Chapter 4 is heeere! Hehe, gomen updatenya lamaaaa. Banyak kegiatan akhir-akhir ini. Susah buat nyempetin diri duduk di depan laptop sambil mikir tentang ide cerita. Ada aja yang musti dilakuin. Err, oke, enjoy please :)
Summary : Sasuke Uchiha adalah cowok idola di Konoha JHS. Ia pintar, cool, tampan, dan cuek. Semua orang mengidolakannya. Namun bagaimana jadinya kalau Uchiha yang satu ini dihinggapi KUTU?! Mission three.
Warning : Gaje, aneh, OOC sangat -,-
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Kutu? HELL NO!
A Sasuke's Story
By cumanakecil
.
.
:MISSION THREE:
Peditox's Power – part 1
---
"Anak-anak, sekarang buka halaman 134 dan kerjakan latihan 6 dan 7."
Terdengar suara bariton dari laki-laki paruh baya yang sedang berdiri di belakang meja guru. Ia berjambang dan berambut agak jabrik. Namun keramahan tak pernah pudar dari wajahnya yang selalu dihiasi senyuman. Ya, Asuma memang guru yang disegani oleh kebanyakan murid Konoha JHS. Ia baik namun tegas. Cara mengajarnya pun bisa dibilang sangat santai. Guru itu juga cerdas, tentunya.
"Yaaaaaaah..."
Keluhan malas mulai terdengar dari sebagian murid kelas 9D. Mereka tidak terlalu suka memecahkan soal-soal fisika yang rumit dari buku. Lebih baik mendengarkan penjelasan Asuma tentang gaya dan kecepatan. Namun apa boleh buat? Sebentar lagi ada ujian kelulusan, dan mereka perlu dilatih untuk mengerjakan soal-soal yang notabene berumus itu. Maka para siswa dengan ogah-ogahan mulai mengacak isi tas mereka atau menjulurkan tangan ke arah loker, mengambil buku latihan Fisika yang berhalaman 209 itu dan mulai sibuk dengan soal hitungannya masing-masing.
Kelakuan yang sama dilakukan oleh seorang Uchiha yang duduk di barisan paling belakang. Ia mengangkat kepalanya dengan malas dan mengambil buku Fisikanya dengan kasar dari dalam tas, kemudian membantingnya ke atas meja. Memunculkan pandangan tidak suka dari Naruto yang kini sedang mengibas-ngibaskan tangannya alih-alih terjepit oleh meja Sasuke yang bergeser karena bantingan buku tersebut.
"Teme! Bisa pelan sedikit tidak sih?" sang rambut kuning itu masih saja menggerutu sementara Sasuke hanya menoleh sejenak kemudian membuang muka ke arah jendela. Entah kenapa hari ini Sasuke malas sekali datang ke sekolah. Yah, memang biasanya juga seperti itu sih. Tapi kali ini seperti bertambah 2 kali lipat rasa malasnya. Lebih baik tiduran di dalam kamar dan tidak melakukan apa-apa daripada mengerjakan soal rumit di buku Fisika. Bukan sok pintar,—sebenarnya memang pintar—tetapi Sasuke memang tidak suka mengerjakan soal seperti itu. Dari dulu. Entah bagaimana caranya ia bisa menjadi pintar seperti sekarang.
"Kau kenapa?" Naruto memiringkan kepala. Memandangi sahabatnya dengan pandangan ingin tahu.
Sasuke membuka halaman 134 di buku Fisikanya dan mulai mengerjakan soal sambil bergumam. "Tidak. Hanya malas."
Naruto angkat bahu sebelum akhirnya berpaling dan menatap nanar ke arah buku cetak Fisikanya yang tergeletak pasrah di laci meja. Nah, kalau yang ini lain. Sasuke malas mengerjakan karena memang tidak suka dan merasa sudah pasti bisa menguasai materi yang ditanyakan dalam soal. Tetapi Naruto malas mengerjakan karena ia memang malas dan tidak bisa mengerjakan. Sungguh simple untuk seorang Uzumaki Naruto yang otaknya pas-pasan.
