Jangan mudah mempercayai seseorang! Itulah yang akan selalu Sehun dan Jongin ingat. Menyebarnya gossip kedekatan dirinya dengan seorang single parent yang dibuat begitu dramatis serta perkenalan Jongin dengan seorang namja di sebuah Mall yang sangat tak terduga. (Bittersweet Blood Chapter 4_Don't Trust Anyone!)
.
.
.
Rating M : For Lemon *Lol
Warning : NC, AU, MPREG, GAJE, Typo(s), ALUR CEPAT, NO BASHING CHARA!
.
.
Don't Trust Anyone! (Bab I)
3 minggu telah berlalu setelah kejadian percobaan pembunuhan di rumahnya.
Jongin sudah kembali tinggal di rumahnya, meskipun tampak beberapa pengawal yang terus berjaga di depan pintu. Dia mendesah pelan, agaknya terlalu berlebihan jika ibunya meng-kontrak orang-orang itu guna menjaganya dan juga putra kecilnya yang sudah mulai masuk Playgroup.
'teettt..teett'
Bel rumah berbunyi. Jongin baru saja selesai mandi setelah mengurus Kyungsoo yang hendak ke sekolah di hari pertamanya.
Ia melintasi ruang keluarga, dimana putra kecilnya yang sudah berpakaian tengah memakan sereal dan menikmati acara kartun kesukaannya.
Tubuh rampingnya hanya dibalut bathrobe, bel berbunyi lagi. Sepertinya si tamu tak sabaran menanti tuan rumah membuka pintu. Jongin berdecak sebal, sembari mengencangkan tali bathrobe-nya.
Cklek..
Changmin datang membawa belanjaan dan surat kabar. Dia tersenyum dan mengucapkan 'Hallo' bertingkah sok perhatian padanya dan juga putra semata wayang mereka.
Dia yang bertugas mengantar Kyungsoo ke sekolah selama namja itu berada di Busan. Entah mengapa Jongin merasa jika Changmin berbeda dari biasanya.
Mantan suaminya itu tampak lebih perhatian pada putranya dan bersikap seperti seorang ayah yang baik dan bertanggung jawab. Dia bilang dia akan kembali ke Seoul setelah kasus pembunuhan di distrik Gangseo mereda.
"tidak usah repot-repot! Buatkan saja kopi" Ujar Changmin, saat Jongin hendak membuatkan sarapan untuknya.
Yang benar saja, pikir Jongin, sembari mengangkat bahunya tak mau tahu. Dia mulai mengeluarkan belanjaan yang Changmin bawa dan sebuah surat kabar. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali membaca surat kabar atau menonton TV.
Dalam berita di halaman depan tertulis Enigma Pembunuhan Di Distrik Gangseo, dan di halaman lain juga tertulis Kedekatan Kapten Polisi Muda Dengan Janda Shim Changmin. Ia berdecak pelan, ternyata namanya juga tertera dalam surat kabar beberapa minggu terakhir ini selama ia tinggal di rumah besar itu.
...
Changmin sudah mengantar Kyungsoo ke sekolah 30 menit yang lalu. Bibi Han juga sudah menyiapkan sarapan untuk beberapa pengawal yang disewa nyonya Kim untuk menjaga mereka.
Padahal Sehun sudah bilang untuk tidak memberi mereka makan, tapi Bibi Han yang baik hati itu bersedia masak banyak dan membuatkan 3 orang itu makanan yang enak-enak.
Jongin membaca berita-berita penuh sensasi itu dengan seksama. "Aku sama sekali tidak menggodanya" dengusnya. Bagaimana bisa Daily Gangseo menyebutkan seperti itu?
Terdapat berita mengenai pembunuhan-pembunuhan sadis itu. Dan yang pasti dari semua berita yang membuatnya kesal ya Cuma satu. Perihal kedekatannya dengan Oh Sehun yang terhormat. bahkan ada photo dirinya dan juga Oh Sehun yang tengah menggendong Kyungsoo kecil yang ia yakin sudah di-edit sedemikian rupa agar terlihat lebih dramatis lagi. Berita murahan, kacangan, kodian, atau apapun Jongin merutukinya.
