Waaa lagi uts malah bikin fanfict. Hehe
Akhirnya ada yang review juga, terimakasihhh
Shisui-Namikaze : wah terimakasih sekali kritikannya. Saya baru sadar ternyata masih banyak yg salah T.T. tapi untuk chapter selanjutnya saya usahakan lebih baik. :D jangan bosan untuk terus berkomentar yaaa
Puthry Azzahra : terimakasih jugaa. Iya nih maaf ya masih bener-bener author pemula. Hehe. Sudah di perbaiki ko. Untuk alur, saya emang ga sabaran. Malah pengen langsung ke klimaks. Hee tapi makasih banget untuk sarannya. Salam kenal juga :D
Nadeshiko Sakura Hime : wah terimakasihhh. Untuk happy ending gimana ya? Emhh pikir-pikir lagi dehhh. Tapi karena saya juga suka jengkel kalo ada cerita yang sad ending, sepertinya akan begitu. Hee salam kenal yaa!
CHAPTER 4
A NARUTO FICT
BY NAMIKAZE HANA
Akhirnya Berakhir Juga
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: Namikaze Minato & Uzumaki Kushina
Genre: Romance, tragedy, dll
Warning: aneh, ga je, de el el
DON'T LIKE DON'T READ
"MINATOOOOOOOOOOO".
Minato yang mendengar teriakan Kushina langsung terbangun. Ia begitu terkejut. Minato memegang telinganya yang cukup sakit akibat teriakan Kushina itu. Dalam hitungan detik, ia mulai menatap di sekitarnya. Ia kemudian melirik Kushina.
"kau ini berisik sekali. Aku masih ingin tidur".
"KAU INI ADALAH LELAKI YANG PALING BUSUK YANG PERNAH KU KENAL TEBBANE!". Kushina berteriak sekencang-kencangnya. Sampai terdengar oleh kamar sebelah.
"kau bisa bicara pelan tidak? Telingaku bisa-bisa tuli kalau kau terus saja berteriak". Minato menutup telinganya.
"kau jahat minato". Kushina berkata pelan tapi Minato masih bisa mendengarnya.
"apa kau bilang?".
"kau jahat. Kau semalam melakukan apa padaku minato?". Suara kushina sedikit tertahan. Ia tidak percaya apa yang telah di alaminya. Kushina mulai terisak.
"eh? Apa maksudmu? Aku benar-benar tidak mengerti". Katanya sambil menggaruk rambut jabriknya yang terlihat makin acak-acakan. Sambil memasang muka tak berdosa.
"lihat di ranjang itu? apa kau masih mau mengelak? Kau menaruh sesuatu di makanan yang kau beri itu, lalu aku tertidur pulas, lalu kau perkosa aku? Benar kan? Kau jahatt". Kushina kini mulai menangis. Minato masih terlihat bingung.
"kau menuduhku seperti itu? Hah memangnya kau masih gadis? Kau kan sudah punya suami. aku-".
"DIAM KAU TEBBANE! "
Kushina langsung berlari ke kamar mandi. Ia tak mau lagi terlihat menangis di hadapan pria bermata saphire itu. Pintu kamar mandi ia tutup dengan sangat keras. Cukup mengagetkan Minato yang masih terbengong. Ia langsung melihat ke ranjang yang tadi Kushina tiduri. Dan ternyata bercak merah itu memang ada. Minato sangat yakin semalaman ia tak melakukan apa-apa terhadap Kushina. Seingatnya minato hanya mencium kening gadis itu. Tapi apakah hanya dengan mencium bibir dan kening seorang gadis bisa timbul bercak darah? Pertanyaan bodoh yang terus berkutat di fikirannya. Tapi minato tetap bersikeras bahwa ia tidak melakukan apapun terhadap Kushina. Minato masih tahu batasan. Ketika minato masih terus berfikir, tiba-tiba
" AAHHH MINATO".
Suara teriakan kushina kembali. Namun ini lebih terdengar seperti teriakan meminta tolong. Minato dengan panik langsung berlari menuju kamar mandi.
"kau tidak apa-apa Kushina?".
Pintu kamar mandipun terbuka. Minato menelan ludah ketika melihat tubuh Kushina yang hanya di balut dengan handuk. Terlihat betapa mulusnya kulit kushina. Dan ada sedikit luka di tubuh itu.
"minato, maafkan aku. Emh ternyata ini hari pertamaku haid. Ku mohon kau-"
Dengan cepat minato langsung menganalisis perkataan kushina. Pikiran mesumnya sedikit demi sedikit mulai hilang. "cukup, aku mengerti. Kau mandi saja dahulu. Aku secepatnya kembali". Minato kemudian berbalik dan bergegas untuk membelikan suatu 'benda' para perempuan itu. Dia terlihat masih syok dengan apa yang barusan ia lihat.
"minato, tolong sekalian kau beli pakaianku ya. Dan emmh pakaian dalamku. Nanti ku bayar." Kushina tersenyum malu. Wajahnya terlihat merah begitupun minato.
"baik, aku pergi dulu". Minato langsung ngelontor pergi. Ia tak memberi senyumnya seperti biasa. Minato terlalu gugup.
Kushina pov
"bodoh sekali kau Kushina, kau sudah berfikir macam-macam padanya. Uh memalukan". Batin kushina dalam hati. Ia merasa bersalah kepada minato.
