We Can't Be Together

Chapter 4

Romance/ Hurt/ Comfort

GenderSwitch/OOC/Typos/Dll.

ChenMin as Main Pair, slight other pair

Disclaimer by SM Ent., their family and God.

Author : Akita Fisayu

-0-0-0-0-

Slepp!

"Emmhh!?"

Chanyeol menyumpal mulut Baekhyun tepat sebelum yeoja itu mengatakan aib Chanyeol. Semua mata langsung menatap keduanya dengan heran.

" 'Kau, kan, yang tadi' apa, Baekhyun?" tanya Yongguk.

"Ah, dia tidak mengatakan apapun, kok. Iya, kan, Baekkie?" Chanyeol meringis ke arah Baekhyun yang melototinya. Berusaha memasang tampang memelas agar yeoja imut yang berada di cengkramannya mengangguk.

"…!" Baekhyun terpaksa mengangguk agar Chanyeol melepaskan tangannya.

"Oh, ya sudah." Yongguk berbalik dan menginstruksikan agar semua kembali ke kegiatan masing-masing. Chanyeol diam-diam menghela napas lega kemudian melepaskan tangannya dari mulut Baekhyun.

"Pfuaah! Yah! Kau gila! Aku hampir sesak napas tadi!" omel Baekhyun begitu hidungnya menghirup udara segar.

"Mianhae, tapi hampir saja kau membuka aibku tadi…" Chanyeol menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lantas tersenyum creepy.

"Aissh, siapa suruh kau mengompol di lorong!?"

"Apa? Siapa yang mengompol?" Suho rupanya tidak sengaja mendengar percakapan keduanya, dan bertanya penasaran. "Chanyeol?"

Baru Baekhyun akan menjawab, Chanyeol sudah menyela dengan panik. "Awawawaa! Bukan, hyung! Bukaan..! Aku dan Baekhyun tadi menemukan seekor kucing kencing di lorong tadi! Sumpaah!"

Suho mengangkat alis melihat kehebohan Chanyeol sedangkan Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya. Alasan yang bodoh…

"Benarkah?"

"Iya! Jadi, hyung, tolong, deh, lupakan soal mengompol.. Dan PERGI! PERGI!" Chanyeol mendorong-dorong tubuh Suho yang kecil. Suho pun limbung dan hampir terjatuh ke lantai kalau saja Kai tidak melihat dan sigap menariknya.

"Yaa! Kau apa-apaan, Yeollie hyung?! Suho hyung, gwenchanayo?" tanya Kai, khawatir.

Suho mengangguk. Masih sedikit pucat gara-gara nyaris jatuh terjerembab.

"Mi, mianhae, hyung!" Chanyeol merasa bersalah.

Kris dan yang lain menggeleng-gelengkan kepalanya. Berisik sekali.

"Ya sudah, ayo, saya antar kembali." Yongguk lalu beralih ke trainee-trainee. "Kalian, kembalilah berlatih. Terima kasih sudah meluangkan waktu."

"Nee!"

Yongguk kemudian mengajak manajer dkk. kembali ke lobi gedung utama.

-0-

"Tadi sepertinya kau akrab sekali dengan trainee yeoja bernama Byun Baek Hyun. Di mana kalian berkenalan, eoh?" tanya Kris pada Chanyeol ketika rombongan dari EXO Ent. sudah berada di dalam van.

"Aku mengenalnya ketika kami berdua secara tidak sengaja melihat kucing pipis sembarangan di lorong." Jawab Chanyeol asal. Malas mengungkit-ungkit hal-hal yang berhubungan dengan kejadian memalukan yang sebenarnya di lorong dekat toilet.

"Jinjja? Aku tidak merasa melihat satupun ekor kucing berkeliaran tadi." Tanggap Sehun, bingung. Chanyeol melirik Sehun seolah mengatakan 'tidak-usah-ikut-ikut-kau-magnae'.

"…"

Suho menatap Chanyeol, lama. Wajah yang biasanya ramah bak malaikat tanpa sayap itu terlihat curiga dan penasaran.

"Celana siapa yang kau pakai itu, Yeol?"

DEGG!

Chanyeol mendadak merasa lidahnya kelu dan hatinya remuk redam oleh perasaan malu. Sambil menabah-nabahkan diri, namja setinggi tiang itu menoleh kaku ke arah Suho.

