Kai tidak dapat mengingat rasanya memiliki keluarga lengkap. Dia bertanya-tanya sejak kecil Kai tak menemukan ibunya. Ketika sudah cukup dewasa, baru lah dia mengerti jikalau ibunya meninggal demi melahirkannya ke dunia. Mungkin itulah alasan mengapa ayahnya tak pernah bisa menatapnya, bahkan beliau tak mau berada dalam ruangan yang sama dengannya karena wajah Kai yang selalu mengingatkan pada mendiang sang istri.
Walaupun bergitu ayah Kai tak sepenuhnya mengabaikannya sebagai anak. Beliau tetap membiayai kehidupan Kai, memasok jutaan hingga miliar won untuk Kai namun bagi Kai tentu saja itu tak cukup, dia membutuhkan kasih sayang seperti semua anak lain di dunia, yang tak pernah Kai peroleh dari siapapun.
Dering ringtone menarik atensi Kai, lelaki itu meletakan alat makannya dan beralih mengambil ponselnya didalam tas.
Dihadapannya Baekhyun mengagkat alis penasaran. Saat ini mereka tengah makan malam bersama di salah satu restoran dekat kampus.
Kening Kai berkerut begitu melihat nama yang menelpon. Ekspresi wajahnya menjadi kaku dan tegang sehingga Baekhyun penasaran. "Dari siapa?"
Kai menelan salivanya sebelum mengangkat telpon tersebut. "Yeobseo, Taecyeon hyung"
"Oh." Baekhyun langsung paham akan mimik tak mengenakan lelaki itu. ternyata Taecyeon anak kedua dari ketiga Kim bersaudara.
Kai memiliki dua Hyung; pertama adalah Kim Siwon kedua adalah Kim Taecyeon, kedua saudara Kai itu memiliki kepribadian yang berbeda. Siwon sangat serius dan memiliki selera humor yang payah sementara Taecyeon masih bisa diajak bercanda namun dia lebih sulit mengendalikan emosinya. Persamaan mereka ialah dimana kedua orang itu memiliki hobby menyiksa adik bungsu mereka—Kai.
Keluarga Kai begitu rumit, ibu kandung Kai bukanlah istri pertama melainkan istri kedua. Sementara istri pertamanya ialah ibu dari kedua hyungnya.
Berbeda ibu, ditambah perbedaan umur yang terlampau jauh mungkin hal itu yang membuat hubungan mereka menjadi begitu terasa mencekam.
Ibu dari Siwon dan Taecyeon sudah meninggal lebih dulu dibanding ibu Kai.
Ayah mereka menikahi istri pertamanya tersebut karena paksaan atau biasa disebut dijodohkan walau begitu hati tetap berlabuh pada ibu Kai sehingga ibu Siwon dan Taecyeon menjadi pesakitan tak bisa menanggung beban suaminya tak menyimpan rasa. Bagaikan karma ternyata setelah menikahi ibu Kai, wanita itu harus menyusul meninggal juga. Sampai saat ini tuan Kim membekukan hatinya, bahkan untuk ketiga anaknya sendiri.
Kisah cinta mengenaskan tersebut harus berdampak pada anak-anak, mereka tumbuh tanpa kasih sayang, sehingga menjadikan mereka pribadi yang kasar dan berantakan.
"Kenapa Taecyeon oppa menelpon?" Baekhyun menahan lengan Kai yang akan beranjak dari kursi. Lelaki itu bahkan tak menyentuh makanannya. Setelah selasai menelpon, dia langsung buru-buru akan pergi.
"Ruang bawah tanah" Gumam Kai dengan air muka pucat pasi. Rumah kediaman Kim terdapat sebuah ruangan yang tak terjamah oleh tuan Kim yaitu ruang bawah tanah. Tempat yang hampir mirip seperti gudang tak terpakai yang terkadang dimanfaatkan oleh Siwon dan Taecyeon untuk menyiksa Kai.