Kesemuanya sedang berkutat dengan soal masing-masing ketika Asuma bangkit dari duduknya dan berjalan ke luar kelas. Ia memasukkan tangan ke dalam saku celananya sebelum akhirnya mengeluarkan sebuah silinder kecil berwarna putih serta pemantik api dari dalamnya. Satu lagi, Asuma adalah perokok berat. Tak ada hari-harinya yang dilewatkan tanpa merokok. Sebenarnya di Konoha JHS ada peraturan yang tak mengizinkan satu warga sekolah pun untuk merokok di lingkungan sekolah. Asuma yang selalu menaati peraturan dipastikan tahu akan hal itu. Namun entah kenapa ia tidak bisa menahan keinginannya untuk merokok bahkan di lingkungan sekolah sekalipun.
"Kalian kerjakan dengan tertib, saya tinggal sebentar."
SREK!
Terdengar suara pintu ditutup seiring dengan menghilangnya Asuma dari pandangan. Dan suasana kelas langsung berubah gaduh. Beberapa anak bangkit dari duduknya dan menghampiri temannya untuk mengerjakan soal bersama. Ada yang membuat lingkaran kecil dan bergosip sambil ber haha-hihi ria di salah satu sudut kelas. Yang cowok kebanyakan segera menutup buku Fisika di hadapan mereka dan mengobrol dengan teman sebangku mereka. Naruto juga sama. Cowok itu bangkit dari duduknya dan berjalan dengan santai menuju meja Kiba, teman seperjuangannya dan meninju bahu cowok bertato itu dari belakang sambil tertawa-tawa. Sesaat kemudian mereka berdua terlihat sudah terlibat dalam obrolan yang seru.
Bagaimana dengan Sasuke?
Ow, cowok itu masih anteng saja duduk di kursinya sambil meletakkan kepalanya di atas meja. Ya, sekali lagi. Malas. Bahkan untuk mengangkat kepala. Mungkin malasnya melebihi Nara Shikamaru yang terlihat sedang mengerjakan soal di bukunya—walau dengan beberapa kuapan yang lebar—. Pokoknya diam adalah hal yang terbaik yang terpikirkan di benak Sasuke sekarang.
"Ssst, Sasuke!"
Tiba-tiba terdengar suara cewek yang membisikkan namanya dari arah depan. Sasuke menoleh sesaat dan menemukan Sakura sedang melambai-lambaikan tangan di depannya. Di tangan yang satunya terdapat sebuah botol yang berisi cairan berwarna pink. Tetapi Sasuke terlihat tidak peduli. Cowok itu mengangkat sebelah alis dengan heran.
"Apa?"
"Ingat tentang obat yang kuceritakan kemarin?" Sakura berjalan mendekati cowok berambut pantat ayam yang masih juga belum mau mengangkat kepalanya itu. Ia menggoyang-goyangkan botol kecil di tangannya, menyebabkan cairan merah muda di dalamnya mendadak berombak.
Cowok bermata onyx itu terdiam sejenak.
Obat?
Ia tidak merasa pernah membicarakan obat dengan cewek di hadapannya ini. Yah, mungkin pernah. Sesekali. Tetapi Sasuke terlalu malas untuk mengingatnya. Maka cowok itu hanya menggelengkan kepala perlahan. "Tidak."
"Hei, aku sudah susah-susah meminta obat ini pada Okaasan. Masa kau lupa sih? Dasar tega." cewek berambut pink itu memberengutkan mukanya sambil melipat tangan di depan dada. Rasa kesal mendadak menyergap gadis itu tatkala mengingat perjuangannya memohon-mohon pada ibunya untuk memberikan sebotol kecil cairan berwarna merah muda itu pada temannya. Sebenarnya Sakura bisa saja mengabaikan tentang obat yang ia janjikan pada Sasuke kemarin. Namun entah kenapa cewek itu merasa iba dengan sang Uchiha yang sedang terserang wabah kutu. Terlihat sekali kalau Sasuke tidak suka keberadaan kutu itu di rambutnya dan berusaha keras untuk melenyapkan binatang tersebut, sampai-sampai mengikuti cara gila Naruto yang sangat tidak masuk akal. Kasihan.
Sasuke tidak bereaksi. Pikirannya sudah terbang entah kemana. Bahkan sepertinya cowok itu sudah tidak memedulikan keberadaan Sakura di depannya. Dan Sasuke membiarkan mereka berdua terdiam selama beberapa menit sampai akhirnya Sakura angkat suara.