"Ta, tadi…" Chanyeol berusaha mencari alasan yang.. logis. "C… Celanaku basah, hyung! Ya, aku menyiramkan air terlalu keras..! Jadi.. Aku pinjam celana salah seorang trainee.."

Semua yang tadi memasang telinga untuk mendengar alasan Chanyeol tidak berkomentar. Mereka tahu personel yang berposisi sebagai rapper itu hanya berbohong. Tapi mereka tidak mempermasalahkannya. Mereka bukan yeoja yang suka seenaknya membesarkan masalah kecil. *o_o

"Setelah ini kita mau ke mana?" tanya Sehun pada manajer. Karena dia berada di belakang dan manajer sedang menyetir, Sehun terpaksa menjulurkan tubuhnya ke depan untuk bertanya.

"Bersenang-senang. Chen-ssi menyuruhku mengajak kalian pergi jalan-jalan untuk menyegarkan pikiran." Jawab manajer.

"KYAAAAA~! CHEN HYUNG BAIK SEKALI!"

Manajer kaget mendengar teriakan super keras yang membahana dari mulut setiap anggota M1. Hampir saja namja paruh baya itu membanting setir dan menabrakkan van ke pohon di pinggir jalan.

"YAA! Kalian mau membuatku jantungan, eoh?!"

Kris dkk. Hanya bisa tersenyum meminta maaf. Tapi Kai dan Sehun memasang tampang innocent khas magnae.

-0-

Henry menyiramkan sebotol air di kepalanya. Dia mendongak, mulutnya sedikit terbuka. Ekspresi namja imut itu seksi, bagi semua mata yang memandangnya.

"Jangan memasang ekspresi menggoda seperti itu, Mochi."

Tiba-tiba selembar handuk menimpuk dan menutup wajah Henry. Dengan kesal, Henry menyingkirkan handuk dan melotot pada seorang namja tinggi berambut merah yang tersenyum geli menatapnya.

"Apa-apaan kau, gege? Aku kepanasan, tahu!" rengut Henry, mencibir.

"Kita semua kepanasan, Mochi." Zhoumi, nama namja berambut merah, menekankan. "Tapi aku dan yang lain masih sadar diri untuk tidak melakukan hal-hal yang memancing fans fanatik untuk berbuat hal-hal yang nekat."

"Masa bodo. Pokoknya aku kepanasan! Hufft…" Henry balik melemparkan handuk itu dan duduk bersandar malas di kursinya. "Kapan acara membosankan ini selesai?" keluhnya.

"Yah… Mungkin masih lama." Jawab Zhoumi, menaruh tangan di atas matanya agar tidak silau, matanya memandang sipit ke depan. "Pembawa acaranya masih bertele-tele. Hahh… Apa tidak tahu kita sudah kepanasan di sini?" Zhoumi ikut mengeluh.

"Kalian ini.. Mengeluh saja."tegur namja tampan yang berbadan kekar. Choi Si Won. "Kita harus professional. Jangan sampai fans dan anti fans mengecap kita sebagai boyband manja yang suka diladeni dengan hal-hal mewah. Setidaknya kita sudah diberi terop untuk berteduh."

"Iya, iyaaa… Gegee…" ZhouRy sengaja mendayu-dayukan suara mereka untuk menggoda Siwon yang menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Hahaha, sudahlah. Jangan ribut terus. Setelah ini pengumuman pemenang penghargaan." Lerai namja berwajah oriental. Sang leader, Han Geng.

"Apa kita akan menjadi juara?" tanya Henry, antusias.

"Kau percaya diri sekali kita akan menang…" Han Geng menggeleng-gelengkan kepalanya. Mirip sekali dengan tingkah Siwon.

"Lho? Kita harus optimis, ge. Mana ada orang berharap dirinya kalah?" Kali ini namja imut bertubuh tinggi yang sedari tadi asyik bermain PSP yang angkat bicara. Cho Kyu Hyun.

"Iya, sih…. -_- "

"Ssstt! Diam!" Kim Ryeo Wook memukul kepala semua personel yang berisik dengan gulungan poster dan memaksa diam. MC mulai membacakan pemenang awards.

"Pemenang Best Girlband of The Year adalah… Girls Generation!"

Sorak sorai dan tepuk tangan membahana ketika sembilan yeoja cantik naik ke atas panggung dengan wajah sumringah dan tak percaya. Sang leader, Kim Tae Yeon, memberi pidato singkat sebelum kembali ke tempat duduk.

