.

Kagamine Rin : "Identitas si target adalah …. "

.


...

Pagiku selalu dimulai dengan rutinitas yang sama. Dimulai dengan terganggunya tidurku karena suara kicau burung dari jendela kamar sebelah yang diikuti gedoran pintu yang membuat kepalaku pusing setengah mampus. Kemudian, mataku mulai mengerjap-ngerjap dan telingaku mulai menangkap suara yang begitu nyaring, tapi tak terlalu jelas. Hanya seperti dengungan di telinga.

Lalu, gedoran lagi. Teriakan. Gedoran dan teriakan. Dan yang terakhir, olok-olok dari balik pintu.

"Bangun, pendek. Dadamu enggak bakal tumbuh walaupun kau hibernasi! Selamanya tripleks!"

Sialan!

Memegangi kepalaku yang rasanya seperti diserang migrain, aku menyibak selimut dengan kasar. Kagamine Len! Bocah sial! Otak Pisang! Dia tidak tahu rasanya hanya tidur satu atau dua jam saja semalaman. Dia tidak tahu rasanya begadang. Tidak tahu rasanya kelopak mata yang berat, tapi tak bisa untuk dipejamkan. Dan sekarang, dia menggangguku dengan suara nyaringnya dari balik pintu.

Kurang ajar.

"Woi, Kagamine Rin! Bangun! Hari sudah siang, matahari sudah bersinar cerah, dan Kaito-senpai –Uups, enggak jadi. Nanti ada yang baper! Hahaha!"

Kepala berdenyut-denyut, otakku kusut, dan satu-satunya yang bisa kupikirkan adalah bagaimana cara menggorok leher orang yang bertanggung jawab membuatku kepalaku hampir pecah ini. Atau tidak. Aku tak mau dilaporkan atas tuduhan pembunuhan dan meski aku adalah anak di bawah umur yang artinya akan ada keringanan hukuman, membayangkan sanksi sosial yang nantinya kudapatkan rasanya jauh lebih menyeramkan daripada mendekam dalam suramnya hotel prodeo.

"Ugh," aku mengerang.

Tanganku meraih kacamata yang selalu kusimpan di dalam laci meja. Kacamata tersebut bukan kacamata minus apalagi plus. Hanya bohongan. Satu-satunya fungsi yang dimilikinya adalah menyamarkan kantung mataku yang sudah beranak pinak hingga membuat orang tuaku yang melihatnya mengelus dada. Aku tidak perlu tambahan tumpukan rasa khawatir yang membuatku merasa bersalah dan juga tidak butuh rentetan nasihat untuk tidak terlalu terpaku pada ujian. Lebih baik jaga kesehatan.

Duh, siapa juga yang belajar semalaman? Aku bukan kutu buku.

"Rin, ayo cepetan!"

Cih, suara Len terdengar seperti rengekan sekarang. Dengan malas, aku beranjak dari tempat tidur lalu berjalan menuju pintu. Karena pusing, kakiku menabrak meja kecil yang terletak tak jauh dari tempat tidurku. Meja kecil itu agak terdorong. Untung saja barang-barang di atasnya tidak jatuh. Bisa gawat kalau laptop yang layarnya kubiarkan setengah terbuka itu menggelinding lalu rusak. Di dalamnya banyak sekali draft novel dan catatan-catatan penting yang—

Ah, aku jadi ingat.

Tadi malam. Ya, tadi malam aku mendapat tangkapan yang menarik.

Satu sosok yang kukenal menyelinap keluar melalui pagar samping lalu kembali lagi pada pukul satu. Sebelumnya dia tak membawa apa pun, tapi kemudian saat pulang di tangannya ada paper bag kecil seukuran buku tulis. Aku harus mencari waktu yang tepat untuk menyelinap masuk ke dalam kamarnya dan membongkar isi tas yang dibawanya itu.

Kapan aku bisa mengeksekusi rencana tersebut, ya?

Ah, aku jadi sedikit termotivasi. Dengan ini, waktu tidurku yang terbuang untuk memata-matai sedikit terbayar dan penyelidikan ini bertambah maju. Dan aku jadi punya beberapa tambahan catatan untuk melengkapi jurnal pengamatanku.

Banzai!

Aku tersenyum. Dengan langkah ringan, aku melanjutkan langkahku menuju pintu. Len masih merengek dan sepertinya meledekku, tapi aku tak marah. Mood-ku sedang baik. Sepertinya aku bisa bertahan tidak tidur di kelas pertama nanti.

"Rin!"

