Sakuracens proudly present

Moonlight

Itachi Uchiha, Sakura Haruno, Sasuke Uchiha

Romance, Angst, Drama

PG-17

Chapter

XXX

Chapter Three

Aku mencintaimu, bahkan, untuk seribu tahun yang akan datang.

XXX

"Woah! Lihatlah luka lebam di pelipismu ini, Aniki!" Teriak Shisui heboh setelah melihat luka lebam warna keunguan di pelipis kakaknya tersebut. Dia tidak menyangka kalau gadis berambut merah muda yang pendek itu bisa dengan mudah mengalahkan Obito yang badannya dua kali lebih besar darinya.

Obito mendengsukan nafasnya kasar kemudian, mengelus-elus pelipisnya yang masih terasa nyeri tersebut dengan pelan. Sialan, harga dirinya terinjak-injak kalau begini. Bagaimana mungkin ada seorang gadis yang bisa mengalahkannya?!

"Hahaha! Obito, kau harusnya belajar seni bela diri dari seorang Uchiha Sasuke." Komentar Izuna sembari tertawa mengejek. Membuat Obito semakin kesal bukan kepalang. Dia merutuki dirinya yang sekarang ini terlihat lebih lemah.

"Mana mungkin dia mau? Sasuke'kan anjing serigala yang liar. Dia bisa saja langsung mati saat latihan karena Sasuke marah dengan sikapnya terlalu lemah itu." Ejek Shisui lagi, membuat Obito langsung bangkit dan menatapnya tajam.

"Obito-sama, duduklah kembali. Saya akan mengoleskan salep untuk mengurangi rasa sakit dan memarnya." Ujar salah seorang tabib, Obito terpaksa kembali duduk dan menuruti tabib tersebut. Dia terlalu takut untuk membantah si tabib, Orochimaru.

"Aish, aku tidak bisa mengobati luka kecil ini sekarang. Aku harus menemui gadis monster itu dan membuat perhitungan." Ujar Obito kepada Orochimaru yang telah mengeluarkan tatapan mematikannya.

"Ayolah, Obito-sama. Apa maksud anda Nona Sakura adalah musuhmu sekarang? Ku dengar dia adalah gadis yang sangat cantik. Bukankah seharusnya anda bersyukur karena bisa bertemu dengannya langsung? Jarang-jarang ada seorang gadis cantik pemberani'kan?" Ujar Orochimaru sembari mengoleskapn salep itu dengan kain di pelipis memar Obito.

"Benar juga. Mungkin dia adalah takdirmu, Aniki." Setuju Shisui mengangguk-anggukkan kepalanya. Obito mendengus kemudian, menatap Shisui, Izuna, dan Orochimaru yang tengah tersenyum misterius dengan sebal.

"Dia sudah di takdirkan untuk menjadi musuhku!" Bantah Obito keras. Semuanya tertawa melihat tingkah Obito tersebut. Sudah jelas sekali kalau lelaki ini hanya salah tingkah.

"Mungkin, gadis itu benar-benar tertarik padamu. Buktinya, kalau tidak menyukaimu tidak mungkin dia menyentuhmu atau bahkan menghajarmu'kan? Dia gadis yang benar-benar unik." Ujar Orochimaru lagi, membuat atensi Obito terarah kepadanya.

"Apakah benar kalau dia tertarik kepadaku, Orocimaru?" Tanya Obito penasaran. Membuat semuanya menahan tawa, mereka tahu kalau Obito telah menyukai Sakura walau lelaki itu berakting seolah membenci gadis merah muda tersebut.

"Mungkin saja. Kita tidak pernah tahu pikiran seorang gadis'kan?" Kata Izuna sembari tersenyum. Obito menganggukkan kepalanya dan tersenyum lebar. Namun, tiba-tiba saja Raja datang dan membuat semua orang kelabakan.

"Bagus. Kalian sangat rukun, aku sangat suka melihatnya." Ujar Raja Indra sembari tersenyum melihat anak-anaknya terlihat rukun. Namun, matanya menangkap sebuah memar di pelipis pangeran ketiga, Obito.

"Darimana kau dapat memar itu, Obito?" Tanya Raja Indra dengan nada rendah, membuat semua orang bergidik ngeri dan menundukkan kepalanya dalam, menghormati sekaligus takut kepada sang Raja.

"E-etto...terjadi perkelahian, Yang Mulia." Jawab Obito dengan nada bicara yang gugup. Dia takut kalau Yang Mulia ayahnya menghukum Sakura.

