Naruto Ghost Files

Episode 4 : "Rencana Kamisama (dimulai?)"

.

.

Matsuri bersiul pelan sambil melihat ke kiri dan ke kanan sebelum berjalan cepat menyebrangi jalan ke arah salah satu bangunan bertingkat yang berdiri tepat dipusat kota, di salah satu kompleks pemerintahan di Suna Gakure. Langit di Suna Gakure terlihat cerah, secerah suasana hati Matsuri sendiri. Hari yang indah selalu bisa membuat semua orang gembira bukan?

Yah, sebenarnya tidak juga. Tidak semua orang. Matsuri yakin ada seseorang yang mungkin sama sekali tidak menyadari langit di negeri Suna yang selalu cerah. Dan bahkan mungkin tak menyadari bahwa matahari sudah terbit seujung tombak. Tidak sadar dan tidak peduli.

Dan seseorang itu adalah gurunya sekaligus pemimpin negeri ini.

Matsuri yakin Sabaku no Gaara terlalu sibuk untuk menyadari apa pun perubahan yang terjadi di sekelilingnya. Sebagai seorang Kage, kesibukan sudah menjadi resiko yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Apalagi beberapa minggu terakhir ini, sahabatnya yang dari Konoha terluka parah dan tak sadarkan diri. Pikiran Kage muda itu pastilah agak kacau. Tapi posisinya mengharuskan dia bersikap tegar dan dewasa –padahal dia masih sangat muda.

Matsuri berlari-lari kecil menaiki anak tangga di dalam gedung, masih tetap besiul pelan. Ia baru hendak mencapai lantai dua ketika sebuah suara membuat langkahnya terhenti secara otomatis.

"Temari-sama, Selamat pagi" ucapnya sambil membungkuk dalam.

"Ah, Matsuri! Kebetulan sekali. Ayo ikut aku!" Temari menarik tangan Matsuri dan membawanya kembali turun kelantai satu. Pintu ruang Tetua itu terbuka perlahan, menampilkan sosok Kankuro-sama yang terlihat seperti sedang diintimidasi para Tetua Suna Gakure.

"Sudah kubilang rencana perjodohan ini tidak akan berhasil. Berhentilah bersikap konyol!" Kankuro-sama membuang mukanya, membuat mata kami beradu untuk beberapa detik.

"Jaga bicaramu Kankuro! Kau pikir kau sedang berbicara dengan siapa?!" Terdengar suara pria tua yang menggema di dalam ruangan.

"Apa kau pikir seorang Gaara bisa mengenalkan gadis pada kita?"

"Em, sepertinya tidak." Jawab Kankuro lirih,

"Bukan sepertinya, tapi jawabannya sudah pasti TIDAK! Dengan jadwal kerja sesibuk itu mana sempat dia pergi berkencan. Jangan samakan dia denganmu yang masih punya waktu luang!"

"Tidak sibuk pun dia pasti tidak akan bisa berkencan." Terang Kankuro sambil mengingat-ingat pandangan tajam yang biasa Gaara berikan untuk orang-orang.

"Dan kau pikir sampai kapan kita harus menunggu dia menikah dengan sendirinya?"

"Em…" Kankuro kehilangan kata-katanya,

"Akan ada tsunami besar di gurun ini jika Gaara datang mengenalkan gadis di jadwal sesibuk ini."

"Yah, kalian benar. dia memang pria yang paling tidak mungkin untuk menikah."

"Kau, sadar juga!"

"Tapi aku tetap tidak setuju dengan perjodohan ini!"

"Sudahlah, kita ikuti saja rencana ini. Toh Gaara sendiri nanti yang menentukan." Ujar Temari sambil menyikut Kankuro.

"Kalau begitu kau saja yang bilang sama Gaara. Aku tidak mau!" Rajuk Kankuro sambil berjalan kearah pintu dan keluar ruangan.

"Huh, anak itu benar-benar tak bisa diandalkan!" dengus Temari.

"Cepat bawa semua potret ini pada Gaara dan suruh dia memilih." Suara salah seorang Tetua kembali terdengar. Temari hanya menghela napas panjang,

"Bantu aku membawa semua potret ini ke ruangan Gaara." Pinta Temari pada Matsuri.

Masih terasa membingungkan, tapi Matsuri segera mengambil tumpukan potret dan membawanya bersama Temari ke ruang kerja Gaara.

"A…ano,Temari-sama," Panggil Matsuri sedikit ragu.

"Yah, ada apa?" Tanya Temari tanpa mengalihkan pandangannya.

"Apa yang sebenarnya direncanakan Tetua?"

"Ah, bukan hal yang penting sih. Tetua hanya ingin menjodohkan Gaara."

"Eh?" mendengar itu langkah Matsuri terhenti.

