Disclaimer : J.K. Rowling
Pairing : Drarry
Rated : M
Genre : Angst, Tragedi, Family, Romance
Warning : OOC, BL/Boys Love, Phedofilia Draco, Miss Typos, Lime, Alternative Universe, dll
...
4/6 chapter
...
.
Acara sarapan keluarga Malfoy yang terjadi seperti biasanya. Hening, hanya suara dari peralatan makanan yang terdengar. Tata krama yang cukup ketat memang diterapkan dengan sangat lekat, bahkan dari keluarga sebelumnya ibu Draco—keluarga black.
Draco sudah keluar dari kamarnya dengan pakaian formal lengkap, seperti akan pergi. Narcissa Malfoy, melihat ke arah kanan dirinya saat beberapa pelayan yang berada di belakang suaminya—Lucius Malfoy—membungkuk hormat. Tersenyum dengan ramah, Narcissa melihat anak semata wayang yang paling di sayanginya itu datang.
"Morning, son. Draco, duduklah," ucap Narcissa tersenyum. Melirik ke arah seorang salah satu pelayan untuk mengambilkan nasi untuk Draco. Pelayan itu segera mengambilkan apa yang memang sudah menjadi tugasnya dengan gesit. Meletakkannya di depan Draco dengan perlahan dan mundur kembali.
Draco hanya diam, tidak menanggapi perkataan Narcissa, bahkan hanya untuk sekedar bergumam. Baginya, semua yang berada di rumah itu sama saja. Tidak ibunya—yang menurut banyak orang—baik, ataupun ayahnya yang tentu saja tidak ada nilai baiknya. Menikmati sarapannya dengan hikmat, Draco hanya diam. Tentu saja, jika kita sedang makan harus diam. Tapi, keheningan dalam keluarga Malfoy memang sudah menjadi sarapan sehari-hari.
Lucius terlihat sudah selesai terlebih dahulu, membersihkan bibirnya dengan tisu yang ada, Lucius kembali mengambil cangkir putih dengan ukiran yang unik di setiap sisinya—meneguk isi cangkir itu. Lucius meletakkan cangkir putihnya. Melirik ke arah Draco yang sedang meminum air di cangkirnya—sepertinya juga sudah selesai. "Bagaimana?" tanyanya.
Narcissa melihat suaminya, Draco melihat ayahnya diam.
Hening.
Tiba-tiba saja suasana tempat itu lebih hening dari sebelumnya. Draco tau betul dengan apa yang dimaksud ayahnya itu, tapi dia sama sekali tidak ingin menjawab—mungkin lebih pantas, terlalu malas untuk menjawab. Karena jawabannya tentu saja sama, 'Tidak!' Tapi karena ayahnya itu selalu memaksakan kehendak dan keinginannya, Draco hanya bisa bersabar dan menunggu. Menunggu agar semuanya selesai dengan bahagia—untuknya.
Diam. Draco lebih memilih meminum kopi di cangkirnya.
"Jadi—kau menyetujuinya?" tanya Lucius menghentikan kegiatan Draco.
Meletakan cangkirnya, Draco melihat ayahnya sambil menghela nafas rendah, memejamkan mata sejenak dan membukanya kembali. Melihat Lucius dengan tajam, "Bukankah sudah ku jawab jika keputusanku tidak akan pernah berubah? Tentu saja anda tau apa menjadi jawabanku, bukan?" tanya Draco sinis.
Lucius menatap tajam Draco, "Kau!" geramnya.
"Terserah jika itu yang menjadi jawabanmu, tapi—ingat! Kau tidak akan pernah mendapatkan sepersen pun dari hak warisanmu!"
Lucius beranjak dari kursinya, Narcissa hanya diam dan beranjak dari kursinya. Sepertinya Narcissa hanya akan diam dan tidak menengahi, terbukti karena dia beranjak dan akan pergi ke kamarnya yang berada di atas, sedangkan Lucius masih membereskan pakaiannya. Kedua orang tua itu menghentikan pekerjaannya karena mendengar ucapan Draco selanjutnya.
