Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
The Wizards Sequel is Mine, Chocoaddicted
Warning: Typo, Miss-typo, AU, OOC, dll, dsb, dst...
.
.
.
행복한독서
Haengboghan Dogseo! ^^
Selamat membaca! ^^
.
.
.
Chapter 4: Uchiha Junior?
Cowok berambut pirang acak-acakan sedang memandang bosan pemandangan dari atas balkon mansion-nya. Ini adalah hari kelima di mana ia merasa sangat bosan sekali seumur hidupnya. Biasanya setiap bangun tidur ia akan langsung menemui ketiga sahabatnya di dapur untuk sarapan bersama, terkadang manajer mereka—Kakashi, juga ikut bergabung. Tapi sudah lima hari ia sarapan bersama Kakashi dan Shizune saja. Sementara ketiga sahabatnya masih sibuk liburan, yang dua bulan madu dan yang satu ada urusan keluarga.
"Fiuuuuh~" Naruto mengembuskan napas hingga pipinya menggembung. Sangat menggemaskan! Lalu ia melirik ke kanan dan kiri, kemudian kembali mendesah, "kapan sih kalian pulang? Aku sudah bosaaaaan!" teriak Naruto.
"Jangan teriak pagi-pagi, Naruto!" omel Shizune yang kini sedang berjalan ke arahnya sambil membawa sebuah majalah di tangan.
Naruto mendecih setelah melihat Shizune datang mengganggu ketenangan paginya, tapi bagi Shizune justru Narutolah yang mengganggu ketenangan paginya.
"Coba kau baca ini!" seru Shizune sembari memberikan majalah yang tadi ia pegang.
"Apa itu?"
"Majalah."
"Iya aku tahu!" dengus Naruto dan menyambar majalah di tangan Shizune dengan kesal.
Naruto tahu itu majalah tapi maksud cowok penambuh drum di The Wizards Band ini ingin bertanya untuk apa Shizune menyuruhnya membaca majalah itu? Tapi, sepertinya Si Dobe agak kesulitan menyampaikan maksudnya dalam sebuah kalimat tanya yang efektif.
"NANI? Gaara akan keluar dari The Wizards karena akan menikah dengan seorang gadis anak pengusaha nomor satu di Suna?" pekik Naruto dengan suara menggelegar. "Ini pasti hoax! Iya, PASTI!" serunya sambil menunjuk-nunjuk artikel tersebut.
"Itu bukan hoax, Naruto."
Naruto mendengar suara seseorang yang menjawab seruannya tadi langsung menoleh dan melihat Kakashi yang sedang duduk santai di kursi sambil membaca novel mesumnya.
"Maksudmu apa, Kakashi-nii?" tanya Naruto.
"Berita Gaara akan menikah dan keluar dari The Wizards memang benar, Gaara sudah mengkonfirmasi padaku. Tapi, Gaara tidak mau keluar dari The Wizards," sahut Kakashi. Naruto semakin bingung dengan perkataan Kakashi yang berputar-putar.
"Maksudmu apa sih? Aku tidak mengerti."
"Haaaaah~" Kakashi menghela napas sambil menunduk pasrah. Naruto memasang wajah cengo, "sebenarnya yang menyuruh Gaara keluar dari The Wizards adalah ayahnya dan Gaara menolak hal tersebut."
"Lalu berita soal pernikahannya, apa itu juga karena Ayahnya?" tanya Shizune yang juga penasaran, ia dan Naruto sekarang sudah duduk mengapit Kakashi di kanan-kirinya. Kakashi mengangguk tanpa mengalihkan matanya dari deretan huruf di novel mesum itu.
"Apa Gaara menyetujuinya?" tanya Naruto dengan antusias.
"Dia masih memikirkan hal tersebut," sahut Kakashi.
Naruto berdecak sambil memukul telapak tangannya dengan pelan. "Sudah kuduga! Ia mana mau dijodohkan seperti itu!" serunya, lalu ia melirik Shizune dan Kakashi, "lalu, kalian kapan menikah? Umur kalian sudah sangat cukup untuk menikah!" Shizune dan Kakashi membatu mendengar celetukan Naruto.
"Ehem!" Kakashi berdehem pelan, dan tanpa memandang Naruto ia menjawab, "kami akan menikah setelah kau menikah, Naruto." Shizune yang mendengar ucapan Kakashi langsung mengeluarkan semburat merah di wajah.
