Love you, touchan…

Rated: M mugyaaa..

Pair: Uchiha sasuke x Uzumaki naruto

Disclaimer: Naruto sejak dari janin udah punya babe Kishimoto, and manga yaoi Koishite Daddy by Kitazawa Kyou

Genre: romance, family, angst, a little bit humor

Warning: pastinya YAOI donkzzzz…. Xexexxe xp…narUKE- saSEME…fuufuufufuufufuuu…. #plak ga penting…. And maaf kalo bnyak typo ditiap chapter coz authornya males meriksa lagi.. hhehe (yak ketahuan dech…..)#plak di tampar readers

Summary:

Menceritakan kisah tentang seorang duda beranak satu yang menemukan cinta sejatinya pada diri seorang pemuda yang masih berstatus mahasiswa sebuah universitas kedoteran terkenal. Bagaimanakah hubungan mereka, akankah cinta mereka dipersatukan oleh takdir? Dan bagaimana dengan sang anak?

# chapter 4

Disiang hari saat aku tengah mengajak anakku berbelanja bahan makanan, aku tak sengaja menabrak seseorang. Yang membuatku terkejut adalah orang itu sangat mirip dengan Sasuke, bedanya ia terlihat tua. Karena kurasa diriku yang salah karena tak melihat jalan dan akhirnya menabrak orang itu, akupun minta maaf padanya sambil memeluk anakku sembari membungkukkan badan. Ia hanya mengeluarkan kata 'hn' dari mulutnya. Aku merasa seperti dejavu saat itu. Aku benar-benar berpikir mungkin orang tua itu ada hubungannya dengan kekasihku, Sasuke. Setelah ia mengucapkan kata itu iapun berlalu dari hadapannku. Akupun meneruskan perjalananku menuju ke salah satu supermarket di kota ini untuk membeli bahan makanan yang persediannya hampir habis dan juga tentunya membeli persediaan ramen instan, makanan favoritku dan Ryuu.

"untuk apa kau datang?"

"pulanglah, Ibumu sakit."

"tch, untuk itukah kau datang, tch sudah kuduga."

"bila ibumu tak sakit akupun tak akan datang padamu"

"pergilah, akan kupikirkan untuk menjenguknya atau tidak"

"tch, percuma saja aku datang jika hanya itu yang keluar dari mulutmu"

"bukan urusanmu!. Kalian duluan yang tak peduli padaku, jadi kali ini akupun begitu."

"baik. Terserah padamu. Aku hanya menyampaikan apa yang Ibumu inginkan"

"…."

"…."

"tch.. Sial!"

Kudengarkan apa yang dari tadi mereka perbincangkan dari balik pintu apartementku, mereka berdua nampaknya tengah mengalami sedikit perselisihan, ya, Sasuke dengan seorang pria tua yang tadi siang tak sengaja kutabrak itu, kurasa apa yang kupikirkan tadi siang benar, dari percakapan yang mereka lakukan aku bisa menebak pria tua itu adalah Ayah Sasuke. Hmm kalu tak salah namanya Uchiha Fugaku, dulu Sasuke pernah menceritakan sedikit tentang keluarganya padaku sebelum kami berstatus sebagai pasangan kekasih.

"touchan? Touchan sedang apa?" Tanya anakku yang kini tengah berdiri dibelakangku, aku cukup tersentak karena suara kecilnya itu agak mengagetkanku yang kini tengah menguping pembicaraan tetanggaku, hal yang tak patut untuk ditiru, hehe

"ah.. umm.. touchan tak sedang apa-apa ryuu,, hehe hany mengecek engsel pintu ini, he" ucapku menngelak disertai cengiran terpaksa di wajahku, Ryuu hanya menatapku bingung. Memiringkan sedikit wajahnya kesamping, sambil meletakkan jari telunjuknya di bibirnya, memandangku dengan mata bulat besarnya itu, 'ohhh.. so cute' batinku dalam hati, dan hampir saja aku meneteskan darah dari hidungku, melihat ekspresi moe moe anakku itu hehehe…

"telus touchan ngapain kok lama beldili disana? Lyuu udah lapel touchan."