"Pemenang Best Solois of The Year adalah.. Kim Hyun Joong!"

Sama seperti Girls Generation, Kim Hyun Joong naik ke atas panggung disertai teriakan-teriakan selamat.

"…."

"…"

"…."

30 menit kemudian…

"Dan.. Pemenang Best Boyband of The Year adalah.. Super Junior M!"

Han Geng dkk. Berdiri. Sambil menebar senyum, namja-namja tampan multitalenta tersebut berjalan menuju panggung.

Henry tersenyum lebar. Dia tidak sabar memberitahu Xiumin tentang ini!

-0-

Chen menyetir mobilnya santai, meski pandangan matanya masih tajam menatap ke depan. Dia sudah meminta Lay meng-cancel semua jadwalnya, juga jadwal M1.

Boyband asuhnya itu juga sesekali harus diberi liburan. Chen merasa simpati setelah berkali-kali mendapat teror 'kitty eyes' serta ekspresi memelas setiap member M1 pulang dari acara dan tak sengaja bertemu dengannya. Apalagi Sehun dan Kai hobi sekali mengutilnya hanya untuk memprotes jadwal padat mereka.

'Mungkin setelah ini mereka akan berhenti merengek.' Pikir Chen.

Namja tampan itu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, berniat mengunjungi suatu tempat.

Almamaternya, Kyung-Hee University.

-0-

Xiumin membaca lembar-lembar diktat di depannya dengan serius. Gara-gara menjadi trainee, ia hampir mengabaikan kuliahnya. Sekarang ia hanya punya waktu 2 tahun untuk membuat tugas akhir.

"Hahh…" desah Xiumin, meletakkan diktat di mejanya dan berdiri, ia lelah.

"Mau ke mana, Xiu?" tanya Sunny, teman sebangkunya.

"Aku mau ke kantin, Sunny-ah. Titip sesuatu?" tawar Xiumin sambil menggulung rambutnya dengan ikat rambut.

"Terserah. Kalau bisa, jus buah ya." Pesan Sunny. Yeoja mungil itu memperhatikan Xiumin. "Kau tidak melepas kacamatamu, Xiumin?"

"Ah." Xiumin menyentuh kacamata berwarna bening yang menghiasi wajahnya. Ya, ia memiliki minus 0,5 di matanya. Dan ia hanya memakai kacamatanya ketika belajar atau merasa perlu. "Tidak apa-apa. Aku pergi dulu, yaa~"

Sunny mengangguk. Xiumin segera berjalan menuju kantin.

Di tempat parkir Kyung-Hee University.

Chen memarkirkan mobilnya, kemudian melangkah keluar. Menghirup udara universitas yang tak lama tak dirasakannya.

'Nah.. Sekarang aku akan ke mana?' batin Chen, menatap sekeliling. Banyak mahasiswa-mahasiswi yang bercengkrama. Mengingatkannya akan masa lalu, ketika ia masih menjadi mahasiswa di sini.

Chen akhirnya membiarkan kaki-kakinya melangkah tanpa tujuan. Karena memang ia hanya iseng kemari, siapa tahu ada petunjuk mengenai keberadaan Xiumin.

Tap

Tap

Dukk!

Tanpa sengaja, bahunya menyenggol bahu seorang yeoja berkacamata. Chen refleks mundur.

"Maaf."

Yeoja itu mengelus bahunya sejenak dan sedikit mendongak menatap Chen. Mulutnya yang ingin memarahi urung terbuka, malah matanya melebar sempurna melihat sosok di depannya.

"N, ndee."

Chen mengamati yeoja yang disenggolnya. Rambutnya tergulung rapi, menampilkan leher jenjang yang putih. Matanya–

"Mi, mianhae. Aku buru-buru. Permisi.." sela Xiumin, si yeoja, lalu bergegas ambil langkah seribu.

Sementara itu Chen terpaku. Ia tidak sempat menganalisis mata yeoja itu, tapi…

Ia yakin kalau itu mata Kim Min Seok, yeojachingu-nya.

"T, tunggu!" teriak Chen. Dengan cepat berbalik dan berlari. Tapi sia-sia, Xiumin telah hilang.

Chen menggeram. "Yang pasti, Xiumin-ku masih berada di universitas ini..!"

