Sekuel yang mungkin jauh dari harapan kalian semua. Tapi entah kenapa tiba-tiba aku pengen buat sekuel ff yang sudah lama publish ini.

WARNING: MEMBOSANKAN!

.

.

.

.

.

Entah apa yang salah denganku dan menjadikan ku kacau seperti saat ini. Bahkan ini lebih kacau daripada proposal kerja sama ku yang di tolak oleh grup Shinhwa minggu lalu. Mungkin kah karena sudah lama aku tidak berhubungan sex? Ngomong-ngomong tentang "itu" membuat ku jadi teringat dia. Pemuda angkuh yang bekerja sebagai pelayan di bar Jung Yunho, yang pada akhirnya tetap jatuh ke pelukan ku.

Seminggu setelah aku menyerah dengan nya karena aku sadar aku mulai menggunakan hati dalam berhubungan denga nya, aku mencoba kencan dengan seorang pemuda yang lebih menarik dari dia. Tapi apa yang terjadi? Kami berakhir dengan cumbuan panas yang sama sekali tidak membuat penis ku berdiri. Aku sempat frustasi. Otak ku penuh dengan spekulasi mulai dari aku yang berubah orientasi seksual hingga mungkin saja aku impoten. Bahkan dengan sangat memalukan aku sempat konsultasi dengan dokter kelamin, dan dia bilang seharusnya aku bisa berdiri.

Mungkin saja hasil pemeriksaan itu salah. Meskipun kecil kemungkinan, tapi presentasi nya tetap ada. Dan jujur itu membuat ku frustasi. Apa ini karma? Atau semacam hukuman karena aku mencampakan pemuda polos seperti dia?

Hingga pada suatu pagi, aku terbangun dari tidurku dengan celana menggembung. Penis ku ereksi setelah semalam aku bermimpi bercinta dengan dia. Dengan Cho Kyuhyun. Aku sebenarnya sama sekali tidak punya pemikiran tentang cinta atau semacamnya dalam hubungan semacam ini. Aku sendiri tidak yakin apakah ini cinta, nafsu, atau obsesi semata. Yang aku tahu adalah aku harus menemui pemuda berkulit pucat itu secepatnya. Atau aku akan kehilangan sumber sensasi liar dalam diriku hingga aku mati. Dan sejujurnya aku sedikit merindukan bocah ingusan itu.

Dan kalian tahu apa yang kutemukan ketika aku mencari nya di bar? Mungkin ini akan terdengar sangat drama sekali. Tapi sayang ini bukan drama. Dia menghilang. Bukan dalam artian menghilang 'cling' seperti dalam film Harry Potter. Tapi pergi entah kemana tanpa alamat yang jelas. Bahkan pacar Yunho yang merupakan sahabat dekatnya pun tidak tahu. Atau mungkin pura-pura tidak tahu. Yah, pada akhirnya aku berakhir menyedihkan dengan perasaan sesak setiap kali mengingat dia. Aku merindukannya. Bahkan setelah 3 tahun berlalu. Aku terasa hidup dalam kehampaan abadi yang tak berujung.

.

.

.

.

Aku berdiri di sebuah halte bus yang sudah penuh dengan orang-orang yang sebagian besar baru pulang bekerja. Aku menunggu bus sembari menatap ke sebuah banner yang terpasang di gedung perusahaan Choi Cooperation. Dia masih tetap sama meskipun sudah tiga tahun berlalu. Masih tampan, bahkan lebih tampan. Miris sekali hanya bisa melihat gambar ketika aku benar-benar ingin bertemu langsung dengannya. Menatap matanya, memeluknya dan mencium bibirnya. Apa ia masih mengingat ku? Jangan bermimpi Kyu. Itu seperti mengharap kan hujan salju di gurun Sahara. Sekalipun itu terjadi, dunia pasti sedang kiamat.

