Wajah ceria para sahabat tercetak saat memasuki apartment—yang biasa mereka kunjungi. Tidak ada yang berbeda dari tempat itu, hanya saja tujuan mereka mendatangi tempat itu yang berbeda.
"Hinata, selamat! Aku tidak menyangka kau akan mendahului kami." Begitu bahagia hingga melompat dan memeluk wanita bersurai indigo yang tengah mematung kaget di depan pintu.
Apa-apaan mereka? Kenapa datang di saat bersamaan?
Semuanya tersenyum sambil menunjukan bawaan mereka. Satu kotak cake dan beberapa cemilan ringan tak lupa satu kotak perlengkapan perawatan tubuh. Mereka menyeringai.
"Hari ini adalah hari lajangmu, bukan? Ayo kita nikmati malam lajang terakhirmu sebelum kau menyandang status sebagai istri Naruto."
Tak jauh beda dengan apartment Naruto. Banyak teman Naruto yang datang untuk menikmati pesta lajang, namun yang berbeda hanya barang bawaan. Para pria itu datang dengan membawa beberapa botol sake dan cemilan untuk melengkapi.
Mereka benar-benar sudah mempersiapkan ini.
Our Bolt
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Author: Vinara 28
Rate: M
Genre: Family, Romance, Drama.
Warning: OOC, Mainstream, Abal, Typo, No EYD, No Tanda baca, DWWL (Dan warning-warning lainnya)
Hinata duduk di antara para gadis yang tengah memanjakannya dengan berbagai perawatan. Salah seorang sahabat begitu ahli mengoles lulur ke seluruh tubuh Hinata. Awalnya sedikit malu ketika Hinata diminta utuk membuka baju. Namun kini ia sangat senang dengan perawatan ini. Ah, rasanya sudah lama Hinata tidak melakukan ini.
"Apa belakangan ini kau stres, Hinata? kulitmu begitu kering. Jika kau terus-terusan stres, bisa-bisa kau mengalami penuaan dini," nasehat Ino, sambil mengusap-ngusap lengan Hinata.
"Bagaimana Hinata tidak stres, jika perjalanan cintanya begitu rumit. Bahkan kita saja tidak tahu tentang hubungannya dengan Naruto. Kalian begitu keren." Gadis berambut cepol dua memerotes Ino lalu memberi pujian pada Hinata.
Siapa yang tidak tahu dengan gosip dua sejoli yang kabur dari rumah untuk mempertahankan cinta dan memilih kawin lari—setidaknya itu yang beredar di kalangan kampus dan teman-teman Naruto dan Hinata—dikabarkan Naruto dan Hinata sudah berpacaran sejak lama, namun hubungan keduanya disembunyikan karena kedua orangtua yang bermusuhan, lalu mereka berdua memutuskan tinggal di apartment bersebelahan, lantaran tidak kuat menyembunyikan status hubungan, mereka memutuskan untuk kawin lari.
Hinata hanya bisa tersenyum mendengarnya. Cerita itu terdengar hebat dan keren, siapa yang tidak akan kagum ketika orang-orang mengaggap bahwa kau pejuang cinta, tidak peduli jika sang orangtua bermusuhan, kau tetap mempertahankan cinta. Ah, andai mereka tahu. Tidak ada cinta di antara keduanya.
"Lihatlah, wajahmu juga terlihat pucat." Mata Ino terlalu jeli untuk memerhatikan perubahan wajah teman-temannya, "Apa kau tidak makan, huh? Tubuhmu juga semakin kurus, bagaimana kau akan mengenakan gaun pengantinmu esok?"
"Cerewet kau, Ino. Sudah, kerjakan saja tugasmu, tidak perlu protes." Sakura langsung angkat bicara. Ia tidak mau semua teman-teman mengetahui, perubahan Hinata diakibatkan karena tengah hamil.
Hinata hanya tersenyum melihat tingkah sahabat-sahabatnya.
. . . .
Dalam apartment Naruto terlihat sangat kacau dengan beberapa botol sake yang berjejer di atas meja, belum lagi kulit-kulit kacang yang berserakan di atas lantai.
