Hello, Shooting Star Ch 4

Rated M/Mpreg/Hunhan

.

.

.

"Luhan!"sehun berteriak dengan tubuh bergetar ketika tubuh luhan mulai menghilang di balik pintu menuju ruang operasi.

Ia tertunduk lemah, air mata kembali membasahi pipinya. Ia bahkan tidak tau mengapa ia menangis, ia tidak tau mengapa rasanya sakit sekali melihat luhan melindunginya. Luhan seharusnya tidak melindunginya, ia telah meniduri dan memukulinya, lalu mengapa pria itu melindunginya?

Sehun terduduk lemah di ruang tunggu, ia mengusap wajahnya kasar, tak perduli jika noda darah di tangannya mengotori wajahnya. Kepalanya terasa berdenyut karena apa yang telah terjadi. Setelah sekitar satu jam dalam ruang operasi, kyung soo keluar dengan baju operasi dan masker yang masih terlekat di mulutnya.

Sehun menatapnya khawatir "bagaimana kyung?"tanya sehun bergetar.

Kyung soo terdiam, air mata mengalir dari matanya dan tersembunyi di balik masker hijau itu, membuat sehun semakin bergetar "kyung! Katakan!"teriak sehun terlihat begitu ketakutan.

"Sehun, dia baik-baik saja"ujar kyung soo parau.

Sehun bernafas lega, rasanya tali yang mengikat raganya telah di lepaskan. Ia kemudian menatap kyung soo bingung "lalu mengapa kau terlihat sedih?"

"Sehun..."panggil kyung soo pelan.

Ia terisak pelan, dan sehun hanya diam memerhatikan. "Sejak dia masuk rumah sakit, demamnya naik dan turun. Awalnya ku kira karena terlalu banyak di pukuli."kyung soo berkata serak, sehun mendengarkan dengan tenang.

"Aku mengambil darahnya, dan hasilnya sudah keluar. Tapi aku belum sempat melihatnya"kyung soo menarik nafasnya berusaha menahan air matanya.

"hari ini aku baru menyadarinya, dia hamil sehun"

Sehun terhenyak mendengar kata-kata kyung soo, rasanya ia baru saja di hempaskan ke lubang yang begitu dalam.

"Tapi dia laki-laki kyung"jawab sehun mencoba tenang.

"Sehun-ah, di dunia ini ada laki-laki istimewa yang mempunyai rahim dan luhan adalah salah satunya"

Kyung soo mencoba tenang "dan maafkan aku, karena tusukan pisau yang terlalu dalam itu, ia keguguran. Dan mungkin, hanya mungkin, ia bisa saja tidak bisa punya keturunan lagi"

Sehun terdiam dalam hening, air mata kembali jatuh menetes memperlihatkan rasa sakit yang begitu menyesakkan dada. Matanya yang masih menangis itu berubah kosong, ia melangkah gontai meninggalkan kyung soo yang menatapnya dengan tatapan kasihan.

Sehun terduduk di ujung koridor yang gelap dan terlihat sepi. Ia menenggelamkan kepalanya dalam tekukan kakinya lalu dalam hening terdengar isakan-isakan yang ia coba untuk di telan.

Tapi tetap saja, isakan-isakan pilu itu terluncur dari bibirnya dan seakan menjadi irama kesedihannya saat ini, ia merogoh sakunya dan mengambil ponselnya lalu menelpon seseorang.

"Aku ingin pulang"

.

.

.

Sehun terbangun dari tidurnya setelah menangis semalaman karena fakta menyakitkan yang menusuknya semalam. Ia menatap jendela kamarnya yang terbuka lebar menampakkan matahari sudah bersinar di atas sana. Ia melangkah malas ke kamar mandi lalu mencuci mukanya sesekali menghembuskan nafasnya.

Suara getaran ponselnya tiba-tiba berbunyi, ia berlari lalu mengangkat telpon dari seseorang di seberang sana.