Kai hingga sekarang terkenal sebagai sosok yang kasar dan jago berkelahi. Dikarenakan dia yang selalu disiksa dan diajak bertarung sejak kecil oleh kedua kakak tirinya sendiri. Memaksanya untuk bisa bertarung dibandingkan untuk bermain seperti anak lain.
Dia tumbuh dari tangan-tangan kasar kakaknya dan ketidakperdulian ayahnya tapi setidaknya ada Baekhyun dan ibunya—nyonya Byun yang terkadang menerima Kai. Kai bersyukur untuk itu, jika Baekhyun dan ibunya tak ada, mungkin Kai akan kehilangan kewarasan.
"Jika kau butuh bantuan" Baekhyun menghidup nafas dalam sebelum melanjutkan. "Butuh ambulance, atau jika kau sekarat kau bisa menghubungiku. Hmm Kai? Kau... Tak akan mati kan?"
Kai tertawa miris akan pertanyaan menyedihkan Baekhyun untuknya. "Mereka tak akan membiarkanku mati, Baek. Tapi terimakasih" kata Kai tulus, dia sudah biasa akan perlakuan hyungnya. Bahkan rasanya Kai tidak bisa merasakan apapun lagi. Tubuhnya berdarah namun rasa nyeri bagaikan telah mati.
"Aku pergi"
.
.
.
.
Kai baru turun dari tangga dan langsung mendapatkan bogeman mentah dipipinya, dia mulai merasakan rasa karat. Bibirnya sudah sobek.
"Apa-apaan ini hyung" omel Kai kesal. Tak biasanya saat baru datang Kai langsung diserang.
"Salam rindu dari ku" cengir Taecyeon main-main. Di sisi ruangan Siwon duduk dengan elegan, memainkan smartphone-nya. Dia orang sibuk namun harus tetap turun tangan demi adik tak sedarahnya ini.
Kai meludah lantas membalas menyerang Taecyeon. Kepalan tangan Kai melayang hendak memberikan Taecyeon pukulan di perut namun Taecyeon dengan gesit memiringkan tubuh hingga Kai hanya dapat mengenai udara. Bagaikan dapat membaca pergerakan Kai kini menggunakan kaki untuk menedang dada Taecyeon. Hyung keduanya itu terpental menghantam tembok dan terbatuk hebat.
"Wow, kemajuan yang pesat" Taecyeon menekan dadanya yang seperti terbakar akibat ulah Kai.
Kai tersenyum puas, "Aku belajar banyak dari kalian" cemoohnya sedikit bangga.
Siwon bertepuk tangan. "Bravo adikku" dia mendekati Kai santai namun Kai merasa sangat terancam, dibanding Taecyeon yamg selalu bertindak gegabah. Siwon selalu tenang namun dapat dengan mudah melumpuhkannya.
"Kau tahu ini akan menjadi malam yang panjang bukan?" tanyanya dengan mimik sedih yang dibuat-buat. "Anak bodoh sepertimu harus diberi pelajaran" Siwon menepuk pipi Kai main-main.
Kai mengeram bagai binatang buas. Dia mendorong pundak Siwon kasar membuat hyung pertamanya itu mundur selangkah.
Taecyeon telah mengusai rasa nyerinya, dia mulai bangkit berdiri dan menggulung lengan kemejanya. Siap membalas perbuatan Kai sebelumnya.
"Kami orang sibuk Kai dan kau tak pernah berhenti berulah, selalu merepotkan kami." cibir Taecyeon mendekati adiknya. "Kau tau apa kesalahan mu kali ini?"
Terlalu banyak kesalahan yang Kai lakukan, Kai bahkan tak ingat lagi karena hidupnya selalu berbuat salah maka dia diam tak menjawab.
Mengerti akan sikap pasif Kai, Siwon berinisiatif menambahkan perkataan Taecyeon.
"Kau anak tolol, tak pernah bisa mengikuti pelajaran dan nilai mu selalu paling bawah."