"Yah, konyol memang, tapi mereka ingin Gaara segera menikah dan memiliki keturunan. Darah ninjanya harus segera diwariskan. Negeri ini butuh lebih banyak ninja hebat seperti Gaara."

"…" bagaikan badai gurun, Matsuri merasa tersentak. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut Matsuri untuk kembali bertanya, padahal dikepalanya begitu banyak pertanyaan yang berseliweran dengan liar. Hari cerianya yang cerah menghilanglah sudah.

"Loh, Matsuri?! Ada apa? Ayo kita harus segera bergeges" Temari membuka daun pintu pada sebuah ruangan dilantai dua. Kemudian Matsuri tersenyum dan mengikuti Temari dibelakangnya.

Yah, kau harus tahu diri Matsuri!

Seperti merapalkan mantera, Matsuri meyakinkan dirinya sendiri.

"Matsuri, sebetulnya…" Temari membisikan sesuatu pada Matsuri. Dan kembali, Matsuri tersentak untuk kedua kalinya.

"Baik, Temari-sama" jawab Matsuri sambil tersenyum sopan walau separuh dari hatinya telah melayang detik yang lalu.

Dan Matsuri kembali merapalkan mantera yang sepertinya akan lebih sering dilakukannya.

~MoriMorio~

Gaara menutup laporan yang penuh tinta dan menyimpan penanya kedalam laci. Lalu ia menggertakkan jemarinya dan menatap jauh ke luar jendela. Walaupun ia mengambil peran sang bijak yang arif ketika berlaku sebagai Kage, seringkali ada momen-momen ketika ia menemukan dirinya tanpa daya berubah menjadi remaja nakal yang ingin berlari bebas dan menikmati hidup tanpa beban yang berarti.

Menikmati hidup? Yah, rasanya terlalu mewah bagi seorang Sabaku no Gaara, suatu hal yang nyaris tak mungkin ia lakukan. Baginya, semua ini sudah lebih dari cukup. Hidupnya sekarang ini jauh lebih baik daripada masa-masa kelamnya dulu.

"Sensei," Gaara mengedarkan pandangannya keseluruh bagian dalam ruangannya. Dan pandangannya berhenti pada sesosok wanita yang berdiri membelakangi pintu masuk.

Tak ada jawaban, hanya pandangan yang seolah berkata 'ada apa?'-lah yang menyambutnya.

Matsuri melangkah maju dan meletakkan setumpuk buku-buku yang bentuknya sangat asing dimata Gaara.

"Apa ini?" tanyanya dengan suara dingin seperti biasanya.

"Temari-sama memintaku untuk memberikan ini pada Sensei, katanya silahkan anda pilih salah satu dari potret yang ada disini."

Gaara mengerutkan keningnya, (dia kan gak punya alis :p) "Apa sekarang ini memilih potret juga menjadi tugas Kage?"

Mendengar pertanyaan itu, Matsuri meneguk ludahnya. Dasar, Senseinya ini benar-benar tidak peka.

"Entahlah, yang jelas Sensei hanyalah perlu memilih potret yang paling Sensei sukai diantara tumpukan potret ini."

Dari raut wajah yang terlihat saat ini, Gaara jelas kebingungan. Tapi ia tidak bertanya lebih jauh pada Matsuri. Ia kemudian membuka satu persatu potret yang ada di hadapannya. Kemudian keningnya semakin lama semakin berkerut dalam.

"Kenapa semuanya potret wanita?" keluh Gaara yang merasa heran dengan semua ini.

"Ah, mengenai itu. Ini adalah potret calon-calon istri mu Gaara." Ujar Temari yang tiba-tiba muncul dibalik pintu.

"Calon istri? Aku akan menikah?" Tanya Gaara ironi.

Yah, siapa wanita yang akan sudi menikah dengannya? Mantan monster yang telah dikucilkan masyarakat sejak dia dilahirkan. Memangnya ada yang bersedia?

"Para tetua memintamu untuk segera menikah, dan mempunyai keturunan. Mereka sudah mengatur perjodohan."

"Sensei tidak tahu ya? Saat ini anda sangat popular dikalangan gadis-gadis, hehehe"

Gaara lagi-lagi mengerutkan keningnya, matanya menatap tajam ke arah Matsuri, membuat Matsuri menundukan pandangannya dalam-dalam.

"Aku tidak tertarik. Bawa kembali semua tumpukan ini!"

"Eh? Ta...tapi,"

"Bawa kembali!"

Melihat tatapan Gaara yang tanpa kompromi, Temari hanya menghela napas panjang.

"Ayo Matsuri! Kita keluar."

Temari meninggalkan ruangan tanpa mengambil tumpukan potret di meja Gaara.

Kemudian ruangan itu sunyi kembali. Hanya helaan napas sang Kage yang kerap kali terdengar berat. Membuat siapa pun yang mendengarnya tahu bahwa keadaannya cukup kurang menyenangkan.