"Kiba, jangan buang sampah sembarangan, ayo pungut semua kulit kacangmu." Sedari tadi Naruto hanya memerhatikan polah teman-temannya sambil memerotes jika ada yang membuat partmentnya berantakan.
"Urusai, bukankah biasanya seperti ini?!" jawab Kiba setengah mabuk.
"Hari ini bukan hari biasa, kau tidak boleh seperti itu." Naruto semakin geram, nada suaranya ia tinggikan.
Shikamaru memutar bolamatanya, bosan. Ia menepuk pundak Naruto, menyuruhnya untuk lebih tenang.
"Aku dengar kau berkelahi dengan ayah Hinata, apa itu benar?" pertanyaan dari Gaara membuat Naruto kembali diam. Wajahnya menunduk, ia tidak mau membahas hal itu lagi.
"Jadi itu benar?"
Naruto mengangguk, mengiyakan gosip yang beredar.
"Aku tidak tahu kau senekat itu, hahaha. Apa kau tidak tahu Hiashi Ji-san itu monster? Kau keluar dari rumahnya tanpa kehilangan nyawa itu sangat beruntung sekali. Itu ... salah satu alasan kenapa aku takut mendekati Hinata. Aku masih sayang dengan nyawaku. ... setelah mendengar kau selamat dan berhasil mendapatkan Hinata, aku tidak rela. Kenapa semudah itu kau mendapatkannya?"
Semuanya terdiam, memandang Kiba yang mulai mabuk. Sedangkan Naruto, wajahnya berubah shock, tidak percaya kalau selama ini Kiba menyukai Hinata.
"Semua sudah terjadi. Aku akan merelakannya pergi ..." Kiba menangis kemudian menarik kerah Naruto untuk berhadapan dengannya lebih dekat lagi. "Kau payah! Pria bodoh! Jaga baik-baik Hinata-chan. Jangan membuatnya menangis. Jika kau menyakitinya, akan kubunuh kau!"
Naruto menatap Kiba serius. Kata-kata Kiba menohok jantungnya, 'Menyakiti dan membuatnya menangis?' Naruto sudah melakukannya. Ia menunduk, sambil menepis tangan Kiba.
"Aku yang akan membunuh diriku sendiri, jika aku membuat Hinata menangis lagi," gumam Naruto.
Kiba memalingkan wajahnya, dan kembali meraih cangkir yang sudah diisi dengan sake, namun karena keadaan yang tengah mabuk, Kiba malah menumpahkan sake tersebut ke karpet.
"Kiba! Sudah aku bilang, jangan mengotori rumahku." Naruto naik pitam, jika hanya kulit kacang dia masih memaklumi, tapi ini sake, baunya susah sekali hilang.
Naruto bergegas meraih kain lap dan mulai membersihkan karpet tersebut. Semuanya terdiam memerhatikan Naruto. Apa mereka tidak salah lihat? Itu benar Naruto, kan?
"Naruto, tidak biasanya kau begitu cerewet tentang kebersihan—"
"Aku tidak mau Hinata membersihkannya," potong Naruto, wajahnya terlihat serius meski tak sedetik pun menghadap ke arah sahabat-sahabatnya, ia memilih terus mengusap karpetnya itu.
"Hinatamu itu tidak akan marah hanya karena hal seperti ini..." racau Kiba, tangannya menghentak-hentak meja kemudian menyandarkan kepala yang mulai berat akibat pengaruh alkohol.
"Hinata-san tidak akan memarahimu, Naruto," timpal Sasuke, sedikit geram dengan tingkah Naruto.
"Hinata memang tidak akan memarahiku, tapi besok akan ada orang yang melihat apartment kami, mana mungkin aku membiarkannya berantakan, terlebih Hinata, dia tidak akan tinggal diam, dia akan membersihkannya—aku, tidak mau membuatnya lelah."
"Melihat apartment kalian?" Sasuke menaikkan sebelah alisnya. Bukan hanya Sasuke, Gaara dan Shikamaru pun bertanya-tanya dengan ucapan Naruto.