Kerumunan orang yang berjubel masuk ke dalam bis yang baru saja tiba, membuat ku tersadar dari lamunan ku. Melamun benar-benar tidak baik untuk ku. Aku jadi mudah hilang keseimbangan ketika tersenggol seseorang. Untung hal itu tidak sampai membuat badanku tersungkur. Kasihan kulit halusku kalau samapi harus lecet karena hal konyol seperti melamunkan Choi Siwon.

Aku duduk santai di dekat jendela di tempat duduk paling belakang. Sebenarnya aku paling tidak suka duduk di belakang karena guncangannya akan sangat terasa dan membuat ku sedikit pusing ketika turun dari bis. Kuraih ponsel di saku celana ku ketika ku dapati benda kotak itu bergetar. Sebuah panggilan masuk. Dari pacarku.

"Yoboseyeo hani-ah, wae?" Sapaku dengan suara lembut.

"Nanti malam?"

"Maaf sayang, tapi ku rasa aku akan tidur dini hari untuk menyelesaikan pekerjaanku."

"Aku tau,"

"Aku juga sangat merindukanmu,"

"Mianhae, mungkin besok atau lusa. Aku benar-benar sibuk sampai mau mati rasanya."

"Arraseo,"

Ia menutup telponya. Pacar ku. Song Hani. Gadis yang ku temui sekitar satu tahun lalu. Dia kolega kerjaku. Sangat manis dan perhatian. Pandai memasak, sedikit manja, tidak berlebihan dan juga cantik. Pacar idaman yang sempurna. Kami sudah pacaran sekitar tujuh bulan. Jangan memandang ku aneh. Aku tidak aneh.

Sebenarnya aku bukan gay. Aku laki-laki normal yang menyukai wanita cantik. Tapi entah kenapa aku menjadi seperti itu di hadapan Choi Siwon. Ia semacam memiliki pesona yang tidak dapat ku tolak. Aku baik-baik saja sebelumnya. Hidupku berangsur membaik setelah aku keluar dari bar terkutuk itu dan menjauhi Choi SIwon. Meski akhir-akhir ini entah kenapa aku sangat ingin melihat Tuan Karismatik itu.

Kadang aku merasa kasihan pada Hani. Aku merasa kejam. Karena pada awalnya kencanku dengannya adalah sebuah pembuktian kepada Shim Menyebalakan Changmin bahwa aku bisa melanjutkan hidupku dan merancang masa depan cerah bersama calon ibu dari anak-anak ku tanpa bayang-bayang suram Choi Siwon. Aku pernah sangat optimis dan menikmati semua ini. Tapi entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa jenuh. Tidak ada yang salah dengan Hani. Tidak ada yang salah dengan memacari seorang wanita. Satu-satunya yang salah adalah hatiku yang selalu berdebar kencang setiap kali membayangkan atau bahakan hanya mengucapkan namanya. Choi Siwon.

Kau benar-benar racun.

.

.

.

.

.

Entah ini suatu kebetulan atau takdir atau apapun semacam itu Kyuhyun tidak tahu. Ia melihat sosok itu masuk ke cafe dimana dirinya dan sang kekasih tengah menikmati akhir pekan mereka. Awalnya ia berharap ia terlalu gila hingga membayangkan sosok itu. Tapi harapanya salah. Itu benar-benar dia. Ada rasa takut dan rasa lain yang tidak Kyuhyun mengerti sedang membuncah di dadanya. Oh Tuhan, ia semakin merasa bersalah pada Hani yang tengah bercerita di hadapanya, tapi sama sekali tak ia dengarkan.

Kyuhyun dapat melihat ekspresi terkejut di mata itu ketika mata mereka bertemu. Sialnya ia tidak bisa menyembunyikan senyum di wajahnya ketika seorang Choi Siwon tersenyum ke arahnya. Bukan senyum nakal yang tiga tahun lalu di lihatnya. Tapi senyuman hangat yang membuat pipinya panas. Ia tersipu. Dan ia terus saja memaki dirinya karena itu.

Tidak. Meskipun ia berharap bisa mentap wajah itu secara langsung. Tapi tidak sekarang. Dengan Hani bersamanya. Ini tidak terlihat bagus. Bahkan ia sempat berencana kabur dari tempat itu.

