Ohayou! Konichiwa! Konbawa!

.

Light ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, kepada semua Readers and Reviewers!

Untuk yang tanya soal genre. Kenapa hanya ada satu yang masuk yaitu family, sementara pairing di fict ini SasuNaru? Mereka kan bukan keluarga…

Sebenernya, Light udah ngejawab pertanyaan ini bahkan sebelum ditanyakan. Karena fict ini lebih fokus pada kekeluargaan di banding romantisme. Gittuuu~lagian, nggak cuma ada romance, ada angst, ada drama, ada supranatural, ada humor, ataupun sci-fi. Kalau ada genre gaje pun, Light mau masukin fict ini ke genre itu kok… ehehehe! Light will survive~!

Dozo, Minna-sama!

Disclaimer:

Masashi Kishimoto

Warning:

Alternate Universe, Out Of Character, full of lebayness and gajeness, to Readers who hate boys love, please leave this page by pressing the back button! POV changing. (Yang terjadi harus adanya—bukan niatan untuk lebay apalagi jayus. XD)

.

Note++:

Italic: membatin.

Bold: Bicara via telpon.

Bold+italic: surat.

Underline+Italic: flashback

Have a nice read! ^__~

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

*~Last Chapter~*

"Memangnya kenapa?"

"Karena beberapa waktu yang lalu, Bapak Namikaze, masuk penjara… Ia buronan POLISI!"

#~**~#

Nothing That I Could Give

Chapter 4

By: Light-Sapphire-Chan

#~**~#

Melupakan image seorang dari keluarga ningrat yang harus dijaganya, Sasuke mengerjap-ngerjapkan matanya. "Yang benar, pak…"

Si penjaga warung tersebut menghela napas lelah. "Yeee~ dibilangin nggak percaya…"

Sasuke menggelengkan kepalanya sekilas, kerutan samar muncul di dahinya. "Yakin, pak?"

"Kau nggak tinggal di sini, kan? Karena aku jarang melihat makhluk cakep sepertimu," katanya lagi. "Terserah deh mau percaya atau nggak. Saya cuma kasih tahu apa yang sebenarnya…" Dan penjaga tersebut kembali masuk ke dalam warungnya.

Sasuke masih tertegun, memandangi rumah angker tersebut. Benarkah…? Benarkah yang dikatakan penjaga warung tadi? Kalau begitu… Naruto yang menangis tadi… Benar-benar, perlu menangis?

Sekelebat ingatan melintas di benak Sasuke.

"Kalau aku, yang ditodong pistol aku pati akan tertawa," ucap Naruto. "Tapi sayang, yang dipukul pistol pun bukan aku…"

Dan satu lagi…

"Kalau aku yang menerima semua siksaan Ayah, aku pasti akan tetap santai—seperti katamu. Kalau saja badai topan itu yang menanggungnya benar-benar hanya aku…" Nada getir yang sukar disembunyikan.

'Astaga, kenapa Naruto tidak bercerita apa-apa padaku?'

.

#~**~#

.

Setelah mencuci piring dan merapikan ruang tengah seadanya, Naruto memasuki kamar ayah dan ibunya, dengan hembusan napas panjang, Naruto merebahkan diri di kasur king size milik ayah dan ibunya. Dengan asal-asalan, Naruto menarik bantal dan guling yang kelihatannya empuk. Lalu meraih remot TV dan menyalakan TV.

Mendadak, rasa sakit menyerang kepalanya. Sepertinya ia terlalu kelelahan. Atau mungkin juga karena beban yang menumpuk di hatinya, yang selama ini dihiraukannya.

Naruto memeluk guling erat-erat, dan membenamkan wajahnya di bantal. Ada harum bedak Gaara di situ. Aroma bedak khas anak kecil, harum yang lembut menenangkan. Naruto sendiri tidak mengerti kenapa ibunya senang membelikan keempat anak lelakinya wangi seperti ini…

Naruto menguap lebar. "Jadiii ngantuuukk!!! Tidur ah, aku pusing banget…"

Naruto menonton acara musik di TV. Baru saja ia ingin tidur, terdengar bunyi pintu gerbang diketuk. Naruto berpikir sejenak, tidak mungkin kedua kakaknya kembali dalam waktu secepat ini, bibi Isaribi? Haa… Bibi Isaribi tidak suka kembali memasuki rumah ini. Tamu? Rumah ini sudah lama mati dan sangat tersembunyi.