Len berseru senang melihatku keluar dari kamar, tapi aku hanya memandangnya dengan tatapan khasku yang super tajam dan dingin dari balik lensa kacamata. Death glare, kalau kata orang-orang. Jenis pandangan yang menunjukkan aura hitam seakan ingin membunuh, tapi dalam kasusku dengan korban Kagamine Len, pandangan ini sepertinya malah tidak berhasil. Bukannya menarik diri, dia malah mendekat dan wajahnya jadi lebih cerah. Kurasa ada bagian otaknya yang korslet. Pantas saja dia sedikit tidak waras.

"Kau kenapa, sih?" tanyaku risih. "Minggir! Aku mau ke toilet."

Aku berjalan melewatinya dan menuruni tangga. Len mengekor di belakang. Entah apa yang dia rencanakan. Mood-ku sedang baik. Kuharap dia tidak bertindak bodoh dan memicu perang dunia ketiga atau keempat atau keseratus sekian. Aku sudah lupa berapa kali kami saling adu bentak, bergulat, lalu mempermalukan satu sama lain.

BRAK

Aku membanting pintu toilet di depan mukanya. Masa bodo kalau hidungnya kena, tapi kalau tak terdengar apa pun berarti wajahnya yang ambigu itu selamat dan aku masih memiliki kesempatan untuk merusaknya di lain waktu.

Omong-omong, bisa dibilang toilet seperti sanctuary bagiku. Dimensinya kecil dan ke mana pun tanganku menjangkau aku bisa menemukan kerasnya dinding, bukan kehampaan yang menakutkan. Lalu, kalau aku menutup mata dan membiarkan diriku duduk di atas tutup kloset, otakku rasanya jadi jernih.

Aku harap aku punya toilet pribadi sehingga aku bisa menghabiskan waktuku di sana dan menguras ide-ide yang tersangkut di kepala seperti tokoh terkenal zaman dulu yang membuat strategi perang saat nongkrong di jamban.

Setelah buang air kecil, tanganku bergerak menekan flush dan putaran air menghanyutkan sisa sekresiku yang berwarna gelap. Gawat. Sepertinya aku kurang minum. Aku harus lebih hati-hati. Bisa bahaya kalau aku terbaring sakit sementara sang target yang kubidik malah melakukan ini itu dan aku sama sekali tak tahu.

"Kau buang air besar, huh? Lama banget," kata Len setelah aku keluar dari toilet. Aku tak percaya dia menungguku.

Hah, seperti Hachiko saja.

Aku ingin berkata padanya untuk tidak menungguku karena rasanya tidak etis untuk seorang laki-laki berdiri di luar toilet sementara seorang perempuan sedang melakukan aktivitasnya di dalam, tapi Len dengan kepalanya yang bebal adalah obyek paling menyebalkan untuk diberi tahu. Selain itu, dia pasti meledekku dengan mengatakan bahwa aku bukan seorang perempuan dengan alasan yang membuat emosiku naik; Wajah kami serupa dan dadaku terlihat rata. Sialan memang.

Jadi, dengan kerendahan hati yang benar-benar kupaksakan aku hanya melemparkan tatapan tajam padanya dan lagi-lagi dia tersenyum. Aku bergidik. Bocah ini memang benar-benar masochist.

"Hei, Len. Pernah ada yang menyebutmu kurang waras? Mengerikan? Brengsek mungkin?"

"Setelah kejadian di kelas delapan, tiga kata itu jadi panggilanku, Rin. Tambahkan bangsat juga kalau kau mau."

Aku mendengus. Mulut Len adalah sesuatu yang lebih mengesalkan daripada mulut wanita tua yang kadar kebawelannya mencapai stadium empat.

Kemudian, dengan sangat tiba-tiba, Len menyeretku menuju wastafel. Dia melepas kacamataku dan meletakkannya di dekat cermin. Setelah itu, dia mengambil sikat gigiku lalu mengoleskannya dengan pasta gigi dan kemudian menyodorkannya padaku.

"Kulihat kau sedang senang hari ini, Nona Kagamine. Jadi aku akan menambah kerianganmu dengan melayanimu pagi ini. Ada lagi yang bisa Saya bantu, Nona?" tanyanya ramah dan sopan. Tipikal butler dalam anime atau manga.

"Menjauh dariku," jawabku lugas. "Aku butuh ruang privasi."

Len terdiam selama beberapa detik lalu nyengir. "Ooh, yang itu tidak bisa."