"Sudah lama ya Kyuhyun-ssi?" sapa pemuda itu tanpa sedikit pun melihat ke arah seorang gadis yang penasaran setengah mati bagaimana pacarnya bisa mengenal Siwon yang notabene adalah direktur dari perusahaan yang merupakan saingan dari perusahaan dimana Kyuhyun bekerja.

"Apa kita pernah bertemu?" dan pertanyaan Kyuhyun sebagai dalih dari jawaban akan sapaan Siwon itu membuat dunia Siwon seakan retak hingga kemudian hancur menjadi kepingan-kepingan kecil yang bahkan lebih kecil dari sebuah inti atom.

Siwon memaki dalam hatinya sambil memunguti kepingan harga dirinya yang sudah tak lagi berbentuk. Bocah ini tidak berubah. Mungkin di tambah faktor sakit hati Kyuhyun atas perbuatan Siwon di masa lalu, hingga membuat Kyuhyun sama sekali tidak bisa berbasa-basi sedikit saja meskipun hanya pura-pura.

Hani bisa merasakan atmosfer aneh yang menyesakkan semenjak Siwon tiba-tiba muncul begitu saja di hadapan mereka layaknya jin Aladin. Tapi ia tak bisa menjelaskan secara rinci. Yang ia tahu, hubungan mereka kurang baik. Jadi ia memilih diam saja daripada memperburuk suasana yang memang sudah buruk itu.

Bukan Choi Siwon namanya kalau sampai ia membiarkan hal ini begini saja. Bocah ini harus tau. Siapa bos nya. Siapa yang memegang naskah dan berteriak 'cut' ketika adegan tidak sesuai keinginannya.

"Kau lupa padaku? Benarkah? Apa perlu ku ingatkan pada mu saat ini juga apa yang pernah kita lakukan bersama,"

"Mwoya? NEO MICHEOSEO?" Teriak Kyuhyun hilang kendali. Wajahnya memerah.

"Kau sudah ingat?"

"..."

Kyuhyun memalingkan wajahnya. Untuk sesaat ia hampir saja melupakan keberadaan Hani di dekatnya. Ia terlalu syok atas kebetulan yang tiba-tiba ini. Di tambah lagi ia harus menyembunyikan kegembiraanya karena bertemu lagi dengan Siwon. Ia tahu itu. Ia sadar ia begitu merindukan sosok Siwon. Tapi kemudian sebuah rekaman dari masa lalu terputar di otaknya. Dan ia benci bagaimana ia dapat melihat jelas rekaman itu secara detail bahkan adegan slowmotion di beberapa scene lengkap dengan backsound 'I Wonder If You Hurt Like Me' milik 2AM.

"Maaf, sepertinya anda salah orang." Kata Kyuhyun bersikeras dengan pilihanya untuk pura-pura amnesia.

Siwon frustasi. Ia mengumpat dalam hati. Apa ia tidak tahu apa yang dirasakan Siwon saat ini? Perasaan senang dan lega karena bisa bertemu Kyuhyun? Meskipun ada sedikit rasa gembira yang aneh. Yang seakan berteriak di otaknya 'Yes! Aku bisa ereksi lagi'. Tapi bukan itu poin utamanya. Ia menolak ini di sebut kangen, rindu atau semacamnya. Tapi ia juga menyangkal ketika pikiranya berkata ia menginginkan kepuasan seksual dari bocah itu. Ia terlihat seperti remaja SMA sekarang.

Dari tadi Siwon sedikit tidak nyaman dengan seorang gadis di hadapan Kyuhyun yang terus menatapnya penuh tanda tanya yang bagi Siwon lebih terlihat ke arah bodoh daripada tidak tahu. Ia sebenarnya tidak ingin tahu. Tapi akhirnya bertanya juga.

"Kau? Pacarnya?"

"Nn ne.."

