Summary: "Entahlah. Mungkin saja kau ini ibuku…" jawab Sena acuh memegang liontin yang melingkar di lehernya

Disclaimer: Gen Urobuchi, Katsuhiko Takayama

Genre: Romance, YAOI ALLERT

Rate: T

Pairing: Inaho x Slaine

Warning: OOC, typo eperiwer~~~~ , BL, Yaoi, Absurd, gak nyambung dengan summary, bahasa berantakan, OC (Sena Kaizuka Troyard)

Review chapter 3

Fujoshi Desu: Tau dari fikiran sendiri.. namanya juga fiksi yah asal sebut aja pangkalannya (ditabok). Tentang moonbase di chapter ini bakal dikasih tau kenapa ada lagi. Boleh. Tapi hais ini selsesai dulu yah. ini utang multi chap ternyata sudah banyak sekali haha. Maksudnya yang kayak cover cerita ini ukan sih? Duh saya gk jago gambar padahal mau tambahin Sena tapi gk jago gambar. Jadinya hanya comot dari opening az untuk cover khusus reaching you :v

Harumia Risa: gak menyayat hati kok.. (ini fanfic kayaknya lebih banyakan adegan ngobrolnya) hahaha

Kanato Desu: Sena.. baik-baik saja.. ._.v (mungkin)

River: turunan dari emaknya, alien yang suka hilang-hilang /gak syukurlah kalo ceritanya ikin deg-degan asli khawatir orang-orang bakal bisa bayangin yang kutulis apa gk. Tapi kalo ada yg sampai deg-degan artinya ceritanya bisa dimengerti hahaha

Aya: konfliknya ortu emang sering bikin baper sih.. /pukpuk/

Rosiel: wwww this is new chapter.. happy reading

DON'T READ , IF YOU DON'T LIKE STORIES ABOUT BL~~

REACHING YOU

(chap 4)

'Meet'

Mars (Kastil Kerajaan)

Kedua tangan remaja itu terikat, terentang ke arah kanan dan kirinya berkat dua buah rantai besi tergantung yang mengikat pergelangannya. Suka tidak suka dia terpaksa berlutut sejak seminggu yang lalu, dua lengannya yang menjadi penopang tubuh –karna terikat– sudah mati rasa sejak sehari dia mengalami hal itu. Tidak ada satu helaipun pakaian yang menutup tubuh bagian atasnya, bekas-bekas merah hasil dari ratusan lucutan cambuk memenuhi tubuh remaja itu. Membuatnya terpaksa harus mengerang menahan perih setiap kali bulir-bulir keringat mengenainya. Bibirnya pecah-pecah tanda bahwa sejak mengalami itu semua dia kekurangan air, berat badannya jauh berkurang padahal baru seminggu dia mengalami itu semua. Hanya satu hal yang sangat disyukuri remaja dengan surai pirang itu, yaitu kalung peningalan Kaa-channya masih tetap terpasang melingkar di lehernya. Sepertinya orang-orang dengan seragam pasukan Mars ini tidak begitu tertarik dengan benda pribadi.

"Bangun orang Bumi rendahan!" guyuran air kembali menyambut pagi anak itu. Kelompak matanya kembali terbuka, menampilkan iris berwarna merah warisan Tou-channya. Ekspresi anak itu masih tenang, seolah tidak terjadi apa-apa di sana. Sekalipun kenyataannya, semua sendi, dan setiap mili tubuhnya merasakan sakit yang amat. Membuatnya beberapa kali berfikir untuk mengakhiri hidup dengan menggigit lidahnya agar terbebas saja dari semua penderitaan itu. Tapi setiap kali dia akan melakukannya, liontin peninggalan Kaa-channya sekali lagi menyadarkannya. Membuatnya ingat akan mimpinya untuk bertemu dengan orang yang selama lima belas tahun hidupnya hanya bisa dia lihat dari foto. "Tatapanmu mengatakan kau baik-baik saja. Siapa sangka anak kecil sepertimu bisa bertahan cukup lama dengan semua kondisi ini" SYUUUUUUT TASSSS suara pertama yang keluar dari cambuk pagi itu yang membelah udara kembali terdengar di ruangan itu. Remaja bersurai kuning itu hanya bisa menggigit bibir bawahnya, siapa sangka ekspresi turunan dari Tou-cahnnya sangat membantu di saat seperti itu.

