-happy reading-
.
.
...if you miss someone, do not long for her to be here. But longed for words indicating that she also missed...
.
.
Sehun melangkahkan kedua kakinya menuju ke balkon sekolahnya. Hari ini akan ada pertandingan basket antara tim sekolahnya melawan tim dari sekolah tetangga. Dia ingin menyemangati Chanyeol walaupun dari jauh. Dia menatap pemandangan yang ada dibawah sana sambil tersenyum bahagia. Dibawah sana cukup ramai. Dia sengaja menonton jalannya pertandingan dari balkon sebab tak ingin berdesak-desakkan apabila menontonnya dari pinggir lapangan.
Kegiatan belajar mengajar untuk hari ini sengaja ditiadakan. Karena jika kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung, akan banyak murid yang bakalan membolos demi untuk menonton jalannya pertandingan tersebut.
Sehun tersenyum senang melihat Chanyeol yang sedang berdiskusi dengan timnya disisi lapangan. Dia sangat berharap tim dari sekolahnya menang kali ini.
"Sehuuuuuuuuun...! Sini...!" seru Baekhyun dari bawah sana. Dia berada dipinggir lapangan bersama dengan Kyungsoo.
"Tidak! Aku disini saja!" sahut Sehun.
Pertandingan sudah dimulai. Menit demi menit telah berlalu. Tim Chanyeol memimpin kedudukan sementara. Sehun sekali-kali berseru dan bertepuk tangan saat tim Chanyeol berhasil memasukkan bola kedalam ring.
Beberapa menit telah berlalu dan pertandingan telah berakhir dengan tim Chanyeol keluar sebagai pemenangnya. Tetapi Sehun masih enggan untuk beranjak dari tempatnya. Dibawah sana dia melihat Jongdae dan Jongin yang sedang membawa suatu benda seperti sebuah spanduk yang dilipat menuju ketengah lapangan. Disana dia juga masih ada Chanyeol yang beristirahat disisi lapangan. Ada juga kedua temannya, Baekhyun dan juga Kyungsoo yang seperti sedang memberi isyarat kepada duo Jong.
Apa mereka akan mengikuti jejak Yixing? Batin Sehun. Dia sedikit penasaran dengan apa yang kira-kira akan dilakukan oleh sunbaenya tersebut. Yeoja tinggi itu kemudian turun menuju ke lapangan basket tersebut.
"Yakk Jongdae Oppa! Pegang dengan benar dong!" seru Baekhyun.
"Iya iya. Cerewet. Yak temsek! Bawa dengan benar!" seru Jongdae pada Jongin yang berdiri disebelahnya.
Jongin yang mendengarnya mengumpat kesal karena dipanggil temsek oleh temannya tersebut.
"Baek, apa Sehun masih dibalkon sana?" tanya Kyungsoo.
"Masih, dong. Tuh...eh? Sehun kemana?" Baekhyun nampak celingak-celinguk mencari keberadaan Sehun diatas sana. Sehun ternyata sudah pergi.
"Jong Oppa! Sekarang!" lanjut Baekhyun memberi intruksi kepada kedua sunbaenya tersebut.
"Chanyeol-ah! Lihatlah kemari!" seru Jongin. Chanyeol yang sedang ngobrol dengan temannya langsung menoleh begitu namanya dipanggil. Jongin dan Jongdae langsung membentangkan spanduk yang mereka pegang begitu Chanyeol menoleh kearah mereka berdua.
Chanyeol terkejut begitu melihat kalimat yang tertulis pada spanduk tersebut. Spanduk itu bertuliskan:
-Park Chanyeol! Oh Sehun mencintaimu!-
"A-apa yang kalian lakukan?" tanya Sehun agak terkejut begitu melihat tulisan yang ada pada spanduk tersebut. Murid-murid lain yang berada di sekitar situ juga tak kalah terkejutnya melihat pemandangan dihadapannya.
Air mata sudah mulai menggenang dipelupuk mata Sehun. Dia tidak menyangka kalau mereka akan melakukan hal yang menurutnya sangat memalukan itu. Yeoja cantik itu lalu berlari pergi meninggalkan tempat tersebut sambil terisak. Dia sebenarnya bingung, entah dia harus malu atau senang.
Chanyeol yang masih berdiri ditempatnya hanya terdiam melihat kejadian yang terjadi barusan dihadapannya tersebut. Dia merasa sedih dan juga senang. Sedih karena bukan Sehun langsung yang mengatakannya dan malah pergi meninggalkan tempat itu. Senang karena Sehun ternyata mencintainya, entah itu hanya akal-akalan duo Jong dan kedua hoobaenya itu ataukah benar kalau Sehun memang mencintainya.
