Cast : Kim Ryeowook, Cho Kyuhyun and other member SJ
Pairing : KyuWook
Genre : Drama/ Romance/Angst
Rate : T
Disclaimer : Ryeowook milik ku *digebuk* cerita ini real punya aku
Warning: Genderswitch, OOC miss Typo(s), bahasa tak sesuai EYD
Don't Like Don't Read
.
.
.
-/-
Sedikit banyak cinta itu apa musti dirasakan oleh 2 insan? Bagaimana jika hati yang terlibat cinta tersebut lebih dari 2? Bukankah berbohong menjadi alternatif baik? Bohong demi kebaikan, menurutku hanya ucapan yang dilebihkan. Kecuali kau memang suka dibohongi.
Tangan Kim Ryeowook terkepal, sedikit keringat membasahi telapaknya. Pandangan gadis tersebut makin menajam, mengarah pada dua bola mata bulat didepanya.
Ryeowook menggeser tubuhnya. Posisi awal yang membuat pantatnya menyentuh lantai berubah menjadi posisi berlutut seiring dengan satu tangannya terulur, mengelus surai kecoklatan milik namja didepannya.
"Aku menyadarinya mungkin terlalu bodoh, aku tak bisa jauh darimu?"
Kyuhyun meringis lalu menolak tangan Ryeowook yang kini mengelus pipinya, namja itu mengerutkan dahi. "Berhenti bicara, kuperingatkan kau untuk tak menggangguku lagi seperti benalu!" teriak Kyuhyun penuh rasa marah.
Ryeowook menggeleng keras, ia berusaha makin mendekat pada Kyuhyun, meraih kedua tangan namja tersebut tapi disentakan dengan mudahnya oleh Kyuhyun hingga gadis itu kembali tersungkur.
Butiran-butiran panas keluar dari pelupuk si gadis, hidungnya sudah semerah pipinya sekarang. Saat menangis wajah Ryeowook memang sensitif, ini untuk pertama kalinya ia menangis dihadapan orang banyak.
"Kumohon beri aku kesempatan, aku akan berubah. Aku bisa menjadi gadis manis jika kau mau."
Mati-matian Ryeowook mengeluarkan airmata, tapi tak ada reaksi apapun dari Kyuhyun. Selang beberapa lama namja bersurai ikal itu menarik paksa pergelangan Ryeowook, membuat tubuhnya menempel pada tubuh Ryeowook melalui sebuah pelukan. Airmata si gadis terhenti, matanya terus mengerjap saat Kyuhyun melepas pelukan mereka. Tangan Kyuhyun berganti membingkai wajahnya, hidung mereka bersentuhan dengan nafas menderu.
"Aku..." Ryeowook membuka mulut, kegugupan ini lebih dari apa yang harus ia jalani. "Aku..."
Masih mengulur waktu, Kim Ryeowook kini malah berusaha menenangkan jantungnya.
Kyuhyun mendengus lalu menjauhkan tangannya dari wajah Ryeowook seiring wajahnya yang ikut menjauh. "Cukup! Dia gagal!" teriak Kyuhyun yang kini bangkit berdiri. Namja itu bersedekap
"Saat hidung kami menempel harusnya dia masih menangis. Kau tahu sonsae, dia malah mendengus di adegan yang seharusnya penuh penghayatan. Improvisasi gagal, terlalu datar. Dia lebih baik ikut klub menggambar saja bersama anak TK. Mana mungkin kita memakai tokoh yang tiba-tiba lupa dialog?"
Ryeowook menelan ludah, ia tak separah itu. Latihan dirumah pun kerap ia lakukan, tapi jika sudah memerankannya didepan Kyuhyun ia selalu gagal. Hanya mengucapkan kata 'aku mencintaimu' menjadi hal sulit. Setiap ada di depan Kyuhyun fikirannya jadi buyar. Mana mungkin Ryeowook mengatakan 2 kata itu pada orang yang membuat hari-harinya penuh ungkapan sebal.
