Annyeonghaseyo ^^
Mianhae, chingudeul.. baru sempet apdet. Sebagai permintaan maaf, saia apdet dua chapter sekaligus. Tapi maaf ya kalau banyak typo. Saia ga teliti T.T
Title : Preferential Concubine
Author : Jenny Kim
Disclaimer : Super Junior milik diri mereka sendiri, SMEnt, ELFs dan Tuhan YME. Saia hanya memiliki cerita fiksi ini^^
Warning(s) : Typo(s), OOC akut, Yaoi, MPreg, fantasy berlebihan(?), pairing suka-suka author XD
Rated :T
OC(s) : Cherry Choi, etc
Summary : Yesung terancam tidak bisa mendapatkan Putra Mahkota untuk klannya meski ia telah memiliki dua pendamping lantaran bayi-bayi dari kedua pendampingnya tidak pernah dapat lahir dalam keadaan hidup. Hingga akhirnya Yesung bertemu dengan Ryeowook, pemuda buta dengan keistimewaan yang hanya diketahui oleh orang-orang berkeistimewaan yang Yesung butuhkan dan orang itulah yang selalu Kyuhyun sembunyikan.
.
.
.
.
.
Preferential Concubine, Chapter 2
"Akhhh…" Heechul sedikit membungkukkan badannya dan meremas perutnya. Darah hitam mengalir deras dari selakangannya. "Ba-bayiku.." Heechul menatap syok darah yang mengalir di sepanjang kakinya.
Siwon tak kalah syok. Pistol yang sejak tadi digenggamnya kini terjatuh. Tanpa Heechul sadari, ia meremas baju Siwon tepat di bagian dadanya.
"Arrrggghh…sakiiitt.." rintih Heechul. Airmata semakin deras mengalir di kedua pipinya.
Rasa tak tega memenuhi relung dada Siwon. Jika darah hitam itu tak berhenti mengalir di kaki Heechul, maka bayi Heechul akan mati. Ia tak tau ini akan menjadi pilihan yang buruk atau tidak, tapi yang jelas ia menuruti kata hatinya.
"Gigit aku, sekarang!"
.
.
.
.
.
Preferential Concubine, Chapter 3
Heechul tercekat. Baru saja namja di depannya itu membunuh suaminya namun sekarang? Namja di depannya itu malah ingin menyelamatkan bayinya. "A-apa tujuanmu menolongku, huh?" Tanya Heechul sambil meringis kesakitan.
Siwon nampak salah tingkah. Ia memegang tangan dingin Heechul yang masih meremas dadanya. Menggenggamnya dengan erat dan mengalirkan sebuah kepercayaan. "Aku menuruti kata hatiku.." jawab Siwon dengan polos.
Heechul tersenyum melecehkan meski rasa sakit terus menyiksanya. "Keturunan raja sepertiku tidak menghisap darah manusia!"
"Itu pilihanmu, baiklah, aku pergi. Jangan salahkan aku untuk kematian anakmu. Satu-satunya peninggalan dari suamimu yang paling berharga," sahut Siwon santai. Ia pun berbalik untuk meninggalkan Heechul.
Namja bermata black pearl itu terkesiap. Ia tidak perduli apa yang akan terjadi padanya jika melanggar peraturan, yang terpenting adalah menyelamatkan anaknya. Anaknya dengan Hangeng.
GREP
Heechul memeluk Siwon dari belakang. "Aku membencimu…
…tapi aku juga membutuhkanmu.." bisik Heechul.
Siwon tersenyum simpul namun senyumannya berubah menjadi ringisan saat sesuatu yang runcing menusuk lehernya. Anak pemburu vampire itu memejamkan matanya erat-erat.
'Tuhan, aku tau, aku berbuat salah. Ayah, maafkan aku, aku tak bisa menjadi anak yang kau banggakan. Maafkan aku, tapi aku tak menyesali kesalahan ini. Aku tak percaya pada rasa ini. Tapi sepertinya, aku memang sedang jatuh cinta. Jatuh cinta pada orang yang salah. Jatuh cinta pada seseorang yang seharusnya kumusnahkan. Jatuh cinta pada seorang vampire..'