Gaara menatap tumpukan potret itu dengan enggan, setengah hatinya meringis, membuat ia merasa menjadi manusia paling konyol sedunia. Dulu, mengajak bicara pun tak akan ada yang sudi. Tapi sekarang? Para tetua malah menyuruhnya menikah! Menikah? Konyol sekali!

"Tok...tok...tok..."

"Masuk!"

Seorang gadis masuk ke dalam ruangan. Membuat atmosfer kejengkelan Gaara naik,

"A..ano Sensei, Tetua meminta anda segera memilih salah satu dari potret tersebut."

Sudah diduga, kemunculan murid satu-satunya ini hanya akan membuatnya tambah kesal. Apa-apaan Tetua itu? Huh, menggelikan.

"Aku tidak tertarik!" jawab Gaara.

"Ta...tapi," Matsuri tak dapat lagi meneruskan kata-katanya. Tatapan tajam Gaara benar-benar mematikan. Sekarang ia berada dalam posisi sulit, setengah dari kewajibannya membuat ia harus memaksa Gaara memilih satu diantara tumpukan potret di atas meja, setengahnya lagi bingung bagaimana menghadapi Gaara yang teramat sangat tidak tertarik. Singkatnya, pergi salah, diam juga salah.

Kaki Matsuri tak dapat digerakkan, lebih tepatnya tak berani menggerakkan. Antara Tetua dan Gaara, ia bingung harus memilih menghadapi yang mana. Rasanya seperti terjepit diantara dinding beton yang tinggi dan lebar. Ughh menyesakkan.

Gaara menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, kemudian memejamkan matanya. Perlahan tapi pasti seluruh pikirannya kembali terpusat pada sosok sahabatnya di negeri nan jauh, Konoha. Rasa khawatir yang semakin hari semakin memuncak membuatnya tak bisa berpikir secara tenang karena semua kabar yang datang dari Konoha tidak ada yang menggembirakan hatinnya. Huh, kenapa si bodoh itu harus terbaring mengenaskan?

"Anda lagi-lagi menghela napas." Komentar pendek Matsuri membuat lamunan Gaara buyar. Gaara seketika saja langsung menangkap bola mata Matsuri, lalu mengerutkan keningnya seperti biasa. Tapi tak ada respon yang keluar dari mulutnya.

"Apa yang anda pikirkan? Beberapa minggu terakhir ini anda tampak jauh lebih murung dari biasanya, apa ada yang menganggu pikiran anda?" pertanyaan polos Matsuri sukses membuat bola mata Gaara membesar untuk sesaat.

"Mungkin ini menyangkut kondisi Naruto-san yang kurang baik. Saya pikir, akan lebih baik bagi anda untuk pergi menemuinya sebentar ke Konoha. Saya tahu, anda tidak mungkin meninggalkan negeri Suna, tapi tetap membiarkan pikiran anda terus dilanda khawatir juga tidak baik bagi kesehatan anda dan cepat atau lambat akan mengganggu kinerja anda, ups... ma..maaf, saya tidak bermaksud..." kata-kata Matsuri terputus begitu saja. Tapi Gaara tetap tak berkomentar apapun. Matanya hanya memandang bola mata Matsuri dengan ganas.

Kemudian hening merayap kembali.

"Bukankah sekarang sudah masuk makan siang?" tanya Gaara yang kini telah berdiri tak jauh dari posisi matsuri berada.

"Ya?" Sebetulnya Matsuri bingung harus menjawab apa, hari sepagi ini apanya yang 'makan siang'? tapi wajah Gaara memaksanya berkata 'Ya'. Dan itu malah menjebaknya, karena Gaara pasti akan berkata…

"Kenapa kau masih ada disini?" Tuh kan? Sensei pasti menyuruhku pergi keluar, aku kan harus membawa potret yang dipilih Sensei, bagaimana ini? Ah iya, kujawab begini saja…

"Aku menunggu potret yang dipilih oleh sensei." Jawabku sambil tersenyum, selangkah menuju kemenangan. Ayo pilih, Sensei.

"Huh" Gaara menghela napas kembali, "Ambil saja sesukamu. Aku tidak peduli." Jawab Gaara kemudian hilang dibalik pintu masuk.

"Eh?" tentu saja, meninggalkan Matsuri yang hanya diam mematung bagai orang bodoh.

Terhenyak, ya! Matsuri kembali terhenyak untuk ketiga kalinya di pagi ini. Di hari secerah ini.

Lagi-lagi aku kalah,

~MoriMorio~

"Kau baik-baik saja naruto?" Tanya Sakura.

Aku bangkit dari tidurku, dan melihat kearah roh Sakura dan Sasuke yang terbang melayang di sampingku.