"Dia tak bisa memerankan tokoh Harumi yang mengejar Sakato. Dia gagal!" ulang Kyuhyun mengangkat satu sudut bibirnya menekankan kata 'gagal'
Park sonsae mengangguk, guru teater tersebut mengelus dagu, memandang murid didiknya bergantian. Ia fikir Ryeowook cocok untuk peran ini, wajah lembutnya dipadukan dengan tampang angkuh Kyuhyun.
Ryeowook menghela nafas dan berdiri perlahan, dadanya bergemuruh tanpa tahu apa itu. Beda dengan dulu, sekarang disaat Kyuhyun mengatainya, seperti ada suatu perasaan sedih yang entah timbul darimana atau ia saja yang terlalu terbawa suasana? Ah, tidak! Bukankah Kyuhyun tadi menganggapnya gagal, tak bisa berimprovisasi.
"Tapi tokoh Harumi sangat cocok jika dibawakan Ryeowook-ssi. Bukankah ini kemajuan, dia bisa menangis. Kufikir hanya butuh waktu untuk kalian saling dekat. Kalian harus lebih dekat, kalau perlu tanamkan sisi Harumi dan Sakato dalam diri kalian.
Ryeowook melirik Kyuhyun. Gampang saja mungkin jika untuk Kyuhyun sifat Satako tak jauh beda dengan sifat namja itu dalam keadaan nyata. Tapi jika Ryeowook? Yang benar saja ia disuruh memiliki watak lembut, sabar dan setia.
Oke ini untuk pertama kali mereka bermain dalam satu drama, pertama kali juga untuk drama cinta-cintaan yang menguras emosi dan menuntut Ryeowook menangis.
"Ayolah, kalau kalian mau berusaha lebih, kemenangan kali ini akan membawa nama teater sekolah kita naik satu peringkat!"
"Sonsae, bagaimana kalau aku saja yang menggantikan Ryeowook untuk peran Harumi. Mungkin ia lelah." Satu suara ikut menginterupsi keheningan, anak teater lain berbisik-bisik ketika Henry berjalan mendekat dan menyebelahi Ryeowook.
Kyuhyun menoleh sekilas, ia masih menunjukkan wajah datar sekalipun dengan yeojachingunya.
"Kita kan pacaran, mungkin penghayatan lebih baik jika aku yang melakukannya." lanjut Henry, pamer atau apa yang ia maksud yang jelas membuat Ryeowook berdecih, kemampuannya diragukan.
"Aku tak akan melepas peran Harumi. Tak akan!" sedikit kalimat yang diucapkan Ryeowook sebelum meninggalkan ruang teater sakura.
"Wookie-ah." Ryeowook berbalik saat sebuah suara memanggil namanya di depan pintu.
"Minho," sapa Ryeowok pada pemuda yang membawa beberapa kertas naskah ditangan kanan. Mereka berjalan beriringan.
"Kau sangat ingin memerankan Harumi ya, sampai sengotot tadi?" tanya Minho, matanya mengarah pada lembaran kertas didepannya.
Ryeowook menggeleng, "Tidak juga sih, tapi aku tak mau dibilang gagal."
"Haha, ne aku tahu kemampuanmu. lagipula Park sonsae lebih mendukungmu, kau tak perlu khawatir."
"Gomawo."
Kisah cinta Harumi dan Sakato. Drama berjudul "'Day for You'". Bercerita tentang seorang gadis yang mengejar cinta seorang namja bertahun-tahun. Dibalik itu semua, sebenarnya namja tersebut juga memiliki perasaan yang sama dengan si gadis. Itu cerita yang mengharukan dan Ryeowook harus berusaha lebih keras kali ini. Menanamkan sifat Harumi mungkin tak ada salahnya. Tapi jika mengingat setengah tahun ini hubungannya dengan Kyuhyun tak pernah akur, Ryeowook jadi ragu. Apalagi dengan si Henry yang menganggapnya musuh.
Entah apa yang menarik Ryeowook untuk masuk klub teater dulu, ia bertemu teman sekelasnya yaitu Minho dan Henry ditambah bertemu tetangganya Choi Kyuhyun. Klub teater disekolahnya cukup mempunyai nama, Ryeowook hanya menyalurkan bakatnya selain memasak. Meskipun begitu buktinya ia betah sejak kepindahannya setengah tahun di sekolah ini. Bahkan rasa tak nyaman datang jika sehari saja Ryeowook tak melihat wajah Kyuhyun.