"Dia sudah sadar?"suaranya terdengar pelan, namun air mukanya terlihat sangat lega.

"Aku akan segera kesana"ujarnya cepat, lalu mematikan ponselnya kemudian berlari ke kamar mandi untuk segera bersiap-siap ke rumah sakit.

Setelah bersiap-siap, dengan cepat ia masuk ke dalam mobil hyundainya di temani sekertaris kim. Meskipun masih terlihat datar, wajah sehun terlihat lebih merona kali ini.

"Eum, sebentar."panggilnya.

Sekertaris kim menoleh "iya tuan?"

"Apa di dekat sini ada toko bunga? Aku ingin membeli bunga lili"

Sekertaris kim tersenyum "tentu, kita akan mampir ke toko bunga"

.

.

.

Sehun berdiri di depan pintu kamar luhan memegang satu buket bunga lili putih yang sepertinya disukai luhan. Ia memandangi luhan yang terduduk dari kaca kecil di tengah pintu ruangan luhan. Ia menghela nafasnya gugup, ia belum pernah membelikan bunga untuk seseorang sebelumnya.

"Masuklah"suara berat yang lembut di belakangnya menembus gendang telinganya, sehun berbalik dan mendapati kyung soo tengah tersenyum hangat disana.

"Kyung.."panggil sehun pelan sambil tersenyum tipis.

"Masuklah, dan berikan bunga itu padanya. Sudah waktunya kau memperbaiki kesalahanmu sehun"kata kyung soo lembut.

"T-tapi..."

"Masuklah"

Sehun menghela nafasnya lalu tertunduk mencoba berpikir sejenak. Ia menatap kyung soo yang balas mengangguk padanya. Sehun menghela nafasnya sejenak mencoba menetralkan rasa gugupnya dan keram yang tiba-tiba menyerang tangannya. Ia menggeser pintu kamar luhan dan mulai melangkah masuk.

Luhan tersadar setelah bergelung dalam dunianya sendiri. Ia menoleh dan mendapati sehun disana. Tapi kali ini ia tidak mendapatkan tatapan penuh benci dan amarah, tatapan sehun kali ini begitu lembut dan seakan luhan adalah satu-satunya bagi sehun. Tatapan itu seperti tatapan saat mereka pertama kali bertemu dan masih terlihat sangat sama. Luhan tersenyum, sehun yang di tunggunya kembali.

Sehun berdehem berusaha mengontrol rasa gugupnya, ia lalu menyodorkan bunga lili yang sempat di belinya tadi sambil memalingkan wajahnya. Luhan menatap bunga itu dengan takjub dan mata yang berkaca-kaca. Perlahan tapi pasti, ia mengambil bunga itu, masih menatapnya tak percaya. Ia beralih menatap sehun yang masih memalingkan wajahnya berusaha menghindari kontak mata dengan luhan.

Air mata jatuh dari pelupuk mata luhan karena terlalu bahagia, sehun terkejut dan kali ini ia menatap luhan dengan mata rusanya yang basah karena air mata itu. Luhan tersenyum meski air mata tak usai berhenti dari pelupuk matanya. Ia terpesona dengan pemandangan itu. Bagaimana luhan tersenyum, bagaimana lucunya wajah itu, dan betapa indahnya mata rusa itu. Hal itu seakan adalah pemandangan yang jarang di suguhi oleh Tuhan.

"Kau tidurlah"sehun kembali berwajah datar, lalu membantu luhan untuk membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dan tak lama luhan tertidur dengan bunga lili yang di peluknya, ia bahkan tersenyum dalam tidurnya membuat sehun tersenyum lega jika luhan menyukai pemberiannya dan menerimanya dengan baik.

Sehun bangkit dari duduknya setelah puas memandangi wajah luhan. Ia tersenyum lalu mengecup kening luhan sejenak lalu pergi meninggalkan luhan yang tertidur lelap.

Sehun mendapati sekertaris kim yang tengah berdiri menunggunya di depan kamar luhan.

"Sekertaris kim"panggil sehun.

