pemikiran yang semakin membuatnya resah dan gelisah. Dia merutuki dirinya. Segala umpatan dia lontarkan. Bagaimana bisa dia malah mambandingkan konsekuensi yang akan dia dapatkan ketika ingin melihat gadisnya?

Naruto menapaki jarak beberapa ratus meter dari rumahnya, bergerak dengan cepat melintas di tepian pepohonan yang memagari daratan yang lebih tinggi sebelum melewati semak di depannya untuk menuruni lereng bukit hingga mencapai laut di bawahnya. Dengan hati-hati dia menuruni bebatuan namun tetap mempertahankan kecepatan geraknya. Hatinya semakin cemas dengan apa yang akan menantinya.

Telinganya kemudian menangkap bunyi desiran ombak yang membentur bebatuan. Langit tampak cerah dengan bulan yang bersinar indah, tak ada awan-awan kelabu yang mengganggu keindahan langit itu. Keindahan malam yang mampu membuatnya tersihir untuk berlama-lama menikmatinya. Namun ia menahan diri, ia tak punya waktu untuk itu, saat ini batinnya sedang gelisah karena memikirkan gadisnya. Dirinya tak akan bisa tenang sebelum memastikan gadisnya baik-baik saja.

Walau hanya berbekal dari keremangan cahaya bulan, Naruto tetap menyusuri setiap jengkal tempat tersebut dengan teliti. Mata safirnya terus memperhatikan setiap sudut yang ada di sana.

Rasa lega tergambar jelas di wajahnya, seperti sebuah ombak baru saja menghempaskan beban yang menekan dadanya kuat ketika melihat gadis yang sedari tadi dia cari-cari dalam keadaan baik. Naruto menarik napas penuh kelegaan saat gadis yang sedari tadi mengganggu pikirannya juga hatinya sedang menengadah menikmati sinar bulan sambil memejamkan matanya.

Angin malam berhembus menerpa gadis itu namun gadis itu tak menunjukkan tanda-tanda akan beranjak dari sana. Bulan seperti tengah bercakap dengan gadis itu, menjadikannya seperti seorang dewi yang tengah diguyur sinar bulan. Naruto terpana melihatnya. Logikanya tak berjalan. Akal sehatnya seolah tertutupi oleh sesuatu yang Naruto tak ketahui. Tanpa sadar kaki-kaknya mendekat ke gadis itu membuat suara gesekan antara pasir di setiap jejaknya.

Gadis itu tersadar dan segera membuka matanya ketika merasakan seseorang berada di dekatnya. Mata bulannya bersinar dan semakin terlihat indah ketika sinar bulan mengenai matanya.

Tak ada raut terkejut yang diperlihatkan oleh gadis di depannya, bahkan pekikan ketika mendapati orang lain berada di depannya.

Tangan Naruto terangkat, membelai kasih pipi gadis itu. Mengagumi tiap pahatan yang sudah diciptakan oleh Tuhan untuk gadis yang berada di hadapannya saat ini. "Kau masih sama seperti dulu, Hinata" ucapnya lirih namun gadis itu tak memberikan reaksi. Pandangannya datar menatap Naruto seolah jiwa gadis itu tak lagi berada di tubuhnya.

Naruto menyunggingkan senyum getir, ketika tak mendapatkan respon apa-apa. Sama seperti kemarin, batinnya. Satu pemikiran terlintas dalam benak Naruto, secara perlahan ia memajukan wajahnya, hingga hanya berjarak tak lebih dari secenti namun gadis itu tak juga menunjukkan ekspresi apapun, tak ada tanda-tanda menerima atau penolakan, rautnya masih datar dan Naruto tidak memperdulikan itu hingga ciuman itu tercipta.

Ciuman lembut yang perlahan berubah jadi lebih bergairah ketika lidah Naruto ikut bermain. Erangan demi erangan tercipta menjadi melodi yang berbaur dengan musik alam hingga menghasilkan simfoni yang menjadi penggiring aktivitas dua manusia itu.

Gairah yang meluap membuat Naruto tak memedulikan apapun, lidahnya masih sibuk mengekploitasi apapun yang berada di dalam mulut gadis itu, meluapkan semua rasa yang dia pendam selama ini, rasa rindu yang menggebu kala terpisah dengannya, dan rasa sakit ketika gadis itu seolah melupakannya. Hingga rasa sesak membuat Naruto terpaksa harus menghentikan ciumannya.