Aku memutar bola mata lalu kumasukkan sikat gigiku ke dalam mulut dan tanganku mulai bekerja. Dengan bantuan cermin, aku bisa melihat Len meraih sikat giginya sendiri kemudian mengoleskannya dengan pasta gigi yang terlalu banyak.

Dasar pemboros ulung.

Kami menggosok gigi dua menit lalu mencuci muka. Len mulai bermain-main dengan keran air, tapi aku mencoba tak mengacuhkannya. Sadar bahwa aku tak memberikan reaksi yang diinginkan, Len berhenti mencipratkan air ke wajahku dan dengan wajah cemberut menutup keran air lalu meniruku menatap cermin.

Dua sosok yang agak serupa balik menatap kami. Rambut pirang sebahu, mata biru yang besar, dan bibir yang tipis. Tinggi badan yang nyaris setara. Dilihat dari sisi mana pun, orang-orang akan langsung tahu bahwa pemilik bayangan yang ada di cermin itu memiliki ikatan darah.

"Kita terlihat sama," celetuknya. "Tapi matamu lebih mengerikan dan aku jauh lebih tinggi."

Aku mengambil kacamataku lalu meliriknya dengan tatapan meremehkan. "Jauh? Cuma beberapa senti, Otak Pisang. Matamu pasti mulai rabun."

"Terserah kau, tapi beberapa tahun lagi perbedaan tinggi kita bakalan terlihat jelas dan kau nantinya bakal kelihatan pendek banget kalau berdiri di sampingku. Tunggu saja."

"Oh ya?" tanyaku dengan nada menantang. Kedua tanganku terlipat di dada. "Kalau begitu, aku tak akan mau dekat-dekat denganmu lagi. Bye."

Tumitku berputar dan Len hanya bisa melongo seperti orang bodoh. Atau enggak. Dia kan memang bodoh betulan.

"Eh? H-hoi, Rin!"

.

.

.

"Rin? Hoi, bumi memanggil Kagamine Rin. Halo? Rin."

"Berisik. Jangan dekat-dekat. Napasmu bau kayak naga."

"Duh, Rin. Tsundere jangan dipelihara. Sebenarnya kau mau bilang napasku sewangi kebun bunga, kan?"

"Gila."

"Ya. Aku gila karenamu."

"Iuhh, iuhh, iuhhhhhh! Menjijikkan. Jauh-jauh sana!"

"Iya, iya. Eh, tapi nanti jadi, 'kan?"

"Hah?"

"Nonton."

"Oh."

"Iya, jadi, 'kan?"

"Maaf, aku lagi sibuk. Kau cari orang lain saja."

"Lho? Kok gitu? Sekarang kau jadi sering ingkar janji padaku. Kau kenapa, sih?"

"Len, aku tidak pernah ingkar janji. Kau yang selalu memaksaku menuruti semua keinginanmu. Sekarang aku sibuk dan kumohon kau bisa mengerti. Oh, dan lagi kalau kau memang ingin ditemani kalau pergi-pergi hubungi saja bawahanmu atau … cari pacar sana. Lama-lama orang-orang bakal mengataimu sis-con nanti."

"…."

"Sekarang, minggir. Aku mau lewat."

.

.

.

SRET SRET

Ketika mengeringkan wajah dengan handuk, sayup-sayup terdengar suara sandal yang diseret. Itu adalah cara berjalan Papa ketika dia baru bangun tidur. Kulihat bahu Len sedikit menegang dan dengan terburu-buru dia mengalungkan handuknya kemudian melesat menuju tangga.

"Aku duluan."

Aku memutar bola mata. "Dasar."

Setelah menepuk-nepuk wajahku beberapa kali aku meninggalkan wastafel dan berjalan menuju tangga. Mama melongokkan kepalanya dari dapur dan menyapaku dengan riang. Papa di sebelahnya, masih memakai piyama. Wajahnya masih kusut dan matanya setengah terpejam.

Aku membalas sapaan Mama dan juga mengucapkan salam untuk Papa kemudian bergegas menaiki tangga. Untung saja aku memakai kacamata sehingga mereka berdua tak terlalu memperhatikan mataku yang terlihat lelah ini.

"Lama."

Setelah berhasil mencapai lantai dua, yang menungguku adalah Len yang berjongkok di depan pintu kamarku. Dia cemberut.

Len.