Tubuh Siwon ambruk dan terasa sangat lemas setelah Heechul menghisap darahnya. Heechul sengaja tak menghisap seluruh darah Siwon, hanya ¾-nya saja. Itu semua ia lakukan untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang ada. Perlahan darah yang mengucur di kaki Heechul pun berhenti. Namja cantik itu mengusap perutnya dengan lega. Ia berlutut di samping tubuh Siwon dan membaliknya.
Heechul mengusap pipi Siwon dengan kuku-kuku hitamnya yang panjang. "Separuh hatiku ingin kau mati karena kau telah membunuh suamiku. Tapi separuh hatiku yang lain melarangku. Untuk pertama kalinya aku berhutang budi pada seorang anak Adam. Karena kau telah menyelamatkan anak kami, terimakasih.."
Siwon yang masih belum kehilangan kesadarannya pun hanya tersenyum menanggapi ucapan Heechul. Sebuah benda yang tajam menyentuh leher belakang Heechul. Seperti sebuah tombak. Heechul dapat mencium bau manusia dari orang di belakangnya.
"Apa yang kau lakukan pada Siwon, pureblood?" desis seseorang di belakang Heechul. Ia sedikit menekan tombaknya pada leher Heechul dan nyaris menusuknya.
"Menggigitnya. Kau mau aku gigit juga?" Tanya Heechul tak kalah ketus.
"Bum…mieeh~" lirih Siwon dengan suara parau. Ia menatap Kibum seperti mengatakan jangan-sakiti-dia-pease…
"Perasaan hanya akan membuatmu lemah, hyung!" dengus Kibum. 'Dan karena perasaan jugalah, aku akan selalu menurutimu. Meski jalan yang kau tempuh adalah jalan yang salah'.
Kibum mendorong tubuh Heechul dengan sedikit keras agar namja itu menjauh dari Siwon. Syukur-syukur terjatuh sekalian namun nampaknya kekuatan Heechul telah pulih kembali. Dia hanya bergeser sedikit dari posisinya.
Kibum pun menarik tubuh Siwon kemudian memapahnya. Meninggalkan Heechul sendirian. Heechul pun kembali berlutut di abu suaminya. Mengusapnya dengan lembut dan airmatanya kembali menetes. "Hannie… maafkan aku. Aku yang telah membunuhmu. Aku sungguh minta maaf. Aku tidak berguna. Maaf… hikss.."
Tiaba-tiba saja mata kiri Heechul terasa perih dan perutnya kembali berdenyut sakit. Heechul menjerit kesakitan sambil menutup kelopak mata kirinya dengan tangannya sementara tangan kanannya meremas perutnya.
"Arrrrggghh… sakiiitt…" rintih Heechul. Efek samping dari darah yang ditelannya telah bekerja. Heechul terduduk lemas masih tetap memegangi perutnya.
Sepasang suami istri berjalan di tengah malam yang sunyi. Mereka adalah vampire penjaga daerah perbatasan. Menggantikan orang tua Leeteuk yang telah meninggal. Tugas mereka adalah menjaga perbatasan antara daerah vampire dengan daerah manusia. Mereka tidak tinggal di istana seperti vampire lainnya namun tinggal di lingkungan manusia biasa. Berbaur dengan mereka layaknya manusia normal pada umumnya. Mereka pun tak pernah memakai nama vampire mereka.
Mata indah sang istri tak sengaja mendapati tubuh ringkih seseorang tak jauh di depan mereka. Semakin ia cermati, ia semakin yakin jika dirinya mengenal orang itu.
"Yunnie~ itu… itu Yang Mulia Casey 'kan?" tebah si namja cantik dengan tatap khawatir. Ia mengguncang-guncangkan lengan suaminya.
"Mana mungkin dia ada di sini, Boo?" ucap Yunho tak yakin.
"Tapi itu memang dia!" kekeuh Jaejoong. Ia pun berlari menghampiri Heechul yang masih tetap menjerit kesakitan.
"Boo!" seru Yunho. Ia pun berlari mengejar istrinya.
"Omo… Yang Mulia!" teriak Jaejong histeris. Ia meremas pundak Heechul. "Yang Mulia, kau tak apa?" panik Jaejoong.
Keremangan cahaya malam membuat Heechul harus berusaha lebih untuk menatap orang yang memegangi pundaknya dengan satu matanya. "J-jae?"