Panas menyenangkan masih terasa membungkus dadanya. Naruto mengambil nafas sama seperti gadis itu. Ia membuka matanya sejenak mengagumi keindahan ciptaan Tuhan di depannya, seorang gadis yang sudah mencuri hatinya beberapa tahun yang lalu dan rasa cinta itu masih ada dan tetap bertahan sampai sekarang.

"Aku mencintaimu, Hinata." Ungkapnya dengan lembut dan penuh cinta. Keningnya masih bersentuhan dengan kening gadis itu, matanya masih menatap penuh rasa juga cinta. "Selalu..."

Namun, gadis itu masih tak berekspresi apapun. Menatap Naruto dengan kening mengkerut. "Apakah aku mengenalmu?" Tanyanya beberapa saat dengan ekpresi kebingungan.

Naruto seperti kehilangan sebagian dari nyawanya ketika mendengar pertanyaan gadis itu. Walau dia tahu gadis itu tak mengingatnya, tapi mendengar kata-kata secara langsung dari bibir gadis itu, benar-benar sangat menyakitkan. Gadis itu memang benar-benar sudah melupakannya. Tidak mengingat dirinya sama sekali. Lalu apa gunanya perjuangannya selama ini, apa gunanya dia selalu menutup diri pada gadis lain yang berusaha mendekatinya, dan apa gunanya rasa cinta yang selalu dia pertahankan untuk gadis dihadapannya itu, jika pada akhirnya dia malah dilupakan?

Matanya menatap nanar pada gadis itu, tubuhnya limbung, tangan yang sedari tadi berada di pinggang gadis itu terjatuh di kedua sisinya. Ini diluar ekspektasinya. Bukan seperti ini yang ada dibayangannya. Bukan seperti ini yang ingin ia terima. Tapi kenapa...

Malah ini yang ia dapat.

"Hi...hinata... A...apa...apa yang terjadi padamu?" Suara Naruto tercekat seolah ada batu karang yang menyumbat tenggorokannya. Tak seperti biasanya yang penuh dengan keceriaan, hatinya sakit mendapatkan kenyataan itu. Kini tak ada lagi kebahagian yang dia rasakan seperti ketika melihat gadis yang selama ini mengunci hatinya.

"Maaf, jika aku membuatmu bersedih." Kata gadis itu dengan suara pelan, penuh penyesalan. Matanya menatap Naruto, meneliti ekpresi laki-laki itu.

Naruto menunduk, hatinya tak bisa menerima kenyataan itu. Pikirannya terus berkelana ke masa lalu hingga suara debuman keras itu menyadarkannya. Dia mendongak melihat apa yang terjadi. Dan seketika itu juga tubuhnya menegang, matanya membentuk bulatan sempurna yang nyaris membuat bola matanya keluar ketika mendapati gadis itu sudah terbaring tak sadarkan diri di depannya.

"Hinata... Hinata... sadarlah, apa yang terjadi?" Naruto kalut, panik, dan cemas. Dia kemudian mengangkat Hinata dan membawanya ke rumah sakit terdekat.

Naruto membutuhkan tenaga ekstra untuk membawa Hinata ke rumah sakit karena mengambil jalan pintas yang selain melewati bukit bebatuan, hutan, dan semak juga membutuhkan konsentrasi serta keseimbangan jika tidak ingin terperosok.

...

Naruto terdiam ketika ingatan itu kembali hadir. Hari dimana dia berhasil kembali ke kota itu, kembali bertemu dengan cinta pertamanya dan itu membuatnya sangat bahagia seperti matahari yang baru saja terbit dan bersinar terang..

Namun seolah segumpulan awan hitam datang dan menutupi sinar matahari itu, apa yang dia dapatkan mampu meredupkan segala rasa bahagia itu. Gadis yang selama ini selalu ada di benaknya ternyata sudah melupakannya bahkan kenangan manis yang mereka lalui bersama saat junior high di Kota Konoha. Janji-janji yang mereka ucapkan malah menjadi duri dalam daging ketika mengetahui kenyataan itu. Duri-duri yang perlahan menusuk lebih dalam sehingga menghasilkan luka yang lebih banyak dan lebih menyakitkan.