Menghentikan kegiatannya mengelap karpet, Naruto terdiam sambil mencengkram kain lap, lalu mengangguk. "Besok aku dan Hinata akan pindah, kami menjual apartment ini beserta isinya—perabotan rumah."
"Bukankah besok hari pernikahan kalian?"
Naruto tersenyum hambar, "Ya, apa boleh buat. Bukankah semakin cepat semakin bagus? Mana mungkin orang yang sudah menikah akan tinggal di apartment yang berbeda, karena itu kami putuskan untuk menjualnya dan pindah ke tempat lain."
"Kenapa mendadak sekali?" Shikamaru menautkan kedua tangannya, pose yang ia gunakan ketika tengah berpikir.
"Karena ..." Naruto menundukkan matanya menatap karpet.
Gaara menyikut Shikamaru, menyuruhnya untuk menghentikan introgasi. Sudahlah tidak ada yang perlu di korek lagi, semua orang sudah mengetahui jika mereka berdua tidak ingin berurusan dengan keluarga masing-masing. Jadi apa salahnya jika ingin membuka lembar baru, bukan?
"Mau sampai kapan kau mengusap noda itu? Lebih baik ganti saja karpetnya atau singkirkan saja, baunya tidak akan hilang sampai besok." Sasuke angkat bicara, mencoba mencairkan suasana yang sedikit tegang.
Menghela napas panjang dan merelakannya, "Kau benar, Sasuke, sebaiknya karpet ini dibuang saja. Itu semua salahmu, Kiba, sudah aku bilang, kan, jangan memberantaki rumahku." Naruto kembali berceloteh dan memarahi Kiba, sedangkan yang dimarahi hanya bergumam dan mulai menutup mata.
~oOo~
Pernikahan Naruto dan Hinata berjalan begitu khitmat dan sederhana. Berlangsung di gereja dekat sekolah dasar tempat pertama mereka bertemu. Lembar pertama pertemuan mereka kembali melintas dalam memori ketika mengucap janji suci.
Kaki kecil berlari mengikuti seekor kucing, membuatnya menabrak seorang anak seumuran dengannya, pertamakali mata mereka bertemu dan saling melempar senyum.
Naruto tersenyum menatap Hinata yang berbalut gaun putih tanpa lengan dengan rok sependek lutut yang mengembang seperti bunga mawar putih. Di atas rambut Hinata terdapat rangkaian bunga mawar putih yang melingkari kepala, tampak seperti malaikat.
Detik berikutnya, wajah mereka memerah lantaran harus berciuman. Hinata menegang, ia mencengkram bucket bunga yang ada di tangannya menatap wajah Naruto yang semakin lama semakin mendekat, mengeliminasi jarak hingga napas pria yang sudah menyandang sebagai suaminya ini mampu ia rasakan.
Mata Hinata perlahan menutup menunggu sentuhan lembut dari bibir Naruto ... tapi—
"Hoek..." Hinata menutup mulutnya, mual kembali ia rasakan. Lalu kembali menatap Naruto yang sekarang sudah menjaga jarak darinya karena terkejut.
"Hey, Naruto! Apa kau tidak sikat gigi?" Kiba berteriak membuat semua tamu tertawa. Beruntunglah tamu yang datang hanya teman-teman Naruto dan Hinata.
Dua pasang pengantin itu tercekat dan saling membuang muka karena malu. Naruto berdehem sebelum akhirnya kembali meraih tangan Hinata dan menghadap ke para tamu. Tentang ciuman? Mereka tidak meneruskannya. Takut-takut jika Hinata kembali mual dan membongkar rahasia mereka.
Acara pernikahan diakhiri dengan melempar bunga. Sudah menjadi tradisi para gadis berebut untuk menangkapnya, berharap bunga tersebut bisa didapat dan cepat-cepat menyusul.
Hap! Gadis berambut blonde yang dikuncir dua, menangkap dengan susah payah hingga kehilangan keseimbangan, beruntunglah ada Shikamaru yang kebetulan ada di sana dan menangkap tubuhnya.
