くコ:彡くコ:彡くコ:彡

4 hari dalam kesendirian, Jaehyun mencoba untuk beradaptasi dengan hal baru, sehari-hari tanpa Yuta.

Memang hal berat baginya tapi mau bagaimana lagi, ini hal yang pantas ia dapatkan karena perbuatan bejatnya.

Selalu bersantai sendirian di taman belakang sekolah sambil memandang langit cerah berawan, menikmati hembusan angin, memantau burung-burung yang terbang melintas.

Jaehyun sangat tahu perilakunya, tapi tidak bisa ia hentikan.

Jaehyun mulai memejamkan matanya untuk tidur siang, saat ia mulai terpejam. Ponselnya berdering, dan dengan malas ia melihat siapa yang menelponnya. Setelah tahu siapa, ia langsung menjawab telpon itu dengan senang.

"Hi bro! Ada apa kau menelponku? Membicarakan sesuatu yang penting? Or something just like.. Wanna to say 'hi'?"

"Hah?!"

"Tidak kok, itu sudah dua bulan yang lalu. Aku sudah tidak dikejar lagi."

"La-lalu aku harus bagaimana?"

"Baiklah kalau begitu, cepatlah."

Jaehyun menghela napasnya gusar setelah memutus panggilan itu. Pada dasarnya, dirinya itu memang tidak bisa berperilaku baik jika kehidupannya sendiri sudah berantakan.

Kehidupannya yang berantakan menjadikan dirinya 'harus' menjadi orang yang buruk, untuk tetap bertahan hidup. Dan sekarang ia harus melakukan sesuatu sebelum ia yang kena masalah.

Taeyong melamun di kelas, memandang kearah jendela, tidak memerhatikan Lee saem yang sedang menerangkan. Sebenarnya ia sedang memikirkan sesuatu hal.

-flashback-

Disinilah sekarang Taeyong, Winwin, dan Ten berada. Disebuah kafe untuk menemui seseorang yang janji untuk membicarakan hal yang berhubungan dengan Jaehyun.

Winwin masih memandang sekitar mencari sosok yang mereka tunggu, dan muncullah sosok itu berjalan mendekati meja mereka dan berakhir duduk disamping Winwin.

"Apakah kalian menunggu lama?"

Taeyong, Winwin, dan Ten menggeleng.

"Langsung saja ceritakan apa yang kau tahu, jangan basa-basi lagi." pinta Ten tak sabaran.

"Ehm baiklah.. Sebelumnya, perkenalkan, namaku Yuta dan um-aku sahabat Jaehyun." ketiga namja itu mulai memandang Yuta dengan berbagai macam ekspresi.

"Aku sudah berteman dengannya sejak SMP dan itu bertahan hingga sekarang. Yang kutahu, dia memang bejat. Dulu saat SMP, dia sering sekali berkelahi, sering mencari masalah, bodoh, dan mesum."

Yuta bercerita banyak tentang Jaehyun, hanya bercerita yang ia ketahui tentunya.

"Tapi meskipun begitu, dia seorang yang baik, tak jarang dia berbuat baik padaku, sering menolongku, selalu membuatku tertawa jika sedih. Aku juga yakin dia bisa menjadi anak yang baik-" Yuta menghela napasnya sejenak.

"-tapi aku tidak tahu mengapa ia sering babak belur, sering tidak masuk, selalu berbuat mesum, menjadi bad boy yang kelewat nakal. Aku juga penasaran dengan latar belakangnya, keluarganya bagaimana, orang tuanya, pribadinya sendiri. Si Jaehyun itu terlalu tertutup!"

Hening.. Semua juga penasaran dengan latar belakangnya, dan kenapa Jaehyun sering berbuat hal yang tak senonoh.

"Kau tahu rumahnya?"

"Tidak. Dan aku selalu gagal setiap kali membuntutinya untuk tahu dimana rumahnya berada."

Hening menyelimuti mereka kembali.

"Ah! Bagaimana dengan sifatnya? Mungkin jika kami tahu, itu bisa bermanfaat untuk melawannya." tanya Ten.

"Seseorang yang emosional, jahil, bodoh, terkadang jenius, seorang yang kelebihan hormon, lalu dia juga baik dan perhatian."

'Namja kelebihan hormon.. Pantas saja dia susah sekali menahan nafsu, cih!' batin Taeyong kesal.

"Uhm Yuta-ssi, kenapa kau ingin membantu kami?" Winwin bertanya dengan wajahnya yang terlihat polos, sekilas Yuta merasa gemas.

"Aku hanya ingin mencoba menghentikan kelakuan buruknya agar ia bisa menjadi seorang yang berperilaku baik, aku tahu itu susah, tapi aku akan berusaha. Sebejat apapun itu dirinya, Jaehyun tetaplah sahabatku." senyum tulus terukir diwajah Yuta.

'Jaehyun beruntung memiliki sahabat seperti Yuta meskipun kelakuannya sangat buruk. Ah.. Aku juga beruntung memiliki Winwin, dan Ten.' tanpa sadar, Taeyong tersenyum.