"Ya tuan?"

"Aku ingin kau cari siapa pelakunya"ujar sehun datar dan penuh amarah.

Sekertaris kim terdiam sejenak, lalu membenarkan letak kacamatanya "baik tuan, saya akan mencari siapa pelakunya"

Sehun mengangguk, lalu pergi keluar dari rumah sakit untuk mengurus beberapa masalah di perusahaan.

Setelah tertidur cukup lama, luhan terbangun dan hari terlihat sudah sore. Baru kali ini ia merasakan tidur yang sangat nyaman dan rasanya bersemangat ketika bangun. Ia tersenyum mendapati bunga lilinya masih di sampingnya, ia membelai bunga lili itu seakan itu adalah sehun.

"Luhan!"suara itu terdengar mengagetkan luhan.

Kyung soo berdiri disana sambil tersenyum menggoda "woah, yang baru saja dapat bunga merona-rona seperti ini"goda kyung soo sedangkan luhan hanya menatapnya bingung sekaligus polos.

"Aigoo, luhan-ku sangat imut"gemas kyung soo.

"Aku membawakanmu makan"lanjutnya, sambil menunjukkan nampan berisi makanan di tangannya. Ia menaruh meja di atas kaki luhan lalu menaruh nampan tersebut.

Mata luhan berbinar, rasa lapar yang tadinya tak terasa kini terasa mendera perutnya. Ia mulai memasukkan mulutnya kedalam mangkuk dan memakan makanannya.

"Luhan!"teriak kyung soo membuat luhan berjengit kaget.

Kyung soo menatapnya kesal lalu menggeleng-gelengkan kepalanya "kau harus belajar menggunakan tangan oke? TANGAN"kata kyung soo penuh penekanan sedangkan luhan hanya menatap kyung soo datar.

Kyung soo lalu mengeluarkan sumpit khusus anak-anak yang tadi di bawanya. "Ini, kau harus berlatih dengan ini"ujarnya lalu mempraktekan bagaimana cara penggunaannya.

Luhan kemudian mencoba mempraktekkan apa yang telah kyung soo ajarkan padanya tadi. Ia berusaha keras, namun makanannya terus jatuh yang diiringi dengan desahan frustasi darinya membuat kyung soo terkikik. Luhan masih mencoba, hingga akhirnya luhan mampu mengambil makanannya dengan sumpitnya lalu memasukkanya ke dalam mulutnya membuat kyung soo berteriak senang dan bertepuk tangan. Lalu menit-menit berikutnya luhan sudah mulai terbiasa dengan sumpit khusus anak itu.

Kyung soo menatapnya takjub "woah, kau belajar dengan cepat luhan"

"Cobalah bicara! Sebut 'sehun'"ucap kyung soo.

Luhan membuka mulutnya dan menggerak-gerakannya namun suaranya sama sekali tak keluar membuatnya mendesah frustasi. Kyung soo tersenyum lalu menepuk bahu luhan pelan "tidak apa-apa aku yakin kau pasti bisa nanti"kekehnya.

"Baiklah, waktu istirahatku sudah selesai. Kau beristirahatlah luhan"kyung soo tersenyum hangat, lalu mengambil nampan dan pergi.

Luhan tersenyum lalu mulai berbaring dan kembali terlelap, karena terlalu banyak yang di alaminya, ia begitu cepat merasa lelah. Ia terus terlelap tanpa ingat waktu dan matahari sudah tenggelam dengan sempurna.

Tak lama suara pintu ruangannya terdengar di buka. Suara langkah kakinya yang familiar dapat di dengar luhan dan cukup untuk membuatnya terbangun dan merasa gugup. Lelaki yang baru saja masuk menaikkan satu sudut bibirnya "baru saja bangun, putri tidur?"

Tubuh luhan mulai bergetar, pria itu menatapnya tajam dan penuh amarah. "Sudah kubilang jangan menggangguku, hum?"ia tersenyum iblis lalu menyetrum luhan lagi.

