Just Stupid
All of the character is not mine. They're belong to J.K Rowling.
4.
Desember 2006
Hermione berdiri di ruangannya, selama ini ia selalu merasa kalau pemandangan yang didapatkannya dari ruang kantornya ini adalah semacam hadiah yang diberika Merlin kepadanya, sebagai bayaran atas penderitaannya yang didapatkan selama bekerja di Malfoy Enterprise.
Ia bisa melihat banyak hal dari ruangannya itu belum lagi jika sudah malam. Hermione bisa melihat bintang-bintang yang dengan indahnya seperti meledek dirinya yang terjebak dalam gedung itu, harus bekerja dan menjalani rutinitas yang tidak disukainya.
Selama ini ia selalu menghabiskan waktu berdiri memandang ke arah luar, berharap paling tidak rasa sakit kepalanya hilang.
Hermione menghela nafasnya, ia sudah memberitahu Draco tempo hari kalau ia akan berhenti bekerja, dan ia sudah membuat surat pengunduran dirinya yang akan ia serahkan minggu depan.
Hermione kemudian menelepon Lizzy, baru akan menyuruhnya mengambil berkas dari ruangan Draco, tapi kemudian tidak ada respon, teleponnya tidak diangkat. Hermione menggerutu, kemana lagi asistennya itu.
Maka Hermione menuju ke ruangan Draco sendiri, ia menyadari kalau Mark tidak ada ditempatnya.
Hermione menghela nafasnya. Ia berbalik dan pergi.
.
Beberapa hari belakangan ini Hermione semakin menyadari kalau asistennya sama sekali tidak berguna, kerjanya lambat dan tidak peka. Hermione memintanya megambil berkas dari bagian manajemen sebelum makan siang, tapi Lizzy baru mengambilkanya sekitar jam tiga, itu juga karena diingatkan lagi oleh Hermione.
Pekerjaannya tidak ada yang beres, dari pekerjaan besar sampai pekerjaan kecil, tidak ada yang benar. Hermione merindukan Anna.
Tiba-tiba pintu ruangannya diketuk.
"Masuk." Hermione berseru.
Blaise Zabini berdiri di depan pintunya tersenyum, dan membawa bunga.
Hermione tersenyum.
"Hai Hermione." Blaise berseru, masih tetap berdiri di depan pintu.
"Hai Blaise." Hermione tersenyum.
"Apa asistenmu membuatmu gila lagi hari ini?" Blaise bertanya, maju satu langkah.
Hermione meghela nafasnya, ia mengangguk. Blaise berjalan mendekat lalu mengulurkan rangkaian bunga yang dipegangnya.
"Untukku?" Hermione bertanya.
"Ada syaratnya." Blaise berkata, menarik lagi bunga itu.
"Apa?" Hermione bertanya, tertawa pelan.
"Makan malam denganku." Blaise memberitahu.
Hermione tertawa kemudian mengambil bunga yang ada di tangan Blaise. "Sure."
Hermione dan Blaise sudah melakukan ini berkali-kali, dua minggu terakhir ini, Blaise selalu datang dan memberinya bunga dan mengajaknya makan malam, mereka tidak pergi makan malam ke restoran mewah atau semacamnya, tidak. Hanya makan malam pertama mereka pergi ke restoran mahal. Kali kedua, ketiga, dan seterusnya mereka pergi ke restoran-restoran sederhana, baik di dunia Muggle ataupun dunia sihir.
Mereka berdua sepakat kalau makan di restoran sederhana lebih nyaman untuk mereka berdua, mereka bisa duduk lama, tertawa keras-keras dan memesan porsi ke dua atau ke tiga tanpa harus malu.
Kali kedua Blaise mengajaknya makan malam, Blaise memberitahu Hermione kalau dirinya menyukai Hermione, Hermione memerah dan canggung, tapi kemudian Blaise tertawa dan berkata kalau Hermione terlihat seperti kepiting. Blaise kemudian meminta Hermione memberinya kesempatan, ia akan membuktikan kalau ia layak untuk Hermione.
Dan Blaise benar-benar berusaha membuat dirinya layak untuk Hermione Granger.
"Hermione, apa kau akan bekerja di Malfoy Enterprise untuk jangka waktu lama?" Blaise bertanya.
Hermione menggeleng. "Ini adalah bulan terakhirku." Hermione memberitahu.
"Benarkah?" Blaise bertanya.
Hermione mengangguk.
"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" Blaise bertanya.
Hermione menimbang sebentar. "Apa kau bisa menjaga rahasia?" Hermione bertanya.
Blaise mengangguk.
"Sebenarnya aku belum ingin memberitahu hal ini, tapi aku berencana pergi keluar negeri." Hermione memberitahu.
"Untuk apa?" Blaise bertanya.
Hermione menghela nafasnya, memulai ceritanya."Dulu, saat aku berbulan-bulan, luntang-lantung mencari Horcrux bersama Harry dan Ron, aku menemukan banyak tempat-tempat yang indah, meskipun kebanyakan yang kulihat hanya hutan-hutan dan pohon-pohon,tapi aku melihat banyak hal." Hermione memberitahu.
"Kemudian aku menyadari kalau dunia ini sangat luas, benar-benar luas. Aku ingin melihat banyak hal dan banyak tempat. Aku ingin keliling dunia." Hermione memberitahu.
"Kau ingin keliling dunia?" Blaise bertanya sedikit terperangah.
Hermione mengangguk.
"Dan kau akan berangkat awal tahun depan?" Blaise menebak.
"Wah, Blaise, kau pintar juga yah ternyata." Hermione berseru. "Dari awal, aku menerima pekerjaan di kantor Malfoy hanya karena satu alasan. Uang. Aku ingin keliling dunia, karena itu aku butuh banyak uang. Yang kumaksud dengan banyak adalah benar-benar banyak. Aku tidak berencana pergi selama beberapa bulan atau setahun dua tahun. Aku berencana pergi untuk jangka waktu yang sangat sangat lama." Hermione memberitahu.