"Diantara keluarga Kim, kau yang tidak punya otak" Taecyeon ikut menghina. mereka akhirnya kembali memberikan Kai pukulan dan tendangan hingga adiknya tersebut hampir berlumuran darah dan tergeletak tak sadarkan diri.
Kekuatan Kai memang telah berkembang jauh lebih pesat namun dia tetap tak bisa melawan dua kakaknya secara bersamaan.
,
.
.
.
Hari mulai larut malam, Luhan baru selesai mengerjakan proposalnya untuk tugas besok. Dia merengangkan otot dan beranjak menuju dapur. Membuat segelas susu hangat sepertinya ide yang baik.
"Kamjagya!" pekik Luhan terkejut luar biasa melihat sosok Kyungsoo yang tengah merenung di meja makan ditengah kegelapan. "Apa yang kau lakukan?" dia menekan saklar lampu dan penampilan Kyungsoo kini terlihat jelas. Sepupunya itu memakai kaus kusam dan celana panjang. Rambutnya kusut, kedua mata bulatnya terdapat kantung mata.
Seharusnya Luhan yang tampak berantakan karena banyak tugas namun mengapa malah Kyungsoo yang mengenaskan, seperti habis terkena angin topan saja.
Kyungsoo menghela nafas secara mendramatisir. "Aku tak bisa memejamkan mata walau sedetik."
Luhan memutar bola mata malas. "Tidurlah, kau harus kuliah besok pagi" dia berkacak pinggang. Keinginan untuk membuat segelas susu jadi hilang.
Kyungsoo tak menjawab, dia menjatuhkan kepalanya ke atas meja makan.
Belakangan ini Luhan menyadari bahwa Kyungsoo lebih pendiam dari biasanya, sepertinya sepupunya itu sedang menyimpan banyak masalah.
"Kau tahu kan jika aku akan selalu menjadi pendengar yang baik?" Kata Luhan, mengambil tempat duduk disamping Kyungsoo.
"Aku bingung harus cerita dari mana" gumam Kyungsoo ragu.
"Kita punya banyak waktu." Luhan mengelus surai panjang sepupunya itu dengan lembut sehingga Kyungsoo terbuai dan memejamkan mata sejenak. "Biar kutebak apa ini tentang Chanyeol?" Luhan mengangkat alisnya penasaran.
Kyungsoo diam saja, tak menjawab dan juga tak mengelak.
"Ada apa dengan kalian?" Luhan kembali bertanya, sudah paham betul maksud kebisuan Kyungsoo.
Selama beberapa saat Kyungsoo tak membalasnya, gadis itu sibuk dengan fikirannya sendiri lalu dia menatap Luhan gundah. "Chanyeol menyukaiku" ucapnya pelan.
"Kau baru tahu?" Luham mendengus. "Dasar tidak peka, lalu apa? Sekarang kalian pacaran" cibirnya.
Kyungsoo menggeleng. "Tidak, aku menyukai orang lain eonni" rengeknya.
Kelopak mata Luhan terbuka lebar mendengarnya. "Omo? Jinjayo? Siapa lelaki kurang beruntung itu?" ledeknya kemudian.
"Aish kau ini" Kyungsoo mendelikan mata. "Aku tidak tau dia menyukaiku juga atau tidak, dia kasar sekali, galak dan ringan tangan. Tapi aku Benar-benar menyukainya sampai rasanya aku mau meledak." adunya cemberut.
Luhan tersenyum kecil. Selama mengenal Kyungsoo dari kecil baru kali ini Kyungsoo bercerita bahwa dia menyukai orang lain namun sosok lain mengusik fikiran Luhan. "lalu bagaimana dengan Chanyeol?"
Ekspresi wajah Kyungsoo semakin sedih. Sorot matanya bahkan tampak meredup. "Aku tidak tahu, aku tak bisa menganggapnya lebih dari sahabat. Tapi dia bahkan sudah memberi ku cincin ini." Kyungsoo mengulurkan jemarinya pada Luhan, terdapat sebuh cincin emas putih yang melingkar indah disana. Chanyeol bagaikan sudah mengikat Kyungsoo secara paksa.