Terdengar ketukan yang semakin tidak sabar. Naruto yang baru saja berdiri mendadak tertegun. Sama seperti ayah… Ketukan kencang tidak sabar.

Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha menjernihkan pikirannya. Lalu ia keluar kamar, memakai sandal rumah, dan berjalan menuju pintu ke luar. Tanpa ia sadari, langkahnya terhuyung-huyung. Rasa sakit luar biasa benar-benar menyerang kepalanya, napasnyapun menjadi terengah-engah.

Tidak keluar dari ruang tamu, Naruto berusaha mengintip siapa yang tak henti mengetuk pintu. Tidak kelihatan wajahnya. Naruto memutuskan untuk keluar dan membukakan pintu. Diambilnya kunci gerbang—siapa tahu orang itu bisa masuk karena punya kepentingan tersendiri.

"Maaf, cari siapa yah?" Naruto tersenyum ramah seadanya. Berusaha mengusir sakit yang terasa.

Naruto menjejaki salju beralaskan sandal rumah. Didekatinya pintu gerbang hijau besar tersebut.

Seketika langkahnya terhenti. Mendapati seseorang yang muncul di penglihatannya.

'Bagaimana bisa dia sampai di sini?!'

Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa penglihatannya memburam, Naruto mengusap-usap kedua matanya dengan telapak tangannya.

Naruto kembali membuka matanya. Sekarang ia bisa mempercayai kenyataan yang ada di hadapannya.

'Benar-benar dia…'

"Cepat buka pintunya, Bodoh! Kau mau membiarkan aku mati kedinginan yah?!"

Naruto kembali menggeleng-gelengkan kepalanya, ia melangkah mendekati gerbang dan membukakan pintu. "Tch. Sejak kapan Kau tahu rumahku?"

Orang itu menjawab datar. "Apa sih yang nggak aku tahu?"

Naruto mengulaskan senyum sedih. "Banyak…" Naruto menggulung rantai pintu, membiarkan gerbang berderit terbuka. "Yang nggak Kau sadari… Sasuke."

Naruto membiarkan Sasuke masuk ke dalam rumah. Kembali tidak menatap Sasuke, Naruto menghindarinya dengan kembali menutup dan mengunci gerbang. Lalu disimpannya kunci pintu dalam kantung celana.

Sasuke mengangkat tangan kanannya, pertama, ia menepuk kepala berambut pirang tersebut, lalu dielusnya lembut helaian rambut halus itu. Seakan menghapus jejak salju yang menutupi kuning cerahnya "Dasar Bodoh! Di luar hujan salju kayak begini, Kau nggak pakai mantel lagi! Seenggaknya pakailah syal…"

Naruto mendongak, membiarkan mata hitam Sasuke benar-benar menenggelamkannya dalam pesona. Mata birunya menyipit, berusaha menajamkan penglihatan. Kepalanya semakin terasa nyeri. Ketika kedua bola mata serupa safir tersebut berkunang dalam putaran cepat, tubuhnya limbung, kedua kakinya kehilangan kekuatan untuk menopang badannya.

"Na-naruto!"

Sasuke tidak membiarkan Naruto jatuh begitu saja menghantam kerasnya bebatuan di balik dinginnya salju. Ditariknya Naruto ke dalam pelukannya. Ditepuk-tepuknya pelan pipi Naruto. Nihil. Sasuke terdiam, diperhatikannya lekat-lekat wajah Naruto. Wajah itu memerah, napasnya terengah-engah…

Seakan merasa tertampar, Sasuke meraba kening Naruto. Sangat panas.

"Sial!" Sasuke mengangkat Naruto dalam pelukan. Dipastikannya posisi Naruto nyaman dan aman, Sasuke melintasi pekarangan rumah.

Tanpa permisi pula, Sasuke segera masuk ke dalam rumah. Melewati ruang tamu, mata hitam Sasuke agak menyipit, membiasakan dengan kegelapan yang menyelimuti ruangan yang sepertinya ruang baca, sekaligus ruang bermain dan ruang keluarga. Sasuke mendengar suara televise menyala, dipikirnya ada seseorang di rumah besar ini selain Naruto. Sasuke mencari ruangan tersebut, dua kamar setelah pintu ruang tengah tadi.