"Hari ini kuantar pulang ya?" tawar Minho ketika mereka sudah sampai di depan gerbang mengarah ke parkiran.
"Tak perlu. Hari ini aku dan Kyuhyun akan pergi ke suatu tempat. Ada yang harus kita beli. Nah Minho hati-hati ya pulangnya."
Helaan nafas kecil dari Minho saat namja itu berbalik dan berjalan sendiri menuju mobilnya. Bahkan Ryeowook kini mengatakan secara terang-terangan ia akan pulang dengan Kyuhyun, setidaknya mereka tak separah dulu waktu pertama bertemu.
Ryeowook tersenyum sendiri, ia amat terlihat manis jika tak banyak marah dan lebih menebar senyum. Dia dan Kyuhyun sudah sepakat untuk pergi ketoko jam sebelum pulang sekolah. Siapa yang akan bilang mereka tak akur saat tau rencana mereka patungan uang untuk kado ulang tahun Leeteuk besok. Suatu kejutan untuk sang umma.
Brmmm
Tenggorokan Ryeowook tertohok saat menangkap motor besar Kyuhyun berhenti didekatnya. Kyuhyun membuka kaca helm "Kau pulang sendiri bisa kan?" ucapan enteng keluar dari mulut Kyuhyun.
Ryeowook mencoba sabar, bukankah ia ingin berusaha bersikap lembut kali ini. Mungkin yang seperti ini adalah suatu ujian kesabarannya.
"Tapi kan kita..."
"Sudahlah, jangan manja. Kau tak sadar kau itu selalu merepotkan Kyuhyun. Bukankah kau sering bilang lebih suka naik taksi? Sekarang kau bebas jika ingin melakukannya!" Henry memotong ucapan Ryeowook, tangan gadis itu melingkar erat pada perut Kyuhyun. Tatapan tersebut seolah mengatakan bahwa Kyuhyun hanya miliknya.
Ryeowook membuang muka, melihat 2 orang ini membuatnya sedih. Perasaan apa ini?
"Terserah! Aku memang lebih suka naik taksi!"
Kyuhyun mengangkat bahu lalu menutup kaca helm lagi "Ya sudah!"
Choi Kyuhyun bodoh, Choi Kyuhyun pabbo. Pabboya,
Ryeowook terus merutuk, demi apa namja itu tak ingat janji mereka. Yah bukan janji juga sih tapi kan.. Arggh. Itu membuat Ryeowookie bersedih, gadis itu sekarang benar-benar merasa menjadi Harumi yang mengejar cinta Sakato tapi selalu diacuhkan.
Mengejar cinta? Yang benar saja. Tidak Kim Ryeowook.
Ryeowook menggeleng keras
.
-()()()()()-
.
"Yang putih itu harganya berapa adjuhssi?"
"Itu 125 ribu won."
"Mwo, mahal sekali!"
"Itu harga standart nona."
"Tapi saya cuma punya 50 ribu won, bisakah dikurangi harganya adjuhssi?"
"Jangan aneh-aneh nona, saya bisa bangkrut jika menjualnya 50 ribu won."
"Tapi ini untuk kado umma saya besok, tolong bantu saya adjuhssi."
"Tidak! nona kembali saja kalau sudah punya uang lebih!"
Ryeowook kembali berjalan lesu, ia menatap lantai ubin yang menjadi pijakan kakinya. Ini semua gara-gara Kyuhyun. Hari sudah hampir sore dan Ryeowook belum mendapatkan jamnya.
Ryeowook berhenti di toko jam selanjutnya "Adjuhma, jam itu berapa?"
"Oh, itu 130 won."
Mwo? Makin mahal saja?
"Disini tak ada tawar menawar," lanjut bibi penjual jam membuat Ryeowook mengatupkan mulut, ia berharap ada orang baik hati padanya saat ini.
Ryeowook berbalik, ia berjalan lagi menuju toko yang lebih murah memberi harga sebelumnya.
"Adjuhssi, bisakah aku menyicil jam itu?"
Pria paruh baya yang sedang menggosok beberapa jam kuno tersebut mendongak. "Kau lagi. Aku tak melayani pembelian kredit, cari yang lain saja."