Naruto bangkit dari duduknya dan menghadap Kakashi juga Shizune yang masih duduk. "Kalau begitu kalian akan menikah tahun depan juga dong? Soalnya aku dan Hinata akan menikah tahun depan setelah Hinata wisuda," lagi-lagi Kakashi dan Shizune membatu mendengar ucapan Naruto, "hari ini aku akan main ke rumah Hinata, hubungi aku jika ada job!"
Naruto berlalu meninggalkan Kakashi dan Shizune yang saling melirik sambil tersenyum canggung. Pasangan yang aneh…
.
.
.
.
.
.
Gaara memainkan gitar sambil menulis sesuatu di atas kertas partitur, ia sedang membuat lagu. Sepertinya tidak mudah menyuruh Gaara keluar dari The Wizards karena darah seni sangat mengalir kental di tubuhnya.
Tok. Tok. Tok.
"Masuk!" tanpa mengalihkan konsentrasinya, Gaara menyuruh orang yang mengetuk pintu untuk masuk dan muncullah seorang gadis yang tiga hari lalu telah resmi menjadi tunangannya.
"Gaara-kun, kau sedang apa? Sepertinya sangat sibuk," ucapnya sambil mengambil tempat duduk di samping Gaara.
"Membuat lagu," sahutnya singkat.
Matsuri menghela napas, "Aku ke sini karena di suruh oleh Ayahmu."
"Aa..."
"Aku tahu kau tidak menginginkan perjodohan ini, aku juga sama sepertimu. Aku masih ingat betul saat kau bercerita tentang temanmu yang akan dijodohkan oleh Ayahnya, ternyata itu kau sendiri," Matsuri terkikik pelan membayangkan Gaara yang berbohong dulu saat pertemuan pertama mereka di oase, "tapi aku juga sudah bilang padamu kalau aku jadi kau, aku pasti langsung kabur dari rumah."
"Lalu kenapa sekarang kau tidak kabur dari rumah?" tanya Gaara dengan dingin.
"…" Matsuri terdiam sesaat, "Aku tidak tahu kalau aku akan dijodohkan, dan malam itu saat orang tuaku menyuruhku berdandan yang cantik, aku hanya menurut saja karena kukira aku akan makan malam bersama rekan bisnis ayah seperti biasa.
"Tapi, ternyata malam itu juga aku ditunangkan denganmu. Aku tidak menduga hal tersebut dan tidak bisa berbuat apa-apa. Apa kau menyesal sudah bertunangan denganku?" tanya Matsuri dengan raut wajah yang sedih namun ia coba tutupi.
Gaara menghentikan kegiatannya memetik gitar. Sabaku yang satu ini tidak menjawab pertanyaan Matsuri. Ia bingung dengan dirinya sendiri. Ia bisa saja menolak dan langsung kembali ke Konoha saat malam pertunangan itu, tapi ia tidak melakukan hal tersebut.
Matsuri yang melihat Gaara terdiam berasumsi jika Gaara sangat menyesali pertunangan mereka. Matsuri pun bangkit dari duduknya dan menatap Gaara dengan sendu.
"Aku mengerti, Gaara-kun. Kau punya hak untuk memutuskan pertunangan ini. Aku pamit dulu," ucapnya dan mencoba memaksakan senyuman di bibir.
Sejak malam itu ia—Matsuri, mengetahui akan ditunangan dengan Sabaku No Gaara yang notabennya adalah idola Matsuri sejak awal debut The Wizards, Matsuri sangat bahagia sekali. Cintanya kepada Sang Idola akan tersampaikan. Tapi, sepertinya kali ini ia harus mengubur dalam-dalam rasa cinta itu karena Sang Idola sangat tidak suka dijodohkan. Mengembuskan napas berat, Matsuri memegang kenop pintu dan siap membukanya.
"Aku tidak menyesal," ucap Gaara membuat Matsuri terdiam di tempat masih memunggungi Gaara, "aku juga tidak mengerti. Setidaknya aku ditunangkan dengan gadis yang sudah kukenal sebelumnya," sambungnya.
Matsuri tersenyum dan membalikkan badan menghadap Gaara, "Kau serius?"
Gaara tersenyum dan mengangguk. Matsuri segera berjalan cepat dan duduk kembali di samping Gaara dengan badan menghadap Gaara.
"Kalau begitu aku akan bicara pada paman agar beliau berhenti menyuruhmu keluar dari The Wizards!" serunya dengan senyum lebar.