"Bukan aku," ucap Draco menyeringai.
Lucius mengenyitkan dahinya, sedangkan Nacissa membalikkan badannya.
"Apa maksudmu, son?" tanya Nacissa.
Draco menyeringai semakin lebar dan melihat ayah dan ibunya bergantian. "Bukan aku yang tidak akan mendapatkan warisan, tapi—memang warisan itu sudah pasti menjadi milikku."
Terpaku. Lucius berjalan ke arah anaknya yang masih duduk dan menyeringai seram. Ditatapnnya tajam iris kelabu Draco, "Apa maksudmu?" tanya Lucius.
Narcissa mulia mendekat. Sepertinya hal ini akan menjadi hal yang sangat sulit untuk ditengahi—dan lagi sepertinya hal itu akan sedikit merugikan dirinya. Jadi, sebisa mungkin Narcissa mencari informasi dan melakukan sesuatu jika hal itu akan tidak menguntungkannya. Mencuri dengar dari samping tubuh Lucius.
Draco berdeham dan beranjak dari kursinya. Suara geseran kursi terdengar lumayan keras. Menatap Lucius yang notable adalah ayahnya tanpa gentar ataupun rasa takut sedikitpun. "Aku sudah memindah-alihkan semua hal yang berurusan dengan perusahaan atas namaku. Sepertinya ayah tidak membaca setiap dokumen yang diselipkan pada dokumen yang harus ayah tanda tangani," ucap Draco. Lucius mulai menggeram kesal. "—terbukti dari dokumen pemindah tanganan perusahaan." Lanjutnya menyeringai.
Lucius hilang kesabaran. Di batas sadar dan tidak, dihantamnya pipi putih porselen Draco dengan kuat. Draco terhuyung ke belakang dengan tangan sedikit menopang di meja—agar tubuhnya tidak terjatuh ke lantai.
"Anak sialan!" teriak Lucius kesal.
Narcissa termatung. Jadi—dia sekarang tidak mempunyai apa-apa lagi? Lucius, suaminya sudah tidak mempunyai apa-apa lagi? Dan, itu karena anaknya?
Narcissa membelalakan matanya saat didengarnya suara ribut. Para pelayan segera melerai pertarungan antara ayah dan anak itu dengan cepat. Dia terlalu shock melihat Lucius yang sedang memberikan tamparan keras 2 kali di pipi anaknya yang hanya diam. Semakin terbelalak saat Lucius sudah mengangkat tanganya lebih tinggi—akan menampar Draco kembali.
"BERHENTI!" Teriak Narcissa terengah. Berlari ke arah Draco dan melindunginya dari telapak tangan Lucius. Menatap tajam Lucius, dengan berang. Walau sebagaimana pun Draco adalah anaknya dan dia tidak bisa tinggal diam, saat darah dagingnya di pukul sedemikian rupa oleh suaminya sendiri. Dia tidak rela melihat orang yang disayangnya itu dipukul di depan matanya. Tidak. Tidak sama sekali tidak ingin melihatnya.
"Berhenti, Lucius!" Bentak Narcissa saat Lucius masih menatap tajam Draco yang sedang menyeka darah di sudut bibirnya—yang robek. "Tidakkah kau lihat, kalau dia sudah tidak melawan padamu?! Dia masih menghormatimu sebagai ayahnya!" Bentak Narcissa memeluk Draco.
Draco mendengus dan melihat ibunya dengan tenang sambil melepas perlahan pelukan ibunya itu. Berdiri dari posisinya, menyeringai ke arah Lucius. "Aku rasa, sudah tidak ada lagi yang perlu dibahas," ucapnya pada Lucius. Mengalihkan pandangannya pada Narcissa yang sedang melihatnya bingung dan shock, "Karena aku masih menghargai mom, aku akan biarkan kalian untuk tetap disini," ucapnya tersenyum. "Tapi... carilah pekerjaan lain." Lanjutnya.
Menepuk pundaknya dan beberapa tempat yang mungkin terkena debu. Draco berbalik, hendak meninggalkan tempat itu.