-0-

"Haah, hahh, hah.."

Xiumin terengah. Antara terkejut dan tak percaya, ia benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan Chen di sini, di universitas.

'Gawat.. Aku harus segera pergi…' pikir Xiumin, kalut. Dengan langkah yang dipaksakan, ia menuju kelasnya yang berjarak beberapa meter dari tempatnya.

"Sunny-ah!"

Sunny menoleh. "Ah, Xiuminnie! Mana pesananku?"

"Mianhae, aku tidak sempat membelinya." Xiumin menyambar tasnya. "Tolong absenkan aku, kalau ada yang mencari, bilang saja aku tak pernah ada di sini!"

"Eh? Wae?"

"Lakukan saja, jebal!" mohon Xiumin. Sunny mengangguk ragu-ragu.

"Gomawo! Pay pay!"

Sunny menatap kepergian Xiumin dengan muka aneh. "Kenapa, sih..?"

.

Tak lama setelah kepergian Xiumin, Chen datang ke kelas dengan terengah-engah. Ia langsung menghampiri Sunny yang duduk di depan.

"Permisi.. Apakah ada yeoja bernama Xiumin di sini..?"

Xiumin? Sunny langsung paham. Mungkin Xiumin dikejar-kejar namja tampan ini. "Tidak ada orang bernama Xiumin di sini, tuan."

Chen menatap tajam Sunny. "Jangan berbohong, nona."

"Sungguh, tuan. Untuk apa saya berbohong?" Sunny memutar kedua bola matanya. "Daripada mencari orang bernama Xiumin itu, bagaimana kalau saya menemani anda..?" tanyanya nakal. "Anda pasti lelah mencari-cari Xiumin, bagaimana kalau istirahat sejenak, hmm…?"

Chen bergidik. Ia buru-buru berbalik dan berlari. 'Yeoja itu mengerikan.' Pikirnya, ia bersumpah tidak akan kembali lagi ke kelas itu.

Sedangkan Sunny tertawa terbahak-bahak di tempatnya. Ia berhasil mengerjai namja itu dan sepertinya namja itu ketakutan, sehingga mungkin tak akan berani lagi mendatangi kelasnya.

'Yes! Kau aman sekarang, Xiu!' sorak Sunny dalam hati.

-0-

"Hossh.. Hoshh.. Hoshh.."

Xiumin bersandar di balik dinding di belakang gedung universitas. Napasnya terengah-engah, bahkan lambungnya perih dan jantungnya berdegup kencang. Benar-benar capek.

'Semoga Chen oppa tidak menemukanku di sini…' batin Xiumin.

Xiumin menjatuhkan tubuhnya perlahan lalu dipeluknya kedua lututnya. Wajahnya berubah sendu.

"Chen oppaBogoshippo…" lirih Xiumin.

Di tempat Chen :

"AARRGHH!"

Chen memukul setirnya dengan geram. Kenapa?! Padahal ia sudah menemukan Xiumin! Kenapa yeoja itu malah menghindarinya? Apa memang salah orang? Tapi ia yakin sekali kalau tadi itu kekasihnya! Kekasih imutnya yang telah lama menghilang…

Apa jangan-jangan Xiumin menghindarinya karena sudah tidak mencintainya lagi…?

Chen membeku memikirkan asumsi itu.

'Seokie… Benarkah itu..?'

TES

Air mata Chen jatuh. Namja dingin itu memelankan laju mobilnya dan menyeka pipinya, menatap tak percaya pada setetes air yang membasahi punggung tangannya.

"Seokie-yah…" gumamnya.

Chen buru-buru membanting setirnya ke kanan –menyebabkan beberapa kendaraan berhenti mendadak dan meng-klakson marah– tapi tak dipedulikannya. Ia mengebut, menuju sungai Han.

Ia butuh menenangkan dirinya di sana..

CKIIITTT!

Chen memarkirkan mobilnya asal, kemudian keluar. Menghirup udara dalam-dalam seraya memejamkan mata dan menghembuskannya perlahan. Sejenak, kekacauan di otak berhasil dilupakannya.

Riak air sungai yang tenang membawanya ke alam nyata. Panorama sungai Han yang begitu tenang dan tepi yang asri, karena di sekelilingnya terdapat rerumputan juga beberapa pohon, membuatnya begitu rileks.

