'SkyLark'
oleh Majah
diterjemahkan oleh Ilie
Link ke versi original: (ganti # dengan titik)
www#fanfiction#net/s/2126570/4/Incorporated
Disclaimer:
Saya tidak memiliki CCS, dan Majah yang memiliki cerita dan segala sesuatu yang tidak berhubungan dengan CCS dalam cerita ini. Semua tempat, peristiwa sejarah dan hal-hal lain yang disebutkan, dimana Anda mungkin tidak tahu IRL, adalah hasil imajinasi Majah. Segala kemiripan dengan dunia nyata hanyalah kebetulan semata.
Dari Chapter Sebelumnya:
"Aku mengerti." Eriol berkata sembari menatap temannya dengan tajam. "Baiklah kalau begitu. Selama kamu tahu apa yang kamu lakukan. Aku akan mendukungmu. Baik sebagai temanmu juga sebagai pengacaramu."
Syaoran menatap balik Eriol. Pandangan matanya tidak dapat dibaca. "Kalau Agatha menerima..."
Eriol meliriknya dengan ingin tahu.
"...Eriol...lakukan sebaik mungkin." lanjut Syaoran.
"Yaitu?"
"Buat itu menjadi legal."
Dan kemudian Eriol memasang kacamatanya kembali dan berdiri. "Dengan senang hati." Sebuah senyuman misterius terukir di wajahnya sebelum ia akhirnya pergi.
Chapter Tiga: Agatha
Ponsel Sakura bersenandung menandakan ada pesan yang diterima. Sayangnya, tas tangan yang memuat benda itu, berada di kursi tempat VIP. Suara ponsel tersebut ditelan oleh suara festival di sekitarnya.
"Sakura-chan! Sebelah sini! Sebelah sini!" Suara Tomoyo yang bersemangat mengisi telinga Sakura ketika gadis itu menuruni jalanan batu berwarna kelabu menuju beranda.
Pagi di Pulau Mariana benar-benar mempesona. Pantainya memancarkan cahaya biru muda ombak yang menyapu kerang laut di pasir. Bunga dandelion menghiasi pinggiran belukar; walaupun di luar musimnya namun tetap mekar dengan cantik. Mochachita menggantung di atas jalan aspal dari penyangga kayu. Batang ungunya merambat dengan eksotis sangat kontras bersama Laut Bermuda hijau dan bunga jingga dengan helaian berwarna cokelat kopi. Mereka terlihat seperti bintang kecil yang berapi-api jika dilihat dari atas di tiap lintasan jalan yang mengarah ke pusat resor. Hotel utamanya berdiri seperti ukiran yang luar biasa dari kota yang hilang di tengah-tengah hutan. Walaupun pembangunannya masih bisa dibilang baru, kualitas terpendamnya dapat membawa siapapun ke dalam hutan belantara; yang terlupakan.
Selain dari imej tersebut, kegembiraan semua orang tidak dapat disembunyikan. Mulai hari ini, The Marianas Ultimate Beach Resort akan mengadakan acara terbesarnya; The Fashion Escape. Acara ini adalah pertunjukan busana desainer-desainer dari seluruh penjuru dunia yang diadakan tiap tahun dan berkumpul di lokasi yang telah ditentukan untuk memamerkan karya mereka sesuai tema tahun itu. Dalam kesempatan ini, tema tersebut adalah "Surga Eksotis".
"Ini benar-benar suatu kehormatan, Sakura-chan!" seru Tomoyo ketika Sakura bergabung dengannya menuju pantai dimana acara utama diadakan. "Salah satu dari proyek 'sia-sia' keluargamu terpilih untuk Fashion Escape tahun ini!"
Kata 'sia-sia' berdenting dalam pikiran Sakura. Hal tersebut mengingatkannya pada hari dimana ia menyaksikan ayahnya berdebat dengan kakaknya, Touya.
- Kilas Balik -
"Kamu ingin apa!" Touya tidak bisa menahan untuk bertanya dengan suara tinggi ketika ia mendengar apa yang diinginkan ayahnya.
"Kamu mendengarku dengan jelas." Senyum tenang Fujitaka terlihat di wajahnya. "Aku pikir pulau itu punya potensi yang sangat besar."
"Pulau itu tempat penyimpanan sampah!"
"Oh ayolah, Touya. Dengan sedikit dibersihkan, pulau itu akan kembali menampakkan keindahan aslinya." kata Fujitaka dengan penuh harap.