"Dengan ini, kita sudah tidak memiliki hubungan apapun."
Bunyi tapak kaki Draco pun semakin menjauh dengan beberapa pelayan yang terdiam dan ada juga yang saling bercakap. Bagaimana mereka akan dibayar jika majikan mereka tidak punya uang lagi? Mungkin itu yang mereka bicarakan. Atau, teganya Draco kepada orang tuanya.
—Ah, entahlah siapapun tidak tau apa yang sedang dipikirkan Draco hingga sanggup berlaku seperti itu pada keluarganya sendiri.
.
.
Draco mengendarai mobilnya yang melaju cepat di jalanan. Melihat kanan, kaca sepionnya melihat mobil biru sedang melaju ke arah yang sama dengannya. Draco mengurangi kecepatan mobilnya hingga pada kecepatan standard. Melihat dari balik kaca mobilnya, Draco melihat seorang wanita cantik sedang tersenyum dengan sangat lembut pada pria di sebelahnya.
Mata Draco seketika itu menajam. Iris abu-abunya terlihat jelas tidak menyukai senyum di bibir wanita itu. Jelas, bukan hanya wanita itu yang tidak disukainya, tapi juga pria disampingnya. Wanita dan laki-laki yang tampan, wajah yang sangat familiar. Orang tua dari pujaan hatinya, dalam kata lain adalah orang tua dari Harry potter, James Potter dan Lily Potter. Draco sudah mencari semua informasi mengenai mereka, dan sekarang mereka disini. Membuatnya bisa semakin sulit untuk bertemu Harry.
Draco tau semua yang akan dipikirkannya sekarang pasti akan menyakiti Harry, tapi dia tidak peduli. Dia tidak ingin anak yang menjadi biang semua pemikiran liciknya itu menghilang dari sisinya.
Tidak!
Memikirkan hal itu terjadi saja sudah cukup membuat Draco menggeram kesal dan mengengam stir mobil dengan sangat erat.
"Aku tidak akan membiarkan mereka mengalahi jalanku." Gumamnya.
Meraih ponselnya yang terdapat dalam saku jasnya. Draco menghubungi seseorang.
Nada panggilan mulai terdengar, hingga akhirnya orang di sebrang sana mengangkat. Mendengar suara yang sangat dikenalnya, Draco menyeringai. "Lama sekali kau!" ucapnya geram.
["Maaf, aku sedang ada kegiatan. Ada apa?"] tanya orang itu.
Draco mendengus mendengar alasan yang sudah mainstreem itu. "Aku punya pekerjaan lagi untukmu." Ucapnya.
["Perkerjaan? Berapa bayaran untuk kali ini? aku tidak mau jika bayarannya kurang dari bayaran kemarin. Ayolah, kau sudah punya semua harta keluargamu, bukan?"] jawaban dari sebrang.
"Kau tenang saja soal bayaran. Yang terpenting kau harus melakukan semua ini dengan sangat bersih untuk kali ini." ucap Draco.
["Sebenarnya apa yang mau kau untuk aku lakukan? Sepertinya sangat penting."]
"Kau tidak perlu tau. Temui aku pada jam makan siang, di tempat biasa." Draco memacu kembali padal gasnya—melewati mobil keluarga James dengan cepat. Sedetik, Lily tampak melihat ke arah Draco tapi kemudian tidak dipikirkannya lagi.
["Siap!"]
Draco tidak mendengarkan ataupun membiacarakan semuanya lebih jauh lagi. yang sekarang dia akan lakukan adalah pergi ke perusaahaan 'miliknya' dan sesudahnya pergi menemui pria itu lalu terakhir akan mendapatkan Harry.
—Ah, hidupnya serasa sangat lengkap sekarang.
Tunggu, atau mungkin lebih cepat jika mendatangi Harry dulu?
.
.