"Salmyeosi nunmuri musimko heulleowa… Niga ssitgyeo naerilkkabwa sueobsi humchyeonae.." Chen mulai menyanyikan sebuah lagu. Sembari mendudukkan dirinya di rerumputan, seraya memandang kosong ke arah sungai Han, dilanjutkannya lirik lagu itu.

"Jiul su inneunde ijeul su inneunde, neoeomneunnal amuri saenggakhaedo nunmuriamumaldo eobseotdeon niga tteonagangeon niga anigil jebal…"

Air mata merembes perlahan dan turun membasahi pipi tirus –di mana pemiliknya masih bergeming–. Dengan suara lirih dan pecah, Chen tetap menyanyi.

"Dorawado gwaenchanha dorawado gwaenchanha... Jamsi neowa meoreojyeotdeon kkumilgeoya… amuildo eobseotda amuildo eobseotda,"

Chen menekuk dan memeluk kedua lututnya. Ia tidak pernah sehancur ini. Tidak pernah…

'Di mana kau.. Seokie-yah?' batinnya menangis.

"Ibami jina kkaeeonamyeon dasi neowa~ Mameuro doenoeyeo ibeuro doenoeyeo… Neoreul irheo beorilkkabwa sueobsi doesaegyeo, jiul su inneunde ijeul su inneunde…"

Chen menyanyi keras-keras. Tidak peduli bila ada orang lain yang mendengarnya dan menganggapnya gila. Dirinya terlalu frustrasi memikirkan seorang Kim Min Seok. Yeojachingu manisnya.

"neo eomneunnal amuri saenggakhaedo duryeowo, amumaldo eobseotdeon niga tteonagangeon niga anigil jebal~"

Chen, seorang CEO dingin dan sering tak acuh, hancur lebur karena kehilangan cintanya. Kekasihnya.

Ia butuh Xiumin. Ia tidak bisa hidup tanpa Xiumin.

Berlebihan? Memang seperti itulah kenyataannya.

"Dorawado gwaenchanha dorawado gwaenchanha… Jamsi neowa meoreojyeotdeon kkumilgeoyaAmuildo eobseotda amuildo eobseotda, ibami jina kkaeeonamyeon~"

Chen merendahkan suaranya. Ia benci mendengar suaranya sendiri –saat ini– yang pecah dan sumbang untuk dipakai melantunkan nada tinggi.

"Dorawado gwaenchanha dorawado gwaenchanha… Saranghae neol ajikdo neol jebal jebal…!

Amuildo eobseotda amuildo eobseotda, ibami jina kkaeeonamyeon… Dasineowa..~"

Setelah lagunya habis, Chen merasakan kelegaan yang luar biasa. Bernyanyi keras-keras adalah salah satu caranya untuk mengeluarkan isi hati yang terlalu berat untuk diungkapkan.

It's okay if you come back, It's okay if you come back

I love you, still it's you, please, please

There was nothing, there was nothing

If this night over...

-0-

Henry terkejut melihat keadaan Xiumin yang berantakan. Buru-buru direngkuhnya tubuh Xiumin ke dalam pelukannya.

"Astaga, Min.. Apa yang kau lakukan di kampus malam-malam begini?! Untung aku berhasil melompati tembok belakang… Kalau tidak, aku tidak akan bisa menemuimu.." ujar Henry. Ia semakin mengeratkan pelukannya.

"Oppa…" lirih Xiumin. Keadaannya benar-benar kacau. Rambutnya sedikit acak-acakan, matanya sembab dan merah, di pipinya masih jelas terlihat bekas air mata, dan bajunya kusut.

"Ayo, pulang. Kau pasti lapar dan lelah." Ajak Henry, lembut.

Sebenarnya, begitu pulang dari acara penghargaan, Henry langsung mencari Xiumin. Tidak sabar memberitahu gadis itu tentang kemenangan Super Junior M. Tapi yang ada malah SMS dari Xiumin yang memintanya menjemput di universitas.

Sekarang, keinginannya untuk menceritakan kejadian-kejadian menyenangkan hari ini bahkan menghilang tanpa bekas begitu melihat Xiumin yang tampak rapuh dan berantakan…

"Pakailah jaketku."

Xiumin hanya diam saat Henry membungkus tubuhnya dengan jaket putih kesayangannya. Keduanya kemudian berjalan ke tembok pagar belakang gedung.