Keduanya bertatapan cukup lama dengan posisi Shikamaru memeluk sang wanita. Mungkin saja adegan itu akan berlangsung lebih lama lagi kalau saja Gaara tidak turut campur dengan menarik sang wanita yang tak lain adalah kakaknya. Sepertinya sebentar lagi akan ada yang menyusul.
~oOo~
Tidak ada pesta dan tidak ada bulan madu. Setelah ikrar janji suci terucap, mereka langsung membereskan rumah baru mereka.
Naruto membeli sebuah rumah kecil untuk mereka tinggali. Tentu akan sulit bagi mereka untuk membiasakan diri, mengingat mereka sudah terbiasa tinggal di rumah besar dengan fasilitas yang memadai.
Hidup baru mereka akan dimulai dalam rumah yang begitu minimalis ini. Tempat hangat yang menjadi tujuan Naruto untuk pulang apalagi dengan adanya Hinata yang akan selalu menyambutnya. Naruto bisa membayangkan kehidupan indahnya nanti.
Tapi tak selamanya hidup berjalan dengan indah ...
"Naruto-kun, sebaiknya kau cepat membeli pemanas ruangan, karena pemanas ini sudah rusak." Hinata mengotak-atik pemanas yang ditinggalkan pemilik rumah sebelumnya.
Membahas tentang pemanas, itu artinya sebentar lagi memasuki musim dingin yang artinya ulangtahun Hinata sebentar lagi. Naruto tersenyum dan mulai berpikir hadiah apa yang akan ia berikan untuk istri tercinta.
"Tentu saja, tapi.. kau harus diam di sini." Naruto menarik Hinata untuk duduk di atas kursi yang baru ia turunkan dari mobil. "Kau tidak boleh membantu, aku tidak mau melihatmu kelelahan, urusan rumah serahkan padaku. Kau hanya perlu memikirkan menu makan malam apa yang akan kita santap."
Hinata merengut, dia tidak suka jika disuruh diam. Dia ingin membantu, setidaknya biarkan Hinata membatu meletakkan barang-barang kecil yang tak terlalu berat. "Naruto-kun, aku mohon." Wajah Hinata memelas.
Naruto tersenyum, namun detik berikutnya ia menatap Hinata dengan tatapan tegas, seolah perintahnya adalah hal mutlak dan tidak boleh dibantah. "Kau harus menyimpan tenagamu, kau tidak boleh kelelahan, Hinata. kandunganmu itu masih lemah. Aku tidak mau terjadi apa-apa pada anak kita," tukas Naruto tegas, tak memberi cela untuk Hinata menjawab.
Akhirnya Hinata memilih untuk patuh. Meski dengan alasan apapun, Naruto tidak akan membiarkan Hinata untuk bekerja. Hinata tersenyum dan mengusap perutnya sambil memerhatikan Naruto yang tampak keren karena bertelanjang dada ditambah tubuh tegap berotot berkulit tan yang dihiasi keringat.
"Lihat, nak. Tou-san sangat menyayangimu, aku jadi iri." Hinata terkikik karena cemburu pada anak sendiri. Perhatian Naruto pada Hinata, Hinata tangkap sebagai rasa sayang Naruto pada sang buah hati. Hinata sangat senang, karena awalnya ia kira Naruto tidak menginginkan bayi, namun semuanya terbantahkan dengan perhatian yang Naruto berikan.
Terus memerhatikan Naruto, membuat Hinata bersyukur bisa menikah dengan Naruto. Suaminya ini bekerja begitu keras, wajahnya tampak serius ketika menata barang-barang agar terlihat rapi pada tempat yang begitu minimalis.
Hinata memberinya susu lalu memijat lengat Naruto. Hinata dapat merasakan lengan Naruto yang begitu keras membentuk otot. Meski sedikit malu-malu, Hinata tetap melakukannya.
Naruto menatap Hinata lalu bertanya, "Minuman apa ini?"
"Itu susu, Naruto-kun. Apa kau tidak tahu?"