Pukul setengah satu siang Jongin pergi untuk bertemu Oh Sehun di kantornya. Meskipun sudah dibiarkan beraktivitas tanpa pengawalan ketat, Jongin tetap harus memberikan laporan 24 jam seminggu sekali yang membuatnya jenuh.
"sama sekali tidak ada ancaman" kata Jongin.
"Apa anda tidak melihat orang lain atau sebuah kelompok yang mencurigakan di sekitar anda?"
Jongin rasa Sehun terlalu formal, dan ia tidak suka itu. Sehun seperti melihat orang lain yang sama sekali tidak ia kenal. Jongin melihat sekilas wajah Sehun yang pucat dan tegas. penuh tanggung jawab dan disiplin. Jemarinya terus menerus mengetik selama Jongin menjawab berbagai macam pertanyaan yang ia berikan.
"Aku pikir ini terlalu formal" Kata Jongin.
Sehun melihat ke arahnya—menatap seolah ia hanya orang asing di mata Sehun. "ini kantor polisi" sahutnya. Kemarin saat diperiksa oleh Inspektur Park (yang ternyata adalah teman sepermainannya saat kecil) dia merasa tidak canggung.
"Kemarin Chan—maksudku Inspektur Park tidak terlalu menekan seperti ini"
Sehun mengerutkan keningnya, dia hanya diam—dan meneruskan pekerjaannya. Jongin yang merasa seperti diabaikan pun ikut-ikut diam. Ada perasaan kesal diabaikan oleh namja yang telah membuatnya dag dig dug belakang ini.
Mata bulatnya tak sengaja melihat sebuah surat kabar yang sama seperti yang ia baca tadi pagi di samping printer laser berwarna hitam. Kedekatan Kapten Polisi Muda Dengan Janda Shim Changmin, begitulah judul artikelnya.
Isinya seperti ini:
Kedekatan Kapten Polisi Muda Dengan Janda Shim Changmin
Daily Gangseo, Distrik Gangseo—Busan.
Tergoda akan kecantikan janda pengusaha anggur beras asal Seoul. Itulah yang terjadi pada Oh Sehun (27-april, 20xx) seorang kapten muda distrik Gangseo yang juga putra Komisaris Jenderal Oh Kibum yang saat ini tengah menguak kasus pembunuhan di distrik Gangseo.
Mantan istri Tuan Shim (Kim Jongin) terlihat berjalan-jalan bersama putranya dan kapten Oh di sebuah pusat perbelanjaan.
"benar (mereka bersama)" kata seorang saksi yang tak mau disebutkan namanya. "mereka terlihat selalu bersama, mungkin mereka berpacaran. Tak heran sih, Nyonya Shim sangat cantik dan masih sangat muda"
Dalam laporan saksi, Kim Jongin juga selalu terlihat menggunakan pakaian minim untuk menggoda putra bungsu Komisaris Jenderal itu.
"siapa yang bisa menolak kalau sudah digoda orang secantik dia?" katanya lagi.
...
"Kau sudah membacanya?" tanya Jongin.
Sehun menghentikan kegiatannya dan melihat ke arah Jongin yang tengah memegang surat kabar itu. Matanya melotot kaget, Sehun hendak merebutnya, namun Jongin menahannya.
"Aku tanya kau sudah membacanya?" Jongin bertanya lagi.
Bungsu Oh itu menarik napas. "Ya, aku sudah membacanya" jawabnya. Dia berdehem pelan, dan meminum air putih yang sedari tadi didiamkan begitu saja.
"Aku juga sudah" kata Jongin. "bagus sekali beritanya, sampai ibuku nyaris jantungan setelah membaca berita itu"
"Aku minta maaf, sepertinya anak buahku yang sudah membeberkan berita ini"
Jongin jadi bisa menebak mengapa Sehun bertingkah seolah mereka hanya sebatas Polisi dan seorang korban. Segala sesuatu yang tertulis di surat kabar mungkin telah membuat Sehun sadar jika kedekatannya dengan ibu satu orang anak itu telah menimbulkan fitnah di kalangan masyarakat.