"Saya janji akan membayarnya kok. Bagaimana sebagai jaminan saya tinggalkan kartu pelajar saya?" kekeuh Ryeowook.
Pria itu menggeleng, keras kepala sekali bocah ini. "Jangan konyol, apa kartu pelajarmu itu bisa dibelikan beras? Sudahlah pulang sana, ibumu pasti mencari."
Mencari? Tidak mungkin, memang umma peduli padaku? Batin Ryeowook
"Saya tak akan pulang tanpa membawa jam ini."
Pria tersebut menghela nafas "Terserahmu, tapi tolong jangan berdiri didepan tokoku."
Ryeowook menurut, ia menepi pada pinggiran toko kecil tersebut, matanya menatap nanar jam putih yang menjadi incarannya. Jam besar dengan angka platinum, dengan pinggir berhiaskan ukiran bahan kayu. Bandul didalamnya akan berdentang tiap 1 jam sekali asal kita juga rutin memutar 2 lubang yang ada disitu. Itu jam kuno tapi masih saja bernilai mahal. Dari dulu Leeteuk sangat menginginkannya, mendengar bunyi dentang jam membuat umurnya semakin berjalan lambat.
Ryeowook menunduk, ia harus apa saat ini?
"Heh gadis jelek!"
Suara Kyuhyun? Ah tidak mana mungkin.
"Kim Ryeowook jelek kenapa kau tak mengingatkanku!"
"Kyuhyun, kenapa kau bisa disini?" tanya Ryeowook kaget, ia fikir telinganya sudah bermasalah.
"Saat aku pulang kau belum sampai rumah. Maaf aku melupakan hal ini. Tapi kau juga salah, harusnya kau pulang dulu dan menungguku. Bukan malah pergi sendiri, kau tahu aku kebingungan mencarimu! Kufikir kau hilang." omel Kyuhyun membuat Ryeowook menggigit bibir.
Kyuhyun mencarinya? Mengkhawatirkannya? Kadang kenapa namja ini bisa bersikap manis?
"Kau takut jika aku hilang?" lirih Ryeowook. Bodoh! Apa yang barusan ditanyakannya.
"Aku benar-benar takut. Makannya jangan lakukan hal begini lagi."
Ryeowook tersenyum, apa yang ia dengar ia sungguh berharap itu kenyataan. Karena ia merasa senang, cukup dengan seperti ini. Tampaknya Kim Ryeowook belum begitu mengerti
"Adjuhssi berikan jam tadi. Aku sudah punya uang!"
.
-()()()()()-
.
"Kyunnie, makan yang banyak ne, supaya kau tak gampang sakit. Sayur ini pokoknya harus dimakan!" perintah Leeteuk mutlak. Kyuhyun meringis saja saat Leeteuk menyendokkan beberapa kuah di mangkoknya.
Ryeowook menatap lekat piringnya yang masih kosong, ia juga berharap Leeteuk mau mengambilkan sesendok nasi untuknya. kenapa ia jadi manja begini?
Puk
"Wookie juga harus makan yang banyak ne, lihatlah badanmu terlalu kecil."
Ryeowook tersenyum kecil saat Kibum yang duduk disebelahnya mengambil piringnya, mengisinya dengan beberapa lauk.
"Umma suka sekali hadiah kalian. Gomawo ne. Ahh aku seperti kembali muda lagi dengan jam itu. Haha!" ucap Leeteuk melirik jam yang bertengger manis didinding rumahnya.
"Kau memang tak pernah tua chagiya," rayu Kangin
"Gombal. Hahaha."
Ryeowook menunduk. Apakah yang ditakutkannya selama ini terjadi?
"Aku harus pergi. Mianhe umma appa, paman Siwon, bibi Kibum. Wookie harus pergi!"
Ryeowook langsung saja lari tanpa mendengar komentar orang-orang di dalam rumahnya.
Kim Ryeowook berjalan cepat, semakin cepat hingga terlihat seperti berlari kecil.
Jembatan penyebrangan dekat taman. Tempat itulah yang jadi tujuannya.
Sret.