"ya, ya.. maafin touchan ya. ayoo.. touchan juga laper"

"yoshhh… makann…" ucapnya yang kini berlari lebih dulu menuju ruang makan. Aku hanya tersenyum melihat tingkah lucu anakku itu. Kutinggalkan pintu apartement dimana tadinya disebelah apartement itu terdapat dua orang lelaki yang tengah berselisih.

Sekitar pukul 5 sore aku berkunjung ke apartement Sasuke. Setelah puas bermain bersama anakku yang kini tengah tertidur karena kelelahan.

'ting tong..'

'apakah Sasuke ada di dalam ya?' batinku yang kini tengah menunggu dirinya keluar membukakan pintu.

'cklek'

"dobe? Ada apa?"

"hum,, aku datang berkunjung, kurasa aku ingin membawakan ini untukmu, tadi aku membelinya di supermarket bersama Ryuu, kupikir sekalian saja kubelikan ini untukmu." Ucapku sambil menyerahkan bungkusan plastic yang berisi buah tomat kesukaannya.

"hn, terimakasih, masuklah"

"um.. permisi"

"dimana Ryuu? Tumben kau tak mengajaknya ikut."

"oh, dia tidur, sepertinya kelelahan setelah bermain dengan ku dari tadi. hehe"

"hn.."

"duduklah" ucapnya padaku.

"um.. oh ya tadi maaf, aku tak sengaja mendengar percakapanmu dengan orang tua itu, hmm.. aku rasa itu tadi ayahmu kan Teme?" ucapku padanya, kulihat wajahnya sedikit menampakka kecemasan, entah alasannya apa, aku tak tahu.

"…" tak ada jawaban darinya

"Teme? Ada apa? Apa pertanyaan ku meng-" ucapanku terpotong, kini kurasakan ia merengkuhku dalam pelukannya dan mencium bibirku. Aku kaget dengan pergerakan tib-tibanya saat itu, tapi tubuhku tak kuasa menolak sentuhan-sentuhan yang ia berikan pada tubuhku. Tangannya kini mulai merayap dibalik kaos berwarna kuning ynag kini aku kenakan, mencari gundukan berwarna pink yang sering ia mainkan dengan lidahnya saat kami melakukan sex. Kucoba untuk menyingkirkan tangannya, karena kurasa saat ini bukanlah saat yang tepat untuk melakukan hal seperti itu. Namun kekuatanku serasa menguap oleh sentuhan-sentuhan yang ia berikan pada tubuhku kini, jadi aku tak kuasa untuk menolak perlakuan yang ia berikan padaku. Kupasrahkan diriku saat ini, terserah ia ingin melakukan apapun pada tubuhku yang telah kuserahkan padanya. Aku hanya bisa mengikuti setiap gerakan yang ia lakukan pada tubuhku saat ini. Kurasakan panas tubuhku meningkat pesat, sentuhan- sentuhan yang ia berikan padaku saat ini membuat aku tak bisa berpikir sama sekali. Baru saja aku ingin mengucapkan namanya namun, ada seseorang yang tiba-tiba menginterupsi kegiatan yang kami lakukan..

"apa yang kalian berdua lakukan!" teriak seseorang yang tadi sempat berselisih paham dengan Sasuke.

"ah….." ucapku dengan mata terbelalak karena terkejut, langsung saja aku berdiri dan mengambil kaosku yang kini tergeletak dilantai, entah sejak kapan Sasuke melepaskannya, dan untung saja aku masih memakai celana jinsku.

"untuk apa kau datang lagi, pak tua?" ucap Sasuke yang kini sudah mengubah posisinya jadi duduk menatap nyalang kearah pria tua yang kini tengah menampakka wajah penuh amarah melihat kelakuan anaknya yang selama ini jarang ia temui.

"inikah tingkahmu selama ini hah! Membawa seorang lelaki sepertinya dalam apartementmu dan melakukan hal-hal yang tak senonoh seperti ini?! Sebenarnya apa yang kau inginkan hah!"