Siwon membungkukan tubuhnya. Ia mencium Kyuhyun. Membuat tak hanya kedua orang itu kaget. Tetapi seluruh pengunjung cafe. Hani membuka mulutnya tak percaya. Sedangkan Kyuhyun, ia terlalu syok untuk merespon apa yang baru saja Siwon lakukan. Wajahnya memerah. Marah atau justru tersipu, bisa juga malu. Entahlah, semuanaya terasa begitu samar.

Siwon menyudahi ciumanya. Tidak, bukan ciuman. Bagi Siwon itu hanya kecupan dengan durasi lima detik. Lima detik yang menyenangkan. Lima detik yang membuat dimple di pipinya tercetak jelas. Ia merasa, bahagaia. Lebih tepatnya berbunga-bunga.

BUGHH!

Kyuhyun menghantam perut Siwon. Cukup untuk membuat Tuan Choi itu terjongkok sambil memegangi perutnya. Sungguh, Siwon tak menyangka Kyuhyun bisa sekuat ini. Pukulanya lumayan keras.

Kyuhyun beranjak pergi sambil menggandeng tangan Hani. Ia berjalan begitu cepat tanpa memperhatikan bahwa gadis yang ia genggam tangannya kesusahan untuk mengikuti langkah Kyuhyun, terutama dengan sepatu ber hak lima belas centi meter yang ia kenakan. Ia berhenti, membuat Kyuhyun sedikit terkejut.

"Jelaskan padaku," kata gadis itu dengan mata berkaca-kaca.

"Itu bukan sesuatu yang penting, dia hanya orang gila yang tiba-tiba mengacaukan kencan kita."

Gadis itu terdiam sambil membekap mulutnya. Air matanya mengalir begitu deras. Kyuhyun bingung dibuatnya. Ia menarik tubuh kurus itu ke dalam pelukanya. Mengusap rambutnya lembut. Berusaha membuat Hani tenang meskipun ia bingung kenapa Hani menangis begitu dasyat.

"Kau gay?"tanyanya mebuat Kyuhyun terkejut.

"Sudah ku bilang ia hanya orang gila yang tak jelas!" jawab Kyuhyun setengah berteriak.

"Pantas saja menciumku pun kau tidak pernah,"

Kyuhyun frustasi ia menarik tengkuk Hani kemudian melumat lembut bibir itu.

PLAKK

Gadis itu menamparnya.

"Jangan sentuh aku, kau menjijikan." Ucapnya kemudian berlalu dari hadapan Kyuhyun.

Kyuhyun hanya terdiam. Sakit, tapi juga sedikit lega. Ia menghela nafas panjang sambil menatap ke langit. Salju mulai turun. Berarti musim dingin sudah di mulai. Bagus, ia jadi semakin terlihat menyedihkan.

.

.

.

.

.

Apa ini? Kenapa dadaku berdebar-debar seperti ini? Sial, ini semua karena Choi Siwon yang menyebalkan itu. Apa yang ia pikirkan dengan menciumku di depan pacarku sendiri. Aish, seharusnya dia tadi melumat bibirku sedikit. Tidak hanya menempel kan bibirnya sambil menyesap bibir bawahku. Hya! Apa yang ku pikirkan? Sadarlah Cho Kyuhyun. Aku memukuli kepalaku sendiri. Berusaha menyingkirkan pikiran kotor di otakku.

Telepon di mejaku kerjaku berdering. Membuatku tersadar. Suara di seberang sana menyahut setelah aku mengangkatnya. Suara Pak Presedir. Menyuruhku keruangannya. Aku segera beranjak menuju ruangan beliau yang tak begitu jauh dari ruang kerjaku. Aku mengetuk pintu pelan sebelum akhirnya mendorong kenop pintu setelah mendengar suara Pak Presedir menyuruhku masuk.

Ia tersenyum. Baguslah, berarti ia memanggilku tidak untuk komplain atas pekerjaanku. Ia mengulurkan tanganya yang memegang sebuah amplop berwarna cokelat kepadaku. Aku sedikit bingung, meskipun pada akhirnya tetap menerimanya.