"Yah, seperti yang kalian lihat! Aku baik-baik saja kok. Kalian ga usah khawatir gitu deh, hehehe…" Tawaku memecah kesunyian.

"Tak masalah jika aku nanti harus kehilangan memoriku tentang Hinata-chan. Kenanganku dengannya gak terlalu banyak. Ini malah bagus, aku kan jadi gak terlalu repot nantinya. Lagian mungkin ini memang yang terbaik, tadi aku hanya terlalu emosi. Air mataku netes gitu aja. Mungkin gara-gara waktu itu aku lihat Hinata-chan yang ambruk kali ya, makanya kayak gini. Aku kan pria yang berhati lembut."Aku kembali teringat pada semua perlakuan Hinata pada jasadku waktu itu.

"Seiring dengan waktu aku pasti akan baik-baik saja, tenanglah!"Hiburku lebih pada diri sendiri

"Oh iya, apa dengan meminta bantuan pada Dewa pikiran aku akan cepat kembali kekehidupan normalku?" tanyaku.

Sakura memandangiku dengan wajah datar yang sulit di tafsirkan. Kimono putihnya berayun diterpa angin malam. "Entahlah, aku tidak tahu." Jawabnya

"Yah, kau benar. Aku kan belum tentu kembali hidup. Hehehe" Kataku, tersenyum.

"DUAK" sebuah sandal geta meluncur indah melewati kepalaku.

"Apa-apaan kau, Sasuke?! Kau mau mencari masalah denganku?!" teriakku seperti biasanya.

Baik Sakura maupun Sasuke hanya terdiam, keduanya melihatku dengan pandangan yang sama. Kedua bola mata mereka meneduh, membuatku kehilangan kata-kata dan mati gaya. Hei ayolah, apa salahku? Aku kan tidak berkata yang tidak-tidak, kenapa mereka melihatku dengan cara seperti itu? kenapa tidak balas membentakku?

"Menangislah," Kata Sakura lembut.

"Eh?"

"Anda terlihat lebih bodoh jika tertawa saat ini." lanjut Sasuke sukses membungkam mulutku.

Ah, mataku kemasukan debu lagi. Perih sekali.

Sakura dan Sasuke mendekat, kemudian merangkulku dengan hangat.

~MoriMorio~

Tak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang Haruno Sakura selain mendapatkan laporan yang baik tentang kondisi Hyuga Hinata. Semalam, kondisi Hinata sudah membaik. Meski masih lemah, Hinata sudah bisa berbicara. Dan mengambil dari pengalaman sebelumnya, kini kamar Hinata benar-benar dijaga ketat. Bahkan, Hyuga Hanabi dan Neji tak pernah melepaskan pengawasan mereka.

Hari-hari kritis Hinata telah berlalu, bukankah itu menenangkan Sakura? Harusnya sih begitu, ya… harusnya begitu… tapi…

"Sakura-chan, bagaimana kondisi Naruto-kun?"

Lagi-lagi, pertanyaan itu menyambut Sakura. Hinata yang terbaring lemah di kasurnya menatap Sakura dengan penuh rasa ingin tahu.

"Yah, lebih baik." Jawab Sakura walau dirinya sendiri tak yakin dengan apa yang dikatakannya.

"Kapan dia sadar?"

Lagi-lagi pertanyaan itu! Sakura sudah terlalu bosan mendengarnya begitupun dengan menjawabnya "Aku berharap tak lama lagi."

Dan kembali, Sakura menemukan raut wajah Hinata yang menjadi semakin kusut.

"Nah, bagaimana kabarmu, Hinata-chan?" Sapa Sakura seriang mungkin. Berusaha membuat Hinata berhenti mengkhawatirkan Naruto walau itu tidak mungkin terjadi.

"Hem, lumayan." Jawabnya lalu tersenyum manis. Walau setitik air mengalir dari balik pelupuk matanya.

~MoriMorio~

"Apa-apa ini?" kalau ada alis, alis Gaara pastilah sudah terangkat sebelah saat ini.

Matsuri tidak menjawab, tumpukan buku potret itu disimpannya di meja Gaara, membuat meja kerja Sang Kazekage semakin penuh sesak.

"Huh," Gaara menghela napas panjang. Percuma dia memarahi Matsuri, semua tumpukan ini tidak akan jadi menghilang dari meja kerjanya.

"Pilihlah salah satu, dan Tetua pasti akan berhenti memenuhi meja kerjamu dengan buku potret ini." komentar Temari yang juga datang dengan setumpuk buku potret.

"Apa Tetua mengumpulkan semua potret gadis-gadis di Suna?" Tanya Gaara penuh ironi.

"Tidak semua, tapi hampir semuanya sih. Ini adalah gadis-gadis yang menawarkan diri untuk menjadi calon istri mu. Lihat, sudah sebanyak ini?!" ujar Temari antusias. Separuh dirinya tak percaya bahwa kini adiknya telah menjelma menjadi sosok pangeran impian para gadis.

