Disclaimer: Naruto adalah milik Masashi Kishimoto

NG Life adalah karangan Kusanagi Mizuho

Warning: Segala macam salah EYD, alur super cepat, plot gaje, ooc, author newbie dalam mengarang, dan another version of Sasuhina pairing

bakalan ada sedikit kemunculan canon pairing (macam sasusaku dan naruhina) nantinya.

Terinspirasi oleh manga NG Life mengenai konsep reinkarnasinya, tapi tentu saja bakal dibuat beda.

don't like it then don't read it

By AcexDeuce

.

.

"Tadaima!" dengan kompak Sakuya dan sang Papa mengucapkan salam masuk rumah. Wajah setelah pulang mereka memperlihatkan ekspresi yang berbeda, sang papa seperti biasa, ekspresinya selalu terlihat bahagia saja sedangkan anaknya...cemberut.

Takuya memperhatikan ekspresi cemberut anaknya dengan senang, pasalnya sepanjang perjalanan pulang ia selalu menggoda Sakuya akan sikapnya terhadap Himeko. Terang-terangan gitu kalau mau PDKT, sindir Takuya di jalan. Alhasil Sakuya membalas dengan membanjiri kalimatnya dengan penuh kutukan untuk sang papa, yang membuat si papa sempat kaget bukan kepalang karena sikap anaknya dan kata-kata yang harusnya perlu diberi sensor, tambahnya. Tapi, melihat wajah merah sang anak, Takuya kembali tersenyum dan bersenandung sampai mereka tiba di rumah.

"Okaeri!" sahut Akiko dari dapur, kemudian menghampiri Sakuya dan Takuya yang tengah melepas sepatu, lalu mengambilkan alas kaki yang biasa digunakan di rumah untuk mereka.

"Sakuya-chan, bagaimana dengan sekolahmu tadi?" tanya Akiko, penasaran. Ini merupakan pertanyaan yang membosankan bagi Sakuya yang sudah ditanyai setiap ia pulang sekolah. Selalu ingin mengorek kehidupan sekolahnya. "Seperti biasa," jawab Sakuya pada mamanya dengan malas. Setelah mengganti alas kaki, Sakuya lalu berjalan duluan menuju lantai atas, meninggalkan papa dan mamanya yang masih berada di genkan menatap kepergiannya "Aku ke kamar dulu," ujarnya seraya menaiki tangga. Akiko menatap Takuya dengan wajah dihiasi bibir manyun karena perlakuan anaknya, berharap suaminya punya cerita yang menarik untuk didengarkan, dan ia sangat berharap cerita itu mengenai anak mereka.

Takuya tertawa ringan setelah melihat sikap Sakuya, lalu memberikan blazernya kepada Akiko. "Jangan khawatir. Meski sikapnya begitu, hari ini ada berita bagus kok. Yah, meskipun bukan tentang sekolahnya," ujarnya sambil melonggarkan ikatan dasi di kerahnya.

Mata akiko melebar, "Benarkah? Berita apa?" tanyanya dengan sangat antusias. Apapun, yang penting berita baru mengenai perkembangan anaknya merupakan hal yang sangat ditunggu-tunggu oleh Akiko. Mau bagaimana lagi, tiap kali ada pertemuan orang tua di sekolahnya, guru-guru selalu mengomentari hal yang sama tiap tahunnya.

Nilainya secara akademik bagus, tidak jelek dan tidak terlalu bagus. Sayangnya Sakuya tidak terlalu ingin bergaul dengan teman-temannya. Padahal mungkin akan lebih bagus lagi bila ia mau berinteraksi dan ikut kegiatan bersama dengan murid lainnya.

Sebenarnya masalah akademik bukanlah menjadi masalah bagi Akiko. Ia dan Takuya tahu kalau anaknya lebih pintar dari murid yang lain di kelas. Bagi Akiko, orang lain tidak tahu hal tersebut juga tidak apa-apa. Niatnya dari awal juga tak ingin membebani anaknya dengan menginginkan prestasi yang tinggi, karena pada dasarnya ia juga dulunya bukan murid dengan prestasi cemerlang. Akiko memukul ringan kepalanya memikirkan prestasinya sendiri di masa lalu. Hanya saja yang ia khawatirkan adalah pergaulan Sakuya. Tak jarang ia menemui Sakuya menyendiri sambil melamun, dan ketika ditanya jawabannya hanyalah 'tidak apa-apa'. Bagaimana sang ibu tak khawatir kalau dijawab tidak jelas begitu?