"Ne, Yang Mulia. Ini aku! Ada apa denganmu?" Tanya Jaejoong.
Heechul menggeleng. Terlalu panjang untuk menceritakan semuanya. "To-tolong…" lirih Heechul. Lambat laun ia mulai kehilangan kesadarannya.
Mata Jaejoong membulat sempurna. "Yang Mulia! Irreona!" seru Jeajoong. Ia berbalik dan menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. "Yun… Apa yang harus kita lakukan?"
Yunho mengusap pipi istrinya dengan lembut. "Tenanglah, Boo. Kita obati dia di rumah, neee?" usul Yunho. Ia pun menggendong Heechul dengan gaya bridal dan mereka membawa Heechul pulang.
.
.
.
.
.
"Ummaaaaa~" teriak seorang bocah laki-laki berbadan kurus dari dalam sebuah kamar yang ditempati Heechul saat namja cantik itu mulai membuka matanya.
Bocah bernama Jung Changmin itu segera berlari menghampiri ummanya yang berada di ruang keluarga sambil menimang seorang bayi mungil berparas cantik dengan pipi semerah buah ceri.
"Ada apa, Minnie?" Tanya Jaejoong dengan lembut. Ia mengusap kepala anaknya yang baru berusia tiga tahun itu dengan sebelah tangannya.
"Umma~ bibi cantik cudah bangun~!" girang bocah cadel itu.
Mata Jaejoong berbinar senang. Yunho tengah berangkat bekerja sekaligus memberitahukan masalah yang menimpa Heechul pada Yesung sebagai raja utama. Namja yang tak kalah cantik dengan Heechul itu pun bangun dengan hati-hati agar tak membangunkan bayi dalam gendongannya dan berjalan menuju kamar yang Heechul tempati. Changmin menggenggam tangan kanannya dan ikut berjalan di sampingnya.
"Yang Mulia…" sapa Jaejoong. Ia duduk di samping ranjang dan Changmin pun naik ke atas ranjang. Mencermati lekuk wajah pucat Heechul lekat-lekat.
"Bibi cantik~. Bibi cudah bangun, ya?"
Heechul memegangi kepalanya yang berdenyut sakit dengan mata yang belum terbuka sempurna. "Ukh… apa yang terjadi?"
Heechul memegangi perutnya yang terasa perih. Matanya tiba-tiba terbelalak lebar. "Anakku?" paniknya. Ia mengusap perutnya yang sudah tak buncit dan ada jahitan yang masih baru disana.
"Tenanglah, Yang Mulia…" pinta Jaejoong. Ia meremas bahu kiri Heechul. "Anakmu aman dalam gendonganku. Aku terpaksa mengeluarkannya dari perutnya sebelum waktunya demi menyelamatkan kalian" ucap Jaejoong lagi.
Heechul menoleh pada Jaejoong dengan mata berkaca-kaca. Tangannya terulur untuk menyentuh bayinya. Jaejoong pun mendekatkan bayi dalam gendongannya agar Heechul dapat melihat wajah cantik putrinya. Bayi itu perlahan-lahan bangun menampilkan mata yang indah meski matanya belum dapat sepenuhnya terbuka.
"Dia bayi perempuan yang sangat cantik. Tapi_"
Tangan Heechul yang sebelumnya terulur untuk mengusap pipi putrinya kini malah membekap mulutnya yang terisak. "Ma-mata dan kulitnya…" Heechul tak dapat meneruskan kata-katanya.
"Nae, matanya berwarna hijau terang. Mata emerald. Dan kulitnya putih kemerahan. Seperti bayi manusia. Apa yang sebenarnya terjadi, Yang Mulia?" Tanya Jaejoong prihatin.
"A-aku… aku menghisap darah seorang manusia. Manusia yang membunuh Hangeng-ku… hiksss… ta-tapi kenapa anakku malah memiliki mata sepertinya?"
.
.
.
.
.
Cahaya matahari yang begitu menyilaukan masuk ke dalam sebuah kamar lewat jendela yang tirainya telah terbuka. Siwon mulai terbangun dari 'tidur' panjangnya. Buru-buru ia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Sudah bangun?" terka sebuah suara dari samping kanan ranjang Siwon. Siwon pun mengintip orang itu dari balik selimutnya.
