Sweetheart
Author: AnnZie-chan Einsteinette
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: SasuSaku
Genre: Romance/Angst. Sedikit unsur humor numpang lewat.
Rated: T
Warning: OOC? Maybe. Typo? Entah. Alur kecepatan? Itu spesialisasi Author sendiri. Mustahil? Namana juga FFn: Unleash Your Imagination. Keren? Itulah AnnZie! *dilempari botol kecap*
.
Oke, kenapa AnnZie lama update?
Tahu nggak? Di sekolah AnnZie ada bazaar akhir tahunan, AnnZie dapet jabatan WAKIL KETUA BAZAR. Tapi entah kesambet apa perangkat yang lain, jabatan AnnZie jadi Ketua Bazar, Wakil Ketua Bazar, Sekretaris, Bendahara, dan Ketua Seksi Perlengkapan. Gila nggak? Semua AnnZie yang ngurus loh!
Syukurna, stand kelas AnnZie duluan laku daripada kelas lain. Kelas Avicenna (kelas AnnZie) daganganna habis dalam waktu tiga jam! Seketika AnnZie langsung melupakan kerja keras AnnZie. Avicenna dapet hasil penjualan Rp 1.141.000! *bangga*
Akan tetapi, setelah dihitung di rumah, ternyata... hiks hiks, kelas AnnZie NYARIS RUGI BESAR! Rupana lebih besar modal daripada untung! Huaaa... maafkan daku, teman-teman! Tapi kalian balik modal semua, kok!
Yeah, karena ngurus bazar itu AnnZie jadi membuang jauh-jauh inspirasi AnnZie. Padahal kalo nggak dibuang pasti bisa namatin Sweetheart, paling nggak dapat plotna.
Pundung deh AnnZie... Maaf yah teman-teman sekelas, meski kita dapat sejuta tapi ternyata pengeluaran kita lebih besar! *ojigi*
Chapter 4: First and Second
Rambut Sakura sudah dirapikan. Sesaat Sakura menyesal sudah memotong rambutnya yang ia banggakan itu. Tapi sudahlah, toh dengan ini dia sudah yakin dengan perasaannya pada Sasuke.
Kamar Sakura tampak berserakan. Pakaiannya tersebar dimana-mana. Aksesorisnya berhamburan di sana-sini. Sepatunya ia campakkan begitu saja. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, dan Sakura belum tahu pakaian apa yang akan dikenakannya.
Tsunade masuk tanpa izin, dan mendapati Sakura sedang mencoba-coba baju. "Haruno Sakura!" teriak Tsunade. "Apa yang kau lakukan malam-malam begini?"
Sakura melonjak kaget, "Kaa-san! Jangan membuatku terkejut!"
"Ada apa, Sakura? Kau mau pergi, hem?" suara Tsunade berubah menjadi keibuan saat melihat tampang Sakura yang kusut. Sakura menggumam, "Yaa... begitulah."
"Dengan siapa? Sepertinya seseorang yang spesial sampai kau kelihatan bingung memilih baju?"
Sakura mengangkat bahu cuek, padahal innernya menjerit-jerit karena Tsunade tahu yang sedang terjadi padanya. "Sasuke yang mengajakku. Katanya untuk perayaan dilepasnya gipsku."
"Perayaan yang aneh," komentar Tsunade. "Kaa-san lihat kau kebingungan memilih kostum ya?"
"Ya, Kaa-san," jawab Sakura. "Sasuke tidak bilang akan pergi ke mana. Aku jadi tidak tahu apa yang tepat untuk aku pakai. Dia cuma memberitahu agar aku memakai jaket."
"Dingin ya?"
"Hm.." respon Sakura sambil mencocokkan sebuah celana panjang hijau dengan sweater ungu. "Tidak cocok, menggelikan," Sakura melempar pakaiannya.
"Berhenti melempar pakaianmu, Sakura." ujar Tsunade. "Sini, biar Kaa-san bantu memilihkan kostum. Biar kita lihat... jaket? Simpel sekali saran si Uchiha muda itu?"
"Itu yang dia bilang."
"Coba saja ini. Simpel kan? Jaket hitam motif bunga, dengan atasan... pakai dress putih ini saja." Tsunade menunjuk satu-satu pakaian yang ia maksud.
"Sederhana sekali..." rengek Sakura. "Tidak mau.."
"Pakai saja! Uchiha itu-"
"Sasuke, Kaa-san," sela Sakura.
"Halah, terserahmu sajalah. Oke, si Sasuke itu menyuruhmu pakai jaket. Itu dress code yang simpel. Cocok dengan ini. Lagipula ini pasti manis sekali kau kenakan. Pakai!" paksa Tsunade.
"Kaa-san..."Sakura merengek lagi. "Jangan mempermalukanku dengan pakaian ini.."
"Tidak akan, kau kan anakku. Mana ada ibu yang mempermalukan anaknya? Dasar bodoh." Tsunade masih saja menggunakan kata kasar 'bodoh'. Sakura mengambil pakaian yang dimaksud ibunya dan mengusir Tsunade. "Sekarang Kaa-san keluar, aku mau pakai baju."
Sasuke menekan bel pintu rumah Sakura. Penampilannya sangat keren hari ini. Tentu saja Sasuke kelihatan semakin tampan dengan pakaiannya malam ini. Jeans hitam dan kaos putih, dipadu jaket hitam. Warna netral tak mengurangi ketampanannya yang jauh melebihi rata-rata.
Sekali lagi, Sasuke membunyikan bel. Terdengar suara gaduh dari dalam rumah. Sasuke sedikit mengernyitkan dahinya mendengar keributan ini.
"Kaa-san! Jangan!" terdengar suara tinggi melengking dari dalam rumah.
"Kaa-san mohon, Sakura!" teriak suara lain. Sasuke dapat mengira itu adalah suara Tsunade dan Sakura.
"Tidak mau!"
"Anak nakal!"
"Ibu stalker!"
