Beastly
Pair:
Kim Taehyung x Jeon Jungkook
Rate: T
Status: Parts
Genre: Fantasy, Romance.
Summary:
It's all started with a single spell and everything in Kim Taehyung life is changed. And the only one person that can bring Taehyung's life back is Jeon Jungkook. / VKook, BL, AU. Inspired by 'Beauty and The Beast' and 'Beastly'.
Warning:
BL, AU, Fiction. Inspired by Beauty and The Beast and Beastly.
.
.
.
.
.
.
.
Part 3: Breaking The Curse
"Ma-maaf, aku.. aku.." Jungkook berujar dengan terbata karena dia benar-benar tertangkap basah sedang menguping pembicaraan diantara Namjoon dan Seokjin.
"Jungkook, tidak apa-apa." Seokjin mendekati Jungkook namun Jungkook mengambil langkah mundur.
"Kalian bilang Kim adalah Kim Taehyung?"
Namjoon dan Seokjin terdiam, mereka tidak tahu harus mengatakan apa karena Jungkook memang terlihat agak terguncang dengan kenyataan yang terpampang di matanya.
"Jungkook, kami tidak pernah bermaksud menipumu. Kami hanya.. ingin yang terbaik untuk Taehyung." ujar Seokjin perlahan dan mencoba menjelaskan.
Jungkook tersentak, dia benar-benar terkejut mengetahui fakta kalau Kim adalah Kim Taehyung. Seseorang yang dia kenal. Dan Kim justru bersikap seakan-akan mereka baru pertama kali bertemu saat Jungkook datang ke rumah ini sebagai tutor.
Apa yang sebenarnya terjadi? Apa semua ini hanyalah lelucon orang kaya yang senang mengerjai orang tidak berada seperti Jungkook?
"Jungkook.."
Jungkook menoleh dan dia melihat Kim berdiri tak jauh dari mereka.
"Ada apa?" tanya Kim seraya melangkah lebih dekat ke Jungkook namun Jungkook menggeram marah dan menampar Kim dengan keras.
"Kau sengaja, kan?" ujar Jungkook geram.
Kim menatap Jungkook dengan bingung, "Apa masalahmu?! Kenapa tiba-tiba memukulku?!"
Jungkook mendengus, "Masalahku? Masalahku adalah aku yang begitu bodoh sehingga mau saja dipermainkan oleh kalian! Kalian hanya mempermainkanku saja, kan?" Jungkook menuding Kim, "Kau adalah Kim Taehyung, seseorang yang menghilang dan membuatku menang dengan mudah dalam pemilihan ketua senat."
Kim atau Taehyung terdiam, dia tidak menyangka Jungkook akan mengetahui fakta itu.
"Kau menghilang dan aku menang dengan mudah. Tapi kemudian kau memintaku menjadi tutormu dengan kau yang terlihat sangat sehat dan berpura-pura menjadi orang asing bernama Kim." Jungkook menggeleng pelan, "Apa ini hanya satu dari sekian permainanmu?"
Taehyung meraih pergelangan tangan Jungkook, "Tidak, itu tidak benar."
Jungkook menghempaskan tangan Taehyung dengan keras, "Tidak benar?! Apa yang tidak benar?! Semuanya terlihat tidak benar saat ini." Jungkook beralih menatap Namjoon dan Seokjin yang masih diam di posisinya, "Kalian semua hanya mempermainkan aku, kan? Membuatku bekerja seperti orang bodoh."
Jungkook menatap Taehyung dengan tajam, "Kau ingat ketika aku berbicara padamu di hari pertama aku ke sini? Aku yakin kau mengenalku karena aku menyebutkan namaku, tapi kau justru bersikap dingin seolah-olah kita orang asing. Kau bahkan sama sekali tidak keberatan denganku yang mengusulkan untuk memanggilmu Kim."
Taehyung menggeleng pelan, "Aku memiliki alasan untuk itu.."
"Alasan apa?! Alasan kalau ini adalah hobi barumu setelah bosan dengan semua jalang yang selalu bersamamu di kampus?" Jungkook menggeram, dia menunduk dan berjalan melewati Taehyung. "Aku tidak mau berada di sini lebih lama lagi. Aku keluar, aku berhenti dari pekerjaan ini."