"Indah sekali" Luhan menyentuh cincin itu pelan, mengagumi ukirannya yang elegan.
"Aku sangat tertekan karena perasaan Chanyeol dan juga sifatnya yang pemaksa eonni. Disisi lain orang yang kusukai juga memiliki sifat yang tak jelas terkadang baik, cemburuan dan kasar."
Sorot mata Luhan melembut. Dia mengangguk pengertian. "Setiap orang memiliki kekurangan masing-masing Kyung, jika kau mencari sosok yang sempurna sebaiknya kau mencari pangeran di negeri dongeng saja. Sama dengan mustahil"
Kyungsoo tercekat dan menundukan wajahnya.
Luhan berinisiatif memeluk bahu Kyungsoo, seakan mencoba memberinya kekuatan. "Kau bingung memilih diantara mereka kan? Saranku pilihlah orang yang mencintaimu, agar kau tak tersakiti namun kebahagiaan tak akan kujamin. Kedua pilihlah orang yang kau cintai terkadang kau akan tersakiti namun kau akan bahagia. Coba tutup matamu dan berkhayal dimasa depan nanti dengan siapa waktu yang ingin kau habiskan hingga menua?"
Kyungsoo mengangkat wajahnya yang sudah berurai air mata. "Jongin" gumamnya sedih.
Luhan tersenyum kecil. "Hatimu sudah menemukan jawabannya." bisiknya menyapukan ibu jari, menghapus jejak air mata di pipi tembem Kyungsoo.
"Lalu Chanyeol apa yang harus kukatakan padanya eonni?" Tanya Kyungsoo masih kepikiran dengan perasaan Chanyeol.
"Dia akan mengerti, kau harus jujur padanya. Jangan mempertahankan seseorang karena rasa kasian dan tak enak semata. Mungkin diluar sana ada seseorang yang dapat menggantikanmu di hati Chanyeol."
"Terimakasih banyak! Kau adalah sepupu terbaik di dunia" Kyungsoo mengancungkan kedua jempolnya. "Eonni sangat pandai dalam urusan percintaan, kau calon dokter dan sangat baik namun mengapa kau tetap jomblo?"
"Aish kau ini!"
Sebelum Luhan memukulnya Kyungsoo segera berlari memasuki kamar sembari cekikikan dia menghempaskan tubuh sedikit lega. Berkat Luhan, sudah ada beberapa rencana untuknya besok pagi. Untuk membereskan persoalan percintaan mereka. Pertama adalah bertemu Kai dulu lalu setelahnya Chanyeol.
Masalahnya bagaimana alasannya untuk bisa bertemu dengan Kai. Fakultasnya dan Kai lumayan jauh. Dia masih malu akan pelukan mereka kemarin. Kyungsoo harus memiliki maksud yang jelas untuk pertemuan besok.
Ah! Kyungsoo teringat akan pakaian dan celana yang Kai berikan waktu dia berpakaian sexy. Kai sangat baik, dia tak membiarkan Kyungsoo berpakaian sexy dan rela meminjamkan bajunya sendiri.
Kyungsoo bangkit berdiri mengacak lemarinya. Setelah menemukan dua benda yang ia cari dia segera menyemprotkan banyak-banyak parfume agar ketika Kai mengenakan pakaian itu lagi. Bau Kyungsoo melingkupi lelaki tampan itu. Kai akan teringat padanya dan akan merindukan kehadirannya.
Kyungsoo terkikik geli, membayangkannya saja, dia malu sekali. Dipeluk erat-erat pakaian itu, berkhayal jika Kai yang tengah ia dekap saat ini kemudian pintu kamarnya dibuka secara tiba-tiba.
"Hmp bau apa ini" Luhan menutup hidungnya dengan keningnya bertaut.
"Aish!" pakaian Kai, Kyungsoo letakan ke kasur. "Apasih eonni" rengek Kyungsoo, Luhan pasti akan meledeknya setelah ini.
"Mengapa kau menyemprot parfume banyak sekali hah?"