Sasuke menaiki dua buah anak tangga dengan Naruto di pelukannya. Ditemukannya sebuah ranjang besar dan kamar yang sangat luas. Sepertinya tadi, ada yang tertidur di sini. Sudah ada bantal dan guling seperti bekas ditiduri. Maka, Sasuke menidurkan Naruto di pinggir ranjang tersebut.

Sasuke mengatur napasnya yang terengah-engah. "Si Bodoh ini ternyata berat juga… Hufffhhh…"

"A-ayaahh…"

Sasuke yang sedang melirik kanan kiri di kamar yang sangat luas dengan warna putih, teralihkan pada sumber suara…

Lupakan segala pikiran tentang betapa sepi, kosong, menyeramkan dan dinginnya rumah ini. Naruto kini adalah prioritas.

Sasuke kembali menoleh kanan-kiri, lalu ia berjalan sedikit ke beberapa tumpuk kasur single bed yang ditumpuk menjadi satu, dan di atasnya ditata rapi bantal, guling serta selimut. Sasuke menarik asal-asalan sebuah selimut bergambar bendera Konoha.

Sasuke menghela napas panjang, dilepaskannya kedua sandal rumah yang dikenakan Naruto, dan ia menyelimuti Naruto hingga sebatas bahu. Dirabanya kembali kening Naruto. Masih sepanas tadi.

Dengan segala kepintaran yang dipunyainya, Sasuke keluar dari kamar tempat Naruto berada, dari kamar yang cukup tinggi ini—dibutuhkan menaiki dua anak tangga, Sasuke turun ke ruang tengah. Satu kesimpulan yang Sasuke dapat. Ruangan ini ruang makan, yang sekaligus ruang keluarga. Ada bersatu dengan dapur dan kitchen sink, ruangan inipun terhubung dengan tiga kamar yang terbilang sangat luas. Ruangan ini adalah bagian vital dari rumah besar ini.

Di dalam kulkas teratas, pasti ada es batu. 'Keluarga Namikaze… Maafkan aku yang sudah lancang memasuki dan membuka isi rumah ini tanpa izin. Tapi ini buat Naruto…'

Mata onyx Sasuke mengambil cetakan es batu, di bawanya ke meja di dapur ruangan itu. Sasuke merogoh kantung celananya, mengambil sapu tangannya. Sasuke mengeluarkan es tersebut dari kotak cetakan es, ke atas sapu tangannya. Lalu dibuatnya sapu tangan itu saling terikat. Dan bergegas kembali ke kamar di mana Naruto berada.

Sasuke menaruh sapu tangan berisi es itu di atas kening Naruto. Naruto yang napasnya terengah-engah dengan wajah memerah. Naruto yang terus menggumam tidak jelas.

Selama beberapa saat dalam keheningan, Sasuke hanya mengelus rambut Naruto dalam diam, banyak pertanyaan menggelayuti pikirannya. Dipikir berapakalipun, ia tetap tidak mengerti.

Teringat sesuatu, Sasuke merogoh kantong mantelnya. Diambilnya HP-nya, ditekannya beberapa tombol keypad pada HP. Nada sambung terdengar. Sasuke menunggu seseorang mengangkat telponnya.

"Halo, selamat sore, Itachi di sini…"

"Kak, ini gua, Sasuke."

"Ya ampuuun, Sas! Bentar lagi berlaku jam malamnya Bunda lho…"

"Kak, tolong bilang ke Bunda, gua hari ini nggak bisa pulang. Menginap di rumah teman, bilang saja ada tugas penting yang harus gua kerjain…"

"Berarti Lo nggak ada tugas? Jadi, sebenarnya tuh Lo ada di mana?"

"Di rumah Naruto… Awalnya, gua cuma mampir ke rumahnya. Tapi, habis Naruto ngebukain pintu, ia malah pingsan. Terus gua… Nggak tega ninggalin dia sendirian, soalnya, si Bodoh ini sakit…" Tutur Sasuke pelan.

"Memangnya nggak ada yang nemenenin dia di rumah?"

"Nggak ada… Dia sendiri."

"Sudah hubungi keluarganya?"

"Belum. Gua nggak tahu nomor keluarganya…"

Di seberang telpon, Itachi tersenyum lebar. "Take care, Sasuke."