Harry duduk di meja makan sambil memakan sarapannya. Mata emeraldnya memancarkan sesuatu, dia terlihat sangat lesu. Terlihat roti selai stoberry'nya masih tertinggal banyak di piringnya. Susu putihnya belum di minum sama sekali. Mata emerald itu melihat ke kedua sisi tempat duduknya dan melihat ke depan.
Begitu sepi.
Harry menunduk kembali.
Dia butuh kehangatan, tidak adakah orang yang tau hal itu?
Pikirannya terus menerawang hingga sekelebat bayangan Draco yang sedang mengusap wajah, mengecup setiap senti wajahnya, dan mengecup bibirnya—yang terasa hangat—kembali pada ingatannya. Dia ingin sekali terus merasakan hal seperti itu. Tapi, apakah mau Draco yang lebih tua darinya menemaninya terus?
Harry memang anak yang pintar—bahkan terbilang cerdas, atau mungkin jenius?
Ah, entahlah. Tapi yang pasti, di umurnya yang sekarang dia sudah cukup pintar menempatkan dirinya sebagai apa di hadapan setiap orang. Dia sudah tau apa yang akan terjadi jika dia terus menempel pada orang yang menurutnya 'nyaman'. Orang itu akan merasa terbebani, terganggu hingga akhrinya dia akan sendiri lagi.
Dan dia tidak mau hal itu terjadi.
Dia ingin menjadi orang yang tidak merepotkan untuk orang yang berharga untuknya. Dia ingin membuat orang itu nyaman juga berada di dekatnya.
Pengalamannya yang pahit tanpa orang tua di sisinya, membuatnya tau... bahwa dunia itu tidak selamanya menyenangkan seperti apa yang selalu diceritakan oleh teman-temannya di playgroup. Teman-temannya memang menyenangkan, tapi bukan itu yang diinginkan Harry. Dia lebih butuh kasih sayang, bukan hanya bermain dan bermain seperti anak-anak seumurannya. Dan teman-temannya yang umurnya sama denganya tidak pernah bisa memberikan semua itu padanya. Teman-temannya hanya bisa membuatnya nyaman dalam sekejap dan menghilang—hingga hampa rasanya.
Ya, sangat hampa.
Harry mengalihkan lagi matanya pada roti isi di depannya dan melihat susu putih hangatnya. Mengambil susu itu, dan kemudian mengeguknya hingga tinggal setengah. Meneletakannya kembali dan mengusap sedikit bulir susu di sudut bibirnya. Harry beranjak dari kursi dengan sedikit melompat—karena tingginya yang belum terlalu menyamai tingginya tempat duduk.
"Wood, aku ingin berangkat," teriak Harry.
Wood datang sambil menenteng tas kecil berwarna hijau di tangannya. Tersenyum melihat wajah imut majikannya itu dengan tulus. "Kita siap untuk berangkat, tuan muda." ucapnya mencoba ceria. Dia tau jika Harry sedang dalam keadaan yang benar-benar tidak baik. Mungkin karena terlalu banyak kecewa, tapi setidaknya dia tidak mau juga mengecewakan majikan kecilnya hanya masalah sepele. Dia ingin menjadi orang yang setidaknya bisa membuat Harry nyaman.
Harry tersenyum kecut melihat Wood. Hanya satu orang yang selalu memperhatikannya, dan orang itu hanya Wood. Orang yang tadinya hanya ingin diajaknya main, malah menjadi orang yang begitu perhatian padanya. Bukan sebuah kepolosan belaka, tapi Harry emang berpikir seperti itu. otaknya jauh lebih pintar dibandingkan dengan semua anak sebayanya, bisa membuatnya terus berpikir untuk lebih dewasa lagi.
Tapi walaupun begitu, bukankah Harry jadi semakin tau kalau orang tuanya seperti hanya memberinya materi tanpa perasaan?
Harry melangkah mendekat dan mengambil tas berwarna hijaunya. "Thanks, Wood," ucapnya tersenyum dan berlalu. Mata hijau itu sedikit mengejap, dan menyesap aroma pagi hari dari halaman rumahnya yang penuh dengan tumbuhan hijau. Setidaknya setiap pagi melihat sebuah pemandanga indah rumahnya bisa membuat perasaan Harry sedikit membaik.