Kyungsoo membuang mukanya. "Terserah aku" dia memeletkan lidah ke arah Luhan.
"Eii" tangan Luhan terangkat seakan siap memukul anak nakal itu. "Tidurlah! sudah malam, jangan cinta-cintaan terus"
.
.
.
.
Tidak biasanya pagi ini Chanyeol tidak menjemput, Kyungsoo terpaksa harus berangkat kuliah sendiri dengan menaiki angkutan umum. Sudah Kyungsoo chat namun tak dibalas dan di telpon pun tak diangkat. Kemana sahabatnya itu? Kyungsoo putuskan, akan pergi ke apartemennya saat pulang kuliah nanti.
Walaupun Chanyeol menyebalkan, suka mengatur dan tak bisa dibantah dia tetap sahabatnya yang paling ia sayangi.
Selepas kelas Kyungsoo berlari menuju fakultas bisnis, tempat Kai mengemban pendidikan. Dia mundar-mandir bingung harus menemui Kai dimana karena saat menghubungi Kai selalu tersambung dengan voice note.
"Sehun-ssi!"
Lelaki dengan earphone ditelinga terlihat di pandangan Kyungsoo. Tentu saja Kyungsoo mengenal Sehun teman satu geng Kai. Dia langsung berlari menghampiri Sehun yang melihatnya dengan alis terangkat.
"Apa?" tanya Sehun ketus. Kyungsoo meringis.
"Kau melihat Kai?"
"Dia tak masuk hari ini." sahut Sehun singkat.
"Apa dia sakit lagi?" tanya Kyungsoo lagi.
"Aku tidak tahu" Sehun kembali mebalasnya singkat.
Kekecewaan menyusup dalam relung hati. "Ah baiklah kalau begitu, terimakasih."
Sehun mengangguk dan pergi begitu saja. Tampaknya dia sedikit terburu-buru menuju kelas lain.
Kini Kyungsoo tidak tahu harus kemana agar bisa bertemu Kai. Kedua tangannya memeluk memeluk lesu tas tangan berisi pakaian Kai. Apakah dia harus ke tempat Chanyeol saja? Karena sahabatnya itu juga tak masuk.
Kemarin kedua lelaki itu memperebutkannya namun kini mereka berdua menghilang bersama. Ish menyebalkan sekali.
Saat sedang sibuk menggerutu dan berbicara sendiri seketika Kyungsoo merasakan hantaman pada tubuhnya sepersekian detik kemudian dia telah jatuh terduduk diterotoar.
Dia mendesis dan mencari tahu dengan siapa gerangan ia bertuburukan. Paras menawan seorang pria dewasa memakai pakaian kantor elegan terlihat dihadapannya.
"Maaf tuan! Aku sedang bingung... tak fokus pada jalan." Kyungsoo beralasan kemudian segera berdiri lalu membungkukan tubuhnya.
"Hmm tidak apa-apa" Pria dihadapannya itu tersenyum kecil. Sorot matanya terpaku pada pakaian Kai yang Kyungsoo jatuhkan. Alisnya terangkat dan seringainya muncul.
Merasakan firasat tak nyaman, buru-buru Kyungsoo memungut pakaian itu menyadari arah pandangan si pria, entah apa yang dipikirkannya.
"Siapa namamu, nonna manis?" tanpa disangka dia bertanya.
"Kyungsoo." walau bingung Kyungsoo tetap menjawab sebagai bentuk kesopanan.
"Kyungsoo ya. Kau mengenal adiku, Kai?" tanya pria itu.
Mulut Kyungsoo menganga. "A-adikmu? Jadi Kai adikmu? Woah." tak pernah Kyungsoo sangka dia akan bertemu keluarga Kai seperti ini. Menurut gosip kan keluarga Kai dari kalangan konglomerat, berarti Pria ini orang kaya? Wah.
"Kau terkejut sekali," dia tertawa kecil.
Kyungsoo tersipu malu.
"Mau minum kopi bersamaku? Ada yang ingin ku bicarakan" ajaknya ramah.
