Penampilan seorang Seijuurou terlihat berbeda daripada biasanya. Setelan pakaian rancangan desainer ternama yang melekat di badannya tampak awut-awutan, diperparah dengan aura 'siap menerkam' yang menguar darinya. Reo berkali-kali menghela nafas saat melihat keadaan atasannya. Dengan penuh keraguan, Reo menghampiri sang pemimpin Akashi Corp, menyerahkan beberapa lembar dokumen tawaran kerjasama dari perusahaan lain untuk diperiksa lebih lanjut sembari bertanya,
"Sei-chan tidak apa-apa kan?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu, Reo? Tentu saja aku tidak apa-apa. Aku adalah Akashi Seijuurou yang selalu berada pada performa terbaik."
"Untuk kali ini, aku tidak sepakat dengan kata-kata Sei-chan. Sei-chan berada pada tingkatan level sebaliknya, kondisi Sei-chan hari ini adalah kondisi terburuk yang pernah aku lihat. Jika Sei-chan mau, aku akan mengatur ulang kembali pertemuan perusahaan kita dengan Seirin Enterprise di hari lain."
Seijuurou merespon niat mulia Reo dengan mendengus. Kenapa semua orang hari ini menanyakan hal yang sama padaku? Apa aku sebegitu parahnya sehingga semua orang meragukan kinerjaku? pikir Seijuurou.
"Apakah keberadaan benang merah itu adalah penyebab dari ketidakfokusan Sei-chan hari ini?" tanya Reo terus terang sambil menunjuk ke arah jari manis kiri bosnya. Seijuurou memejamkan mata perlahan kala mendengar pertanyaan Reo. Pikirannya kembali mengenang pertemuan terakhirnya dengan pemuda yang merupakan 'belahan jiwa'nya. Air mata yang menetes dari kedua netra indah itu membuat Seijuurou sesak. Dia sangat paham sikapnya sangat kasar dan bahkan Daiki mendeklarasikan perang terbuka apabila dirinya kembali menyakiti sahabatnya itu. Seijuurou hanya berupaya menyampaikan pada lelaki bersurai langit cerah musim panas itu bahwa dia tidak tertarik menjalin hubungan karena adanya 'benang merah' yang mengikat mereka.
"Sei-chan...Sei-chan.." panggilan Reo menyadarkan Seijuurou. Wajah panik Reo adalah pemandangan pertama yang dilihat Seijuurou kala itu.
"Sei-chan, gawat! Sepuluh menit lagi, pimpinan Dewan Komisaris tiba di kantor kita." Seijuurou tersentak. Hal yang paling ingin dia hindari saat ini adalah bertemu dengan Kepala Dewan Komisaris yang tidak lain adalah ayahnya sendiri. Dengan gerak sigap, Reo merapikan penampilan Seijuurou –yang merupakan langkah tepat.
Beberapa menit kemudian, pintu ruangan Seijuurou diketuk, menampilkan seorang pria berusia lebih dari setengah abad, memiliki warna rambut serupa dengan Seijuurou dan kedua netra rubi tajam yang siap menilai siapapun di hadapannya.
Reo yang mendampingi mantan orang nomor satu di Akashi Corp itu kemudian pamit undur diri, memberikan kesempatan kepada ayah anak itu bercakap-cakap.
"Ada hal penting apa yang membuat Otou-sama mampir ke sini?" tanya Seijuurou to the point. Seijuurou sangat paham kehadiran ayahnya yang terbilang jarang tersebut bermakna ada sesuatu penting yang ingin dibicarakan dengannya.
"Selalu langsung ke tujuan ya. Tak sia-sia, aku membesarkanmu. Aku hanya ingin mengetahui kabarmu saja. Sudah lama sekali, aku tak lagi melihatmu mengunjungiku di mansion. Apakah sesibuk itu kah dirimu sehingga tak sempat menjenguk orang tua renta ini?"