Tangan kecilnya makin kasar dalam mengusap lelehan yang mengalir dari kedua pipi. "Hiks..."
Yang benar saja, kini Ryeowook malah terisak. Kata-kata Amber tadi pagi kembali menyeruak sebagian ingatannya dulu.
"Akhi-akhir ini aku sering melihat eonnimu berjalan berangkulan dengan namjachingumu di sebuah taman. Apa mereka seakrab itu?"
"Kufikir kau tahu mereka bekerja ditempat yang sama. Apa eonnimu tak bercerita?"
Dada Ryeowook makin sesak, bukan karena kebohongan yang dibuat kakaknya selama ini. Sebenarnya ia tahu semua itu, ia tahu benar kepura-puraan mereka. Ryeowook hanya diam, ia ingin mendengar pengakuan tersebut dari mulut kakak yang disayanginya. Tak masalah jika seperti itu artinya ia harus melepas Hangeng. Dari kecil Heechul sudah menjadi kakak yang baik untuk Ryeowook, mengikuti keinginan aneh Ryeowook. Bahkan saat Ryeowook iri melihat kedekatannya dan Hangeng, gadis cantik itu rela membagi perasaannya. Satu-satunya alasan kenapa Kim Heechul tak pernah dekat dengan namja lain.
Mata Ryeowook makin terasa keruh melihat pemandangan didepannya, ia kucek beberapa kali kelopak matanya sebelum berjalan mendekat.
Mata Ryeowook menelisik.
Banyak orang disana, tapi ia tak menemukan 2 orang itu, hanya sebuah mobil warna shapphire yang tertinggal.
Ryeowook menepuk salah satu pundak seorang namja yang berdiri disampingnya
"Mianhe, boleh saya tau korban kecelakaan ini dibawa kemana?"
"Ambulans membawanya kerumah sakit terdekat," balas namja itu sekilas dan memperhatikan lagi mobil remuk yang menjadi tontonan banyak orang, bahkan jalanan menjadi macet sekarang.
Ryeowook berjalan mundur, debaran dadanya makin menggila. Sungguh ia takut, ia takut terjadi apa-apa pada kakaknya. Bagaimana Ryeowook tahu kecelakaan tersebut? Hangeng mengiriminya pesan, tanpa memikirkan perasaannya pula.
.
-()()()()()-
.
"Eonni! Eonni kau kenapa jadi seperti ini? Hiks.. Kenapa?"
"Wookie?"
Heechul meringis saat merasakan tanganya yang terbalut perban kembali ngilu, gadis itu jadi terbangun dari tidurnya. Hangeng ikut terjaga mendengar tangisan Ryeowook, ia heran sejak kapan Ryeowook ada disini.
Selama 1 jam Ryeowook berusaha menahan isak, melihat Heechul yang terbaring lemah dengan beberapa infus yang melilit tubuhnya, melihat Hangeng yang ikut tidur dengan posisi duduk disamping ranjang kakaknya, kepala pemuda itu ditumpukan pada perut Heechul, tangan mereka bertaut erat.
Bagaimanapun bolehkan jika Ryeowook merasa sakit. Hal yang terpampang jelas di depan hidungnya membuahkan sesuatu yang bernama patah hati.
"Hiks.. eonni..hiks."
Tangan Ryeowook beralih mengelus pipi Heechul. Si kakak mencoba tersenyum, senyuman yang malah membuat Ryeowook khawatir. Ryeowook beralih menatap Hangeng dengan wajah bingung.
"Apa yang terjadi oppa, kenapa?"
"Beberapa pecahan kaca membuat retina matanya rusak. Untuk sementara dia tidak bisa melihat."
Hati Ryeowook perih, sungguh. Melihat perban yang melingkar di area mata Heechul. Melihat kakaknya yang berusaha tersenyum dibawa kenyataan pedih itu. Jika hal ini yang menimpanya, mungkin Ryeowook sudah berteriak seperti orang gila.
"Berdoa saja semoga ada donor mata yang cocok," lanjut Hangeng
Ryeowook tersenyum pahit. Senyum yang ia buat sama saja tak akan terlihat oleh Heechul, apa yang bisa ia lakukan sekarang?