"Oh tentu saja tuan." Kyungsoo menganggukan kepalanya antusias. Bagaimana mungkin dia dapat menolak keluarga Kai sementara dia tergila-gila dengan Kai.
"Panggil Oppa saja, Siwon oppa"
"...oppa" Kyungsoo menggaruk pipinya ragu.
"Nah begitu, ayo."
Mereka memutuskan untuk minum coffee bersama di sebuah cafe tak jauh dari kawasan kampus. Cafe tersebut tak ramai pengunjung hanya beberapa anak muda yang terlihat mengobrol di pojok ruangan.
"Jadi kau pacarnya?"
Pertanyaan tiba-tiba itu mengejutkan Kyungsoo. "Apa?! Belum—maksudku bukan!" dia menjawab panik kemudian memukul mulutnya sendiri.
"Haha kau lucu sekali" Siwon tertawa geli. Gadis seperti Kyungsoo sangat menggemaskan dimatanya.
Kyungsoo merunduk malu. Aduh pertemuan mereka sudah buruk ditambah sikapnya aneh sekali, rasanya Kyungsoo ingin menenggelamkan diri.
Tatapan mata Siwon kini terpaku padanya. Mimik wajahnya menjadi lebih serius. "Begini Kyungsoo sebenarnya aku ingin minta tolong. Mau kah kau membantu? Kai sangat buruk di semua pelajaran, dia tak mau belajar apapun. Sepertinya dia memang berkeinginan untuk menghancurkan semua nilainya atau hidupnya. Dia benar-benar anak yang nakal" Siwon menghela nafas panjang. Mengangkat bahunya, tak bisa berbuat banyak untuk adiknya sendiri, yang ada dia malah makin menghancurkan Kai. "Kai satu-satunya penerus Kim yang tersisa... harapan kami, sedangkan aku dan Taecyeon kakak Kai yang lain, memiliki profesi berbeda. Jika kau ikut membantu memberinya motivasi untuk belajar, kami akan sangat tertolong dan tentu saja kami tak keberatan memilikimu sebagai adik ipar."
Kyungsoo kembali tersipu malu. "Tentu aku tak keberatan oppa" balas Kyungsoo merasa tersanjung. Berarti Siwon menganggapnya cukup berharga untuk bisa merubah prilaku Kai.
"Kai sangat beruntung, kakaknya sangat peduli padanya" Kyungsoo bergumam tanpa menyadari senyum di wajah Siwon luntur akan perkataannya. "Ah aku harus bertemu dengan Kai. Apa oppa tahu keberadaan Kai saat ini?" kebetulan sedang bersama sekalian saja Kyungsoo bertanya.
Siwon ragu menjawabnya, Kai pasti sedang sekarat akibat ulahnya dan Taecyeon di rumah. Tapi setelah dipikir-pikir Kyungsoo pasti akan menolong Kai. Setidaknya dia dan Taecyeon tak perlu repot-repot membawa anak tak tau diuntung itu ke rumah sakit.
"Dia dirumah, keadaannya tak begitu baik" balas Siwon singkat, tak mau menjelaskan lebih lanjut. "Berikan nomor telponmu agar aku bisa menghubungimu kelak dan akan ku sms alamat rumah kami."
"Baiklah," Kyungsoo mulai menyebutkan digit nomornya tanpa pikir panjang.
.
.
.
Ting Tong
Kyungsoo tiba di kediaman Kai pukul tiga sore, lama dia menunggu hingga pintu depan gerbang terbuka oleh seorang penjaga keamanan.
"Ada yang bisa saya bantu nona?" tanyanya memperhatikan penampilan Kyungsoo dari atas ke bawah.
"Apa benar ini kediaman Kim Kai?" Kyungsoo balik bertanya ragu.
"Tuan Kai? Anda siapa?"
"Um saya temannya." penjaga keamanan itu tampak sangat tercengang akan informasi yang Kyungsoo berikan. Apa Kai tak pernah mengajak temannya main ke rumah?