"Kau bisa memanjatnya, Xiumin?"

".. Aku tidak bisa, oppa.." jawab Xiumin, lemah. Menatap ketinggian tembok. Henry menghela napasnya.

"Aku akan membantumu naik!"

"Bagaimana kalau nanti aku jatuh di balik tembok?"

Henry mengerucutkan bibirnya, memandang kesal pada Xiumin. "Yaah~! Kau itu ahli bela diri, kan? Masa' jatuh beberapa meter dari ketinggian saja sudah mengalami patah tulang?"

Xiumin terkekeh. Sedikit banyak mood-nya kembali berkat Henry yang lucu, menurutnya. "Aku hanya bercanda, oppa. Tapi serius, aku butuh pijakan yang tinggi agar bisa mencapai puncak tembok." ucap Xiumin.

"Hengg… Naiklah ke atas punggungku." Kata Henry.

"Mwo?! Ani!" Xiumin terkejut.

"Aisshh.. Sudahlah, ini sudah malam. Kau mau tidur di sini, eoh? Kajja, lepas sepatumu!" Henry menekuk lututnya, membungkuk, dan menyangga tubuhnya dengan kedua tangan. Dari balik punggungnya, Henry melihat Xiumin masih ragu-ragu.

"Cepatlah!"

"… Mi, mianhae, oppa…" Xiumin melepas sepatunya dan menentengnya. Menginjak punggung Henry dengan hati-hati dan tangan yang berpegangan di tembok.

"Adauww!" Henry meringis. Xiumin tidak terlalu berat. Tapi tetap saja tulang punggungnya seakan mau retak!

Xiumin cemberut, cepat-cepat menjinjit dan meraih puncak tembok sekolah, lalu melompat ke atas. Ia sempat menginjak punggung Henry kuat-kuat sebagai pijakan.

"ADAOW!" teriak Henry kencang, begitu backsound 'KRETEKK' berbunyi nyaring. Tulang punggungnya sepertinya benar-benar patah, shit!

"Jeongmal mianhamnida, oppa!" seru Xiumin dari balik tembok.

"Ya, ya.. Aduh.."

Henry mencoba bangun, tapi langsung terduduk kembali. Punggungnya sakitt~

"Oppa? Kau baik-baik saja?"

"N, nee." Mati-matian, Henry bangkit kemudian melompat dan meraih puncak tembok sebelum terjatuh lagi. Buru-buru menjejakkan kaki kuat-kuat di tembok lalu mulai memanjat.

"Xiuu! Tangkap akuu! Arghh!" Henry menatap takut ke bawahnya. Xiumin mendongak ke atas dan menemukan Henry duduk di puncak tembok sambil meringis.

"Takut atau kesakitan, oppa?" goda Xiumin. Perempatan siku-siku muncul di dahi Henry.

"Dua-duanya!" bentak Henry. Seandainya saja punggungnya tidak sakit~ Huhuhu…

"Hahahaha, arra, arraa.. Tapi… Bagaimana aku menangkapmu, oppa? Kau berat." Xiumin menggembungkan pipinya. "Ah! Aku telpon Han Geng oppa dan Siwon oppa, nee?"

Wajah Henry berubah pucat. Kalau Xiumin menghubungi Han Geng, yang datang bisa-bisa malah seluruh member! Kyuhyun dan Zhoumi pasti akan meledek habis-habisan begitu melihatnya.

"Jangan, jangan! Hubungi Leeteuk hyung saja!" larang Henry.

"Leeteuk oppa? OK."

Henry berdoa dalam hati, semoga Leeteuk bisa menangkapnya nanti. Bagaimanapun juga, tubuh Leeteuk sama kurusnya dengan Zhoumi.

-0-

20.47 KST

Junnie berbaring telungkup di sofa ruang keluarga. Matanya terpejam dan sesekali mengetukkan jarinya, mengikuti irama lagu dari earphone yang terpasang di telinganya.

"Aekkujeun bissoriedo gaseumi apaseo ajikdo eorigo yeoryeo, sunjinhago yeoryeo nunmureun manheunji.." Junnie bersenandung kecil.

BRAKK!

"Give it to…. KYAAA!" saking kagetnya, Junnie terjatuh dari sofa dengan suara keras. Yeoja itu bergegas berdiri lagi melihat Chen masuk dengan wajah tanpa ekspresi. Bahkan seolah merasa tak bersalah telah menyebabkan yeodongsaeng-nya jatuh dari sofa.