"Sedikit dibersihkan! Lihat," Touya mengambil foto besar pulau itu, "Apa kamu buta, Ayah? Apa usia tua telah mempengaruhi pemikiranmu?" Memang tempat dalam foto tersebut penuh dengan sampah, besi-besi tidak terpakai yang dibuang sembarangan.
Fujitaka mengambil sebuah foto, mengamatinya dan memberikannya kembali ke putranya. "Kita ambil ini." Ia menunjuk ke bangunan besar di foto. "Bersihkan daerah ini secara menyeluruh." Ia menunjuk lagi ke area lain. "Dan daur ulang ini." Ia mengetukkan satu jari ke gambar benda yang ia tunjuk. "Keindahannya yang terpendam akan terlihat." Akhirnya ia menyimpulkan, senyum tidak pernah meninggalkan wajahnya.
Mulut Touya menganga. Di mata semua orang, pulau itu sudah tidak dapat tertolong. Tapi menurut ayahnya, pulau tersebut berkilau dengan keelokan yang seolah-olah menjerit untuk dibentangkan. Meskipun demikian, ia tahu bahwa sia-sia berdebat dengan ayahnya. Touya sedikit rileks tetapi wajahnya masih terlihat suram. Ia berusaha menjernihkan pikirannya. "Oke. Baiklah. Seperti biasa aku akan membantu dan memikirkan sesuatu untuk merehabilitasi pulau 'eksotis'-mu ini."
"Aku tahu." kata Fujitaka dengan gembira.
- Akhir Kilas Balik -
"Kamu tahu, Tomoyo-chan... Aku pikir Ayah punya mata yang dapat melihat segalanya dari sisi lain dan mengeluarkan potensinya." Sakura memberitahu temannya ketika mereka mencapai pantai dengan pasir putih.
"Aku juga berpikir begitu." jawab Tomoyo. "Kinomoto-tosan itu satu-satunya orang yang aku tahu yang berhasil merealisasikan ide mustahilnya." Ia meloncat sedikit jauh menuju keramaian dan berputar. Rambut hitamnya yang panjang mengikuti arah angin. "Lihat bagaimana jadinya!" Ia berkata dengan semangat; ia melambaikan kedua tangannya dan menunjuk semua yang ada di sekitarnya.
Sakura tersenyum. Memang, sekali lagi ayahnya benar. Pulau ini adalah sebuah keberhasilan. Ia berusaha melihat semuanya dengan mata kritis tetapi nampaknya tidak dapat menemukan kekurangan apapun.
Ia dan Tomoyo telah mencapai area acara utama. Lingkungan sekitar benar-benar seperti dunia lain dengan kamera, sound system dan cahaya menyatu dengan catwalk yang eksotis. Seluruh panggung, dimana pertunjukan busana diadakan, terletak di tengah pantai yang dangkal. Air yang jernih memperlihatkan karang-karang dihiasi cahaya dari pilar-pilar atas. Semuanya dibuat terlihat seperti kota terpendam yang dibawa kembali dalam hamparan cahaya matahari. Hal tersebut dilakukan dengan mahirnya sehingga tidak merusak habitat alami dasar laut. Mungkin hasil kerja Yukito-nya tersayang.
Seolah itu adalah isyarat, Yukito menemukan mereka dan melambaikan tangannya. "Bunga kecilku, sebelah sini!" Hati Sakura terasa hangat ketika ia melihat Yukito. Ia berjalan ke sampingnya dan mendongakkan kepalanya untuk menerima kecupan di kening.
"Kerjaanmu, bukan?" Sakura berkata dengan bangga pada pria itu dan tersenyum ketika melihat kakak laki-lakinya.
"Memangnya siapa lagi?" Yukito tertawa dan melingkarkan lengannya ke pinggang Sakura.
"Aku lihat kamu membawa si tupai." komentar Touya ketika Tomoyo datang dengan meloncat-loncat ke arah mereka.
"Aku dengar itu, Kinomoto Touya!" kata Tomoyo dengan marah dan meletakkan kedua tangan di pinggangnya. "Siapa yang kamu panggil dengan tupai!"
Sakura dan Yukito tertawa. Tomoyo selalu mendapat sindiran dari Touya karena suaranya yang manis. Sebenarnya ia tidak terdengar seperti tupai. Touya hanya suka membesar-besarkan hal itu.
"Kamu." jawab Touya dengan santai sambil menyesap sampanye yang dipegangnya.
"Kamu... kamu..." Tomoyo mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk membalasnya, "...gelondong kayu tua!"
