Part 2


Wait, biarkan sehun mencerna ucapan luhan yang sempat ia dengar samar mungkin itu karena sehun sedari tadi terfokus pada-EKHM! Wajah cantiknya itu.

"Woahh...kau menghinaku?tau apa kau mengenai kehidupanku atau kelak aku menjadi apa?sok tahu sekali" sehun berdiri dari atas ranjang yang tadi di dudukinya, tertawa tidak percaya kearah luhan.

Luhan ikut berdiri, tangannya ia letakan pada dagunya memberi gestur seakan berpikir keras. Luhan tidak bodoh, dia tidak mudah dibodohi oleh pria jakung berkulit albino ini.

"Kau kira aku bodoh?kau kira aku tidak tahu harga hoodie,ponsel,sepatu,tas,arloji dan barcelet yang kau pakai?mau membohongiku tuan muda oh?cukup pintarlah, kau tidak setara denganku"

Sehun bingung harus menjawab apa kalau memang itu kenyataanya, dia merasa berdebat dengan orang yang salah. Luhan sangat pandai bicara dan itu membuatnya merasa sulit, sehun memalingkan wajahnya lelah dengan perdebatan yang tak ada habisnya. pantas kris selalu bertengkar dengan luhan kalau namja berdarah tionghoa itu memang pantas dijadikan rival.

Sementara luhan, membuka balutan perbannya karena ia merasa sudah tidak membutuhkannya. Itu membuat pergerakannya sulit dan merasa risih. Dengan telaten luhan membuka balutan lukanya yang sudah hampir mengering, luka ini tidak membuatnya sakit melainkan sebuah kebahagiaan untuknya jadi dia membenci ketika orang lain bahkan sahabatnya mengobati lukanya. Hanya satu orang yang harus mengobatinya, karena orang itu telah berjanji merawat semua lukanya, tapi jika orang itu tidak kembali maka tidak ada alasan untuk mengobatinya biarlah dia berdarah lagipula luhan juga menyukainya siapa tahu kekasihnya datang dan kembali pada pelukannya,seandainya.

Lalu,Sehun adalah orang pertama yang sangat berani menyentuh bahkan memberi perawatan pada semua lukanya.

Sehun merasakan atmosfir tidak enak dari luhan, apa yang sebenarnya terjadi dan alasannya terus berputar seperti kaset rusak dipikirannya. Ia mencoba mencairkan suasana yang sempat canggung beberapa menit lalu. Sehun melangkahkan kakinya mendekat kearah luhan, memutar cepat tubuh mungil luhan agar menghadap kearahnya. Tanpa sepatah katapun, sehun membantu luhan membuka perbannya mengambil beberapa obat merah kemudian membalutnya lagi dengan perban.

Luhan merasakan jantungnya berdetak tak aturan, darahnya berdesir hebat saat kulitnya merasakan sentuhan tangan besar sehun.

Hangat,

Menenangkan,

Dan

Sangat nyaman.

Entah mengapa seluruh syaraf ditubuhnya tidak menolak sehun melakukan semua ini. Biasanya dia akan menendang atau memukul seseorang yang merawatnya tidak peduli dia dokter,sahabat ataupun keluarganya. Tapi kini sehun telah mengambil sedikit tempat kekasih yang dicintainya, bahkan tanpa disadari sehun telah mencuri semua detakan jantungnya.

"Kau, kenapa aku selalu melihatmu berdarah ditengah malam? Apa kekasihmu menyakitimu hmm?" sehun membuyarkan lamunan luhan

Tanpa sadar sehun menyentuh pipi putih nan tirus itu, mengusapnya pelan dan membuat mata mereka bertabrakan. Waktu seakan berhenti, hanya sorot mata yang terus menghipnotis keduanya. Bahkan sehun baru menyadari jika luhan memiliki lekuk mata yang sangat indah, bulu matanya begitu tebal dan warna matanya coklat kehitaman. Semua bagian dari tubuh luhan membuatnya terpesona, apapun yang ada dalam dirinya.