"Gwenchana, oppa?"

"Tidurlah." Kata Chen, datar.

"Ada masalah di kantor?"

"Kau mendengarku, Kim Jeon Nie."

"Ya, yaa.. Aku mendengarmu, oppa. Aku hanya bertanya, ada apa?" balas Junnie, kesal. Chen membuka dua kancing teratas kemejanya dan membanting diri di sofa. Tangannya memijat-mijat pelipis yang berdenyut-denyut.

"Aku tidak tahu…" suara Chen serak. "Aku tidak tahu, Junnie-yah."

"Apa yang kau maksud, oppa..?" Junnie beranjak ke dapur untuk membuatkan segelas teh hangat.

"Entahlah.."

"… Beristirahatlah sejenak, oppa." Saran Junnie, mencoba mengambil cangkir di lemari.

".. Aku bertemu Xiumin.."

PRAANKK!

"Apa!? Apa yang terjadi?!"

Mendengar keributan di dapur, Chen melompat dari sofa dan segera menghampiri adiknya. Dilihatnya Junnie berdiri gemetar dengan pecahan cangkir berserakan di lantainya.

"O, oh.. Mi, mianhae, oppa…" bisik Junnie, gemetar.

"Aissh, sudahlah, menyingkir sana." Chen menggulung lengan kemejanya kemudian mengambil sapu dan membersihkan pecahan kaca. "Lain kali berhati-hatilah…"

Junnie hanya diam. Memerhatikan Chen yang sibuk membuang kaca ke tempat sampah. "Oppa.. Kau benar-benar bertemu dengan Xiumin eonni…?"

"Ya." Jawab Chen, singkat. Masih membelakangi Junnie.

"Di mana..?"

"Kyung-Hee."

Junnie tersentak. Jadi.. Xiumin masih kuliah di sana?

"Be, begitu… Oppa, kau mungkin salah lihat.."

Chen menatap tajam Junnie. "Aku tidak pernah salah mengenai Seokie."

"J, jadi.. Apa oppa akan kembali ke Kyung-Hee besok?"

"Ya."

Junnie tahu, ia harus memperingatkan Xiumin tentang ini.

-0-

Di sebuah ruangan serba merah, sesosok yeoja tertidur tenang di atas ranjang berwarna burgundy. Wajah cantiknya terlihat polos dan damai. Tangannya menyatu di dada, memeluk sebuah pigura.

Pigura berisi foto Chen yang tersenyum manis.

-0-

"Mianhae sudah merepotkanmu, hyung." Kata Henry, untuk kesekian kalinya, pada Leeteuk yang menyetir di sebelahnya.

"Iya. Jangan meminta maaf terus, Henry-ah." Tawa Leeteuk. "Apa Xiumin tidur?"

Henry melirik jok belakang. Xiumin tertidur pulas di kursi belakang dengan tubuh terbalut jaket putihnya. "Iya, hyung."

"Memang ada apa sampai kalian berdua ada di Kyung-Hee malam-malam begini..?" tanya Leeteuk.

"Tadi Xiumin memintaku menjemputnya, hyung. Tentu saja gerbang utama sudah ditutup." Dengus Henry. "Aku terpaksa lewat tembok belakang itu."

"Sepertinya kau tak bisa menolak apapun permintaan Xiumin, ya?" Leeteuk mengerlingkan matanya, menggoda.

"Y, yach! Tidak baik menolak permintaan seorang yeoja yang kesusahan.." elak Henry, wajahnya memerah.

"Kesusahan? Ckck, dia itu manja padamu. Masa' membeli es krim sendiri saja dia kesusahan?" Leeteuk makin gencar menggoda Henry, ia menaik-turunkan alisnya. Menyebalkan di mata Henry.

"Ishh." Henry menyedekapkan tangan di dada lalu membuang muka, disambut gelak tawa Leeteuk.

Tanpa disadari, Xiumin mendengar semua yang dua namja itu bicarakan.

Bukannya ia tak peka.. Bukannya ia tak tahu…

Ia mengerti. Sangat mengerti… Kalau Henry menyimpan suatu perasaan padanya.

Tapi sampai kapanpun, Xiumin tak akan bisa membalasnya.