.
.
.
.
.
.
.
Seokjin bergegas berlari mengejar Jungkook yang sudah berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Namjoon berjalan menghampiri Taehyung dan menepuk bahunya pelan.
"Maaf, aku dan Seokjin tidak sadar dia akan mendengar pembicaraan kami." Namjoon meremas bahu Taehyung yang masih terpaku di posisinya.
"Itu tidak penting lagi, Hyung.." Taehyung mendongak menatap Namjoon, "Dia akan pergi dan aku akan tetap seperti ini. Sendirian. Tidak ada yang akan berubah."
"Taehyung.."
"Seharusnya kalian tidak menghentikanku saat aku membunuh diriku sendiri."
"Taehyung!" bentak Namjoon, "Aku sudah bersumpah aku akan menjagamu saat Ibu meninggal. Aku sudah berjanji padanya. Dan aku tidak akan pernah melanggar janjiku sendiri."
Taehyung mendengus, "Untuk apa tetap memegang janji itu, Hyung? Ibu sudah tidak ada, dia mati karena Ayah kita yang brengsek itu berselingkuh di depannya."
Namjoon terdiam karena apa yang diucapkan Taehyung memang benar. Ayah mereka berselingkuh selama sepuluh tahun penuh tanpa mempedulikan Ibu mereka yang melemah karena penyakit kanker yang dideritanya dan puncaknya adalah ketika Ibu mereka memergoki Ayah mereka sedang bercinta bersama salah satu selingkuhannya yang menyebabkan Ibu mereka terlampau shock hingga akhirnya tewas dalam kecelakaan saat sedang pergi dari rumah mereka.
Saat itu Taehyung masih remaja dan Namjoon sudah kuliah. Mereka berdua sangat murka pada Ayah mereka hingga Namjoon mengajak Taehyung untuk tinggal bersamanya. Namjoon berusaha menghidupi Taehyung dengan bekerja setengah mati hingga akhirnya dia bisa sesukses sekarang.
Namjoon bekerja untuk Taehyung, untuk menghidupi Taehyung.
Dan setelah kematian ibu mereka, Taehyung berubah. Dia berubah menjadi Taehyung yang baik dan ceria menjadi Taehyung yang dingin dan sangat nakal. Taehyung yang saat itu sedang beranjak dewasa dan melihat bagaimana Ayah mereka mengkhianati Ibu mereka akhirnya berubah menjadi pribadi yang tidak pernah percaya pada cinta.
Taehyung sangat yakin tidak akan ada orang yang menolaknya sehingga dia bebas melakukan apapun. Dia berubah menjadi liar dan terus menghancurkan hati banyak orang untuk menutupi sakit hatinya sendiri. Luka di hatinya yang sepertinya tidak akan sembuh walaupun Taehyung mencoba berbagai cara.
Namjoon memperhatikan Taehyung yang terlihat terluka, "Taehyung, kau.."
"Kau selalu mengatakan aku berubah menjadi tidak punya hati dan kau menyesal karena kau selalu menganggap itu salahmu. Tapi kau salah, Hyung." Taehyung mengangkat kepalanya dan menatap Namjoon, "Aku punya hati dan aku jatuh cinta padanya tapi aku sudah ditolak, bahkan sebelum aku sempat mengatakan apapun."
Namjoon tersentak, "Taehyung.."
Suara ribut dari koper yang diseret di tangga membuat Namjoon dan Taehyung mengalihkan pandangan mereka dan mereka melihat Jungkook sedang turun dari tangga seraya menyeret kopernya.
"Aku pergi, terima kasih banyak atas semuanya." Jungkook menatap Taehyung dengan dingin kemudian dia berjalan melewati Taehyung tanpa melihatnya lagi.
.
.
.
.
.
.
.
Jungkook menyeret kopernya menjauh dari rumah besar milik Kim Namjoon. Dia tidak peduli jika saat ini tengah malam, dia hanya ingin segera menjauh dari rumah itu. Dia tidak percaya ini, muridnya yang selama ini dekat dengannya ternyata hanyalah pembohong yang berpura-pura menjadi orang lain.