"Silakan masuk"
Kyungsoo berjalan melewati pekarangan sekitar beberapa menit, rumah kediaman Kim sangat besar dan luas. Ketika tiba di pintu utama seorang pelayan berpakaian rapi sudah berdiri menyambutnya.
"Selamat datang nona, tuan Kim sedang istirahat dikamarnya. Mari saya antar"
Kyungsoo menganggukan kepala gugup sekali. Dia memang pernah mendengar gosip bahwa geng EXO itu rata-rata orang kaya. Tak pernah Kyungsoo sangka Kai sekaya ini.
Mereka berhenti didepan pintu megah bercat hitam yang terdapat sticker beruang. Pintu tersebut tak terkunci hingga pelayan yang mengantarnya bisa masuk dengan mudah.
"Masuk lah nonna, tuan Kim sedang istirahat. Saya akan membuatkan minuman untuk anda"
Kyungsoo mengangguk bagai robot. Dia memasuki kamar Kai dengan langkah ragu. Kamar itu bernuansa merah dan hitam khas anak muda. Terdapat poster rock and roll yang tak Kyungsoo mengerti. Dia mendekati ranjang menemukan gumpalan besar diatas kasur. Bibirnya mengukir senyum tipis. Kyungsoo berniat mendekati jika saja matanya tak menangkap sebuah bingkai foto disamping tempat tidur Kai.
Kyungsoo mengambil bingkai itu, di sana foto Kai dan Baekhyun saling merangkul satu sama lain, memakai seragam sekolah menengah dan tertawa begitu bahagia. Senyuman Kyungsoo berubah menjadi kecut. Dia meletakan bingkai itu sembarangan dan beralih fokus pada Kai.
Selimut yang menutupi tubuh Kai, Kyungsoo tarik kasar hingga menampilkan sosok Kai yang babak belur.
"Astaga"
Kyungsoo menutup mulutnya terkejut dengan keadaan Kai saat ini. Memar berwarna kebiruan memenuhi wajah Kai. Bibir lelaki itu sobek dan bengkak. Jika saja paras Kai tak terpahat dalam kepalanya mungkin saat ini Kyungsoo tak bisa mengenali Kai.
"Apa yang terjadi?" dia mulai berkaca-kaca, jemarinya terulur menyentuh pipi Kai.
Sengatan sakit langsung dirasakan si lelaki yang masih terbaring, merasakan ada yang nenyentuh lukanya. Dia memaksakan membuka mata. Dari balik bulu matanya yang berat Kai melihat Kyungsoo menatapnya sedih dengan air mata mengalir deras.
Kelegaan langsung memenuhi diri, Kai tanpa sadar menarik bibirnya sedikit membentuk senyum walau bibirnya terasa nyeri.
"Kyungsoo?" bisiknya lega akan keberadaan gadis itu.
Kyungsoo langsung menjatuhkan diri di samping Kai. Dia menyusupkan kepalanya di dada lelaki itu dan makin menangis kencang. Siapa yang tak sedih jika orang yang paling kau cintai di dunia ini terluka?
"Dasar cengeng" cibir Kai menutupi perasaan senangnya akan kepedulian gadis itu. Jemari Kai yang bergetar terulur ingin menyentuh surai lembut milik Kyungsoo namun ia urungkan.
"Berhentilah berkelahi dengan orang lain. Kau memang bandel" Kyungsoo mengomeli. Tangisannya perlahan hilang berganti dengan cegukan menggemaskan.
Perkataan Kyungsoo tak bisa Kai jawab. Dia hanya memandangi gadis itu dalam keheningan. Bagaimana respon Kyungsoo jika dia tahu yang membuatnya babak belur dan hampir sekarat seperti ini adalah kakak-kakaknya?
Mungkin Kyungsoo akan shock dan merasa iba. Kai membuang muka tidak mau dikasihani.
"Untuk apa kau kemari?" tanya lelaki itu mencoba mengalihkan pembicaraan.