"Kaa-san kan ingin mengetahui perkembangan anaknya sendiri!"
"Jangan membuntutiku atau aku akan keluar dari rumah ini!" ancam Sakura. Suaranya semakin jelas terdengar dari luar. Sasuke semakin mengernyitkan dahinya melihat 'keakraban' ibu dan anak ini.
Sakura membuka pintu dan tersenyum lebar pada Sasuke. "Hai, Sasuke." sapanya dengan canggung dan senyum innocent, seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya. Sasuke mengintip ke dalam rumah dari balik bahu Sakura. Tsunade sedang menggerutu tak jelas di belakang Sakura, sekitar lima meter di belakang Sakura. Tsunade menggumamkan kata-kata makian yang kurang jelas, tapi tertangkap oleh telinga Sasuke yang tajam beberapa kata seperti "Bodoh," atau "Anak kurang ajar," dan "Anakku jidatnya lebar".
"Hai, Sakura." jawab Sasuke akhirnya. "Ibumu kenapa? Kudengar tadi kalian seperti sedang bertengkar. Apa aku mengganggu?"
Sakura mendengus kesal. "Aku memergoki ibuku membawa kamera dan memakai pakaian serba gelap. Artinya, dia berniat membuntuti kita. Memangnya aku anak kecil diikuti ibu sendiri seperti itu?" gerutu Sakura. Lalu melihat pakaian yang dikenakan Sasuke hari ini. "Hm?"
Sasuke menatap Sakura meminta penjelasan. "Kenapa kau melihatku seperti itu?"
"Tidak." Sakura tertawa kecil. "Kita serasi. Hitam-putih." Sasuke melihat pakaian Sakura. Jaket hitam dan dress putih. Ia mengangguk setuju.
"Boleh aku menyapa ibumu dulu?" tanya Sasuke kemudian.
"Oh, sopan sekali? Angin apa yang membuatmu begitu, hm?" Sakura mundur, memberi jalan untuk Sasuke masuk.
Tsunade berhenti mengomel. Dipaksakannya untuk tersenyum. "Halo, Sasuke. Selamat malam. Ada apa? Bukankah keperluanmu dengan Sakura, bukan aku?"
Sasuke berujar sopan, "Memang benar. Tapi aku merasa perlu meminta izin pada Tsunade-san untuk membawa Sakura bersamaku malam ini. Aku janji akan menjaganya. Dia akan pulang dengan selamat."
"Pergi sajalah. Selamat bersenang-senang." Tsunade masih murung tidak dibolehkan Sakura menjadi 'stalker dadakan'.
"Tsunade-san marah?"
"Tidak. Hanya kesal. Sakura tidak mengizinkan aku mengabadikan momen kalian ini." katanya sambil menimbang-nimbang kamera hitamnya.
Sakura memotong cepat, "Jelas aku tidak mau!" katanya sewot. Sasuke memberi tanda untuk tenang. "Apa Tsunade-san mau dibelikan oleh-oleh saat kami pulang nanti?"
Wajah Tsunade langsung cerah. "Sake! Mungkin kau berniat juga membelikanku wine?" Tsunade mengandalkan jurus memohonnya.
"Tidak masalah. Akan kubelikan wine nanti, asal Tsunade-san tidak kesal lagi pada Sakura dan tidak membuntuti kami."
"Setuju!" Tsunade tertawa layaknya tante-tante di sinetron. Sakura speechless melihat ibunya yang dipengaruhi Sasuke. Sasuke melemparkan senyum kemenangan ke Sakura.
"Sekarang kalian pergi. Jangan terlalu lama, aku tidak sabar menunggu wine-ku! Hohohoho..." suruh Tsunade. "Dan kau Sasuke, aku memercayakan keselamatan Sakura ditanganmu. Jangan buat aku kecewa."
"Tidak akan, Tsunade-san. Oh ya, ada titipan surat dari ibuku Mikoto." Sasuke menyodorkan sebuah amplop putih. "Kalau begitu, kami pergi dulu." Sasuke membungkuk sedikit dan menarik Sakura keluar.
"Sampai jumpaaa!" Tsunade melambaikan tangannya pada mobil Sasuke yang melaju kencang meninggalkannya. "Kalau Uchiha itu melupakan wine-ku, akan kubunuh dia..." gumam Tsunade, kemudian kembali masuk ke dalam rumah. Dibukanya surat dari Mikoto, dan membaca isinya:
Untuk Tsunade yang Cerewet
di suatu tempat entah apa namanya.
Maaf aku baru membalas sekarang. Aku lupa kau mengirim surat padaku.
Jadi anakku Sasuke sudah bertemu anakmu Sakura? Dunia itu ternyata sempit sekali, ya. Aku kangen padamu, lho. Bisa kita janjian? Nomorku 0777 777 7777. Nomor cantik ya? Aku menemukan nomor ini secara tak sengaja di sebuah toko kelontong. Nasibku mujur~
Sampai di sini dulu suratku. Kau tahu aku lebih suka mengobrol langsung daripada surat-suratan begini. Telpon aku segera ya. Jaa!
Mikoto Uchiha
Tsunade terisak mendapat surat dari Mikoto. "Sialan!" raungnya. "Nomornya lebih cantik dariku!" Tsunade membandingkan nomornya 0876 876 8768 dengan nomor Mikoto 0777 777 7777. Kalau diperhatikan, nomor Mikoto memang lebih cantik. "Mikoto memang selalu beruntung! Pantas aku sering kalah taruhan dengannya!"
"Kau mau ke mana?"
Sakura terperanjat. "Eh? Bukannya kau yang mengajakku? Kenapa kau yang bertanya, itu kan kalimatku?"
"Aku kan sudah bilang, ini perayaan untuk dibukanya gipsmu dalam waktu hanya dua puluh hari. Jadi harusnya tujuan kita adalah kehendakmu sebagai objek perayaan." jelas Sasuke.
"Bilang saja kau tidak tahu mau ke mana kemudian menanyakan padaku dan berencana mengikuti kemauanku."