"Bummieee~ tutup tirainya!" seru Siwon.
Kibum, namja yang menjadi partner Siwon dalam memburu vampire pun mendengus kesal. "Tiga hari kau tidak bangun dan sekarang kau sudah benar-benar berubah, hyung! Hyungku yang dulu selalu bangun pagi dan selalu menikmati cahaya matahari kini takut pada cahaya matahari. Sekarang hanya ada Choi Siwon si vampire halfblood, ck! Namja bodoh!" ucap Kibum dengan sinis. Ia pun beranjak bangun dan menutup tirai hingga sinar matahari tak bisa masuk ke dalam kamar itu lalu kembali menghampiri Siwon dan duduk di pinggir ranjang.
Siwon membuka selimutnya dengan lega. "Terimakasih, Bummie~" ucap Siwon namun sedetik kemudian ia menarik Kibum kedalam pelukannya. Memeluknya dari belakang sambil bersandar pada kepala ranjang. "Bummieee~"
"AHH! H-hyung!" Kibum menutup matanya rapat-rapat. Bibirnya pun digigitnya untuk menahan desahan. Siwon mencium dan menggigit perpotongan lehernya lalu menjilatnya. Bias dipastikan sebuah bekas merah akan tertinggal disana.
"Bummieeeehh~" Siwon memeluk erat dada Kibum. Bau tubuh Kibum terasa manis di penciumannya.
"Ngh… ceritakan padaku apa yang terjadi! Akhh.." Kibum menggenggam erat lengan kiri Siwon yang memeluk dadanya dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya meremas sprei. Jemari Siwon bermain-main di titik tersensitif di dada kanannya. Mencubitnya dengan sedikit kasar meski ia masih memakai kaos biru lautnya. Perlahan titik di dadanya itu mengeras dan menonjol di kaosnya.
Siwon tak pernah melakukan semua ini terhadapnya. Siwon selalu menganggapnya adik, tak lebih dari itu. Dilema merajai hatinya. Apakah Siwon mencintainya? Atau Siwon hanya terbuai nafsu sesaat karena dia telah menjadi vampire?
Siwon berhenti sejenak namun akhirnya kembali menandai leher Kibum dengan kissmark dan memilin nipple kanan Kibum. "Aku… membunuh seorang vampire yang membunuh ayah.."
"ummhh… ahh… Apa? Paman Choi terbunuh? Anghh… la-lalu?"
"Umm~ Lalu istri dari vampire itu syok dan mengalami pendarahan.." Siwon melepas kaos yang Kibum pakai.
"Uhhh… setelah itu?"
"Aku… Aku memintanya untuk menggigitku agar darah bayinya yang telah keluar bisa tergantikan oleh darahku. Kau tau? Dia anak raja vampire terdahulu.." ucap Siwon.
Mata Kibum terbuka lebar. "W-what? Anghh… Siwon Hyunggg.."
Siwon melepaskan celana Kibum berikut dengan celana dalamnya hingga tubuh Kibum benar-benar naked. Meremas kejantanan mungil Kibum dengan keras dan memompanya dengan cepat.
"Ahhh… uhhh… mmmhhh… hyunggghhh…" Kibum melebarkan kakinya dan menekuknya. Kejantanannya menegang dan precum mulai keluar dari lubang penisnya.
"Kibummieee…" Siwon mendorong tubuh Kibum hingga namja manis itu menungging. Ia melepas kancing celananya dan menurunkan resletingnya kemudian memelorotkan celananya. Satu tangannya mencengkeram pinggul Kibum dan tangannya yang lain menuntun kejantanannya untuk masuk ke dalam manhole Kibum.
"AARRRRGGGHH… Sa-sakiit, hyung… arrghh… akh-akh-akh.." tubuh Kibum bergerak tak nyaman. Lubang anusnya robek cukup lebar karena kejantanan Siwon yang besar dan panjang memasukinya dengan kasar dan tanpa menunggu waktu, Siwon segera mengeluar-masukkan kejantanannya dengan cepat.
"akkhh.. akkhh… uhh… ummmhh.. ahh… HYUNGGG!" teriak Kibum. Cairan putih mengucur deras dari lubang kejantanannya.