Aku tak mengerti kenapa akhir-akhir ini Len jadi dua kali lipat lebih menyebalkan. Dia terus-terusan menempel padaku dan membuat emosiku naik setiap ada kesempatan. Kalau aku mengabaikannya dia akan diam dan menjauh, kelihatan seperti terluka, tapi kemudian akan kembali dengan cengiran khasnya plus keisengannya yang mampu membuat tekanan darah siapa pun naik.

Asumsiku pasti benar. Otaknya sudah setengah rusak. Ada bagian yang korslet sehingga dia begitu kukuh mengekoriku seperti anak ayam meski sudah kukasari berkali-kali. Benar-benar seorang masochist.

"Apa kau tidak ada hobi lain selain menunggu? Kau mau jadi Hachiko kedua, hah?"

Len tersenyum. "Mood-mu memang sedang baik, ya."

Tentu saja baik. Dan akan lebih baik lagikalau dia cepat enyah dari hadapanku. Sayangnya aku masih punya hati untuk tidak merusak paginya yang sepertinya juga adalah pagi yang lebih baik dari hari-hari kemarin. Dan juga, siapa tahu apa yang akan dilakukannya setelah aku membentaknya? Kejahilannya tak pernah bisa diprediksi. Walaupun akhir-akhir ini aku cukup berhasil untuk tidak mengacuhkannya, kadang-kadang terbersit rasa waswas apa yang akan terjadi nanti.

"Minggir, aku mau siap-siap."

Kakiku mengayun, menendang Len pelan. Len bangun lalu menowel pipiku.

"Siap-siapnya jangan cepat-cepat, Rin. Nanti sumpalan dadamu enggak sama kanan-kiri. Hahaha."

Dan dia pun kabur ke dalam kamarnya.

Dasar, Len sialan. Aku tidak pakai sumpalan. Tidak pernah pakai dan tidak akan pernah. Buat apa? Untuk menggoda laki-laki? Kurang kerjaan sekali dan tidak ada untungnya. Lagipula, laki-laki yang terpincut dengan trik seperti itu pasti pikirannya cukup kotor untuk terpikat dengan sesuatu yang hanya terlihat dari penampakkannya saja. Mereka pasti membayangkannya dengan otak mesum mereka.

Menjijikkan.

Super duper menjijikkan.

Aku menghela napas. Len tidak akan bisa dan tidak akan boleh membuat mood-ku yang bagus ini hancur. Tanganku bergerak memutar gagang pintu dan setelah pintu terbuka aku pun masuk. Suara derit terdengar ketika aku menutup pintu.

Aku melucuti baju yang kukenakan sebagai piyama dan menggantinya dengan seragam sekolahku yang modelnya seperti seragam pelaut. Tak lupa kulapisi blusku dengan sweater tipis berwarna beige dan sebagai pelengkap kaos kaki hitam panjang.

Rok seragamku berwarna navy blue polos tanpa aksen apa pun. Tidak seperti gadis-gadis lain yang menggulung rok mereka, aku selalu mengenakan rok tepat di bawah lutut dan selalu memakai celana pendek di dalamnya. Entah itu musim dingin atau panas.

Memperlihatkan terlalu banyak kulit pada orang lain menjadi ide yang sangat buruk bagiku. Bahkan, aku bersumpah tidak akan pernah memakai baju renang jika bukan karena ancaman nilai.

Setelah memakai seragam, aku mematut diri di depan cermin. Menyisir rambutku yang agak kusut lalu memakai jepit rambut agar poniku tidak terlalu menganggu. Tak lupa polesan make-up tipis agar wajahku tidak terlalu terlihat seperti mayat. Dan yang terakhir adalah kacamata yang lensanya sudah kubersihkan dengan hati-hati.

Setelah merasa yakin, aku menyambar tas ranselku yang berwarna oranye dengan hiasan jeruk lalu keluar kamar. Lagi-lagi Len sudah menungguku. Dia menggunakan seragamnya yang terdiri dari celana hitam dan gakuran. Seperti biasa, di dalam gakuran-nya dia memakai hoodie berwarna putih yang memiliki motif pisang di tengahnya. Di bahu kirinya, tersampir tas ransel berwarna hitam dengan aksen kuning dan putih yang terlihat seperti tidak ada isinya.

Bagi Len, membawa tas hanya sebagai formalitas saja. Seluruh buku-bukunya berada di dalam laci meja dan dia hampir tidak pernah membawa barang-barangnya pulang. Dia juga selalu mengerjakan PR di sekolah dan tak pernah belajar saat ujian. Entah bagaimana dia bisa naik kelas. Hanya dia dan Tuhan saja yang tahu.

"Rin, kau ada ikat rambut enggak?" Len bertanya tiba-tiba. "Punyaku putus."