"Memang benar." Sasuke dan Sakura tertawa.
"Jadi, kita ke mana?" ulang Sasuke. Sakura mengangkat bahu. "Terserahmulah. Aku tidak berhak memerintahmu. Karena kau kan bukan sopirku."
"Salah. Aku sopirmu satu bulan ini." Sasuke mengingatkan. Sekali lagi Sakura tertawa. "Baiklah, Pak Sopir. Aku akan pergi kemana pun tempat yang menyenangkan untuk disinggahi."
"Tidak jadi. Aku tidak mau jadi sopirmu. Panggilan Pak Sopir tidak pantas untukku."
"Hm... baiklah, aku tetap memanggilmu Sasuke."
"Memang seharusnya, kan?" Sasuke menarik sudut bibirnya ke atas.
"Sudah, hentikan candaannya. Kalau pergi tak ada tujuan, lebih baik kita tidak usah pergi saja. Daripada menghabiskan bahan bakar begini?" Sakura memalingkan wajahnya ke luar.
Sasuke menyentuh bahu Sakura. "Hei, Sakura?"
"Hmm.." Sakura tidak menoleh.
"Sakura!" suara Sasuke meninggi.
"Apa?" suara Sakura juga meninggi, membalas Sasuke. "Kenapa teriak-teriak?"
Suara Sasuke memelan. "Kau juga teriak."
"Apaan?" tanya Sakura langsung. "Jangan bicara padaku sebelum kau tahu tujuan kita."
Sasuke mencibir, "Aku sudah tahu kok tujuan kita. Kau sudah makan malam?"
"Oh, mau mengajakku makan ya?"
"Sudah belum?" tanya Sasuke lagi.
"Er... belum. Tidak sempat tadi." jawab Sakura malu-malu. Sasuke mengangguk, "Sama. Baiklah, kita makan..."
"...dimana?" kata Sasuke dan Sakura bersamaan. Kemudian keduanya terdiam. Ternyata mereka sama-sama tidak tahu tempat yang enak.
"Aku tahu!" seru Sakura tiba-tiba. "Karin dan Suigetsu waktu itu makan di sebuah restoran yang baru saja dibuka empat hari lalu. Bagaimana kalau kita ke sana?"
"Ide bagus. Di mana itu?"
"Amour Restaurant. Dekat Estrella Mall. Tapi..." perkataan Sakura terputus saat ia teringat sesuatu. "Ah, lupakan restoran itu. Cari tempat lain saja."
Sasuke bertanya ingin tahu. "Tapi apa? Kenapa?"
"Amour Restaurant. Restoran yang..." Sakura menelan ludahnya. "..selalu dipenuhi pasangan kekasih yang makan bersama. Kata Karin sih, dari pengamatannya begitu."
"Kencan?"
"Ahm.. ya.."
"Kau tidak mau ke sana hanya karena masalah itu?"
"Kalau kau itu perempuan, mungkin tidak masalah. Sekarang kau ini laki-laki sementara aku perempuan. Bisa-bisa kita dikira sedang kencan nantinya." Sakura kembali mengalihkan perhatiannya ke luar mobil.
"Kita akan ke sana." putus Sasuke.
"Tidak, terima kasih, kita bukan pasangan." tolak Sakura.
Sasuke membelokkan mobil ke kanan. "Anggap saja ini kencan. Sebentar lagi kita sampai."
Sakura membantah, "Aku belum bilang setuju menganggap ini kencan."
"Aku sudah anggap kau setuju. Kau juga pasti mau kalau kencan denganku." ucap Sasuke sedikit narsis.
"Kepedean!" Sakura menjulurkan lidahnya. Tanpa ia sadari, mereka sudah memasuki area parkir restoran.
"Kita sudah sampai. Ayo turun." Sasuke membuka pintu, diikuti oleh Sakura yang menggerutu kecil.
Amour Restaurant. Sebuah restoran yang mengusung gaya minimalis dan simpel, tapi bukan sederhana. Lampu-lampu yang sewarna dengan nyala lilin mengelilinginya. Bukan restoran mewah, tapi sebagai pendatang baru nama restoran ini cukup diperhitungkan. Halamannya juga asri. Sebuah kolam ikan besar terletak di tengah-tengah, dengan sebuah jembatan kayu sederhana yang unik yang menghubungkan halaman dengan restoran. Jembatan itu satu-satunya akses masuk maupun keluar dari bangunan restoran.
Sasuke dan Sakura memasuki restoran tersebut. Mereka memilih meja yang dekat dengan jendela. Itu permintaan Sakura. Sakura suka melihat pemandangan, karenanya ia memilih meja dekat jendela yang berupa kaca tebal yang mengelilingi restoran.
Seorang pelayan dengan ramah menawarkan menu pada mereka. "Selamat datang di Amour Restaurant. Nama saya Haku. Saya akan menjadi pelayan Anda pasangan kekasih malam ini."
Sakura berbisik pada Sasuke dengan raut muka sebal. "Tuh, kan. Apa kubilang?"
Haku si pelayan menyodorkan dua buku menu. "Silahkan."
Sasuke berkata, "Silahkan Sakura. Pilih semaumu, aku yang bayar."
Sakura tersinggung, "Kau kira aku rakus, hah?" Tatapannya beralih ke Haku. "Aku ikut dia saja."
"Baiklah. Silahkan Tuan, apa yang Anda pilih?" tanya Haku. Sasuke terdiam. Ia harus bisa memilih menu yang menyenangkan hatinya dan hati Sakura. Ia tidak mau membuat Sakura tersinggung. Sedetik kemudian, ia menyadari Sakura sengaja membiarkannya memilih menu untuk membuatnya bingung. Di depannya, Sakura cengar-cengir melihatnya bingung memilih menu.
Sasuke mengembalikan buku menu pada Haku. "Aku kagum pada restoran ini. Banyak pilihan makanan sampai membuatku bingung. Apa kau bisa menyarankan sesuatu, Haku?"