Takuya terkekeh, "Sepertinya ia jatuh cinta," ujarnya memutus pikiran sesaat Akiko tentang anaknya.

Akiko terkejut, menanggapi perkataan sang suami dengan serius, "Hah?! Jatuh cinta? Kau bercanda kan sayang...?" tak salah dengarkah dirinya? Pasti suaminya hanya bercanda. Pilihan kata sang suami terlalu ekstrim untuk digunakan pada anak sekolah dasar seperti Sakuya menurutnya. Sakuya, anak tunggalnya yang di matanya adalah buah hati tercinta, sudah belajar menyukai perempuan? Baginya itu terlalu cepat. Tidak ada tanda-tanda dekat dengan orang lain dan suatu hari langsung berita jatuh cinta kan aneh! Akiko menjadi gelagapan, "Ti-tidak boleh..Sakuya tidak boleh pacaran dulu...! kalau sebatas teman saja ya... tidak apa-apa, tapi kalau ..aduh.." ia tidak bisa membayangkannya.

Kepanikan Akiko membuat Takuya mengerutkan dahinya sambil berpikir dengan khawatir, jangan bilang istriku mengidap penyakit mother-complex. Ia lalu kembali tertawa karena sikap istrinya yang makin lama terlihat konyol. Ia lalu menghentikan tingkah istrinya dengan mengecupnya di pipi, "Ya, aku bercanda," yang membuat Akiko sukses berhenti dengan wajah merah panas. Sebenarnya dalam hati ia sebal dengan suaminya tercinta yang selalu suka jahil. "Sepertinya dia tertarik untuk berteman dengan anak perempuan yang bernama Amagawa Himeko," lanjut Takuya.

"Hee...anak perempuan? eh, kok papa bisa tahu namanya? Mereka seumuran ya?" tanya Akiko secara beruntun.

"Ya, seumur tapi sekolah beda. Tadi papa ketemu anak itu di jalan sewaktu ingin menjemput Sakuya. Adiknya sedang sakit perut, dan dia panik dan butuh pertolongan untuk membawa adiknya"

"Wah, kasihan. Orang tuanya tidak menjemput ya?" komentar Akiko. Kini ia merasakan simpati untuk Himeko dan adiknya.

"Sepertinya ibunya sibuk bekerja. Kalau tidak salah dia juga bilang kalau ayahnya sudah tidak ada," mendengar Takuya berkata begitu, mata Akiko berkaca-kaca, membuat Takuya sweatdrop, 'Duh, mulai deh ekspresi yang persis setelah nonton dorama'

"Aduh, aku jadi ingin bertemu dengannya...aku penasaran dengan orangnya kalau ceritanya seperti itu"

Takuya mengangguk, "Iya, anaknya manis dan sopan. Kau pasti menyukainya kok," ia lalu berjalan meninggalkan istrinya menuju kamar sambil berkata, "Aku lapar.."

"Iya, sudah disiapkan kok. Ganti baju dulu, aku juga akan memanggil Sakuya sebentar lagi," balas Akiko yang mengikutinya sambil membawa jas sang suami.

Sakuya POV

Setibanya di kamar, aku meletakkan ranselku di atas meja tulis, mengganti pakaianku lalu menghempaskan diriku di tempat tidur. Aku memejamkan mataku, kemudian membiarkan pikiranku melayang menuju bayangan kejadian sebelumnya yang terjadi di depan sekolahku. Pertemuanku yang pertama kalinya dengan Himeko. Uwah...aku benar-benar tidak menyangka, selain kedua orang tuaku aku bisa bertemu dengan seseorang lagi dari kehidupanku yang dulu. Sebelum kami pulang, aku sempat menanyai alamatnya. Meskipun sepertinya aku agak lancang dan ia terlihat agak terganggu, pada akhirnya ia mengatakan alamatnya. Rencanaku besok adalah ke rumahnya mumpung besok hari libur, kemudian mengajaknya bertukar cerita mengenai kehidupan masa lalu! Memikirkannya saja sudah membuatku senang.