"Well, aku bertaruh kamu menyukaiku kalau begitu." Touya masih tenang dan santai meskipun Tomoyo terlihat marah dan ia memandang ke panggung yang jauh. "Tupai suka pohon...dan pohon itu kayu."
Mulut Tomoyo menganga. Sakura berusaha keras untuk tidak terlalu banyak tertawa, sama dengan Yukito. Touya masih menyesap minuman dengan tenang, matanya dialihkan ke tempat lain selain Tomoyo.
Tomoyo memandangnya marah tapi ia kehilangan kata-kata. Ia tidak begitu ahli dalam masalah seperti ini. Jadi, ia berjalan ke samping Touya, berhenti dan melototinya. Ketika pria itu masih tidak menatapnya, ia mengangkat sepatu hak lancipnya dan mengentakkannya ke kaki pria tersebut.
"Eeow!" seru Touya.
"Meskipun kamu kakak sahabatku, bukan berarti aku gak bisa melukaimu!" Dengan pandangan membunuh, Tomoyo pergi dengan cepat.
Sakura dan Yukito akhirnya tidak bisa menahan tawa mereka ketika Tomoyo pergi bergabung dengan tamu lain.
"Dasar bocah." kata Touya, memberikan gelas sampanyenya kepada pelayan. Ia berdiri diam sebentar; tidak bergerak, kemudian akhirnya ia berkata. "Aku harus memikirkan pembalasan dendam." Dan dengan begitu, ia pergi mengejar si gadis berambut hitam.
Yukito menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kadang Touya benar-benar membuatku kagum."
"Kamu juga membuatku kagum." kata Sakura, menatap pria itu.
Sudah berapa lama? Pikir Sakura. Ia hanya berusia enam belas ketika pertama kali bertemu Yukito. Dia teman sekolah dan sahabat kakaknya. Walaupun mereka mengambil jurusan yang berbeda, mereka tetap berhubungan melalui kelas-kelas khusus yang mereka ambil. Dulu, Sakura terpesona oleh Yukito yang ramah dan baik hati. Pria itu langsung diterima di rumah Kinomoto dan seiring waktu berjalan menjadi teman dekat keluarga. Semakin ia tumbuh dewasa, diam-diam Sakura mengagumi insinyur muda itu. Ia tidak pernah berpikir hal tersebut dapat berkembang menjadi sesuatu yang lebih.
Sampai...
- Kilas Balik -
"Ini pesta yang menyenangkan." kata Sakura kepada dirinya sendiri sembari berjalan menuju ke meja makan.
Ini adalah hari pembukaan salah satu projek yang dikerjakan Kinomoto Developers Corp. Sebuah hotel mewah di tengah kota. Sakura sibuk dengan pikirannya ketika tiba-tiba...
"Mati kau! Ahli waris Kinomoto!" Seorang pria bersenjatakan pisau berteriak entah dari mana dan menerjang ke arah Sakura.
Sakura terkejut dengan kemunculan pria itu sehingga ia tidak dapat bergerak dengan cepat ketika pisau tersebut menusuknya. Sakura berteriak dan menutup matanya. Ketika ia membuka matanya lagi, ia melihat pisau itu menusuk sesuatu. Tetapi bukan dirinya. Ia mendongakkan kepala dan menemukan dirinya di pelukan Yukito. Sepertinya Yukito menariknya tepat waktu, dan, menyelamatkannya dari luka fatal. Tapi sebagai gantinya, lengan kiri Yukito tertusuk pisau.
"Sakura! Kamu baik-baik saja!" Ayahnya segera berlari ke arahnya. Touya menangkap si pelaku ketika pria itu kabur tetapi usahanya sia-sia.
Di tengah kepanikan, Sakura hanya menyadari satu hal. Yukito memeluknya dengan erat.
"Sakura, apa dia melukaimu?" Yukito bertanya dengan khawatir.
- Dari lengannya, darah menetes ke lantai -
"Kamu baik-baik saja! Katakan sesuatu?" lanjut Yukito, sepenuhnya tidak sadar dirinya terluka parah.
- drip -
"Sakura!"
- drip -
"Bunga kecilku..."
- drip -
"Kamu menciumku." Akhirnya Sakura berkata. Yukito tanpa sadar menghujaninya dengan kecupan kecil.
-drip-
Yukito terdiam. Dia terkejut melihat reaksinya sendiri. Kemudian, akhirnya dia berkata. "Ya, itu benar." Yukito memeluknya lebih erat. "Ya, itu benar."