"Saya sarankan menu spesial yang kami sediakan berbeda tiap malam hanya untuk pasangan yang berbahagia-" Sakura kembali merengut. Haku melanjutkan, "Menu spesial malam ini adalah steak yang hanya disediakan seminggu sekali."
"Kami pesan steak terenak yang kalian punya." kata Sasuke.
"Apakah Anda berdua mempunyai suatu larangan dalam makanan agar kami dapat menyediakan yang terbaik?"
Sasuke menggeleng. Sakura menjawab, "MSG yang terlalu banyak. Aku benci itu."
"Terima kasih. Kalau begitu berarti Anda memesan Californian Steak ala Amour Restaurant. Minumnya?" tanya Haku.
"Tomato juice, jangan terlalu manis."
"Melon juice, juga jangan terlalu manis."
"Baiklah. Silahkan menunggu, pesanan Anda akan segera datang." Haku tersenyum ramah dan beranjak meninggalkan Sasuke dan Sakura.
Sakura menahan Haku. "Tunggu, Haku!"
Haku berbalik. "Ada apa, Nona? Ingin memesan lagi?"
Sakura menggeleng. "Bukan. Kau ini, sebenarnya apa? Suaramu laki-laki, tapi wajahmu perempuan."
Haku berkata. "Baik laki-laki maupun perempuan, keduanya bukan saya. Saya pergi dulu." Haku pun meninggalkan mereka. Sasuke dan Sakura bertatapan. Bukan laki-laki atau perempuan. Kalau begitu, pelayan mereka malam ini?
"Mau ganti pelayan?" tawar Sasuke. Sakura menggeleng. "Tidak usah. Haku itu cukup ramah kok. Bisa saja dia karyawan terbaik bulan ini."
"Hn." Sasuke menopang kepalanya dengan dagu dan melihat pemandangan di luar.
"Hmm..." Sakura tanpa sadar mengikuti pose Sasuke.
Sepuluh menit kemudian, pesanan mereka tiba. Haku sendiri yang mengantarnya. Sasuke langsung melahap makanannya dengan tenang, sedangkan Sakura meminum jusnya terlebih dahulu baru makan.
Sakura memulai, "Hei, Sasuke?"
"Hn." Sasuke menyesap jusnya. "Jusnya enak. Pas." katanya lebih ke dirinya sendiri.
Sakura bertanya, "Di mana kau akan membeli wine untuk ibuku?"
Sasuke menjawab enteng, "Mudah saja. Aku sudah mengirimkan jasa antar untuk mengantarkan stok wine dari toko langganan ayahku."
"Ayahmu peminum?"
Sasuke menggeleng. "Kami sekeluarga diharuskan bisa minum. Tapi kami bukan peminum."
Sakura memiringkan kepala tak mengerti. "Kenapa harus?"
"Karena ayahku sering mendapat undangan dari koleganya. Di sana tersedia bar kecil. Kami harus bisa minum agar tidak mempermalukan nama Uchiha. Jangan sampai tercipta image kami lemah, tidak tahan minum." jelas Sasuke. Sakura cuma mengangguk sedikit kemudian kembali menekuni makanannya.
Kalau diperhatikan secara seksama, mereka memang kelihatan seperti sedang kencan. Terlihat akrab, meskipun beberapa kali Sasuke hanya menanggapi dengan kata 'hn'. Beberapa wanita melirik sirik pada Sakura (yang tidak menyadarinya) karena kencan dengan seorang pria tampan. Yang laki-laki menatap sebal pada Sasuke karena sudah membuat pacar mereka masing-masing mengacuhkan mereka. Sementara Sasuke dan Sakura tetap saja mengobrol santai sambil menikmati makanan mereka.
Sakura melihat Sasuke yang tidak sabaran dengan lampu lalu lintas yang menyala merah. "Sasuke, kenapa terburu-buru begitu? Urusan kita kan tinggal pulang?"
Sasuke berpaling, "Tidak. Kita masih punya satu tempat lagi untuk dituju. Aku tidak pernah menunjukkan tempat itu pada orang lain, jadi kau orang pertama yang kuberitahu."
Sakura tampak sangat antusias. "Oh ya? Tempat apa itu?"
"Rahasia. Yang jelas, tempatnya lumayan jauh dari sini, makanya aku mengejar waktu agar kau juga tidak pulang terlambat."
"Kau terlalu banyak bicara hari ini. Berhentilah mempermainkanku. Cukup katakan di mana, lalu aku akan diam."
"Hn." (maksud: tidak mau)
"Pelit kata!" Sasuke tidak menanggapi.
.::SKIP TIME::.
20 menit kemudian.
"Kita akan ke mana, Sasuke?" tanya Sakura setelah menyadari rumah-rumah yang bersisian di jalan mulai berkurang. Pepohonan semakin rindang, jalanan semakin gelap, jalanan semakin menanjak. Sakura menduga mereka sedang menuju ke salah satu dataran tinggi di Konoha. Sebuah bukit, mungkin? Karena ini terlalu kecil untuk gunung.
Sasuke menghentikan mobilnya di puncak. "Ke sini." Sasuke mengambil sesuatu dari bagasinya. Sakura keluar, memerhatikan gerak-gerik Sasuke. "Sudah sampai ya? Di sini tempatnya? Apa yang akan kita lakukan di sini? Apa itu? Apa berat?" tanya Sakura bertubi-tubi tanpa henti. Sasuke memberi isyarat untuk diam pada Sakura.
Sasuke membongkar bawaannya, menyusunnya dengan cekatan, kemudian menjawab pertanyaan Sakura. "Ini teleskopku. Kita akan melihat bintang di sini."
"Kenapa pakai teleskop?" Sakura masih tidak mengerti. "Bukankah dengan mata telanjang kita sudah bisa melihat bintang?"
Sasuke menarik Sakura untuk mengintip ke teleskopnya. "Ini beda, Sakura. Kau juga pasti belum pernah melihat bintang dari teleskop kan?"
