Gila, gue udah gak update cerita ini selama 2 bulan. Beginilah saya. Penganut Hukum Gossen 1 n mentok ide sgb alasan (ditambah pelajaran sekolah yang bejibun)
So, langsung aja,ya
Chapter 3: Meet an Old Friend
Dengan perut yang telah puas diisi, Claire kembali berkeliling. Diapun memasuki sebuah gereja yang di sampingnya terdapat beberapa makam. Jika dilihat baik-baik, makam-makam tersebut kebanyakan terbaring jenazah hewan ternak ketimbang manusia. Mungkin, penduduk Mineral Town panjang umurnya. Yaa..kita tinggal menunggu saja kapan Ellen, Saibara dan Barley menjadi penghuni makam tersebut *ditabok 2 aki dan nini tersebut*.
" Siang, Claire!"
" Siang, Carter!"
Claire duduk di depan. Diliriknya orang yang ada di sebelahnya. Tampak seorang cowok yang tengah berdoa dengan kusyuk dan baru saja selesai.
" Claire?"
" Hah?" Claire bingung.
" Siapa,ya?"
" Masa kamu lupa, ini aku, Cliff."
Bengong sesaat.
" Astaga! Clifff..!" Claire memeluk cowok itu melepas rindu.
" Sssttt..." desis Carter. Ya,iyalah di mana-mana bila memasuki rumah ibadah ya kudu tenang.
" Maaf, Carter."
" Tega banget dikau melupakan cowok keren yang satu ini."
" Beuh, narsis. Siapa suruh manjangin rambut. Aku,kan jadi gak kenal."
" Hah? Ahahaha...aku tidak punya waktu untuk pergi ke salon."
" Interupsi! Kalian berdua saling kenal?" tanya Carter.
" Betul. Cliff tetanggaku sejak kecil. Kami sering main bareng. Setengah tahun yang lalu dia pergi dari Forget-Me-Not Valley."
" Jadi kalian teman akrab. Aku harap kau bisa membantunya untuk berinteraksi dengan penduduk di sini. Dia sangat pemalu."
" Jangan khawatir, Carter. Cliff memang begitu dari kecil."
Carter keluar gereja. Hari ini hari Jumat(anggap saja hari ini hari Jumat). Stu dan May telah menunggu di luar gereja. Alih-alih, imam ini menjadi babysitter,gitu.
Gedebug! Claire menonjok bahu Cliff.
" Adaw! Kebiasaanmu yang satu ini tidak pernah hilang,ya." Cliff meringis sambil memegang bagian tubuhnya yang sakit.
" Malu dipiara. Sampai kapan kamu begini terus?"
" Entahlah. Aku tidak sepertimu yang tidak tahu malu." Kata Cliff menunduk.
Claire merasa bersalah.
" Maaf, Cliff."
" Tidak, Claire. Kamu tidak salah. Aku memang mesti ditegur seperti itu. Asal kamu mau bantu saja."
" Tentu,lah. Itulah gunanya teman. Anyway, kok Jack tidak pernah kasih tahu kalo Cliff ke sini?"
" Aku baru sampai ketika Jack pergi ke desa kita. Oh,iya, bagaimana kabar ayahmu? Terakhir aku dengar, dia terkena osteoporosis,ya?"
" Well, Dad baru saja meninggal 3 hari yang lalu" jawab Claire pelan.
Jeda lamapun terjadi.
" Maaf, Claire. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih."
" Tak apa, Cliff. Itu karena kamu tidak tahu. Hei, kamu sudah mendapat pekerjaan belum?"
" Belum, Claire. Aku berpindah-pindah selama setengah tahun ini. Aku belum mendapat pekerjaan yang cocok."
" Jangan khawatir. Aku yakin di sini pasti ada pekerjaan yang cocok untukmu."
" Terima kasih." Ucap Cliff.
Tanpa terasa waktu bergulir dengan cepat. Hingga akhirnya jam kota berdentang sebanyak 4 kali (wiw, malam agak mengganggu bila belum terbiasa tinggal di situ.). Tidak terlalu keras bunyinya namun, samar-samar terdengar.