"Terima kasih. Tapi, meskipun kita menikah nanti, tidak akan ada perubahan personil di The Wizards," ucap Gaara.
Wajah Matsuri memanas mendengar ucapan Gaara barusan, refleks ia menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah, "Ja-jadi kau sudah menyetujui pernikahan kita?" tanyanya malu-malu, "dan menolak keluar dari The Wizards?"
Gaara meletakkan gitarnya di sandaran sofa, lalu mengacak lembut rambut Matsuri seperti yang suka ia lakukan dulu pada Sakura. Matsuri agak kaget saat merasakan sentuhan tangan Gaara di kepalanya.
"Semalam aku sudah bicara dengan Ayahku. Dan beliau sepertinya sudah menyerah memisahkanku dengan The Wizards," ucap Gaara lembut.
Lagi-lagi ia tidak mengerti kenapa ia menerima pernikahan mereka yang baru akan direncanakan bulan depan. Menurutnya Matsuri adalah gadis baik yang tidak neko-neko. Tapi ia belum begitu yakin apa ia mencintai gadis ini?
Matsuri mengangkat wajahnya dan menggenggam tangan Gaara yang masih ada di kepala Matsuri, "Cinta akan tumbuh karena terbiasa, Gaara-kun. Kuharap kau bisa merasakan itu padaku nanti setelah kita menikah. Dan aku akan setia menunggu hal itu," ucapnya dengan tersenyum lembut.
Gaara terperangah melihat kesungguhan Matsuri. Dia tidak salah menerima perjodohan ini dan ia akan mencoba membuka hatinya untuk yang lain. Karena cinta tanpa harus memiliki sangat menyakitkan.
"Terima kasih," gumam Gaara.
.
.
.
.
.
.
"Ng~"
Sakura menggeliat dan perlahan membuka kelopak mata. Ia merasa sesak saat bernapas dan saat menoleh ia melihat suaminya yang membenamkan kepalanya di leher Sakura, sementara tangan juga kakinya memeluk Sakura dari belakang—menjadikan Sakura guling kesayangannya.
Sakura bergerak hingga posisinya yang miring menghadap jendela menjadi terlentang. Sasuke yang merasakan pergerakan dari Sakura makin merapatkan diri dengan istrinya. Sakura menghela napas panjang. Ya, kejadian seperti ini sering ia dapatkan ketika ia bangun tidur, Sasuke selalu tidak mengizinkannya bangun kecuali Sasuke juga mau bangun.
"Sasu-koi, sudah pagi. Kita harus siap-siap untuk kembali ke Konoha," kata Sakura dengan lembut, namun tidak ada jawaban dari Sasuke.
Sakura mulai kegerahan sekarang. Bagaimana tidak kegerahan? Cahaya matahari masuk ke dalam kamar hotel itu hingga menerpa kulitnya, sedangkan ia masih berselimutkan selimut tebal ditambah Sasuke memeluknya dengan erat. Demi stick drum-nya Naruto, ia ingin keluar dari tempat panas ini dan berendam di bathup, pasti menyegarkan mengingat badannya penuh peluh semalam karena ulah suaminya.
Mengingat kejadian semalam membuat pipi Sakura merona. Ia memang sudah melakukan 'itu' berkali-kali dengan Sasuke setelah malam pertama mereka, tapi tetap saja ia malu jika kembali terbayang dengan kejadian 'itu'. Ah~ sekarang Sakura benar-benar merasa gerah karena pipinya memanas.
"Sasuke-koi, ayo bangun!"
Sasuke tidak bergerak sedikit pun. Kelopak matanya tertutup rapat dan wajahnya terlihat sangat tenang. Sakura jadi berpikir jika Sasuke benar-benar masih tidur dengan lelap.
Sakura tersenyum melihat wajah malaikat Sasuke saat tertidur, ia memutuskan untuk tidak membangunkan suaminya yang tercinta itu. Gadis, err wanita ini mencoba melepaskan tangan Sasuke yang melingkari perutnya. Dengan perlahan dia mencoba duduk dan melepaskan kaki Sasuke yang berada di pahanya. Sakura menghela napas lega dan bergerak perlahan untuk turun dari tempat tidur.
Tap.
"Akhirnya~" batin Sakura sambil menghela napas lega.
Greb!
"Kyaaaaa!"
