OUR STORIES
Genre : Romance, Drama
Rate : T
Pairing: Riren [Rivaille x Eren]
Warning : AU, Alur ga beraturan [lompat-lompat], Typo & Typo(s) bertebaran dimana-mana
Disclaimers: Shingeki No Kyojin © Hajime Isyama
CHAPTER 4
~~ 22 JUNI 20XX ~~
** Pukul 05.00 **
Seluruh panitia MOS sudah terbangun semua dan bersiap-siap membangunkan para murid barunya pada pukul 6 pagi nanti untuk melakukan olah raga pagi yang akan dipimpin oleh Gunther. Dia adalah Anggota OSIS seksi olah raga. Sambil menunggu pukul 6 tepat, seluruh panitia berkumpul dan berbincang satu sama lain. Sampai Erwin membuka suara dan bertanya kepada Rivaille perihal kejadian semalam.
"Rivaille, apa yang terjadi pada Eren semalam? Dan mengapa kau tidak kembali bersamanya?" Tanya Erwin dengan wajah serius. Ya, tugas OSIS selain untuk mendisiplinkan siswa baru tapi juga untuk menjaga mereka semua saat MOS.
"..."
"Jawab Rivaille!" Perintah Erwin.
"Aku hanya mengerjainya kemarin." Jawab Rivaille. "Aku melihat dia ketakutan saat mendengar suara yang kubuat. Jadi aku hanya ingin menjailinya sedikit."
"Apa kau tahu bahwa Eren phobia kegelapan?" Tanya Hanji yang hampir marah mendengar jawaban Rivaille. Bagimana tidak, nada yang digunakan Rivaille tidak memiliki nada rasa bersalah sama sekali.
Rivaille hanya mengangguk dan seluruh Anggota OSIS *minus Erwin* menghela napas tidak percaya akan tingkah laku sang siswa kepercayaannya.
"Lalu bagaimana dia bisa sampai terluka seperti itu?" Erwin bertanya lagi.
"Dia.. Dia jatuh kesungai saat mendengar aku mengeluarkan suara lolongan serigala. Dia berjalan mundur tanpa sadar dia sudah ditepi sungai. Sepertinya saat jatuh itu tangannya mengenai batu yang terletak tidak jauh disebelah kanannya. Dan kakinya terkilir karena jatuh itu." Rivaille menjawab sambil menunduk. Dia tahu dia salah. Dan ini kesalahan terbesar yang pernah dia buat selama ini. Erwin Dan Hanji hanya bisa menghela napas untuk kesekian kalinya.
"Sebaiknya kau minta maaf padanya." Saran Petra yang dijawab dengan anggukan kecil Rivaille.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 6 tepat. Seluruh Anggota OSIS pergi ketenda-tenda dan membangunkan para kouhainya. Erwin membangunkan Armin dan Eren. Armin dan Eren pun langsung keluar tenda dan bersiap-siap melakukan olah raga pagi.
"Eren!" Panggil Hanji.
"A-ah.. A-ada apa senpai?" Tanya Eren yang bingung karena senpainya ini berlari kearahnya.
"Kau tidak perlu ikut olah raga. Kakimu masih sakit bukan. Aku akan menemanimu tenang saja." Jawab Hanji sambil tersenyum. Eren hanya mengangguk dan mengatakan kepada Armin bahwa dia tidak ikut olah raga hari ini. Armin mengerti karena kondisi Eren yang seperti itu.
Hanji pun membantu Eren selama seharian penuh ini untuk berjalan dan melakukan kegiatannya. Jean, sang rival yang melihatnya langsung menghampiri Hanji dan membantu Eren berjalan. Rivaille yang melihatnya hanya bisa geram mengeingat kelakuannya kemarin. Seandainya kemarin dia tidak melaukannya, mungkin dia masih bisa meihat senyum pria itu dan bersama dengannya sekarang.
Setelah membantu Eren duduk, Jean kembali kebarisan. Karena ternyata olah raga hari ini berkeliling dengan jogging. Eren duduk di kayu panjang dan Hanji membuatkan Eren teh hangat. Eren menerima teh tersebut dan tersenyum.