Tapi Jungkook yang polos justru terus saja mencoba dekat dengannya, mengembalikan semangatnya karena Jungkook ingat Seokjin bilang Kim saat terpuruk.
Jungkook melakukan segalanya hingga akhirnya Kim dekat dengannya tapi ternyata Kim adalah Taehyung. sosok paling brengsek yang pernah Jungkook kenal.
Ya, Jungkook tidak bodoh. Dia tahu siapa Kim Taehyung, dia tahu. Dia sudah banyak mendengar kabar soal Kim Taehyung dan parahnya lagi Kim Taehyung adalah penyebab kematian teman baiknya di universitas sekaligus seseorang yang dulu dicintai oleh Jungkook.
Jungkook adalah pemuda biasa, dia tidak kaya seperti Taehyung. Nyaris tidak ada orang yang menganggap Jungkook menarik kecuali seorang gadis manis yang mau menjadi teman Jungkook. Jungkook dan gadis itu selalu bersama hingga Jungkook sadar kalau dia mencintai gadis itu, tapi sayangnya dia menyukai Taehyung.
Jungkook ingat gadis itu mengatakan kalau dia akan menyatakan cintanya pada Taehyung dan ternyata Taehyung menerimanya dan mereka menjadi sepasang kekasih.
Untuk tiga hari.
Karena di hari keempat gadis itu tiba-tiba datang menemui Jungkook dan mengatakan kalau dia melihat Taehyung sedang bercumbu dengan gadis lainnya dan justru memutuskannya dan juga mengejeknya di depan pasangan selingkuhnya.
Gadis itu begitu shock dan hari itu dia juga meninggal karena kecelakaan setelah bercerita pada Jungkook. Jungkook mencoba untuk tidak membenci Taehyung dan mengubur semua perasaan marahnya dalam-dalam.
Tapi ada satu bagian kecil dari dirinya yang ingin sekali membalas Taehyung, maka dari itu ketika dia tahu Taehyung mencalonkan diri untuk pemilihan ketua senat, Jungkook memutuskan untuk mencoba ikut dalam pemilihan. Namun dia hanya bertemu Taehyung satu kali dan dia pun hanya menyebutkan namanya dan mereka melewati percakapan tanpa arti.
Tapi hari itu Jungkook berniat untuk memenangkan pemilihan karena dia yakin Taehyung akan merasa terhina saat dia yang notabene pemuda biasa bisa mengalahkannya dalam suatu hal. Kemudian Taehyung menghilang dan Jungkook menang dengan mudah.
Jungkook tidak ingin kemenangan seperti ini karena bukannya menjatuhkan Taehyung, dia justru kembali dihina karena dianggap menggunakan cara kotor untuk memenangkan pemilihan.
Kemudian dia menerima pekerjaan sebagai tutor untuk menyambung hidupnya dan ternyata muridnya adalah Kim Taehyung. Kalau saja dia tahu kalau Kim adalah Taehyung sejak awal, Jungkook pasti akan langsung mengundurkan dirinya dan pergi sejauh mungkin dari rumah Namjoon.
Jungkook menghentikan langkahnya dan perlahan dia duduk di trotoar jalan yang sepi. Dia benar-benar membenci dirinya sendiri. Dia menjadi tutor dari seorang Kim Taehyung dan dia memperlakukannya dengan baik. Bahkan Jungkook harus akui kalau dia senang dengan kehadiran Kim di sekitarnya. Dia tidak peduli dia tidak pernah melihat Kim sebelumnya. Kim yang selama ini menjadi muridnya adalah sosok yang menarik dan Jungkook menjadi tertarik padanya, dengan tulus. Dia tidak peduli akan seperti apa wajah Kim nantinya, karena yang Jungkook tahu adalah dia tertarik pada Kim. Sekarang setelah dia tahu siapa Kim sebenarnya, Jungkook tidak tahu apa yang harus dia lakukan karena dia tidak bisa membohongi perasaannya sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
.
Waktu berlalu dan tidak terasa saat ini musim gugur sudah tiba, bahkan saat ini sudah memasuki pertengahan dari musim gugur. Jungkook kembali melanjutkan kuliahnya karena di hari dia keluar dari rumah Namjoon, sejumlah uang yang cukup besar masuk ke rekeningnya dari rekening Seokjin dan Jungkook menduga itu adalah bayarannya selama menjadi tutor.