"Hn."

Klik. Sambungan telpon diputus.

#~**~#

Seseorang yang sangat mirip Sasuke, hanya rambutnya lebih pendek dan pucat, mendekati Itachi. "Yang telpon tadi Kak Sasuke? Kak Sasuke kenapa? Kok belum pulang? Nanti dimarahin Bunda lho…"

Itachi tertawa ngakak. "Sai, tahu nggak?! Sasuke lagi ada di mana?! Dan sama siapa?!" Itachi mengacak-acak rambut adik bungsunya.

Sai menepis kasar tangan kakaknya. "Nggak tahu kalau belum dikasih tahu! Kakak kenapa sih jadi aneh kayak gini?"

"Sasuke di rumah Narutooooo~ huahahahahahaha!" Itachi melemparkan dirinya ke tempat tidur king size-nya seraya tertawa ngakak kembali.

Sai bertepuk tangan riang. "Bagus dong! Mereka ngapain?"

Tawa Itachi terhenti sesaat, "Sasuke ngerawat Naruto yang sakit…"

Hening sejenak. Sebelum Sai bertepuktangan sekilas. "Eh, Kak Sasuke pulang nggak malam ini?"

Itachi segera terduduk. "Makanya, Sai jangan bilang sama Bunda kalau Sasuke ada di rumah Naruto dan lagi ngerawat Naruto yang sakit… Kita kompakan bilang kalau Sasuke menginap di rumah temennya, soalnya ada tugas penting. Dan nggak tahu pulangnya kapan. Oke?"

Sai berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Oke! Asalkan Kak Sasuke sama Kak Naruto sih, nggak masalah… Bagus malah."

"Tos dulu dong!"

Dan kedua bersaudara Uchiha tersebut ber-highfive dengan tawa riang.

.

#~**~#

.

Menunggu Naruto sadar, Sasuke sudah menutup pintu luar rumah dan ruang keluarga. Menyalakan lampu—walaupun siang hari, tapi salju yang kencang membuat ruangan-ruangan di rumah besar ini sangat gelap.

Setelah semuanya selesai, Sasuke kembali duduk di samping Naruto. Mengamati wajahnya… Wajah sahabatnya. Rindu rasanya melihat langit biru di mata sahabatnya kembali bersinar cerah… Di banding mata kekasihnya sendiri.

Selama itu pula, Sasuke mengelus helaian pirang rambut Naruto. Dan akhirnya, Sasuke jatuh tertidur…

Andai siapapun ada dan melihat mereka, maka, orang tersebut akan tersenyum melihat mereka… Kenapa?

Karena Sasuke tidur memeluk Naruto, sementara Naruto bersandar dalam pelukan Sasuke.

Sungguh manis sekali.

Siang berganti menjadi sore, tidak ada banyak perubahan selain ruangan bertambah gelap. Untung sebelumnya Sasuke sudah menyalakan lampu.

Namun, karena hawa panas dan pergerakan Naruto, Sasuke kembali terjaga. Segera ia terduduk dengan kedua kaki dan tangan terlipat.

Naruto menggeliat tidak nyaman. Tubuhnya terasa sangat panas. Tapi ia tidak berkeringat. Sementara kakinya terasa sangat dingin. Kepalanya terasa sangat pening dan berat. Apa yang terjadi padanya?

Naruto mencoba membuka matanya. Tidak ada yang berubah, langit-langit kamar yang berwarna putih. Kamar ayah, mama dan Gaara. Selimut dengan gambar bendera Konoha.

Tapi setelah otaknya memproses ulang seluruh kejadian yang dialaminya hari ini secara lambat, ia menyadari ada yang ganjil.

Bukannya tadi gelap? Tubuhnya melayang? Panggilan Sasuke…?

"Sudah sadar, hei, Bodoh?"

Naruto tersentak, lamunannya buyar. Segera ia menoleh ke sumber suara yang duduk bersila di kasur yang ditidurinya. Seraut wajah tampan dengan raut bosan balas menatapnya, namun saat mata birunya menghujam pandang ke arah bola mata hitam yang selalu membuatnya terpesona, ditemukannya pandangan khawatir untuknya…

Naruto berusaha duduk, Sasuke membantu dengan menyangga tubuh Naruto dengan bertumpuk-tumpuk bantal yang asal ditariknya.