Baru saja Sakura menapaki lantai, tangannya ditarik Sasuke hingga Sakura kembali terjatuh di ranjang. Sasuke langsung mengambil posisi di atas Sakura, menyangga tubuhnya dengan kedua tangan yang diletakkan di samping kiri dan kanan leher Sakura. Pria ini menyeringai.
"Sa-Sasuke-koi, a-aku mau mandi," ucap Sakura terbata-bata karena jujur saja ia selalu terpesona saat suaminya yang tampan di atas normal itu menatapnya penuh hasrat.
"Hn?" Sasuke menaikkan sebelah alisnya bermaksud menggoda Sang Istri yang lugu.
"A-aku mau mandi, di sini panas sekali, aku kegerahan," sahut Sakura sambil mengipas-ngipaskan mukanya yang memerah dengan telapak tangan. Sakura menghindari bertatap mata dengan Sasuke, ia mencoba melihat apa saja asal jangan wajah Sasuke, dan itu membuat Sasuke tambah menyeringai.
Sasuke mengelus pipi Sakura dengan lembut membuat Sakura merinding dan menelan ludahnya. Entah mengapa jika Sasuke sudah berbuat lembut seperti ini, firasat Sakura jadi tidak enak.
"Nanti saja mandinya bersamaku, hime." Sasuke berbisik di telinga Sakura dan sesekali meniupnya membuat Sakura bergidik.
"A-aku bi-bisa mandi sendiri kok, Sasu-koi!" tolak Sakura dengan muka yang benar-benar sudah memerah.
"Jangan pernah menolakku, hime…" bisik Sasuke di telinga Sakura dengan jarinya yang terus membelai wajah cantik Sakura. Kali ini Sakura benar-benar menelan ludahnya dengan paksa.
"Jika kita sudah kembali ke Konoha, kita akan sibuk dengan show kita. Jadi nikmatilah saat ini," lanjut Sasuke dan kini ia menatap Sakura dengan lembut. Sakura terpana melihat onyx yang lembut itu, ia mudah sekali terjerat dalam pesona iris mata hitam milik Suaminya.
Sakura mengangguk. Entahlah, ia selalu mengangguk jika sudah terhipnotis dengan onyx Sasuke. Sasuke yang melihat Istrinya sudah menurut kini tersenyum manis. Ah~ lagi-lagi Sakura merona melihat senyum manis seorang Uchiha Sasuke yang juteknya minta ampun.
"Kalau begitu, selamat pagi, Sakura-koi."
"Selamat pagi, Sasu—hmmppp!"
Yaaah~ rutinitas wajib mereka di setiap pagi kini sedang dijalankan. Morning kiss.
Sasuke dengan lembut memagut bibir Sakura penuh rasa cinta namun makin lama berubah makin bergairah dan penuh hasrat ingin memiliki. Bahkan mereka bertarung dalam mulut dengan lidah mereka dan saling bertukar saliva.
"Haaahhhh~" Sakura mengambil napas selagi ia masih punya kesempatan ketika Sasuke melepas pagutannya di bibir Sakura.
"Sepertinya tanda merah ini masih kurang, hime," tunjuk Sasuke pada leher Sakura yang ada beberapa kissmark di sana. Sakura merasa geli saat jari jemari Sasuke berjalan di lehernya. Dalam hati Sakura berdoa agar Sasuke melepaskannya.
"Baiklah, aku akan menambahnya lagi!" Sakura membulatkan mata mendengar ucapan Sasuke.
"Kyaaaa!" dan berikutnya Sasuke sudah menyerang Sakura dengan ciumannya yang penuh gairah.
Belum hilang rasa pegal-pegalnya semalam, sepertinya Sakura akan pegal-pegal lagi bahkan mungkin akan sulit berjalan nanti mengingat bagaimana saat ini suaminya yang tercinta itu menyerangnya tanpa ampun.
.
.
.
.
.
.
Naruto melambaikan tangan ketika ia melihat seseorang berambut merah muncul di bandara. Kekasihnya yang berada di samping Naruto hanya tersenyum lembut. Shizune dan Kakashi yang berada di sana juga hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Naruto yang hiperaktif itu.
"Gaara! Di sini!" teriak Naruto hingga membuat beberapa orang menengok padanya dan mereka berbisik-bisik sambil menunjuk Gaara dan Naruto.
Gaara tersenyum melihat teman-temannya sudah menjemputnya di bandara. Ia pikir ia akan ke mansion sendirian, ternyata mereka menjemputnya.
"Akhirnya kau pulang juga, aku bosan sendirian datang ke acara-acara TV dan radio!" seru Naruto setelah melepaskan pelukannya dari Gaara.