"Siapa?" Desak Yang Mulia lagi. Membuat semua orang meneguk ludahnya kasar, Obito tidak bisa mengatakan siapa yang memukulnya karena hal itu akan membuat Sakura dalam bahaya.

"Yang Mulia, Nona Sakura yang melakukannya." Kata Izuna yang membuat Obito langsung mendongkakkan kepalanya, menatap Izuna yang memasang wajah datar dengan tidak percaya.

Bagaimana mungkin kakaknya berkata seperti itu di saat Obito mati-matian menyembunyikannya dari Raja?!

"Sakura? Bukankah dia sepupu jauh dari Izumi Uchiha?" Tanya sang Raja memastikan. Semua orang menganggukkan kepalanya.

"Baiklah, Hukum dia. Potong lengannya!" Perintah Yang Mulia tegas. Membuat semua orang membelalakkan matanya tak percaya.

Memotong lengan seorang gadis yang sebenarnya menegakkan keadilan sangatlah tidak adil.

"YANG MULIA! JANGAN MENGHUKUMNYA!" Teriak Obito keras sembari bersimpuh tepat di hadapan Raja. Membuat semua orang kini menatapnya.

"Kenapa?" Tanya Raja Indra menatap anak kesayangannya itu dengan datar.

"Apakah hukuman yang pantas untuk seorang pangeran bila membiarkan seorang gadis tak bersalah di hukum seperti itu?" Tanya Obito menundukkan kepalanya dalam.

Hukuman sang Raja sampai ke telinga Sakura. Membuat gadis itu gelisah bukan main. Dia berjalan mondar-mandir di depan gerbang paviliun Itachi-sama dengan gelisah. Di temani oleh Konan tentu saja.

Pelayan kesayangannya itu tidak henti-hentinya mengucapkan doa agar sang majikan selamat dari hukuman mengerikan tersebut.

"Seharusnya, Nona Sakura tidak perlu membelaku waktu itu. Lihat! Nona akan di hukum karena aku!" Kata Konan sembari menitikkan air mata sedih. Sakura tersenyum dan menghapus air mata itu dengan ibu jarinya.

"Sudah kewajibanku melindungimu, Konan. Jangan sedih, kalaupun lenganku putus. Aku masih bisa hidup kok." Ujar Sakura berusaha menenangkan Konan yang menangis sesenggukkan.

Tibalah seorang pangeran yang cekikikan di atas kuda coklatnya, beserta beberapa pelayan istana yang berlarian menghentikan pangeran tersebut dengan nafas terengah. Pangeran itu, Obito langsung turun dari kuda ketika melihat Sakura yang menatapnya.

Dia tersenyum dan berkata, "Oh sayangku! Apakah kau sedang menungguku?"

Sakura memutar bola matanya bosan. Obito menaiki anak tangga hingga sampai ke hadapannya kemudian, kembali menatapnya intens.

"Apa kau membawa hukuman untukku?" Tanya Sakura pelan, menatap balik Obito. Pangeran itu malah tertawa keras dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Tidak. Aku membujuk Yang Mulia dengan kata-kata seorang pria. Kau pasti akan takjub ketika aku melakukannya!" Kata Obito semangat. Membuat Sakura maupun Konan menghela nafas lega.

"Benarkah? Jadi, aku tidak akan di hukum?" Tanya Sakura memastikan. Obito menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Saking senangnya, Sakura memeluk lelaki itu erat dan mengatakan 'terimakasih' berulang-ulang. Kemudian, gadis itu melepaskan pelukannya dan menatap bingung Obito yang merona hebat.

"Aku ingin mengatakan sesuatu padaku." Kata Obito sembari mengusir seluruh orang di sana, termasuk pelayan istana dan Konan.

"Apa yang berusaha kau lakukan?" Tanya Sakura ketika semua orang telah pergi. Dia bingung dengan sikap Obito yang tiba-tiba diam, kakinya memainkan tanah di bawahnya serta menautkan kedua tangannya gelisah dan hal itu membuat Sakura curiga.

'Apakah dia jatuh cinta padaku? Kau adalah gadis pertama yang melakukannya padaku? Apa itu yang akan dia katakan padaku?' Tanya Sakura dalam hati ketika melihat sikap Obito yang tampak gugup.

Lelaki itu segera menoleh ke arah Sakura.

"Kau adalah gadis pertama yang melakukannya padaku, aku menyukainya." Kata Obito yang membuat Sakura langsung melongo.

"Hah?" Ternyata, pikirannya benar. Astaga! Pangeran ketiga ini benar-benar telah jatuh cinta padanya!