"Ah iya satu lagi! Jaehyun akan semakin menjadi-jadi jika lawannya menunjukkan kelemahan dan rasa takut. Jadi, kalian harus berani jika Jaehyun mulai macam-macam, aku yakin dia pasti akan diam." Taeyong, Winwin, dan Ten mengangguk mengerti.

-end-

"Lee Taeyong! Kerjakan soal nomor dua dipapan!" Taeyong tersadar dari lamunannya, dengan cepat ia menuju depan kelas untuk menjawab. Untung saja dia pintar, jadi ia tidak bingung.

Saat ini Taeyong berada di kafe dekat sekolah untuk mengerjakan beberapa tugas, ia menyuruh Ten dan Winwin pulang terlebih dahulu. Ia meneguhkan dirinya untuk tak takut pada Jaehyun bila bertemu dengannya nanti.

Langit jingga akan semakin menggelap, Taeyong menyudahi pekerjaannya san secepatnya untuk pulang. Ia tak mau menunggu lama untuk jemputan dari supirnya, biarlah ia pulang naik bis.

Langit semakin gelap, tapi itu hal yang biasa, ia bukanlah penakut. Tapi saat Taeyong melewati gang kecil yang gelap, ia merasakan suatu kejanggalan dari ringisan kecil, memberanikan diri, akhirnya ia memasuki gang kelinci tersebut dengan langkah pelan.

"Hah.. Haah... Ukh-akh sialan!"

Taeyong mendengar ringisan itu.

"Uhm, siapa disana? Ee.. Aku hanya kebetulan lewat dan mendengar suatu ringisan." Taeyong memberanikan untuk bersuara, setelah ia melihat siapakah orang itu, Taeyong terkejut bukan main.

"Yak! Jangan banyak tingkah, kalau kau terus gerak, lukanya akan semakin parah!" Taeyong berteriak kesal. Pasalnya, orang yang ia obati ini banyak sekali tingkahnya membuat lukanya semakin parah.

"Ehm baiklah, kuusahakan." orang itu pun menurut.

Saat ini Taeyong sedang mengobati orang yang ia temui tadi, Taeyong sangat kaget. Dia adalah Jaehyun, dalam keadaan babak belur dan beberapa luka gores di kulitnya. Mereka sekarang ada di taman dekat minimarket yang tadi Taeyong kunjungi untuk beli obat luka dan plester.

Karena pada dasarnya Taeyong baik, ia tetap menolong Jaehyun meskipun Jaehyun pernah berbuat buruk padanya. Dan sedari tadi saat Taeyong mengobati Jaehyun, pandangan Jaehyun tidak pernah berpaling darinya.

"Berhenti memandangku!" dengan kasarnya, Taeyong memutar kepala Jaehyun sampai Jaehyun meringis pelan.

Tiga puluh menit berlalu, Taeyong mulai membereskan sampah-sampah yang ia buat dan jalan menuju tong sampah. Setelah membuang, Taeyong memandang Jaehyun.

"Sudah ya, aku pulang." Taeyong langsung pergi meninggalkan Jaehyun yang duduk di bangku taman sendirian. Setelah Taeyong pergi, Jaehyun mengulas senyum.

くコ:彡くコ:彡くコ:彡

"Uuh, test sejarah tadi sangat susah.." Taeyong mengeluh disepanjang jalannya menuju keatap sekolah, ia ingin tidur siang disana. Sesampainya, ia mencari tempat yang nyaman dan sekiranya teduh. Setelah menemukan tempat yang nyaman, Taeyong pun mulai tidur.

Taeyong terbatuk kecil, ia merasakan sesuatu yang ia tak suka. Padahal baru saja ia tertidur pulas sekali.

'Asap rokok..' Taeyong semakin tak tahan dan membuka matanya.

"Oh, kau sudah bangun tuan putri? Tidurmu nyenyak?"

"Omo!!!"

/plakk/

"Akh!!"

Jaehyun sedikit tersungkur karena tamparan Taeyong.

Tadi setelah Taeyong pulas, Jaehyun datang untuk merokok tapi ia melihat Taeyong yang berbaring tidur. Jaehyun pun mendekat ke Taeyong, memposisikan kepala Taeyong ke pahanya dan dirinya duduk bersandar. Tentu saja Taeyong tidak terusik karena sudah terlalu pulas.

Tapi saat Jaehyun menghembuskan asap rokok, Taeyong terganggu lalu bangun. Hingga saat ini, Taeyong yang menjaga jarak aman dan Jaehyun yang memegangi rahangnya yang kena serangan tadi.

"Apa yang kau lakukan dasar pabo!!" Taeyong berteriak kesal setelah menyadari apa yang barusan terjadi.

"Aku hanya ingin kau tidur dipahaku saja, bentuk terima kasih atas kemarin yang kau lakukan padaku." wajah Jaehyun datar-datar saja dan jangan lupakan sebatang rokok dimulutnya.

"Ya ya ya tapi.. Akh sudahlah!"