"Oke, kalau kau tidak ingat." gadis itu berkacak pinggang sambil memasang tampang jutek. Namun beberapa saat kemudian sebuah senyuman aneh terkembang di wajahnya.
"Tetapi tunggu saja sampai besok dan semua orang akan tahu kalau seorang Uchiha Sasuke ternyata memelihara kutu di rambutnya."
DEG!
Sasuke spontan menegakkan diri. Ia membeliak pada Sakura yang masih memasang senyum jahil sambil menggoyang-goyangkan botol di tangannya. Ia baru ingat sekarang. Ya, baru saja. Kalau kemarin Sakura sudah berjanji untuk memberikan sebuah obat penghilang kutu padanya. Dan sekarang cowok itu sangat yakin, kalau cairan merah muda cerah itu pastilah obatnya. Dengan segera Sasuke mengangkat tangannya dan menyambar botol itu hingga dalam sekejap obat tersebut telah berpindah tangan. Sakura yang tidak memerkirakan reaksi Sasuke kini hanya bisa terbengong, memandangi cowok di hadapannya yang sudah memasang death glare andalannya.
"Kalau kau sampai melakukan itu, aku tidak segan-segan membunuhmu."
Cewek bermata emerald itu segera tersadar. Ia mundur selangkah sambil mengangkat kedua tangannya. Sebulir keringat dingin meluncur turun dari pelipis kanannya.
"O-oke, oke."
Ia tidak tahu mengapa dirinya mendadak takut pada sosok di hadapannya ini. Seorang Uchiha Sasuke. Apanya yang perlu ditakutkan dari cowok itu? Mungkin tampangnya memang agak tidak enak dilihat, namun tidak ada yang bisa menjamin kalau cowok itu bisa bela diri. Sakura yang kebetulan adalah anggota klub karate semestinya tidak takut. Hanya tinggal dengan satu kali serangan, ia yakin bisa membuat nyali Sasuke ciut dengan sekejap. Namun entah kenapa kini ia merasa takut. Sangat. Takut.
Sasuke mendengus pelan. Ia mengalihkan pandangan ke arah botol pink di tangannya. ukurannya tidak terlalu besar, bahkan bisa dibilang relatif kecil. Botol itu berwarna putih namun transparan, sehingga cairan pink cerah di dalamnya bisa terlihat dengan jelas pula. Sebuah label terlihat menyelimuti setengah permukaannya. Dan nama cairan itu tercetak jelas di bagian tengah tabel.
"Peditox?"
Cowok itu menggumam heran. Ia mengerinyitkan dahi. Seumur hidup Sasuke belum pernah mendengar ataupun membaca tulisan 'peditox'. Ia bahkan tidak tahu bahasa apa itu. Dan Sasuke merasa belum pernah menemukan kata-kata ajaib yang tertera di label itu di buku pelajaran manapun. "Ini apa?"
Sakura memutar bola matanya. Ia duduk di bangku sebelah Sasuke—bangku Naruto—yang kosong sebelum akhirnya menjawab. "Obat pengusir kutulah, apa lagi?"
"Belum pernah dengar." sang Uchiha memandang curiga pada botol di tangannya dan menggoyang-goyangkannya pelan, menimbulkan bunyi kecipak pelan sementara cairan pink di dalam botol itu bergoyang. "Manjur?"
"Pasti!" Sakura mengacungkan dua jempol tangannya tepat ke depan muka Sasuke, yang langsung disingkirkan oleh cowok itu sambil melirik kesal sementara Sakura nyengir salah tingkah. Sepertinya ia sudah mulai ketularan Lee, seniornya di klub bela diri yang sangat gemar mengucapkan 'semangat masa muda' sambil mengacungkan jempol. Sakura menggeleng pelan, membuat kuncir kuda di belakang kepalanya bergoyang ke kanan dan kiri. Ia tak mau disamakan oleh makhluk hijau seperti itu.
