Darah di telapak tangan, lengan, dan baju bukan berasal dari tubuhnya. Nafasnya memendek karena lelah, dan kakinya mulai melangkah tidak stabil. Entah sudah berapa banyak yang ia habisi hari ini, hitungan hilang karena tidak begitu peduli dengan jumlahnya.
"Kau masih tidak puas setelah aku menghabisimu kemarin?!" geram yang tertahan, tatapan mata yang tajam, dan kedua tangan yang tidak berniat untuk melepas kerah baju pemuda di hadapannya.
Dari sekian banyak musuh, yang tersisa hanya satu, dan ia tidak merasa berbaik hati untuk melepas pergi begitu saja mangsa yang selama ini menjadi incaran.
"Ha, haha ..., hahahaha, HAHAHAHA!"
Giginya beradu kesal karena respon yang didapat tidak diinginkan. Tangannya menghantam pemuda itu lagi dan lagi, tanpa ada rasa cukup.
"Kukatakan sekali lagi apa kau masih tidak puas setelah aku menghajarmu?!"
Pemuda itu menatap Sasuke sinis, lalu meludahkan darah yang ada pada mulutnya. "Bagaimana aku bisa puas? Selama ini yang kuinginkan adalah rubah tanpa lengan, dan kau kekasihnya si ular yang manis selalu berdiri di sini seolah-olah memiliki urusan dengan kami. Apa dia terlalu lemah untuk membalas dendam? Apa lukanya terlalu dalam hingga dia tidak mampu lagi menatap kami? Ah ..., Seandainya dulu kuhancurkan juga kakinya, dengan sisa peluru yang kumiliki."
Tidak ada lagi sahutan berupa verbal. Saat pupilnya membulat, tubuhnya lebih suka mendominasi untuk menghancurkan pemuda itu.
Tidak lagi peduli dengan apa yang terjadi nanti, ia memilih untuk membunuh saat ini juga. Akal sehatnya mulai menguap, sekitarnya terasa buram, bahkan ia tidak tahu jika sedari tadi ada sosok lain yang memerhatikan diam-diam.
"Kau akan membiarkannya membunuh kali ini? Hey, Naruto kau tidak akan membuatnya membunuh pria itu, bukan? Dia bisa dipenjara. Kau dengar aku tidak!"
Si pirang tersenyum tipis lalu meletakkan jari telunjuknya di bibir, tanda untuk diam. "Shika, kau pikir aku ini siapa? Sehari tanpa Sasuke hampir membuatku tidak waras, jika dia pergi aku bisa mati," sahutnya, "aku tidak membantu karena terikat janjiku pada Sasuke, lagipula siapa yang akan membuatnya kembali normal jika aku kembali seperti dulu, dan menghabisi tikus got seperti mereka?
Shikamaru menghela napas. "Kalian selalu membuatku gila, lakukan saja sesukamu. Aku mau pergi dari sini."
Naruto melambaikan tangan saat temannya pergi. Menghela napas saat bangkit dari atas tanah, dan membersihkan celananya yang kotor saat melangkah mendekat dengan senyuman lembut di bibir.
"Waktu bermain sudah habis!"
Kedua lengan menahan kuat tubuh Sasuke tanpa aba-aba, terbiasa karena sudah melakukannya berulang kali.
"Apa kau bisa mendengarku?"
Menariknya ke belakang dengan paksa, bahkan menyeretnya jika perlu karena tidak akan dilepas.
"Keadaanya akan bertambah parah jika kau tidak berhenti, Sasuke."
Menggunakan seluruh tenaga untuk si pucat yang masih saja memberontak, dan memaksa untuk kembali ke tempat semula.
"Uchiha Sasuke!"
"BERISIK!" geram disusul hantaman.
Tangannya mendarat tepat di wajah si pirang. Menodai wajah yang dikenalnya dulu selalu dipenuhi darah. Entah sudah berapa lama ia tidak melihat wajah itu, wajah yang membuatnya tertarik hingga tidak lagi bisa mengalihkan pandangan.
"N-Naruto?"
"Oh?" ujar si pirang tersenyum lembut, "akhirnya kau kembali normal, apa aku membuatmu lama menunggu?"
Keduanya saling menatap. Diam cukup lama hingga salah satu dari mereka ambruk, tidak mampu lagi bertahan dengan kedua kaki.
"Kau sudah berjanji," gumam Sasuke, sepasang kelopak matanya menutup perlahan. "Jangan menolongku, nanti kau terluka lagi."
"Bukankah, seharusnya itu janji yang kau tepati?" Naruto menatap iba, sebelum mengecup dahi Sasuke, dan membawanya ke dalam dekapan erat.
"Ayo kita pulang."
.
End