Moonbase

"Sebaiknya kau fikirkan lagi keputusanmu ini Inaho-kun" Dokter Yagarai kembali memandang pasiennya yang tengah berbaring itu. Matanya sejak tadi memandang laporan hasil pemeriksaan Inaho yang sedang dipegangnya. "Umurmu, kekuatan fisik dan mentalmu saat ini tidak lagi sama seperti dulu. Terlebih kau sudah pernah mencabutnya. Persentase keberhasilannya sangat rendah, hanya sekitar sepuluh persen. Itu sama saja kau membunuh dirimu sendiri"

"Tidak masalah, jika sepuluh persen itu artinya aku bisa mendapat kabar dan menyelamatkan anakku"

"Kau masih berfikir jika Sena ditangkap? Bagaimana jika sebenarnya waktu itu dia terlempar dari ZeThar? Dan saat ini sedang terdampar di pulau yang ada di dekat sana? atau kemungkinan terburuk.. Sena.."

"Dia masih hidup. Begitu pula Slaine, mereka masih hidup. Ini adalah kesempatanku untuk menemukan keduanya. Apapun yang akan kau katakan tidak akan merubah keputusanku Dokter. Jika kau tidak ingin, Aku akan ke Dokter lain. Bahkan jika kesempatan yang kau katakan itu hanya satu persen aku akan tetap memasang kembali mata itu." Inaho membungkukkan badan sebelum meninggalkan ruang pemeriksaan dokter Yagarai. Pria berumur tiga puluh tahun itu membuka aplikasi ponselnya, wajahnya terlihat serius menatap nama-nama kontak di sana.

Moonbase (satu minggu lalu)

Deucalion akhirnya bisa mendarat di hanggar moonbase, mesin pendorong nomor dua dan tujuh rusak akibat serangan musuh beberapa saat yang lalu. Kepala pasukan yang saat itu bertugas mengepalai tempat itu datang sendiri ke hanggar menyambut tamu mereka yang datang dari Bumi. Tamu sekaligus orang-orang yang akan membantu mereka mempertahankan tempat itu dari serangan para pemberontak Mars.

"Bahkan setelah delapan belas tahun, mereka orang-orang Mars itu tetap menyeramkan. Kami kembali selamat berkat dirimu Inaho" Calm memukul pundak Inaho pelan. Wajah orang itu tersenyum, semua yang ada di sana tau bahwa Calm hanya mencoba mencairkan suasana. Delapan belas tahun, lima puluh tahun bahkan ratusan tahunpun medan pertempuran bukanlah tempat dimana orang bisa tersenyum dari lubuk hatinya.

"….."

"Siapa sangka mereka akan langsung mengepung kita begitu kita keluar dari atmosphere" Inko menambahkan yang diikuti anggukan dari yang ada di sana.

"….."

"Inaho-kun? Ada apa? Kenapa dari tadi kau tidak bersuara?" Nina bertanya cemas

"Kau seperti tidak tau Inaho saja. Dia memang seperti itu." Ucap Rayet acuh, meskipun sebenarnya dia sendiri sedikit penasaran karna kali ini diam Inaho sedikit menakutkan daripada biasanya.