Sementara itu di sudut lain kelas, Naruto terlihat sudah menyelesaikan percakapannya dengan Kiba. Cowok kuning itu melenggang santai ke arah bangkunya untuk duduk kembali ketika dilihatnya sudah ada yang menduduki bangkunya terlebih dahulu. Naruto mengangkat sebelah alisnya.
"Sakura? Sedang apa?"
Yang merasa disebut namanya menoleh. Cewek itu segera bangun dari duduknya dan merapikan rok putihnya yang agak kusut setelah duduk. "Eh, Naruto," ujar Sakura. Ia menepuk-nepuk kursi milik Naruto yang tadi didudukinya sembari menyorongkan tangan agar sang pemilik kursi duduk kembali. "Maaf aku pinjam bangkumu tadi. Sudah dibersihkan kok! Tenang, aku tidak bervirus."
Naruto nyengir. "Mau duduk? Duduk saja. Hahaha, aku percaya kau tidak membawa virus." cowok itu melangkah maju menghampiri mejanya yang sudah kembali diduduki oleh Sakura, berniat untuk menyapa Sasuke yang belum bergeming sejak tadi. Kedua mata biru Naruto tertumpu pada botol kecil berisi cairan pink yang sedang dipegang oleh Sasuke. Ia beringsut mendekati temannya itu dan memajukan muka, turut melihat apa yang sedang dipegang oleh sang Uchiha tersebut.
"Ini apa, Teme?" tanyanya sambil mengambil botol itu dari Sasuke kemudian memandangi label dan tulisan yang tertera disana. "Peditox?" cowok itu memiringkan kepala. Sejak kapan Sasuke pakai obat-obatan? Setahunya, Sasuke hanya meminum obat jika sakit saja. Itu juga sangat jarang terjadi. Yah, mungkin kebetulan kemarin ia demam. Tetapi selebihnya Sasuke jarang sekali terkena penyakit. Lagipula walaupun kaya dan terkenal, Naruto tahu kalau Sasuke tidak akan pernah mencoba obat-obatan semacam narkoba. Tidak penting, begitu pendapat Sasuke ketika ditanya. Jadi Naruto menyimpulkan kalau cairan pink dalam botol ini bukan semacam narkoba.
"Hei, kembalikan!" Sasuke merebut botol itu dengan kasar sambil memandang sebal pada temannya itu. Salah satu kebiasaan buruk yang tidak disukai Sasuke yang ada pada diri Naruto, cowok jabrik yang satu ini suka seenaknya mengambil barang orang tanpa bertanya terlebih dahulu. "Minta izin dulu kenapa sih?"
Cowok bermata biru di hadapannya mengerucutkan bibir. "Huuuu, pemarah. Kan aku hanya lihat. Pelit dasar!"
"Terserah apa katamu." Sasuke mengalihkan pandangan dan memandangi botol di genggamannya lagi. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Yah, sedikit sekali orang yang bisa menebak apa yang ada dalam benak seorang Uchiha Sasuke.
"Bweee!" Naruto memeletkan lidahnya ke arah Sasuke yang terlihat tidak peduli dan setelah itu langsung membuang muka ke arah jendela sambil menggerutu tak jelas.
"Dasar Teme, keturunan kulkas bukan?"
Sementara itu di sebelah mereka, Sakura terlihat sedang memandangi sambil tersenyum geli. Sungguh, baru pertama kali ini ia melihat Naruto dan Sasuke beradu mulut. Selama ini, ia menganggap Sasuke adalah cowok pendiam dan menyebalkan sementara Naruto itu cerewet dan tak bisa diam. Makanya ketika melihat keduanya menjadi sahabat, Sakura agak tak percaya juga. Tetapi begitu sekarang menyaksikan adu mulut antara Sasuke dan Naruto, ia percaya. Kalau persahabatan itu bisa diekspresikan lewat cara apa saja. Tidak mesti akur, bukan?
"Obat itu untuk menghilangkan kutu, Naruto." Sakura berkata pada Naruto yang kemudian mengangguk-angguk mengerti. Cowok itu hendak mengambil botol itu kembali sebelum tiba-tiba ia menoleh pada Sakura sambil menunjuk-nunjuk.
"Lho? Kok tahu? Darimana? Bukannya hanya aku yang tahu? Atau kau juga menemukan kutu di kepalanya? Tetapi bagaimana caranya? Lalu—mmmmph!"