Wood berjalan mendahului Harry, membukakan pintu mobil putih itu dengan perlahan. Tersenyum pada Harry yang berterima kasih kembali padanya. Harry sudah duduk dengan tenang, dan pintu mobil juga sudah ditutup dengan rapih. Mobil putih itu perlahan berjalan, meninggalkan Wood yang perasaan tidak nyamannya untuk pagi ini. meremat dadanya yang dari tadi berdebar dengan kencang, Wood bertanya pada dirinya sendiri,
'Sebenarnya ada apa?'
.
.
Sepanjang perjalanan, Harry melihat keluar dari kaca jendela mobilnya. Setiap hari selalu begini. Tidak ada yang berubah, bahkan pemandangan dan jalanannya pun tidak berubah. Harry menghela nafas, membuat supirnya melihat ke arahnya.
"Ada apa, tuan muda? Anda terlihat tidak bersemangat hari ini?" tanyanya melihat Harry dari kaca spionnya. Harry tidak menjawab, mungkin terlalu malas untuk menjawab.
Sedetik kemudian, Harry tersentak. "Err... boleh aku tidak sekolah dulu sekarang? Aku ingin pergi ke suatu tempat." Ucapnya sedikit memohon.
Sayang, sepertinya supirnya tidak menginjinkannya. "Maaf, tuan muda. Tapi saya sudah dipercaya untuk mengantarkan anda hingga sampai ke sekolah anda." Jawabnya membuat Harry murung seketika.
Harry menatap kembali jalanan dengan sedih. Sedangkan supirnya hanya menghela nafas. Dia tidak tau apa yang sedang terjadi pada tuan mudanya itu, tapi melihat makhluk manis itu sedang bersedih—sepertinya—membuat hatinya juga berdenyut sakit. Tuan mudanya terlalu manis dan baik, tidak pantas untuk bersedih, pikirnya.
'Uncle Drake,' pikir Harry melihat jalanan berhiaskan cahaya matahari.
.
.
James sedang berjalan di kantornya beriringan dengan Lily. Mereka akan mengadakan rapat dadakan. Sengaja tidak pulang karena rapat itu. Rapat itu benar-benar menyangkut hidup dan mati perusahaan mereka. Mereka diberitahukan oleh salah satu sekretaris James jika ada masalah dalam perusahaan mereka. Entah apa yang sedang terjadi, tapi James yang mendengar kabar itu langsung memutuskan untuk menunda jadwa pulang ke rumahnya.
Lily berjalan dengan cepat di belakang James. Melihat bagaimana pria yang sudah menjadi suaminya itu berjalan dengan sangat tergesa-gesa. "James," panggilnya tapi sama sekali tidak mengundang reaksi sama sekali. Lily memandang gelisah, "James." Mereka berjalan dengan sangat cepat menuju ruang rapat.
Terbuka.
Ruangan itu terbuka, menampilnya beberapa dewan direksi dan para investor yang mempunyai andil dalam perusahaan itu. James segera masuk dan menuju mejanya, diikuti Lily.
Suasana ruangan itu menjadi sangat hening saat James datang kesana. Melihat semua itu James mulai angkat mulut. "Sebenarnya, apa yang sedang terjadi disini?" tanya James.
Tegang.
Salah satu orang mulai angkat tangan. Memberikan penjelasan pada James.
"Saham dalam perusahaan kita banyak yang dicabut. Dengan adanya lonjakan pasar saham, seharunya hal itu bisa menarik nilai saham kita. Tapi, herannya sebagian besar orang yang sudah memegang saham kita pun menjualnya kembali, dan banyak lagi yang tidak jadi membeli saham kita," jelas pria tua dengan kaca mata itu.
James mengerutkan keningnya. "Bagaimana bisa itu terjadi?" tanyanya.
Salah satu orang lagi mengangkat tangan. "Ada desas-desus jika orang-orang itu sudah berpindah pada perusahaan rival kita."