"Aku tidak bisa menghubungi Sena begitupun Yuki-nee" jawab Inaho akhirnya

"Dia itu sudah besar Inaho-kun. Kami tau kau sangat menyayanginya, kami juga sudah menganggap dia seperti anak kami sendiri. Tapi dia juga butuh waktu untuk dirinya sendiri. kalian baru berpisah satu jam. Mungkin saja saat ini dia sedang tidur atau menemani Asseylum-hime. Kau tau sendirikan Asseylum-hime menyayangi anakmu dan jika sudah bersamanya dia tidak ingin diganggu siapapun." Jelas Inko panjang lebar. Sekali lagi teman-teman Inaho mengangguk serentak. Tanpa perlu dijelaskan Inko, mereka semua tau situasi yang dirasakan Inaho. karna bagi Inaho kali ini adalah kali pertamanya harus berpisah sejauh itu dengan Sena.

"Feelingku bilang ada hal buruk yang menimpa Sena" Inaho masih terus berusaha menghubungi Sena bahkan Yuki-nee. Tapi tetap saja sampai sekarang dia masih belum bisa menghubunginya.

"Sejak kapan kau mengandalkan feeling? Biasanya kau selalu percaya dengan logika" Calm menepuk pundak sahabatnya. Mereka berlima yang baru turun dari Deucalion langsung menuju ke pusat pengendali utama moonbase. "Hei Inaho, bagaimana tempat ini? Apakah masih sama dengan saat kau ke sini delapan belas tahun lalu?" lanjut Calm, matanya sedikit membulat takjub melihat tempat itu. Calm mengarahkan tubuhnya ke samping, dengan tidak adanya gravitasi di tempat itu membuatnya mudah berpindah dari sisi kanan dan kiri lorong yang menuju ruang kendali utama moonbase. Calm memegang dinding-dinding yang terbuat dari bahan metal itu dengan sangat hati-hati. Bahan metal terbaik yang pernah dirasakan jari jemarinya selama dia menjadi seorang mekanik.

"Kau ini. jelas saja berbeda kan? kejadian itu sudah delapan belas tahun lalu, dan saat akhir perang Slaine sudah menghancurkan tempat ini. Ini tempat baru yang dibangun kembali orang Bumi setelah perang." Inko memukul kepala Calm dengan punggung tangannya. Tawa seketika pecah saat Calm menunjukkan wajah kesakitannya. Inaho sendiri masih sibuk mencoba menghubungi anaknya. Perasaannya makin tidak tenang. Terlebih saat mereka berlima sudah memasuki ruang utama di moonbase. Seperti puluhan orang-orang yang berada di sana, Inaho dan teman-temannya yang baru saja menginjakkan kaki sangat terkejut dengan apa yang ditampilkan layar besar di depan mereka. Ribuan bahkan puluhan ribu meteor dengan ukuran besar melesak memasuki atmosphere Bumi. Menghancurkan pulau-pulau kecil tak berpenghuni di tengah samudera Hindia. Gelombang air laut berton-ton naik turun setiap kali bebatuan langit itu menghantam laut. Sebuah koordinat dimasukan oleh salah seorang operator di moonbase, memfokuskan titik satelit kepada sebuah daerah yang diyakini Inaho dan semua yang ada di sana adalah titik dimana pusat terbesar pembuatan senjata orang-orang Bumi. Tidak ada apa-apa di sana, hanya tampak batang-batang pohon kelapa yang mengapung di lautan lepas.

"Akhirnya tersambung. Yuki-nee apa yang sebenarnya terjadi?"

[Bzzztttt Nao-kun Bzzzztt Maafkan Bzzzzzt aku- maafkan aku Bzzzzzt] Suara Yuki-nee terdengar sedikit putus-putus. Inaho bahkan harus menajamkan pendengarannya agar bisa mendengar suara kakaknya. Dia bahkan sudah mengurung dirinya di dalam kataphrakt orange miliknya sejak satu jam lalu.