Seijuurou menghela nafas. Inilah alasan kenapa dia menghindari untuk bertemu dengan ayahnya. Ayahnya selalu mendramatisir keadaan. Seijuurou selalu berupaya menyempatkan diri mengunjungi ayahnya di Kyoto apabila memang ada waktu luang. Bahkan, minggu lalu dia berniat ke Kyoto untuk memeriksa kantor cabangnya sekaligus mengecek kabar ayahnya, yang terhalang dengan pesta pertunangan Daiki dan Ryouta.
"Otou-sama jauh-jauh ke Tokyo tidak hanya untuk memeriksa keadaanku kan?" tanya sinis Seijuurou yang ditanggapi tertawa kecil oleh ayahnya.
"Baiklah. Aku hanya ingin menawarkan padamu sebuah pertemuan informal dengan keluarga Mayuzumi. Kulihat kau sedang tidak menjalin hubungan dengan siapapun dan tidak berniat mencari soulmate. Jadi, kau tidak keberatan kan untuk mendampingiku makan siang dengan keluarga Mayuzumi besok?"
"Apakah Otou-sama berniat menjodohkanku dengan pewaris Mayuzumi Publishing? Bukankah sudah kukatakan berulang kali bahwa aku tak ingin dikekang dengan mitos soulmate maupun perjodohan. Biarkan aku mencari sendiri siapa pasanganku nanti." ungkap getir Seijuurou. Ayahnya menyorot pandangan tajam, pertanda tak sepaham dengan pemikiran Seijuurou.
"Sampai kapan, Seijuurou? Aku takkan ada di dunia ini selamanya. Biarkan aku melihat upacara pernikahan putraku sebelum aku menutup mata terakhir kalinya." Kata-kata sang ayahanda membuat batin Seijuurou terguncang. Seijuurou bukanlah sosok berhati dingin yang tidak bereaksi saat ayahnya berucap mengenai keinginan terakhirnya.
"Kau tahu apa pesan terakhir yang dititipkan Shiori kepadaku? Dia ingin aku untuk mengadakan pesta pernikahan seindah mungkin saat dirimu berhasil menemukan belahan jiwamu. Tapi, hal itu sulit untuk dilaksanakan karena prinsip bodohmu. Kau tak ingin terbuai dengan mitos soulmate bla bla.. Kalau memang hatimu tak suka dengan belahan jiwa tersebut, terserah! Tapi, setidaknya berikan kesempatan untuk hatimu memilih siapa yang tepat mendampingimu nanti."
Seijuurou gamang. Kata-kata ayahnya membobol keras kepalanya.
"Seijuurou, kalau memang suatu saat, kau menemukan sosok yang kau sangat cintai dan juga sangat mencintaimu setelah aku mati nanti, aku akan tetap bahagia, nak. Namun, saat ini aku sungguh khawatir karena kau sama sekali tidak memikirkan hal tersebut. Terbesit di pikiranku, bahwa kau mungkin berniat membujang seumur hidup, dan hal itu membuatku gelisah. Manusia itu adalah makhluk sosial, Seijuurou. Tak mungkin kau akan hidup bahagia selamanya tanpa seseorang di sisimu. Teman-temanmu takkan menemanimu selamanya karena mereka memiliki kehidupan mereka masing-masing. Kuharap kau dapat memikirkan hal tersebut secara matang."
Setelah menceramahi, sang kepala keluarga Akashi berucap bahwa dia harus pergi karena memiliki janji dengan rekan kerjanya semasa muda, meninggalkan Seijuurou yang bergelut dengan berjuta pikiran.
XXX
Sushi bar lokasi pertemuan keluarga Akashi dan Mayuzumi tampak lenggang dari biasanya. Seijuurou berkali-kali menyeruput secangkir sake, berupaya untuk menghilangkan kecanggungan dirinya dengan putra keluarga Mayuzumi, Chihiro. Sedangkan kedua kepala keluarga ternama di Jepang itu malah asyik reunian di meja lain, mengabaikan kedua putra mereka.
Dehaman berat Chihiro menyadarkan Seijuurou dari lamunannya. Dia lalu memandang pria bersurai abu-abu di hadapannya lantas merespon,
"Ada yang ingin kau tanyakan, Mayuzumi-san?"
Melihat sikap Seijuurou yang kaku, Chihiro kemudian tersenyum tipis dan menatap lekat lawan bicaranya itu.
