—Chapter 3
Aroma manis memasuki penciumannya. Aroma itu melewati hidungnya bersama dengan belaian angin sejuk yang datang, dan bersamaan dengan itu, sebuah sentuhan lembut mendarat di pipinya. Sentuhan itu terasa amat lembut sehingga jika tidak di hayati baik-baik, itu akan terasa seperti belayan angin.
Dia tanpa sadar menangkap tangan itu dengan tangannya. Tangannya menutupi seluruh bagian dari tangan tersebut yang begitu kecil, hampir seperti itu akan hancur jika dia mengeluarkan sedikit saja tenaganya, maka dia berusaha selembut mungkin membingkai tangan itu, seolah berusaha mendapatkan lebih banyak belaian itu pada pipinya.
Sesuatu bergerak di bawahnya. Gemerisik daun yang jatuh dari pohon yang dia jadikan sandaran dengan mudah menutupi suara dari gerakan itu, tapi dia bisa merasakan, merasakan sesuatu yang tengah bergerak meringkung, memeluk dadanya semakin erat, semakin dalam seolah sedang berusaha menenggelamkan dirinya padanya.
"Aku melihatnya.. Setiap malam.. Setiap aku menutup mataku.. Aku melihatnya.."
Suara yang seindah bunyi lonceng bergema memasuki telinganya. Terdengar tenang seperti aliran air, tapi entah mengapa hatinya bergolak dahsyat layaknya lautan yang ganas.
Dia membuka matanya. Apa yang nampak di bawahnya adalah hamparan biru yang gelisah yang dimiliki oleh rupa menawan khas seorang gadis muda.
Seorang gadis tidak berdosa. Ya.. Baginya, gadis ini adalah gadis biasa. Dia bisa tersenyum, terkadang banyak bicara, suka mengatur, tukang ngambek dan punya rasa sensitif pada fashion. Dan gadis biasa ini akan lenyap tanpa seorangpun disisinya. Semua orang tidak akan pernah menceritakan kisahnya, bagaimana dia menghilang, atau mengapa dia bisa seperti itu.
Apa yang membuat hatinya bergolak adalah bahwa tanpa seorangpun yang tahu, gadis ini berjuang menyelamatkan dunia ini sendirian, padahal tidak satupun hal baik yang kemudian dia dapatkan. Apa yang membuatnya ingin berjuang begitu keras? Mengapa dia bersikeras melawan takdirnya dan menyakiti dirinya sendiri hanya demi orang-orang yang tidak dia kenal?
Dia ingin menanyakan itu, tapi sebelum itu terjadi, sesuatu mendesak dari dadanya, naik ke kerongkongannya, dan dari mulutnya, dia mengeluarkan darah, terbatuk-batuk hebat seperti pria tua menyedihkan.
Andaikan sempat, dia tidak ingin memperlihatkan penampilan menyedihkannya di hadapan gadis ini, tapi itu datang begitu cepat, jangankan untuk pergi, dia bahkan tidak sempat berbalik.
Begitu batuknya reda, tangan yang dia gunakan untuk menutup mulutnya sudah dipenuhi gumpalan darah segar. Jantungnya berpacu dengan cepat, bukan karena ngeri pada darah itu, tapi karena seorang gadis tengan memeluknya dengan kencang, menangis tersedu-sedu hingga kesusahan untuk bernafas.
"Kenapa.. Kenapa tidak satupun dari kekuatan ini bisa kugunakan untuk menyelamatkan kalian.. Menyelamatkanmu.."
Dia tidak pintar menenenangkan tangisan seseorang, terlebih jika itu seorang gadis. Tapi dia punya seorang adik laki-laki yang manja yang sering dia bohongi, kurang lebih dia memiliki gambaran umum bagaimana caranya menangani situasi semacam ini, akan tetapi selain dengan berbohong, dia tidak mengetahui cara lainya, sungguh, dia benar-benar pria paling menyedihkan di dunia.