"Ada apa? Dimana Sena? Sejak tadi dia tidak bisa kuhubungi"

[Bzzzttt Nao-kun. Bzzzzttt Sena.. Sena hilang! Kami Bzzztt masih melakukan pencarian Bzzztt tapi kami belum menemukannya Bzzztt]

"Yuki-nee. Jangan bercanda.. Yuki-nee.. Yuki-nee" tidak ada jawaban dari kakaknya. Sinyal transmisi kembali terganggu. Inaho membuka copit, tepat di kaki Mustang 00 keempat temannya tengah berdiri menatap kepadanya penuh kekhawatiran. "Aku harus kembali ke Bumi sekarang"

Samudera Hindia

Argyre sebuah pesawat pengangkut berawak satu orang –yang pada perang kedua, delapan belas tahun lalu digunakan oleh orang-orang Mars untuk mengangkut kataphrakt mereka, saat ini tidak hanya orang-orang Mars yang menggunakannya tapi orang-orang Bumi juga menggunakan benda itu– panjang sayapnya lebih panjang dibandingkan jet tempur milik orang Bumi. Benda yang sepintas berbentuk kelelawar itu terbang rendah di atas permukaan laut. Beberapa kali benda terbang itu mengitari area pangkalan militer itu sebelum mendarat di atas badan kapal pengangkut. Beberapa orang tersenyum kepada Inaho, tapi Inaho terlalu sibuk dan terlalu banyak fikiran untuk membalas senyum mereka. Tanpa meminta persetujuan Inaho langsung mengambil sekoci penyelamat, mendekati onggokan benda berwarna orange yang agak jauh darinya. Tampak kakaknya, Asseylum-Hime dan pangeran Canclain maasih mencari sesuatu. Beberapa orang lain juga membantu mereka.

"Nao-kun maafkan aku. Harusnya waktu itu kutarik dia bersamaku"

"Apa yang terjadi Yuki-nee"

"Saat kapal penyelamat akhirnya bisa naik ke permukaan, kami melihat ZeThar. Saat kami ke sini copit benda ini sudah terbuka. Kami sudah mencari Sena tapi tidak ada tanda-tanda keberadaannya." Yuki-nee terlihat sangat menyesal. Asseylum bahkan sudah hampir pingsan karna sejak tadi menangis. Inaho tidak lagi mendengarkan penjelasan Yuki-nee, dia menuju ke ZeThar melihat sendiri keadaan benda yang beberapa jam dikendarai anaknya. Mencari petunjuk sekecil apapun untuk mengetahui keadaan Sena.

Moonbase (saat ini)

Semua pangkalan pertahanan militer di Bumi akhirnya hancur akibat serangan besar-besaran orang-orang Mars, tinggal menunggu waktu sampai tempat pengungsian juga di hancurkan. Sisa-sisa prajurit yang tersisa sebagian di fokuskan di moonbase dan sebagian lagi ditugaskan menjaga para warga sipil. Inaho dan teman-temannya adalah yang ditugaskan di moonbase. Pencarian menemukan Sena selama tiga hari akhir dihentikan, karna tidak menemukan keberadaan anak itu. Selama seminggu ini, sejak Sena dinyatakan hilang Asseylum bahkan tidak menyentuh makanannya sedikitpun. Tubuhnya mulai mengurus karna kekurangan nutrisi.

"Inaho bagaimana keadanmu?" Dokter Yagarai bertanya kepada Inaho yang baru saja tersadar.

Inaho tidak menjawab, hanya memegang mata kanannya. Mesin itu, sebuah mesin analistis kembali terpasang. Kepalanya terasa sangat sakit, sama seperti saat pertama kali dia memasang benda itu.