"Aku yang beritahu, Dobe! Bisa pelankan suaramu sedikit? Kalau ada yang mendengar, kugunduli kau." Sasuke dengan kejamnya membekap mulut Naruto sampai temannya itu tidak bisa bernapas. Naruto mengangguk dengan cepat sampai akhirnya Sasuke melepaskan bungkamannya. Ia kembali duduk sementara Naruto sibuk mengatur napasnya. Muka cowok itu sudah berubah merah rupanya.
"Jelek, kau mau aku mati kehabisan napas?" ujar Naruto sambil melipat tangan di depan dada. "Lagipula, kenapa kau beritahu dia? Memang aku saja tidak cukup?"
"Aku kan juga butuh saran dari yang lain. Lagipula semua masukanmu tidak berguna." Sasuke berkata dengan pedas sambil memasang muka jutek. Membuat amarah Naruto kembali terpancing. Cowok berambut kuning itu mendelik. Sudah bagus mau bantu, masih juga diejek. Sebenarnya apa sih mau si kulkas itu?
"Heh, kau tidak berhak berkata seperti itu pada sahabatmu!"
"Terus kenapa? Apa peduliku?"
"Grrr... Temeee!!"
"Sudah, sudah!" Sakura tiba-tiba berdiri. Ia memandang geli pada kedua temannya yang masih saling membuang muka. "Tak ada gunanya bertengkar. Jadi, kapan kau akan memakai obat itu, Sasuke?"
"Entah. Lagipula aku tidak tahu bagaimana cara memakainya." cowok berambut pantat ayam itu mengangkat kedua bahunya. "Memang bisa dipakai sendiri?"
Sakura menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Err—tidak sih. Harus ada minimal dua orang. Jadi aku atau Naruto mesti membantumu untuk memakai obat ini. Bagaimana?"
Naruto spontan menoleh ketika mendengar namanya disebut. Ia menunjuk dirinya sendiri sambil memasang pandangan bertanya. "Aku? Kenapa harus aku?" jujur, Naruto masih sakit hati dengan perkataan Sasuke tadi. Mungkin temannya itu mengatakan secara main-main. Tapi omongan Sasuke memang tak bisa dibatasi. Tanpa disadari, lidah Sasuke sudah membuat banyak orang sakit hati. Entah bagaimana masih banyak juga cewek yang mengejarnya. Maka dari itu, Naruto merasa sangat malas untuk ikut serta dalam acara pembasmian kutu Sasuke lagi.
"Yah, terserah kau sajalah." Sasuke mengambil handphone Blackberry terbarunya. Baru saja kemarin ganti. Cowok itu sepertinya sudah bosan dengan iPhone lamanya. Dia melihat kalender dan jadwal yang sudah diatur rapi di handphonenya. "Hari ini saja aku kosong. Datang saja ke rumahku pulang sekolah."
"Eh? Hari ini?" Sakura mengerjap. Ia terdiam sebentar sebelum akhirnya mengeluarkan cengiran minta maaf. "Aku tidak bisa, Sasuke. Ada kegiatan klub pulang sekolah nanti. Maaf ya, kau bisa bersama Naruto kalau begitu."
Cowok bermata onyx itu serta merta mendelik. "Hah? Kau mikir apa sih? Bahkan Naruto saja tak tahu cara penggunaan obat ini. Salah-salah aku mati keracunan nanti." ia menunjuk-nunjuk Naruto yang melirik dengan sebal. "Apa kegiatan itu tidak bisa ditunda?"
"Heeeey. Kau kira aku sebodoh apa? Aku juga bisa membaca kertas petunjuknya!" cowok bermata biru cerah itu menurunkan acungan tangan Sasuke sambil memberengut kesal sementara Sasuke memamerkan cengiran langkanya.
"Kau bisa baca? Oh, aku baru tahu."
"Aku sudah sebangku denganmu sejak lama dan kau baru tahu kalau aku bisa baca?" Naruto menggelengkan kepala. "Menyedihkan sekali."
"Buat apa aku mengetahui kau bisa baca atau tidak?" cowok bermata onyx itu menjulurkan lidah. "Toh sama saja kan?"