- Akhir Kilas Balik -
Setelah itu, sisanya berjalan begitu saja. Ia berumur delapan belas ketika kejadian itu terjadi dan mereka telah bersama selama empat tahun sekarang. Si penyerang malam itu tidak pernah mengatakan siapa tuannya. Dia tetap tutup mulut meskipun polisi telah menggunakan cara 'apapun'. Dia sangat setia kepada tuannya; siapapun itu. Pisau yang digunakannya waktu itu menghilang secara misterius. Walaupun, Touya menyatakan dia melihat lambang yang terukir di pisau itu sebelum benda itu menghilang dari pandangan semua orang. Sebuah lambang matahari dengan bintang-bintang di sekelilingnya terukir di gagang pisau itu.
Itu adalah lambang keluarga Li.
Ayahnya murka; sangat sangat murka. Selama beberapa generasi, keluarga Li dan keluarga Kinomoto saling bermusuhan. Tidak heran jika mereka saling menyerang seperti itu. Satu-satunya masalah adalah kedua keluarga itu cukup cerdik untuk tidak tertangkap.
- Kilas Balik -
"Kamu menyuruh orangmu untuk membunuh putriku!" Fujitaka yang biasanya tenang mengkonfrontasi Li Yelan. Yelan berada di konferensi ketika ayahnya menerobos masuk bersama Touya. Yukito sedang berada di rumah sakit pada waktu itu.
"Apa maksudmu, Kinomoto." kata Yelan tanpa merasa terintimidasi. Kilat cahaya dari kamera para reporter menyerang mereka. Kejadian tersebut memang cerita yang sangat bagus untuk media; dua keluarga yang paling berkuasa saling berhadapan.
"Tadi malam, putriku hampir terbunuh. Dan pisau yang penyerang gunakan terdapat lambang keluargamu terukir di gagangnya!" Fujitaka berkata dengan nada menuduh pada Yelan. Hal ini menyebabkan bisikan-bisikan terdengar di sekeliling mereka.
"Berani-beraninya kamu menuduh keluargaku melakukan pembunuhan!" balas Yelan. "Aku tidak percaya itu. Jika yang kamu katakan itu benar," Wanita itu berkata dengan licik. "...mana senjata yang kamu katakan barusan?" Yelan menatap Fujitaka dengan pandangan menantang.
"Pisau itu menghilang di tengah-tengah keributan tadi malam." Fujitaka dengan lemah menyatakan. "Jika aku mengenalmu, aku yakin kamu memastikan pisau itu tidak akan pernah ditemukan."
Yelan mengeluarkan tawa kecil. "Jadi, tuduhanmu tidak didukung bukti apapun. Kecuali kamu bisa menunjukkan senjata itu dan mengaitkannya dengan keluargaku, kamu tidak bisa menyalahkanku atau mencemarkan nama baik kami." Lalu Yelan berbalik dan berjalan meninggalkan mereka. Seringai melekat di wajahnya ketika wanita itu memandang sekilas. "Sampaikan salamku untuk putrimu yang manis, Kinomoto. Berdoalah...agar putrimu selalu berhati-hati."
Touya baru akan mengejar wanita itu ketika Fujitaka menghentikannya dan menggelengkan kepala. Dilihat dari sudut manapun. Yelan memang benar. Mereka tidak memiliki bukti kuat yang dapat mengaitkannya dengan insiden tersebut.
- Akhir Kilas Balik -
"Aku yakin itu, bunga kecil." kata Yukito mendekat ke Sakura. Keramaian di sekitar mereka serasa menghilang ketika Sakura menutup kedua matanya.
Beberapa inci sebelum bibir Yukito menyentuh Sakura...
"Nona," Sebuah suara menyeramkan terdengar.
Pasangan itu memisahkan diri; kaget. Mata Yukito terbelalak saat ia melihat si pendatang.
"Ge—" Sakura tergagap. Pipinya memanas karena malu. "—George!" akhirnya ia bisa berbicara.
"Ya, nona. Inih zaya." kata George dengan aura seramnya.
"Apa yang kamu pakai itu!" seru Yukito.
George muncul entah darimana. Sekarang ia berdiri di antara mereka. Wajahnya putih dan pucat seperti biasa. Rambutnya yang mulai beruban terjebak di satu sisi. Tubuhnya hanya terdiri dari kulit dan tulang. Hal itu membuat banyak orang bertanya-tanya bagaimana bisa Fujitaka akhirnya memperkerjakan pelayan seperti itu untuk Sakura.