Well, setidaknya itu dulu sebelum ia tahu kenyataan yang sebenarnya. Kenyataan yang mampu mengeluarkan duri-duri itu tanpa rasa sakit bahkan mengobatinya tanpa menghasilkan bekas.

"To..."

Ia ingat betapa terpuruknya keadaannya saat itu yang hampir membuatnya nyaris gila, bahkan semangatnya untuk hidup pun bisa dikatakan tidak ada ketika gadis yang menjadi tujuannya melupakan dirinya. Ia merasa dicampakan, seperti pasir yang dihempas oleh angin dari bebatuan karang atau ombak yang berhasil membuat lubang di bebatuan karang... harapannya pergi bersama pengakuan gadis itu.

"Ruto..."

Dan ketika ia dinyatakan sembuh, kebencian yang begitu dalam akan perempuan begitu besar, ia bahkan menjadi pemain wanita. Laki-laki yang selalu menghancurkan hati tiap gadis, iblis berkedok malaikat, dengan sifat hangat juga ramahnya tak sedikit perempuan yang termakan oleh pesonanya itu. Melambungkan hingga ketingkat tertinggi dan ketika ia bosan─ ia tak akan segan-segan untuk mengempaskannya tak peduli jika perbuatannya itu akan membuat hati mereka retak.

Tetapi, itu dulu, sebelum ia tahu kenyataan yang sebenarnya. Kenyataan yang memberinya motivasi baru, semangat yang jauh lebih besar untuk mendapatkan kembali gadisnya.

"Naruto...!"

Naruto mengerjap saat sebuah tangan berada tepat di depan wajahnya sedang mengibas untuk menyadarkan dirinya dari lamunan.

"Kau tidak apa-apa, Naruto?" wajah Hinata terlihat khawatir.

Naruto menatap wanita di depannya, tatapan dalam dan penuh kasih. Ia tersenyum lalu menggeleng pelan. "Maaf, Hinata. Aku melamun..." akunya.

"Apakah itu masalah yang serius?"

"Hehehe.. kau tenang saja. Itu bukanlah masalah yang serius." Tidak mungkin kan dia memberitahu Hinata apa yang dipikirkannya saat ini. Bisa-bisa Hinata tak akan lagi memandangnya.

Dan lagi ia tak mau membuat Hinata makin banyak pikiran. Cukup hari itu─ empat bulan lalu ketika Hinata tak sadarkan diri akibat memikirkan sesuatu yang berat dan bayangan masa lalu yang coba dia ingat kembali. Sesuatu yang nyaris membahayakan janin dalam kandungannya, anak mereka berdua. Sebesar apapun keinginan Naruto agar Hinata kembali mengingat masa lalu mereka tetap dia tidak bisa melakukan itu. Keselamatan mereka jauh lebih penting ketimbang keegoisannya.

"Omong-omong, bagaimana keadaan anak oto-chan? Tidak menyusahkan oka-chan kan kalau oto-chan pergi kerja?" Naruto mengelus-elus perut Hinata yang sudah sedikit membuncit dengan kasih tanpa mengetahui bahwa tindakannya itu malah membuat sang empu semakin merasa sedih.

Apa yang lebih membuatmu merasa sakit, ketika melihat pria yang kau cintai menderita karenamu?

Hinata tersenyum getir, melihat Naruto yang terlihat antusias dengan perutnya─ anak yang ada dikandungnya, padahal anak itu bukanlah anak pria itu tetapi dia memperlakukannya layaknya itu adalah anaknya.

"Aku tidak menyusahkan oka-chan, oto-chan." Hinata menirukan suara anak kecil untuk menjawabnya.

Naruto tersenyum senang mendengarnya. "Hebat anak oto-chan." Kemudian menegakkan badan seraya menatap Hinata. "Omong-omong Hinata, besok adalah jadwal pemeriksaannya, kan? Aku akan menemanimu besok. Bosku sedang berbaik hati mengijinkanku menemanimu." kata Naruto.

"Benarkah?" Naruto mengangguk sambil tersenyum sebagai jawaban, "Aku senang sekali Naruto-kun..."

Naruto terdiam, laki-laki itu terlihat menimbang-nimbang sesuatu, "Oh ya, besok sekalian kita ke rumah ayah dan ibuku. Mereka ingin melihatmu. Bisa, kan?"