Bayarannya memang sangat besar, jauh lebih besar dari bayaran Jungkook yang biasanya. Tapi Jungkook memilih untuk tidak peduli, dia tidak ingin berurusan dengan keluarga Taehyung lagi jadi Jungkook menerima semua uang itu bulat-bulat dan menggunakannya untuk membayar biaya kuliahnya.
Jungkook juga tidak lagi pergi ke rumah Namjoon, dia sudah membawa semua barang-barangnya dan dia tidak perlu pergi ke sana lagi. Taehyung juga masih belum muncul di kampus, tadinya Jungkook pikir Taehyung akan muncul setelah lelucon anehnya terbongkar, tapi nyatanya Taehyung tidak muncul.
Jungkook berjalan menyusuri koridonya dengan langkah pelan, kelasnya sudah selesai dan Jungkook harus pergi ke tempatnya bekerja sambilan tapi dia benar-benar tidak mood untuk bekerja.
"Eh, kau sudah lihat pria aneh di gerbang tadi? Menyeramkan sekali ya."
Jungkook melirik ke arah dua mahasiswi yang berjalan di belakangnya.
"Iya, aneh sekali wajahnya diperban semua. Menyeramkan, apa dia penjahat kelamin ya?"
Jungkook tersentak, matanya melebar saat mendengar kalau ada sosok aneh dengan perban sedang berdiri di gerbang mereka. Dia tidak yakin kalau itu adalah Kim, tapi menurut Jungkook tidak ada salahnya jika dia pergi memeriksa siapa kiranya yang berada di gerbang.
Jungkook berhasil tiba di gerbang depan tanpa hambatan berarti. Dia bisa mendengar bisik-bisik penuh rasa penasaran dari beberapa orang dan beberapa mahasiswi juga sibuk berbisik seraya menunjuk pada seorang pemuda dengan hoodie yang menutupi kepala dan sedang bersandar di gerbang.
Jungkook berdiri di hadapan Taehyung, "Kenapa kau ke sini?"
Taehyung mengangkat kepalanya, wajahnya masih tertutupi perban dan dia memakai hoodie untuk menyamarkan sosoknya. "Aku ingin menemuimu."
"Bagaimana jika aku tidak mau menemuimu? Kau benci keluar rumah, ingat? Jadi apa yang merusak otakmu sehingga kau mau keluar dan berdiri di tempat seramai gerbang depan universitas?" Jungkook melangkah lebih dekat ke Taehyung, "Atau lebih tepatnya universitasmu?" bisiknya pelan.
Taehyung tersenyum tipis walaupun itu tidak terlihat karena perban yang menutupi wajahnya, "Sudah kubilang aku ingin menemuimu, kan? Aku tidak peduli, dengan penampilanku ini mereka tidak akan mengenali diriku."
Jungkook melipat tangannya di depan dada, "Kau menemuiku sebagai Kim atau sebagai Taehyung?" tanyanya pelan. Dia sadar mereka sudah menjadi pusat perhatian dan Jungkook masih memiliki sedikit hati untuk tidak membuat orang-orang di sekitar mereka sadar kalau sosok di hadapannya adalah Kim Taehyung, makanya dia berbicara dengan suara pelan.
"Aku menemuimu sebagai aku. Tidak ada Kim atau Taehyung."
Jungkook mengerutkan dahinya, "Apa maksudmu?"
"Kembalilah, Jungkook. Aku membutuhkanmu."
"Membutuhkanku?"
"Ya, kau adalah tutorku. Dan kau juga temanku."
Jungkook tersenyum remeh dan menggeleng, "Aku tidak mau masuk ke dalam permainan bodoh yang kau buat untuk kedua kalinya." Jungkook memperbaiki letak syal yang melilit di lehernya, musim gugur sudah memasuki pertengahan dan hawanya sudah semakin dingin.
"Lagipula aku rasa semua yang aku lakukan selama sesi tutor sudah cukup. Kau tidak butuh sesi tutor lainnya."
"Aku menyukaimu, Jungkook. Aku tertarik padamu."