"Aku tidak mau, berikan aku kopi." Naruto mendorong gelas tersebut sedikit merajuk. Sudah sangat lama ia berhenti meminum susu, baginya minuman itu hanya untuk bayi.
"Kau ingin minum kopi malam-malam begini?" Hinata menaikan sebelah alisnya, sedikit terkejut karena baru mengetahui bahwa Naruto tidak menyukai susu.
"Tentusaja, memangnya kenapa? Kau takut aku tidak bisa tidur? Bukankah malam ini malam pengantin kita?" Naruto memincingkan matanya memerhatikan wajah Hinata yang langsung memerah.
"Eh? E-to, ano.. ma-ma-malam—"
"Hahaha, aku becanda, kau tidak perlu takut, aku tidak akan melakukannya." Naruto tertawa namun kali ini tawanya terdengar hambar, wajahnya perlahan meredup. Kata-katanya bagai pil pahit yang ia telan sendiri. Naruto tahu diri, melakukan 'itu' tanpa cinta hanya akan menyayat luka. Senyum getir Naruto berubah menjadi kekehan, karena dia teringat kata-katanya sendiri, dia tidak ingin melukai dan membuat Hinata menangis lagi. Ah, Naruto tidak akan melakukannya, meski artinya dia harus menahan diri.
Hinata ikut tersenyum, meski hanya formalitas. Pijatannya pada lengan Naruto sedikit melemah. Hinata tersadar bahwa dirinya bukan wanita yang dicintai Naruto. Bagaimanapun mereka menikah karena janin yang dikandung Hinata. Hinata senang karena Naruto mau bertanggung jawab dan begitu menyayangi calon buah hatinya. Itu sudah cukup, kan?
Tapi kenapa hati ini terasa sakit?
Hinata menggeleng, membuang jauh-jauh pikiran itu. Dia harus tahu diri. Tidak semua rumah tangga berjalan baik, begitu pun dengan rumah tangganya. Menghela napas panjang kemudian meraih sebuah buku. Hinata duduk tepat di hadapan Naruto.
"Buku apa itu?" Naruto menaikkan alisnya, ia mencoba meraih buku itu tapi cepat-cepat ditepis oleh Hinata.
Hinata tersenyum mengejek, "Ini buku catatan keuangan kita." Hinata mulai membuka menunjukan jumlah uang hasil penjualan apartment mereka. "Setelah dihitung-hitung, sepertinya hanya cukup membiayai hidup dalam enam bulan."
Naruto memajukan badannya, menatap perhitungan Hinata yang terperinci, "Enam bulan?"
"Iya, setelah dipotong untuk membeli rumah dan perabotan baru, ditambah gas dan listrik lalu membayar uang kuliahmu—"
"Bagaimana denganmu? Biaya kuliahmu, tidak kau hitung?"
Wajah Hinata perlahan meredup, namun langsung ia tutupi dengan senyum manis, "Tidak perlu, aku putuskan untuk berhenti kuliah."
"Kenapa berhenti? Kau bisa mengambil cuti satu smester, bukankah sayang jika berhenti—"
Hinata menggeleng, ia meraih tangan Naruto menggenggamnya erat. "Aku sudah memutuskannya, Naruto-kun. Bukan karena saat ini aku tengah hamil. Tapi karena aku sudah memutuskan untuk menjadi seorang ibu rumahtangga. Aku ingin mengurusmu dan anak kita."
Naruto tertegun setelah mendengar penuturan Hinata. Ia ingin memeluknya dan berkata,'Terima kasih sudah menjadi istriku.' Tapi tidak mungkin, kan?
"Lalu bagaimana dengan biaya persalinan? Apa sudah kau potong?" Naruto memeriksa setiap rincian, ternyata biaya persalinan untuk Hinata tidak ada.
"Bukankah masih lama?"