Sehun tidak percaya jika ini pipi dari seorang gangster yang selalu memiliki luka disekujur tubuhnya, ini terlalu lembut dan kenyal. sehun merasa dia seperti menyentuh Marshmallow yang dijual di Lotte world. Kulitnya tidak ada bekas luka sama sekali padahal sehun dengan jelas melihat selalu ada luka panjang di pipinya.

Pipi putih milik pemuda cantik itu mulai muncul samar rona merah, luhan terlihat terus menggigit bibir bawahnya itu untuk mengurangi rasa kegugupannya seharusnya dia tidak seperti ini, dia harusnya memukul keras seseorang yang berani menyetuh tubuhnya sembarangan, tapi sehun dia seperti terkecuali.

"A-apa kau su-sudah makan?i-ini sudah jam makan ma-"

Luhan membulatkan matanya sempurna saat ia merasakan benda kenyal nan dingin mendarat sempurna di kedua belah bibirnya. Otaknya mendadak buntu dan jantungnya berpacu dengan liarnya,luhan takut kalau jantungnya bisa bisa keluar dari tempatnya. Hanya menempel tanpa ada lumatan sedikitpun, tapi hal kecil seperti ini memabukan untuk sehun. Tak disangka bibir ranum milik luhan sangat manis melebihi coklat mahal buatan Perancis,lebih memabukan dari segelas wine berusia ratusan tahun, dan lebih adiktif dari segala jenis narkoba.

Ciuman yang bertahan hanya 5 detik itu diakhiri oleh sehun yang melepasnya terlebih dulu. Sehun juga tidak tahu kenapa tubuhnya bergerak sendiri tanpa diperintah seperti ini, entah sejak kapan tangannya berada di tengkuk pemuda cantik yang sedang menatapnya cengo.

PLAK!

Luhan yang merasa sehun sudah melepaskan tautannya kemudian menampar wajah tampan sehun keras dengan wajah yang sudah memerah matang seperti tomat buah. Kaki mungilnya kemudian mengambil langkah besar untuk pergi dari hadapan oh-sialan-sehun.

Sehun menatap kaca persegi yang ada didepannya, melihat pantulan dirinya dengan pipi merah bekas tamparan luhan. Ini sesuatu yang memalukan tapi jika boleh jujur bibir itu membuatnya candu. Dia ingin merasakan lagi,lebih dalam dan bergairah.

"Apa yang tadi kulakukan?Bagaimana ini?bibirku aku telah menciumnya. Aku mencium seorang namja, apa yang harus kulakukan" "aku pasti sudah gila, aku harus kembali ke Daejeon. Disini tidak baik, ahh bagaimana ini? Aku bukan gay. Ya aku masih normal"

Sehun mengusap kasar bibirnya berulang-ulang menghapus bekas bibir luhan yang masih mrmbekas di bibir tipisnya. Sehun terus menyalahkan dirinya yang semakin terpesona akan kecantikan Luhan. Namun sesaat dia berhenti mengusap kasar bibirnya melainkan menyentuhnya dengan wajah yang merah merona, meski itu bukan French kiss tapi itu sudah membuat sehun mengerti betapa kenyal dan lembutnya tekstur bibir luhan

Sehun ingin melakukannya lagi.

"Tapi,bibirnya sangat manis-..SEBENARNYA APA YANG TELAH TERJADI PADAKU, JEBAL!" Sehun berteriak frustasi,ingin mati.

.

.

.

Chanyeol terlihat sedang menunggu lift di kediaman gedung apartemen sehun, tangan besarnya memegang sebuah ponsel yang menempel di telinganya dan sedang membicarakan rapat dewan yang diadakan lusa nanti. Dia tengah membicarakan tempat,makanan dan persiapan dokumen untuk kerja sama dengan petinggi di jepang dan china.

Chanyeol terus berbicara sampai ia merasa ada kehadiran seseorang disampingnya yang juga ikut menunggu lift dengan wajah tertekuk tapi memerah padam. Chanyeol menoleh beberapa saat kemudian menyerahkan semua persiapan nanti pada sekertaris jung, dirinya kini tengah menatap luhan sendu dan itu membuat luhan merasa risih akan tatapan namja berumur 25 tahun yang menjabat sebagai CEO di Oh corp.