"Belum." Sakura menyipitkan matanya dan mengintip dari teleskop. "Wah, Sasuke, ini indah sekali! Aku tidak tahu mana yang lebih indah, dilihat dari teleskop atau tanpa teleskop. Besar, juga lebih berkilau!" Sakura berdecak kagum. Sakura mengalihkan pandangannya ke Sasuke yang berdiri di sebelahnya.
"Coba lihat yang itu." Sasuke menunjuk ke sebuah arah di langit. Tangannya membentuk garis-garis khayal. "Itu rasi bintangku, Leo."
"Mana?" Sakura masih mengintip ke teleskop.
"Jangan lihat dari teleskop. Dilihat biasa saja lebih puas."
Sakura beralih ke hamparan bintang. "Coba, yang mana?"
"Yang di sana, Sakura." Sasuke menunjuk lagi rasi bintangnya. "Leo."
"Hmm.. Kalau rasi bintangku? 28 Maret?"
"Sebentar." Sasuke mengedarkan pandangannya, mencari rasi bintang Sakura. "Itu dia." tunjuk Sasuke.
"Yang mana sih? Banyak sekali bintangnya!"
Sasuke meraih tangan Sakura, dan mengarahkan ke langit. "Itu."
"Kau tahu banyak tentang bintang, ya?" puji Sakura.
"Tidak, aku cuma amatiran. Hanya untuk kesenangan saja. Aku tidak ada niat untuk memperdalamnya."
Sakura hanya bergumam, "Hm.." dan kembali menekuni bintang. Sementara Sasuke hanya menengadah melihat bintang tanpa alat.
Sepuluh menit setelah terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing, Sakura menemukan sebuah bintang yang menarik perhatiannya. Ia memberitahu Sasuke tentang 'penemuannya'. "Sasuke, lihat!"
"Hn?"
"Itu, lho! Bintang yang terang di sana!" Sakura menunjuk bintang yang dimaksudnya. Sasuke mengangguk tanda ia melihat bintang yang dimaksud Sakura. "Lalu?"
"Bagus, ya? Berkelip-kelip, indah kan? Aku yakin kau belum pernah melihat bintang seindah ini!" seru Sakura ceria. "Eh, Sasuke?" tanya Sakura ketika menyadari Sasuke tidak menjawab. Ternyata Sasuke sedang melihat ke arahnya.
Sasuke menatap dalam mata Sakura. Sakura terdiam, tak mampu berkata-kata karena tatapan Sasuke. Ia tidak dapat mengalihkan perhatiannya. Sasuke berkata, "Kau salah."
"Hah? Apanya?" Sakura mengernyitkan dahinya sedikit.
Sasuke tiba-tiba menggenggam tangan Sakura. "Aku pernah melihat bintang yang lebih indah dan lebih memesona daripada yang itu. Kau." Sakura tak berkutik.
Sakura bisa merasakan tangan Sasuke yang sedikit basah, mungkin karena keringat? Tapi tangan Sasuke terasa hangat. Sasuke juga kelihatan gugup. Sakura blushing, jantungnya berdetak tak karuan. "Sa... Sasuke?"
"Sakura." Sasuke makin mengeratkan genggamannya. "Aku mencintaimu..." dan Sasuke pun menyatakan cintanya.
Sakura terkejut, "Apa katamu?"
Sasuke sedikit menuduk malu, "Kumohon, Sakura. Maukah kau jadi kekasihku?"
Oke, sekarang Sakura benar-benar kaget. Ia lupa bagaimana caranya bernapas. Refleks ia melepaskan tangannya dari genggaman Sasuke. Melihat reaksi Sakura, Sasuke mengira Sakura menolaknya. Hati Sasuke hancur. Tapi ia terkejut bercampur bingung melihat air mata yang mengalir di pipi Sakura. "Sakura?"
"Sakura?" ulang Sasuke saat Sakura tak menjawab. Sakura menutup wajahnya dengan telapak tangan. Sasuke mendekati Sakura cemas, "Sakura? Ma-maaf. Seharusnya aku tahu kau tidak mungkin membalas perasaanku. Aku tidak akan memaksamu. Jangan menangis, Sakura."
Sakura menggeleng dan menghapus air matanya. "Bukan itu..."
"Lalu?" tanya Sasuke tak sabar.
Sakura menengadah, "Ku kira.. ku kira... cuma aku yang merasakan ini. Aku tidak menyangka kau juga memiliki perasaan yang sama. Kau tahu? Aku memotong rambutku sebagai usahaku melupakan rasa ini. Aku tahu, aku sadar diri bahwa aku bukan siapa-siapa. Aku tidak sebanding dengan fansgirlmu yang cantik-cantik itu."
Sasuke merasakan secercah harapan untuknya dalam kata-kata Sakura. "Jadi? Kau belum menjawab permintaanku tadi."
Sakura menunduk malu. "Ya, aku mau jadi kekasihmu. Aku juga mencintaimu. Aishiteru." Astaga, muka Sakura pasti sudah semerah tomat sekarang.
Sasuke terdiam sebentar. Tiba-tiba ia memeluk Sakura. Erat, erat sekali. Seakan tidak ingin melepas Sakura. "Bodoh.." bisik Sasuke tepat di telinga Sakura. "Bodohnya kau berusaha melupakan perasaanmu sendiri. Kau merasa dirimu bukan siapa-siapa, kau salah besar. Bagiku, kau, Sakura, kau jauh, jauh lebih cantik dari fansgirlku. Kau adalah hal terindah yang pernah ada di hidupku. Bukan juga bintang-bintang di atas sana. Kau adalah anugerah terbaik dan terindah yang pernah kudapatkan seumur hidupku, selamanya. Yang paling aku inginkan di dunia ini adalah dirimu. Aku mencintaimu selamanya, Sakura Haruno."