"Nanti malam adalah pesta ulang tahun perusahaan Grup Jaeguk. Tapi aku tidak bisa hadir. Tolong hadiri pesta itu, dan sampaikan permintaan maaf serta salam ku pada Direktur Han Muyoung," ucapnya sambil tersenyum.

"Baiklah Pak Presedir," kataku sambil menundukan badan,"saya permisi dulu."

Ia hanya mengangguk. Aish, sungguh menyusahkan. Aku tahu dia sangat menyukaiku karena aku pandai dengan IPK sempurna. Tapi hal-hal seperti ini sebenarnya sangat tidak penting. Kalau bukan karena kau bos ku, aku pasti dengan senang hati menolaknya. Harusnya ia menyuruh orang lain saja.

.

.

.

.

.

Aku mengenakan setelan yang ku pinjam dari Changmin. Jas hitam merk hermes yang tentu saja tidak dapat ku beli, atau lebih tepatnya sayang untuk di beli. Aku bukan penggemar barang branded. Setelah taksi yang ku tumpangi berhenti di sebuah hotel mewah yang merupakan tempat pesta di adakan, aku turun sambil mebayar ongkos taksi yang lumayan mahal. Aish, seharusnya aku di beri uang ganti untuk ini.

"Undangan Anda, Tuan," kata seorang pelayan dengan nada sopan.

Aku menyerahkan undanganku, kemudian melangkah masuk ke aula hotel. Luar biasa, orang-orang disini benar-benar bukan dari kalangan ku. Kilauan mereka membuat mataku sakit. Apa enak nya pesta dengan sopan santun seperti ini.

Dari kejauhan, aku melihat si penyelenggara pesta. Presedir Grup Jaeguk, Han Muyoung. Seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluhan keatas dengan badan tegap dan wajah tampan. Kenapa banyak sekali orang yang terlalu sempurna di dunia kelas atas ini. Benar-benar tanpa celah.

Aku menghampirinya dengan langkah bergetar. Dia memanatapku dengan tatapan menyelidik setelah aku sampai di tempatnya. Tentu saja, ia pasti bingung kenapa ada makhluk setampan ini di pesta nya yang membosankan. Aku membungkukan badanku sambil memberi salam. Tidak lupa senyum yang ku buat seramah mungkin.

"Perkenalkan, nama saya Cho Kyuhyun dari perusahaan Hayoung. Presedir saya, Tuan Lee Sooman berhalangan hadir,"aku menjeda ucapanku untuk melihat ekspresinya. Ia terlihat mengangguk-angguk tanda mengerti.

"Beliau bilang ia sangat menyesal tidak bisa datang, dan menyampaikan salam untuk anda."

"Ah, arraseo, sampaikan juga salamku untuk beliau, semoga kau menikmati pesta nya Kyuhyun-ssi."

Aku mengangguk sambil tersenyum. Sang Tuan kemudian berpamitan padaku untuk menyambut tamunya yang baru saja datang. Ia pasti sangat sibuk. Mataku mengikuti langkahnya ke pintu masuk. Ia memeluk tamu yang baru datang seakan mereka teman sejak di lahirkan. Sial, aku mengenalnya. Itu Choi Siwon. Kenapa aku tidak berpikir sampai ke sini. Dia pasti ada di acara-acara seperti ini. Rasanya ingin sekali aku menenggelamkan tubuhku ke rawa-rawa ketika ia mendapati aku tengah menatapnya.

Sekarang atau aku akan terlambat untuk kabur dari Tuan Tampan itu. Aku menelusup diantara keramain yang penuh dengan kemewahan. Sial, setidaknya biarkan aku meminum seteguk saja anggur mahal itu. Dan mencicipi makanannta. Aku sangat lapar sebenarnya. Dan kurasa aula ini sangat luas, tidak mungkin Siwon bisa menemukanku dengan cepat. Itu juga kalau dia mencariku.