Ting!

Lift terbuka dan keduanya masuk secara bersamaan, selagi menunggu di lantai 20 chanyeol terus memperhatikan luhan. Mencoba memulai percakapan tapi bingung darimana ia harus memulainya

"Bukankah namamu xi luhan?" Suara bariton milik chanyeol membuat luhan menegang ditempatnya. Wajahnya berubah pucat mendengar kalimat yang terlontarkan untuknya dari ajhussi asing disebelahnya.

Luhan menoleh kemudian berteriak

"Y-yak! Kau stalker ya!"

Detik berikutnya luhan melayangkan kepalan tanganya guna meninju wajah arogan pemuda di depannya ini namun hal itu sangat mudah terbaca di mata chanyeol dengan cakap chanyeol menangkap pergelangan tangan milik luhan dan itu bersamaan dengan terbukanya lift yang sudah berada di lantai 20.

Chanyeol melepaskan cengkaramannya takut akan luhan terluka, dia melangkahkan kakinya keluar disusul oleh luhan yang masih memegangi pergelangan tanganya yang terasa panas.

Chanyeol berhenti di tempatnya berbalik kearah luhan yang hampir saja menabrak tubuh tingginya itu, chanyeol yang melihat luhan mematung ditempatnya mencoba mencairkan suasana dengan mengusap pelan rambut blonde milik luhan sembari memikirkan bagaimana cara mendekati namja yang memiliki wajah cantik ini.

Luhan membeku ditempatnya, dia berpikir keras akan arti dari usapan ini. Dengan cepat luhan menyingkirkan tangan besar chanyeol dari pucuk kepalanya, luhan merasa risih dan sangat terganggu.

"Kau takut padaku ya? Tidak perlu takut. Aku kakak dari temanmu oh sehun. Sehun menceritakan banyak hal tentangmu padaku dan sebuah kesenangan bagiku bertemu denganmu luhan. Aku Oh chanyeol kakak sehun"

Luhan membulatkan matanya seperti bola ping-pong dia merasa sangat malu telah menuduh chanyeol stalker. Ini sangat tidak sopan dan ia menunduk berkali-kali untuk memohon maaf atas kesalah pahamannya.

'sehun-' Blushh. Wajahnya memerah lagi hanya dengan mendengar nama sialan itu.

"Mianhae hyung, maaf kesan pertamaku tidak begitu baik padamu. Senang bisa bertemu denganmu"

Chanyeol terkikik geli melihat luhan yang terlihat sangat menggemaskan dimatanya, dia memegang pundak luhan dan menghentikan aksi menunduknya. Tangannya yang memegang sebuah bingkisan berwarna biru tua ia sodorkan ke arah luhan dan berharap luhan menerima hadiah kecilnya ini

"Aku memberimu coklat putih almond kesukaanmu. Kuharap kau menerimanya lu" chanyeol tersenyum menawan kearah luhan membuat luhan jadi salah tingkah akan sikap chanyeol yang membuatnya tidak nyaman.

"Ahh.. bagaimana anda tahu kalau saya menyukai coklat putih almond?" Luhan menerima bingkisan dari chanyeol membukanya sedikit kemudian tersenyum lebar

Chanyeol yang mendengarnya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, mencoba mencari alasan lain untuk hadiahnya pada luhan malam ini. Sesaat dia tersenyum bangga pada otaknya yang sangat cepat berpikir ini, jarinya mencubit gemas pipi luhan yang sudah merona hebat akibat ulahnya.

"Sehun mengatakannya padaku. Mian kalau adikku sangat menyebalkan dia memang seperti itu nanti kau juga akan terbiasa" chanyeol mengulas senyum lagi di wajah arogannya. Kemeja biru laut ditambah dengan jas berwarna hitam formalnya membuatnya nampak mempesona apalagi rambutnya yang ditata hair up itu semakin membuat ketampanannya berada pada level 12.