"Kalau begitu sering-seringlah datang ke sini. Maka, akan ku hajar wajahmu tanpa menahannya." Jawab Sakura sembari menatap Obito yang menatapnya dengan senyuman lebar, persis seperti seorag idiot.

"Jadi, kau ingin aku datang menemui sesering mungkin?" Histeris Obito membuat Sakura hanya mengangguk.

"Ya. Aku tidak punya apapun untuk membalas kebaikanmu." Jawab Sakura sembari membungkukkan badannya kemudian, berjalan ke dalam rumahnya, meninggalkan Obito sendiri.

Obito meloncat bak orang gila saking senangnya kemudian, menatap punggung Sakura yang semakin lama semakin menjauh dengan senyuman selebar yang dia bisa. Oh jatuh cinta ternyata sangat menyenangkan!

Sakura menghentikan langkahnya dan mulai berfikir. "Kalau aku pergi ke pemandian dan melakukan hal yang sama(menahan nafas), mungkinkah aku akan kembali ke masa depan?"

Sasuke menatap danau di hadapannya dengan datar. Dia benci dengan semua orang istana, baginya istana adalah tempat untuk pergi bukan kembali. Tapi, dia harus merebut kekuasaan di tangan Madara dan menjadi seorang Raja yang akan terus di segani dan di hargai. Bukan di panggil anjing serigala.

Matanya menangkap kakaknya yang tengah berjalan berdua dengan sang istri, Izumi dengan amarah menggebu. Mereka berdua tampak bahagia dan hal itu membuat suasana hatinya tambah buruk. Tak ada yang tahu kalau Sasuke, menyukai kakak iparnya sendiri. Dia mempunyai dendam yang sangat besar kepada Itachi karena merenggut semua haknya.

Dia merenggut cintanya. Dia telah merenggut seluruh harta yang seharusya miliknya. Dia telah merenggut ibunya! Dia adalah perusak! Sasuke benci Itachi. Satu-satunya cara membalaskan dendamnya ini hanyalah menjadi Raja dan membuat Itachi sengsara.

Sasuke ingin menyegarkan pikirannya, jadi, dia memutuskan untuk pergi ke pemandian pangeran dan menyegarkan tubuh serta pikirannya.

"Aku ingin mandi di kolam luar, jadi, jangan biarkan seorangpun masuk atau kalian kehilangan nyawa." Ucap Sasuke sembari melepaskan kimono mandinya sehingga dia topless. Para pelayan juga tidak di biarkan melihat tubuhnya karena dia merasa risih.

Dia berendam di tengah kolam dan memejamkan matanya tatkala merasakan hawa panas yang membuat pikirannya yang ruwet menjadi rileks.

Tapi, tiba-tiba saja seorang gadis bangkit dari kolam itu dan membuat Sasuke terlonjak kaget. Gadis itu mengusap wajahnya dan terlihat kelabakan. Sasuke menatap gadis itu dengan amarah sehingga, langsung mencekik leher sang gadis sampai gadis merah muda itu tak bisa bernafas dengan baik karena saking kencangnya cekikan itu.

"Apa yang kau lakukan disini?! Apa kau mengintipku?!" Desis Sasuke sembari mengeratkan cekikan itu, Membuat Sakura tambah kesakitan.

"A-aku tidak berniat mengintip Anda Yang Mulia, Aku h-hanya..." Dia tidak mungkin berkata kalau dia berada dari masa depan dan berusaha untuk kembali kesana. Bisa-bisa dia di bunuh karena di sangka berbohong!

"Gadis sialan. Kau sangat tidak sopan, siapa namamu?" Tanya Sasuke sembari menatap gadis di cekikannya ini tajam. Sakura berusaha melepaskan cekikan itu dan Sasuke ahirnya melepaskannya. Membuat gadis itu meringis kesakitan dan menatap Sasuke tidak percaya.

"Sakura Haruno, adik dari Izumi Uchiha." Jawabnya sambil mengelus lehernya yang terasa mau patah karena lelaki itu.

Sasuke membelalakkan matanya ketika mendengar nama Izumi sang pujaan hati. Bisa gawat kalau gadis ini mengadu kepada kakaknya kalau Sasuke adalah pria kasar yang tidak punya sopan santun kepada wanita!

"Jangan bilang siapa-siapa soal kejadian ini atau kau akan mati." Sakura bergidik ngeri kemudian, menganggukkan kepalanya faham. Sasuke yang mood-nya tambah buruk memutuskan untuk pergi dari pemandan itu. Meninggalkan Sakura yang tengah mengelus lehernya yang terasa nyeri sendiri.