Aku merogoh kantung rokku dan mengeluarkan beberapa ikat rambut berwarna hitam. Itu sebenarnya bukan milikku, tapi milik temanku, Hatsune Miku. Dia gadis yang perhatian dan dia suka pada Len. Baru-baru ini dia menyadari bahwa Len sering kali membuat ikat rambut putus. Karena itu, sebagai bentuk cintanya dan bla bla dia menitipkan banyak ikat rambut padaku untuk diberikan pada Len.

"Nih," kataku sambil menyumpalkan ikat-ikat rambut itu ke dalam tangannya.

"Thanks, ya."

"Bilang pada Miku. Ini punya dia."

Len tersenyum masam. Dengan enggan, dia mengikat rambutnya menjadi bentuk kuncir kuda yang kecil dan terlihat seperti minta ditarik. Untung saja aku tidak sejahil Len.

Setelah merapikan rambutnya yang sama bendelnya dengan dirinya, Len mengekoriku menuruni tangga dan menuju ruang makan. Sarapan sudah terhidang di atas meja ketika kami tiba. Papa sedang membaca koran. Uap panas dari kopi di depannya menari di udara. Sedangkan Mama hilir mudik di dapur seperti lebah yang sibuk.

Sejak berhenti kerja beberapa tahun lalu, Mama benar-benar mendedikasikan hidupnya untuk menjalankan tugasnya sebagai ibu rumah tangga teladan.

"Ohayou," kataku bertukar salam untuk yang kedua kalinya. Len ikut mengucapkan salam, tapi suaranya seperti lirihan saja. Papa membalas sekenanya, sementara Mama setengah berteriak dari dapur.

Aku duduk di kursi yang berada di samping kiri Papa, sementara Len duduk di sampingku. Dalam tradisi keluargaku, sarapan tidak harus dilakukan bersama-sama. Jadi, aku mulai menyeruput sup misoku. Len mengunyah omeletnya dalam diam.

Mataku mengawasi dua kursi di hadapanku yang belum terisi. Satu kursi milik Mama tentu saja dan satu kursi lagi adalah milik si target yang sedang kuselidiki. Biasanya dia memang agak telat keluar dari kamarnya. Entah apa yang dia lakukan. Mungkin sedang menutupi jejak-jejaknya yang mencurigakan.

Tadi malam dia kurang tidur, kan? Dia menyelinap keluar dan baru kembali dini hari. Pasti matanya yang dari awalnya sayu itu akan terlihat lebih kuyu lagi dan dia tak akan bisa menyembunyikan kantung matanya itu.

Aku sudah tidak sabar melihatnya keluar dari kamar. Papa mungkin akan menyadari sesuatu yang salah darinya dengan kantung-kantung mata itu dan menanyainya. Dengan begitu, aku bisa mengorek sesuatu. Bagaimana pun, dia tak pandai berbohong walaupun cukup pintar dalam menyembunyikan sesuatu.

KRET

Suara derik dari pintu yang terletak dekat tangga terdengar disusul suara tapak kaki sehalus tapak kaki kucing. Seorang gadis berambut pirang panjang yang diikat kuda menghampiri meja makan. Dia memakai seragam SMA K yang terdiri dari setelan kemeja dan rok yang dilengkapi blazer abu-abu. Di bahu kanannya tergantung tas tenteng hitam dengan sebuah gantungan kunci berbentuk kelinci.

Ah, sial.

Terkutuklah dia dan kemampuannya dalam menggunakan make-up. Matanya yang harusnya dihiasi lingkaran gelap itu terlihat normal dan wajahnya kelihatan berseri-seri. Meski tidak ada senyum yang terukir di bibirnya, bagaimana pun tampilannya seperti siswi SMA pada umumnya, muda dan segar.

"Ohayou," katanya pelan lalu mengambil tempat duduk yang bersebrangan dengan Len. Mataku mengawasinya seperti seekor elang.

Inilah dia yang kutunggu-tunggu, targetku: Kagamine Lenka, 15 tahun. Kakakku sendiri.

.

.

.

"Kau sedang apa sih, Rin? Dari tadi main HP terus."

"Bukan apa-apa. Kau tak perlu tahu."

"Hmmm, jangan-jangan kau sedang mengagumi fotoku, ya?"

"Edan! Mana mungkin?"

"Ooh, jadi foto Kaito-senpai?"

"Kurang ajar! Belum pernah makan bogem mentah, ya?!"

.

.

.

To be continued