"Ada juga yang dari luar Suna, Tetua sepertinya ingin memberikan wanita berkualitas untukmu. Aku lihat hampir sebagian besar mereka adalah klan besar yang berpengaruh." Komentar Temari.

Bibir Gaara melengkung ke bawah, tatapannya tetap datar dan tajam. Gaara mendorong kursinya ke belakang, hingga timbul suara berderit yang terdengar seperti raungan dalam ruang sunyi itu, mengagetkan kedua koleganya yang tengah tenggelam dalam tumpukan potret di mejanya. Suara berisik itu membuat kepala Matsuri dan Temari tersentak kaget. "Aku pinjam meja kerjamu." Katanya pada Matsuri.

Matsuri, yang sedari tadi membisu, melihat ke arah Temari yang berdiri tak jauh di samping meja kerja Gaara, dari wajahnya, Matsuri seakan meminta pendapat atas apa yang dikatakan Gaara sebelumnya, yang dilihat hanya mengangkat kedua bahunya kemudian menggelengkan kepalanya, seolah dia pun tak tahu apa yang harus didikatakan.

"Matsuri, bawa semua laporan kesini." Perintah Gaara di ujung ruangan, dimana Matsuri biasa bertugas.

Lagi-lagi Matsuri melihat ke arah Temari, meminta pendapat tentang apa yang harus dilakukannya, dan kembali Temari hanya mengangkat bahu sambil menggelengkan kepalanya. Melihat jawaban Temari, Matsuri menghela napas pendek lalu berjalan ke arah lemari dan mengambil setumpuk kertas laporan dan meletakkannya di meja baru Gaara.

"Bawa kursiku kemari dan duduklah di sampingku, bantu aku menyusun ini semua." Perintah Gaara.

Dengan sigap dan seperti biasanya, Matsuri mengambil kursi di balik meja Gaara dan membawanya tepat disamping Sang Kazekage. Kemudian keduanya tenggelam dalam tumpukan kertas laporan.

Merasa diacuhkan, Temari kemudian keluar dengan wajah kusut yang mengerikan.

Dasar Gaara!

~MoriMorio~

"Sasuke, kenapa pendar ini semakin lama semakin meredup? Lihat!" Aku menunjukan kalung dileherku pada Sasuke.

"Itu kan kalender dunia arwah. Apa anda sudah lupa?" Sasuke membuka kembali catatan laporan dari dunia roh.

"Eh, berarti sebentar lagi pergantian kalender dunia arwah dong!" kataku kaget setengah mati, karena itu berarti aku harus cepat menemukan partner. Atau aku tak akan kembali sama sekali.

"Yah, kira-kira begitulah."

"Jadi, waktuku tidak akan lama? Aduh, apa yang harus kulakukan? Aku bahkan belum memulai apapun!" kataku panik.

"Tenanglah, anda masih punya waktu 10 hari lagi, tidak usah panik seperti itu."

"Bagaimana aku tidak panik?! Itu sih sama saja dengan memberi tahu 'Kau akan mati 10 hari lagi, siapkan dirimu!' aku kan masih ingin hidup!" rengek ku.

Sasuke menggelengkan kepalanya.

"Mari, tugas anda sudah menunggu." Katanya menghiraukan perkataanku.

"Ugh, gimana nih?!" omelku pasrah.

"Sepuluh hari lagi dan kau akan tamat!" sebuah suara tiba-tiba datang dari arah belakangku. Aku tersentak kaget, dan memalingkan wajahku dengan horror.

"Hahahaha… jangan menatapku dengan pandangan seperti itu!" Shikamaru menjitak kepalaku. "Nah, mari kita mulai ekpedisi kita,"

Shikamaru menggenggam tanganku, kemudian pemandangan disekitarku berubah total. Yang ada dihadapanku sekarang bukanlah pohon-pohon dan rumah kayu lagi, melainkan tembok putih dan bau obat-obatan yang menyeruak tajam.

"Rumah sakit?" gumamku, dan aku tahu persis apa yang ada di balik ujung lorong rumah sakit ini. Setelah belok ke kanan di sepanjang lorongnya hanya ada dua kamar. Yang sebelah utara adalah kamarku dan sebelah selatan adalah kamar Hinata.

"Apa yang maksudmu mengajakku ke sini?" Tanyaku galak dan penuh kecurigaan. Apa dia ingin membangkitkan kenanganku dengan Hinata beberapa hari yang lalu?

"Wah, wah, wah, luar biasa. Kau tidak sebodoh yang kukira ternyata." Shikamaru menaikkan ujung bibirnya membentuk sebuah seringai yang sama sekali tidak kusukai.

"Bukankah kau memohon pada dua pengantar roh itu untuk menemui Hinata-chan?"