Baekhyun berniat mengejar Sehun. Namun Kyungsoo menahan lengannya.
"Jangan mengejarnya. Kau tahu sendiri kan bagaimana dia. Jadi, biarkan dia sendiri dulu. Nanti kalau semua sudah kembali tenang, baru kita menemuinya dan meminta maaf. Oke," ujar Kyungsoo menasihati.
"Yak Byun Baekhyun! Ini semua salahmu," ucap Jongdae.
"Betul tuh," sahut Jongin menyetujuinya.
"Kenapa kalian jadi menyalahkanku?" protes Baekhyun.
"Ya karena semua hal aneh ini berasal dari ide gilamu."
"Kan aku hanya ingin membantu sahabatku. Kalian nggak pernah tahu sih bagaimana Sehun selama ini."
Sehun menangis sesenggukkan didalam toilet, tempat yang paling tenang disekolah menurutnya. Dia tidak ingin menyalahkan siapapun atas kejadian tadi. Baginya, semua itu terjadi karena kesalahannya sendiri. Salahnya yang tidak pernah menyatakan perasaannya kepada Chanyeol.
Satu setengah jam telah berlalu. Sehun sudah merasa tenang sekarang. Dia lalu berjalan keluar dari toilet dengan kondisi yang menyedihkan. Kedua matanya sembab dan menjadi semakin sipit, serta hidung bangirnya yang nampak memerah. Dia berjalan melewati koridor dengan wajah menunduk. Dia merasa sangat malu sekarang. Sebab banyak teman setingkatnya, sunbae, maupun para hoobae nya yang menatapnya sambil berbisik-bisik.
"Dia yang bernama Oh Sehun, kan?"
"Kau tahu? Dia ternyata jatuh cinta sama Park Chanyeol."
"Dia cantik. Ah, aku merasa minder jika harus bersaing dengannya."
Itulah beberapa kalimat yang berhasil Sehun dengar.
Sehun memasuki ruang kelasnya hanya untuk mengambil tasnya. Setelah itu, dia langsung berjalan keluar gedung sekolah. Dia ingin pulang, dia ingin tidur. Diluar ternyata sedang hujan deras. Namun Sehun tetap nekad untuk pulang, menembus dinginnya air hujan yang mengenai kulit putihnya.
.
.
Sehun membuka kedua matanya perlahan.
"Aku dimana?" tanyanya entah pada siapa. Ruangan ini terlalu asing baginya. Dia lalu mencoba bangun. Kepalanya masih terasa pening. Dia melihat ada jarum infus yang menancap di pergelangan tangannya. Dia lalu berdecak kesal. Dia sangat membenci tempat ini. Kenapa dia dibawa ketempat ini?
Sehun kemudian mencoba untuk turun dari ranjangnya meskipun kepalanya masih terasa pusing. Namun tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka dan menampilkan Nyonya Oh muncul dibaliknya.
"Kau mau kemana, Sehun-ah?" tanya Nyonya Oh menghampiri Sehun.
"T-tidak kemana-mana kok, Eomma" jawab Sehun sembari menaikkan kembali kedua kakinya keatas ranjang. Nyonya Oh lalu menatap putri semata wayangnya tersebut dalam.
"Kenapa Eomma membawaku kemari?" tanya Sehun.
"Bagaimana Eomma tidak membawamu kemari kalau Eomma menemukanmu tengah tak sadarkan diri diruang tamu dengan wajah sangat pucat dan bajumu yang basah kuyup? Hidungmu juga mimisan," jawab Nyonya Oh.
"Begitu, ya."
"Apa kau tidak ingat apa yang terjadi padamu sebelum pingsan?"
Sehun menggeleng pelan.
"Kenapa kau hujan-hujanan? Kan jika pulang cepat kau bisa menelepon Song Ahjussi."
"Aku tidak kepikiran sampai kesitu, Eomma. Mianhamnida."
"Kata dokter kondisimu semakin menurun. Kalau kondisimu tidak semakin membaik, Eomma akan membawamu ke Jerman untuk melakukan pengobatanmu disana."
"Tapi, Eomma..."
Nyonya Oh langsung memeluk Sehun.
"Eomma sangat menyayangimu, Nak" lanjutnya.
Sehun mulai terisak dipelukkan eommanya tersebut.