Luhan kejang-kejang dan merasa lemas dalam beberapa saat. Pria itu tertawa dan terdengar mengerikan bagi luhan. Ia menarik rambut luhan, memaksa luhan agar bangkit, luhan meringis pelan merasakan sakit di bagian kepalanya. "Kau mati luhan, kau akan mati bersama sehun. Tunggulah"

Ia menyeringai "dan kau akan mati sebagai pembunuh orang tuanya di mata sehun" ia kembali menyetrum luhan berkali-kali lalu mengambil sesuatu dari kantongnya dan menaruhnya di tangan luhan yang sudah terkapar lemas kemudian pergi meninggalkannya.

Luhan terbaring lemah, air mata jatuh dari sudut matanya dan kemudian ia tak sadarkan diri.

.

.

.

Sehun melangkah menuju sebuah gedung tua yang gelap dan jauh dari keramaian. Gedung itu sudah penuh akan para anak buah sehun. Ia melangkah dalam hening dan gelap, lalu mendapati seorang pria yang wajahnya sudah babak belur terduduk dan terikat di sebuah kursi.

"Dia?"tanya sehun pelan.

Sekertaris kim tampak mengangguk hormat ke arah sehun. Pria di hadapannya menyeringai santai dan menatap sehun nyalang.

'Buk'satu pukulan yang cukup keras mendarat di wajah pria itu.

Meski tampak kesakitan, pria itu tampak santai dan tertawa "hanya segini bocah?"ujarnya santai.

Sehun kembali memukulnya berkali-kali dengan rasa geram, hingga membuat pria itu bahkan tak sanggup lagi untuk sekedar membuka matanya.

"Katakan... mengapa kau mencoba membunuhku?"sehun mencoba tenang.

Pria itu tertawa kecil "bukan aku yang memulai ini semua, tapi orang tuamu"jawabnya parau.

Sehun mengernyit "orang tuaku?"

"Orang tuamu menyuruh seorang anjing pembunuh untuk membunuh orang tuaku, sialan"pria yang tampak tangguh itu kini terlihat menitikkan air mata yang bercampur dengan darahnya.

"Setelah itu ayahmu merampas semua kekayaan kami, dan kupikir aku bisa membalas dendam setelah kudengar mereka punya anak tunggal. Dan kau tau? Aku bahagia ketika kudengar orang tuamu mati"

Sehun terdiam mendengar penuturan pria itu, tangannya terkepal bersiap memukul pria itu lagi.

"Kau... kau pikir berapa keluarga di luar sana yang sudah di bunuh ayahmu? Hah?"

Pria itu tersenyum "kau pikir, bagaimana ia mendapatkan semua kesuksesan itu dalam waktu yang begitu singkat?"

Sehun terdiam, ia memang merasa janggal dengan kesuksesan ayahnya sejak duduk di sekolah menengah, tapi dia tidak pernah ambil pikir panjang.

"Tidak mungkin!" Satu pukulan kembali melayang.

"Seseorang mengirim email padaku mengatakan bahwa jika aku bisa membunuhmu, aku bisa mendapatkan kembali aset orang tuaku, dan kupikir aku harus melakukannya hitung-hitung balas dendam"

Nafas sehun mulai tersengal-sengal, ia terlalu mendapat banyak shock, dan ia masih belum mempercayai apa yang di katakan pria itu. Ia mencoba tenang, lalu berbalik menatap sekertaris kim dengan mata kosongnya "bunuh dia"

Sekertaris kim sedikit membulatkan matanya lalu mengangguk mengiyakan permintaan sehun. Sehun berlari keluar gedung, lalu masuk ke mobilnya tanpa supir dan mengemudikan mobilnya dengan begitu cepat menuju rumah sakit.

Ia berlari cepat ke ruangan luhan, ia tidak sabar bertemu luhan untuk sekedar melihat senyumnya dan menenangkan dirinya. Dadanya terasa sesak, ia membuka pintu kamar luhan dan secara ajaib nafasnya mulai teratur ketika mata elangnya mendapati luhan terbaring di atas tempat tidurnya dan terlihat damai.