Luhan hanya tersenyum seadannya, terus mengatakan terima kasih pada chanyeol yang kini sudah menghilang dibalik pintu apartemen milik sehun. Sesaat luhan melihat bingkisan yang diberikan chanyeol padanya menatapnya tajam dan hatinya terus merasakan sakit yang tetus membunuhnya secara perlahan. Luhan melangkahkan kakinya pada tong sampang ukuran sedang yang berada di ujung lorong apartemen,tangannya membuang coklat putih almondnya yang terbungkus cantik oleh tas berwarna biru tua itu. Dia tersenyum miring, berbalik lalu kembali berjalan menuju apartemennya sambil bergumam,

"Hadiah yang sangat manis,tuan oh"

Beberapa jam kemudian,

Sehun melangkahkan kakinya gontai menuju apartemennya,merindukan dunia kapuk yang sedari tadi terus memanggil dirinya. Dia sangat lelah hari ini kentara sekali dari mata yang kini sudah memerah dan sudah berair. Seharusnya dia pulang lebih awal tapi si china itu terus menganggu pikirannya hingga membuat dirinya harus meminum satu botol soju dan ayam goreng untuk mengalihkan perhatiannya namun gagal.

Matanya benar benar tinggal 5 watt saja, bahkan sehun sempat tertidur sebentar di dalam lift. Rasanya hari ini sehun sangat kacau fisik maupun hati semuanya sama kacaunya.

'semuanya karena si kijang betina itu ya semu karenanya'

'yatuhan kenapa aku terus memikirkan luhan, apa dia sudah mempeletku?ash...sial'

Sehun mengetikan beberapa digit nomor sandi hingga terdengar bunyi 'pip' tapi kesadarannya penuh saat mendengar suara wanita paruh baya yang bertanya padanya dengan nada yang sudah sangat lelah.

"Nak, apa kau tahu dimana luhan berada?" Wanita yang sudah berumur setengah abad lebih itu memandang sehun yang tengah mengumpulkan kesadaraannya. Wajahnya masih sangat cantik,rambut hitam panjangnya bahkan membuatnya nampak seperti wanita yang berumur 40an.

"Huh?"

"Luhan,tetanggamu kau tahu dimana dia berada nak?" Kini berganti suara pria paruh baya yang mengulangi pertanyaan istrinya.

"A-ah mianhae saya baru saja kembali dari luar jadi saya tidak tahu dimana luhan berada mungkin saja dia dirumah mengingat dia yang tidak pernah keluar kamar apartemen. Jadi anda siapa?" Sehun mengucapkannya hati hati dengan senyuman yang tak lupa ia ulas di wajah tampannya.

"Kami kedua orang tua luhan dari beijing. Saya Xi LuFeng dan ini istri saya Xi Yichen"

"Saya Oh sehun teman luhan" ucap sehun seraya menjabat tangan tuan dan nyonya xi yang kini menatapnya teduh.

Ibu luhan sangatlah cantik seperti luhan, matanya terlihat sama persis-tidak semuanya mirip hanya perbedaan pada bibir ranum dan alis yang dimiliki luhan, sehun merasa alis dan bibirnya mirip dengan tuan lu.

"Sudah berapa lama anda menunggu?"

"Sekitar hampir satu jam, kami sudah memencet bel berulang kali namun anak kami tak kunjung membukakan pintu. Sayang, aku khawatir" kini berganti nyonya xi yang menjawab pertannyaan sehun

Sementara sehun memutar bola matanya malas, merasa jengah dengan sifat luhan yang menurutnya sangat menyebalkan. Hanya membukakan pintu kenapa luhan begitu enggan?

"Kekasihnya berada didalam nyonya xi, coba anda tekan sekali lagi bel nya"

Tuan dan nyonya xi mengernyit bingung akan perkataan sehun, merasa heran dengan kekasih mana yang dimaksut pemuda tampan ini? Detik berikutnya mereka terkikik geli hingga mengundang tanda tanya dari wajah rupawan sehun. Nyonya xi mendekat kearah sehun, memberikan bingkisan buah yang awalnya ia ingin berikan pada putra tunggalnya tapi melihat sehun seperti ini membuat nyonya xi mengurungkan niatnya dan memberikan bingkisan itu pada sehun.