Apalagi ada ibu-ibu yang menganggapnya tak becus menjalani tugas dan hanya fokus dengan Jongin saja. Padahal bukan begitu, dia jadi merasa kasihan pada Jongin yang tidak tahu apa-apa tapi harus terkena dampak dari pemberitaan ini.
"tak perlu khawatir" katanya. Dia tersenyum dan mulai bercerita jika ia sudah sering diberitakan yang tidak-tidak selama menjadi Nyonya Shim. Dia yang selalu dipandang sebelah mata, atau tatapan mengucilkan orang-orang yang berpikiran jika ia bisa menikahi Changmin karena bantuan ilmu sihir atau segala permainan kotor lainnya.
"kau tak mencoba menampiknya?" tanya Sehun. Mereka sudah out of topic.
Jongin menggeleng. Menampik? Lagipula selama bertahun-tahun mencintai Changmin ia mencoba menguatkan dirinya dari semua cemoohan orang di luar sana. Percuma saja menampik, lagipula siapa sih di dunia ini yang akan mempercayainya?
.
.
.
Jungkook tertawa terbahak-bahak saat kekasih imutnya menunjukan berita harian tentang kakaknya yang tengah dekat dengan seorang perwira kepolisian distrik Gangseo.
"menyebalkan" Jimin bersungut-sungut, ia kesal melihat Jungkook tertawa seperti itu, seolah dirinya adalah lelucon idiot yang pantas untuk ditertawakan.
"maaf, sayang" ucap Jungkook. Ia menarik Jimin ke dalam rangkulannya dan mengecupi pipi Jimin.
"kau menyebalkan sih"
"aku tertawa bukan karena menertawakan mu" katanya, berdehem pelan. Seraya menatap dirinya di mata Jimin. "Aku hanya tak menyangka jika dugaanku itu benar-benar jadi kenyataan sekarang"
Dia menceritakan apa yang terjadi saat berkunjung ke Gangseo 3 minggu yang lalu. Tapi tidak tentang kecelakaan itu, dia hanya tak mau Jimin syok dan terlalu mencemaskan dirinya. "Aku bersumpah jika aku melihat ketertarikan di mata Tuan Oh saat menatap Jongie hyung" katanya, sambil menghabiskan hamburger di tangannya.
"kau tidak keberatan jika Jongie hyung nikah lagi?" Tanya Jimin, dia duduk di pangkuan Jungkook dengan surat kabar di pahanya.
"tentu saja tidak" jawabnya. "Tuan Oh tampan tahu"
Jungkook mencubit gemas pipi Jimin. Jimin mengerucutkan bibirnya lucu. Mata hitamnya melihat ke arah celana pendek Jimin yang menampilkan paha indahnya yang sexy.
"Kookie, mesum!" Berusaha menyingkirkan tangan Jungkook dari pahanya.
Jimin mendesah saat tiba-tiba Jungkook menciumi lehernya dan memberikan gigitan-gigitan kecil tanpa bekas.
"eungghh"
Namja Kim itu menelan ludahnya kasar. Hell, desahan sexy Jimin membuatnya ingin segera memakan kekasih manisnya itu dan menahan Jimin di apartmentnya hanya untuk dirinya seorang.
Tak melihat penolakan membuat Jungkook menyeringai dan segera menggendong Jimin ala pengantin wanita. Membawanya ke kamar, menjatuhkan tubuh mungil itu ke atas kasur, dan tak lupa mengunci pintu kamarnya agar tak ada yang menggganggu aktivitas mereka.
.
.
.
"tentang kedekatanmu dan kapten muda itu" Changmin berkata, dia sudah berada di dalam mobilnya. Jongin yang dibalut kemeja longgar dengan celana pendek di atas lutut itu berdiri di samping mobilnya.
Terkadang kedewasaan Changmin selalu hadir jika hanya ada mereka berdua tanpa Kyungsoo kecil mereka.
"ya, benar" sahut Jongin. Ia tidak ingin menutup-nutupi berita itu. Lagipula saat mereka (Jongin dan Sehun) hendak berciuman pun Jongin sadar, sangat sadar malah.