Jungkook tersentak, dia membulatkan matanya. "Apa?"
Taehyung menurunkan hoodienya, "Dan kalau kau pikir aku mempermainkanmu, aku akan menunjukkan diriku yang sesungguhnya padamu agar kau percaya." Taehyung menggerakkan tangannya dan dia membuka perban yang melilit di wajahnya. Ketika akhirnya perban itu terlepas, beberapa gadis langsung menjerit ngeri sementara Jungkook tersentak.
Wajah Taehyung memang benar-benar buruk rupa. Ada bekas luka yang terlihat seperti garis merah tua panjang yang membelah wajahnya mulai dari dahi sebelah kanan hingga rahang bawah sebelah kiri. Kantung mata kirinya membengkak dan terlihat seolah kantung mata itu nyaris terjatuh, pipinya tirus dan ada bekas seperti lebam merah tua cenderung ungu yang berada di tulang pipi kanannya, sebuah bekas seperti bekas jahitan berwarna hitam kelam menghiasi mulai dari pelipis hingga pipi kirinya.
Jungkook tidak bisa mengucapkan apa-apa, dia terpaku menatap wajah Taehyung.
"Buruk sekali, kan?" ujar Taehyung pelan.
Jungkook menatap ke sekeliling kemudian dia bergerak cepat dan menutupi kepala Taehyung dengan hoodie lalu menariknya pergi dari sana.
Jungkook menghentikan sebuah taksi dan mendorong Taehyung masuk ke dalamnya kemudian menyebutkan alamat rumah Namjoon, mengacuhkan ekspresi terkejut dan takut dari si supir taksi saat melihat wajah Taehyung.
"Aku buruk sekali, kan?" ujar Taehyung lagi.
Jungkook menatap Taehyung yang masih diam dengan pandangan kosong, Jungkook mengelus kepala Taehyung pelan, "Aku pernah melihat yang lebih buruk."
Taehyung mendongak untuk menatap Jungkook, dan Jungkook tersenyum padanya.
"Aku akan menemuimu nanti."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jungkook tidak tahu apakah keputusannya ini tepat atau tidak, tapi di sinilah dia sekarang, berdiri menatap pagar rumah besar milik Kim Namjoon. Tiga hari lalu Taehyung datang menemuinya dan menunjukkan dirinya sendiri di depan banyak orang walaupun Jungkook tahu itu menghancurkan Taehyung, apalagi saat mengingat banyak orang yang menjerit ngeri saat melihatnya.
Kaki Jungkook akhirnya bergerak masuk ke dalam rumah dan ketika pintu depan rumah terbuka, dia langsung disambut pelukan hangat Seokjin serta ucapan permintaan maafnya.
Jungkook membalas pelukan Seokjin kemudian melepaskannya, "Dimana Taehyung?"
"Di taman belakang." Seokjin menarik lengan Jungkook pelan, "Aku akan mengantarmu."
Seokjin mengantarnya menyusuri rumah besar itu kemudian dia membuka pintu kaca yang mengarah ke taman belakang, "Dia di sana." ujar Seokjin dengan jari yang mengarah pada sebuah bangunan rumah kaca mungil.
Jungkook mengucapkan terima kasih kemudian dia berjalan menuju rumah kaca itu dan ketika dia membuka pintunya, dia bisa melihat punggung Taehyung yang sedang duduk di tengah rumah kaca. Rambut coklat gelapnya bergerak pelan karena udara yang menghembus masuk ketika Jungkook membuka pintu.
"Taehyung?"
Taehyung berbalik, wajahnya terlihat jelas karena dia tidak memakai perban hari ini. Taehyung berdiri dan tersenyum pada Jungkook.
Jungkook agak meringis, jika saja itu Taehyung yang dulu, senyumnya pasti akan membuatnya terlihat tampan, tapi sekarang Jungkook justru ingin melarikan diri dari tempat ini karena senyum itu.
"Tidak memakai perbanmu?" tanya Jungkook.
Taehyung menggeleng, "Kau sudah melihat wajahku, dan kau bilang kau pernah melihat yang lebih buruk dari aku. Jadi aku merasa wajahku baik-baik saja."
Jungkook mengangguk, "Itu benar, tapi apa kau berani pergi keluar bersamaku seperti itu?"