"Tidak perlu khawatir. Aku tidak akan mati dengan mudah."
Itu adalah kebohongan yang untuk pertama kalinya dia tujukan pada selain adiknya.
Yah, cepat atau lambat dia akan mati. Entah itu satu jam dari sekarang atau lusa, yang pasti usianya tidak akan melewati pertengahan musim semi ini. Penggunaan Sharingan secara berlebihan sudah merusak tubuhnya bahkan sampai kedalam jiwanya. Bahkan jika bukan karena tekatnya yang begitu kuat, dia sudah pasti tewas kemarin, waktu dia memainkan peran sebagai kakak jahat yang mencoba mengambil mata adiknya, bukannya ada di sini.
"Pasti karena aku."Cicit gadis itu sambil menyembunyikan wajahnya pada cekungan lehernya."Pasti karena aku kau bisa sakit seperti ini. Kau yang paling sering bersamaku dibanding yang lain, itu sebabnya kau sakit, iya kan?"
Itu setengah benar, tapi dia memilih untuk tidak menjawab dan mengatakan bahwa semua akan baik baik saja, tidak perlu khawatir, ujarnya.
Seandainya bisa, dia ingin terus hidup. Tapi takdir adalah hal paling tidak toleran. Sama halnya dengan bagaimana kejamnya skenario takdir bagi gadis tidak berdosa ini, sang takdir juga menuliskan skenario kejamnya pada hidupnya, hanya saja dia sudah melihat akhir dari skenario itu sementara gadis ini masih jauh dari itu. Dia hanya bisa berharap bahwa akhir dari kisah gadis ini tidak semenyedihkan seperti halnya miliknya.
Sungguh, tidakkah seharusnya ketulusan hati gadis ini bisa mengugah hati para dewa? Batinya.
Dua ekor gagak muncul dari tubuhnya seperti layaknya ikan yang melompat dari permukaan air. Mereka terbang keangkasa dengan suara kwak kwak yang memilukan.
Perlahan lahan gadis dalam pelukannya memudar, bukan menghilang, tapi seakan warna di tubuhnya meluntur. Rambutnya yang pirang. Kulit lembutnya yang sedikit tan. Bibir merahnya. Dan bahkan kimono berlapis yang dia kenakan, semuanya menjadi putih.
Dia merasakan cengkraman gadis itu padanya semakin kuat, dan dia membalasnya dengan menggosok punggung gadis itu dengan lembut, berusaha menenangkannya.
Ketenangan yang selalu ada diwajahnya kini bergolak. Hatinya merana, bahwa di masa depan gadis ini mungkin melupakan semua kenangan bersamanya dan semua anggota Akatsuki lainya, lebih dari itu, dia merana pada jiwa dan kepribadian gadis ini yang akan lenyap.
Gadis yang dia dan teman-temannya berusaha untuk lindungi perlahan-lahan menjadi sesuatu yang bukan dirinya, yang lebih menyedihkan, saat semua itu terjadi dia sendirian tanpa seorangpun disisinya.
...
Nafasnya tersenggal-senggal. Rasa lelah menyergap tubuhnya, seolah dia habis berlari ratusan meter sehingga dia segera mengambil gelas berisi air putih disampingnya dan meminumnya sampai tandas dengan satu tarikan nafas.
Mimpi itu lagi. Mimpi yang datang berkali-kali yang arti darinya tidak bisa dia pahami. Itu suatu kejadian yang tidak pernah dia alami, tapi itu bukan mimpi biasa, seolah dia sedang berada di waktu yang lain dengan tubuh yang lain pula. Rasanya mirip seperti sedang memerankan sebuah adegan dalam drama, tidak, lebih tepatnya dia sedang menonton sebuah drama dari mata salah satu pemeran utama.
Sebenarnya dia selalu berpikir jika mimpi itu berasal dari kenangan milik kakaknya yang tersimpan di matanya, tapi sekeras apapun dia mencoba untuk yakin, keyakinan itu selalu ditolak oleh akal sehatnya.