Changmin mengenggam setir kemudinya kuat-kuat. Wajahnya mengeras, membayangkan Oh Sehun yang menggagahi mantan istrinya saja membuat hatinya terasa panas.
"mereka menganggap dirimu jalang, Jongin"
"aku tidak peduli" sahutnya. "lagipula aku memang sudah menjadi jalang saat bersama mu, kan?"
Changmin menatap Jongin, tatapannya tajam tanpa ekpresi. "Aku minta maaf jika aku pernah menyakitimu" katanya. Dia sadar, Jonginnya sudah pergi, dan tidak akan pernah kembali.
"kau membuat ini terlihat susah" timpal Jongin. Matanya berkaca-kaca. Ia hanya menyesali tingkah Changmin yang seolah benar-benar membutuhkannya—meskipun kenyataannya Changmin memang sangat membutuhkan dirinya kembali. Hidup bersama, memulainya dari awal, karena Changmin telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak hidup semrawut demi Jongin dan putranya kembali.
"bagaimana mungkin aku bisa hidup tanpamu?"
"sstt" Jongin taruh telunjuknya di depan bibir Changmin.
Agar suaminya (mantan) berhenti berkata-kata. "Aku tak bisa" katanya. "ku mohon, mengertilah!"
Dia tak mungkin bisa, tidak akan pernah bisa lagi mencintai Changmin sementara luka yang ditorehkan namja itu sudah diobati oleh yang lain. Jongin pernah memberikan kesempatan, tapi tak pernah digunakan dengan baik.
Changmin keluar dari mobilnya, mendekap tubuh Jongin dengan sangat erat. Pelukan terakhir, karena ia tahu tak mungkin lagi ia bisa memeluk tubuh ramping itu.
Seseorang disebrang jalan melihatnya. Tangannya mengepal erat-erat. Dari cahaya remang jalanan gelap Pivet dia masih bisa melihat dua orang yang tengah berciuman mesra di depan pagar rumah minimalis itu. ingin ia menghentikannya, tapi dia siapa? Atas dasar apa ia bisa mencegah dua orang itu saling bercumbu?
Drrtt..
Ia mengambil ponsel dari kantung seragam kerjanya. Satu pesan singkat ia terima.
From : Unknown
Melihat orang yang kita sukai bercumbu dengan orang lain. Bukankah itu menyakitkan, KAPTEN?
.
.
.
Don't Trust Anyone (Bab II)
Changmin pulang ke Seoul karena harus mengurus pekerjaannya.
Maka Jongin sendirilah yang harus menjemput putra mereka di Playgroup yang terletak 8 atau 10km dari rumah mereka.
Jongin berdoa dalam hati agar tak terjadi apa-apa, karena hari ini adalah hari pertamanya kembali keluar rumah setelah kejadian tak diharapkan itu.
"hyung yakin?" Junhong, seorang prajurit kepolisian, usianya masih 19 tahun. Masih sangat muda, dia yang paling muda diantara para pengawal Jongin. Tubuhnya tinggi, dia jago memasang installasi listrik maupun koneksi internet. Junhong pernah bercerita jika dia pernah menjadi seorang hacker saat masih kelas 2 SMP.
"yakin, sangat yakin" jawab Jongin, tubuh rampingnya dibalut blazer panjang warna coklat muda.
Junhong menelan ludah kasar, otak mesum laki-lakinya hidup seketika. Serius nih Jongin hyung seorang mama muda? Kok sexy sekali, pikirnya mulai gila.
"Hong? Junhong?"
Lamunannya tersadar saat Jongin menepuk bahunya pelan.
"i..iya, hyung?"
Jongin tersenyum manis, "jangan bilang kapten Oh kalau aku pergi sendiri" katanya.
.
.
.
"kita harus pulang, baby" Jongin mencoba membujuk Kyungsoo yang terlalu asyik bermain di arena permainan anak-anak di pusat perbelanjaan.
Anak itu mengerucutkan bibirnya dengan tampang masamnya. "No! Coo macih mau dicini" katanya, mengabaikan mommy-nya dan kembali asyik bermain.