"Eomma, kalau Baekhyun atau Kyungsoo menghubungi Eomma, bilang saja kalau aku lagi liburan, ne."
"Arasseoyo..."
.
.
Pagi ini Chanyeol sengaja lewat depan kelas Sehun untuk menuju ke kelasnya. Dia ingin melihat Sehun. Karena sejak kejadian yang terjadi kemarin dilapangan basket, namja tinggi itu terus kepikiran dengan Sehun. Bahkan dia sampai tidak bisa tidur semalam. Dia terus bertanya-tanya dalam hatinya, apa benar Sehun mencintainya? Tapi kenapa dia tidak berterus terang saja padanya?
Chanyeol melangkahkan kaki jenjangnya dengan perlahan begitu dia didepan kelas Sehun. Matanya sibuk menelisik beberapa sudut ruang kelas didepannya tersebut yang terlihat dari depan pintu. Namun nihil. Apa Sehun belum berangkat? Dia lalu menatap arloji dipergelangan tangan kirinya. Tidak sampai lima menit lagi bel masuk akan berbunyi. Tidak mungkin seorang Oh Sehun yang notabene merupakan murid tercerdas ditingkat 2, jam segini belum berangkat.
Chanyeol lalu beralih ke kelas yang terletak disebelah kelas Sehun, yakni kelas 2-B. Disana dia melihat Baekhyun dan juga Kyungsoo yang tengah sibuk mencatat sesuatu dibuku tulis masing-masing. Sehun ternyata tidak lagi bersama mereka. Lalu Sehun ada dimana? Apa Sehun masih marah kepada dua teman dekatnya tersebut? Apa Sehun tidak pergi ke sekolah hari ini? Apa Sehun sedang sakit, jadi tidak bisa pergi ke sekolah? Pikirnya.
Chanyeol lalu menghela napas panjang, kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke ruang kelasnya.
Chanyeol menidurkan kepalanya di atas meja bangkunya begitu dia tiba di dalam kelasnya. Dia sungguh tidak bersemangat hari ini. Padahal timnya menang kemarin. Tapi itu semua tidak membuatnya semangat untuk hari ini.
"Hai, Yeol! Lesu amat. Kenapa, huh? Tidak seperti biasanya," ujar Suho sembari duduk dibangku yang terletak didepan Chanyeol.
Chanyeol lalu menatap Suho sendu.
"Hyung," panggilnya pelan.
"Ne, waeyo?"
"Apa Hyung tau seperti apa itu seseorang yang mencintai kita dengan tulus?" tanya Chanyeol.
"Umm...kalau menurutku sih yang rela berkorban dan melakukan apa saja demi seseorang yang dicintainya. Ya, sekalipun itu adalah hal yang memalukan," jawab Suho.
"Begitu, ya."
"Ne. Waeyo? Apa ini ada kaitannya dengan masalah yang terjadi kemarin?"
"Aniya. Aku hanya ingin tahu saja."
Suho tersenyum melihat teman sekelasnya yang lebih muda darinya itu.
"Dia tulus kok mencintaimu," lanjutnya.
"Ne?"
"Jongin-ah!" Suho langsung memanggil Jongin yang sedang memainkan ponselnya dibangku paling pojok. Dia sudah berjanji pada Sehun untuk tidak mengatakannya pada Chanyeol.
"Ne, Hyung. Ada apa?" sahut Jongin.
"Ck, apa kau akan mengikuti jejak Yixing, huh?"
Jongin terkekeh pelan.
"Hehehe, aku hanya mengikuti perintah dari si Baekhyun. Kan lumayan, aku diberi dia tiket konser SNSD secara gratis," ujarnya sambil menunjukkan selembar tiket konser SNSD yang dipegangnya. Suho yang melihatnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Heran dengan temannya yang lebih muda darinya itu.
.
"Baek, hari ini Sehun tidak datang ke sekolah. Apa kau tau penyebabnya? Tadi pagi aku menghubungi nomor ponselnya, namun tidak aktif. Apa dia masih marah sama kita?" tanya Kyungsoo pada yeoja yang duduk didepannya itu. Mereka berdua kini sedang berada di kantin sekolah.
"Aku tadi pagi menghubungi Oh Ahjumma. Beliau bilang kalau Sehun tengah pergi berlibur ke Pulau Jeju," jawab Baekhyun.
"Berlibur?"
"Ne. Mungkin dia ingin menenangkan dirinya disana."
.
.