Eren kembali memperhatikan teman-temannya yang sedang melakukan pemanasan tersebut. Mata Eren berhenti pada Rivaille yang mengikuti pemanasan tersebut. Tak lama kemudian, mata mereka bertemu dan seketika itu juga Eren memalingkan wajahnya kesembarang arah asal tidak bertemu muka dengan Rivaille. Rivaille yang melihatnya langsung berenti mengikuti pemanasan.
"Hey Eren." Panggil Hanji. Eren hanya mengadah untuk melihat senpainya itu. "Aku akan mengambil beberapa bahan makanan di kuil. Tak apa kan kau kutinggal sebentar?" Eren hanya menggeleng sebagai jawaban dia tidak apa.
"Baiklah kalau begitu. Maaf ya Eren." Kata Hanji sambil memeluk Eren. Dan Hanji pun melenggang pergi ke kuil.
Seluruh siswa sudah pergi jogging pagi. Rivaille melirik Eren. Ternyata dia sedang sendiri. Rivaille tetap berdiri di tempatnya. Dia tidak mengikuti jejak yang lain untuk jogging pagi itu. Melihat yang lain sudah peri untuk melakukan jogging, Rivaille tetap diam dan berpikir didalam hatinya.
'Apa aku harus mendekatinya lagi?' Batin Rivaille. 'Ya.. Aku harus meminta maaf terus sampai aku dimaafkan olehnya.'
Rivaille pun bergerak mendekati Eren. Eren yang merasa Rivaille semakin mendekat langsung mencoba berdiri dan berjalan menuju tendanya. Sekali lagi Rivaille menahan tangannya. Menahan tangan Eren agar Eren tidak kabur dan mendengarkan perkataannya itu.
"Eren.." Panggil Rivaille.
"A-ada apa senpai?"
"Aku tahu aku salah.. Maafkan aku.. aku tidak bermaksud seperti itu. Aku mengira kau hanya akan gemetaran saja bukan sampai seperti itu. Aku tahu mungkin maaf saja tidak cukup untukmu. Tapi aku tidak tahu apa lagi yang harus kulakukan-" Penjelasan Rivaille terpotong. Rivaille yang menggenggam kedua tangan Eren hanya berharap rasa bersalah dan rasa khawatirnya tersampaikan.
"Sudahlah Senpai.. Aku baik-baik saja.. Tidak perlu dipikirkan.. Kau tidak salah kok.. Aku saja yang terlalu penakut." Jawab Eren sambil melepaskan tangannya yang digenggam oleh Rivaille. Setelah genggamannya terlepas, Eren langsung beranjak dari tempatnya menuju tenda miliknya.
Rivaille yang berada di depan tenda milik Eren hanya bisa mengepalkan tangannya. Dia marah pada dirinya sendiri. Karena ulahnya sendiri, dia sampai dibenci oleh bocah kesayangannya itu. Didalam tenda Eren hanya duduk sambil membuka buku kesayangannya yang berisi kumpulan puisi yang dia buat selama ini.
.
.
.
OUR STORIES
.
.
.
Siang pun tiba. Seluruh murid perempuan sedang menyiapkan makan siang. Sedangkan murid laki-laki hanya menunggu di tempat duduk masing-masing menunggu makanan siap. Armin menoleh ke kiri dan ke kanan seperti mencari seseorang. Ya dia mencari Eren. Setelah semua kembali, dia tidak menemukan Eren. Bahkan di tenda pun dia tidak ada.
- FLASHBACK ON -
Eren sedang menulis puisi dibuku kesayangannya. Itulah yang setiap kali dia lakukan untuk mecurahkan isi hatinya jika dia tidak bisa menceritakannya kepada siapa pun termasuk sahabatnya sendiri, Armin.
"Apa mereka belum kembali?" Gumam Eren. "Aku bosan."