Ia tersenyum lalu melangkah mendekati luhan, menggenggam tangan luhan dan mulai menangis sejadi-jadinya tanpa tahun luhan sedang pingsan. "Hiks, mengapa semua terasa berat bagiku"sehun terisak keras.

"Mengapa begitu banyak rahasia disini? Mengapa aku melewatkan banyak hal?"ucap sehun parau.

Ia menggenggam tangan luhan begitu erat, dan tiba-tiba ia merasakan sesuatu dari tangan luhan, seperti ada sebuah benda yang sedang di genggamnya. Ia mengambil benda itu dari tangan luhan, lalu terlihatlah sebuah kalung yang tidak asing lagi bagi sehun.

Kalung putih dengan bintang itu milik ibunya, ia masih ingat betapa ibunya sangat menyukainya kalung itu. Sehun merasa terhenyak, bagaimana bisa luhan mendapatkan kalung itu? Apakah luhan benar-benar membunuh ibunya?

Ia menatap luhan, matanya kembali menunjukkan rasa benci dan amarah. Luhan dengan perlahan membuka matanya dan tersadar dari pingsannya. Ia tersenyum mendapati wajah sehun disana, namun senyumnya menghilangan hanya dalam beberapa Detik ketika mata rusanya bertemu tatap dengan mata sehun yang kembali menatapnya nyalang.

"Sialan kau, jalang!"teriak sehun kemudian memukuli luhan beberapa kali di wajah membuat bibir luhan kembali mengeluarkan darah segar.

Tubuh luhan mulai bergetar. Apa yang terjadi? Mengapa sehun berubah dengan begitu cepat? Ia bersikap manis tadi siang, lalu mengapa sekarang ia bersikap seperti ini? Luhan menitikkan air matanya.

"Berhenti menangis! Aku tidak akan luluh dengan tangisanmu!"satu pukulan mendarat di perut luhan membuat luhan langsung memuntahkan darah.

"Aku... aku sudah mempercayaimu, kau sialan. Aku... aku pikir kau bukanlah..."sehun merasa tak sanggup menyelesaikan kata-katanya, air matanya juga tak sanggup ia tahan.

Ia segera berlari keluar, mengusap wajahnya kasar lalu menelpon seseorang.

"Aku dan luhan akan pulang, siapkan dua mobil. Aku terlalu jijik untuk berbagi tempat duduk dengannya"ujar sehun datar, kemudian mematikan ponselnya.

"Kali ini aku tidak akan peduli dengan kesehatanmu, kau akan di kurung seumur hidupmu luhan"

.

.

.

"Sehun! Kau tidak bisa melakukan ini!"kyung soo berteriak sambil menangis sedangkan sehun hanya membuang muka dan diam.

"Sehun! Kau bukan orang seperti ini!"

"Aku orang yang seperti ini! Aku bukan sehun yang dulu kyung soo! Terimalah itu!"bentak sehun.

Kyung soo terdiam masih menangis.

"Dan aku tidak akan berbuat baik dengan orang yang telah membunuh orang tuaku, kyung..."lanjut sehun melemah kemudian masuk kedalam mobilnya dengan cepat.

Kyung soo terdiam menatap sehun dari luar mobil sambil menangis, sedangkan sehun hanya memilih memandang ke depan dengan wajahnya yang datar. Di belakangnya luhan sudah ditarik paksa, dan kini terduduk dalam mobil yang terparkir di belakang mobil sehun. Luhan menyenderkan kepala ke kaca mobil berusaha menetralkan rasa pening yang menyerang kepalanya.

Air mata kembali jatuh, teringat bagaimana cara sehun menatapnya dan memukulinya tadi. Mengapa ketika ia sudah merasa sangat bahagia, lalu semua itu hancur hanya dalam sekejap?