"Aku mungkin akan menghabiskan waktu lima tahun atau sepuluh tahun. Entahlah, aku tidak begitu yakin, aku hanya ingin melihat dunia dan pergi dari Inggris." Hermione memberitahu.
Blaise menghela nafas yang ia tidak sadar ditahannya.
"Aku sudah berkali-kali mengalami keadaannya antara hidup dan mati, Troll, Dementor, Voldemort, Bellatrix." Hermione memberitahu. "Dan aku sadar kalau hidup terlalu berharga untuk dihabiskan seperti burung dalam kandang."
.
Blaise menghela nafasnya. Ia berbaring tidak tenang dikasurnya. Ia menyukai Hermione Granger, benar-benar menyukai Hermione Granger. Ia akhirnya berhenti dari rencana menyatukan Hermione dengan Draco karena ia menyukai Hermione, ia ingin mendekati Hermione dan mendapatkan Hermione untuk dirinya sendiri.
Blaise belum pernah bertemu dengan perempuan seperti itu. Perempuan yang tidak sadar kalau dirinya begitu mempesona, perempuan yang mimpinya setinggi bintang-bintang dilangit, perempuan yang mata cokelatnya membuat dirinya merasa hangat.
Blaise mengenal dirinya dengan baik, sangat baik. Ia tahu seperti apa dirinya, dan ia tahu apa yang akan terjadi dengan dirinya begitu ia dewasa dari ia remaja. Ia tahu ia akan menjadi tipe pria seperti itu, tipe pria yang memacari dan tidur dengan banyak perempuan tapi tidak pernah berhenti di satu perempuan.
Ia berbeda dengan Draco. Meskipun dari luar mereka kelihatan sama, tapi ia dan Draco berbeda. Blaise tahu Draco punya impian untuk punya keluarga bahagia, anak, rumah, menghias pohon natal, dan hal-hal klise lainnya yang menjijikkan. Sementara Blaise tidak menginginkan hal itu.
Blaise tahu ia akan menjadi seperti apa, ia akan melajang sampai mati, ketika sudah tua ia akan tetap dikelilingi perempuan-perempuan dan menjalani hidup yang , setidaknya awalnya ia mengira dirinya akan berakhir seperti itu.
Tapi Hermione membuat dirinya ingin berhenti. Hermione membuatnya ingin memiliki seseorang yang menunggunya di kasurnya saat ia pulang kerja, perempuan yang membangunkannya dengan lembut, perempuan yang akan memeluknya saat ia sedih, dan perempuan yang akan mengatakan kalau ia mencintainya.
Dan demi merlin ia ingin perempuan itu adalah Hermione Granger.
Tapi Hermione Granger berkata bahwa ia ingin pergi dan melihat dunia. Blaise tahu mau tidak mau ia harus melakukan sesuatu. Kemungkinan pertama ia harus melakukan sesuatu agar Hermione tidak jadi pergi. Kemungkinan kedua, ia bisa ikut dengan Hermione.
Damn right, Ia bisa ikut dengan Hermione, mereka bisa pergi bersama, mengelilingi dunia, melihat banyak hal yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Blaise bisa menghabiskan waktu bersama dengan Hermione, ia juga bisa sekaligus memastikan kalau Hermione tidak berada dalam bahaya, dan ia bisa memastikan tidak ada pria lain yang mendekati Hermione.
Tapi apa Hermione mau pergi dengannya, bagaimana perasaan Hermione sebenarnya padanya, apa Hermione menyukainya? Atau paling tidak apakah Hermione mau membuka hatinya untuk Blaise?
Draco. Blaise lupa memperhitungkan Draco. Apa pria itu benar-benar tidak menginginkan Hermione? Ah, dan yang terpenting adalah, apakah Hermione tidak menginginkannya?
.
Draco duduk di mejanya. Kepalanya sakit, ia sudah menghabiskan tiga gelas kopi hari ini. Ia berdiri memandangi komputernya. Komputer, komputer adalah satu dari sekian banyak perubahan yang dibawa Hermione ke perusahaannya. Hermione memperkenalkan perusahaan mereka dengan teknologi Muggle ini, awalnya Draco membiarkan Hermione menghabiskan banyak uang untuk memebeli banyak komputer hanya untuk membuat Hermione senang bekerja diperusahaannya, tapi ia kemudian menyadari manfaat komputer ini, kemudian Hermione memasang saluran telepon di dalam kantor, listrik, sistem absen dengan sidik jari. Lucius sering meledeknya dan mengatakan siapa sebenarnya direktur perusahaannya ini? Draco Malfoy atau Hermione Granger?
Sejujurnya ia tidak tahu bagaimana perasaannya pada Hermione, ia jelas tidak membenci Hermione, tidak sama sekali, ia tahu kata-kata terlarang yang ia jadikan alasan pada Blaise hanya sekedar kata bodoh yang keluar karena ia tidak siap menjawab pertanyaan Blaise.
Ia tidak tahu kenapa ia tidak mendekati Hermione, tidak tahu, benar-benar tidak tahu, mungkin karena harga dirinya melarang, mungkin karena ia tidak mau membuat Lucius senang, atau mungkin karena ia terlalu bodoh.
Ruangannya diketuk seseorang.
"Masuk." Draco berseru.
"Sir, aku baru berpapasan dengan Mark di toilet." Seseorang berseru dari depan pintu, "Ia mendapat patronus dari istrinya yang sepertinya akan melahirkan, ia segera pergi ke St Mungo dan memintaku memberitahu anda ia harus pergi." Orang itu memberitahu.