" Cepet juga waktu berputar." Kata Cliff.
" Ya. Mulutku sampai berbusa,nih. Haha..kita ini emang gak tau tempat kalau sudah asyik negrumpi. Di gereja pula."
Cliff dan Claire berbarengan menuju pintu keluar.
" Carter, kami pulang dulu,ya."
" Hati-hati di jalan."
" Ya. Terima kasih."
Mereka berduapun keluar dari gereja.
" Cliff, kamu singgah di mana?"
" Oh, aku tinggal di Inn. Claire di tempat Jack?"
" Ya."
" Aku antar,ya."
" Ngapain nganterin? Peternakan Jack deket kali."
" Sekalian aku say hello dengannya, Claire." Jelas Cliff.
" Oh, boleh,lha."
Ketika baru sampai di dekat Poultry Farm, Claire melihat Rick dan Popuri sibuk membongkar-bongkar sesuatu di luar.
" Kalian kenapa?"
" Anak ayamku hilang, Claire." Ratap Popuri.
" Kenapa tidak ditaruh di kandang?"
" Aku sudah menaruhnya dan aku lupa menutup pintu kandang. Hanya Chikie yang hilang. Ayam-ayam lainnya tetap di kandang." Mata Popuri mulai berair.
" Aduh, kenapa pakai acara menangis,sih hanya gara-gara ayam? Carilah dengan kepala dingin." Tau-tau Claire melontarkan kata-kata yang bikin Popuri tambah miris.
" Claire! Kamu jahat! Huaaaaa..."
Popuri ngambek dan kabur ke dalam rumah. Yaahh...
" Ngg..aku salah ngomong,ya?" Claire malah bertanya kepada Cliff.
" Aduh, Claire. Kenapa aku mesti jawab pertanyaan itu?" keluh Cliff.
" Chikie mungkin memang sekedar anak ayam biasa buatmu, Claire. Tapi, itu pemberian ayah kami." Jelas Rick.
Bengong sesaat. 1..2..3..
" Rick, kenapa kamu tidak bilang daritadi. Sori banget telah membuat adikmu sedih."
" Ya,sudahlah. Sekarang bantu aku cari si Chikie." Kata Rick.
" Oke."
Mereka bertiga membungkuk-bungkuk mencari Chikie.
" Ah, si Chikie di sini." Guman Claire sambil memaksakan dirinya untuk masuk ke celah yang sempit
Tapi, ketika dia membungkuk dan mendapatkan Chikie di kedua telapak tangannya, badan Claire yang kata si Jack sedikit melar stag di celah itu. Ups!
" Clif! Aku gak bisa keluar!" seru Claire.
Cliff melihat Claire dengan pemandangan yang mungkin bisa bikin dia terbelalak.
" Jiah, kamu, sih tambah melar." Cliff dengan tenaga segaban berusaha menarik Claire.
Gak keluar juga.
" Rick!"
Rickpun menoleh dan terkaget-kaget melihat Claire yang stag di celah sempit.
" Ckckck..maksa banget." Decak Rick.
PLOP! Ketika dibantu Rick, Claire terbebas. Sayangnya, mereka bertiga hilang keseimbangan dan tada! Mereka jatuh bertumpuk.
Gedubrak!
" Adududuh, Claire! Cepat kau berdiri, berat,nih." Keluh Rick. Napasnya terasa sesak karena dadanya serasa ditindih 2 daging jumbo.
Claire bangkit. Tepat pada saat itu, Popuri dan Lilia keluar. Ingin tahu kenapa ada suara heboh di luar
" Ada apa ini?" tanya Lilia bingung.
" Tidak apa, Mrs. Lilia. Aku baru saja menemukan ini." Sambil menepak lengan bajunya yang kotor, Claire menunjukan sesuatu yang telah dia temukan ke Popuri.
" Chikie!" seru Popuri girang.
Cewek berambut pink seperti cotton candy ini menyosong sang anak ayam dan menggendongnya.
" Chikie, kau membuat mamamu ini senewen. Jangan ulangi lagi,ya." Popuri mengomel bak sang ibu tengah memarahi anaknya. Ajaibnya si Chikie mengangguk tanda paham dan menyesal.