Tawa cempreng anak-anak memenuhi arena permainan khusus anak-anak balita seperti Kyungsoo. Anak itu bilang terlalu bosan, dan merengek pada ibunya untuk membawanya ke mall dan bermain di zona permainan anak-anak.
"kita sudah 2 jam, baby"
"No! Balu lima menit" sahutnya, sok tahu.
Jongin menghela napas pelan. Sehun terus-terusan menelponnya—dan ia tak berani mengangkatnya.
"Soo"
"Mom"
"kita harus pulang" kata Jongin.
Kyungsoo mengangguk—meskipun bibirnya melengkung ke bawah. Matanya berkaca-kaca. Jongin tahu, sebentar lagi anaknya akan menangis. Makanya ia buru-buru mengangkat tubuh kecil Kyungsoo dan berjalan keluar dari area bermain.
"Hey" Seseorang memanggilnya.
Jongin menoleh, mendapati seorang namja berjalan ke arahnya dengan senyum di wajah. Dia berkulit tan, dan tingginya tak jauh beda darinya.
"anda menjatuhkan ini" menyerahkan dompet gantungan kunci mobil branded miliknya.
Jongin melotot kaget. Ia menerima kunci mobil itu dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya sibuk membetulkan posisi Kyungsoo yang tengah ia gendong.
"Astaga, ceroboh benar aku ini" katanya, dengan senyum di wajah.
Namja itu menggaruk pelan tengkuknya yang tidak gatal. "aku pikir itu apa, aku sempat membukanya" kata namja itu. "maaf" kemudian menunjukan tampang penyesalannya.
Sepertinya usianya masih 25 tahunan, sepantaran dengannya. Hanya saja dia terlihat sangat childish, berbeda sekali dengan Jongin—mungkin karena sudah menikah dan jadi seorang ibu.
"ah, tidak apa-apa" Jongin berkata. Menghibur namja di hadapannya itu supaya jangan terlalu sungkan.
"Putramu lucu sekali" pujinya.
"Oh, iya..terimakasih banyak"
"Aku Kim Namjoon"
Jongin menatapnya dengan tatapan heran. Namjoon buru-buru menarik kembali tangannya yang terulur dengan tampang kikuknya.
"Terlalu buru-buru ya" Namjoon tertawa salah tingkah.
"Tidak apa-apa, aku Kim Jongin"
"Ah, maaf..aku buru-buru, aku permisi dulu, Namjoon-ssi"
Namjoon mengangguk, membiarkan Jongin pergi begitu saja bersama putranya. Matanya terus menatap tubuh ramping Jongin sampai tubuh itu hilang di balik pintu lift.
Ponselnya berdering, Namjoon buru-buru mengangkatnya.
"Tergoda olehnya, bungsu?" suara berat itu pun terkekeh, membuat Namjoon berdecih pelan. Dasar licik, pikirnya.
...
Jongin terbangun dari tidurnya saat mendengar suara gaduh di balkon kamarnya. Ia segera meraih jubah tidurnya dan memakainya asal.
Siluet bayangan hitam tinggi baru saja melompat dari dinding pembatas balkonnya. Jongin buru-buru mencari sesuatu, dan menemukan gunting kertas yang selalu ia sembunyikan dari putra kecilnya itu.
Sosok tinggi itu menggeser pintu kacanya, dan bodohnya Jongin lupa mengunci pintu balkon sesudah menjemur boneka-boneka Kyungsoo tadi pagi.
Gelap..
Suasana kamar yang gelap tak memungkinkan Jongin untuk bisa melihat sosok tersebut. Ia hendak menikam sosok tinggi itu dengan gunting di tangannya, namun tak berhasil karena sosok itu lebih dulu menahan tangannya—membuang gunting ke lantai. Dan menghimpitnya tubuhnya ke dinding.
"L..lepas"
"Jongin, ini aku. Sehun"
"S..Sehun?"
"iya, ini aku" katanya, seraya melepas kunciannya dari tangan Jongin.
