*

* *

*

Quatre

*

**

*

Pagi hari…

"Yaaaang~~~ pernahkah kau beeeermimpi~~~kita berjalan seperti dulu lagiiiiiiiii~~~~"

Camus berulangkali menggelengkan kepala mendengar Milo yang sejak tadi menyanyikan lagu kesayangan Shura itu dari kamar mandi. "Milo, Milo...," gumamnya putus asa ketika ia melangkah menuju pintu kamar mandi dan mengetuknya. "Milo," tegurnya.

"Kita berceritaaa~~~ tentang laut—eeeh…Camus, ada apaan?? Kalo mau masuk bilang aja…"

"Berhenti ngejailin saya kenapa, sih?!" bentak Camus. Seperti yang sudah diduganya, Milo tertawa-tawa terbahak sambil memukul-mukul dinding kamar mandi.

Camus untuk kesekian kalinya mengumpat dalam hati menghadapi sahabatnya yang hobi sekali membuatnya marah itu…

Berawal dari penyebarluasan cerita bahwa Saint Aquarius dan Scorpio 'ada apa-apanya'… Camus ingat betapa marahnya ia saat mendengar isu tersebut, tapi Milo sebaliknya malah menanggapinya dengan antusias, juga sambil tertawa-tawa. Dan akhir-akhir ini si Scorpio itu malah keterusan mengerjai Camus dengan tema yang sama, hanya karena ingin membuatnya kesal.

"Berhenti nyanyi juga!" sergah Camus lagi.

"Lagunya enak, Camus," Milo membela diri. "Lagian kalo nggak pengen denger suara saya, keluar aja kek sana beli sarapan…"

"Ya udah, ya udah! Saya keluar!" gerutu Camus. "Awas ya kalo saya kembali nanti kamu masih nyanyi…," ia pun melangkah keluar kamar.

Milo, sementara itu, keluar dari kamar mandi setelah Camus pergi.

Raut wajahnya tiba-tiba berubah menjadi serius.

"Maaf, Camus…," gumamnya.

Pemuda yang sudah berpakaian lengkap itu segera melangkah menuju ransel Camus, mulai mencari-cari apa saja yang bisa menjelaskan mengapa sahabatnya bersikap murung dan memutuskan untuk pergi ke Perancis. Rupanya ia tadi memancing Camus untuk pergi agar dia bisa bebas menggeledah barang-barangnya…

"Maafkan saya…," gumamnya dalam hati. "Saya benar-benar ingin membantu…"

Di sela pencariannya, ponselnya berdering. Milo ingin mengabaikannya, tapi ia khawatir itu telepon dari Athena. Akhirnya ia pun mengangkat telepon tersebut, menjepitnya di antara bahu dan telinganya, lalu meneruskan pencariannya. "Halo?"

"MILOOOOOOOOO!!!!" suara-suara di seberang berteriak riang. Milo sampai harus menjauhkan ponselnya dari telinganya.

"Siapa sih ini?!" sergahnya.

"Ow my gossssshhh, Milooooo, aku kemaren lupa nitip lipstik Chanel nomor 34, warna peach melba gitu…tolong belikan yaaaa, itu adanya cuma di Paris! Eeeee, sama nitip tas Chanel KW 1, punyaku udah bolong-bolong."

Milo sweatdrop. Dari kalimatnya aja sudah bisa ditebak…

"Mi!" suara lain menyeletuk. "Gimana honeymoon-nya sama Camus?? Sukses??"

"Ngaco lo, Non…," gerutu Milo, disambut oleh tawa girang teman-temannya.

"Camus ada urusan," jelas Milo kemudian.

"Urusan apaan emangnya?" tanya suara lain, yang Milo kenali sebagai suara Aiolia.

"Gue juga nggak tau, lagi nyari tau, nih…"

"Kita semua nitip oleh-oleh ya, Milo," kata suara lain lagi, suara Aldebaran. "Khusus untuk saya, saya nitip: satu boks croissant cokelat, satu kaleng brownies keju, dua puluh éclairs saus vanilla, lima bungkus cokelat putih blok…"

Sepuluh menit kemudian…

"…sekotak besar mille-feuille, satu kotak kue madelaine, enam belas buah kue choux stroberi, satu kaleng cheesecake saus blueberry, sepuluh kilo buah anggur Perancis…"

Sepuluh menit selanjutnya…

"…sekilo bahan-bahan consommé soup, satu kilo bahan-bahan mousse jeruk, dua kotak Swiss roll, lima belas loyang pai aprikot, dua dus strawberry shortcake, dan satu kaleng brownies fudge."