James melihat perempuan tua dengan gaya tinggi itu. "Siapa?"
"Drakious. Salah satu saingan kita dalam pasaran, salah satu perusahaan yang dikendalikan keluarga Malyof. Tapi, baru-baru ini aku mendengar jika bukan lagi Lucius Malfoy yang memegang perusahaan itu, melainkan Malfoy junior—Draco Malfoy."
Semua orang yang berada disana tersentak mendengar apa yang dituturkan perempuan tua itu. Mereka tidak habis pikir, bagaimana bisa informasi sepenting itu hanya segelintir orang yang tau, dan mereka pun tidak habis pikir jika Lucius Malfoy itu bisa dengan mudahnya memberikan kekuasaan perusahaannya itu pada Draco yang masih sangat muda untuk mengurus perusahaan.
James memijat keningnya pusing. Menatap Lily sebentar saat dirasanya genggaman di tangannya. Tersenyum dengan lembut, James menegakkan kepalanya lagi.
"Aku akan mencari tau apa yang sebenarnya terjadi disini. Dan, aku harap semua informasi yang lengkap dari rekan sekalian yang berada disini. Kita masih mempunyai 60 persen dari saham perusahaan, jadi perusahaan kita tidak akan jatuh begitu saja. Jadi, saudara sekalian tenang lah." Ucapnya tersenyum.
Semua orang mulai tenang dengan adanya penjelasan dari James.
.
"Potter," James dan Lily berbalik mendengar orang memanggilnya, memandang Snape yang sedang berjalan angkuh menuju padanya. Melihat mata hijau James dengan tajam. "—ada yang inginku bicarakan," ucapnya.
James memandang Lily.
"—Lily juga harus mendengarnya," sela Snape.
James melihat Snape kembali. "Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan?"
"Harry, ini semua tentang Harry. Bisa kita bicara di ruanganmu?" tanyanya.
Lily tersentak dan memegang tangan James cepat. James yang merasakan kecemasan dalam diri Lily akhirnya mengangguk. Mendahului berjalan menuju ruangannya, sementara Snape yang berjalan di belakang—mengikuti.
.
"Apa yang mau kau bicarakan?"
Setibanya di ruangan, James langsung menanyakan hal yang benar-benar to the point pada sahabatnya itu. jujur, dia juga sangat cemas perihal yang ingin dikatakan Snape tentang anak yang paling disayanginya itu. Walaupun instingnya tidak terlalu bagus seperti Lily pada Harry, tapi setidaknya dia bisa merasakan hal yang tidak baik dengan apa yang ingin disampaikan Snape kali ini.
Snape melihat Lily yang bergetar halus. Menghela nafas, Snape mulai membuka mulutnya. "Kemarin—mungkin 2 hari yang lalu... aku yang sedang menjemput Harry melihat sesuatu. Harry, anakmu dijemput oleh Draco Malfoy. Penerus keluarga Malfoy satu-satunya. Yang berarti menjadi saingan, atau rivalmu saat ini," ucapnya.
"Apa maksudmu dengan... Harry dijemput oleh Malfoy itu?"
Snape menghela nafas, "Sepertinya, Harry mempunyai hubungan khusus dengan Draco. Bahkan dengan tidak canggungnya, Malfoy muda itu secara terang-terangan menunjukkan kedekatannya dengan Harry. Aku tidak tau sejak kapan Harry mengenal Draco, tapi yang pasti... aku harap kau bisa menjaga anakmu dengan lebih baik lagi."
Nafas James tercekat. Melihat Snape dengan tajam, sepertinya dia sedikit tersinggung dengan perkataan Snape diakhir. "Apa maksudmu? Aku jelas memperhatikan Harry." Ucapnya tegas.
Snape diam.
"Kau pikir Harry senang dengan semua harta yang kau berikan padanya?" melihat Lily yang masih bergetar, "—dan kau pikir, Harry tidak sedih saat melihat teman-teman sebayanya dijemput oleh orang tua mereka?" tanyanya sekali lagi. Cukup, Snape selama ini juga menaruh perhatian pada Harry sebagai anaknya. Dia tidak ingin melihat Harry yang menatap sendu teman-temannya saat dia menjemputnya.