Sehun buru-buru meraba dinding, dan untungnya ia menemukan saklar lampu dan menekannya. Ruangan itu pun terang.
Dimana Jongin bisa melihat wajah tampan Sehun yang sangat dekat dengannya.
"Ya Tuhan, Sehun" Jongin menghela napas lega, memeluk tubuh jangkung itu. matanya tampak kalut dan gelisah. "A..aku benar-benar takut"
"takut? Yang benar saja" sahut Sehun, kesal. Kesal mengingat tadi sore ia dibohongi Junghong tentang Jongin yang pergi menjemput putranya seorang diri. "kau bahkan pergi ke mall sampai pukul 6 sore"
Jongin mendongakan kepalanya, ia tersenyum kikuk karena ketahuan berbohong. "aku minta maaf, oke?"
Sehun mengelusi pipi tembam itu dengan lembut. Membuat Jongin menutup kedua matanya merasakan kenyamanan itu. "Jangan diulangi lagi! Kau membuatku cemas"
"kau cemas?" Jongin memiringkan kepalanya.
Namja Oh itu mengangguk pelan.
Jongin tak menyangka jika Sehun akan berkata bahwa ia mencemaskan dirinya dan putra kecilnya.
Kedua mata mereka saling menatap. Tatapan yang terpancar jelas adalah saling menginginkan satu sama lain. Jongin merasakan perasaan berbeda saat menatap maniks gelap Sehun. Sangat berbeda, begitu berbeda dari apa yang ia rasakan saat ia menatap Changmin.
Wajah keduanya saling mendekat, semakin dekat, sampai jarak pun terputus saat bibir tipis Sehun mengecup lembut bibir plumnya yang tebal itu. bibir yang beberapa malam lalu mencium mesra mantan suaminya itu kini seolah terhapus oleh ciuman memabukan yang mereka lakukan saat ini.
Bibir ibu satu orang anak ini sangat kenyal dan lembut, seolah memberikan kesan tersendiri bagi Oh Sehun yang telah lama mendambakan bibir manis itu.
Perlahan jemari Sehun merambat seperti sulur-sulur hidup—naik, dan mengusap leher jenjang Jongin. Membuat mantan nyonya besar Shim itu melenguh nikmat dalam ciuman itu.
Ciuman itu semakin liar dan menuntut. Memunculkan perasaan ingin lebih dari bungsu keluarga Oh itu.
Sehun segera menggendong Jongin ala bridal tanpa melepas ciuman mereka. Meletakan tubuh yang hanya dibalut jubah tidur itu dengan sangat lembut.
"kau membuatku gila, Jongin" katanya, setelah melepas ciuman itu.
Jongin terlentang pasrah di bawah kungkungan tubuh tegap itu. "benarkah?" Jongin menatapnya sayu, mengusap lembut dada bidang Sehun.
Ia tidak menjawab, melainkan langsung membungkam bibir Jongin yang agak membengkak karena ciuman liar mereka. Jongin mengalungkan kedua tangannya di leher Sehun.
Bohong jika ia menolak, karena dia juga sangat menginginkan Oh Sehun memenuhi dirinya seperti kapten muda itu yang selalu memenuhi pikiran dan fantasi gilanya.
Jongin menutup kedua matanya—mungkin inilah kenapa ia tak bisa mencintai Changmin seperti dulu. Karena hatinya memang sudah terpaku oleh namja pucat itu.
Cukup lama mereka saling melumat, hingga Jongin merasa butuh meraup oksigen. Ia memukul pelan dada Sehun untuk memutuskan ciuman mereka.
Benang saliva terlihat ketika bibir mereka terpisah, lalu terputus. Sehun menyeka saliva yang menempel di sekitar bibir Jongin yang masih terengah dengan wajah yang merah.
Sehun mendekatkan wajahnya pada telinga Jongin, kemudian berbisik; "kau menikmatinya kan, Nyonya Oh?"
Dengan suara rendah yang terdengar seksi. Wajah Jongin tambah memerah. Sehun baru saja menyebutnya, Nyonya Oh.
...