Sejak mimpi itu mampu dia ingat, meskipun hanya beberapa darinya, dia selalu merasakan penolakan keras dari hatinya. Dia mungkin tidak menyadarinya, tapi dia cemburu, cemburu karena semenjak dia berusia tujuh tahun, tidak sekalipun kakaknya berbicara sehangat itu padanya.
Di siang harinya, tim tujuh sampai di desa tujuan mereka, suatu desa yang terletak di pegunungan di utara negara api. Desa itu terkenal dengan budidaya bunga nya yang berkwalitas tinggi.
Kakashi segera datang ke salah satu sentra budidaya bunga yang nampaknya adalah yang terbesar di banding lainya. Rumah kaca besar dan panjang berdiri di depan mereka, memperlihatkan aneka bunga yang tumbuh di dalamnya serta beberapa kupu-kupu dan serangga lainya berterbangan dengan riang kesana-kemari.
Pertemuan dengan pemilik rumah kaca itu berlangsung dengan cepat. Karena selama perjalanan ke sini para bandit sudah dibersihkan jadi besok waktunya untuk si pemasok bunga untuk pergi ke Konoha untuk mengantar bunga- bunganya ke Yamanaka floris. Satu-satunya yang menjadi masalah mungkin hanya cuaca yang gampang berubah-ubah, terlebih di pegunungan ini dimana perubahan cuaca sekecil apapun bisa mengakibatkan masalah yang besar.
"Tempat ini sangat indah!"Sakura berseru dengan kagum. Mata hijaunya berbinar-binar dengan takjum pada ladang bunga lavender di hadapannya sebelum dia mulai berlari dan mungkin akan berguling-guling diatas ladang bunga yang mana hal itu akan membuat Kakashi dalam masalah, tapi syukurlah Kakashi masih sempat menenangkan keriangan Sakura tepat pada waktunya, sehingga dia tidak perlu menanggung biaya kerugian.
Sasuke sendiri tidak tertarik dengan kegiatan anggota tim tujuh yang lain, dia lebih suka mengamati lingkungan baru dengan berkeliling tidak tentu arah. Sebelumnya mereka sudah berjanji akan kembali bertemu di rumah si pemilik usaha bunga karena pria itu menawari mereka untuk menginap di rumahnya, jadi Sasuke tidak perlu khawatir jika mereka terpisah, lagipula tempat ini tidaklah seluas itu meskipun bangunannya agak padat dengan toko-toko bunga dan supenir khas lainya.
Sedikit-demi sedikit jalan yang dia lalui menjadi sepi. Tidak banyak lagi terlihat toko-toko di kanan-kirinya ataupun perumahan warga. Sekarang dia hanya mendapati jalan setapak besar dengan pohon-pohon bambu sebagai pagarnya. Tempatnya begitu sejuk dan terasa begitu menyenangkan, lalu samar-samar —
Wush. Aroma yang dia kenal masuk dalam penciumannya dengan menaiki angin yang berhembus di sela-sela pohon bambu, kemudian dia mendengar suara tawa cekikan dan sensasi dari sesuatu yang menembus tubuhnya.
Dia berhenti dan melihat sekeliling dengan waspada. Pengalaman bertahun-tahun membuat kemampuannya untuk merasakan keberadaan musuh yang bersembunyi sangat baik, tapi aneh karena dia tidak bisa merasakan apapun. Hutan bambu itu tadinya penuh dengan kicauan burung, namun saat ini dia bahkan tidak bisa mendengar kepakan sayap mereka atau bahkan suara serangga.
Lalu matanya menangkap sosok berjubah hitam yang sedang membelakanginya. Meskipun ada beberapa orang lainya yang memakai jubah yang mirip, tapi Sasuke bisa mengenali bahwa sosok itu adalah orang yang dia kenal, dia kakaknya, Uchiha Itachi.