Aku mengambil segelas anggur di meja yang terletak di sudut ruangan. Memang anggur kelas tinggi. Sangat nikmat. Kemudian mencicipi desert nya yang kebanyakan makanan luar. Aku tidak tahu namanya tapi kelihatannya enak. Terserah kalau orang menilaiku kampungan atau semacamnya karena piringku yang terisi penuh. Toh mereka tak mengenalku. Hhaha.

"Apa kau tidak pernah makan enak?"

Suara itu. Ayolah, ini baru sepuluh menit dan dia sudah menemukanku. Apa dia benar-benar menginginkanku. Apa belum cukup ia membuat pacar ku berfikir aku seorang gay. Aku hanya menatapnya sinis, meskipun ada sedikit rasa senang di hatiku. Aku lemah denganya.

"Berhenti mengacuhkanku, ngomong-ngomong kau harus membayar pukulan mu itu."

"Wae? Kau pantas menerimanya."

"Berhentilah berbohong, aku tahu kau merindukanku," mwo? Apa sekarang ia seorang peramal?

"Kau yang merindukanku bukan?"

"Ne, sangat merindukanmu."

"Merindukanku? Atau merindukan bercinta denganku?"

Mukanya merah. Sepertinya ia sedikit marah dengan perkataanku. Sedetik kemudian ia menyeret lenganku. Meninggalkan keramain dia aula itu. Membawaku ke sebuah taman buatan yang terlihat sepi.

"Mwoya? Kau ingin mencumbuku disini?" Kataku menantang. Ia sudah merusak segalanya. Merusak keluarga masa depan impianku.

"Sebegitu inginya kah kau ku sentuh?"

Siwon menarik tubuhku ke dalam pelukanya. Mencumbuku kasar. Ia benar- benar melakukanya. Entah kenapa air mataku mengalir tanpa bisa di cegah. Tapi ia seolah tak peduli. Ia dengan kasar membuka jasku. Membuat kancingnya berhamburan. Tidak, jas hermes mahal milik Changmn. Aku harus menggantinya. Sial!

Aku mendorong tubuh Siwon. Bukan, bukan karena aku ingin dia berhenti mencumbuku. Aku sangat menginginkanya meskipun mataku basah entah kenapa. Aku menunduk memunguti kancing jas Cahngmin. Siwon berdecak kesal. Maaf, ini lebih penting dari ciumanmu.

"Apa yang kau lakukan?"

"Kau merusak jas mahalku."

"Sudah?"tanyanya setelah aku berdiri.

"Kurang satu,"

Ia memeluku. Erat. Hingga membuatku takut ia mendengar suara detak jantungku yang tak beraturan.

"Kenapa kau menghilang?"

"Aku dapat beasiswa ke Inggris. Lagi pula kau bilang kau tidak bisa denganku kan? Kenapa kau tiba-tiba muncul seolah-olah kau yang paling menderita?"

"Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu bodoh."

"Katakan langsung saja, jangan berbelit-belit."

"Aku mencintaimu Kyu."

Aku mencium bibir joker itu dengan lembut. Dan entah mulai kapan berubah menjadi ciuman kasar yang menuntut. Ia membalasnya. Membuatku merasa menang. Seberapa besar usahaku untuk melupakanya, ataupun membencinya selalu berakhir sia-sia. Sekali lagi aku telah jatuh kepada Choi Siwon. Dan kali ini aku tidak akan menyesalinya.

Dia menyudahi ciumanya sambil tersenyum nakal.

"Bukankah kau bisa disebut berselingkuh,"

"Aku sudah putus dengannya."

"Wae?"

"Karena kau, bodoh!"

.

.

.

.

.

"Ya! Cho Kyuhyun apa yang kau lakukan dengan jas ku?" teriak suara di seberang sambungan telepon.

"Aish, berisik! Aku sudah mengembalikannya bahkan mencucinya di laundri."

"Kenapa ada satu kancing berwarna putih disini?"

"Mo mollaseo, mungkin luntur. A, aku sibuk,"

Sambungan telepon terputus. Kyuhyun mengacak rambutnya kasar. Ia harus mencari cara untuk menghindar dari amukan Shim Changmin.

.

.

END

Terimakasih sudah membaca.