"Bukankah kau selalu ingin lebih terkenal dari aku dan Sasuke?" goda Gaara dengan senyum yang menurut Naruto adalah senyum jahil.
"Tapi, tetap saja tidak menyenangkan jika sendirian. Si Teme juga paling lagi asyik berduaan sama Sakura-chan, mereka betah sekali di Okinawa! Padahal seharusnya mereka kembali ke Konoha itu kemarin!" gerutu Naruto dengan mengerucutkan bibir membuat gadis-gadis yang melihat tingkahnya jadi menjerit karena gemas.
"Mereka belum kembali?" tanya Gaara. Kakashi dan Shizune mengangguk.
"Keasyikan honey moon." Kakashi berucap sambil membaca novel mesumnya.
"Tapi, jika dia belum kembali hari ini juga, aku akan ke sana dan menyeret mereka kembali!" seru Shizune yang gemas karena ulah pengantin baru itu, ia dan Kakashi terpaksa meng-cancel beberapa job mereka yang sudah ada di jadwal. Akibatnya mereka di tegur oleh Yamato—Sang Direktur, dan dihadiahi sebuah ancaman untuk dipecat jika tidak membawa Sasuke dan Sakura pulang secepatnya.
Gaara hanya tersenyum mendengar keluhan Shizune. Shizune melirik Kakashi yang masih saja sibuk membaca novel mesumnya. Tak segan-segan ia menginjak kaki Kakashi hingga membuat Kakashi mengaduh kesakitan sambil mengusap-usap kakinya.
"Aduh! Ada apa sih Shizune?" tanya Kakashi dengan menahan kesalnya.
"Kau bisa bersikap setenang itu sedangkan kita diancam akan dipecat oleh Direktur Yamato, heh? Kau sudah menghubungi Sasuke untuk segera pulang belum?" omel Shizune sambil berkacak pinggang.
"Iya aku sudah menyuruh Sasuke cepat pulang. Tapi kau tenang saja, Yamato tidak mungkin memecat kita," sahut Kakashi dengan enteng.
"Mudah sekali kau bicara!" Shizune menendang kaki Kakashi membuat Kakashi kembali mengaduh. Sementara ketiga orang lainnya sweatdrop melihat tingkah pasangan ini.
"Kyaaaa! Itu 'kan Sasuke-kun!"
"Kyaaaa! Sakura-chan tambah cantik saja!"
"Mereka ke sini!"
Jeritan gadis dan laki-laki itu membuat kelima orang yang sedang berdiri di bandara segera menoleh dan mencari-cari sosok Sasuke ataupun Sakura. Akhirnya mereka melihat pasangan itu berjalan sambil menyeret koper.
"Sakura-chan! Teme!" teriak Naruto sambil melambaikan tangan.
Teriakan Naruto yang cukup—bahkan sangat keras itu membuat Sasuke dan Sakura mengedarkan pandangan mereka mencari asal suara. Sasuke yang lebih tinggi dari Sakura tentu saja dengan mudah dapat menemukan Naruto di antara puluhan orang yang mulai datang mengerubunginya.
Sasuke menggenggam tangan Sakura dan membawanya menuju Naruto dan yang lain. Sakura agak tersentak kaget, namun kemudian ia tersenyum manis sambil terkadang menyapa para penggemar yang mencoba mengerumuni mereka. Sasuke melepas tangannya yang menyeret koper dan membuka kacamata hitam untuk memandang kelima orang yang ia tidak sangka ada di bandara juga.
"Kenapa kalian ada di sini?" tanya Sasuke dengan datar dan memandang ke lima orang di depannya. Mata Sasuke menangkap koper yang Gaara bawa, "kau sudah kembali dari Suna?" tanya Sasuke pada Gaara. Gaara mengangguk sebagai jawaban.
"Sasuke! Kau jangan bertindak seenaknya dong! Akibat ulahmu aku jadi pusing mencari cara untuk menghadapi sponsor yang marah karena kau meng-cancel janji yang sudah disepakati!" omel Shizune.
"Hn?"
"Grrrr! Sasuke!"
"Gomennasai, Shizune-nee! Kami terlambat pulang karena aku sakit kemarin. Gomennasai, ini bukan salah Sasuke," Sakura membungkukkan badannya berkali-kali pada Shizune membuat Shizune yang tadi marah-marah lalu melihat wajah memelas Sakura jadi menelan kata-kata yang ingin ia keluarkan.