Tak lama kemudian, kedua mobil itu mulai berangkat menuju rumah. Luhan masih menangis dalam hening, jalan begitu sepi karena hari memang sudah larut malam.

Luhan memejamkan matanya sejenak, mencoba tenang dan berhenti menangis.

'Ciiit'bruk'

Luhan membuka matanya, rasa pening langsung menyerang kepalanya, tubuhnya terasa sakit di tambah bekas luka tembak dan luka tusuknya yang kini kembali berdarah. Ia mencoba bangkit meski tubuhnya terasa lemas, telinganya terus berdengung dan waktu terasa berjalan begitu lambat. Luhan menyadari bahwa dirinya kini tak lagi berada di sebuah mobil.

Tangannya bertumpu pada sebuah pohon. Nafasnya tersengal dan kakinya pun rasanya tak kuat membopong tubuhnya dan bahkan untuk sekedar berjalan. Ia menoleh ke sekelilingnya yang begitu gelap, lalu melihat sebuah mobil yang tadi ia naiki sudah terbalik tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia meringis dan mencoba mencari seseorang, ia mencari sehun, ia mengkhawatirkan sehun. Dimana sehun? Apakah ia baik-baik saja?

Ia menggerakkan mulutnya mencoba memanggil sehun, namun suaranya masih tak mau keluar. Ia meringis karena lukanya semakin bertambah sakit, ia kembali menggerakkan mulutnya dan mencoba sekuat tenaga untuk mengeluarkan suaranya "s- seh..."

"S-sehu... s-sehun..."panggilnya parau dan terdengar kaku.

"S-sehun" ia mencoba berteriak namun ia tidak punya lagi tenaga. Ia melepaskan tumpuannya pada pohon, dan mendekati mobil,namun karena jalan yang begitu licin luhan terpeleset dan jatuh ke dalam sebuah sungai dengan arus yang cukup deras.

Luhan membuka matanya, menatap bulan yang terlihat begitu indah dilihat dari bawah air.

Aku menunggumu

Aku mencintaimu

Bahkan dari ketika kita saling menatap mata.

Aku mencintaimu

Aku mencintai bagaimana cara kau menatapku ketika itu

Aku merasa hangat

Dan seakan tidak ada yang akan menatapku rendah.

Sehun...

Tidakkah kau ingat aku?

Tidak perlu ingat dalam otakmu

Ingatlah aku

Dalam hatimu, carilah aku dalam hatimu.

Luhan menaikkan tangannya seakan-akan ingin menggapai bulan itu. Ia tersenyum, dan mulai memejamkan matanya kembali.

.

.

.

5 years later

Sehun tergeletak lemah di atas lantai sambil memegang sebotol wine di tangannya, air mata mengalir dari pelupuk matanya melewati hidung mancungnya. Setelah kejadian lima tahun lalu, dimana ban mobilnya pecah dan rem mobil yang dinaiki luhan blong yang menyebabkan luhan menghilang selama 5 tahun terakhir ini dan sehun yang koma selama beberapa bulan.

Dan sekarang beginilah keadaan sehun. Ia mulai menjadi workaholic dan alcoholic. Ia sudah mengerahkan semua anak buah, detektif swasta, dan bahkan polisi untuk segera menemukan luhan. Namun mereka tidak menemukan luhan selama 5 tahun ini. Luhan seakan menghilang jauh di telan bumi sejak mobilnya masuk ke jurang, sedangkan mobil sehun terbanting-banting dan terpental beberapa meter.

Rasa rindu yang teramat begitu mendera hatinya selama lima tahun belakangan. Hatinya kosong dan hari-harinya hanya ia isi dengan kerja penuh, lalu setelah bekerja ia akan minum wisky atau wine hingga mabuk, lalu paginya ia akan bekerja kembali. Ia menjalani hidupnya seperti itu selama lima tahun ini. Tidak ada yang istimewa baginya, semua yang ia lakukan seakan menjadi sia-sia tanpa keberadaan luhan di sampingnya.