Kejantanan Siwon yang berada di dalam manhole Kibum pun terasa seperti dipijat oleh lubang sempit itu. Ia membalikkan tubuh Kibum menjadi terlentang tanpa mengeluarkan kejantanannya. Hal itu membuat Kibum kembali meringis kesakitan.
Siwon mengangkat kedua kaki Kibum dan menumpukannya di pundaknya. Ia menarik kejantanannya dan hanya menyisakan kepalanya saja lalu menghujam manhole Kibum dengan kuat dan keras.
"AHH!" Butiran kristal jatuh dari mata elang Kibum. Terasa sangat sakit namun juga bercampur nikmat saat Siwon berhasil menumbuk prostatnya. Ia bagaikan seorang masochist karena sebuah sex.
Siwon menyeringai. Sesuatu yang tak pernah Kibum lihat sebelumnya. Namja bertubuh sixpack itu menghujam prostat Kibum lagi dan lagi.
"AHH! AHH! AHH! UHH! ANGHHH… UWAAA…" Kibum mendongak dengan mata terpejam. Kedua tangannya meremas sprei yang telah kusut sedari tadi. Airmata semakin membanjiri matanya. Berkali-kali Siwon menusuk prostatnya hingga ia tak tau mana rasa sakit dan mana rasa nikmat.
"ahh… uhh.. ummhh… H-hyung… ahhhhh.." Kibum mengeluarkan sarinya untuk yang kedua kalinya.
"Uhhmmm… Bummieeehh~" lenguh Siwon. Ia mencapai klimaksnya dan menumpahkan seluruhnya di manhole Kibum.
Kibum mendesah lega. Manhole-nya terasa penuh dan hangat karena Siwon telah memenuhinya dengan spermanya.
Dengan masih menumpukan kaki Kibum di pundaknya, Siwon maju dan melumat bibir Kibum dengan ganas. Kembali memaju mundurkan kejantanannya dengan brutal.
"Ahh! Ahh… uhh.. ummhh… cu-cukup, hyung! Aku lelahhh.." keluh Kibum setelah berhasil memutuskan ciuman Siwon. Punggungnya terasa sakit karena terus bergesekan dengan kain sprei apalagi posisinya sekarang seperti orang yang sedang melakukan sikap lilin.
"Sekali lagi, Bummieee~" pinta Siwon. ia menghujamkan kejantanannya dengan telak dan terus mengenai sweetspot Kibum.
"uhh… anggghhh… ummmmhhh… hhaahhh…" Kibum menggeleng frustasi. Siwon memasukkan puting susunya ke dalam mulutnya dan menggigitinya dengan sedikit kasar.
"uhhh… ahhhh… nghhh… angghhh… ah-ah-ah-ah… ukkhh…aarrrrggghhh…" Kibum datang untuk kesekian kalinya. Tubuhnya tergolek lemas dan ia pun mulai kehilangan kesadarannya.
Siwon pun berusaha ekstra untuk dapat menyodok lubang Kibum karena lubang itu semakin menyempit. Ia terus menusuk sweetspot Kibum walau namja di bawahnya itu telah pingsan. Beberapa sodokan terakhir dan Siwon pun mencapai klimaksnya. Ia kembali memenuhi lubang Kibum dengan benihnya. Tak berhenti, Siwon kembali menyodok lubang sempit Kibum berkali-kali dan mengalami klimaks yang berkali-kali juga. Melakukan penetrasi dengan segala macam gaya tanpa perduli tubuh Kibum yang benar-benar telah lemas. Bergerak seperti orang yang kesetanan dan berhenti saat tubuhnya telah lemas.
.
.
.
.
.
"Jeremy(Yesung)!" Heechul menghambur ke pelukan adiknya yang baru saja masuk ke dalam rumah Yunho.
Yesung mengusap rambut pirang kakaknya dengan lembut. "Aku disini, hyung. Menangislah sepuasmu dalam dekapanku.." sebelah tangan Yesung menepuk-nepuk punggung Heechul.
"Hiks… a-aku penyebab kematian Hangeng, Jeremy. Karena akulah dia mati… hikss…" Heechul menyembunyikan kepalanya di dada sang adik.
Yesung sedikit tersentak namun kembali tersenyum lembut. "Mana mungkin kau melakukannya? Jika pun itu terjadi, aku yakin kau tak akan melakukannya dengan sengaja. Aku tau sebesar apa kau mencintainya."