"Memangnya kau sakit apa, Sakura?" tanya Gaara.
"Akh! Itu…" Sakura melirik Sasuke yang memasang wajah datarnya.
"Sasuke tidak berbuat kasar padamu 'kan, Sakura-chan?" tanya Naruto yang menghampiri Sakura. Sakura menggeleng.
"Me-memang kau sa-sakit apa, Sakura-chan?" tanya Hinata yang sejak tadi diam saja.
"Aku…"
"Kau sepertinya sudah membaca novel dariku ya, Sasuke?"
Sasuke memakai kacamatanya dan menyeret Sakura dari kerumunan itu. Mendengar ucapan Kakashi membuatnya mengeluarkan semburat tipis merah muda. Ia tidak mau jika ada salah satu di antara mereka yang melihat seorang Uchiha merona.
"Eh? Sasuke-koi!" pekik Sakura yang kaget karena Sasuke menarik tangannya dan menyeretnya keluar dari bandara. Kelima orang yang melihatnya hanya melongo.
"Sasuke kenapa?" tanya Naruto.
Kakashi yang melihat reaksi Sasuke barusan jadi tersenyum geli. Ia sepertinya akan punya cara baru untuk menggoda Uchiha dingin yang satu itu. Ia merasa lega karena hadiahnya dapat bermanfaat bagi Sasuke. Fufufu…
.
.
.
.
.
.
Dua tahun kemudian…
"Tatatata."
"…"
"Tatatatata!"
"…"
"Oweeeeeekkk oweeeeeekkk!"
Puk!
"Oweeeeeekk~!"
Ceklek!
Wanita berambut merah muda yang memakai celemek berwarna hijau lembut dengan motif polkadot baru saja membuka pintu kamar yang besar. Ia segera menuju ranjang satu-satunya di mana terdapat dua orang yang paling disayanginya sedang terbaring di sana.
Wanita itu segera menggendong bayi yang baru berusia tujuh bulan dalam pelukan dan menimang-nimangnya. Ia menghela napas berat saat melihat satu manusia lagi yang berbaring menyamping dengan menutupi telinganya dengan bantal berbungkus kain berwarna biru.
"Sasuke-koi," panggilnya lembut mencoba membangunkan laki-laki yang sedang terbaring dengan menghadap ke jendela.
"…"
"Sasuke-koi, ayo cepat bangun dan sarapan. Setelah itu kita harus pergi ke pernikahan Gaara dan Matsuri," ucapnya namun lagi-lagi tidak mendapat respon apapun.
Wanita ini akhirnya duduk di tepi ranjang dan menatap wajah suami tercinta yang sedang memejamkan mata. Saat berusaha menyentuh pundak Sang Suami, bayi yang berada dalam gendongannya menarik-narik rambut merah mudanya membuatnya sedikit kesakitan, namun juga gemas melihat bayinya sendiri.
"Ichigo-chan, kau sepertinya tidak sabar untuk sarapan, ne?" tanyanya pada bayi imut dengan wajah reflika ayahnya.
"Papapapa~" Sakura terkikik kecil saat bayi itu menyahut perkataannya. Tangan Ichigo mencoba meraih sesuatu yang mengambang di udara. Lucu sekali!
Sakura kembali melirik suaminya yang masih setia di atas ranjang. Tiba-tiba terlintas sebuah ide di otaknya. Wanita ini melirik Sasuke dan Ichigo bergantian, lalu tersenyum aneh.
"Ichigo-chan, kau tidak sabar bertemu dengan Gaara ji-san dan Naruto ji-san, ne? Mereka pasti akan mengajakmu bermain dengan baik dan menjagamu dengan lembut. Mereka juga pasti tidak tega membiarkanmu menangis kelaparan."
"..."
"Tatatatata~"
"Hai, hai! Satu jam lagi kita berangkat menemui mereka kok, Ichigo-chan. Kau sudah merindukan mereka? Nanti kita akan bermain sepuas—"
Puk!
Bantal yang sejak tadi menutupi kepala berambut raven itu terjatuh ketika lelaki itu terbangun dari posisi tidurnya. Ia—lelaki itu, menatap sepasang ibu dan anak yang sedang menatapnya dengan tatapan polos yang benar-benar membuat mereka imut.