"Oh.." Draco mengerti. "Baiklah, tidak masalah. Terimakasih sudah memberitahuku." Draco memberitahu. Orang itu keluar dari ruangan Draco.
Draco berpikir sebentar, apa yang harus dilakukannya?
Akhirnya Draco memutuskan ia akan pergi ke St. Mungo dan memberi semangat Mark. Ia berjalan ke arah gantungan mantelnya kemudian menuju ke saluran Floo.
.
Hermione sedang memeriksa beberapa kontrak saat Lizzy tiba-tiba masuk keruangannya tanpa mengetuk. Hermione mencengkram penanya sekuat tenaga, menahan dirinya agar tidak mengutuk perempuan di depannya.
"Ada apa?" Hermione bertanya ketus.
"Ada yang menyampaikan pesan untuk anda Miss Granger, katanya seseorang bernama Anna yang melahirkan di St. Mungo."
Lizzy belum menyelesaikan kalimatnya saat Hermione langsung mengambil tas dan mantelnya dan berjalan ke saluran Floo.
.
Draco keluar dari salah satu perapian di St. Mungo dan melihat Hermione Granger yang juga keluar dari perapian yang lain.
"Granger, apa yang kau lakukan disini?" Draco bertanya.
"Asistenku melahirkan." Hermione menjawab sambil lalu dan menuju ke meja resepsionis. "Selamat malam, apa ada pasien dengan nama Anna McKenzie?" Hermione bertanya.
Resepsionis di depannya melihat buku catatannya. "Oh, Mrs McKenzie berada diruang persalinan di lantai tiga." Hermione resepsionis itu memberitahu.
Hermione berterima kasih dan langsung menuju ke lift. Draco hanya berjalan dibelakang Hermione.
"Apa yang kau lakukan disini Malfoy?" Hermione bertanya, menghentikan langkahnya.
"Aku tidak tahu nama asistenmu Anna McKenzie." Draco memberitahu, seperti menahan tawa.
Hermione menaikkan sebelah alisnya. "Ada yang lucu?" Hermione bertanya tidak mengerti.
"Apa kau tahu nama lengkapnya Mark?" Draco bertanya.
Hermione menggeleng, tapi kemudian sesuatu disadarinya. "Apa mungkin?" Hermione bertanya.
Draco mengangguk, mengiyakan kecurigaan Hermione.
"Ah, sudahlah." Hermione malas berpanjang lebar dan ia langsung menuju ke lift diikuti Draco dari belakang.
Mereka berdua hanya berdiri diam dan tidak bicara satu sama lain. Mereka bisa melihat Mark yang sedang berdiri dengan beberapa orang yang sepertinya merupakan anggota keluarganya.
Hermione berjalan mendekat.
"Mark…" Hermione berseru pelan.
"Miss Granger." Mark berseru kaget. "Aku tidak menyangka kalian mau datang kesini." Mark berkata rendah hati, yang dimaksudnya dengan kalian adalah Hermione dan Draco.
"Jangan bicara begitu, Anna sudah seperti saudara perempuanku sendiri." Hermione memberitahu. "Bagaimana keadaannya?" Hermione bertanya lagi.
"Entahlah, aku tidak begitu yakin, Healer dan Mediwitch yang menanganinya mengatakan ada pendarahan ringan tapi entahlah." Mark berkata cemas.
"Tenanglah Mark, semuanya akan baik-baik saja." Draco berkata, menepuk pundak Mark.
Sekitar lima belas menit kemudian seorang mediwitch keluar dan memberi kabar kalau Anna sudah melahirkan, Mark segera masuk diikuti berapa anggota keluarga mereka sementara Hermione dan Draco hanya duduk di kursi.
"Aku benar-benar tidak menyangka kalau Anna dan Mark suami istri." Hermione berseru, memberitahu Draco.
Draco tertawa pelan. "Aku juga tidak tahu."
"Kalau kau tidak tahu itu bukan hal yang mengagetkan, kau tidak peduli dengan karyawanmu, lagipula kau tidak begitu mengenal Anna, tapi aku tidak seharusnya tidak tahu tentang mereka, aku akrab dengan Anna, dan cukup mengenal Mark untuk seharusnya tahu kalau mereka suami istri." Hermione meggerutu.
Draco hanya tersenyum mendengar ucapan Hermione yang panjang lebar.
Tidak lama Mark keluar dan mempersilahkan anggota keluarga mereka yang lain untuk masuk.
Draco berdiri dan menghampiri Mark. "Selamat ya Mark." Draco berkata, mengulurkan tangannya dan tersenyum lebar.
"Terimakasih Mr. Malfoy." Mark berseru, matanya berkaca-kaca. Draco tersenyum lebar, ia turut senang untuk Mark.
"Ugh, aku akan membeli kopi sebentar." Draco berseru kemudian pergi, tidak bisa mengontrol perasaannya.
Hermione memutar matanya dan kemudian juga memberi selamat pada Mark, mereka kemudian duduk di salah satu kursi dan mengobrol sebentar.
"Perempuan atau laki-laki?" Hermione bertanya.
"Perempuan." Mark berseru terdengar bangga.
Hermione tersenyum. "Mark, aku tidak tahu kau dan Anna adalah sepasang suami istri." Hermione memberitahu.
Mark tertawa, menghapus titik air mata yang ada disudut-sudut matanya. "Ada peraturan yang melarang sesama karyawan di bidang yang sama untuk menjalin hubungan di Malfoy Enterprise." Mark memberitahu.
"Benarkah?" Hermione bertanya tidak percaya, ia tidak tahu ada peraturan semacam itu.