Ia begitu menginginkan luhan, menatapnya,menciumnya dan mengecap tubuhnya lagi dengan cara yang lembut. Ia menginginkan luhan berada dalam jarak pandangnya dan mendapatkan senyum luhan setiap hari, senyum yang ia berikan ketika luhan mendapat bunga di rumah sakit ketika itu.

Sehun tertawa kecil dalam hening, ia meneguk wine-nya hingga habis, kemudian jatuh tertidur lelap.

"Tuan"

Sehun terbangun oleh suara sekertaris kim dan matahari juga sudah terlihat begitu benderang. Sehun berdecak kesal melirik jam dinding dengan malas.

"Anda harus menjaga kesehatan anda tuan"ujar sekertaris kim, namun tak diindahkan oleh sehun.

"Kita ada jadwal tuan, ingat? Kita akan membicarakan kontrak perusahaan cho corp. Kau tau ini begitu penting, tuan"

Sehun berdecak kesal "baik, aku bangun"sehun bangkit dari tidurnya, lalu melangkah cepat menuju kamar mandi.

.

.

.

"Jam 3 ada meeting mengenai hotel baru di pulau jeju, lalu-"

Sehun memotong perkataan sekertaris kim yang sibuk menyebutkan jadwal sehun "jam 3 di batalkan, ganti besok. Jam 3 aku harus ke suatu tempat"

Sekertaris kim menghela nafasnya "kau akan ke jurang itu lagi tuan?"tebak sekertaris kim karena sudah menjadi acara rutin sehun setahun sekali, setiap tanggal dimana luhan menghilang, ia akan pergi ke jurang itu, berharap ia bertemu luhan disana.

Sehun hanya diam tak berniat menjawab. Setelah keheningan itu cukup bertahan lama, akhirnya mereka sampai di kediaman cho seung hwan, yaitu Pemilik perusaha cho corp, salah satu perusahaan terbesar di korea dan jepang. sehun keluar dari mobilnya dan merasa takjub melihat bagaimana rapi dan bersihnya rumah adat korea itu. Ornamen-ornamen khas seperti istana zaman joseon di tambahkan dalam pilar-pilar rumah itu. Pohon mapple besar dengan daunnya yang sudah berwarna coklat itu berdiri tegak di taman rumah serta bunga-bunga musim semi di tata dengan baik.

Dan dari salah satu bunga itu, terlihat satu petak bunga lili putih yang di tanam agak jauh dari bunga lainnya. Sehun mendekati bunga itu dan kembali merasa sesak. Setiap ia melihat bunga lili, semua memori akan tertuju pada luhan. Bagaimana ia tersenyum ketika mendapat bunga lili darinya hari itu. Sehun menarik nafasnya berusaha menahan tangis.

"Eoh! Apa kau oh sehun? Ayah sedang menunggu di dalam"suara yang asing itu menembus gendang telinganya.

Ia menoleh, lalu detik berikutnya matanya membulat, nafasnya tersengal dan reflek ia mundur satu langkah.

Pria mungil dengan kacamata yang terpasang imut di hidungnya menatap sehun bingung, karena reaksinya yang tidak biasa.

Pria itu berdehem lalu melepas kacamata bacanya, mungkin karena itu sehun terkejut?.pikirnya

"Ahh, aku lupa memperkenalkan diri namaku Cho Luhan. Kau bisa memanggilku luhan"ujar pria bernama luhan itu sambil tersenyum manis, mirip sekali dengan senyumnya di hari itu.

"Ayah sudah menunggu di dalam, ayo masuk"ujarnya

Sehun masih terdiam tanpa kata, ia begitu terkejut bagaimana pria di hadapannya bisa mirip sekali dengan luhan. Cara mereka tersenyum pun terlihat sama, hanya saja luhan ini berbicara dan terlihat sangat sopan. Sekertaris kim pun tak kalah terkejutnya.

"L-luhan..."

"Ya?"

TBC

Holaa, your review make it fast:)