Aku membuka kelopak mataku ketika aku mendengar ketukan pintu dan suara Mama, "Sakuya, ayo turun . Kita makan siang," ujar mama sebelum berlalu lagi turun ke lantai bawah. Mengingat mama, membuatku tersadar hingga aku mendadak bangun menjadi posisi duduk. Oh iya..aku melewatkannya...bukankah ada kemungkinan juga Himeko lupa akan kehidupannya yang dulu?

...

...

Memikirkannya membuat tenaga di tubuhku terasa hilang, lalu depresi singkat. Kalau aku menceritakan padanya mengenai masa lalunya, apa dia mau? Apa dia tidak menganggapku aneh dan menjauhiku? Mungkin-mungkin-mungkin...ia berbeda dari orang lain, siapa tahu? Untuk kali ini rasanya aku ingin mencoba berpikir positif. Tapi...kalau aku menceritakan masa lalu tentangnya, apa yang mau kuceritakan? Sekelebat memori lalu terlintas di kepalaku...

Dulu sebagai Uchiha Sasuke, aku tidak begitu memperhatikannya, bahkan namanya yang dulu aku lupa! pokoknya awalannya H, sama seperti klannya yang bunyi huruf awalnya juga H, yaitu klan Hyuuga. Aku ingatnya dia pendiam, duduk jauh dariku selama di akademi ninja...dan...dia sempat ikut ujian ninja chuunin dan bertarung dengan sepupunya, Neji. Kemudian...err ya, rekaman cuman sampai di sana. Jadi, apa yang bisa berguna untuk kuceritakan di sana? Sedikit sekali. Untuk memulai persahabatan, aku memulainya dengan cara yang buruk apabila aku menceritakan kenangan, yang mana dalam kenangan itu ia hanyalah pemeran figuran yang tak dikenal. Uh, rasanya aku ingin memukul diriku sebagai Uchiha Sasuke, hidup yang kujalani dulu sangat tidak menghargai hal kecil dan itu sangat kusayangkan.

"SAKUYA! MAMA BILANG MAKAN SIANG!" teriak mama dari bawah yang membuatku terkejut dan sontak berdiri tegak. "I...iya ma," sahutku. Duh, mama bisa seram kalau sudah merasa tak dihiraukan. Aku lalu berjalan secepat mungkin ke ruang makan sebelum kena ultimatum yang kedua kalinya.

Pokoknya aku harus berteman dengan Himeko! Itulah yang kuputuskan dengan mantap.

Rumah Himeko, Himeko POV

"Kenapa Ichigo bisa sampai sakit maag begini ya?" tanya ibu yang tengah membaringkan Ichigo di futon. Aku memperhatikan mereka dari depan kamar, masih dengan rasa khawatir menyelimutiku.

"Kalau tidak salah tadi kata dokter...biasanya maag kalau bukan karena makan tidak teratur, berarti karena lambungnya terkena bakteri..bakteri..apa ya tadi, ada H. poly ..begitu pokoknya," jawabku mengingat secara tak pasti apa yang dikatakan oleh dokter. Bahasanya sulit, aku tak mengerti. Ibu memejamkan mata, menangkupkan tangan di pipinya, lalu menghela napas, "Masa karena makanan yang ibu siapkan..."

Aku secepatnya menggeleng untuk menghibur ibu, "Kalau masalah makanan, pastinya aku juga terkena masalah pada lambungku bu. Bila masalahnya adalah makanan tak teratur, bukankah ia sudah makan pagi dan sudah disiapkan bekal? Terus... tadi kulihat bekalnya juga sudah habis dimakan".

"..."

Kami hening sementara memikirkan kemungkinan alasan Ichigo bisa sampai sakit. Karena tak ada jawaban yang kami dapat, akhirnya ibu memulai pembicaraan lain, "Oom yang katanya menolongmu itu...kamu sudah ucapin terima kasih padanya, kan?" Aku mengangguk, "Iya bu. Tenang saja, aku tidak merepotkannya lebih jauh kok. Aku juga menolak tawarannya untuk dibayarkan pemeriksaan Ichigo tadi."

"Baguslah," ibu tersenyum padaku lalu wajahnya berubah menjadi tegas sejurus kemudian, "Ingat ya Himeko, sesulit apapun kita jangan sampai kita berhutang kepada orang lain ya!"