Mark mengangguk. "Aku dan Anna berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan hubungan kami, karena jika pihak manajemen tahu maka kemungkinan besar kami berdua akan dipecat, sementara kami butuh bayak uang." Mark memberitahu
"Miss Granger, Anna memberitahuku tentang mimpi anda, dan sejujurnya kami juga punya mimpi." Mark memberitahu. "Aku dan Anna, kami berdua memiliki lisensi ramuan profesional." Mark memberitahu.
"Benarkah?" Hermione bertanya, lagi-lagi tidak percaya, ia merasa dirinya dekat dengan Anna tapi sepertinya banyak hal yang tidak diketahuinya.
"Kami ingin membuka toko ramuan kami sendiri di suatu desa kecil dengan udara bersih dan hidup dengan nyaman dan tenang." Mark memberitahu.
Hermione tersenyum. Impian Mark dan Anna terdengar sederhana, amat sederhana, tapi ia bisa merasakan kalau mereka benar-benar menyukai gagasan itu.
"Tapi kami tahu mimpi itu tidak mudah, tinggal di desa dengan hanya membuka toko ramuan sederhana tidak mungkin memenuhi kebutuhan keluarga kami nantinya." Mark memberitahu lagi. "Kami ingin anak-anak kami kelak terpenuhi semua kebutuhannya, mereka bisa mendapatkan seragam Hogwarts mereka masing-masing dan paling tidak, bisa membeli buku yang mereka inginkan tanpa harus menabung satu tahun penuh." Mark memberitahu.
Hermione tersenyum makin lebar, beruntungnya Anna menemukan pria seperti Mark.
"Aku dan Anna sudah bekerja di ME hampir tujuh tahun, dan kami rasa tabungan kami sudah cukup." Mark memberitahu. "Kami juga akan berhenti bekerja di ME."
Hermione tersenyum. "Kalau kalian merasa itu keputusan terbaik maka lakukanlah Mark, mimpi itu sesuatu yang harus dicapai." Hermione memberitahu pendapatnya.
Mark mengangguk. "Miss Granger, kau mau masuk sekarang?" Mark bertanya begitu melihat beberapa orang keluar dari ruangan di depan mereka.
"Sure." Hermione memberitahu.
.
Hermione tidak kembali ke kantor dan langsung menuju ke rumahnya. Ia benar-benar senang melihat Anna, Mark dan anak mereka, mereka terlihat bahagia.
-Flashback-
"Miss Granger, terimakasih banyak sudah mau datang." Anna memberitahu. "Dan terimakasih atas hadiah yang anda kirimkan." Anna memberitahu lagi.
Draco yang berdiri tidak jauh tiba-tiba membersihkan tenggorokkannya.
Anna tertawa. "Anda juga Mr. Malfoy, terimakasih banyak, untuk kedatangannya dan hadiahnya, beberapa tahun lagi mungkin anak kami bisa menggunakannnya." Anna memberitahu.
Hermione menertawakan Draco.
"Anna, kalau begitu aku pulang dulu." Hermione memberitahu.
Anna mengagguk. "Miss Granger, pulanglah! Benar-benar pulang! Jangan mampir ke kantor lagi." Anna memberitahu. "Dan jangan lupa makan malam." Anna berkata lagi.
Mark mengantar Hermione dan Draco sampai saluran Floo, Draco berpamitan kemudian langsung pergi kembali ke rumahnya. Hermione juga baru akan pergi saat Mark memanggilnya.
"Miss Granger." Mark bertanya.
"Iya?" Hermione tidak jadi melemparkan bubuk floo-nya.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" Mark bertanya.
"Tanyakan saja." Hermione memberi izin.
"Waktu itu, saat anda menyadari kalau aku tidak ada dimejaku dan sedang menghindari intercouse Mr Malfoy, kenapa anda pergi?" Mark bertanya. "Kenapa anda tidak lagi menghentikan Mr Malfoy seperti biasanya?" Mark bertanya pelan.
Hermione tersenyum kemudian menghela nafasnya. "Aku lelah." Hermione kemudian pergi.
-End of Flashback-
Jadi selama ini Mark tahu dan sengaja membiarkannya menghentikan Draco dan perbuatan menjijikkannya tapi tidak pernah mengatakan apa-apa.
Ia memberitahu Mark kalau ia lelah, well, itu benar, hanya saja kurang begitu tepat. Apa alasannya ia tidak lagi menghentikan Draco yang sedang melakukan perbuatan menjijikkan itu?
Karena ia ingin berpaling. Hermione benar-benar ingin berpaling, ia ingin melupakan Draco dan melanjutkan hidupnya.
Dan itu yang akan dilakukannya.
.
"Kemana kau akan pergi?" Blaise bertanya.
"Tujuan pertamaku adalah Tibet." Hermione memberitahu, meminum tehnya.
"Pilihan menarik." Blaise berseru. "Kemudian kau akan kemana?" Blaise bertanya lagi. "Nepal, Pakistan, kemudian India, lalu Asia Timur, kemudian Asia Tenggara." Hermione memberitahu.
"Kau akan berhenti di setiap negara?" Blaise bertanya.
Hermione mengangguk penuh semangat.
"Apa aku boleh ikut denganmu?" Blaise bertanya, membuat Hermione tersedak tehnya.
"Astaga Hermione, kau baik-baik saja?" Blaise menyodorkan kotak tissue. Hermione mengeringkan bagian atasnya dengan sihir kemudian melihat Blaise dengan tatapan bingung.
"Apa maksudmu Blaise? Aku tahu kau tidak bercanda." Hermione meminta penjelasan.
"Aku ingin ikut denganmu." Blaise memberitahu.
"Kenapa? Apa alasannya? Kau tidak sedang bergurau kan? Apa kau sakit?" Hermione bertanya.