"Di itu iblis atau apa?" Gumam Sakura pada diri sendiri. Menatap punggung Sasuke yang polos dengan mata tajam seolah dari bola matanya bisa mengeluarkan laser sehingga lelaki yang dia asumsikan sebagai pangeran itu berlubang.

Kilauan sebuah benda membuatnya penasaran. Dia mendekat dan menemukan sebuah hiasan rambut zaman dahulu(tusuk konde) bergambar bunga sakura warna merah muda yang begitu indah dengan takjub. Apakah pangeran tadi adalah pemiliknya? Tapi, untuk apa dia membeli benda untuk perempuan ini?

Oh apakah ada seseorang yang dia sukai ya? Sakura tersenyum dan memasukkan hiasan rambut itu ke dalam lengan kimononya yang basah dan bergumam, "Aku akan mengembalikan benda ini padanya nanti."

Sakura memutuskan untuk kembali ke rumah. Hari sudah beranjak petang saat dirinya berjalan kembali ke rumah. Dia membawa lentera untuk menerangi perjalanannya yang cukup jauh tersebut.

Langkah kakinya terhenti ketika dia melihat semua orang berdiri di pintu gerbang. Ada apa ini?

"Itu Nona Sakura!" Teriak Konan histeris kemudian langsung memeluknya. Sakura tahu semua orang ini mengkhawatirkannya. Dia jadi merasa bersalah.

"Kemana saja kau ini!" Kata Izumi sembari menahan tangisnya ketika melihat sang adik yang sangat kumal dengan rambut basah, baju basah, dan lentera yang tengah Ia bawa.

"A-aku hanya mandi." Kata Sakura berbohong.

"Konan, bawa Sakura ke dalam dan bersihkan tubuhnya." Perintah Itachi tegas, membuat Konan menganggukkan kepalanya dan membawa Sakura masuk ke dalam paviliun.

Sakura menatap bulan purnama dari jendela kamarnya dengan bingung. Kenapa dia merasa kalau hidupnya terancam di sini?! Gadis itu gelisah, dia memutuskan untuk pergi dapur dan minum segelas air untuk meredakan pikirannya yang kalut ini. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat sosok lelaki berambut panjang sedang melihat bulan purnama di taman tengah.

"Itachi-sama?" Tanya Sakura ragu. Lelaki itu menoleh dan tersenyum lembut ke arah Sakura.

"Kau belum tidur?" Tanya Itachi menatap Sakura yang kini telah terduduk di sebelahnya. Gadis itu menoleh ke arah sang pangeran dan menggelengkan kepalanya pelan.

"Aku tidak bisa tidur." Jawab Sakura seadanya.

"Kau punya masalah?"

Sakura menolehkan kepalanya ke arah Itachi, bagaimana lelaki itu tahu kalau dia punya masalah? Apakah dia cenayang yang bisa membaca pikiran? Itu mengerikan.

"Ya. Sedikit masalah."

"Jangan khawatir, tidak akan ada yang berani menyakitimu selagi aku masih hidup."

"Benarkah?"

"Tentu saja."

"Terimakasih, Itachi-sama."

Hening sesaat sebelum Itachi kembali mengajaknya bicara.

"Kemana kau tadi?"

Sakura menolehkan kepalanya ke arah Itachi.

"Aku hanya mandi."

"Jangan bilang kau mengintip para pangeran lagi?"

"TIDAK!"

Sakura melotot, kalau Itachi tahu kalau dirinya ke pemandian para pengeran bisa gawat! Nyawanya terancam sekai di zaman ini, padahal waktu ini masih kolot dan Sakura merasa dirinya wanita lemah. Sialan.

"kau terlihat seperti tersangka hahaha."

Sakura melipat tangannya dan memalingkan wajahnya marah setelah tawa Itachi yang membuatnya naik pitam.

"Apa kau marah?"

"..."

"Baiklah. Aku minta maaf."

"..."

"Sakura, bicaralah sesuatu kau membuatku takut."

"..."

"Bagaimana kalau kau ikut kami ke istana besok?"

"Benarkah?!"

Mata gadis itu memancarkan antusiasnisme yang tinggi. Membuat Itachi diam-diam menyeringai dalam hati. Dia berhasil meluluhkan amarah Sakura hanya dengan ajakan kecil.

"Tentu saja."

Itachi tidak akan pernah tahu bahwa takdir gadis itu akan berubah setelah dirinya membawa Sakura masuk ke dalam istana.

To be continued

A/N: Siapa yang kangen fict ini hayooo? Maaf buat telat update, baru pulang hehehe. Jangan lupa review kalau mau di lanjut, oke? Sankyu~