"Iya bu!" ujarku dengan jemari yang kukepalkan dengan erat, berjanji pada diri sendiri untuk berusaha menepatinya selalu. Itu adalah salah satu ajaran wajib keluargaku yang hidup pas-pasan ini. Bolehlah uang tak banyak, tapi dengan orang lain posisi tetap sama! Begitu kalau menurut ibu. Sebenarnya aku kadang merasa minder dengan teman-temanku, tapi aku tidak ingin membuat diriku terlihat rendah juga. Aku ingin jadi orang yang tegas dan kuat tapi tetap baik dan lembut seperti ibuku. Cita-citaku ingin punya pekerjaan di perusahaan besar seperti yang kulihat di televisi agar bisa menghidupi keluargaku dan membuat mereka bahagia.

Ibu lalu beranjak dari samping Ichigo, mendekatiku dan mengusap kepalaku, "Teruskan kerja kerasmu ya, jaga Ichigo. Ibu mau kembali kerja dulu," ujarnya sambil melewatiku. Aku tersenyum menanggapinya, "Iya, hati-hati di jalan bu". Aku kemudian memasuki kamar yang kami tiduri bertiga itu untuk mengambil kotak bekal Ichigo dari ranselnya. Aku ingin mencucinya bersama kotak bekalku. Aku lalu menuju ke dapur dengan langkah mengendap-endap keluar dari kamar, takut membangunkan Ichigo yang pastinya capek melewati hari ini. Aku menyalakan keran dan mengambil sponge pembersih yang sudah dilumuri sabun dan membersihkan kotak bekalku sambil bersenandung lagu anak-anak yang kusukai.

"Te wo musunde..hiraite..musunde..hiraite~"

aku terus menyanyi kemudian meniriskan kotak bekalku yang basah. Selanjutnya mencuci kotak bekal milik Ichigo. "Te wo futte..musun...." nyanyianku terputus saat jemariku menyentuh butiran kasar yang berada di bawah pembatas makanan pada kotak bekal Ichigo. Kucabut pembatas tersebut, lalu memperhatikan dengan seksama apa yang tadi kurasakan. Itu adalah...pasir? Kenapa bisa masuk ke kotak bekal Ichigo? Sambil memikirkannya aku membersihkannya dengan air lalu menyabuninya hingga bersih. Setelah mencuci piring, aku melanjutkan kegiatan membersihkan rumah lalu membuatkan jelly untuk Ichigo yang kuletakkan di sebelahnya. Kulihat waktu sudah menunjukkan jam setengah enam. Aku memutuskan untuk menyiapkan makan malamku dan ibu dengan menu makanan sederhana yang bisa dibuat oleh anak seusiaku. Persediaan makanan di kulkas rumahku sedikit, kebanyakan hanyalah ocha dan telur. Daging hanya ada bila ibu mendapat gaji bonus saja dalam pekerjaannya. Aku lalu menutup makanan yang kuhidangkan di meja makan dengan wrapping paper seperti yang biasa diajarkan mama. Setelah makan malam sambil menonton televisi, aku mencuci peralatan masak dan makanku, lalu memutuskan untuk mandi, kemudian kembali ke kamar dan mengerjakan tugas sekolah. Saat aku mengubek-ubek isi tas, aku melihat di selipan buku-bukuku terdapat kertas yang merupakan lembar pilihan sekolah lanjutan tingkat pertama. Aku memperhatikan tulisan yang kutorehkan di kertas itu. SMP Hokuto.

"Yoroshiku ne, Himeko"

"Yoroshiku ne, Himeko"

"Yoroshiku ne, Himeko"

Uh...Kenapa perkataan anak bernama Sakuya itu terngiang-ngiang dalam kepalaku? Lagian, memangnya ia pasti memilih sekolah itu hanya karena aku memilihnya? Apa dia ingin berteman denganku? Hhh...atau aku yang berharap begitu? tidak, tidak, tidak...aku tidak perlu berharap seperti itu. Aku tidak perlu dekat aku pelajari dari mama adalah 'terlalu berharap kecewa sangat berat!'. Himeko, ayo lanjutkan niatmu untuk mengerjakan tugas!

Beberapa lama setelah aku mengerjakan tugas, aku mendapati diriku menguap beberapa kali. Setelah kurasa tugas selesai, aku menggelar futon milikku . Ketika sudah mau tidur, aku melihat wajah Ichigo yang masih tertidur lelap. Sepertinya ia masih merasa lelah. Aku sebenarnya masih penasaran juga dengan apa yang terjadi dengan Ichigo. Namun kubiarkan rasa kantuk menyerangku dan kelopak mataku pun tak kuat lagi hingga akhirnya menutup.