Heechul menggenggam tangan Ryeowook
"Wookie-ah, uljima kau tak boleh menangis," ujar Heechul yang masih menangkap suara isakan dari mulut Ryeowook meski sudah ditekan dengan punggung tangan. Berkali-kali Ryeowook menggeleng lemah.
Diusapnya punggung Heechul yang kini sudah terduduk, Ryeowook tahu betul kakaknya pasti lebih merasa sedih dan sakit.
"Eonni minta 1 hal padamu." bisik Heechul membuat Ryeowook melepas pelukannya.
"Tolong, jangan katakan ini pada appa dan umma, jebal."
"Wae, justru appa dan umma harus tahu eonni."
Heechul menggeleng "Andwae Wookie, biarkan mereka tak tahu. Eonni tak mau merepotkan mereka. Umma dan appa pasti malu melihat keadaan eonni sekarang."
Mata Ryeowook kembali memanas
"Tidak bisa, lalu apa yang harus kukatakan pada mereka."
Heechul tersenyum, berusaha meraba wajah Ryeowook dan mengusap pipi basah tersebut "Biarkan saja semua berjalan apa adanya. Cepat atau lambat mereka akan lupa pada eonni."
Ryeowook tersentak. Melupakan? Itu artinya Heechul tak akan pulang lagi kerumah?
Hal apa yang dipikirkan kakaknya hingga ingin mengambil tindakan seperti itu. Mungkin keputusasaan yang membuat gadis cantik bermarga Kim tersebut memikirkan hal sepihak.
"Apa maksud eonni. Aku tak mengijinkan eonni pergi. Kalau eonni pergi bagaimana denganku, bagaimana dengan appa dan umma. Bukankah hiks.. Bukankah dulu kita sepakat untuk merawat appa dan umma bersama jika mereka tua nanti. Hiks bukankah eonni berjanji akan selalu disampingku umma saat marah. Tidak boleh pergi. Tidak boleh!"
Sifat manja Kim Ryeowook muncul. Ia takut perubahan yang tak ia inginkan terjadi.
Kakak adik tersebut kembali berdebat, perdebatan yang menyakiti keduanya.
.
-()()()()()-
.
"Benar kau bisa pulang sendiri?"
"Tentu. Bagaimana oppa mau mengantar jika mobil oppa rusak!"
Ryeowook menjawab datar, ia memakai jaket yang diulurkan Hangeng dengan terpaksa. Bagaimanapun udara malam ini dingin.
"Kau marah pada oppa?" Ryeowook menoleh, langkahnya berhenti saat sampai didepan rumah sakit. "Cukup sampai disini, oppa bisa kembali masuk."
Hangeng menundukkan wajah, setumpuk rasa bersalah menghantuinya. ia sungguh malu baru mengakuinya sekarang "Mianhe, ini salahku tapi jangan pernah membenci kakakmu."
Ryeowook tersenyum tipis lalu mendongak menatap langit malam, tak ada bintang disana
"Sudahlah, lupakan hal itu. Sekarang yang kuminta, oppa harus selalu disamping eonni. Jangan pernah sekalipun meninggalkannya. Atau aku tak akan merestui kalian. Hahaha," gurau Ryeowook sambil berlalu, ia berjalan menjauh meninggalkan Hangeng yang masih mematung dengan senyum yang perlahan mengembang di bibir namja itu, suatu kelegaan melingkupi batinnya.
Ryeowook menatap lurus kedepan, rasa dingin yang amat menusuk tulang masih dirasakannya, satu butir air melesak keluar dari mata kanannya. Hari ini, untuk kesekian kali gadis itu menangis.
.
-()()()()()-
.
"Kau kenapa baru pulang!"
"Kau sendiri kenapa ada didepan rumahku?"
Kyuhyun mengusap wajahnya, menghilangkan rasa kantuk yang membuat bayangan sosok gadis didepannya terbelah menjadi dua. "Aku menunggumu."
Ryeowook tertegun. Menunggu?
"Kau belum membayar 12.500 won untuk jam itu kau hanya ikut andil 50rb won itu tak adil. Aku minta kekurangannya."