"Hiks… maaf.." bisik Heechul.
"Tidak perlu minta maaf, hyung. Kau bisa memberitahuku apa yang terjadi?" Tanya Yesung. Ia mengajak Heechul untuk duduk di kursi.
"Dia… menghisap darah seorang manusia, Yang Mulia" sahut Jaejoong karena Heechul hanya diam. Ia menghampiri Yesung dan Heechul dan duduk di samping suaminya sambil menggendong bayi Heechul.
Untuk sejenak, raut wajah Yesung berubah menjadi terkejut namun sedetik kemudian ia kembali pada wajah stoicnya. "Hm… keponakanku sudah lahir? Kenapa aku tak menyadarinya" gurau Yesung dengan santai. Ia melepas pelukan Heechul dan menghampiri Jaejoong lalu mengambil bayi mungil itu ke dalam gendongannya.
"Cantik, seperti ibunya" puji Yesung.
Heechul melotot. "Matamu bermasalah, Jeremy? Dia berparas manusia! Apalagi matanya…" kesal Heechul.
Yesung menaikkan satu alisnya. "Hn? Jadi orang yang kau gigit itu bermata Emerald? Mata yang indah, sangan kontras dengan mataku yang berwarna awan hitam" sahut Yesung asal. "Jaejoong, apa yang bisa kau simpulkan?" Tanya Yesung sambil melirik Jaejoong.
Jaejoong berpikir sejenak. "Karena Yang Mulia Casey menghisap darah manusia, bayinya ikut memiliki DNA manusia itu. Singkatnya, bayi perempuan itu menjadi pureblood setengah manusia. Anda bisa melihatnya dari mata dan kulitnya. Sama dengan 'ayahnya'."
"Menarik, jadi dia punya dua ayah, ya? Hangeng sebagai penanam benih dan manusia itu sebagai pemberi DNA. Berapa presentasenya?" Tanya Yesung lagi.
"Dari yang kuteliti, ada 45% pureblood dan 55% manusia" jawab Jaejoong.
"Apa?" seru Heechul tak percaya. "Dia anakku dan Hangeng! Bukan Siwon!" imbuhnya semakin kesal. Beruntung dia masih mengingat nama pembunuh suaminya itu.
"Che, siapa suruh menghisap darahnya? Sekarang putrimu juga menjadi putrinya. Seperti threesome, ya?" Yesung terkekeh geli.
"JEREMY!"
"Oke oke… jangan marah, hyung. Aku hanya bercanda. Kau tidak terkena efek samping dari darah manusia bernama Siwon itu?" Tanya Yesung. Ia menimang-nimang akankah ia memberitahu Jordan (Kangin) tentang masalah ini. Namja yang selalu berbangga atas darah bangsawannya itu pasti akan mengamuk.
"Aku… aku baik-baik saja.." sahut Heechul tak yakin.
"Benarkah?" selidik Yesung tak percaya.
"Ia kehilangan mata amethyst kirinya" ucap Yunho yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.
"Hah? Ti-tidak mungkin!" ucap Heechul.
"Mata itu butuh darah bangsawan yang suci. Dan darahmu telah tercemar. Jika tidak percaya, Yang Mulia dapat membuktikannya" jawab Yunho.
Heechul memejamkan matanya dan memusatkan pikirannya. Bibirnya menggumamkan mantera-mantera aneh lalu ia membuka kelopak matanya. Semua orang tercekat, termasuk Changmin yang sedari tadi tak perduli dan hanya menjilati ice creamnya. Buru-buru bocah itu menghampiri ummanya dan menyembunyikan wajahnya di dada sang umma.
Mata black pearl Heechul berubah warna menjadi keunguan. Hanya mata sebelah kananlah yang berubah warna namun mata kirinya masih tetap sama. Masih berwarna black pearl.
"Ma-mataku.."
"Kau masih bisa meramal dengan satu mata, Yang Mulia. Namun tak dapat dipungkiri jika ramalanmu tak akan seakurat dulu." Yunho memangku Changmin yang sejak tadi ketakutan. "Tidak apa-apa, Minnie~" bisik Yunho di telinga Changmin.
.
.
.
.
.
TBC