Blaise menggeleng, wajahnya terlihat serius. "Aku bersungguh-sungguh Hermione, aku ingin ikut denganmu. Aku sudah mengatakannya kan? Aku menyukaimu Hermione, dan belakangan ini kau semakin tidak pernah pergi dari pikiranku, jadi aku ingin ikut denganmu dan melihat kemana semua ini akan membawaku."
Hermione menggeleng. "Blaise…"
"Hermione, kau bisa memikirkannya dulu kan? Tidak perlu langsung berkata tidak! Beri aku kesempatan." Blaise meminta.
Hermione menggeleng lagi. "Blaise. Aku tidak ingin menuntunmu ke arah yang salah." Hermione memberitahu. "Aku menyukaimu Blaise, kau pria yang baik, tapi aku merasa kita akan memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman." Hermione berkata jujur.
Blaise menghela nafasnya. "Draco?" Blaise bertanya.
Hermione menggeleng. "No, not really. Aku menyukai Draco." Hermione merasakan tangannya bergetar. "Tapi itu bukan alasan utamaku Blaise, aku hanya tahu kita tidak cocok untuk menjalani hubungan lebih dari teman, akan lebih baik jika kita tetap mejadi teman."
Blaise menghela nafasnya lagi. "Apa kau pernah memberitahu Draco kalau kau menyukainya?" Blaise bertanya.
Hermione menggeleng.
"Kenapa?" Blaise bertanya.
"Aku tidak ingin ia tahu." Hermione memberitahunya lagi.
Blaise tertawa. "Untuk seorang Gryffindor kau terdengar seperti pengecut." Blaise memberitahu.
Hermione tertawa. "Aku tidak pernah melakukan sesuatu yang kurasa tidak ada manfaatnya. Apa gunanya memberitahu Draco kalau aku menyukainya? Tidak akan ada manfaatnya." Hermione memberitahu.
"Beritahu Draco!" Blaise tiba-tiba berseru. "Beritahu Draco kau menyukainya." Blaise memberitahu lagi.
Hermione melihat Blaise aneh, tapi ada sesuatu yang bergejolak di hatinya. Apa yang akan terjadi kalau ia memberitahu Draco? Apa mungkin Draco menyukainya? Apa yang akan terjadi? Bagaimana jika Draco tertawa di depan wajahnya? Mengatainya mudblood atau semacamnya?
Demi Merlin ia ingin tahu respon Draco Malfoy jika ia mengungkapkan perasaannya. Hermione mempertimbangkannya sebentar, Draco Malfoy mungkin masih orang paling menyebalkan yang ada dimuka bumi ini, tapi ia sudah sedikit berubah, kalau seandainya Draco tidak menyukainya rasa-rasanya tidak mungkin Draco memanggilnya mudblood atau melakukan sesuatu yang mungkin mempermalukannnya.
Bagaimana mungkin satu kalimat bodoh dari Blaise membuatnya dilema?
Memang tidak ada manfaatnya memberitahu Draco, tapi tidak ada ruginya juga memberitahu Draco, setidaknya perasaannya selama ini akan terlepas dari kurungannya, masalah respon dari Draco belakangan.
Hermione melihat Blaise.
"Beritahu Draco." Blaise memberitahu Hermione lagi untuk yang kesekian kalinya.
Hermione tidak tahu apa yang merasukinya, ia dengan cepat mengambil tasnya, kemudian mantelnya. "Aku pergi dulu." Hermione berseru cepat dan pergi.
Blaise tersenyum.
.
Hermione tidak tahu apa yang terjadi padanya, jantungnya berdegup kencang, udara di luar sangat dingin tapi ia berkeringat, ia ber-apparating ke depan gedung kantor Malfoy Enterprise. Ia berlari menuju ke lift lalu dengan cepat menuju ke lantai dimana ruangan Draco berada.
Hermione bisa melihat di kaca lift kalau wajahnya memerah entah karena ia kedinginan atau karena ia berdebar-debar, ia akan memberitahu Draco Malfoy kalau ia menyukainya, mencintainya bahkan.
Lift yang dinaikinya berhenti tepat di lantai 20 dan pintunya terbuka. Hermione berjalan dengan cepat ke arah ruangan Draco tidak memperhatikan sekelilingnya, beberapa orang menyapanya tapi ia mengabaikan fokusnya hanya untuk menuju ke ruangan Draco.
Hermione meletakkan tangannya digagang pintu dan membukanya.
"Ahhh…Ahh… Draco… Lebih cepat… lebih cepat…"
Hermione bisa melihat Lizzy membungkuk di meja Draco dan Draco berdiri di belakangnya, melakukan seperti apa yang diminta Lizzy, lebih cepat.
Hermione tidak menyadari kalau air matanya sudah megalir.
"Hermione…" Draco berbisik pelan melihat Hermione berdiri di depan pintunya, mantelnya tidak terkancing sama sekali ia pasti memakainya terburu-buru, rambutnya berantakan seperti baru berlari dan tertiup angin, ada titik air mata di sudut mata kanannya.
Hermione membalikkan badannya. "Maaf mengganggu." Hermione berseru pelan kemudian pergi dengan cepat.
.
Hermione tidak masuk tiga hari setelah itu. Ia tidak memberitahu apa alasannya, ia hanya tidak muncul selama tiga hari. Kemudian hari keempat, Hermione berjalan ke kantornya dengan celana jeans, sweater kebesaran, topi benie dan langsung menuju ke ruangan Draco.
"Pagi Mark!" Hermione menyapa Mark, tersenyum lebar. "Apa Mr. Malfoy ada?" Hermione bertanya.
"Ada." Mark memberitahu, "Miss Granger ada apa? Kenapa anda tidak masuk beberapa hari?"
"Aku tidak enak badan." Hermione berbohong.
Hermione kemudian masuk keruangan Draco tanpa mengetuk terlebih dahulu.