"Pengantar roh? Hey dimana Sakura dan Sasuke?! Kenapa hanya ada kita berdua?!" Tanyaku panik,

"Tenanglah, mereka ada didunia roh. Mereka juga kan punya kerjaan masing-masing."

"Ta…tapi tadi Sasuke ada di sebelahku!" kataku tak percaya dengan keadaan yang tiba-tiba saja berubah dalam waktu satu detik.

"Ya, dia memang ada tadi. Tapi sepertinya dia tidak akan sanggup mengejar langkahku. Sudahlah. Mereka kan bukan pengawalmu. Ayo kita urus pekerjaan kita dulu, merepotkan." Katanya dengan wajah yang enggan.

"Apa yang sebenarnya kau rencanakan?! Kau ingin aku semakin menderita kan?"Tanyaku curiga.

"Bukankah beberapa hari yang lalu kau merengek-rengek ingin menemui Hinata-chan?! Aku disini akan mengabulkan permohonanmu. Ayo masuk!" perintah Shikamaru dengan tak sabaran.

"Iya sih, tapi…" aku menarik tanganku dari genggaman Shikamaru.

"Tunggu apa lagi?"

"Itu dulu, sekarang tidak lagi! " Tidak, setelah kau mau mengambil memoriku tentang Hinata. Aku berbalik pergi dan menjauh dari rumah sakit.

Mana mungkin aku sanggup melihat Hinata-chan? Dasar Shikamaru bre**s*k!

~MoriMorio~

Matahari sudah tenggelam beberapa jam yang lalu, tapi suasana di rumah sakit tetap saja sibuk seperti biasanya. Pasien-pasien yang keluar-masuk setiap menit membuat pusat kesehatan Konoha Gakure terlihat luar biasa ramai. Semua sibuk, entah itu dokter, perawat, pasien, penjaga, yah semua orang yang ada di rumah sakit sudah menjadi sangat sibuk sekali. Begitupun dengan sesosok gadis berambut merah muda yang telah menenggelamkan dirinya dalam tumpukan laporan kesehatan pasien berjam-jam yang lalu. Persis saat matahari masih mewarnai langit dengan cahayanya yang terang.

"Sakura-chan? Kau belum pulang?" Shizune membuka daun pintu ruang kerja Sakura.

"Eh, Shizune-san? Belum nih, kerjaan masih numpuk." Aku Sakura dengan cengiran yang semakin menunjukkan garis-garis lelahnya.

"Jangan paksakan dirimu. Cepat pulang dan istirahat. Kapan istirahatnya kalau nunggu kerjaan beres! Yang namanya kerjaan ga akan beres-beres. Udah pulang sana, malam ini biar senior yang kerja." Bujuk Shizune.

"Yah, kau benar! sebaiknya aku segera pulang. Kepalaku udah ga mau diajak kompromi nih," Sakura bangkit dari duduknya dan menyimpan kembali sebagian berkas yang tercecer di meja.

"Istirahat ya, jangan bikin kue terus!" Sindir shizune dengan menyunggingkan senyum nakal.

"Eh?" Pekerjaan Sakura terhenti seketika.

"Hehehe, udah berapa kali gagal?" pertanyaan Shizune bagai panah yang melesat dari busurnya dan menanclab tepat di jantung sakura.

"Ba..Bagaimana Shizune-san bisa tahu?" Wajah Sakura memerah hebat.

"Hey ayolah, ini kan musim si-pangeran ulang tahun. Dari kemarin kamu juga bolak-balik beli bahan kue. Hahaha" Ungkap Shizune.

"He he he, kau memang luar biasa Shizune-san!"

" Kamu sendiri jauh lebih hebat. Sudah sesibuk ini masih sempet-sempetnya berlatih bikin kue. Jadi, sudah berapa yang gagal?" Tanya Shizune kembali pada permasalahan awal.

"Uh, aku malu. Yah sekitaran lah. Jangan menginterograsiku seperti ini dong. Udah ah, aku mau pulang." Ujar Sakura. Langsung menyambet tasnya dan segera keluar dari ruangannya.

"Ha ha ha.. masa muda memang indah." Guman Shizune.

~MoriMorio~

"Hey Sakura! Kau bagaimana kue mu? Sudah ada yang berhasil?" Tanya Ino yang kebetulan berpapasan dengan Sakura yang baru pulang dari rumah sakit.

"Ah, Ino-channnn~~~~" Sakura langsung memeluk Ino, kemudian membenamkan wajahnya dibahu sahabatnya itu.

"Kenapa denganmu?"

"Belum berhasil satupun…" Ujar Sakura tiba-tiba, nada suaranya bergetar.

"Jangan nangis dong, masa gak bisa bikin kue aja jadi nangis sih?!"