" Maaf, Popuri. Aku sudah membuatmu marah." Sesal Claire.
" Ah, tak usah dipikirkan Claire. Yang penting Chikie ketemu." Kata Popuri.
" Aku rasa aku harus pulang dulu."
" Hei, kamu belum mengenalkan orang ini." Kata Rick.
" Oh,iya. Cliff ini Rick, Popuri dan Mrs. Lillia. Ma'am, Rick, Popuri ini Cliff." Claire mengenalkan Cliff secara singkat dan intonasi yang sangat cepat.
" Ngg..Se..senang bertemu kalian." Dengan tangan yang sedikit tremor, Cliff berjabat tangan satu persatu.
" Kami juga, Cliff." Kata Lillia.
" Sekarang, aku pulang dulu,ya." Pamit Claire.
" Bye. Terima kasih banyak sudah menemukan Chikie." Kata Popuri.
" Sama-sama."
Kembali lagi dua manusia berlawanan jenis kembali berjalan. Sampai juga mereka ke Peternakan Jack.
" Bi Bo!" Claire membuka pintu.
FYI, Bi Bo adalah sebutan Claire kepada kakaknya ketika Claire masih berumur 2 tahun. Dengan faktor usia tersebut, kita dapat menarik kesimpulan bahwa Claire pada usia itu tidak dapat melafalkan panggilan orang dengan benar. (Ya,iyalah!).
" Hai, Claire." Sahut Jack dari dapur tanpa melihat orangnya.
" Hari ini aku masak nasi tempura dan bayam." Jack setelah itu barulah dia menoleh.
" Hai, Jack! Long time no see."
" Eh, Cliff! Apa kabar?" Jack berjabat tangan dengan Cliff.
" Aku baik-baik saja. Kamu sendiri?"
" Sehat. Btw, kamu sudah makan belum? Makan bareng saja dengan kami. Kebetulan aku masak lebih,nih." Ajak Jack.
" Sound's good." Sahut Jack sok Inggris.
" O-yey! Bayam!" Claire menyerbu panci dan melihat isinya.
" Sabar, Claire." Jack mempersilahkan Cliff duduk di ruang makan.
" Claire, ambil mangkok dan piring." Perintah Jack.
" Kau lupa magic word, Jack." Kata Claire yang stay cicing di sebalah panci.
Jack mendengus. Merasa hal itu adalah hal yang sepele. So, kalau hal itu memang cincay, kenapa gak dilakukan?
" Iya, iya. Tolong ambilkan mangkok dan piring sebanyak orang yang ada di rumah ini."
" Sip."
Makan malampun dipenuhi dengan acara ngerumpi . Cliff menceritakan kota-kota yang telah dia tinggali dan dia tinggalkan dan beberapa ingatan masa kecil ketika masih sering bermain dengan Claire.
" Kau ingat, Claire. Waktu aku sedang diganggu oleh anak-anak cewek kamu tiba-tiba maju dan menghardik keras bahkan sampai memukul mereka."
" Eh,iya,ya. Wkwkwk.. aku waktu itu dimarahi habis-habisan oleh Mom dan menyuruhku minta maaf kepada orang tua mereka dan mereka sendiri." pipi Claire bersemu merah.
" Waktu itu makasih,ya." kata Cliff.
" No,problem. Tapi, itu,kan kejadian yang udah lama banget,kali. Tak perlu berterima kasih, Cliff." Kata Claire.
" Ah,payah. Adikku yang satu ini memang suka merendah." Jack memiting leher Claire dan mengacak-acak rambut Claire dengan gemas.
" Bi Bo!" Claire berusaha lepas.
" Haha..kalian berdua benar-benar tidak berubah." Tawa Cliff
Tanpa terasa sudah pukul 9.
" Waduh, sudah jam segini. Inn sebentar lagi tutup." Cliff berdiri dan berjalan keluar pintu.
" Claire, Jack terima kasih atas makan malamnya."
" Sama-sama." Kata Claire dan Jack bareng.