Jaehyun mengedikkan bahunya dan menghisap lalu menghembuskan asap rokok. Meskipun Taeyong sudah berada dijarak aman, ia tetap bisa menciumnya.

Taeyong berdiri dan mendekat ke Jaehyun. Dengan paksa, ia mengambil batang rokok yang semula di sela jari Jaehyun dan membuangnya, lalu ia injak batang rokok tersebut hingga padam.

"Berhentilah merokok! Aku tak suka asap rokok, dan kau juga masih SMA!"

Jaehyun menghela napasnya kasar, lalu ia merogoh saku celananya. Setelah ia menemukan permen yang ia cari, ia pun memakannya.

"Baiklah, akan kuusahakan." Jaehyun menunjukkan senyum manis ber-dimplenya. Taeyong menghela napas lega.

"Oke, sekarang lanjutkan tidur siangmu." Jaehyun menarik tangan Taeyong, memposisikannya berbaring dengan berbantal paha Jaehyun. Taeyong hanya bisa membelalakkan matanya kaget, entah kenapa ia jadi gugup. Tapi Taeyong merasa nyaman dalam posisi ini.

Dari bawah ia bisa melihat Jaehyun yang asik bermain ponselnya, sesekali Jaehyun mengecap permen yang ia makan. Hidung mancung, pipi yang terlihat menggemaskan, bibir yang seksi, eh tunggu dulu!

Hanya dengan melihat dan memikirkannya saja sudah membuat Taeyong merona.

Jaehyun yang merasa diperhatikan pun menatap Taeyong yang dibawahnya. Taeyong kaget dan memalingkan wajahnya, mencoba menghentikan degup jantung yang berdetak dengan gila sekarang.

"Aku tahu aku tampan, tapi tidurlah. Bukannya kau mengantuk?" Taeyong semakin malu sekarang.

Jaehyun tersenyum. Tangan kirinya yang bebas ia gunakan untuk membelai surai silver Taeyong dengan lembut. Taeyong pun menatap Jaehyun lagi dengan tatapan kaget yang imut.

"Tenang saja, kali ini aku janji untuk tak lebih dari ini. Aku masih terluka karena kemarin, badanku masih terasa remuk." Taeyong tidak menemukan kebohongan dari mata Jaehyun. Lalu ia mulai memposisikan dirinya secara nyaman.

"Ehm.. Jaehyun."

"Ne?"

"Kenapa kau bisa babak belur kemarin? Apa yang terjadi?"

Jaehyun membeku seketika, tapi sepersekian kemudian ia normal kembali dan semakin mengelus rambut Taeyong dengan sangat lembut.

"Kau tidak perlu terlibat, jika kau terlibat kau akan hancur. Lebih baik, kau tak tahu alasannya." Taeyong bungkam.

Taeyong semakin mengantuk, elusan Jaehyun benar-benar ampuh membuat dirinya mengantuk. Akhirnya Taeyong tertidur.

Jaehyun mengelus pipi Taeyong, tapi Taeyong tak terusik. Akhirnya Jaehyun memainkan bibir cherry Taeyong dengan jempolnya, berharap Taeyong akan bangun dengan gangguan tersebut dan usahanya berhasil. Saat Taeyong mulai mengerjapkan matanya, Jaehyun menjauhkan jempolnya dari bibir cherry Taeyong, ia takut jika kebablasan.

Sejenak, Jaehyun memerhatikan jempol tangan kanannya yang tadi sempat menempel pada bibir Taeyong. Lalu Jaehyun mengecup dan menjilat sedikit permukaan jempolnya itu.

'Manis..' Jaehyun berpikir bahwa Taeyong pasti rutin menggunakan lip balm rasa cherry.

Taeyong memposisikan dirinya untuk duduk dan meregangkan ototnya.

"Tidurmu nyenyak princess?" Taeyong yang masih setengah sadar itu pun hanya bisa mengangguk.

"Ada apa Jae?"

"Oh, kenapa kau bertanya? Kau tidak ingin pulang hyung? Terlalu nyaman tidur dipahaku sampai tidak ingin bangun?" Taeyong menggeleng cepat dan beranjak dari duduknya.

"Ba-baiklah aku akan pulang, terima kasih."

Jaehyun memperhatikan Taeyong yang pergi meninggalkan atap sekolah dengan senyumannya. Setelah Taeyong benar-benar tak terlihat, Jaehyun melihat jempol tangan kanannya lagi.

Saat ini Jaehyun sedang menahan hormonnya yang meluap-luap dengan susah payah. Ia pun mengecup jempolnya lagi. Jaehyun menarik jempolnya dan menyandarkan kepalanya pada tembok. Napasnya tidak beraturan.

'Aku sudah berjanji untuk tak mengganggunya untuk saat ini, harus kutahan.. Harus!' Jaehyun menggigit bibir bawahnya. Pikirannya mulai berfantasi liar.

"Akh!!!!! Menyebalkan!!" Jaehyun mengerang frustasi.

くコ:彡くコ:彡くコ:彡