"Aku gak nangis, tapi sedih Ino-chan! Gimana dong, bentar lagi kan ulang tahun Sasuke. Dan aku masih gagal."

"Kau sih, mau ku bantu tapi gak boleh. Yah sudah gimana kamu."

"Ya gak boleh dong! Ini kan hadiah special."

"Terserah kamu aja, udah di kasih resepnya masih aja gagal. Aku heran, memangnya kau masak seperti apa sih?"

"Seperti apa bagaimana? Ya sama aja kayak ibuku masak."

"Kalau sama seperti ibumu pasti berhasil. Lah ini, gagal mulu."

"Itu karena resepnya yang terlalu sulit."

"Kau mau menyalahkanku?" Tanya Ino, sebelah alisnya terangkat.

"Enggak ko, Otakku aja yang bego. Udah ah, aku harus berlatih lagi. Malam ini pasti berhasil."

"Kau udah bilang kayak gitu tiap malem." Ejek Ino.

"Biarin. Bye bye Ino…"

Sakura melambaikan tangannya, kemudian berlalu di tikungan. ~MoriMorio~

Sakura menatap frustasi tumpukan bahan kue dihadapannya itu. Separuh dari kekuatannya sudah melayang entah kemana dan ia merasa sudah sangat lelah. Berkali-kali ia menguap, berkali-kali pula ia merentangkan tangannya, mencoba mengusir rasa kantunk yang tengah menggila.

Ayolah, kali ini harus berhasil.

Ucapnya memantapkan hati. Entah apa yang salah, tapi tiap kali ia membuka oven, kue itu selalu terlihat mengerikan. Dan ia harus kembali membuatnya dari awal. Sangat melelahkan.

Dan ini adalah kue ke 9 yang ia buat. Berkali-kali ia mengucapkan mantra dalam hatinya. Kue ini tidak boleh gagal, jika ia masih gagal juga maka tak ada pilihan lain selain mencari hadiah yang lain, dan belum menentukan hadiah apa yang akan dia gunakan sebagai pengganti kue kalau-kalau kue-nya ini gagal lagi.

Huft,

~MoriMorio~

Ah, dasar Dewa menyebalkan! Mana bisa aku melihat Hinata setelah apa yang kau katakan padaku. Yah, meski separuh hatiku ingin melihatnya, tapi tidak boleh! Kalau aku melihatnya saat ini hanya akan menambah penderitaanku. Ayo, tegarlah Naruto!

"Kau, masih menunggunya?"

Sebuah suara yang begitu familiar mengusik pendengaranku, aku mendekat, menuju salah satu pohon besar dibalik jendela sebuah bangsal rumah sakit.

"Hem, bagiku dengan mengingatnya saja sudah cukup." Jawab sang lawan bicara dengan lembut.

"Tapi dia bahkan sudah seperti mayat saat ini, kau akan terluka hinata!"

Mendengar nama itu disebut, kakiku seolah menjadi kaku.

Dibalik pohon itu ada sebuah jendela besar dari kamar yang berada di balik ujung lorong sebelah selatan. Dan dari jendela besar itu Nampak sesosok perempuan berkulit pucat yang satengah berbaring di ranjangnya. Wajahnya yang penuh memar tak membuat wajah itu menjadi buruk, tapi dia malah semakin terlihat cantik. Terutama untuk diriku yang saat ini seakan terhipnotis olehnya.

"Aku akan lebih terluka jika aku melupakannya Neji-nii." Jawabnya, masih menyunggingkan senyum yang rapuh.

"Kenapa kau sangat bodoh?!"

"Karena aku tidak cukup pintar untuk melukiskan perasaanku pada Naruto-kun."

"Apa kau sudah gila?"

"Aku bukannya gila, ataupun buta. Aku hanyalah seseorang yang tengah lumpuh logika karena cinta."

Diam, Neji menggigit bibir bawahnya, entah ia bingung… apa ia harus terkesan? Terkesan pada sesuatu hal BODOH? Tidak tidak logikanya masih cukup kuat untuk menanggung semua doktrin bernuansa cinta yang membuncah dari mulut sepupunya.

"Aku tidak akan berada disini, sampai detik ini, jika bukan karena Naruto-kun."

Kepala Neji sontak terangkat. Sebelah alisnya naik. Seakan ingin bertanya'maksudmu apa?'

Sial, aku harus segera pergi! Atau semuanya akan segera terlambat.

"Dulu, saat aku masih kecil aku sering bertanya-tanya 'kenapa laki-laki berambut orange itu selalu dijauhi teman-teman? Apa dia pernah berbuat salah?' semakin lama aku memikirkannya, semakin aku tak tahu jawabannya. Tapi biarlah itu tetap menjadi sebuah pertanyaan, karena aku malah menemukan sesuatu bernama kekuatan." Hinata menarik napasnya dalam-dalam,

Aku tahu, walau akal sehatku memaksaku untuk pergi secepatnya, tapi perasaanku benar-benar tak bisa berkompromi. Tubuhku menjadi kaku dan aku juga penasaran dengan apa yang sebenarnya ingin dikatakan perempuan ini.