Eren beranjak dari tempat duduknya. Dia melihat keluar tenda dan tidak menemukan seorang pun diluar. Eren keluar tenda dan melihat sekeliling. Dan benar saja tidak ada siapa-siapa dengan kata lain dia sendirian.
Melihat dirinya hanay sendirian, Eren berniat untuk berkeliling. Eren terus berjalan tanpa sadar jalannya menuju tempat kejadian dimana dia ditakuti oleh senpainya. Di sungai Eren terkisap. Jika dilihta pagi hari, pemandangan dari sungai ini sangat indah.
"Ahh... Seandainya aku membawa perlengkapan lukisku.." Gumam Eren sambil menghela napas.
"Sedang apa kau disini?" Eren pun menoleh kesumber suara dan mendapatkan Rivaille sedang duduk diatas batu besar.
"Aku hanya bosan di tenda sendirian. Tadi aku bersama dengan senpai yang berkacamata itu tapi dia ke kuil dan tidak kembali." Jawab Eren sambil duduk di tepi sungai sambil mencelupkan kakinya yang tidak ada perban. Melihatnya Rivaille turun dari batu itu dan menghampiri Eren.
Rivaille duduk disebelah Eren. Dan tanpa aba-aba, Rivaille menarik Eren kedalam pelukannya. Eren terkisap dan menornta untuk melepaskan diri. Tapi pelukan Rivaille semakin erat dan Eren akhirnya pasrah dan rela dipeluk oleh Rivaille.
"Hmm.. Ano.. Senpai?" Panggil Eren takut-takut. Dia masih menenggelamkan wajahnya di dada bidang Rivaille.
"Ada apa?"
"Ini sudah jam 11.45 apa kita tidak mau kembali?" Mendengar pertanyaan itu Rivaille melonggarkan pelukannya dan membatu Eren untuk berdiri dan mulai berjalan menuju tempat berkumpulnya.
- FLASHBACK OFF –
"Armin, ada apa?" Tanya Erwin melihat Armin yang gelisah.
"Ah.. t-tidak apa-apa, senpai.. Hanya saja.." Terlihat ada jeda dalam kata-kata Armin. "Hanya saja aku tidak melihat Eren dari kita kembali saat olah raga tadi. Aku hanya khawatir terlebih lagi kaki Eren sedang sakit."
"Tidak perlu khawatir.. Lihatlah itu." Erwin menunjuk seseorang yang sedang berjalan sedikit pincang dan dibopoh oleh Senpainya yang keluar dari jalan menuju sungai. Armin yang melihatnya bisa bernapas lega melihat sahabatnya tidak apa-apa dan sudah kembali. Sedangkan Erwin tersenyum melihat Eren dan Rivaille yang dapat dikatakan sudah biasa kembali.
Seluruh siswa pun melanjutkan makan siangnya dengan tenang. Begitu juga dengan Eren yang walaupun sudah telat 20 menit dari jam makan siang.
Seperti biasa, setelah selesai makan, siswa laki-laki harus mencuci perlengkapan makan dan piring serta gelas kotor. Tapi kali ini hanya dipilih 3 orang saja untuk melakukan kegiatan tersebut secara bergilir. Kali ini yang mendapat tugas Reiner, Berthold, dan Armin.
Eren kembali ke tendanya karena Hanji dan Erwin sudah mengatakan seharian ini dia tdak perlu melakukan kegiatan MOS dulu. Melihat Eren berjalan dengan kaki kanan sedikit di seret, Rivaille ingin sekali menemani Eren. Namun dia masih harus menjadi mentor dalam kelompoknya.
** Pukul 13.00 **
Seluruh siswa baru pergi ke sungai dipimpin oleh Petra dan Hanji. Hari ini kegiatan MOS hanya bermain games. Games terbagi menjadi 2 bagian. Pertama, Games ketangkasan dan kekompakkan. Games mengutamakan kerjasama kelompok dan kecerdasan saat menjalani sesuatu. Games ketangkasan dan kekompakkan ini dipimpin oleh Erwin, Hanji, dan Petra. Kedua, Games Individu. Games ini individu, melatih kecerdasan siswa juga dalam melakukan suatu hal. Games ini dipimpin oleh Erd, Gunther, dan Ouro.