"Pagi ." Hermione menyapa. Ia berjalan menuju ke meja Draco.
"Granger." Draco kaget melihat Hermione di depannya, Hermione baru saja memanggilnya Mr. Malfoy dan hal itu membuatnya merinding. "Apa yang kau lakukan disini dengan pakaian seperti itu, bukankah kau seharusnya menggunakan pakaian kantor?" Draco bertanya, berusaha membuat dirinya tetap tenang dan profesional.
Hermione mengeluarkan amplop kecil dari saku jeansnya kemudian meletakkan amplop itu di meja Draco. "Ini surat pengunduran diriku." Hermione memberitahu. "Semoga hari anda menyenangkan." Hermione lalu berjalan keluar dari ruangan itu.
Draco mengambil surat yang ada dimejanya.
.
Hermione sudah selesai merapikan semua barang-barangnya, ia menjual beberapa barang-barang miliknya yang tidak mungkin dibawanya, dan meyiapkan ransel sederhana dengan extendable charm, dan siap berangkat.
Ia hanya pergi ke ME untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya dan mengambil beberapa barang di ruangannya. Seharusnya ia berangkat menuju Tibet tanggal 2 Januari, tapi ia mempercepat keberangkatannya. 26 Desember. Ia akan merayakan natal degan kedua orangtuanya, kemudian berangkat.
Hermione tidak tahu apa yang terjadi dengannya, ia tidak seharusnya bertindak kekanak-kanakkan, lagipula hari itu bukan pertama kalinya ia melihat Draco melakukanya dengan perempuan asing.
Hermione menghela nafasnya. Ia menghabiskan satu hari untuk menangis dan menangis dan menangis seperti orang bodoh. Ia merasa seperti remaja perempuan yang benar-benar bodoh.
Ia sudah tahu kalau dari awal, dari awal ia pertama kali menyadari kalau ia mencintai Draco Malfoy seharusnya ia kabur, seharusnya ia berlari dan meghindar sejauh mungkin, bukannya membiarkan dirinya semakin jatuh dan semakin dalam.
.
"Hermione, kau yakin akan pergi?" Richard Granger bertanya lagi untuk yang kesekian kalinya, entah sudah yang keberapa kalinya ia bertanya hal yang sama.
Hermione tersenyum. "I'm fine Dad." Hermione menjawab
Helena Granger menangis dan memeluk Hermione erat sebelum Hermione pergi.
"Hermione." Ginny tidak sanggup berkata-kata, air matanya hanya mengalir tanpa henti.
"Berhentilah menangis Gin." Hermione memberitahu.
Ron dan Harry hanya berdiri diam, tidak mengatakan apa-apa, takut jika mereka membuka mulut yang keluar adalah tangisan.
Hermione sekali lagi memeluk kedua orangtuanya dan temannya, kemudian berjalan pergi.
"Selamat tinggal semuanya." Hermione berseru, melambai kemudian berbalik badan dan pergi.
Tangis Ron pecah. Ginny makin tersedu-sedu, Harry menghapus titik air mata dari sudut matanya.
.
Draco merasa kepalanya akan pecah, kenapa Grager masuk keruangannya saat ia sedang berhubungan intim dengan seorang perempuan, dan bukannya tertawa dan meledeknya seperti biasa, Granger justru terlihat terluka, Draco ingat melihat titik air mata disudut matanya, kemudian perempuan itu hanya berbalik badan dan meminta maaf karena sudah menggaggu.
Draco kemudian tidak sedetikpun berhenti memikirkan Granger semenjak hari itu. Granger kemudian tidak masuk kantor selama tiga hari tanpa keterangan, membuat Draco nyaris memutuskan untuk mendatangi rumahnya dan bertanya apa sebenarnya yang terjadi? Tapi ia tidak melakukannya karena kemudian Hermione Granger muncul dikantornya pada hari keempat dan meyerahkan surat pengunduran dirinya.
"Draco! Kau mau sarapan atau hanya mau duduk melamun?" Lucius bertanya pada Draco yang hanya duduk memandangi makanannnya. Draco tidak pergi ke kantor selama beberapa hari, kantornya sedang libur natal dan tahun baru
"Aku tidak nafsu makan." Jawab Draco pelan.
"Ada apa son? Kau sakit?" Narcissa bertanya.
Draco menggeleng. Ia bangkit berdiri dari kursinya dan berjalan keluar ruang makan.
"Mrs. Potter bilang Hermione akan pergi hari ini." Narcissa berkata pelan pada suaminya.
Lucius tidak mengatakan apa-apa, hanya menghela nafasnya.
"Sayang sekali." Narcissa berseru lagi. Narcissa dan Lucius sepertinya memang sudah pasrah, mereka sudah berhenti berusaha melakukan hal-hal aneh untuk membuat Draco dan Hermione bersatu, mereka menyadari kalau memang jodoh tidak akan kemana, dan kalau bukan jodoh ya sudah.
"Kemana Hermione pergi?" Draco bertanya, menghentikan langkahnya, mendengar pembicaraan kedua orangtuanya.
"Entahlah, Mrs Potter memberitahuku Hermione akan pergi ke Tibet atau Nepal kalau tidak salah, entahlah." Narcissa menjawab sambil lalu.
Draco menghela nafasnya kemudian dengan cepat ber-disapparating.
.
Harry sedang sibuk menenangkan Ginny dan Ron yang menangis seperti bayi, begitu juga Mr Granger yang sedang sibuk menenangkan Mrs Granger.
"Sudahlah Gin, kalau memang Hermione ingin pergi, dan hal itu membuatnya bahagia, maka kita harus menerimanya." Harry menenangkan istrinya.
"Dan kau Ron! Sebaiknya kau berhenti menangis!" Harry lama-lama kesal dengan Ron yang juga menangis.