Sasuke memandang anaknya yang sedang memasukkan jempolnya ke dalam mulut dan menatap ayahnya yang baru saja bangun. Sebenarnya sosok pria dewasa itu sudah terbangun semenjak bayinya berada di atas ranjang dan menganggu kedamaiannya dalam tidur yang akhir-akhir ini jarang ia dapatkan.
Matanya beralih pada sosok istrinya yang sedang menatapnya dengan polos. Ia mendengus dan menatap tajam istrinya membuat Sakura menelan ludah karena merasakan aura yang tidak enak dari Sasuke.
"Belajar dari siapa kau memanas-manasiku?" tanya Sasuke dengan suara yang dingin.
Glek!
Sakura menelan ludahnya (lagi) dan mengalihkan pandangannya ke arah lain karena takut dengan tatapan mengerikan dari suaminya itu. Sasuke yang melihat hal tersebut mendengus tidak suka.
"Kau tahu semalam aku bekerja hingga jam tiga pagi, mengaransemen lagu baru untuk album The Wizards? Aku butuh istirahat, Sakura!" ucap Sasuke dengan datar namun tatapan matanya sangat tajam, bahkan terlihat menyeramkan karena memiliki kantung mata yang hitam.
"Tapi, kita harus datang ke pernikahan Gaara dan Matsuri," sahut Sakura dengan melirik Sasuke takut-takut. Sakura ngeri melihat wajah Sasuke yang sangat menyeramkan.
"Kau saja yang datang!" Sasuke merebahkan dirinya lagi di atas kasur dan mencoba memejamkan mata.
Sakura menghela napas panjang dan segera bangkit dari duduknya. Ia melangkah menuju pintu kamar untuk membuka dan menutupnya kembali. Setelah Sasuke merasa bahwa Sakura dan bayinya tidak ada lagi di dalam kamar, ia menghela napas lega.
Rasa kantuk kembali menyerangnya. Sasuke dengan setengah kesadaran sudah memasuki alam mimpinya. Pria penyuka buah tomat ini tidak menyadari jika pintu kamar kembali dibuka oleh seseorang. Sasuke juga tidak menyadari jika orang tersebut sudah duduk di atas ranjang dan tersenyum lembut padanya.
Sasuke menggerakkan alis saat merasakan sesuatu menjilati bibirnya dengan lembut. Karena rasa penasaran yang hebat, Sasuke terpaksa membuka kelopak matanya yang baru terpejam beberapa menit dan ia melihat Sakura sedang menciumnya.
Mata Sasuke membulat saat mendapati istrinya yang tidak pernah agresif selama mereka menikah kali ini berlaku agresif. Sasuke bahkan berpikir jika yang ia lihat sekarang ini adalah sebuah mimpi. Namun, pagutan-pagutan itu terasa nyata dan membuat Sasuke menarik kesimpulan kalau ia tidak sedang bermimpi.
Sakura melepaskan bibirnya yang sudah hampir lima menit memagut bibir Sasuke. Tampak rona merah di wajahnya yang cantik dan kemudian ia tersenyum manis pada Sasuke.
"Ohayou, Sasuke-koi. Gomen sudah membuatmu marah, tapi kumohon kau ikut ke pernikahan Gaara dan Matsuri, ya?" mohon Sakura dengan mata memelas.
Sasuke menatap datar emerald Sakura yang berada di hadapannya. Ia mengamati wajah Sakura yang sudah berubah menjadi lebih dewasa dan makin hari makin cantik membuatnya semakin betah untuk berlama-lama memandangnya.
Sakura merasa grogi saat Sasuke terus memandangi wajahnya yang berada di atas wajah Sasuke. Sakura menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga dan mencoba duduk dengan posisi yang baik—tidak berada di atas Sasuke. Namun, Sasuke menahan kepalanya dan menyerangnya dengan ciuman yang lembut.
"Ng~ Sasu-koi!" Sakura berhasil melepaskan pagutan bibir Sasuke. Ia mencoba bangun namun Sasuke memeluknya dengan erat.
"Mau ke mana?" tanya Sasuke dengan suara yang lebih lembut.
Sakura tersenyum dan mendongakkan kepala yang berada di dada Sasuke untuk memandang wajah Sasuke, "Tentu saja bersiap-siap pergi ke pernikahan Gaara. Kau juga ikut pergi ke sana 'kan, koi?" tanyanya dengan puppy eyes.