"Kau jangan memaksakan diri menggunakannya. Jika kau memaksakan diri benda ini bisa saja merusak sel saraf di otakmu"

"…"

"Aku baik-baik saja" Inaho masih berusaha beradaptasi dengan benda itu. Benda yang delapan belas tahun lalu membuatnya bisa memenangkan pertempuran. "Aku pasti akan menyelamatkan Sena dan Slaine"

Mars ( Kastil Kerajaan, saat ini)

Meja makan panjang membentang, beberapa vas bunga dengan bunga-bunga berwarna biru menghiasi tempat itu. Slaine dan Lemrina duduk saling berhadapan tapi terlampau sangat jauh untuk keduanya bisa saling melihat wajah masing-masing dengan lebih baik. Berbagai hidangan mewah tersaji di hadapan mereka. Hanya suara dari garpu dan pisau yang beradu di atas piring yang memenuhi ruang itu.

"Slaine-kun, apa yang akan kau lakukan sekarang?" Lemrina menghentikan makannya. Menatap Slaine yang berada di ujung meja makan.

"Lemrina-hime, kita habiskan dulu makanan ini sebelum membicarakan hal lain" ucap Slaine datar. Di ujung sana Lemrina mengangguk dan kembali melanjutkan makannya. Slaine sudah sadar hampir enam bulan. Dan hampir sejak dua bulan lalu Slaine kembali mengambil komando pasukan untuk menyerang Bumi. Sejak saat itu pula Lemrina bahkan tidak pernah melihat Slaine tersenyum lagi.

….

"Harklight, kudengar ada orang Bumi yang selamat di pemboman meteor seminggu lalu" Slaine duduk bersandar di kursi kerjanya.

"Benar Slaine-sama. Tapi menurut laporan, orang itu belum mau membuka mulutnya. Kita belum mendapatkan informasi apa-apa darinya" Harklight membuka dokumen dari laporan harian yang baru saja di terimanya.

"Lakukan apa saja agar orang itu mau memberikan informasi kepada kita!" Slaine menatap ke arah jendela. Pemandangan serba merah dan bendera-bendera Mars menjadi pemandangan yang ditangkap mata hijau kebiruan Slaine dari bingkai berbentuk persegi panjang itu.

"Baik Slaine-sama"

….

Harlight memutuskan untuk menemui sendiri orang yang ditangkap pasukannya seminggu lalu itu. Menurutnya, dirinya harus turun tangan sendiri agar bisa mendapatkan informasi lebih cepat. Ruang dengan ukuran tiga kali tiga meter itu terasa lebih panas dari ruang-ruang lain yang ada di kastil. Lampu gantung yang tergantung lebih rendah. Hanya berjarak tiga jengkal dengan kepala orang yang saat ini sedang tidak sadarkan diri itu. Harklight memerintahkan kepada penjaga agar membangunkan orang itu. Mengikuti perintah Harklight, penjaga itupun akhirnya mengguyurkan seember air. Kepala si surai pirang itu terangkat, kelopak matanya yang tertutup menampilkan iris mata merah wajahnya datar seperti tanpa ekspresi. Mulut pria jangkung itu sedikit ternganga saat melihat orang di hadapannya. 'Anak kecil?'

"Apa yang kalian lakukan? Dia ini masih anak kecil!" Harklight mengatupkan rahangnya keras, mencoba menahan amarahnya agar tidak meledak karna pemandangan di depannya ini. Perlakuan anak buahnya ini membuat kebanggaanya sebagi orang Mars merasa diinjak-injak. Mereka yang orang dewasa tega memperlakukan seorang anak seperti itu?

"Tapi Harklight-san, Dia ini bukan anak sembarangan. Kami menemukannya di dalam robot orang-orang Bumi"

"Lepaskan dia sekarang juga!"

"Tapi Harklight-san."

"Sebelum Slaine-sama datang melihat tempat ini. Dia tidak akan memaafkan kalian jika tau memperlakukan anak kecil seperti ini!"