"TIDAK SAMA! Bukan anak SMP namanya kalau tidak bisa baca!"
"Memang kau anak SMP?"
"Temeeee!!" Naruto hendak melayangkan jitakannya ke arah kepala Sasuke kalau saja Sakura tidak lebih dahulu menangkap tangannya. Yah, sebenarnya sama saja sih. Kalau seandainya Sakura tidak mencegahpun Sasuke pasti akan bisa mengelak dengan mudah. Tetapi kalau kena bisa berabe juga. Jangan main-main dengan jitakan Naruto. Walaupun gampang ditangkis, tetapi sekalinya kena bisa membuat benjolan besar bersarang. Naruto itu staminanya banyak sekali. Apalagi kalau marah. Namun entah kenapa Sasuke sering sekali bertengkar dan adu mulut dengan sahabatnya itu. Melihat Naruto yang kesal dan jengkel akibat perkataannya itu merupakan kesenangan tersendiri bagi cowok Uchiha tersebut.
"Hei! Jangan bertengkar lagi kenapa?" Sakura membeliak marah pada dua cowok di hadapannya ini. Diacuhkan memang membuat siapa saja bisa menjadi kesal. Sakura pun begitu. Sudah kedua kalinya ia diacuhkan oleh Sasuke dan Naruto di waktu yang berdekatan. Bahkan pertanyaannya pun tak didengar. "Sasuke, mungkin aku bisa minta izin untuk pulang cepat dan aku akan langsung datang ke rumahmu. Jadi jangan khawatir." cewek itu menghela napas sebentar sebelum melanjutkan. "Dan Naruto, tolong bantu temanmu barang sebentar saja. Aku tidak punya banyak waktu. Kau tidak ada kegiatan kan?"
Naruto memajukan bibirnya. "Oke, oke. Tapi kau cepat datang ya. Jadi apa aku nanti kalau dibiarkan lama-lama dengan kulkas?" cowok berambut kuning itu enggan membayangkan apa saja kalimat yang akan dilontarkan oleh Sasuke padanya nanti. Apalagi kalau mengetahui bahwa Naruto SAMA SEKALI tidak bisa menggunakan peditox. Habis sudah riwayatnya.
"Cih. Aku juga tidak sudi dibiarkan bersama cerewet sepertimu."
"Hei! Ka—"
"Baik, baik, aku akan berusaha." Sakura dengan cepat memotong pembicaraan Naruto sebelum cowok itu panas lagi. Naruto pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk membalas perkataan Sasuke dan hanya menghela napas pelan. Sementara itu Sakura menghembuskan napas lega. Ia tidak tahan mendengar kedua cowok ini bertengkar terus-menerus. Di depan mukanya pula.
Sasuke kini kembali memandangi buku Fisikanya. Dengan enggan ia mengambil pensil dan mulai menghitung dengann rumus yang sangat rumit. Sakura yang merasa kalau pembicaraan sudah selesai segera bangkit berdiri. "Oke, aku pergi ya." cewek itu tersenyum manis. "Jangan lupa hari ini, oke?"
Naruto memamerkan cengiran khasnya sambil mengacungkan jempol, sementara Sasuke hanya ber 'hn' pelan. Sakura tersenyum puas. Ia melenggang dengan santainya menuju meja tempat duduk asalnya dimana Ino sudah melambaikan tangan, isyarat agar Sakura bergegas. Cewek berambut pink itu segera mempercepat langkah dan tak lama kemudian kedua gadis itu sudah terlibat pembicaraan yang seru.
:MISSION THREE:
To Be Continued
Cerita si anakecil :
Aaaaaaaaaaaah akhir-akhir ini males banget nulis fic entah kenapa :( gomeeen updatenya lama banget hiks. Tadinya kan sebenernya gamau nyentuh laptop lagi untuk beberapa waktu *ditakol* tapi ngeliat fic temanteman saya yang jalan terus, yaaa jadi terpancinglah! Makasih yang udah ngikutin fic ini, terus ikutin yah hehehe. Chapter yang ini mungkin belum jelas nanti apa yang bakal dilakuin mereka bertiga, tapi chapter depan udah kok jadi tenang sajaaa :D
Maaf kalo ada miss typo, tak disengaja. Review pleaaase.