"Sa-sasuke? Kok Kamu ada di sini?" tanya Naruto tergagap.

"Kau harusnya bilang makasih padaku. Bukan ketakutan gitu," Sasuke menghela napas. "Kau sendirian doang di rumah?"

"Nggak usah nanya kayaknya juga Kamu udah tahu," jawab Naruto datar.

Sasuke dalam hati menimbang-nimbang, apakah ia harus bertanya sekarang juga pada Naruto?

Naruto sedikit mendongak untuk menatap Sasuke lagi, dirasakannya sesuatu jatuh dari keningnya. Naruto meraba keningnya, lalu tangan kanannya perlahan turun, merayap di atas selimut, sebuah sapu tangan kini berpindah digenggamannya. Basah dan dingin.

'Inisial sapu tangannya… U.S?'

"Sasuke, ini saputanganmu," Naruto menyodorkan sapu tangan tersebut kembali pada Sasuke.

Sementara sang pemilik sapu tangan tersebut menggeleng. Yang ada, ia justru menaruh kembali sapu tangan itu di kening Naruto. "Kau masih demam, Bodoh."

Naruto menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Merasa kesal dengan perhatian Sasuke. "Kau boleh pulang sekarang. Makasih sudah nolong aku yang pingsan nggak jelas."

"Ngusir nih?" tanya Sasuke tajam.

Naruto berkata ketus. "Nggak, aku hanya mempersilahkan Kau, boleh pulang."

"Kalau aku nggak mau?"

"Kenapa mesti nggak mau? Kan aku hanya merepotkanmu—ah! Lagipula, apa nanti Bundamu nggak nyariin Kamu? Pacarmu? Kak Itachi? Sai—"

Sasuke menempeleng kepala Naruto, wajahnya benar-benar dilukiskan rasa kesal. Kenapa sahabatnya sejak kelas tiga SD jadi sejauh ini dengannya?

"EH! Sudah baik-baik ya aku mempersilahkan Kau pulang! Lagian aku nggak minta ditolong olehmu, nggak minta dirawat olehmu, nggak minta Kau buat nungguin aku—"

"Aku. Nggak. Bakal. Pulang, Bodoh. Aku menolongmu karena ingin, merawatmu karena ingin, dan menemanimu karena aku ingin... Kau cukup diam saja dan istirahat," jawab Sasuke tegas.

Naruto hendak melayangkan tinju pada Sasuke. Tapi dengan mudah Sasuke menangkisnya. Bahkan menggenggam erat tangannya yang dingin sedingin es.

"Aku sudah izin Bunda, lewat Itachi dan Sai, nggak usah khawatir…" Kata Sasuke datar.

"SASUKE MENYEBAAALKAAAN!" raung Naruto kesal. Berusaha menarik tangannya dari genggaman erat Sasuke.

"Tuh kan, sudah sakit masih teriak-teriak lagi. Tanganmu dingin banget…" Sasuke mengusap-usap sebelah tangan Naruto dengan kedua belah tangannya.

Naruto tidak lagi berusaha menarik tangannya, perlahan ia membiarkan Sasuke menjaganya. Biarpun wajahnya menyiratkan kekesalan yang amat sangat, tapi di dalam hati… Ia sungguh senang, Sasuke ada di sini, hanya untuknya. Menemaninya hingga ia tak perlu sendiri lagi.

"Naruto…"

Mata biru Naruto sedikit melebar mendengar panggilan Sasuke untuknya. "Apa?"

"Kalau Kau ada masalah, jangan dipendam sendiri. Sakit jiwa lho…"

Naruto terkekeh sinis. "Adanya juga Kau yang sakit jiwa…"

"Aku serius, Bodoh."

Melihat dan mendengar perkataan Sasuke yang benar-benar tenang, Naruto berusaha menghembuskan napas dengan teratur—menyembunyikan getar ketakutannya.

"Aku… Nggak kenapa-napa."

"Kalau nggak mau cerita, ya sudah… Tapi kalau butuh apa-apa, bilang saja padaku."

Naruto tidak bisa menyembunyikan cemberut di wajahnya. "Jangan khawatir, kalau Kau dapat telpon dari Rumah Sakit Jiwa, pasti akulah pasiennya…"

Sasuke menepuk bahu Naruto. "Pasiennya pasti Kau yah?"