Semuanya sangat bersemangat melakukan kegiatan hari ini. Eren yang cidera hanya bisa menunggu di tenda dan ditemani oleh Rivaille =atas perintah Erwin tentunya=.
- FLASHBACK ON –
"Eren, sebaiknya kau tidak perlu mengikuti kegiatan kali ini." Kata Hanji sambil memberikan teh hangat kepada Eren. Kali ini Eren selalu duduk bersama dengan Hanji, Erwin, dan Rivaille saat makan sarapan, makan siang, ataupun makan malam.
"E-eh? Kenapa senpai?" Tanya Eren.
"Sudah turuti saja, bocah. Atau kau mau kakimu patah." Jawab Rivaille sinis. Eren hanya bisa diam sambil meminum tehnya. Dia mengalihkan pandangannya dari Rivaille.
"Ya, Rivaille benar. Kakimu masih cidera. Setidaknya besok kau baru bisa mengikuti kegiatan lagi Eren." Jawab Erwin. Eren hanya mengangguk. "Dan selama kegiatan berlangsung, kau akan ditemani oleh Rivaille."
"Apa? Kenapa aku!" Teriak Rivaille. Rivaille sebenarnya setuju saja tapi bagaimana dengan Eren. Rvaille masih memikirkan hal kemarin dimana Eren membentaknya.
"Kau harus bertanggung jawab atasa apa yang telah kau perbuat." Jawab Erwin sambil memberi isyarat kepada yang lain untuk bersiap memulai kegiatan hari ini. Eren yang mendengarnya menghela napas dan mau tak mau hanya mengangguk setuju.
- FLASHBACK OFF –
"Bagaimana kakimu? Sini aku ganti perbannya." Kata Rivaille sambil masuk kedalam tenda. Dia melihat Eren sedang menulis sesuatu sambil tersenyum. Rivaille yang merasa diabaikan langsung mendekatinya dan duduk disebelahnya.
"A-ah.. S-senpai, sedang apa?" Tanya Eren tergagap dan berhenti melakukan aktivitas menulisnya.
"Kau menulis puisi?" Tanya Rivaille yang melihat isi dari buku tersebut. Eren hanya mengangguk. Eren memasukkan buku puisinya itu kedalam tas.
"S-senpai sedang apa disini?" Tanya Eren lagi. Rivaille memperlihatkan gulungan perban dan perekat perban untuk mengganti perban Eren yang mulai kotor. Rivaille pun melakukan kegiatannya untuk mengganti perban Eren. Eren sedikit meringis ketika kakinya ditarik oleh Rivaille. Setelah menyelesaikan tugasnya. Saat Rivaille beranjak dari tempatnya, dia merasa ada yang menahan tangannya.
"Ada apa?" Tanya Rivaille melihat tangannya digenggam oleh Eren. Eren menariknya untuk duduk kembali. Rivaille menuruti permintaan kouhainya itu. Selama ini keheningan melanda di dalam tenda. Tidak ada yang membuka suara sama sekali. Eren hanya berdiam diri dan Rivaille yang melihat gelagat Eren hanya bisa mendengus kesal.
"Kau menarikku untuk duduk. Tapi kau tidak mau mengatakan apa-apa." Kata Rivaille datar. "Jika kau tidak ingin berkata apa-apa, aku akan keluar." Rivaille pun beranjak dari tempat duduknya. Dan lagi-lagi tangannya ditahan oleh Eren.
"S-senpai disini s-saja." Pinta Eren. Rivaille lagi-lagi menurutinya. Ini bukanlah Rivaille yang menuruti perintah dan kemauan orang lain terlebih lagi juniornya yang baru masuk ini.
"Senpai.. Maaf waktu itu aku membentakmu. Saat itu aku-" Kalimat Eren terpotong akibat Rivaille yang langsung memeluknya secara mendadak.
"Tidak apa. Itu juga salahku yang menjahilimu diluar batas." Jawab Rivaille yang terus memeluk Eren. Eren membalas pelukannya.