" Sampai jumpa besok." Pamit Cliff
" Bye, Cliff." Ucap Claire sambil memeluknya.
Ann mendapati Cliff yang baru pulang.
" CLIFFF...!" Ann mengagetkan Cliff yang jalan menunduk madesu seperti biasa.
Pengunjung bar memandang mereka kemudian, berpaling sambil senyum-senyum.
"Dasar anak muda.." guman Duke
" Kangennya jadi anak muda." Guman Saibara dalam hati.
" A...a...Ann!" Cliff kaget banget.
" Hahahaha...Kena kau! Ngapain aja? Tidak seperti biasanya kau pulang malam? Sudah dapat pekerjaan?" selidik Ann.
Cliff menggeleng.
" Aku..habis mengantar Claire pulang."
" Cieeeee...dengan Claire. Ngapain aja tuhh..?" selidik Ann yang annoying banget bagi Claire.
" Ngg...Sekedar kunjungan ke rumah Jack sebagai teman lama." Cliff mati-matian mengatasi kegugupannya.
" Oh, mereka teman lama kamu?"
" Ya. Lebih tepatnya tetangga. Sori, Ann. Aku tidur duluan."
" Baiklah, selamat tidur Cliff."
Cliff memasuki kamarnya. Kamar sebelah kanan. Di mana Gray menjadi roomate dengannya.
" Hei, orang ada di kamar gak disapa?" tanya Gray melihat Cliff yang nyelonong masuk dan langsung terjun ke kasur.
" Oh, malam, Gray." Sapa Cliff setelah ditegur Gray.
" Malam." Jawab Gray yang tengah memahat sesuatu.
" Capcay,deh! Udah negur gue eh, jawabnya pedit-pelit-korét-buntutkasiran-capjahe-mérégéhésé." sungut Cliff. Tapi, di dalam hati.
" Kau lagi memahat sapi dari kayu?" tanya Cliff sambil membuka sepatu bootnya.
Entah kenapa, dia memiliki keberanian bila mengobrol dengan cowok yang sebaya dengannya.
Keritan yang berasal dari pahatan Gray berhenti. Gray menoleh ke arah Cliff. Menatap galak. Membuat Cliff ciut hatinya.
" Ini kuda, Cliff! Masa kau tak lihat?"
Ya,iyalah si Cliff kagak lihat. Wong, pahatannya ditutup oleh pegangan Gray. Jelas aja kagak keliahatan. Goblok banget,si Gray *ditabok Gray
" Aduh, maaf, Gray. Aku tidak tahu." Cliff kelabakan minta maaf.
Gray menghela napas panjang.
" Sudahlah. Aku memang pemahat dan pandai besi paling buruk."
Cliff tertegun mendengar penyataan Gray.
" Jangan pernah berkata begitu Gray. Aku yakin kau pasti menjadi pandai besi yang handal. Dan pemahat kayu yang handal juga. Pantang menyerah."
" Thanks." Gray tersenyum kecil. " Perkataanmu mirip sekali dengan Claire."
Eh? Cliff menyadari kejanggalan Gray.
" Mirip Claire?"
Sesaat Graypun langsung ngeh.
" Eh, kok aku ngomong begituan,sih?"
" Hahahaha..."
" By the way. Tumben jam segini baru pulang?"
" Habis mengantar Claire."
Jejeng! Gray merasakan sesuatu yang menyentak jantungnya. Seperti tersambar petir.
" Oh." Gray nge-oh doang." Lama amat?"
" Diajak makan malam bareng dengan Jack. Sebenarnya,sih aku ke sana juga sekalian mengujungi Jack sebagai teman lama."
" Teman lama?"
" Ya. Aku dulu juga tinggal di Forget-Me-Not Valley. Aku dan Claire adalah teman masa kecil." Jelas Cliff.
" Pantesan."
" Selamat malam, Gray. Aku tidur duluan." Cliff menyudahi pembicaraannya dengan Gray.
" Malam." Jawab Gray yang terus memahat kayu yang-katanya-sapi-padahal-kuda
" Aneh sekali. Kenapa tiba-tiba Claire terlintas di benakku." Guman Gray dalam hati.