…………

Milo sweatdrop seribu kali, sampai-sampai ia harus berhenti menggeledah barang-barang Camus sejak lima belas menit yang lalu…

"Ya ampun, Aldy…," gumamnya tanpa berkedip. "Lo mau nitip oleh-oleh ato mau buka usaha pastry…?"

"Dua-duanya…," sahut Aldebaran malu-malu.

"Ya, tapi gue nggak janji, ya…," Milo kembali meneruskan 'misi'nya, sekarang dengan cemas karena takut Camus kembali ke kamar sebelum ia sempat menemukan yang ia cari.

"Eh, btw," suara lain menyeletuk. Saga. "Camus tadi pagi-pagi buta telepon."

"Oh ya?"

"Iya, dia nanyain, apa ada foto yang jatuh di tangga-tangga dua belas kuil. Kita memang nemuin foto di tengah-tengah tangga kuil Leo. Ternyata punya Camus…"

"Foto apa?" tanya Milo penasaran.

"Foto anak kecil dengan dua orang dewasa. Anak kecil itu: Camus," sahut Aiolia. "Tiga-tiganya pakai topi ulang tahun kerucut warna biru."

"Terus, di belakang fotonya," kata Saga, "…ada tulisan bahasa Perancis…saya nggak ngerti artinya… Honfleur, le 2 Juillet. Avec l'amour, Camus, mere, et pere…"

Milo mengerutkan dahi, lalu segera mengambil kamus mini bahasa Perancis yang sengaja dibawanya, untuk berjaga-jaga kalau-kalau ia tersesat atau semacamnya. "Coba ulangi lagi, Saga…"

"Honfleur, le 2 Juillet. Avec l'amour, Camus, mere, et pere…"

Honfleur, 2 Juli. Dengan cinta, Camus, Ibu, dan Ayah…

"Kayaknya foto ini jatuh waktu Camus turun ngelewatin kuil Leo, waktu dia mau pergi kemarin," jelas Aiolia.

"Oh…," gumam Milo. "Hmmm…"

Apakah foto itu yang membuat Camus ingin pergi ke Perancis?

Tapi apa hubungannya…?

"Ya udah, gitu aja ya, Mi," kata Aiolia akhirnya. "Ntar Athena marah-marah kalo kita SLJJ lama-lama…"

"Iya…eh, makasih ya semuanya…," kata Milo tulus.

"Np, np…saran kita cuma satu, kok."

"Apa?" tanya Milo antusias.

"Baik-baik ya sama Camus, biar honeymoon-nya lancar…," kata Kanon manis.

Milo menyeringai frustasi mendengar tuduhan semena-mena itu, sementara semua temannya tertawa terpingkal sebelum menutup telepon.

Beberapa saat berlalu.

Pemuda bermata biru indah itu akhirnya memutuskan untuk mengembalikan barang-barang Camus ke tempatnya.

Gontai…

Tidak ada satu pun petunjuk. Yang ada hanyalah petunjuk dari teman-temannya tadi, itu pun ia hanya bisa membayangkan…

Di benaknya terus terngiang kata-kata le 2 Juillet…le 2 Juillet…hari apakah le 2 Juillet itu? Hari ulang tahunkah? Ulang tahun siapa? Ayah Camus…? Atau ibunya? Atau apa…?

Dengan pedih ia menyadari sesuatu… Rupanya selama ini ia belum benar-benar mengenal Camus…. Ia tidak tahu-menahu tentang kesusahannya, masa lalunya…. Memang, semua itu karena ia menghormati urusan pribadi sahabatnya, tapi tetap saja…sebagai sahabat ia merasa sedih dan tidak berguna…

Milo sedikit menerawang ketika melipat pakaian-pakaian Camus yang sudah diberantakinya.

Di saat ia sudah merasa putus asa, tangannya tiba-tiba menyentuh kantong di bagian dalam ransel Camus.

Milo sedikit mengeryit, merasakan ada sesuatu di dalam kantong tersebut. Ia pun segera memeriksanya. Ternyata, sebuah kertas yang terlipat-lipat kecil.

"Apa ini…?" gumamnya sambil membuka kertas itu dan meratakannya.

Mata birunya melebar, dan akhirnya meredup…pedih…setelah membaca isi surat itu…

*

**

*