Sakura blushing saat desahan napas Sasuke menggelitik telinganya. Ia membalas pelukan Sasuke. "Aku juga mencintaimu, Sasuke Uchiha." bisik Sakura sambil tersenyum. Sungguh, ia bahagia sekali. Harapannya terkabul. Perasaannya terbalaskan. Sasuke Uchiha, terima kasih...
Sasuke melepaskan pelukannya. Tersenyum senang pada Sakura. Sakura salah tingkah, menunduk malu. Tangannya sendiri ia genggam erat sebagai pelampiasan rasa malu dan gugup. Sasuke mengangkat dagu Sakura dengan tangan kanannya. Kembali Sakura terhipnotis dengan mata onyx Sasuke. Sasuke juga tertegun melihat mata emerald Sakura.
Sasuke mendekat, memajukan wajahnya. Kemudian mencium bibir Sakura lembut. Tanpa ragu ia melepaskan tangan Sakura yang saling mengait sama lain dan melingkarkan tangan Sakura ke lehernya. Sasuke memeluk pinggang Sakura. Tiada jarak, tubuh saling menempel. Mata mereka terpejam, menikmati setiap ciuman.
Detak jantung bersahut-sahutan. Debarannya terasa. Sakura meremas rambut Sasuke, membuatnya berantakan. Sasuke membelai rambut Sakura yang kini pendek dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya masih di pinggang Sakura. Ciuman hangat, lembut, dan lama. Terasa sangat manis. Mungkin karena ini adalah ciuman pertama mereka. Pengalaman pertama mereka.
"Cukup, Sakura." Sasuke melepaskan ciumannya perlahan. Nafasnya tinggal satu-satu. "Aku butuh pasokan oksigen baru."
Kini wajah Sasuke dan Sakura memerah. Kemudian mereka saling melempar senyum sayang. "Aku juga hampir mati kehabisan nafas," sahut Sakura. Kemudian mereka terdiam, bermain dengan pikiran sendiri.
"Yang tadi..manis..." gumam Sasuke pada dirinya sendiri.
"Sasuke? Ka-kau mencium bibirku tadi?" tanya Sakura untuk memastikan dirinya tidak bermimpi.
"Hn? Ya. Kenapa, kau mau lagi?" tawar Sasuke sambil menyeringai.
'Ya Tuhan, aku tidak tahan seringaiannya yang seksi itu!' Inner Sakura menjerit-jerit histeris.
Sakura blushing, "Ti-tidak, terima kasih. Jantungku belum normal lagi, nanti kalau ak-hhmmmpp!" Sasuke mengiterupsi kalimat Sakura dengan ciumannya. Dan ciuman babak kedua pun terjadi. Ciuman ini lebih lama, juga lembut sekali. Sasuke mencium Sakura penuh rasa sayang.
Sakura mendorong pelan Sasuke. "Berhenti, Sasuke."
"Kenapa? Aku masih belum puas." desah Sasuke.
"Aku hampir saja mati kehabisan napas, tahu!" geram Sakura. "Kau mau merenggut nyawaku pelan-pelan ya?"
Sasuke menarik napas dan membuangnya. Tersenyum. "Tentu saja tidak. Hidupmu adalah hidupku. Kalau kau mati, aku juga akan segera menyusulmu. Aku masih sayang nyawa."
Sakura tertawa sedikit. "Kau terlalu banyak menggombal."
Sasuke duduk di atas rumput yang agak lembab. Melihat ke arah langit. Sakura duduk dan menyandarkan kepalanya ke dada Sasuke yang bidang. Ia ikut melihat langit yang bertaburan bintang.
Dalam posisi seperti ini, Sasuke dapat mencium aroma tubuh Sakura. Berusaha mengingat aroma Sakura yang harum. Tidak pernah ditemuinya seseorang yang memiliki aroma khas seperti ini. Sasuke mendekap Sakura untuk menjaganya dari angin.
"Sakura?"
"Hmm?" Sakura terlihat sangat nyaman dalam dekapan Sasuke.
"Kau tahu tidak?"
"Tidak."
"Dengarkan dulu aku sebelum aku selesai bicara," Sasuke berpura-pura marah. Sakura tersenyum lebar, "Baiklah, Sasukeku sayang. Apa yang ingin kau katakan?"
Sasuke menggenggam tangan Sakura. Tetap memandang bintang-bintang di langit, ia menjawab. "Aku bahagia hari ini. Akhirnya aku menjadikanmu milikku."
Sakura blushing –lagi-. Ia tidak menanggapi pengakuan Sasuke tadi. Reaksinya cuma semakin mendekatkan dirinya, merasakan kehangatan Sasuke.
"Sampai besok, Sakura." Sasuke mengecup kening Sakura sayang. "Mimpi indah." Sakura merona. "Tapi, besok kan hari Minggu? Kita baru pergi lagi hari Senin, Sasuke."
"Oh. Kalau begitu, sampai jumpa hari Senin, Sakura." ulang Sasuke. Sakura mengangguk. Setelahnya, ia mencium pipi Sasuke sekilas. "Terima kasih. Hari ini menyenangkan sekali." Sakura keluar dari mobil dan masuk ke rumahnya.
Sasuke tertegun. Sakura Haruno... tadi mencium pipinya? Sasuke cuma menggelengkan kepala cepat untuk menghilangkan debaran di jantung dan pergi menuju kediaman Uchiha.
Sakura membuka pintu rumahnya. Ruangan depan gelap, lampu dimatikan. Tidak perlu dicek lagi, ia yakin ibunya sudah tepar di lantai ruang keluarga. Tidak ada Jiraiya, ayahnya, karena sedang pergi ke Otogakure. Sakura mengendap-endap masuk ke kamarnya. Ia menjinjing sepatunya agar tidak menimbulkan suara ketika ia melangkah.
Tiba-tiba lampu menyala. Sakura menoleh ke arah dimana terletaknya saklar lampu dan menemukan ibunya berdiri di sana.
"Kaa-san, belum tidur?" tanya Sakura berbasa-basi.