"Ba-baik"

Dua orang penjaga itu mengikuti perintah Harklight, dengan sigap Harklight menggendong anak itu di punggungnya. Ada rasa bersalah yang dirasakannya saat tadi melihat tatapan anak itu. Mungkin karna surai-surai anak itu persis seperti milik tuannya, membuatnya sepintas melihat tuannya dan masa lalu saat Slaine diperlakukan tidak adil oleh orang-orang Mars. Harklight membawa anak itu ke ruangannya dan mengobati luka-luka di tubuh anak itu. Harklight baru saja ingin menanyakan namanya, tapi anak itu sudah jatuh tertidur, tidur yang layak setidaknya selama seminggu terakhir.

Saat tengah membalut luka-luka anak itu, bunyi geseran dari pintu ruangannya membuatnya sesaat menoleh. "S-Slaine-sama. Apa yang.."

"Ku dengar kau membawa tahan itu ke sini! Lancang sekali kau!"

"Tapi Slaine-san dia masih anak kecil. Dia pasti belum tahu apa-apa"

"Dimana orang Bumi itu?" Slaine akhirnya melangkahkan kakinya ke ruangan anak buah kepercayaannya itu. "Itu…" Slaine menghentikan ucapannya, mata birunya terfokus kepada kalung yang melingkar di leher anak itu. "Liontin itu.."

"Ada apa Slaine-sama?"

"Bangunkan anak itu dan bawa dia ke ruanganku!"

"Tapi Slaine-sama…"

"LAKUKAN PERINTAHKU HARKLIGHT!"

….

Slaine duduk bersandar menatap lurus ke arah anak yang juga tengah duduk di hadapannya. Slaine sangat yakin pernah melihat wajah ini di suatu tempat, tapi ingatanya masih belum sempurna kembali untuk mengingat apa dan siapa orang-orang yang dulu pernah bertemu dengannya. Sementara itu di tempatnya Sena bahkan tidak bisa berkata-kata saat bertatapan wajah dengan orang itu. Orang yang selama lima belas tahun ini hanya bisa dilihatnya dari foto 'Kaa-chan'-nya

"Siapa kau? Dan darimana kau mendapatkan liontin itu?"

"Sebelum menanyakan nama orang lain , perkenalkan dulu dirimu sendir!" ucapnya tenang, persis seperti Tou-chan.

"Ini bukan di Bumi! Ini di Mars! Jangan bawa aturan Bumi mu itu di sini!"

"…."

"Sekali lagi ku tanyakan. Siapa kau anak kecil? Dan dari mana kau mendapatkan liontin itu?"

"Namaku Sena. Aku mendapatkan liontin ini dari ayahku. Tapi liontin ini bukan milik beliau, ini milik ibuku!"

Empat siku muncul di pelipis Slaine mendengar jawaban anak kecil di hadapanya. Dengan tidak sopan si pirang yang lebih dewasa itu menunjuk tongkatnya tepat di hidung Sena. "Kau kira aku bodoh? Liontin seperti itu hanya ada satu. Dan itu adalah milikku! Bagaimana mungkin kau mendapatkannya dari ayahmu dan merupakan peninggalan ibumu?"

"Entahlah. Mungkin saja kau ini ibuku…" jawab Sena acuh memegang liontin yang melingkar di lehernya.

BHUUUUUKKK. Ujung kepala tongkat Slaine mendarat tepat di pipi kanan anak di hadapannya. Tubuh si pirang yang lebih kecil itu tersungkur bukti kerasnya Slaine menghantamkan tongkatnya. Darah segar mengalir dari ujung bibir Sena. Tapi anak itu tidak meringis kesakitan. Wajahnya bahkan tersenyum, terlihat sangat bahagia.

'Aku pernah melihat senyuman ini!'

~TBC~

OWARI

Banyak pindah lokasi maafkan.. akhirnya Sena sama Slaine ketemu! Akhirnya alasan Inaho ndk pakai mata buatan lagi terungkap (tapi ujung-ujungnya malah dipake lagi) Akhirnya Slaine mulai mengingat kembali (mungkin). Di bagian akhir malah mikir 'ini Sena maso yah? di pukul malah senyum' .. hahahaha see yaaa next chapt and happy new year~~~