"itu bukan urusanmu!"

'Plakkk' suara tamparan yang kini dilayangkan pria itu pada sasuke, aku hanya bisa membelalakkan mataku terkejut melihat Sasuke mendapat tamparan dari sang ayah.

"itu akan menjadi urusanku, karena kau itu adalah putraku, putra dari Uchiha Fugaku!"

"cuihh… aku tak pernah menganggap diriku sebagai putramu pak tua!"

'PLAKK' kali ini tamparan yang lebih keras dilayangkan oleh sang ayah. Kali ini aku berusaha menghentikan perseteruan mereka, aku tak ingin melihat salah satu diantara mereka ada yang terluka, naluri seorang ayahkulah yang saat ini bekerja, aku berlari menghampiri ayah sasuke dan aku berdiri dihadapannya.

"Paman, jangan pukul Sasuke lagi, ini.. ini semua bisa kamu jelaskan. Kita bicarakan baik-baik paman, tak enak jika membicarakannya dengan hati yang dipenuhi amarah."

"minggir dobe! Pak tua ini tak akan mendengarmua. Ia sudah menulikan semua telinganya. Percuma saja kau menjelaskan padanya."

"tapi, dia ini ayahmu Teme, kita harus menjelaskannya"

"aku tak butuh penjelasan kalian berdua, apa yang aku lihat sudah lebih dari cukup. Dan kau anak muda, apa yang kau tanamkan pada pikiran putraku hah! Apa kau memberikan obat-obatan pada putraku sehingga otaknya bisa kau cuci dengan mudah ha!?"

"ap.. apa maksud paman? Aku tak pernah melakukan hal itu pada sasuke."

"tch, ucapanmu tak bisa kupercaya bocah. Pasti kaulah yang menanamkan hal-hal yang tak baik pada putraku yang saat ini semakin bertingkah dihadapan ayahnya sendiri."

"CUKUP! Hentikan ucapanmu itu pak tua. Naruto tak ada hubungannya dengan semua ini."

"naruto? Jadi namamu naruto? Sebaiknya sekarang tinggalkan kehidupan putraku, kau tak akan bisa memberikan kebahagiaan pada putraku, kalian sama sama laki-laki apa yang kalian pikirka dengan menjalani hubungan seperti ini hah! Tak ada, kalian hanya akan menambahkan beban pada orang lain, kalian akan mengahncurkan banyak orang disekitar kalian, kalian pun akan dibenci orang lain. Itu yang ingin kalian mau dari hubungan tak jelas ini ha?"

"…" aku hany terdiam mendengar cercaan cercaan yang dikeluarkan oleh Ayah Sasuke itu.

"jangan katakana hubungan kami tak jelas pak tua! Kami saling cinta, kami tak butuh pandangan orang lain tentang kami, itu semua tak penting! Camkan itu!" ucp Sasuke sengit membalas perkataan sang ayah

"Hahaha.. jangan buat aku tertawa bocah, kalian belum tahu bagaimana kerasnya hiup, kalian hanya bocah ingusan yang baru kemarin berada dilingkungan social. Dan kau, apa yang bisa kau banggakan ha? Apa pekerjaanmu anak muda? Berapa banyak yang bisa kau berikan nati pada putraku hah?!" ucap Fugaku di depanku, kata kata yang ia ucapkan sangat menusuk hatiku, dadaku sakit mendengar apa yang ia ucapkan padaku. Aku ingin menagis saat itu, sampai sebuah suara kecil menginterupsi kegiatan kami…

"touchan? Sasuke? Kenapa kalian libut? Lyuu jadi bangun.. padahal lyuu masih ngantuk touchan"

Ucap anakku yang kini berjalan mendekatiku. Kurasa pembicaraan kami sedikit mengganggu tidurnya sampai ia datang ke kamar Sasuke dan mencariku. Kupeluk erat tubuh mungilnya, berusaha menahan tangisanku, rupanya hal itu membuat ia cemas padaku.