Taehyung terdiam cukup lama tapi kemudian dia mengangguk. "Jika itu untukmu, aku akan melakukannya."
Jungkook tertawa, dia berjalan menghampiri Taehyung kemudian duduk di kursi yang tadinya diduduki Taehyung. "Aku bercanda." Jungkook menatap sekeliling rumah kaca, "Tempat apa ini?"
"Ini.. rumah kaca."
"Aku tahu itu." Jungkook mendengus pelan.
Taehyung tersenyum kecil saat melihat raut kesal Jungkook, "Yang kubuat untuk ibuku. Ibuku sangat menyukai mawar dan ketika dia meninggal, aku memutuskan untuk membangun ini untuknya. Jadi setiap peringatan kematiannya, aku akan membawakan bunga dari rumah kaca ini untuk kuberikan padanya."
Jungkook memperhatikan wajah Taehyung yang terlihat semakin sendu seiring dengan ceritanya. "Aku tidak tahu kalau kau anak baik."
Taehyung terkekeh, "Yah, aku bukan anak baik. Ini cuma semacam penebusan dosaku pada ibuku."
Jungkook tersenyum lebar kemudian dia memperhatikan seisi rumah kaca, "Tapi tempat ini bagus sekali. "Aku suka, terlihat berwarna-warni."
Taehyung mengangguk, "Kau mau membawa pulang beberapa bunga?"
Jungkook mengangguk, "Tentu saja! Pilihkan yang bagus untukku."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Taehyung menatap sebuah mawar merah yang sedang mekar dengan indah di antara rumpunan bunga mawar lainnya. Waktunya sudah semakin menipis untuk mematahkan kutukan yang diberikan Kendra padanya. Saat ini musim gugur sudah berakhir dan Taehyung tidak yakin Jungkook mencintainya.
Hubungannya dan Jungkook memang membaik, bahkan sekarang Taehyung tidak lagi menutupi wajahnya dengan perban. Dia dan Jungkook juga pernah pergi keluar bersama beberapa kali dengan penampilan Taehyung yang sekarang dan mereka sama sekali tidak peduli dengan reaksi orang lain.
Taehyung mengulurkan tangannya dan memetik mawar yang sejak tadi diperhatikannya. Saat ini sudah masuk awal musim dingin walaupun salju belum turun ke bumi. Tapi Taehyung yakin salju akan turun sebentar lagi dan dia akan berada dalam sosok ini selamanya. Anehnya Taehyung sama sekali tidak merasa depresi seperti dulu, baginya selama Jungkook bisa menerima sosoknya yang seperti ini, Taehyung sama sekali tidak keberatan berada dalam kondisi seperti ini selamanya.
"Taehyung!"
Taehyung menoleh saat mendengar suara ceria Jungkook dan dia melihat Jungkook berada di ambang pintu rumah kaca dengan senyum lebarnya.
"Hei, kau sudah datang." Taehyung menyambut Jungkook dengan senyuman kemudian dia mengulurkan mawar yang dipegangnya ke Jungkook. "Ini baru mekar pagi ini, masih segar."
Jungkook terpana melihat mawar itu, "Wah, cantik sekali."
Taehyung mengangguk dengan senyum tipis di bibirnya.
"Hei, aku punya kabar besar."
"Apa?" tanya Taehyung.
"Aku memenangkan undian untuk ski di Jeju Desember nanti!" Jungkook memekik riang, "Ayo, kita pergi bersama ke Jeju!"
"Kurasa tidak bisa."
"Kenapa?"
"Wajahku di passport dan wajahku sekarang sangat berbeda."
Jungkook mengembungkan pipinya, "Kalau begitu perbaharui foto passportmu."
Taehyung tertawa, "Baiklah,"
Jungkook tersenyum lebar, "Sekarang ayo kita minum cokelat hangat. Tadi saat aku datang Seokjin Noona sedang membuat cookies, pasti enak dengan cokelat hangat."
Taehyung mengangguk dan mereka berjalan bersama-sama keluar dari rumah kaca.
Jungkook mendongak menatap langit, "Sepertinya akan turun salju."
Taehyung menatap langit, "Ya, benar."