"Kudengar putra keluarga Akashi tidak percaya dengan soulmate serta membenci perjodohan. Kenapa orang yang sama itu berada di hadapanku sekarang?"
"Aku ada disini dengan niat menaati keinginan Otou-sama, jadi jangan berharap lebih padaku." jawab sinis Seijuurou. Mendengar jawaban arogan dari Seijuurou malah membuat Chihiro tertawa keras. Dia sungguh jatuh cinta pada prilaku dominan Seijuurou. Dalam hatinya, Chihiro berjanji untuk membuat lelaki di hadapannya itu takluk pada dirinya.
"Jadi, kau tidak masalah apabila dijodohkan padaku? Sungguh sebuah kehormatan apabila pria yang sering menghiasi cover majalah bisnis di Jepang berpasangan denganku."
"Kau boleh sesumbar menyimpulkan makna dari pertemuan ini. Tapi, tanamkan dalam benakmu itu! Aku pantang menyerah mencari pasangan yang aku cintai sepenuh hati. Pertemuan ini hanyalah salah satu upaya Otou-sama untuk mendesakku menikah."
"Oh...aku terharu mendengar kalimatmu, Akashi-san. Tapi, bolehkah aku berharap diriku ini menjadi kandidat pasanganmu itu?" tanya Chihiro to the point.
"Terserah kau saja." jawab ketus Seijuurou. Tak sanggup lagi bertahan lama menghadapi Chihiro, Seijuurou lalu memohon diri untuk berpamitan dengan alasan bahwa dia memiliki janji dengan salah satu rekan bisnisnya. Chihiro tanpa berbasa-basi meminta nomor kontak Seijuurou dan berharap bahwa mereka akan bertemu lagi secepatnya.
XXX
Beberapa menit setelah pertemuan dengan keluarga Mayuzumi, Satsuki menulis pesan dan meminta Seijuurou untuk bertemu dengannya di salah satu restoran cepat saji. Ajakan Satsuki tersebut diiyakan oleh Seijuurou karena dia membutuhkan teman diskusi. Saat ini dia sedang gelisah, pembicaraannya dengan Otou-sama membekas pada dirinya. Selain itu, ingatannya pada pemuda bersurai biru muda yang terluka juga tak bisa lepas dari benaknya.
Sesampainya di Maji Burger, Seijuurou bergegas mencari Satsuki, yang ternyata telah menunggunya di pojok restoran.
"Ah..Akashi-kun. Aku tak menyangka kau menerima ajakanku untuk bertemu. Kukira Akashi-kun sedang sibuk sehingga tak bersedia berjumpa denganku." celoteh wanita berambut merah muda itu pada Seijuurou. Pandangannya berbinar-binar melihat kedatangan Seijuurou.
"Aku baru saja menemui salah satu kandidat yang dijodohkan oleh Otou-sama, Satsuki. Jadi, sekalian searah saja aku menuju kantor untuk menemuimu. Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Duh..Akashi-kun..Jangan jutek gitu! Aku paham Akashi-kun pasti kesal sehabis pertemuan tersebut. Aku hanya ingin meminta Akashi-kun untuk berpartisipasi pada kegiatan bakti sosial bersama dengan anak-anak kurang beruntung daerah Tokyo. Kegiatannya akan diselenggarakan lusa siang hari di taman kanak-kanak sekitar sini. Apakah Akashi-kun bersedia?"
"Aku tak janji untuk dapat hadir di kegiatan tersebut. Akan tetapi nanti aku akan menyuruh Reo untuk memberikan sejumlah dana agar kegiatanmu dapat terlaksana."
"Ehmm..sebenarnya Akashi-kun. Aku saat ini sedang tidak meminta bantuan dana padamu karena banyak sponsor yang menyokong kegiatan ini. Aku hanya berharap kehadiranmu karena aku sedang kekurangan tenaga relawan. Kalau Akashi-kun merasa bahwa hal ini sia-sia, anggap saja sebagai bentuk pencitraan bahwa Akashi Corp peduli pada masyarakat." jelas Satsuki yang ditanggapi tatapan aneh oleh Seijuurou. Seijuurou merasa Satsuki hanya berdalih karena memaksakan kehendaknya. Pria bermata belang itu lalu menghela nafas, tak ingin berdebat lagi.