"nee, touchan ngapain nangis? Siapa yang buat touchan jadi sedih? Nanti lyuu yang pukul." Ucapnya dengan tingah anak-anaknya.

"tch,, jadi anak itu anakmu? Sudah kuduga. Apalagi seorang pemuda yang sudah punya anak seperti dirimu ini, apa yang bisa kau berikan pada putraku hah? Kurasa kau hanya akan membebani dia dengan anakmu itu, aku rasa kalian hanya akan menghambat masa depan putraku saja, dan itu tak akan kubiakan kalian mendekati putraku lagi!" ucap Fugaku setelah meihat putraku, kali ini kata-katanya semakin menusuk, semua yang ia katakana benar, aku pasti hanya akan menyusahkan Sasuke, apalagi ia hanya seorang mahasiswa, seharusnya ia punya masa depan yang lebih baik, jika.. jika ia tak bersamaku… akhirnya airmata yang sejak tadi kutahan kini mengalir deras. Kulihat anakku juga sedikit bergetar, kurasa iapun kaget akan ucapan ayah Sasuke.

"hiks.. touchan paman itu selam… hiks.. lyuu takut…" ujarnya yang kini memeluk leherku semakin erat, mengalihkan pandangannya kebelakangku, supaya ia tak melihat wajah Fugaku yang kini sanagt seram menurutnya.

"SUDAH CUKUP! HENTIKAN! KELUAR SEKARANG JUGA DARI RUMAHKU PAK TUA! Ucap Sasuke yang kini dari wajahnya bisa terlihat amarah yang begitu pekat keluar, sejak tadi ia hanya mendengar perkataan sang ayah, rupanya kata-kata yang dikeluarkan oleh ayahnya itu sudah cukup untuk membuatnya mengeluarkan aura yang pekat, amarah yang semakin membuncah keluar dari dirinya. Aku sedikit takut melihat Sasuke seperti itu, badanku sedikit bergetar, kurasakan tangis ryuu semakin keras di bahuku.

"Baik ayah akan pergi sekarang. Tapi ingat kata-kataku sampai kapanpun aku tak akan menyetujuia hubunganmu dengan pemuda ini. Camkan itu baik-baik Sasuke"

"aku tak akan mengikuti apapun kemauanmu. Pergi!"

"….." hening tak ada yang berani bersuara, yang terdengar hanyalah langkah kaki yang beranjak menuju pintu keluar. Sedangkan aku dan putraku, kami masi menangis dalam pelukan dan Sasuke, kini ia tengah mengatur nafasnya yang terengah-engah karena membentak sang ayah, berusaha mengontrol emosinya, setelah dirasa cukup, iapun beranjak dari tempatnya berdiri kemudian menuju kearah kami. Perlahan iapun menyentuh rambutku, kemudian ia menarik kami dalam pelukannya. Ia membisikkan sesuatu ditelingaku, "maaf,, maafkan aku. Jangan dengarkan kata-katanya. Aku pasti akan membahagiakan kalian. Aku janji. Aku janji dobe." Ucapnya padaku.

Namun yang kulakukan hanya terus menangis, menangis dan menangis. Perlahan kugelengkan kepalaku. Walaupun pikiranku menngatakan Sasuke akan berasamaku, tapi hatiku tidak sejalan dengan pikiranku. Resah, dan aku tahu sekali lagi aku tahu kami tak akan bisa bersama, tembok yang terbentang diantara kami terlalu tinggi. Sangat tinggi, dan kurasa tembok itu tak kan sanggup untuk kami lewati, besar dan tinggi. Dan kurasa takdirpun memihak bukan pada kami. Hancur sudah, tak ada harapan untuk kami. Ini karena diriku yang memulai, maka diriku juga yang harus mengakhiri. Ya, akulah yang harus mengakhiri, walaupun sakit, tapi demi kebahagiaannya dan juga aku tak ingin karena diriku aku mengahancurka kehidupan orang yang sangat aku cintai. Karena itu, aku akan menyerah. Itulah keputusanku.