Oyasumi, Ichigo.


? POV

Pandanganku agak kabur, tapi aku bisa menggambarkan sedikit apa yang kulihat di hadapanku...

Sekeluarnya diriku dari hutan tak bernama, aku menemukan cahaya mentari yang hangat. Sambil menghalau sinarnya dengan punggung tanganku, pikiranku berkata, 'musim semi sudah datang'. Benar saja, karena bunyi burung-burung yang kembali dari peraduan musim dingin terdengar berkicauan riang menyambut pergantian musim. Dari jubahku yang kini penuh sobekan dan penampilan yang compang-camping, bisa disimpulkan perjalanan yang kulewati kiranya sama sulitnya dengan mereka yang bertahan melewati kejamnya angin dan salju. Meski berada di balik kain yang tipis, aku merasa lega karena kini bisa merasakan kehangatan yang sudah kunantikan. Aku sempat berpikir lagi, 'Apakah ini akan jadi akhir dari perjalananku?'

aku terus mencari alasan unttuk menjawab pertanyaan tersebut. Karena aku sudah cukup lama melakukan perjalanan ini, karena aku sudah cukup merasa bersalah atas kesalahanku, karena aku sudah cukup menahan cobaan ini...karena...karena...

Benarkah itu semua sudah cukup?

Suara dari bagian lain dalam diriku kembali muncul. Aku lalu melihat di depanku ada sebuah jalan kecil yang membuka jalan dari luar hutan menuju ke arah perkampungan. Aku berbisik pada diriku untuk melangkah maju, jangan hiraukan pikiran buruk. Aku merindukan bunga sakura dan matahari yang cerah... biarkanlah aku menemui mereka.

Karena aku...ingin berkumpul bersama mereka kembali.

Akiko mengguncang tubuh sang anak, "Sakuya...bangun, sudah jam tujuh. Cepat bangun. Mama sudah selesai masak tuh," ujarnya setengah rasa sebal karena sudah dibangunkan dari beberapa menit yang lalu tapi Sakuya masih memejamkan mata. Rasanya jadi gatal, ingin mencubit pipi si buah hati supaya lekas bangun. Rasa sebal sang ibu langsung padam seketika saat jemarinya menyentuh kulit pipi halus Sakuya. Ada sesuatu yang basah terasa di sana.

Eh...

Sakuya nangis?!...Duh, mimpi burukkah anakku?

Merasa iba dan masih bingung dengan keadaan si anak, Akiko berlekas-lekas keluar dan turun ke lantai bawah untuk meminta pendapat suaminya untuk pertanyaan simpel, enaknya bangunin Sakuya apa tidak?

Sedangkan Sakuya yang masih tertidur berbisik pelan dalam tidurnya, "Sakura...Naruto...".

.

.

*******To Be Continued*******

Tadaima: ucapan dalam bahasa Jepang ketika pulang dari luar.

Okaeri: ucapan dalam bahasa Jepang untuk menyambut orang yang telah pulang.

Genkan: ruang depan (setelah pintu masuk, itu loh..yang tempatnya rak sepatu blah blah ...enaknya sebutannya apa ya)


A/N: Maaf lama updatenya, kesibukan ngurus dunia nyata. Maaf kalau jelek dan aneh dalam penceritaannya karena saya belum punya banyak kosa kata (T^T) dengan kata lain kurang baca. Kalau ada waktu luang banyak saya coba baca novel dan semacamnya biar bisa belajar cara nulis yang baik dan benar. Terima kasih untuk reviewnya lagi~ kemampuan nulis saya masih sangat pemula, saya sadar penulisan saya masih banyak salah, tapi terima kasih banyak udah dibilang rapi hehe... reinkarnasi karakter lain tenang saja, anggota rookie konoha banyak yang muncul nantinya, kalau karakter NARUTO lainnya saya gak bisa janji muncul semua sih. Untuk sementara saya bakal banyak cerita mengenai masa kecil Sakuya, jadi bersabar ya untuk ketemu karakter lainnya. Untuk yang pernah baca NG Life mungkin agak bingung karena jalan cerita berbeda, tapi konsep besarnya tetap sama kok. Again, please support this fanfic by R&R. Karena dengan review kalian semangat untuk menulis juga akan semakin bertambah~