Kyungsoo menggaruk pipinya malu karena tindakan sebelumnya yang berani memeluk Kai lebih dulu walau sepertinya Kai tak keberatan.
"Mengembalikan pakaianmu" sahutnya malu-malu.
Kai terkekeh kemudian meringis merasakan luka pada bibirnya makin terbuka. "Aku bahkan lupa akan pakaian itu, ayo mengaku.. " tatapan matanya menjadi jahil. "Itu hanya akal-akalanmu saja kan agar bisa bertemu denganku?"
Wajah Kyungsoo makin memerah "Yah!" dia memukul pundak Kai melampiaskan perasaannya yang meletup-letup didalam sana.
Kai menyungingkan senyuman geli, selalu seperti ini keberadaan Kyungsoo pasti bisa memberinya kebahagiaan.
"Lukamu sudah dibersihkan belum?" tanya Kyungsoo perhatian, mengulurkan tangannya untuk mengelus rambut Kai yang menghalangi mata.
Tanpa menjawab Kai menggelengkan kepala, siapa pula yang mau membantu merawatnya. Taecyeon kakaknya memang seorang dokter tapi Kai memiliki harga diri yang tinggi untuk tak minta tolong pada lelaki itu lagi pula yang melukainya Taecyeon juga.
"Kau ini" Kyungsoo mendelik tanpa sadar matanya membesar mengemaskan. "Sudah makan?" tanyanya lagi.
Kai kembali menggeleng.
"Seharusnya kamu makan! Baru beberapa hari keluar dari rumah sakit lalu berantem dan tak makan lagi" Kyungsoo mulai mengomeli. "Kenapa sih kamu merusak hidupmu seperti ini?" mata Kyungsoo mulai berkaca-kaca. Diluar sana Kai terlihat baik-baik saja bahkan sangat garang namun Kyungsoo tahu didalam sana Kai sangat hancur.
Kai selalu senang menyakiti dirinya sendiri, seperti memaki dosen sehingga dia dikeluarkan dari kelas. Balapan liar atau berantem dengan siapapun yang ia temui secara random.
Mungkin cintanya untuk Kai yang dapat membuatnya merasakan apa yang Kai rasakan. Disaat Kai sakit seperti sekarang Kyungsoo merasa sakit juga. Saat Kai sedih Kyungsoo yang menangis menggantikannya seperti sekarang.
"Untuk apa..." Kai berkata hampa, tersenyum padanya sebelum mengalihkan mata memilih memandang kosong atap kamarnya. "Aku hidup tak memiliki tujuan. bernafas pun tak ada arti lagi."
Kyungsoo mengambil tangan Kai yang tergeletak lemah di samping tubuhnya. "Tolong jangan berkata seperti itu, Ada banyak yang peduli padamu contohnya aku. Lihatlah aku yang mencintaimu sampai rasanya menyakitkan" Suara Kyungsoo tercekat tak bisa lagi menahan kesedihannya.
Lelaki itu menyentuh kepala Kyungsoo lembut, menenangkan tanpa banyak kata.
"Kalau begitu" Kai beringsut mengangkat dagu Kyungsoo agar mereka bisa berpandangan, menyelami manik satu sama lain. "Mau kah kau menjadi tujuan hidupku?"
Belum sempat menjawab Kyungsoo menemukan dirinya ditarik kedalam sebuah pelukan. Tanpa pikir panjang dia balas mendekap leher Kai dan menumpahkan tangisannya disana, tangisan sedih karena pertanyaan mengenaskan Kai mampu meremukan hatinya dan juga ada rasa bahagia tersirat karena menyadari hubungan mereka menjadi meningkat lebih erat.
"Aku tak bisa berjanji banyak hal" bisik Kai mencium kening gadisnya. "Namun aku akan terus berusaha untuk menjadi lelaki yang pantas untukmu."
Dalam hangatnya dekapan Kai, Kyungsoo mengangguk kemudian membiarkan Kai menariknya kedalam ciuman panjang.
TBC
Cie udh jadian cie