"Afakhah Andha thidak zukha?" kata George dengan nada datar. "Zaya fikir inih membhuwat khulit zaya lhebih cherrah." Ia menepuk wajahnya dengan dua tepukan menggunakan satu tangan. Lalu, pria itu melanjutkan. "Kinomoto-zama berzikeraz zaya memakhay inih unthuk memeriahkhan suazana achara."
- Bayangan Fujitaka tersenyum cerah sambil menyerahkan berbagai barang ke George yang tidak terlihat gembira. -
George mengenakan pakaian pelayannya; jas dan celana panjang berwarna hitam dan kemeja putih di baliknya dengan sarung tangan yang sesuai. Tapi sebagai tambahannya, ia memakai topi besar yang terbuat dari kulit pisang dan buah pisang sungguhan terjuntai di sekitar wajahnya. Di pinggangnya ada rok jerami yang panjangnya sampai dua inci di bawah lutut. Rok itu juga punya buah-buahan yang menggantung di sekelilingnya; jeruk, apel, mangga...
Yukito mendekat ke Sakura, dan bertanya pelan. "Apa yang dia katakan?"
Wajah Sakura tanpa ekspresi ketika menjawab. "Dia bilang dia pikir benda-benda itu membuat kulitnya lebih cerah dan ayah bersikeras meminta George memakainya untuk memeriahkan suasana."
Yukito hanya dapat mengatakan, "Oh."
Sakura sedikit pulih dan sekali lagi memberikan senyum ke pelayan setianya. "Cepat sekali, George. Kamu bisa terbang kemari dari mansion."
"Ya, nona. Zethelahnya...helikhofther dhatank, beghitu Andha dhan Miz Daidohzji...berangkhat."
"Jadi, barang-barang kami sudah sampai?"
"Ya, nona."
"Syukurlah." kata Sakura; tersenyum.
"Dhan nona."
"Ya, George?" Dari kejauhan terlihat acara akan segera dimulai. Mereka memanggil para tamu untuk duduk.
"Zaya menchari Andha, unthuk melhihat afa adha zezuatu yang Andha inginkhan, kethika zaya melhihat taz Andha dhi mejha VIP dhalam keadhaan terbukha...djadi...zaya khawathir dhan mengecheknya. Zemuanya mazih adha, taphi zaya melihat telefon Andha." Dan George menunjukkan ponsel yang ia bawa ke Sakura. Ponsel itu sedikit miring karena pria tua itu memegangnya dengan ibu jari dan telunjuknya. "...Andha phunyah...zatu pezan, nona."
"Hoe!" kata Sakura, pandangan tertuju ke cahaya hijau yang berkedap-kedip di ponselnya menandakan satu pesan masuk.
Yukito terlihat penasaran dan George segera berkata, "...biza zadja dari ayah Andha. Behliaw menchari Andha tadhi."
"Oh! Oke kalau begitu." Sakura meraih ponsel dari pelayannya.
Di kursi dekat pantai, Tomoyo melambaikan tangan ke arah mereka.
"Kita harus segera duduk, bunga kecil." kata Yukito. Dia terlihat sudah pulih dari kedatangan George yang menyeramkan.
Sakura membuka ponselnya sebelum menjawab, "...Ummm kamu duluan saja, Yukito. Aku segera menyusul. Ada beberapa instruksi yang ingin kubicarakan dengan George." Ia berkata sambil tersenyum.
"Well, oke. Aku menunggumu disana." Yukito berjalan ke arah tempat duduk mereka. "Sampai nanti, George." Dia berkata sambil melambaikan tangan.
"Andha, djuga." George menjawab dengan nada datar.
Sakura menunggu sampai semua orang duduk sebelum ia berbicara dengan pelayannya. Ia memastikan tidak ada seorang pun yang dapat mendengar mereka.
"Nice save, George." Ia berkata pelan sembari menunduk melihat pesan di layar ponsel.
"Yang manah?"
Sakura tersipu malu. "George!"
George mengangkat satu tangan, "Maafkhan zaya, nona."
"Dan tadi bahkan bukan 'save'!"
"Terzerah Andha, nona."
Maih tersipu, Sakura menekan tombol 'lihat pesan' di handphone-nya.