"Dengar nak, kami tidak tahu siapa kekasih luhan yang kau maksut. Mungkin kau salah dengar atau salah paham saat luhan mengatakan 'kekasih', anak kami tidak mempunyai kekasih. ya, walapupun dulu ia punya kekasih tapi sayang kekasihnya telah pergi meniggalkannya" suaranya berubah menjadi sendu tapi sehun tetap tidak percaya kekasih luhan yang pergi meninggalkannya.

"Tidak nyonya xi-"

"Bibi saja sayang"

"Ahh..ya bibi. Saya yakin kekasihnya berada di dalam karena beberapa waktu lalu saya mendengar suara kekasihnya memanggil luhan berulang kali." Sehun berbicara menggebu-gebu membuat nyonya xi tersenyum sendu kearahnya

"Kau salah dengar nak, luhan hanya tinggal sendirian di apartemen"

"Apa mungkin saudara laki-lakinya?"

"Luhan anak tunggal sehun" kini giliran tuan xi yang menjawab kebingungan sehun.

Sehun terdiam ditempatnya, apa ini sebuah lelucon? Tapi sayangnya sangat tidak lucu. Sehun benar-benar mendengar suara namja dari apartemen luhan, tapi bagaimana bisa kedua orang tuanya terus menyangkal kalau luhan tidak bersama kekasihnya. Bahkan namja itu memanggilnya dengan sebutan 'luhannie' yang notabene berarti panggilan kasih sayang. Apa yang sebenarnya terjadi terus saja terulang dipikiran sehun, otaknya cukup dangkal jika menyangkut tentang berpikir keras yang tak sesuai dengan fakta.

"Baiklah nak, aku memberikanmu buah ini. makan buahnya ya terima kasih telah menjadi teman anak kami. Lain kali kalau ada waktu luang mari makan malam bersama dengan kami dan luhan. Kami pergi dulu sampaikan salam kami pada luhan"

Kedua orang tua luhan melangkah pergi dari hadapan sehun yang masih berkelut dengan pikirannya. Kepalanya sudah berdenyut sakit memikirkan hal hal yang menurutnya diluar nalar.

"Mungkin luhan berteman dengan hantu atau iblis. Ya, mengingat kejiwaannya yang terganggu tidak heran jika dia berteman dengan makhluk tak kasat mata itu. Hahaha Benar luhan seseorang yang aneh" sehun bergumam seperti orang gila sepertinya salah satu sarafnya telah putus akibat terlalu sering digunakan berpikir keras.

Tangannya membuka pintu yang memang sudah terbuka itu, melangkahkan kakinya perlahan masuk ke dalam istana surganya. Semoga, dia lebih dulu tidur sebelum mendengar nyanyian mengerikan itu.

"Sudah pulang?" Suara chanyeol menghentikan langkah sehun menuju kamarnya.

Entah sehun yang terlaku bodoh atau bagaimana sampai tidak menyadari chanyeol yang duduk di sofa ruang tamu miliknya. Seandainya saja chanyeol tidak memanggilnya mungkin sehun sudah nyelonong masuk tanpa menoleh sedikitpun.

Sehun yang melihat kakaknya duduk dengan arogannya merasa lega setidaknya hari ini dia bisa menceritakan segala kebingungannya. Mencoba bertanya dan mengharapkan jawaban yang pas dari kakaknya yang memiliki kepintaran diatas dirinya, sehun membanting tubuhnya di sofa sebelah chanyeol membenamkam wajahnya pada sofa empuk dari bludru itu. Setelah itu sehun bergumam tidak jelas tapi chanyeol mengerti apa yang dikatakan sehun padanya.

"Kenapa tidak memberi kabar kalau datang kemari?"