"Potter." Harry mendengar namanya dipanggil dari belakang. Harry menoleh dan melihat Draco Malfoy berlari ke arahnya.
"Apa yang kau lakukan disini ferret?" Ron bertanya kesal, menghapus air matanya.
"Aku tidak punya urusan denganmu Weasel." Draco berseru, nafasnya terengah-engah.
"Potter, dimana Hermione?" Draco bertanya.
"Hermione sudah pergi!" Ginny berkata ketus, "Kau sudah terlambat Malfoy! pesawatnya sudah pergi dua puluh menit yang lalu."
.
Draco,
Aku tahu kau bodoh, hanya saja tidak pernah benar-benar menyadarinya selama ini.
Aku sudah mendegar semuanya, dari Mark, Cissy, dan Mrs. Potter.
Kau adalah pria paling bodoh dan paling sial yang pernah kutemui.
Apa kau tahu, malam itu, malam saat kau lagi-lagi berhubungan intim dengan perempuan asing lainnya, Hermione ingin memberitahumu kalau ia menyukaimu?
Tentu saja kau tidak tahu.
Cissy memberitahuku kalau kau menghilang saat sarapan, dan Mrs Potter memberitahuku kau datang ke bandara Muggle, hanya saja Hermione sudah pergi. Kau benar-benar sial.
Aku tahu kau mencintai Hermione, tapi sampai sekarang aku masih tidak mengerti kenapa kau tidak pernah mau mengakuinya? Harga diri? Jangan bercanda, kau bahkan tidak punya sedikitpun harga diri tersisa.
Kau menjijikan Draco!
Lebih baik kau mati!
Aku benar-benar tidak ingin melihatmu lagi! Kau akan selalu mengingatkanku akan seorang pria bodoh yang bahkan tidak bisa memberitahu wanita yang dicintainya kalau ia mencintainya karena alasan menjijikan.
Kemurnian darah.
Dan kau hanya akan mengingatkanku kalau kau adalah alasan utama Hermione pergi dari Inggris.
Pathetic!
Blaise Zabini.
Draco tidak tahu, mungkin ini sudah yang 37 kalinya ia membaca surat yang dikirimkan Blaise padanya.
Semua isi surat itu benar, ia menjijikkan, menyedihkan, bodoh, sial, dan akan lebih baik kalau ia mati saja.
Draco sudah sembilan hari tidak keluar dari kamarnya, beberapa hari pertama ibunya bolak-balik mengetuk pintu kamarnya, menyuruhnya keluar, tapi kemudian hari kelima Narcissa menyerah.
Draco hanya berbaring dikasurnya seperti orang idiot. Ia bahkan tidak mengganti pakaiannya sama sekali, sepatunya masih terpasang, tirai jendela kamarnya tidak terutup, ia akan memadang keluar setiap saat, jika pada malam hari ia tertidur, maka dengan sendirinya ia akan terbangun karena silaunya matahari pagi.
Sesekali ia berpikir, tapi sering kali pikirannya kosong. Jika ia sadar apa yang dilakukannya disini, ia kemudian sadar bahwa ia sedang menyesal, ia sedang menyesali semua kebodohannya dan berduka akan kehilangannya.
Kata-kata jika terus-menerus berputar dipikirannya, jika saja ia tidak bodoh, jika saja ia tidak melakukan kesalahan, jika saja ia tidak berhubungan sex dengan Lizzy hari itu, jika saja ia punya keberanian untuk mendatangi Hermione dan meminta maaf, mengatakan perasaannya, jika jika jika dan jika.
Blaise benar, seharusnya ia mati saja.
.
"Draco, keluarlah!" Narcissa berdiri di depan pintu kamar anaknya di hari ke lima belas.
Tidak ada respon.
Narcissa mengangguk pada Harry dan Theo yang ada di dekat situ.
Harry dan Ron kemudian menggumamkan mantra dan pintu kamar Draco terbuka. Mereka dengan cepat masuk ke dalam dan menemukan Draco tidak sadarkan diri di kasurnya.
"Dasar bodoh." Theo bergumam pelan kemudian mengangkat tubuh Draco dengan sihir dan membawanya ke St. Mungo.
.
Draco terbangun dan melihat Narcissa memperhatikannya cemas.
"Draco, kau sudah bangun?" Narcissa berseru lega. "Theo, panggilkan Healer." Narcissa berseru pada Theo yang berdiri di dekat pintu dengan Harry dan Lucius.
Theo menghela nafasnya, memutar matanya, tapi akhirnya tetap keluar dan mencari Healer.
"Draco apa kau baik-baik saja? Bagaimana perasaanmu?" Narcissa bertanya, terdengar benar-benar kuatir. "Bagaimana mungkin kau bertahan lima belas hari tanpa makan dan minum? Kau bahkan tidak bergerak dari kasurmu, sepatumu masih terpasang." Narcissa berseru sedih.
Harry dan Lucius hanya berdiri diam di dekat pintu.
"Malfoy membayar untuk kebodohannya." Harry berseru pelan. Tidak lama Theo muncul dengan seorang helaer.
Healer itu kemudian dengan cepat memeriksa Draco yang sudah sadar tapi hanya diam dan mataya kosong.
"Mr Malfoy kehilangan banyak cairan tubuh, ia harus diobservasi selama beberapa hari, tapi pemeriksaan sekarang menunjukkan kalau tidak ada kerusakan serius pada organ dalam tubuhnya." Healer itu memberitahu hasil pemeriksaannya.
"Bisakah kalian pergi sekarang?" Draco bertanya pelan. "Aku ingin sendiri." Draco berseru pelan.
Lucius, Harry, dan Theo keluar dari ruangan sambil menggelengkan kepala mereka. Tidak lama Healer itu juga keluar tapi Narcissa bertahan lebih lama.