Melihatnya bisa lagi tersenyum, Sasuke benar-benar lega. Apalagi karena Naruto sudah mau bercanda dengannya lagi…

"Heee… Kukira Kau bisa kubodohi! Hahahahaha…"

Bahkan tertawa riang. Setidaknya, untuk sesaat tidak ada lagi jarak di antara mereka. Perlahan tetapi pasti, Naruto akan bercerita padanya. Ya…

Karena mereka sahabat, kan?

Untuk saat ini.

Keduanya bercanda seperti biasa sambil menonton TV. Dan untuk sesaat, urusan masing-masing terlupakan. Selagi mereka ada berdua, dunia pun seakan ada untuk mereka berdua… Tidak peduli serumit apapun masalah yang menimpa.

"Eh, eh. Jelek, tanganku yang satu lagi juga diusap-usap dong! Dingin niihh…"

"Apa-apaan sih, Bodoh?!"

"Kalau nggak mau, biar kuhangatkan sen—"

"Sini, sini! Kemarikan tanganmu…"

"Hehehe… Aku heran. Kau sikapnya dingin banget, tapi tanganmu kok hangat yah?"

"Aku ini kan manusia."

"Oh, kukira beruang kutub… Gyahahahahaha!"

"Nggak lucu."

"Hehehehe, Sasuke ngambek yah?"

"Nggak. Buang-buang energi saja marah padamu…"

"Halah, biasanya juga Kau mengomeliku… Gyahahaha!"

"Habis, Kau bodoh banget."

"Kau juga jelek banget. Tapi kenapa yah aku ingin berteman dengan orang sejelek Kamu? Eh, Kenapa Kau mau temenan sama aku, Sas?"

"Kau kena katarak rupanya. Ganteng gini dibilang jelek."

"Gah. Menjijikkan."

"Mungkin, aku juga ingin nanya kayak kamu juga. Kenapa aku bisa temenan sama orang sebodoh Kau? Darimana rumusnya coba?"

"Dari hatiiimuuu~ gyahahahahaha!"

"Suaramu cempreng banget."

"Biariiiinn! Huh!"

TIIIIIIINN! TIIIIIN!

Suara klakson mobil membuat perhatian mereka teralih.

"Siapa tuh?" Sasuke menoleh ke Naruto.

"Gak tahuuu…" Jawab Naruto inosen. "Memang aku superman yang bisa lihat menembus tembok?"

Suara klakson mobil tersebut kembali berbunyi. Naruto segera membuka selimut yang membungkus tubuhnya, lalu bergegas turun dari tempat tidur.

"Hei, Bodoh! Sadar diri dong kalau Kau itu sakit!" Sasuke berseru seraya mengejar Naruto yang sudah lari duluan ke ruang tamu.

"Bodoh amat," di balik tirai ruang tamu, Naruto menyipitkan matanya, dan sesaat ia menghembuskan napas berat.

Sasuke sudah berada di sebelahnya. "Siapa?"

"Keluarganya Kakak Mamaku. Singkatnya, Tanteku dan keluarganya… Sudahlah, kita kembali ke kamar saja," Naruto berjalan pergi. Namun baru beberapa langkah, lengannya ditarik Sasuke.

"Kalau mereka bertanya pada tetangga bagaimana?" Sasuke mencengkeram lengan Naruto. "Dan gimana jadinya kalau tetanggamu bilang yang nggak-nggak?"

Naruto menundukkan kepalanya. "Jangan sampai kejadian itu…"

Sasuke menepuk sekilas bahu Naruto yang tidak lebih tinggi darinya. "Biar aku yang bukakan gerbang. Kau tunggu di sini."

Sasuke segera berjalan keluar. Dipasangnya topeng stoic yang selalu terlepas jika bersama dengan Naruto. Sasuke melihat seseorang gadis berambut pirang dikuncir empat. Melihat Sasuke, gadis itu berhenti mengetuk gerbang dengan gembok, lalu berbalik kembali sedikit ke belakang—menghadap mobil, lalu berseru…

"Inoooo~ cowok cakep tuuuh!"

Seorang gadis cantik—ya Sasuke juga mengakuinya kalau gadis yang kelihatan jauh lebih tua itu, yang turun dari mobil, yang sepertinya adik dari gadis berkuncir empat, bahkan jauh lebih cantik dari Karin.