Ryeowook cengo, jadi karena uang namja ini rela menungunya malam-malam diluar rumah. Satu hal yang Ryeowook tambahkan dalam buku daftar hitam seorang Choi Kyuhyun.
Pelit!
"Aku tak punya uang, semua uangku habis untuk jam itu. Pasti akan kubayar tapi tidak sekarang," sanggah Ryeowook.
Klek!
Kyuhyun menahan tangan Ryeowook dan menutup kembali daun pintu yang digenggam gadis itu. "Bagus sekali! Kau tak lihat aku menungumu 3 jam diluar, dan sekarang kau meninggalkanku seenaknya," protes Kyuhyun.
Ryeowook memicingkan mata, ia terlalu ngantuk "Lalu apa maumu? Mau mengajak berdebat? Atau mau kutemani minum kopi?"
Kyuhyun tak menjawab, ia mengeratkan cengkramannya pada tangan dingin Ryeowook
"Kau kenapa? Matamu sembab, kau menangis? Sebenarnya kau darimana tadi?"
Interogasi Kyuhyun terdengar menyebalkan bagi Ryeowook. Ekspresi yang tadinya tersenyum remeh jadi cemberut. Ryeowook mengepalkan satu tangannya yang bebas dan memukul dada Kyuhyun "Bukan urusanmu Jangan peduli dan jangan pernah ikut campur. Orang sepertimu tak mungkin mengerti. Lepaskan tanganku!"
Mungkin tenaga Ryeowook sudah terkuras, pukulan yang biasanya keras hanya menghasilkan tepukan pelan bagi Kyuhyun
"Apa kau tak bisa bercerita padaku?"
"Haha, cerita padamu? Jangan melucu tuan Choi! Kenapa kau tiba-tiba jadi peduli padaku?"
Kyuhyun memutar bola matanya, namja itu sepertinya gugup "Ya! Bukankah Park sonsae bilang kita harus lebih dekat. Jadi... apa salah kita memulainya dengan hal begini?" jawab Kyuhyun ragu, alasan yang konyol mengingat tadi pagi ia tak setuju dengan peran Harumi yang dibawa Ryeowook. Yang jelas Kyuhyun sedang khawatir, tak tahu kenapa.
Ryeowook mendengus, ia melepas paksa genggaman Kyuhyun. "Kau fikir aku tak tahu. Kau cuma ingin menertawaiku kan? Iya kan?"
Kyuhyun menahan tubuh Ryeowook yang sepertinya akan oleng "Kalau untuk menertawaimu. Itu bisa kulakukan dari tadi."
"Kenapa kau tak tertawa saja sekarang? Biasanya kau seperti itu bukan? Ayo tertawa..hiks..hiks!"
Kyuhyun tersentak.
Air mata yang dilihatnya itu asli. Kim Ryeowook, gadis dingin yang tak pernah mau terlihat lemah didepan orang lain kini menangis dihadapannya.
Ryeowook menutup mulut menahan isakan. Hangat yang ia rasakan saat Kyuhyun merengkuh tubuhnya, rasa tenang menjalar saat namja tersebut mengelus surai coklatnya berulang kali. "Sshh, jangan menangis. Jangan merasa sendiri, disini ada aku!"
"Kyuhyun hiks, jangan tinggalkan aku. Atau aku akan merasa sakit lagi!"
Kyuhyun mengeratkan pelukannya. "Percaya padaku, aku tak akan meninggalkanmu!"
Cklek!
"Apa yang kalian lakukan?"
"Umma?"
.
.
.
.
.
TBC
.
A/N
Annyeong, bagaimana chapter ini?
For ddhanifa aaolfa, RyeoRim441, ryeofha2125, Hana Kim, kimryeowi, rizkyeonhae, Woonwook, Widyaflys24, Cho Yunri, Niutt, Redpurplewine, Jo KyuZha, Cloud77, erryeoo and another guest.
Terimakasih sudah membaca dan mereview chapter sebelumnya *bow*
.
Kyuhyun sukanya sama siapa? Sama aku *aegyo* #readermuntah *wook lempar kangkung*
Hubungan Kyu dan Henry? Mereka itu pacaran :(
Dan KyuWook sama-sama tak ingat masa kecilnya.
Akhir kata
RIVIEW PLEASE