.
.
Normal
Minato masih belum percaya dengan apa yang barusan di lihatnya. Tubuh Kushina benar-benar menggoda imannya. Dengan segera ia hapus pikiran joroknya yang kembali muncul. Minato baru sadar sedari tadi ketika ia berjalan di lorong hotel, semua orang yang berpapasan dengannya menatap dengan heran. Minato berusaha kembali bersikap biasa saja.
"kenapa mereka melihatku seperti itu?". Katanya dalam hati.
Setelah keluar dari hotel milik rekan ayahnya itu, minato langsung celingak celinguk mencari toko yang menjual pakaian wanita.
"ah sebaiknya aku ke supermarket itu dulu". Minato langsung pergi ke tempat yang di maksud. Supermarket itu tepat berada di depan hotel. Hanya terpisah oleh sebuah jalan raya yang sedang ramai.
Sampainya di supermarket, ia langsung mencari apa yang kushina minta. Minato berjalan terus dan tanpa sadar banyak para wanita yang sedang berbelanja memperhatikan dirinya. Sepertinya ketampanan minato mempunyai magnet yang kuat. Semua wanita yang pernah melihatnya tanpa sadar akan terus memperhatikannya. Setelah tiga menit ia berkeliling, akhirnya barang yang ia cari ketemu juga. Sebuah rak tinggi dan semuanya berisi pembalut wanita.
"ini dia".
Dengan sedikit canggung minato memilih merek benda itu. Nampak ada wanita di sampingnya yang sedang mencari hal benda yang sama. Wanita itu melirik minato dengan tatapan aneh. Sementara minato hanya terkesan cuek meskipun dalam dirinya ia merasa sangat canggung. Minato langsung mengambil satu dari banyaknya pembalut itu dan ia langsung pergi dengan sedikit berlari. Sampai di kasir ia menyerahkan benda itu. Ketika minato sedang mengambil dompet di sakunya, si kasir wanita itu tersenyum kepadanya.
"wah ini untuk istri anda ya tuan?. Anda sangat perhatian. Jarang-jarang loh ada lelaki yang mau membeli yang beginian". Kata kasir wanita itu sambil memberikan 'benda' itu.
Minato hanya tersenyum mendengarnya. Setelah ia membayar, minato langsung pergi mencari pakaian untuk kushina. Ia harus cepat karena minato tak ingin menunggu kushina lama-lama.
.
.
Tak jauh dari supermarket tersebut, ada sebuah toko baju yang sedang ramai. Sejenak, minato berfikir ulang untuk membeli pakaian untuk kushina. Namun sepertinya ia tak bisa menolak apapun yang kushina pinta. Minato sendiri merasa aneh pada dirinya sendiri. Mengapa ia senekat ini. Selain itu, ini memang kebutuhan yang mendesak. Akhirnya ia putuskan untuk tetap mendatangi toko itu.
Sesampainya di toko itu, semua wanita yang sedang asik berbelanja malah memperhatikannya. Minato langsung masuk dan langsung berbicara pada pegawai toko tersebut.
"maaf, saya sedang mencari pakaian untuk istri saya. Kami sedang menginap di hotel yang ada di depan supermarket itu". Minato membuat alasan pembenaran."Kira-kira ukuran pakaiannya M deh". Kata minato mengira-ngira.
"anda mau model yang bagaimana? Silahkan anda memilih saja". Kata pelayan itu dengan ramah.
Minato lalu melihat berbagai macam model pakaian wanita. Ia memilih baju berwarna ungu dan juga celana jeans yang berwarna hitam. Lalu iya menatap pakaian dalam wanita yang terpangpang dengan jelas. Seolah-olah rasa malunya telah hilang, minato langsung mengambil sebuah bra dan cd dengan corak yang sama berwarna hitam. "Sepertinya ini cocok". Gumamnya dalam hati.
Segera ia mendatangi kasir dan langsung membayarnya. Ia tetap tak peduli meskipun tahu semua wanita yang berada di situ memperhatikannya.
.
.
Sesudah keluar dari toko tersebut, minato langsung berlari secepatnya. Iya terus mengabaikan pandangan orang pada dirinya. Walaupun masih ada bayang-bayang bagaimana mereka memandang dirinya yang sedang membeli 'benda' itu dan pakaian wanita.
Dulu sewaktu SMA, minato selalu juara dalam perlombaan lari. Tak heran bila dalam waktu lima menit, ia sudah berada di depan kamarnya. Sebelum masuk, ia mengambil nafas yang panjang.
"kushina, ini aku bawakan semua keperluanmu".
"kemarilah minato".
Pria bermata saphire itu berjalan menuju sumber suara. Keclek! Pintu kamar mandi terbuka. Kushina hanya memperlihatkan tangannya saja. Minato kemudian memberikan 'benda' keramat itu.
"mana pakaianku?".
"oh iya ini". Minato memberikan pakaian pilihannya pada kushina. Ia berharap kushina tidak teriak lagi gara-gara tidak menyukai baju yang dipilihnya itu.
"terimakasih". Hanya itu yang di ucapkan kushina. Sekali lagi minato menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa penderitaanya sudah berakhir.
akhirnyaaa
hahahayydeuhhh
di tunggu reviewnya kawannn
terimakasih :)