"Neji-nii adalah orang yang paling tahu betapa payahnya aku. Di keluarga besar yang mereka sebut klan Hyuga ini, aku adalah penerus. Tapi bagaimana bisa jadi penerus? Aku bahkan jauh lebih payah dari Hanabi yang masih sangat kecil waku itu dan Neji-nii lebih hebat dariku. Setiap hari aku bertanya 'apa ada yang salah denganku? Kenapa harus aku yang jadi penerus? kenapa? Kenapa?' dan aku masih belum menemukan jawabannya sampai detik ini."

Neji terdiam, masih bingung dengan maksud cerita Hinata, tapi ia tetap mendengarkannya dengan saksama.

"Tapi satu hal, seperti apapun kita, nasib seperti apapun yang menghampiri kita, yang bisa kita lakukan adalah berjuang sekuat tenaga. Dan aku menemukan itu pada diri Naruto. Dialah satu-satunya orang yang membuatku bertahan dari semua ini. saat dimana aku sudah sangat lelah, saat dimana aku ingin pergi dari semua ini, dan saat dimana aku menyesal akan nasibku sendiri, dialah yang mengajariku untuk bertahan. Untuk tetap berjuang walau semua orang mengacuhkan, walau semua orang meremehkan. Karena kita hidup bukan untuk menyerah.

"Naruto-kun, selalu berjuang lebih keras dari siapapun dan itulah dia menjadi sekuat ini. Dan aku ingin berjuang mencintainya lebih dari siapapun karena itulah aku harus tetap tegar dalam keadaan bagaimanapun." Senyum rapuh itu kembali tersungging.

"Aku, harus pergi." Lirih Neji, bangkit dari duduknya. Bahunya dibiarkan terkulai. Ia merasa sudah sangat lelah. Ia telah kalah.

"Bodoh," umpatku, entah pada siapa.

~MoriMorio~

"Mengenai roh revisi…" Kakashi mengambil jeda panjang, entah apa tujuannya tapi jeda panjang itu malah membuatnya semakin gugup.

"Kau tak harus melanjutkannya, aku sudah tahu apa yang kau maksud!"

"Kamisama!" kepala Kakashi sontak terangkat,

"Sebentar lagi kau akan melihat apa yang sebenarnya sedang kulakukan?! Apa tujuan dan maksudku. Lihatsaja, dan kau akan tahu. Ha ha ha!"

"Aku mengerti mengapa Kamisama membuat revisi kematian Naruto, ya aku sangat mengerti. Tapi untuk bertemu dengan Dewa Pikiran? Aku benar-benar…"Kakashi tidak melanjutkan kata-katanya,

"Kau tahu, apa yang membuat kisah romeo-juliet menjadi sangat romantis?"

Kakashi terdiam, kekagetan menghiasi wajahnya, "Karena mereka tidak bersama. Meski mereka saling mencintai." Jawab Kakashi lirih.

"Dan apa kau tahu kenapa putri duyung menjadi kisah yang paling kusukai?"

Lagi, Kakashi tersentak kaget. Matanya menerawang jauh, "Karena mereka tidak bersama. Meski mereka saling mencintai." Jawab Kakashi semakin lirih.

"Yah, Sang putri menjadi buih dan lenyap, bagian itulah yang aku sukai. Bukankah itu romantis?"

Kakashi tersentak, "Maksud anda?"

~MoriMorio~

"Kau sudah mendengarnya?"

Aku berbalik, dan menemukan sosok Shikamaru yang berdiri tepat dibelakangku.

"Kau merencanakan ini?" tanyaku tak percaya. Aku sungguh tak mengerti apa yang sebenarnya ia inginkan! Apa dia hanya ingin aku menderita?

"Yah, ini bukan murni rencanaku. Karena bagaimanapun Ada Kamisama yang mengatur semua ini." Shikamaru menutup mulutnya yang tengah menguap lebar.

"Apa maksudmu?'

"Benang takdir!" Shikamaru membuka kedua matanya, kemudian menatapku dengan serius. "Tak ada yang bisa lari dari takdir." Lanjutnya.

"Eh?" A..Apa maksudnya?

~MoriMorio~

"Sebuah cerita bisa dikatakan romantis jika cinta keduanya tidak bersatu."

Kakashi tak merespon, kepalanya tertunduk dan matanya menerawang jauh, kosong.

"Aku ingin membuat kisah yang romantis."

Dan jawaban yang Kakashi cari semakin jelas. Ya, sangat jelas.

Naruto yang malang.

~Episode 4 End~