"Keluarlah Mother! Aku ingin sendiri." Draco berseru, membuang mukanya, tidak ingin berinteraksi dengan ibunya.
"Apa kau menyesalinya sekarang?" Narcissa bertanya pelan, duduk di sisi kasur Draco yang kosong. "Apa kau menyesalinya? Membiarkan Hermione pergi."
Draco menarik nafasnya, mengangguk pelan.
"Aku akan memberitahumu sesuatu son." Narcissa mengulurkan tangannya dan meraih tangan Draco. Narcissa kemudian memberitahu Draco semuanya, ia memberitahu tentang ramalan Sheer Orpington termasuk jangka waktu satu tahun yang diberitahu Sheer Orpington pada Draco dan apa saja yang sudah dilakukan mereka semua untuk membantu Draco dan Hermione bersatu, tapi hasilnya nihil.
"Seakan-akan, semua yang kami lakukan hanya membuat kalian makin menjauh." Narcissa berseru sedih.
Draco tertawa begitu mendengar penjelasan ibunya. Ia merasa makin bodoh. "Kenapa Mother tidak memberitahuku sebelum ini?" tangis Draco pecah. "Kalau Mother memberitahuku aku pasti akan mendekati Hermione." Draco berusaha menahan tangisnya. "Aku selama ini menahan diriku karena tidak ingin membuat Lucius senang. Karena Lucius menunjukkan kalau ia menginginkan Hermione menjadi pasanganku maka aku menyangkal perasaanku sekuat tenaga." Draco berteriak kesal.
Narcissa memeluk Draco. "Maafkan kami son." Narcissa ikut menangis, ia menyadari kalau ia dan Lucius terlalu banyak ikut campur dan kemungkinan membuat takdir Draco dan Hermione berantakan.
"Maafkan kami son." Narcissa berseru lagi, memeluk Draco yang menangis.
.
Draco mondar-mandir di depan tempat praktik Sheer Orpington. Ia tidak tahu apa yang akhirnya membawanya kesini. Menurut ibunya, ramalan Sheer Orpington hanya memberinya batas waktu satu tahun, dan sekarang bahkan sudah tiga bulan lebih dari satu tahun.
Selama tiga bulan belakangan ini, ia hanya duduk di perpustakaan Malfoy Manor dan mencari tahu semua hal tentang divination. Sama seperti Hermione, divination bukanlah subjek kesukaannya, ia bahkan berusaha mencari tahu keberadaan Prof. Trelawney untuk mencari tahu apapun yang bisa membantunya, tapi ia tidak bisa menemukan dimana mantan Professornya dulu.
Maka akhirnya ia memutuskan untuk mendatangi tempat praktik Sheer Orpington.
"Mr Malfoy." Sheer Orpington berseru terkejut begitu melihat Draco Malfoy yang datang ketempatnya. "Silahkan duduk." Sheer Orpington berusaha terdegar ramah.
"Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan." Draco berseru langsung begitu ia duduk di depa meja yang memisahkannya dengan peramal kepercayaan ibunya itu.
"Aku mungkin tidak bisa menjawab beberapa pertanyaanmu, karena divination tidak bekerja denga cara yang sederhana." Sheer Orpington berusaha menjelaskan.
Draco mengangguk mengerti, meskipun masih tidak begitu benar-benar megerti tentang divination tapi tiga bulan belakangan ini membuatnya sedikit banyak mengetahui dasar-dasar divination. "Bisa kau beritahu aku ramalan macam apa yang dulu kau beritahu pada kedua orangtuaku?"
Sheer Orpington mengangguk. "Aku melihat anda dengan Miss Granger, di dalam pengelihatanku anda dan Miss Granger ditakdirkan bersama, tapi ada begitu banyak penghalang, mulai dari status darah kalian yang berbeda, sampai kejadian Miss Granger di siksa oleh bibi anda." Sheer Orpington memberitahu.
"Lalu bagaimana dengan waktu satu tahun yang kau sebutkan itu?" Draco bertanya.
"Miss Granger punya rencana besar dalam hidupnya, dan ia akan meninggalkan Inggris akhir tahun kemarin, dan tidak akan kembali selama bertahun-tahun, karena itu aku memberitahu kedua orangtua anda kalau anda hanya punya waktu satu tahun." Sheer Orpington memberitahu.
Pikiran Draco berputar keras. "Itu bukan berarti kalau kami melewatkan jangka waktu satu tahun ini maka jodoh kami berakhir kan?" Draco bertanya, memastikan kesimpulan yang muncul dikepalanya.
Sheer Orpington terdiam.
Draco menegakkan tubuhnya, "Berarti aku masih punya kesempatan kan?" Draco bertanya lagi.
Sheer Orpington mengangguk. "Kesempatan selalu ada Mr. Malfoy, dan aku juga sudah mengatakan hal ini pada ibu anda, jodoh tidak akan kemana. Ramalanku bukanlah sesuatu yang mutlak, bisa saja salah, bisa saja tidak tepat. Anda bisa saja mengubah takdir anda." Sheer Orpington memberitahu Draco.
Draco langsung berdiri dari tempat duduknya. "Terimakasih banyak Sheer Orpington." Draco segera beranjak pergi. "Ah… bayarannya, masukkan saja ke tagihan ibuku." Draco baru saja sampai di depan pintu saat ia kemudian berbalik. "Apa kau tahu dimana Hermione sekarang berada?" Draco bertanya sebelum pergi.
Sheer Orpington tersenyum. "Nepal."
-To Be Continued-
Maaf, kalian menunggu lama, keyboard laptopku rusak, huruf N-nya susah ditekan, aku jadi malas. Wakakak…
dramioneyoja.