Lidah Sehun bermain di leher Jongin. Di sana ia menjilatinya, menghisap, menggigit kecil. Sehun hendak memberinya kissmark, namun Jongin menahannya.
"Jangan di sini!" katanya. Seraya membuka tali jubah tidurnya dan memperlihatkan tubuh tan mulusnya.
"kenapa?"
"Kalau Kyungsoo tanya aku mau jawab apa"
Sehun terkekeh pelan. Dimana anak manis itu? padahal biasanya Kyungsoo seperti tak pernah bisa lepas dari mommy-nya.
"Ahhnn, Sehun"
Jongin mendesah, tubuhnya menggelinjang geli saat Sehun mengelus dadanya yang mulus. Namja tampan itu juga menyentuh dan memainkan kedua nipple kemerahan di dada Jongin.
Sehun menggunakan lidahnya untuk memainkan nipple kanan Jongin. Namun tersentak saat merasakan sesuatu keluar saat ia mulai menghisapnya.
"Jongin?"
"Eunggh, Kyu..Kyungsooh masih..masih menyusu saat mau tidur" akhirnya ia mengaku malu-malu.
Sehun terkekeh pelan. "tak apa, sayang. Aku jadi bisa merasakannya juga"
"mesummhh"
"tidak apa-apa kan?"
Jongin menggeleng, "hanya saat Kyungsoo sakit dan rewel sajahh, ahnn, Sehun... jangan terlalu kuathhh!" ia mencoba menjauhkan wajah Sehun pada putingnya.
'pasti itu sakit' batin Sehun. Tapi ia yakin Kyungsoo selalu mengisi perutnya dengan ASI sebelum ia tidur jadi Jongin jarang merasakan sakit saat dadanya membengkak air susu. Ah, kalau begitu ia jadi iri sekali dengan anak imut itu.
"Ahhhnnnn...ukkhh, Hunnaah" desah Jongin, tak karuan sambil menjambak rambut dark blue Sehun.
...
Sehun melebarkan kedua paha Jongin, merendahkan posisinya menuju penis Jongin yang ukurannya tak lebih besar darinya. Ia menggenggamnya dan meremasnya perlahan.
"ukkhh, Oh Sehunnhh"
"sabar, sayang!"
Sehun menggunakan mulutnya untuk menggantikan tangannya yang bekerja meremas penis mungil itu.
"Ahhnhhhhh..ahhhhhh..hyahhhhh" Jongin mendesah.
Sehun pun mempercepat tempo kulumannya, saat mendengar Jongin mendesah. Ia senang, karena mendengar Jongin mendesah di bawah kungkungannya.
Jongin meremat seprai putihnya saat merasakan dirinya akan klimaks. Tubuhnya mengejang dan merasakan cairan keluar dari penisnya di mulut Sehun.
"manis" pujinya. Sehun buru-buru melepas celana bahannya, berikut boxer dan underwear Calvin Kleinnya. Menampakan sesuatu yang besar dan panjang berdiri gagah dan membuat Jongin menelan ludah kasar. 'Apa itu muat?' tanyanya dalam hati.
Jongin menutup wajahnya dengan kedua tangan—malu.
"Jongin?"
Jongin membuka kedua matanya, ia hendak bangkit dengan lengan jubah tidurnya yang tersampir di bahu mulusnya.
"apa aku boleh mencobanya?"
Sehun tertawa pelan. "Tidak sekarang, sayang! Aku ingin cepat-cepat masuk"
Ia menyentuh bahu Jongin, mencium singkat bibir merah Jongin.
...
Jongin dengan posisi membelakangi Sehun. Sementara namja pucat itu sedang mempersiapkan penisnya di depan hole Jongin.
"aku yakin ini akan sedikit sakit" kata Sehun, pelan.
Jongin menggigit kecil bibir bawahnya. Antara takut, bimbang, namun sudah kepalang basah ia menginginkan sex dengan namja Oh itu.
Dengan perlahan Sehun memasukan 'miliknya' ke dalam hole Jongin. Tetapi baru kepalanya yang masuk, Jongin sudah merasakan sakit seperti dibelah dua—dan berusaha menahan jeritannya.