"Belum. Aku menunggumu pulang. Apa saja yang kalian lakukan?"
Sakura mengalihkan pembicaraan. "Kaa-san tidak minum? Biasanya kan Kaa-san ketiduran kalau sudah minum, apalagi wine?"
Tsunade menatap Sakura tajam. "Aku belum minum. Sekarang, apa yang kalian lakukan?"
Sakura menunjukkan sifat keras kepalanya. "Apa hak Kaa-san untuk ingin tahu? Aku tidak melanggar jam batas pulang, aku pulang dengan selamat, dan Kaa-san sudah berjanji tidak akan ikut campur dengan urusanku dan Sasuke."
"Bukan itu maksudku!" Tsunade melangkah maju. Saat sudah di depan Sakura, ia menjelaskan maksudnya. "Maksudku, apa kalian sudah jadian?"
Sakura terjengkang ke belakang. "What the (sensor)? Apa maksud Kaa-san mengatakan itu?" Inner Sakura menangis-nangis meratapi nasib memiliki ibu yang sangat mengenali putrinya.
"Kalian sudah jadian kan?"
"Kaa-san jadi stalker ya tadi?"
"Tidak, aku di rumah saja kok."
"Jadi, bagaimana Kaa-san tahu?" Oo. Sakura keceplosan.
"Cuma mengetes. Ternyata benar! Kau sudah jadian dengan Sasuke!" Tsunade melonjak-lonjak kegirangan.
Inner Sakura menyumpah-serapahi Tsunade yang sudah menjebaknya. Ternyata Tsunade memang belum tahu kalau ia dan Sasuke berpacaran. Kaa-sannya memanfaatkan kata-katanya. Ia juga menyesali dirinya yang tadi keceplosan.
"Ceritakan pada Kaa-san!" Tsunade menarik-narik tangan Sakura seperti seorang anak kecil yang meminta balon pada ibunya. Sakura menepis tangan Tsunade, dan dengan cepat ia masuk ke kamar. Dikuncinya kamarnya agar Tsunade tidak bisa masuk.
Untuk urusan yang seperti ini, ia benar-benar tidak mau berbagi dengan ibunya.
"Tadaima..." Sasuke membuka pintu rumah. Sunyi, sepi. Tidak ada yang menjawab. Ini sudah biasa baginya. Sasuke menaiki tangga dan masuk ke kamar. Sedikit kaget bercampur gusar sebab menemukan Itachi sedang tidur-tiduran di atas tempat tidurnya.
"Aniki! Apa yang kau lakukan di kamarku?" seru Sasuke marah. "Keluar sekarang juga!"
Itachi memeluk boneka tomat pajangan meja belajar Sasuke. "Aku cuma ingin mengobrol malam sebelum tidur denganmu, Sasu-chan."
Sasuke menahan amarahnya. "Pertama, aku lelah. Kedua, aku sudah besar. Jangan panggil aku dengan embel-embel chan. Ketiga, keluar sekarang juga!"
Itachi bangkit, duduk di tepi tempat tidur. "Tadi kau ke mana?"
Sasuke membalas ketus. "Bukan urusanmu."
"Pasti kau pergi dengan Haruno itu kan?" Itachi memandang dengan tatapan hey-aku-kakakmu-sopanlah-sedikit pada Sasuke.
"Kalau sudah tahu, untuk apa bertanya? Menyebalkan." gerutu Sasuke.
"Aku belum tahu," jawab Itachi jujur. "Please, please, beritahu anikimu yang bodoh ini apa yang kau lakukan tadi."
Sasuke tersenyum sinis. "Jadi kau mengakui kalau kau bodoh?"
"Tidak. Cepat beritahu aku, aku tidak akan keluar sebelum kau beritahu!"
Dua alasan. Sasuke memang lelah dan ia memang membutuhkan seseorang untuk berbagi. "Oke, dengarkan."
Itachi memasang telinganya lebar-lebar. Sasuke bercerita. "Aku mengajak Sakura pergi... awalnya kami tidak tahu mau pergi ke mana, tapi akhirnya kami pergi ke Amour Restaurant. Setelah itu, kami melihat bintang bersama. Lalu pulang. Dongeng selesai. Sekarang pergi."
"Aku belum puas, otouto! Pasti ada yang kau edit atau kau sembunyikan." Itachi memandang curiga pada Sasuke. Sasuke langsung salah tingkah. Mukanya memerah mengingat ia tadi menyembunyikan bagian yang paling menarik. Itachi sumringah, "Bingo! Ada yang kau sembunyikan. Aku tahu itu, terpampang jelas dimukamu. Maukah kau ceritakan?"
"Tidak akan!" seru Sasuke kesal. Ditariknya Itachi keluar, lalu mengunci pintunya dari dalam. Sasuke meremas rambutnya dan berbaring di tempat tidur.
Kisah ciuman pertamanya... Ciuman pertama Sakura... Ciuman pertama mereka... cukuplah ini jadi rahasia mereka berdua saja. Yang manis, yang menyenangkan, yang membuat degupan jantungnya tak karuan. Biar jadi rahasia saja. Tidak perlu orang lain mengetahui ini.
-Tsudzuku...-
Holllaaa, minna-san! Adegan ciuman Sasusaku, AnnZie teringat fic AnnZie yang Karena Cinta. AnnZie suka banget ide ciuman malem-malem dibawah bintang. Makana AnnZie masukkan juga di Sweetheart. Untuk chapter-chapter selanjutna, bakalan bercerita tentang konflikna *Readers: Lha, jadi dari kemaren2 belum konflik juga?*
Gimana adegan ciumanna? Bikin nosebleed ga? AnnZie nggak berniat untuk mengseriusi adegan ini di fic Sweetheart. Takutna kepeleset di rating M, kayak fic The Love Meter chapter 5. Sumpah, waktu itu hampir aja kejeblos –bahasa apa ini?- ke rate M!