Jungkook menatap Taehyung, "Ada yang ingin kukatakan padamu."
Taehyung balas menatap Jungkook, "Apa?"
Jungkook menggigit bibirnya kemudian tiba-tiba saja dia meraih wajah Taehyung dan menciumnya. Ciuman itu hanya berlangsung selama tiga detik sebelum kemudian Jungkook melepaskannya dan melangkah mundur dengan malu-malu.
"I.. I love you.." lirih Jungkook namun Taehyung masih bisa mendengarnya.
Taehyung terperangah, dia tidak sanggup berkata-kata, pikirannya mendadak kosong dan pandangannya buram. Samar dia bisa mendengar suara Kendra dalam kepalanya.
'Congratulation, Kim Taehyung..'
"Ah, salju!" pekik Jungkook kemudian dia menadahkan tangannya untuk menangkap butiran salju yang turun. Jungkook tersenyum lebar kemudian dia menoleh ke arah Taehyung, "Taehyung, lihat.." Jungkook membulatkan matanya, "Taehyung! Wajahmu!"
"Hah?" ujar Taehyung bingung.
Jungkook menangkup pipi Taehyung, "Wajahmu kembali!" Jungkook menggerakkan jarinya dan mengelus wajah Taehyung, "Tapi, bagaimana bisa?" gumamnya bingung.
Taehyung tersenyum lebar, "Ini semua berkat dirimu."
"Huh?"
"Oh Tuhan, aku benar-benar mencintaimu, Jeon Jungkook."
"Eh? Taehyung, kenapa.. ah! Tunggu dulu! Jangan mengangkatku tiba-tiba seperti itu!"
Taehyung tidak peduli, dia tertawa seraya memutar-mutar tubuh Jungkook dalam pelukannya. Taehyung memeluk Jungkook dengan erat hingga terangkat dari tanah.
"Taehyung! Berhenti! Aku pusing!"
The End
.
.
.
.
.
.
.
Selesaaaiii~
Akhirnya hutangku yang belum selesai tinggal The Loft :')
Ditunggu ya, akan segera dikerjakan kalau aku ada waktu.
.
.
.
.
Ditunggu reviewnya untuk chapter terakhir
Budayakan untuk selalu review ya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Epilogue
Jungkook berjalan menyusuri koridor universitasnya dengan mata yang tertuju pada buku di tangannya. Hari ini dosennya akan memberikan kuis dan mau tidak mau Jungkook harus belajar keras karena dia sempat tertinggal beberapa kelas di awal semester karena masalah biaya.
"Hei, itu Kim Taehyung!"
"Kyaaa~ Taehyung Oppa!"
"Taehyung Oppa! Aku merindukanmu!"
Jungkook mengangkat kepalanya saat mendengar pekikan histeris dari beberapa mahasiswi dan sebelum Jungkook sempat mencari dimana sosok Kim Taehyung, seseorang sudah merangkulnya dan mengecup pelipisnya.
"Pagi, sayang~"
Jungkook mendelik pada sosok yang merangkul dan mengecup pelipisnya, "Taehyung!"
Taehyung tersenyum lebar pada Jungkook kemudian mengusapkan dahinya ke pelipis Jungkook, "Hmm?"
Jungkook melirik sekitar dan semua orang saat ini menatapnya dan Taehyung yang terlihat 'mesra'.
"Ish! Aku malu! Kita diperhatikan banyak orang!" Jungkook menggeliat untuk melepaskan diri dari pelukan Taehyung.
Taehyung menatap sekeliling, "Biarkan saja, justru bagus, kan? Jadi sekarang semuanya sudah tahu kalau kau milikku."
Jungkook mendengus dan memutuskan untuk membiarkan Taehyung merangkulnya semaunya.
"Setelah kelasmu selesai, aku mau mengajakmu membeli beberapa barang."
"Hum? Membeli apa?"
"Perlengkapan ski, bukankah kita akan ke Jeju Desember ini?"
"Eh? Kau mau pergi denganku?"
"Tentu saja, mana mungkin aku menolak bulan madu denganmu."
"Kim Taehyung! Kita tidak pergi bulan madu!"
"Ah, bagiku sama saja kok."
"Taehyung!"
End of The Epilogue