Tanpa kata-kata, Sasuke membuka kunci gembok dengan kunci yang tadi sudah diambilnya. Niat hati ingin mendorong gerbang tersebut. Tapi… Susah digerakkan, sepertinya karena relnya berkarat dan tertimbun salju.

Naruto segera berlari keluar dan menolong Sasuke. Bersama-sama mereka mendorong gerbang tersebut.

"Hei, Nar. Yang mana Tantemu? Mereka berdua?"

Naruto menggeleng. "Bukan. Mereka Kakak sepupuku. Cantik yah?"

Sasuke refleks menggeleng. "Nggak."

"Deuuuhh… Yang setia sama Karin," goda Naruto.

"Karin memang nggak lebih cantik dari mereka—ah pokoknya ada yang lebih menarik dari mereka bertiga."

"Kau mau selingkuh rupanya, boleh kutahu siapa cewek yang beruntung disukai sama Kamu?"

Sasuke terdiam kaku. "Nggak."

"Ya sudah…"

Pintu gerbang terbuka. Dan mobil berjalan masuk, Sasuke dan Naruto kembali menarik pintu gerbang untuk menutup.

"Narutoooo~ apa kabar, sayang?" sapa gadis berkuncir empat seraya menciumi Naruto.

Naruto nyengir asal—Sasuke dapat melihatnya, "Hehe, baik-baik saja, Kak Temari…"

"Narutoooo~ Mama Kushina mana, sayang?" gadis yang dikuncir satu dan sangat cantik itu turut menciumi kedua pipi Naruto. Tapi matanya melirik Sasuke. "Eh, Kau kok panas banget sih?"

"Mama kan kerja, kak. Gaara ikut di klinik Mama. Kak Sas dan Kak Dei juga ke tempat Mama… Ah, tadi aku sempat sakit. Cuma sekarang udah baikkan…" Jawab Naruto sopan.

"Ini siapa?" tanya Ino yang melirik Sasuke.

"Ah, temanku… Kak Ino, Kak Temari, ini Sasuke. Sas, ini Kakak-Kakak sepupuku. Yang ini Kak Temari," Naruto memegang lengan Temari. "Yang ini Kak Ino…" Naruto memegang lengan Ino.

Ketiganya membungkuk memberi hormat. Sasuke menyadarinya, keluarga Naruto yang ini, bukan sekedar keluarga biasa, dilihat dari cari membungkuk hormat, pasti keluarga kelas atas…

"Hei, Sasuke menemani Naruto sendiri yah?" tanya Ino, tersenyum lebar—mengerikan untuk—pada Sasuke.

Sasuke mengangguk. "Naruto tadi pingsan. Ternyata sakit. Jadi kurawat saja. Sekalian aku menginap di sini…"

Terdengar bunyi pintu mobil supir dan penumpang di sebelahnya ditutup. Keluarlah sepasang suami-istri, sang suami merokok dan istrinya berambut hitam dan bermata merah. Sangat cantik. Pantas anaknya juga cantik.

"Sore, Sayang…" Wanita cantik tersebut memeluk Naruto sekilas.

Sasuke merasakan dengusan pelan Naruto yang mencium asap rokok. "Sore, Tante Kurenai, Oom Asuma…"

"Oi, Nar, Ayah ada nggak?" tanya Asuma.

Sasuke melihat tubuh Naruto menegang sekilas, sebelum ia menggeleng. "Ayah kan ada Iwagakure, Oom. Kerja…"

Sasuke baru menyadari, kalau penampilan keluarga ini memang sempurna. Tapi melihat gelagat Naruto…

Mereka pasti berbahaya.

#~**~#

To be continued

.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

UNBETA-ED. Garing yeuuh…

Hayolooohh… Light ngacak-ngacak keluarga di Naruto deh. Gyahahahaha! Duuuhh… Gak heran, pada nggak mau review fic ini. Gaje sih, tapi Light akan berusaha untuk lebih baik lagi!

Terima kasih waktunya untuk menyempatkan membaca! Kritik dan sarannya selalu ditunggu!

Sweet smile,

Light-Sapphire-Chan

#~**~#

Terkadang, apa yang kita harapkan, jauh dari apa yang kita dapatkan…