"Akhhhh sakitth, hiks"
"Tahan, Jongin! Tahan sebentar"
"Noouhh,, ahh..sakit"
Sehun menciumi punggung sempit Jongin dan mengelus lembut kejantanan Jongin—berharap jika ia melakukan itu ia bisa menghilangkan sakit yang dirasakan Jongin.
Jlebb..
"Angghhh"
Kenjantanan besar itu dapat masuk, membuat tubuh Jongin nyaris ambruk jika Sehun tidak menahan pinggulnya.
...
Sehun mulai menggerakan pinggulnya. Dan dengan cepat menemukan titik kenikmatan Jongin hingga membuat namja manis itu mendesah gila.
"uuhh..ahhhhnn..terushh"
Sehun terus bergerak, sambil menjilati leher Jongin tanpa membuat kissmark.
"yeahh, Jongin..sempith sekalih"
Sehun membalik tubuh Jongin. Tanpa melepas tautan di bawah sana. Ia kembali memainkan nipple Jongin dan menghisapnya seperti bayi.
"aaaakkhhhhhh...nnnghhh"
"Jongghh"
Namja Oh itu mempercepat sodokannya di lubang anal Jongin saat merasakan sesuatu mendesak keluar.
"Uhh..ahhnn..Hunn..Cumhh"
"Bersamah, sayanghh.."
Crott..
.
.
.
TBC
.
.
.
OMAKE
"Mom"
Kyungsoo membuka pintu kamar ibunya, mendapati sang ibu masih tertidur di ranjang dengan rambut yang lepek.
Cklek..
Pintu kamar mandi terbuka. Menampilkan sosok Oh Sehun yang sudah berpakaian lengkap. Ia memakai kembali pakaiannya (Kemeja hitam dan celana kainnya) yang masih bersih tanpa noda bercinta mereka.
"Oh, Kyungsoo"
"Paman" Kyungsoo segera berhambur memeluk Sehun.
Sehun menggendong tubuh kecil Kyungsoo yang dibalut piayama putih terusannya. Dia bersyukur dalam hati karena sempat mengganti selimut yang digunakan mereka saat bercinta dengan selimut baru yang menutupi tubuh Jongin yang sudah lengkap dengan piyama barunya—Sehun sempat menggantikan piyama baru untuk Jongin, menunjukan betapa bertanggung jawabnya dia.
"Mom belum bangun" Kyungsoo menunjuk ibunya yang masih tertidur dengan wajah lelahnya.
"Iya..mommy sakit. Kau tidak sekolah?"
Kyungsoo menggeleng. "Hali Cabtu kan libul"
Balita manis itu merengek pada Sehun untuk membawanya mendekati sang ibu. Sehun mau tak mau pun akhirnya menuruti keinginan Kyungsoo.
"Coo macih ngantuk, hoamm"
Sehun mengusap lembut kepala Kyungsoo. "tidurlah! Ini masih terlalu pagi"
"Paman tidak tidul?"
"tidak, paman harus membantu bibi Han memasak"
Kyungsoo mengusap matanya yang berair. "Aku tidul dulu ya, paman"
.
.
TBC
.
.
A/N : *The Curtain Was So Blue;(
Kebetulan aku udah jawab semu para readers di PM masing-masing..
Cuma sekedar mengingatkan buat readers yang masih gak paham sama fic ini. Aku mohon bacanya pelan-pelan aja. Soalnya cerita fiksi dengan genre Crime komplikasi itu memang agak sulit dipahami. Di sini ada yang hobi baca novel detektif kan? Semacam Sherlock Holmes mungkin? Atau The Murder Of Roger Ackroyd punyanya Agatha Christie. Coba kamu baca cepat-cepat! Satu kata kelewat aja kamu pasti gak akan mengerti alurnya. Aku jadi merasa agak bersalah juga kalo ada readers yang masih belum paham sama cerita ini. Padahal aku udah berusaha semampuku untuk membuat Fic ini mudah dipahami, tapi nyatanya enggak:(, aku minta maaf banget ya. Aku masih penulis kacangan dan Newbie, jadi harap maklum.