Snape memejamkan matanya, mencoba mengusir bayangan wajah Harry yang menyendu. Membuka matanya cepat, Snape melihat James dan Lily bergantian. "Harry kesepian. Kalian tau itu? Dia selalu bicara sendiri saat sedang menungguku, atau bahkan terkadang dia hanya melihat orang tua lain dengan senyum lirih. Dia iri pada temannya yang dipedulikan orang tua mereka. Dia ingin seperti anak-anak lain yang ingin diberikan kasih sayang berupa belaian dan pelukan! Bukan harta yang melimpah tanpa kehangatan."
Tidak! Bukannya James maupun Lily tidak tau akan hal itu. Mereka hanya mencoba membuat Harry mengerti. Mereka harus membiayai Harry, menabung untuk masa depan anak mereka, dan setelah semua itu selesai... mereka akan bisa bersama Harry lagi. Menemani anak mereka bermain. Melihat dan mendengar suara tawa Harry yang selalu terngiang saat mereka mengikuti rapat, atau sedang melakukan pekerjaan lain.
James menggeleng, melihat Snape dengan sendu. "Jadi sebenarnya apa yang ingin kau sampaikan? Hanya ingin mengingatkan bahwa aku harus lebih memperhatikan Harry?" tanyanya.
Snape menggeleng. "Kau masih belum mengerti juga," helaan nafas lelah terdengar beringan dengan angin AC yang berada di ruangan itu. "Kedekatan Harry dan Draco tidak wajar, kau tau?"
Deg
Lily membolakan matanya, "Apa maksudmu?"
"Terlihat dari pandangan matanya," Snape melihat Lily. "...Draco seperti menginginkan Harry—secara utuh."
.
.
"Harry!"
Bocah itu tersentak melihat seorang laki-laki dengan pakaian kerja lengkap, rapih dan bersih itu memanggilnya. Harry, dengan mata emeraldnya melihat Draco yang sedang tersenyum miring di sana—terhalang pagar pembatas. Harry berdiri dari ayunan yang sedang didudukinya, menghampiri Draco yang sedang melambaikan tangan.
"Uncle Drake!" Harry berteriak ceria dengan suara cemprengnya serta senyum manisnya. Menghampiri Draco dengan senang, "Kenapa Uncle ada disini?" tanyanya saat sudah ada di depan Draco.
Draco mengulurkan tanganya, "Uncle ingin menjemputmu. Kau mau ikut?" tanyanya.
Harry mengangguk dengan cepat. "Tentu! Kemana?" tanyanya penasaran.
Draco menggerakan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri. "Rahasia," ucapnya setengah berbisik.
Harry mengerucutkan bibirnya lucu. Sebal karena diledek Draco dengan mengacak rambutnya dari luar pagar. Sedangkan, Draco hanya tersenyum sedikit terkekeh melihat wajah Harry yang manis. "Ayo, kita akan berangkat."
Harry tersentak. Melihat sekitarnya yang masih ramai, melihat guru-gurunya yang sedang sibuk dengan anak lainnya. Harry mengangguk sambil tersenyum pada Draco. Berlari kecil menuju gerbang. Melihat Hagrid yang berada disana sedang tertidur sambil terduduk, Harry mengendap-endap dengan lincah. Draco terkikik geli melihat laga Harry yang seperti detektif yang sedang mengincar pencuri.
"Ayo!" Harry sampai juga di tempat Draco. Mengendong Harry yang terkikik senang, Draco hanya menyeringai. "Kita ke tempat yang menyenangkan."
.
.
.
Tempat yang sedikit remang, dengan ruangan yang cukup luas. Di atas lantai, dua orang anak manusia sedang bercumbu dengan sangat mesra dan panas.