Sasuke mengembuskan napasnya pelan. Bagaimanapun Gaara adalah sahabat yang sudah seperti saudaranya sendiri. Tidak mungkin ia tidak datang 'kan? Yang ia katakan tadi untuk menyuruh Sakura pergi sendiri adalah bohong, karena ia tidak mungkin mau membiarkan istrinya yang cantik digoda atau dekat-dekat dengan pria lain. Ia hanya ingin tidur sebentar saja, namun tangisan Ichigo membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Bagaimana bayi itu tidak menangis jika ayahnya menatap si bayi dengan matanya yang tajam? Sasuke memang tipe orang yang cuek, ia bahkan tidak terlalu—tidak bisa—sering mengajak Ichigo bermain. Ayah yang satu ini memang sangat kaku terhadap anak kecil namun ia sangat menyayangi anaknya.
"Hn," sahut Sasuke malas. Sakura tersenyum lebar mendengar ucapan Sasuke, "tapi, berikan aku morning kiss yang lebih panjang dari biasanya."
Dan Sasuke pun menyeringai melihat wajah Sakura yang memerah dibuatnya. Dengan tanpa aba-aba Sasuke memagut bibir Sakura penuh sayang dan Sakura membalas kecupan-kecupan Sasuke dengan lembut. Hidup mereka terasa sudah lengkap dengan cinta yang selalu bersemi dan juga kehadiran Ichigo yang menjadi permata kehidupan pasangan muda itu.
Sasuke melepaskan pagutan bibirnya dan memandang wajah Sakura yang memerah padam. Ia mengusap wajah istrinya dan tersenyum lembut.
"Aku akan mandi. Kau tunggulah di bawah,"
Sakura mengangguk dan beranjak dari atas tubuh Sasuke setelah suaminya melepaskan pelukannya di pinggang wanita itu.
.
.
.
.
.
.
Sasuke membukakan pintu mobilnya untuk Sakura. Wanita bersurai merah muda itu keluar dari mobil sambil menggendong Ichigo yang terus berceloteh riang. Keduanya memandang gereja yang ramai oleh tamu undangan Gaara. Sasuke merangkul pinggang Sakura mesra dan memasuki gereja. Ketiganya langsung disambut oleh kilatan blitz kamera wartawan.
Sakura tersenyum ramah dan Ichigo terlihat kaget, namun kemudian bayi itu tertawa melihat blitz kamera. Sasuke yang berada di samping istri dan anaknya tersenyum tipis. Ia merasa sangat bahagia.
"Aku jadi ingat dengan pernikahan kita, Sasuke-koi," ujar Sakura lembut.
"Hn. Aku juga," Sasuke menatap Sakura dan Ichigo dengan lembut, "terima kasih sudah menjadi bagian hidupku," tambah Sasuke dengan mengusap pipi Sakura dan jarinya yang lain digenggam oleh Ichigo.
"Dadadada," Ichigo berucap menggemaskan membuat Sasuke dan Sakura tertawa.
Tidak jauh dari mereka Naruto sedang berdiri bersama Hinata yang sedang hamil enam bulan. Kakashi dan Shizune yang berangkulan mesra. Yamato yang tersenyum bangga pada anak asuhannya. Dan Gaara serta Matsuri yang bersiap melempar buket bunga.
Saat buket bunga yang dilempar Matsuri melayang, Ichigo berseru kencang. Sakura dan Sasuke memandang buket bunga mawar putih yang melayang di udara. Tanpa ada yang bisa menebak, buket itu jatuh tepat di atas tangan Sasuke. Semua mata memandang ke arahnya dan juga Sakura.
"Sepertinya akan ada Uchiha junior yang baru," Sasuke menyeringai mesum menatap Sakura yang sudah memerah malu.
"Papapapa~" Ichigo menepuk tangannya dengan tertawa riang seolah menyetujui ucapan sang ayah.
.
.
.
.
.
.
The end
.
.
.
.
.
.
Area bacot author:
Tamat dengan nggak jelasnya. Hahaha... ternyata chapter ini udah membusuk di laptop ane dari tahun 2012 dan bodohnya ane nggak pernah ngecek lagi. Jadi, maafkanlah ane ya readers-sama! :D
Setidaknya ane udah berhasil namatin penpik yang satu ini. Buat yang udah nungguin ane minta maaf banget dan terima kasih banyak karena kalian udah rela pm ane, review ini penpik biar dilanjutin dan ternyata lanjutannya cuma sampe segini. Maaf yak kalau mengecewakan.
Boleh minta reviewnya? Arigatou, ne!
Jaa~ :D