Langsung aja ke lokasi acara balasan review! Thanks banget yah buat yang udah ngikutin Sweetheart dan mau mereviewna. Tambah dong yang review, hayo, pasti banyak silent readers kan? Udah, yang ga punya acc kan bisa review juga sih? Klik dong ah! *lebay*
Risle-coe: Bukan, Risle. Yang ada GaaSasoSasuSaku –bleh. Panjangan lagi kan? *bangga?* Xie xie buat reviewna, review lagi ya... ^^
Ella-cHan as NaGi-sAn: Yeaaah! *niupin terompet* Angstna kerasa! Cihuuy! *joget gaje* Gaara mungkin bakal muncul chapter depan, tapi AnnZie nggak bisa janji ya. Soalna susah juga tiga pria ngerebutin satu cewek. AnnZie masih harus mikir-mikir scene yang seru dulu. Nantikan terus Gaara muncul, hanya di Sweetheart, channel 1 FFN! *iklan program tv?* Makasih reviewna, review lagi ya Ella! ^^
Micon (chapter 2) : Eh, eh, Micon kan repyuhwer aktif di FFn, kenapa nggak bikin acc aja? Nggak usah bikin fic, tapi kan namana jadi tetap. Nggak pernah nonton tv? Ah, masa? Kalau gitu sama dong, AnnZie pernah satu tahun nggak nonton tv. Sekarang mulai lagi babak dua nggak nonton tv, udah jalan 3 bulan. Hiks..hiks.. nggak bisa nonton bola~ Halah, jadi curhat. Arigatou gozaimasu 4 d' ripiu, ripiu lagi ya Micooon!^^
Micon (chapter 3) : Boleh deh, Zie-chan. Daripada An-chan, kedengeran kayak nama anjing bagi AnnZie. Wkwkwk... Hah, nggak kerasa? *down to the earth* Rencana mau bikin banyak! Pingin lebih dari sepuluh deh! Matur nuhun reviewna, review lagi ya..^^
pick-a-doo: Jadian dong, ada ciplokanna lagi! Nosebleed ga? Kalo iman Doo kuat pasti enggak, nyehehe. Thanks reviewna, review lagi ya, Doo! ^^
Uchiha Sakura97: Yah, AnnZie juga belakangan ini cuma baca tapi nggak review. (sok) Sibuk. Tapi kasihan juga sih sama author yang bikin ficna. Xie xie buat reviewna, review lagi ya..^^
FiiFii Swe-Cho: Iiih, kok senang sih mereka berantem ngerebutin cewek secantik (cuih) Sakura? FiiFii nungguin terus ya? Wah, hati AnnZie berbunga-bunga bank *?* nih, ada yang mau setia menunggu Sweetheart.. Makasih ya reviewna, review chapter 4 ya, FiiFii! ^^
beby-chan : Beby-chan kenapa sih? Semua kalimatna diakhiri 'hehehehe...'. AnnZie ikutan ah, hehehehe... Angstna dapet? Makasih, hehehe... Padahal AnnZie pemula loh buat genre Angst, hehehe... Iya, iya, AnnZie juga suka scene Sasuke nemuin Sakura, hehehe... Hehehehe... Arigatou gozaimasu buat udah ngereview chapter 3, chapter 4 di review lagi ya... Hehehehe... ^^v (peace!)
Vhie-chan: Vhie-chan, maaf ya sebelumna, tapi AnnZie mau tanya, apa Vhie reader baru FFn? Soalna, di FFn kan biasa banget AU. Maaf! Ficna AnnZie bagus ya? Aduuh, blush blush blush bah. Nggak bisa, AnnZie geer... DX Fic yang Sasukena datar, sempat juga beberapa minggu lalu terpikirkan. Tapi susah, lho! Banyak author yang nggak bisa ciptain karakter Sasuke yang kayak gitu. Kan, Sasuke jutek ma Sakura, tapi dia juga cinta mati ma Sakura. Nah lho? Satu hal yang sangat bertolak belakang kan? AnnZie usahain bikin deh! Matur nuhun sudah review, chapter ini review lagi ya Vhie! ^^
Azuka Kanahara: Karena Sasorina dokter yaaa? *ikutan cengir* Sabar terus ya, nungguin Sweetheart sampai habis.. Thanks reviewna, Azuka ikutin terus kan? Review chap 4 ya.. ^^
Yusha'chan Higurashi: Keungkap apana nih? Genrena bukan misteri kok. Makasih reviewna! Review lagi ya, Yusha-chan! ^^
Uchiharuno Rin: Terima kasih sudah di fave. Promosiin sama temen-temen Rin yang lain ya fic Sweetheart-na. Kan lumayan nambahin review. Rin author baru ya? Manggil senpai gini, jadi malu. Tapi AnnZie selalu suka kalo dipanggil senpai, palagi ma temen2 AnnZie di sekolah. Thanks reviewna, review chapter 4 ya! Kan udah di fave, jadi wajib ngikutin~^^
Je-jess: Aih? Kamu suka muka Sasuke yang cemburu? Sama! *tos-tosan* Banyak yang bilang nih mereka sama-sama suka, benarkah? AnnZie sendiri nggak nyangka reader sekalian ngerti kalo mereka emang sama2 suka. Matur nuhun reviewna, review terus, ok? ^^
Rosly23ryuu-chan: Siapa kamu manggil-manggil AnnZie 'kak'? Kamu bukan adikku! *durhaka mode:ON* Eh, eh, jangan anggap serius yang itu, itu candaan aja, bener. Daripada manggil kak mending manggil senpai. Lebih Japanese gituh XP. Fic AnnZie bagus ya? Di fave dunkz.. *ngerengek2* Makasih reviewna, review yang ini lagi ya, Ryuu!^^
Ame chocoSasu: Ok, nidia updetanna! ^^
Jiah! Makan 30 halaman Ms. Word! Rekor baruku~
Kalau suka di-fave dong... ;)
To review Sweetheart chapter 4, click here minna-san!