"Engh," Harry melenguh dengan lembut saat kedua tonjolan di dadanya dimainkan. Bukan Harry yang harus disalahkan atas keluarnya desahan nikmat yang tidak cocok untuk umurnya. Harry hanya sedang menikmati indahnya momen bersama pamannya itu. Menikmati setiap tonjolan itu dipilin dan ditekan keras.
Harry memang bukan sedang dalam masa sadarnya. Dia sedang berada dalam kendali obat yang diberikan Draco yang mobil tadi. Harry masihlah polos, dia hanya mengangguk dan meminum jus yang diberikan Draco. Walaupun saat setengah jus itu masuk dalam tubuhnya, kepalanya sedikit demi sedikit mulai berdenyut sakit.
Tubuhnya limbung dan jatuh tertidur. Tidak sadar kalau Draco membawanya ke tempat yang ramai, bukan sebuah tempat sepi. Dimana tempat yang paling bahaya, disitulah tempat yang paling aman. Draco selalu menganggap perkataan bijak dari orang-orang itu adalah motonya. Jalan dimana dia bisa berlindung.
Meraup bibir pulam yang membengkak itu dengan hikmat. Begitu lembab, munggil dan kenyal. Draco menggigit bibir itu dengan gemas, membuat Harry mengerang tertahan antara ciuman intens itu. Harry balas melumat bibir Draco yang asik menyedot bawah bibirnya, sedangkan Harry balas menggigit bibir atas Draco. Saling mengecap rasa masing-masing saliva. "Engh!" erangan halus itu terasa lagi saat jari-jemari besar itu mengelus 'sang adik' yang berada di bawah sana.
Draco merasakan adiknya mulai membengkak dan merangkak naik—mencoba menembus sela sempit antara pinggangnya dan celana dalamnya. Sekarang dia memang masih menggunakan celana lengkap dengan kancing dan sleting yang terbuka. Menampakkan celana dalam berwarna coklatnya yang sedikit basah.
"Harry," Draco melepaskan panggutannya. Menjilat saliva Harry yang berjatuhan dan mengalir ke dagu dan leher. Menandai daerah yang membuat Harry memekik nikmat. Mengangkat kepalanya, Draco bisa melihat Harry yang sedang dalam keadaan mabuk berat. Mata sayu, bibir yang terbuka, lidah yang sedikit terjulur, saliva yang mengalir dan wajah yang merona parah.
Draco menelan ludahnya melihat semua itu.
Ting tong.
Draco melirik intercom yang berada disana. Melihat dari layar intercom itu terdapat wajah yang dikenalinya.
Mengambil remote kontrol, Draco menekan tombol hijaunya. "Masuk," ucapnya saat melihat orangnya itu hanya berdiri disana—melihat dengan mata terbelalak pemandangan di depannya.
"Wow... Draco, aku tidak tau kau berhasil mendapatkannya!"
.
.
.
.
.
Tbc~
Dengan ini aku nyatakan hiatus sementara dari fic ini^^...
Maaf sudah membuat kalian menunggu dan malah kepotong adegan lemonnya. Padahal tadinya sekarang bakalan ada lemon, tapi karena jalannya cerita, jadi gak bisa sekarang. Maaf, untuk beberapa bulan ke depan aku gak bisa lanjut fic dulu. Lagi ujian^^...
Sekali lagi terima kasih,
Dan, untuk yang kemarin belum memuaskan tulisannya udah aku koreksi lagi... makasih buat kritiknya^^...
Jika ada waktu luang... akan aku coba lanjut sedikit demi sedikit, tapi gak bisa seintens seperti sekarang, atau bahkan mungkin malah gak bisa T,T
Thanks spesial for: paradisaea Rubra, mariashine87, miszhanty05, , aristy, CcloveRuki, Tunders Casammond , NaeAizawa, Sicanya Anggarada, jie, Araena Prince, Azure'czar, ChaaChulie247, zhe, GDzuraGON, 989seohye, yuki amano, SlytherSoul d'Malfoy, MinChanLee137SasuNaru, yamada ayumu, Axa Alisson Ganger, Mizuki Sinchi, L.M.S, PIGLATYPUS, tika. Karisma. 18
Mind to review?