Ini sudah hari ke tujuh Sehun dirawat di rumah sakit. Berarti sudah tujuh hari pula dia tidak pergi ke sekolah dan hanya berbaring diatas ranjang tanpa keluar melihat hijaunya daun-daun pepohonan diluar sana. Dia sudah sangat bosan berada ditempat yang menurutnya seperti penjara ini. Kondisi kesehatannya yang naik turunlah yang menyebabkannya masih dirawat di tempat ini dan belum diperbolehkan untuk pulang. Namun tadi pagi eommanya bilang padanya kalau sore nanti dia sudah diperbolehkan untuk pulang, sebab kondisi kesehatannya hari ini sudah jauh lebih baik daripada kemarin-kemarin kata dokter yang menanganinya.
Akhir-akhir ini juga Kris selalu bercerita tentang Chanyeol padanya. Entahlah, Sehun sendiri tak mengerti. Apa Kris tahu kalau dia menyukai sepupunya tersebut? Sepertinya tidak. Mungkin karena Chanyeol yang bersekolah disekolah yang sama dengannya, Kris jadi bercerita banyak tentang Chanyeol. Dari yang Chanyeol kalau tidur suka ngiler lah, Chanyeol yang waktu masih SD suka ngompol dicelana lah, dan itu semua membuat Sehun merasa sedikit terhibur. Sehun tidak menyangka kalau dibalik sosok Chanyeol yang menurutnya sangat keren, tersembunyi banyak hal yang menurut Sehun sangat lucu.
Sehun menurunkan kedua kakinya menapak ke lantai keramik dan mulai berjalan keluar dari ruangan tersebut. Kebetulan jarum infus yang tertancap ditangannya sudah dilepas oleh suster tadi pagi, jadi dia tidak perlu membawa benda tersebut kemana-mana. Kebetulan juga eommanya sedang keluar karena ada sedikit masalah dikantornya tadi pagi. Sedangkan appanya masih sementara berada di China untuk kepentingan bisnis.
Sehun melangkahkan kedua kakinya menuju ke rooftop rumah sakit tersebut. Diatas sini udaranya sangat sejuk. Dia menatap pemandangan dibawah sana sendu sambil tangannya berpegangan pada pembatas yang terbuat dari beton setinggi ±1 meter tersebut. Dia tidak tahu sampai kapan dia akan bertahan untuk hidupnya.
Sehun lalu teringat dengan peristiwa yang terjadi dilapangan basket seminggu yang lalu. Dia merasa sangat malu jika mengingatnya. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukannya jika dia berjumpa dengan Chanyeol nanti disekolah.
Tak terasa air mata mulai mengalir di pipi mulusnya. Dia tidak mengerti kenapa hidupnya seperti ini. Kenapa juga cintanya bisa seperti ini. Bertepuk sebelah tangan. Dia lalu menghapus air matanya kasar.
"Tak ada gunanya menangisi kejadian yang telah lalu," ujar seorang namja yang tidak Sehun kenali ikut berdiri disebelahnya.
Sehun menatap namja itu dari ujung kaki hingga ke ujung rambut. Sepertinya dia habis kecelakaan. Bisa dilihat dari kakinya yang digips dan dia memakai kruk, serta didahinya yang ada perban. Sepertinya namja tersebut seumuran dengannya. Sehun lalu mendengus sebal.
"Yak, aku kan hanya sekedar menasihati. Untuk apa juga menangisi sesuatu yang tak mungkin bisa kembali lagi. Kan lebih baik membahas masa depan. Oh, ya. Kau sakit apa?" tanya namja tersebut.
"Bukan urusanmu," jawab Sehun cuek.
"Jutek amat. Perkenalkan, namaku Xi Luhan. Kalau boleh tahu, namamu siapa?"
"Sehun," jawab Sehun singkat tanpa menatap namja yang mengajaknya bicara tersebut.
"Sehun. Nama yang cantik, seperti orangnya."
Sehun hanya diam saja, tanpa berniat membalas ucapan namja yang bernama Xi Luhan tersebut. Dia lalu melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Kau mau kemana?" tanya Luhan.
"Tidur," jawab Sehun tanpa menoleh kearah Luhan. Luhan yang masih berdiri ditempatnya memandang punggung Sehun yang mulai menjauh itu sambil menyunggingkan senyum kecil.
.
.
.
Tbc...
Review please...
Tidak bisa janji setiap berapa hari sekali update. Maklum, terkendala KUOTA T.T
Tapi pas ada kuota, pasti di update kok. :-)
#HappyMotherDay