Untuk beberapa saat Hinata terdiam untuk memikirkan kata-kata Naruto barusan. Dia sebenarnya ingin menolak, mengingat kemungkinan besar mereka membencinya karena membuat Naruto harus hidup bersamanya dan harus melepaskan cita-cita laki-laki itu. Hinata benar-benar belum sanggup melihat tatapan kebencian dari mereka apalagi mendengar secara langsung kata-kata hinaan atau pun cibiran yang akan membuatnya semakin dirundung rasa penyesalan. Tapi, jika dia menolak, dia juga akan membuat Naruto kecewa dan kemungkinan besar keluarganya akan semakin membenci Naruto karena menghalangi Naruto bertemu mereka.

Dengan helaan nafas samar Hinata menjawab, "Iya tentu saja Naruto-kun. Aku juga ingin bertemu mereka." sahutnya, meski tenggorokan Hinata tersekat oleh rasa bersalah.

"Benarkah?"

Hinata mengangguk dan memperlihatkan wajah senangnya di depan Naruto, "Tentu saja."

Naruto meraihnya dalam pelukan kemudian memberikan ciuman di puncak kepalanya. "Terima kasih, Hinata. Aku senang mendengarnya." dan jawaban itu sudah cukup memberitahunya jika Naruto memang merindukan keluarganya. Sangat.

...

Keesokan harinya, Naruto mengantarkan Hinata ke rumah sakit. Rumah sakit yang Hinata katakan itu kecil dan tidak terlihat seperti rumah sakit, Naruto malah melihatnya seperti klinik kecil yang terletak tidak jauh dari rumah mungil mereka.

Naruto menyerngit tidak suka. Ia tidak yakin jika klinik kecil itu memiliki peralatan lengkap dengan teknologi seperti di rumah sakit yang dimiliki oleh ayahnya. Ia juga tak yakin, apakah rumah sakit itu cukup bersih untuk seorang pasien.

"Ayo, Naruto-kun."

Hinata meraih pergelangan tangan Naruto dan mengajaknya masuk ke dalam rumah sakit itu.

Naruto tak lantas bergerak, ia menatap Hinata dengan mata meringis ragu, "Em, Hinata. Apa kau yakin dengan tempat ini?"

Hinata mengangguk antusias dengan senyum. "Walau terlihat tidak meyakinkan, tapi percayalah pelayanannya tidak kalah dari rumah sakit besar. Lagipula aku sudah merasa nyaman dengan orang-orang yang bekerja di sini."

Sebenarnya Naruto ingin menolak dan menyarankan untuk ke rumah sakit yang lebih layak, tapi melihat binar wajah Hinata dan mengingat kondisinya sekarang yang tidak memungkinkan, mau tidak mau, Naruto pun menuruti keinginan Hinata.

"Oke." Naruto menghela nafas, tampak menyerah kemudian mengganti posisi tangannya dan menuntun Hinata ke dalam. "Ayo."

Dengan luwes mereka berjalan ke arah resepsionis untuk menunggu giliran sama seperti pasangan lain yang berada di sana. Mereka kemudian dipersilahkan untuk duduk di luar ruangan menunggu giliran hingga akhirnya suster memanggil nama Hinata.

Kehadiran Naruto di rumah sakit itu membuat Hinata lebih tenang. Pasalnya selama dia memeriksakan diri, dia selalu sendirian. Melihat ibu hamil lain yang datang dengan pasangan mereka, selalu membuat Hinata merasa iri sekaligus tak nyaman. Apalagi dengan sorot curiga yang tak jarang ia dapatkan.

"Selamat siang, Sizune-sensei." Sapa Hinata setelah berada di dalam ruangan Dr. Sizune.

Wanita yang disapa Hinata barusan tidak terlihat tua seperti nenek Naruto. Ia menyambut mereka dengan senyum dan mempersilahkan mereka untuk duduk. Sejenak ia melirik ke arah Naruto, "Apa dia suamimu?"

Hinata mengangguk pelan, "Iya, sensei." Jawab Hinata malu-malu.

Dokter Sizune kembali mengulum senyum. "Baiklah, kalau begitu sebaiknya kita memulainya."