"Baiklah, akan aku usahakan."
"Yeah! Terima Kasih, Akashi-kun."
XXX
Lusanya, Seijuurou hadir pada kegiatan bakti sosial. Dia tiba di lokasi sepuluh menit lebih awal dari perkiraan acara akan dimulai. Dengan gestur percaya diri, pria bersurai merah menyala itu mendekati salah satu panitia acara, menanyakan keberadaan Momoi Satsuki.
"Momoi-san bersama para guru-guru sedang merapikan barisan anak-anak di dalam kelas. Saya dititipi pesan oleh Momoi-san apabila Akashi-san tiba, anda diminta untuk menempati posisi disana dan bersiap untuk membagikan lunch box pada anak-anak.
Seijuurou pun beranjak menuju tempat yang disiapkan untuknya. Tak lama kemudian, barisan anak-anak berusia 3-4 tahun didampingi oleh masing-masing orang dewasa keluar dari gedung, berjalan menuju pos yang ditempati Seijuurou. Seijuurou membagikan jatah makan siang kepada peserta kegiatan bakti sosial itu lengkap dengan senyum bisnis yang biasa ia praktekkan. Terlalu asyik membagikan makanan serta sesekali menyapa anak-anak, Seijuurou tak sadar bahwa seseorang terkejut melihat sosoknya.
"Kenapa kau bisa ada disini?" tanya seseorang padanya, yang kemudian dilirik oleh Seijuurou. Terlihat pemuda berambut serta bermanik lautan disana. Tampaknya dia adalah salah seorang relawan yang mendampingi barisan anak-anak tersebut. Tanpa berpikir panjang, Seijuurou menganggap bahwa Satsuki adalah dalang di balik pertemuan mereka berdua.
"Hei. Selamat Siang. Apakah sehabis acara ini kau luang? Aku ingin mengklarifikasi maksud dari kata-kataku kemarin." ujar Seijuurou. Dia sedikit panik saat melihat sosok yang beberapa hari ini mampir di lamunannya sehingga dia hanya berucap apapun yang terlintas di pikirannya.
"Apabila anda tidak sibuk, saya juga ingin bertanya suatu hal pada anda. Ya, temui saya di Maji Burger setelah acara ini selesai. Mungkin anda akan menunggu lama karena saya harus memastikan semua anak-anak pulang dengan selamat."
"Oh, tidak apa-apa. Lagipula, aku telah mengosongkan agendaku hari ini."
Seusai membagikan makanan pada barisan anak-anak yang didampingi oleh lelaki yang terikat benang merah padanya, Seijuurou tak lagi fokus pada tugasnya. Berulang kali dia melirik ke arah pemuda itu. Entah kenapa, kehangatan yang terjalin antara lelaki bersurai biru muda itu dengan anak-anak membuat hatinya turut menghangat. Seijuurou tidak menafikan bahwa dia tertarik pada lelaki tersebut. Akan tetapi, berulang kali prinsipnya selalu terbayang sehingga dia bersikap kasar pada lelaki itu di acara pertunangan Daiki dan Ryouta.
Seijuurou lantas mengalihkan pandangannya kepada langit, yang mengingatkannya pada lelaki tersebut dan Seijuurou mulai menyukai warna langit.
Catatan Aoko :
Hai, jumpa lagi di chapter berikutnya. Aku bahagia saat melihat bahwa respon reader positif semua.. Semoga ficku menghibur ya..
Anyway, aku minta maaf apabila kalian merasa bahwa karakter Mayuzumi OOC juga karakter Masaomi baik disini :D
Ada alasan tersendiri mengapa aku membuat karakter mereka seperti itu..
Sekali lagi terimakasih bagi yg telah mem-follow, favourite, mereview hingga memfollow profilku yg abal abal.
Dukungan kalian semua sangat berarti bagiku.
Ditunggu juga komen-komen kalian yg lain...
See U at next weeks..