"Meskipun masih lama, tetap saja harus dipersiapkan dari sekarang. Biaya pemeriksaan bulanan juga tidak kau tulis, lalu kebutuhanmu, seperti susu dan vitamin ibu hamil? lalu bagaimana kalau kau tiba-tiba ngidam sesuatu? Semua itu haus dianggarkan—"
Hinata memandangi wajah serius Naruto yang tengah memikirkan apa-apa yang dibutuhkan Hinata.
"—perlengkapan bayi? Ya, bagaimana dengan perlengkapan bayinya? Baju-baju, sepatu, kereta bayi, lalu perlengkapan lainnya? Kenapa tidak kau tulis? Tunggu! Kita belum tahu apakah bayi kita laki-laki atau perempuan, kalau begitu kita membeli perlengkapan bayi saat sudah mengetahui jenis kelaminnya—"
Hinata tersenyum bahagia, hingga tanpa sadar mengeluarkan air mata.
"Hinata, kenapa kau menangis?"
Hinata menggeleng, "Aku tidak menangis." Mengusap airmata yang menuruni pipi putihnya. "Aku bahagia, Naruto-kun. Ini airmata kebahagiaan."
Berniat menghapus airmata Hinata, tangan Naruto terulur mencoba meraih pipi Hinata, namun gadis itu segera berdiri menjauh, "Kopi, aku lupa membuat kopi untuk Naruto-kun." Hinata bergegas menuju dapur meski masih sesenggrukkan.
Menatap punggung Hinata yang mulai menjauh, kemudian edarannya dialihkan pada buku, "Dia hanya memikirkan kebutuhanku saja." Naruto tersenyum getir dan mulai mencoret-coret buku tersebut.
~oOo~
Meletakkan kepala di meja ruang makan, tatapan matanya lurus penuh kesedihan. Lampu dalam ruangan ini sengaja dimatikan, namun bukan berarti tidak ada yang tahu bahwa dirinya ada di sana.
Ada pria yang memerhatikannya. Pria berambut blonde itu berjalan mendekat lalu mengusap lengan sang wanita. Memeluknya erat seolah memintanya untuk menghentikan kesedihannya, meski dia tahu bahwa yang dilakukannya ini percuma.
Sang wanita sudah terlalu kecewa dan sedih, "Kau tidak perlu mengorbankan anak kita, hanya karena dendam pribadimu itu."
"Dia sudah melewati batas. Jika wanita yang ia bawa bukan putri dari Hiashi, aku pasti akan menerimanya, tidak peduli latar belakang wanita itu, tapi tidak untuk dia, aku tidak akan menerimanya. Kenapa kau tidak bisa mengerti, Kushina?"
"Memangnya apa salah mereka?"
"Kesalahan mereka adalah, mereka tidak tahu posisi mereka. Terutama gadis Hyuuga itu, seharusnya dia menjauhi Naruto jika sudah mengetahui bahwa aku dan Hiashi bermusuhan."
Kushina mengupat dalam diam. Ia menepis pelukan Minato kemudian berlalu pergi, masuk ke kamar Naruto.
Minato meremas jemarinya, mengingat masa-masa dulu.
Mereka tersenyum dan saling merangkul lalu berkata, 'Kau adalah saudaraku.' Kenangan yang mulai memudar namun tak pernah dilupakan.
Begitupun dengan Hiashi. Pria paruh baya yang tengah berkutat di meja kerjanya ini terdiam sejenak menatap bingkaian foto yang terdapat di pojok meja.
Tak ada ekspresi di raut wajahnya, terutama saat melihat wajah Hinata yang tersenyum kecil. Tangan renta itu menutup foto tersebut, tak membiarkan dirinya terlena akan kepergian sang buah hati. Meski sebenarnya dia ingin sekali menculik Hinata dan membunuh Naruto.
~oOo~
Kedua pasang pengantin baru itu terdiam, berdiri diambang pintu kamar. Mata mereka tertuju pada ranjang yang sudah tertata begitu rapi lengkap dengan spray dan selimut.
"Eto, apa sebaiknya aku tidur di sofa saja?" gumam Naruto.