Perlahan kulepas pelukanku dari dirinya, kutatap matanya mungkin untuk yang terakhir kalinya, akupun berdiri sambil tetap menggendong Ryuu dipelukanku yang masih menangis. Perlahan ku melangkah menjauh darinya tanpa sekalipun mengalihkan pandanganku darinya. Aku ucapkan "Arigatou" padanya sambil tersenyum, senyum termanis yang pernah kuberikan padanya, walau air mataku masih menetes hal itu tak kuhiraukan, aku tetap melangkah menjauhinya. Kulihat ia tersentak dengan apa yang kulakukan, iapun mengeleng berusaha untuk melarangku untuk melakukan apa yang kini tengah ia pikirkan, dan aku yakin yang saat ini ia pikirkan adalah apa yang benar-benar akan aku lakukan. Ia mengernyit, menatapku mencari kepastian bahwa aku hanya akan berbohong, namun setelah ia tak menemukannya dalam sorot mataku, ia menangis. Untuk pertama kalinya ia menangis didepanku. Dadaku semakin sesak. Tak sanggup untuk lebih lama berada dalam ruangan itu, akupun mempercepat langkah kakiku meninggalkan ruangan itu dan dirinya yang masih menatapku dan kemudian aku mendengar jeritan kesakitan darinya memanggil namaku, "NARUTOOO!".. tapi tak kuhiraukan, aku masih mempercepat langkah kakiku menuju ke apartementku dan menguncinya rapat-rapat agar ia tak bisa masuk.

Aku menangis dan juga Ryuu yang masih menangis dalam dekapanku. Kudengar ia menggedor-gedor pintu apartementku, berusaha sekuat tenaga agar pintu itu terbuka. Tapi itu hal yang sia-sia, pintu itu terlalu kuat untuk ia dobrak, merasa hal itu sia-sia ia hanya meneriakkan namaku dan menangis. Kudengar kegaduhan didepan pintu apartementku, mungkin tetanggaku yang lain merasa terganggu dan kemudian memanggil satpam untuk mengamankan Sasuke. Beberapa menit berlalu, tak lagi kudengar suar rebut- rebut didepan apartementku. Kulihat sekilas Ryuu yang kini tertidur lagi, kelelahan setelah menangis, matanya masih sembab dan bengkak, namun kurasa akau masih belum bisa berhenti menangis. Air mataku masih mengalir deras….

"selesai.. semuanya berakhir seperti ini.. hah.."ucapku ditengah air mata yang masih mengalir….

Tsuzuku…..

Yeiyyy tinggal lagi 3 chapter…. Yosh semangka… ups maksudnya semangat hehehhe

Umhh….. maaf yang nunggu kelanjutan ficku sebelumnya, saat ini dikepala saya masih belum menemukan ide yang tepat untuk melanjutkan ficnya,, sekali lagi maafkan saya yak… hehehehe makasi… ^ ^

Buat yang review, ngasi kritik or saran terimakasih banyak.. maaf ga bisa ngasi apa apa,, aku ngasi cium aja dah kalo gtu xexexex #ditabok readers..

Hmm.. balas review sedikit yah..

Keylovemelt: umm.. makasi sarannya ya.. hehe oh itu, haha yah ketahuan deh aku mesumnya udah tingkat akut kyaa #plakk ga ngurus.. hehehe yoshh.. makasi seklai lagi yak.. ditunggu aja kelanjutannya hehehe mangap kalu ficnya kelewat mesum kyaaaaaaaaa _ authornya mesum bangetz xexxe

Satsuki Naruhi: heheh makasi, makasi udah suka yak hehehehe ditunggu aja hohoho. And makasi ya udah ngereview.. hehehe ^^

Ryuichi Zu: haiiii juga… aku manggilnya Ryu aja ya hheheh ^^ kalo menurt ryu ngebut, ya bolehlah, hehehe hahaha "ku" juga sebenarnya rasa ada yang kurang juga wkwkwkw tapi entahlah.. hehehe yosh semoga makin penasaran yak xexexexe. Hmm makasi udah review. ^^

Akhir kata….

Jaa.. neee….