Tak lama terdengar suara ribut dari luar. Rivaille melepaskan pelukannya dan mengecek keluar tenda. Rupanya anak yang lain sudah kembali. Rivaille mengajak Eren untuk keluar tenda dan membantunya berjalan menuju Erwin dan Hanji.
Hanji dan Petra yang melihatnya hanya senyum sendiri melihat akhirnya tidak ada lagi adegan diam-diaman seperti sebelumnya. Sedangkan Erwin hanya mengangguk melihat Eren dan Rivaille yang mendekat.
"Bagaimana kedaanmu, Eren?" Tanya Erwin dengan lembut. Rivaille pun mendudukkan Eren dan pergi membuat teh untuk Eren.
"Aku lebih baik senpai. Kakiku sudah lebih bisa digerakan sekarang." Jawab Eren sambil tersenyum polos.
Armin yang melihat Eren sedang duduk langsung berlari kearahnya dan memeluknya dari belakang. Ya, Armin sangat khawatir dengan sahabatnya ini.
"HUWAAAAAAA!" Teriak Eren yang dihadiahi dengan bungkaman tangan Rivaille yang duduk disebelahnya. Eren pun menoleh kebelakang dan menemukan Armin yang siap untuk bertanya apa saja.
"Kau sudah baikan, kan? Aku khawatir tau. Semenjak Ibu dan Ayahmu sudah tia-" Kata-kata Armin terputus karena Eren sudah membungkan Armin dengan tangan lembutnya.
"Armin.. Jangan." Melihat ada aura kegelapan menyelimuti Eren, Armin mengangguk dan langsung duduk disebelah Erwin agar bisa dekat dengan Eren juga tentunya.
"Iya maaf" jawab Armin tersenyum. "Kau tahu Eren kelas kita menang loh walaupun kau tidak ada dalam kelompokmu tapi kelompokmu juara 1 dan kelompokku juara 2." Kata Armin bangga Eren hanya tersenyum melihat Armin seperti itu. Dia merasa senang masih memiliki sahabat yang mau mengurusinya.
Rivaille yang melihat Eren seperti itu hanya memandangi Eren. Dia masih tidak mengerti apa maksud dari kata-kata Armin yang terputus itu. Mengapa ada kata-kata Ayah dan Ibu Eren.
'tia-? Mengapa saat ada nama Ayah dan Ibunya di sebut Eren terlihat marah?' Batin Rivaille bingung. Tanpa sadar mata mereka bertemu. Eren pun langsung membuang muka dan segera menarik Armin untuk menjauh sebentar.
"Ayolah Armin kau sudah janji bukan tidak akan mengungkitnya lagi."
"Iya maaf Eren aku kelepasan." Perkataan Armin membuat Eren menghela napas. Eren hanya tidak mau mengungkit kematian keluarganya akibat kecelakaan itu. Sekarang saja Eren sangat bersyukur Armin masih mau bersahabat dengannya bahkan merawatnya juga.
Eren dan Armin pun kembali ke tempat tadi. Armin kembali duduk disebelah Erwin dan Eren duduk disebelah Rivaille. Rivaille sudah membawa 2 piring nasi. Satu untuknya dan satu lagi untuk Eren. Eren menerima piring tersebut dan langsung makan. Sesekali Armin bercerita tentang games yang dilakukan tadi. Dan cerita Armin mengundang tawa semuanya termasuk Eren *yang pasti minus Rivaille yang tetap dengan wajah datarnya*.
Selesai makan, seperti biasa ditunjuk 3 orang untuk mencuci piring dan peralatan kotor di perkemahan ini. Dan kali ini yang terpilih adalah Connie, Jean, dan Reiner. Merka sudah bersiap-siap untuk pergi mencuci didanau. Sisanya seluruh murid sudah diperbolehkan kembali ketendanya untuk beristirahat.
"Eren.. Kau tidak masuk ke tenda?" Tanya Armin bingung.
"A-ah iya."
.
.
.
.
.
Continued~