Kemudian Dokter Sizune memulai pemeriksaannya terhadap Hinata. Dimulai dari memeriksa tekanan darah, lalu berat badan Hinata yang pastinya sudah bertambah banyak melihat pipinya yang bertambah cubby selanjutnya adalah jantung, kemudian pemeriksaan lain yang memang diperuntukan oleh ibu-ibu hamil pada masa kehamilan. Setelah semua pemeriksaan itu dokter Sizune menyuruh Hinata berbaring di atas ranjang untuk melakukan pemeriksaan USG. Ia mengangkat baju Hinata hingga menampakkan perutnya yang sedikit membuncit dan mengoleskan gel di perutnya.

"Ini kali pertama kau melakukan USG kan, Hinata?" Hinata mengangguk. Rasanya tidak sabar melihat makhluk hidup yang hidup dalam perutnya. "Baiklah, kita akan lihat..."

Dokter Sizune mulai menjalankan transducer di permukaan perut Hinata dan memunculkan gambar di monitor yang berada di samping ranjang Hinata. "Bayi kalian normal. Usianya sudah masuk lima bulan dan pertumbuhannya juga normal. Tidak ada masalah, jadi kalian bisa tenang." Dokter Sizune menjelaskan sambil melihat layar monitor di sampingnya dan sesekali tersenyum ke arah pasangan itu.

Di monitor, mereka bisa melihat sesosok gumpalan yang sudah membentuk makhluk hidup. Makhluk itu sudah sempurna bentuknya. Ada tangan, kaki, kepala juga detakan jantungnya yang bisa mereka dengar, walaupun dalam ukuran yang masih kecil.

Rasa haru merebak di dada mereka, tak pelak air mata dari dua pasang mata beda warna itu mengalir ketika melihat makhluk yang tengah tidur di layar monitor itu.

"I...itu anak kami, sensei?" tanya Naruto takjub.

"Iya."

"Apa kami bisa mengambil gambarnya?"

"Tentu saja bisa." Dokter Sizune kemudian mencetak gambar bayi itu dan menyerahkan pada mereka.

Hinata dan Naruto masih melihat gambar itu setelah pemeriksaan selesai. Mereka benar-benar tidak bisa menutupi rasa bahagia itu terhadap orang lain dan siapapun yang melihat mereka pasti akan merasakan kebahagiaan pasangan itu.

"Terima kasih sensei..."

"Iya. Sama-sama Hinata. ah, jangan lupa untuk jaga kondisimu yah?"

Hinata mengangguk, "Iya, sensei. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih. Kalau begitu kami permisi."

TBC

.

.

.

jangan sungkan direview kalau ada yang aneh dengan chap ini. :)

oke saatnya untuk balas review kalian :)

nana anayi : ciah ada penulisnya fox n flower mampir ke sini :D *gak nyambung* btw, udah ku update, meski kali ini agak pendek juga :P

Bill Arr, ayane, icha chan, nhl, LuluK-chaN473 , keyko keinarra minami : thanks yah sudah baca. ini chap sudah sy publish silahkan di baca :)

himawari no hime, Keiko, Ai chan & yamanaka chan : insya Allah, saya tidak akan memberhentikan cerita saya di tengah jalan. karena saya juga tahu bagaimana rasanya digantung. TIDAK ENAK.

kurosaki kun, usagi, Mieko, : Aku usahakan yah :)

liliayana : Aku juga akan mengusakannya. btw, thanks sudah suka cerita mainstream ini :D

nagisha fukuwara : gomena sai. saya terlalu sibuk up yang di wattpad sampai lupa FFN :( hah, padahal rencana awal ini mau diup cepat-cepat (minimal seminggu sekali)

lililala249 : makasih yah sudah koreksi. sangat membantu sekali :)

yhuenie Lorentdhyta Namihyuga : Hinata lagi lupa kondisi kayaknya, makanya banyak pikiran :D *tapi memang pada dasarnya calon mak-mak itu doyan mikir.* :P

Guest : sudah terjawab yah pertanyaanmu :)

kurosaki orihime : gimana chap ini? apa sudah ada di bayanganmu? sepertinya belum yah :D

Yumi ishiyAma : Aku juga gak tahu Yumi-san, soal berapa chapter itu susah ditentukan. yang penting konfliknya selesai artinya chaptetnya ending :D

alfred : thanks Alfred atas pujianmu. :)

keyko keinarra minami : hehehe, anak siapa yah? penasaran yah? tunggu ajah yah :D

hime : hahaha... pengen yah? Nanti deh kalo saya lagi khilaf :D

oke, cukup yah. moga chapter bisa memuaskan kalian setelah setahun dianggurkan FFn ini.