"Kakak!"Dia berseru tanpa sadar. Kakinya mulai berlari dan menggapai sosok itu, tapi sosok itu menghilang menjadi bukan apapun selain udara kosong.
Sosok itu muncul lagi di depannya, Sasuke kembali berteriak dan menggapainya tapi seperti sebelumnya, dia hanya menggapai udara kosong. Itu terus berlangsung dan Sasuke terus melakukan hal yang sama kemudian di kecewakan dengan sama menyedihkannya pula.
Ketika dia sadar dengan betapa menyedihkannya dirinya, dia sudah tidak memiliki cukup tenaga untuk mempertahankan pijakannya. Dia jatuh terjerambab diatas tanah dengan nafas kelelahan dan mulai merenungi apa yang menimpanya.
"Hutan bambu itu adalah tempat sakral. Kami di desa ini percaya bahwa disana terdapat pintu menuju dunia lain, entah itu dunia orang mati atau dunia iblis."Si pemilik usaha bunga menanggapi Sasuke yang bercerita bahwa dia habis dari hutan bambu ketika dia pulang,"Jika kau cukup beruntung, kau akan menemukan pintu menuju dunia orang mati dan menemukan kuil disana. Kuit itu memiliki banyak Tori berwarna merah yang membentang sepanjang tangga menanjak hingga halaman kuil. Menurut legenda, disana hidup seorang Miko cantik yang berusaha untuk naik menjadi seorang dewi."
Pria itu terlihat sedikit berpikir untuk mengingat sesuatu, lalu dia kemudian berkata lagi,"Menurut cerita, Miko itu gagal mencapai tempat dewa karena hatinya yang masih terikat pada dunia, sampai dia berhasil melepaskan ikatan yang membelenggu hatinya, dia akan terus berada di dalam kuil itu."
Sasuke diam tanpa menanggapi apapun, tapi Sakura yang terlihat sangat tertarik mendekatkan wajahnya dan bertanya,
"Lalu, apa yang membuat tersesat ke dunia orang mati di sebut keberuntungan? Apa karena ada Miko itu?"
Pria tua itu membuat wajah seram saat dia mengatakan,"Setidaknya Miko itu sangat cantik dan dia terlalu baik hati untuk mencelakakan manusia. Pikirkan hal macam apa yang akan terjadi jika kau masuk kedalam dunia iblis?"Pria itu berhenti dan membuat Sakura menahan nafas.
"A-apa?"Gagap gadis itu.
Pria pemilik kebun bunga tersenyum menakutkan dan berkata,"Kau akan terkurung bersama iblis-iblis itu selamanya."
Semua orang bergidik, bahkan Sasuke yang pemberani. Pria itu lalu menatap Sasuke sambil mengungkapkan senyum,"Sebaiknya kau tidak mencoba kesana lagi, nak. Kau mungkin cukup beruntung karena bisa pulang tanpa kurang apapun, tapi jangan pernah mencoba peruntunganmu lebih dari ini."
Sasuke tahu bahwa pria ini benar, tapi semakin itu benar, maka semakin dia harus melakukanya. Karena jika tidak dia tidak akan pernah mendapatkan tidur yang nyenyak.
Hay! Ini pertama kalinya di fic ini saya menyapa para pembaca. Sebelumnya saya sangat berterimakasih pada yang sudah membaca, mereview, memfav dan memfollow fic ini.
Saya baru saja menyelesaikan Final test jd baru sekarang bisa lanjut nulis. Oiya, untuk yang baru pertama kali baca fic saya, tolong jangan kaget sama seting waktu yang lompat-lompat, jadi bukannya kalian yang salah urutan membaca, atau saya yang salah publish, ya.
Sekali lagi terimakasih banyak untuk kalian. Maaf karena tidak bisa membalas Review dari kalian karena saya sendiri sangat sibuk sama urusan kampus dan urusan lainya.
Terimakasih banyak sudah mau repot-repot membaca ocehan saya yang tidak penting. Sampai jumpa lagi!