Hinata mendongak, menatap wajah samping Naruto. Kemudian jemarinya meraih ujung baju Naruto. Dia tidak akan membiarkan Naruto menderita. Apa lagi setelah seharian bekerja mengangkut barang. Hinata tidak akan tega membiarkan Naruto tidur di sofa yang tak nyaman.
"Na-naruto-kun, ti-tidak perlu tidur di sofa, kita bisa berbagi tempat tidur. Ji-jika Naruto-kun tidak nyaman, aku bisa tidur di sofa, tubuhku kecil, jadi tidak apa kalau aku yang tidur di sofa."
"Apa yang kau katakan? Kau sedang hamil, tidak mungkin aku membiarkanmu tidur di sofa. Jangan pernah sekali pun mengalah demi aku." Sentak Naruto sedikit kesal karena lagi-lagi Hinata mengalah.
"Ka-kalau be-begitu kita tidur satu ranjang."
Mata Naruto membulat, pipinya memerah apa lagi saat melihat Hinata mendongak menatapnya dengan tangan yang memegangi ujung baju Naruto, tampak seperti anak kecil yang tengah memohon. Sial, kalau seperti ini sudah dipastikan Naruto tidak akan bisa tidur.
Naruto mengangguk sambil memalingkan wajahnya.
Terdiam cukup lama dengan posisi saling memunggungi, keduanya tengah dalam pikiran masing-masing. "Hi-hinata, apa aku boleh tanya sesuatu?" Suara Naruto memecah kesunyian.
"Uhm."
"Apa yang membuatmu begitu bersalah kepadaku?" meremas selimut lalu memejamkan mata. Naruto merutuki pertanyaan yang keluar dari mulutnya. "Sa-saat malam i-itu—tidak. Saat pa-paginya, kau meminta maaf padaku."
Hinata terdiam, memikirkan bagaimana dia menjawabnya. "A-aku tahu jika aku tidak kuat minum, na-namun malam itu aku memaksakan diri. Seharusnya aku tidak minum terlalu banyak. Maaf, andai saja aku tidak mabuk malam itu. Mungkin Naruto-kun tidak—"
"Kau tidak salah Hinata!" Naruto memotong ucapan Hinata. "A-aku yang salah. Seharusnya aku tidak—"
Hinata menunggu penjelasan Naruto, namun laki-laki itu malah terdiam seolah tengah menyelam dalam pikirannya sendiri. "'Tidak' apa, Naruto-kun?"
Sekali lagi Naruto merutuki dirinya, jika dia melanjutkan perkataannya itu artinya dia mengaku sudah memerkosa Hinata. bagaimana jika wanita itu marah padanya? Ini malam pengantinya, tidak seharusnya dilewati dengan pengakuan dosa. Namun jika Naruto tidak mengakui, apa dia akan menjalani kehidupan rumahtangga berdasarkan kebohongan. Naruto dilema.
Pikirannya melayang saat malam itu. Malam dimana dia memerhatikan wajah Hinata yang terpejam.
"—Tidak menyentuhmu."
—TBC—
Hallo para pembaca Our Bolt. Di sini Vinara mau memberitahukan bahwa chapter 4 dan Chapter 5 ada perubahan. Tidak begitu banyak, Vinara hanya menghapus adegan flash backnya saja.
Sebenarnya sebelum update chapter 4 ini Vinara sedikit stres, bahkan Vinara sempat menulis status mengenai chapter ini. Apakah perlu dipost atau tidak.
Vinara memberikan 3 pilihan. Yaitu: 1. Tidak jadi dipost. 2. Dipost lalu diedit. Dan 3. Dihapus seluruh ff setelah ff ini tamat.
Vinara awalnya memilih pilihan ke-tiga. Tapi rasanya Vinara tidak kuat jika menunggu sampai tamat. Vinara resah setiap kali membuka FFN. Vinara kepikiran udah berapa orang yang baca. Gini-gini Vinara juga takut dosa. Oke abaikan!
Entah apa yang ada dalam pikiran kalian. Yang jelas Vinara sudah yakin untuk menghapus adegan flash back.
Maaf buat yang baru membaca. Dan terima kasih buat yang sudah membaca.