'Pengirim: Damaski-is
Pesan:
Melemparku ke dinding? Yeah right...langsung ke pokok utama, ada sesuatu yang kubicarakan denganmu. Ini tidak menyangkut persaingan kita, dan aku pikir, akan menentukan MASA DEPAN KITA di InterVEST. Sangat penting bagimu untuk segera membaca pesan pribadiku. A-S-A-P."
"Masa depan kita di InterVEST?" kata Sakura dengan kerutan di keningnya.
"Hmmm?" George memulai. Dia mengintip di belakang bahu Sakura ketika ia membaca pesan itu. "Mazter tidhak melhamarr pernikhahan zekarank, khan?"
"Wai!" kata Sakura, terkejut.
"Kufikir zudah zaatnya." George mengangguk.
"Apa yang kamu bicarakan!" seru Sakura, wajahnya bahkan lebih merah dibanding ketika George menyelanya dan Yukito.
George mengangkat sebelah alis.
"Aku baru saja mengenal pria ini! Oke...biar aku ulang..." Sakura berdeham. "Aku bahkan gak kenal pria ini sama sekali. Dia mungkin sudah tua. Lebih tua dari ayahku." Ia membela diri.
"Thapi Andha tidhak berharaf dhia zeumuran Andha?"
"George! Aku gak percaya kamu mengerjaiku!" Sakura cemberut. "Aku...punya pacar. Dan dia Yukito. Dia segalanya yang aku impikan. Dan kenapa kamu selalu memanggil dia "Master"? Dia bukan majikanmu. Lagipula, aku gak percaya kamu menyelaku dan Yukito, hanya karena aku mendapat pesan dari dia." Sakura mendengus.
"Zebagay pembehlaan, nona. Zaya akhan mendjelazkhan."
Pertunjukkan di bawah tidak digubris oleh dua orang yang sedang berbicara di belakang.
"Ferthama," George melanjutkan. "Zaya memangghilnya "mazter" ithu zezuatu yang zaya zuka lakukhan. Kharena namah 'Damaski-is adhalah namah zalah zatu fenguaza vamfir terkhuat di bhuku yank zaya bacha."
Sakura tiba-tiba penasaran. "Benarkah?" Apakah itu berarti Damaski-is juga suka membaca seperti George? Selama ini, tidak pernah ia berusaha menebak seperti apa rival InterVEST-nya di dunia nyata.
"Kheduwah," George menyela pikirannya. "Bagaymanah djika... Yohkito-zan mengadjak Andha makhan malam dhan dhi zaat yang zama Damaski-is membuhwat kekhachauan dhan mengadjak Andha bertarruh sahham. Yank manah yank Andha filih?"
"Itu gak adil!"
"Aah...thidak adhil, taphi ithu faktha. Afa yank akhan Andha lakukhan, nona?" George menanyakannya langsung.
Sakura terkejut bagaimana sulitnya ia menjawab pertanyaan George. Makan malam dengan Yukito atau taruhan saham dengan Damaski-is?
Setelah beberapa saat, George berkata lagi. "Lihhat afa makzud zaya, nona?"
Sakura tersentak dari pikirannya. "Ini gila, George. Aku gak membahas hal ini denganmu."
"Terzerah Andha, nona." George kembali menegakkan postur pelayannya.
Sakura menghela napas. "Bagaimanapun juga. Aku berterima kasih atas kesetiaanmu."
"Zama-zama, nona."
"Aku harus pergi sekarang. Aku akan diomeli Tomoyo habis-habisan kalau aku melewatkan seluruh acara." Sakura berjalan ke arah pantai.
"Bhaiklah, nona."
"Dan George..."
"Ya nona."
"Lepaskan kostum itu. Aku pikir itu benar-benar mempengaruhi mood-mu."
George menepuk pelan wajahnya. "Membhuwat khulit zaya lhebih cherrah."
Sekali lagi Sakura menghela napas ketika ia menjauh dari pelayan tersebut. Musik, cahaya, dan orang-orang kembali terlihat di matanya. Ketika ia duduk di sebelah Tomoyo, jantungnya masih terasa sesak. Sebenarnya, ia tidak tahu jawaban dari pertanyaan George. Tapi satu hal yang ia yakini.
Ia takut hari itu datang ketika ia harus menjawabnya.
A/N:
Saran, kritik atau sekedar salam tetap diterima dan ditunggu~
George, sial kamu, George.. Capek lah nerjemahin bagiannya George.. Pusing baca Inggrisnya, bingung nerjemahinnya, sampe sakit kepala ngetikin logat kumur-kumurnya *mijet jidat*
Tapi gimanapun juga.. Have a nice read~