'Mianhae, oppa…'

Di asrama

"XIUMINIIEEE!"

Baekhyun menerjang Xiumin sampai yeoja imut berpipi tembem itu oleng dan memeluknya erat-erat.

"Xiuuu~! Hiks, kau darimana saja, eoh?! Kau.. Kau membuatku nyaris mati cemas, tahu!"

Xiumin mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia balas memeluk Baekhyun yang terisak. "Maaf, Baekkie-yah. Aku ketiduran di perpustakaan kampus tadi.. Mianhae."

"J, jinjjayo?" Baekhyun mengusap air matanya, sesenggukan. "Pabbo! Lain kali jangan diulangi… Huweeeee!"

"Iya, iya."

Henry dan Leeteuk hanya tersenyum melihat interaksi dua sahabat di depan mereka.

"Nah, cepat kembali ke kam–"

"HOI!"

Xiumin dkk. kompak menoleh kaget.

-Continued-

Akita : AKHIRNYA UPDATE! T_T Eotte? Eotte? Makin jelek kah? Makin gak jelas kah? *plakk. Huweeee… Akhirnyaaa… updateee…. *nangis haru :')

Gomawo sudah menungguu.. *Deep bow

.

ICE14

Iya, haha. Malu banget kalo semua orang tahu Chanyeol ngompol.. :D

Ini udah ketemu, tanpa sengaja. Hehehehe…

Bukannya udah keliatan jelas? *wink *digampar

SuLay sweet.. Mian, di chapter ini nggak ada SuLay moment..

Ini sudah lanjut, gomawo reviewnya! ^^

Chenma

Nggak.. Nggak seru kalo Xiu jadi trainee EXO corp. :D *ditampol

Luhan, Kyungsoo, Tao : Bakal nongol. Tapi entah kapan… *plakk

Gomawo reviewnya, :D

Rin Rin Kim ChenMin EXOtic

Hehehe, iya.. Chen sih, ketiduran.. :3

Duo Happy Virus selalu bikin humor dimanapun dan kapanpun :v Pokoknya jangan sampe ilfil sama Yeol~ Theheheh ^^

Gomawo reviewnya, Rin~

Jung Yooyeon

Ini sudah lanjuut~ Akita juga gak bisa bayangin kalo Yeol ngompol… =,= *duakk!

Gomawo sudah review!

Kim Haerin-ah

Terima kasih! ^^ Ini sudah lanjut~

Gomawo reviewnya! :D

Park Ha Woo

Iya, tapi Xiumin nggak jadi pindah Nee.. Dia diancem.. Kasihan… *emang siapa yang nulis, woy?!

Parah banget Yeollie -_- Iya, kasihan Baekkie harus ngepel…

SuLay emang mesra! ^o^

Ini sudah lanjut, gomawo sudah review, nee! :D

Aiyu elfishypinocchiosuju

Iya~ Yeol ngompol, kasihan.. Hehehe *digampar Yeol

Ini udah lanjuut~ Gomawo reviewnya! ^^

Riyoung Kim

Ndee~ Ini sudah lanjut, gomawo sudah review!

Kim Jong DaeBak

Kapan ChenMin dipertemukan? Entahlah… Akita juga nggak tau.. *PLAK. Ber, bercanda! Iya, iya, ini udah ketemuu.. Walau gak sengaja.

Bagus sekali, lho, ff sunbae yang itu! Masalah typos, Akita juga banyak, kok :D

Gomawo reviewnya~

Haehyukyumin

Terima kasih :D Iya, Baek kasihan harus ngurus Yeol…. u_u *plakk

Gomawo sudah review!

hyourieeeeeee

Ini udah ketemuu.. Walau gak sengajaa, hehe :D

SuLay moment tapi nggak ada di sinii.. Chapter besok, nee? *nawar *duakk!

Ini sudah lanjut, gomawo reviewnya, yaa :D

Lalilalilalilali

Horeeeee! Ada ChenMin shipper lagiii! ^^ *tebar confetti

Karakter Chen di sini dingin, cuek, dll. Syukurlah ada yang suka.. *plakk

I, iya.. Tapi nggak janji… ._.v *syuuut! (?)

Gomawo sudah review!

TripleN

Udah lanjuut~ Gomawo reviewnya!

xiuminxoxo

Ini sudah lanjut, syukurlah suka~

Gomawo sudah review! ^^

Mind to review?