"Ingin memberi kejutan"

"Kau bahkan tidak membawa apapun untukku, kejutan apanya?" Sehun mengangkat kepalanya sedikit guna melihat apa ada sesuatu dimeja namun nihil.

"Aku sebenarnya datang untuk menemui luhan temanmu"ujar chanyeol santai tapi dihadiahi ekspresi terkejut dari sehun.

"Hyung mengenalnya?!bagaimana bisa?" Sehun memandang tak suka pada putra sulung dari marga Oh ada rasa tak rela dari hatinya saat chanyeol mengatakan luhan dengan nada yang begitu akrab.

"Tidak, tapi ayolah siapa yang tidak mengenalnya? Kau baru disini jadi tidak begitu paham dengan popularitas luhan. Aku hanya memberikan bingkisan coklat putih almond untuknya sebagai hadiah kau orang baru disini."chanyeol mengacak rambut sehun, dan sehun dengan cepat menangkis tangan yang hampir saja membuat rambutnya seperti manusia rimba.

"Memang dia menyukai coklat putih almond?perilakunya tidak sepadan dengan kesukaannya ck!ck!ck!"

Coklat putih almond memang sangat enak, teksturnya sangat lembut seperti gula kapas belum lagi ada beberapa bagian almond yang tersebar di coklat tersebut membuat cita rasanya semakin bertambah akan perpaduan rasa tersebut. Dan untuk luhan yang sangat kasar dan tidak punya aturan seperti itu menyukai coklat putih almond yang seharusnya disukai oleh kaum lembut dan mempunyai sopan santun. Ck! Bahkan sehun tidak menyangkanya,seharusnya luhan itu menyukai arak putih atau sake dengan kadar tinggi atau dalam bentuk makanan kecoa yang dikukus,kulit ular yang dicrispy,atau telur buaya yang digoreng mata sapi.

"Bertemanlah dengannya sehun,dia anak yang baik"

Chanyeol mengambil remot untuk menyalakan tv lcd yang sudah seperti papan tulis itu dan mengganti channel favoritnya. Melihat acara Us ask Anything yang kebetulan guest starnya bintang aktris Song hye kyo. Sesaat chanyeol tertawa sendiri saat melihat tingkah laku Ho dong dan Su geun, tapi dengan tidak tau dirinya sehun mematikan televisi dengan alis tertekuk.

"Yak!"

"Katakan alasan yang tepat sampai aku harus berteman dengan namja aneh itu?kenapa tiba tiba seperti ini?menyuruhku berteman dengan seseorang padahal biasanya kau tidak pernah mencampuri urusan privateku hyung ah..atau jangan jangan.."

"Jangan-jangan apa?" Chanyeol menatap heran kearah putra bungsu dari marga Oh yang mempunyai sifat terbakik dari dirinya.

"Kau...menyukainya?" Jawab sehun spontan dan membuat chanyeol tersedak air liurnya sendiri.

"Aku?tidak. Aku hanya ingin kau berteman dengannya untuk beberapa alasan dan kau harus menurutinya sehun. Kulihat dia selalu sendirian sepertinya dia tidak mempunyai teman-"

"Hah?dia tidak mempunyai teman? Bahkan seluruh sekolah adalah temannya hyung. Apanya yang sendirian?" Sehun menyela cepat ucapan chanyeol lalu dihadiahi jitakan keras akibat perlakuan tidak sopannya itu.

"Jangan menyela ucapanku bodoh! Pokoknya kau harus berteman dengannya kalau bisa menjadi kekasih pemuda cantik itu. Akhiri hubunganmu dengan irene,meskipun dia cantik tapi ada yang jauh lebih cantik. Kau pasti menuruti perkataan hyungmu kan sehun?"

Chanyeol memohon untuk pertama kalinya, dalam hidupnya ia tidak pernah memohon sekalipun-mungkin dia lupa kalau saat anak anak dia terlalu sering memohon-dan saat ini dia memohon hanya karena ingin mendekati seseorang. Bisa dikatakan sehun digunakan sebagai umpan untuk membuatnya lebih dekat dengan luhan,doakan saja sehun menuruti permintaan chanyeol karena jika tidak chanyeol sudah kehilangan ide untuk mendekati luhan dan juga tujuan sehun datang ke seoul memang untuk membantu chanyeol,tidak ada alasan lain lagi.

