Dia tak sempat sarapan meskipun bangunnya jam lima. Paginya habis untuk menyuapi ibunya, memasangkan popok, mengganti baju, dan membisikkan kata-kata sayang di telinga ibunya yang tak bisa membalas ujaran sayang itu.

Diikat Shoyo plastik popok bekas ibunya dan diletakkannya di kotak sampah ketika ia turun untuk mencuci tangan dan mengambil sarapan. Hatinya meringis melihat percobaan bubur yang ia masak pagi ini meskipun tetap ia bawa naik jua nampan sarapan itu.

"Mama, sarapan." Shoyo tersenyum tipis saat menemu ibunya. Diletakkannya nampan yang ia bawa ke meja dan ia menghampiri si perak layu itu, membangunkannya, dan menjejalkan banyak bantal di punggung ibunya untuk menahannya tetap duduk.

"Sebentar lagi nenek datang, Ma." Ia duduk di tepian ranjang dan mengambil mangkuk buburnya. "Shoyo membuat bubur. Lihat, lumayan, kan? Hehe. Rasanya enak, kok."

Tak ada jawaban seperti biasanya. Shoyo menyendok bubur dan mendekatkannya ke bibir sang ibu. Koshi dengan patuh membuka mulutnya untuk Shoyo memasukkan makanannya. "Maaf ya, Ma. Selama ini Shoyo cuma memasakkan bubur instan untuk Mama."

Dilap Shoyo noda yang tertinggal di tepian bibir ibunya. Dua suapan lagi sebelum Shoyo menyuapkan air putih.

"Hari ini Shoyo ujian, Ma. Hehe. Doakan Shoyo, ya. Kalau Shoyo sudah selesai ujian, lulus, Shoyo berencana bekerja. Cari uang."

Sunyi selain sendok Shoyo yang menyentuh dasar mangkuk besinya. Shoyo menatap ibunya, memperhatikan apakah mulut itu sudah berhenti mengunyah pelan untuknya kembali menyuapkan sendok terakhir sarapan ibunya.

"Mama tahan, ya, sama nenek nanti. Shoyo janji akan segera pulang."

Ada perasaan tak nyaman jika itu menyangkut neneknya, ibu dari ayahnya. Sejak awal pernikahan orang tuanya, wanita tua itu tak pernah merestui kehadiran ibunya di sisi Sawamura Daichi. Bahkan dari lima bulan ibunya sekarat di atas ranjang ini, neneknya hanya datang saat pemakaman putranya saja, dan sama sekali tidak peduli pada menantunya.

Dibelainya pipi kurus itu. Habis air minum, si jingga berdiri dan membereskan bantal-bantal di belakang ibunya sebelum meninggalkan ibunya kembali tergolek lemah sementara ia sendiri sibuk menyiapkan bekalnya sendiri.

Bel di pintu depan bertepatan saat Shoyo sudah akan masuk ke kamar ibunya. Hatinya sedikit tak tenang tahu neneknya sudah datang meskipun ia sendiri tetap membukakan pintu.

"Kenapa lama sekali?"

"Maaf." Shoyo menyingkir dari jalan saat neneknya masuk ke rumah. Meninggalkan tas-tas bawaannya di luar yang secara tidak langsung menyuruh sang cucu untuk membawanya.

"Kau tidak berangkat? Mau jadi apa kau kalau terlambat sekolah?"

Si jingga meletakkan bawaan neneknya ke ruang tamu. Dijawabnya, "Sebentar lagi Shoyo akan berangkat. Shoyo pamit Mama dulu."

Saat ia berjalan menjauhi neneknya, bisa didengar Shoyo dengusan tak senang dari si wanita tua serta ujar, "Untuk apa pamit pada si cacat itu."

"Mama." Shoyo duduk di tepian ranjang dan membelai rambut perak sang ibu pelan. Diciumnya kening keriput Koshi dan bisiknya, "Shoyo pamit, ya."

Dengan cepat Shoyo berdiri sebelum dirasanya jarinya digenggam lemah dan membuat si jingga kembali menoleh tak percaya. Bibir itu bergerak-gerak. Kali ini sedikit lebih bertenaga dari biasanya dan ada desis tak bermakna didengar si jingga. Mata cokelat Shoyo membelalak tak percaya dan ia duduk lagi, mendekatkan wajahnya pada ibunya, "Mama?"

"Sho—yo—"

-disambung di chapter selanjutnya besok