Sehun kembali membenamkan kepalanya di sofa miliknya, kembali berpikir padahal baru beberapa menit lalu otaknya istirahat. Sehun bingung kenapa akhir-akhir ini orang sekitarnya suka sekali membuat otaknya berpikir sampai kepalanya sakit dan itu pasti berhubungan dengan 'Luhan' tidak ada topik selain namja bermata rusa tersebut. Otaknya terus berpikir kenapa chanyeol tiba tiba memohon padanya seperti ini sebenarnya apa tujuannya?dan apa motifnya?entahlah.

Jika ditolak maka sehun juga tidak bisa, satu satunya yang ia percaya sedari dulu adalah chanyeol bahkan melebihi ibu dan ayahnya jadi tidak menuruti permintaannya adalah sesuatu yang sulit bagi sehun. Meskipun sifatnya dingin, kenyataannya chanyeol adalah seseorang yang baik dan lembut selalu menuruti permintaan sehun sedari dulu tapi entah akhir-akhir ini chanyeol sangat pelit saat sehun memintanya membeli barang mahal keluaran terbaru.

"Hahhhhhh...baiklah aku akan berteman dengannya tapi aku tidak bisa menyukainya karena aku hanya menyukai irene,hyung"

Terdapat garis lekungan yang membentuk sebuah senyuman menawan di bibir chanyeol,hatinya berdegup kencang hanya dengan memikirkan nanti ia bisa bertemu dengan luhan tanpa ada halangan lagi. Chanyeol memejamkan kedua kelopak matanya menghela nafas lega setidaknya mungkin nanti dia tidak perlu meminum hypnosis dalam dosis tinggi,setidaknya ia akan tidur dalam senyuman hari ini.

Chanyeol mengacak rambut legam sehun, kemudian ia mengucapkan terima kasih akan sehun yang telah membantunya.

"Terserah asalkan kau berteman dengannya,gomawo hun"

"Apa yang terjadi? Tidak biasanya kau mengucapkan terima kasih padaku. Jangan seperti itu kau membuatku geli hyung" sehun melepaskan tangan chanyeol"kau kira aku anak anjing huh menjijjkan"

Sehun melangkahkan kakinya kekamarnya untuk berganti pakaian santai, dan chanyeol terus tersenyum memikirkan cara mendekati luhan dalam jarak dekat.

.

.

Kuibaratkan kau sebagai bunga yang tumbuh dipadang pasir yang sangat gersang

Tapi entah kenapa kau bisa bertahan disaat kau membutuhkan air atau nutrisi

Kau masih bisa bertahan

Berdiri kokoh

Meskipun nyatanya kau begitu rapuh

Dan

Aku ingin menjadi salah satu yang bisa menyuburkanmu

Menguatkanmu

Hingga kau kembali memancarkan warna kebahagiaanmu lagi

.

.

TBC

Maaf saya update ga sesuai jadwal, sebenernya pengennya tanggal 20 pas bunda ulang tahun tapi keadaan tidak mendukungnya. Saya disibukan banyak tugas dan ini saya sempetin buat nerusin cerita.

Kalo ada yang bingung sebenarnya ini lanjutan dari Chap 3 entahlah tadi saat mau publish ada aja halangannya. Tiba tiba ffn error dan maunya dijadiin 2 bagian.

Terima kasih sudah mereview ff yang gajelas ini,hwaiting!

buat bunda aku yang 4 hari lalu ulang tahun. Happy birthday! Makin muda aja lo bun gainget umur yang udah semakin menua! Harapannya sama seperti tahun sebelumnya sehat selalu dan bahagia! hanya saja satu hal yang ingin kusampaikan dan berharap ini menjadi terkabulkan. berhentilah dengan semua yang terjadi akhir-akhir ini.

Okey, see you gaes.