Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: BL/YAOI, OOC, OC, typos, alur cepat, dll
Enjoy! :)
Beginning
.
.
.
.
.
Shina tidak tahu seperti apa rasanya mempunyai dua orang ayah, namun sekarang dia tahu bagaimana rasanya.
Anak itu mulai menyesal karena membuat Naruto dan Sasuke berteman.
"Shina! Ingat yaa! Habiskan semua sayuranmu, dattebayo! Jangan makan tomat saja! Makan juga timunnya, brokolinya juga ya!"
"Shina. Jangan membantah gurumu lagi. Santa Claus memang tidak nyata, tapi teman-temanmu masih percaya pada badut itu. Jangan menghancurkan mimpi anak kecil."
"Hei, teme! Shina sendiri masih kecil!" Naruto menyilangkan lengannya, menatap Sasuke dengan tatapan tidak setuju.
"Dobe, otak Shina selevel dengan otak orang dewasa." Sasuke mendengus bangga, seakan-akan otaknya yang dipuji.
"Tidak! Tidak! Putriku masih kecil! Aku tidak akan membiarkannya tumbuh dewasa! Bagaimana kalau tiba-tiba ada cowok yang melamar Shina?!"
"Kita bunuh cowok itu."
Anak delapan tahun itu hanya bisa terpaku di depan gerbang sekolah, menatap dua lelaki dewasa yang mendebatkan cara-cara yang tepat untuk membunuh suami masa depannya. Dia menghela napas, mencengkeram tas sekolahnya. "Aku pergi dulu…"
"Oke! Sampai jumpa nanti siang, Shina!" Naruto menyeringai lebar, mencium pipinya dengan suara kecupan yang sangat berisik.
"Hari ini aku yang akan menjemputmu." Sasuke mengusap rambutnya. Mata onyx lelaki itu mendelik tajam ke arah murid-murid yang masuk ke dalam sekolah, mencari-cari 'calon-suami' untuk dibunuh.
Shina menghela napas lagi. Kalau begini caranya, jangankan menikah, berteman dengan cowok pun tidak mungkin terjadi.
xxx
Sudah dua minggu berlalu sejak 'deal' mereka berdua. Sejak hari itu, Sasuke nyaris menghabiskan semua waktunya di rumah Naruto, seakan-akan rumah itu adalah rumahnya sendiri. Naruto tidak keberatan. Pertama-tama, Sasuke tidak bercanda tentang memasakkan sesuatu yang layak untuk Shina. Naruto tidak tahu sampai di mana batas kesempurnaan lelaki berambut raven itu. Hari kedua setelah mereka berjabat tangan, Sasuke memenuhi kulkas Naruto dengan bahan-bahan makanan, memasak apa pun yang di-request oleh Shina. Masakan Sasuke berhasil membuat wajah Shina (dan wajahnya) berseri-seri sepanjang hari.
Kedua, karena Sasuke sering berkunjung, pekerjaannya menjadi lebih cepat selesai dan dia bisa menghabiskan waktu bersama dengan Shina. Sasuke memperkenalkan supplier dari luar negeri yang menjual produk lebih berkualitas, membuat pekerjaannya lebih mudah. Selama ini dia merasa bersalah karena dia mengurung diri di dalam ruangan kerja, membiarkan Shina sendirian di ruang tamu. Setidaknya dengan kehadiran Sasuke, Shina tidak akan sendirian. Naruto pernah menyewa suster untuk mengurus Shina. Namun si suster malah mengotot untuk pulang kampung setelah seminggu mengurus anak itu. Sampai sekarang Naruto tidak tahu apa yang dilakukan bocah itu.
Namun, ada kalanya ketika Sasuke benar-benar kelewatan. Naruto masih bisa terima ketika Sasuke diam-diam menyelipkan tomat di ramennya. Tapi, lelaki berambut bebek itu pernah melakukan hal yang lebih parah, seperti membuang semua ramen di lemarinya.
"Itu semua ramen milikku, teme!"
"Mereka sudah kadarluarsa, usuratonkachi."
"Tidak peduli! Tidak ada seorang pun yang boleh menyentuh ramenku!"
"Oh ya? Aku sudah menyentuh ramen milikmu. Oh, koreksi. Aku membuang semua ramenmu."
Di detik berikutnya, mereka sudah berguling di atas karpet, bertukar tinju untuk pertama kalinya sejak sepuluh tahun yang lalu.
Dan tentu saja Shina ada di rumah pada saat itu. Sang bocah tidak menjerit ketika melihat pertengkaran itu. Dia hanya meraih kertas, menulis di kertas itu dengan tulisannya yang elegan.
Papa vs Daddy.
Tanggal xx bulan xx tahun xxxx
Daddy: 1 Papa: 0
Shina benar-benar anak yang manis sekali.
Naruto sendiri tidak tahu sejak kapan Shina memanggil Sasuke 'Daddy'. Tentu saja dia tersinggung. Dia butuh waktu tiga tahun untuk membuat Shina memanggilnya 'Papa'. Selain itu, Shina masih sering memanggilnya 'Ruto'. Dia tahu kalau Sasuke sering membawa Shina jalan-jalan ketika dia ada waktu luang. Shina pernah bercerita kalau banyak yang mengira bahwa Sasuke adalah ayahnya karena sosok mereka yang mirip. Bagaimana mau tidak tersinggung ketika mendengar itu?
"Suke pernah bilang kepada orang-orang bahwa aku anaknya." Shina memberitahu Naruto. "Suke bilang kalau ini adalah cara yang sangat efisien untuk mengusir cewek-cewek yang dekat dengannya."
Dasar buntut bebek sialan. Memanfaatkan Shina demi kepentingannya sendiri.
Pernah sekali Naruto pulang malam. Dia terpaku sesaat melihat pemandangan di depannya. Shina tertidur pulas di pangkuan Sasuke, kepalanya menempel di dada lelaki berambut raven itu. "Dia hanya begitu padaku saja." Naruto berbisik pelan, membuat Sasuke memutar kepalanya dari laptop. "Kapan kau di sini?" Naruto melepas dasinya. Dan selain itu kenapa Sasuke bisa masuk ke dalam rumahnya?
"Baru beberapa jam yang lalu." Sasuke mematikan laptop di depannya. "Aku tidak mendobrak pintu rumahmu. Shina yang membuka pintu." Dia menjawab pertanyaan batin Naruto, membuat lelaki pirang itu menaikkan sebelah alisnya.
"Kau tahu, kadang-kadang aku merasa kalau kau bisa membaca pikiranku." Naruto melempar dirinya di sofa seberang Sasuke.
"Bagaimana dengan deal tadi?"
"Sukses." Naruto tertawa pelan. "Kau tahu, ternyata perusahaan yang kau kenalkan itu pemiliknya Gaara. Aku tidak tahu kau apakah kau kenal dengan Gaara, tapi dia salah satu sahabatku di jaman kuliah. Dia…" Pembicaraan mereka berhasil membuat anak kecil di pangkuan Sasuke mengerang pelan. Naruto terpaku, menatap Shina yang mengerutkan wajahnya karena mengantuk. Bocah itu turun dari pangkuan Sasuke, dengan sempoyongan berjalan menuju Naruto. "Hei, Shina." Naruto menyeringai, mengulurkan tangannya. Shina tidak menjawab, hanya menguap. Di detik kemudian Shina sudah duduk di paha Naruto, menyenderkan kepalanya di dada lelaki itu.
"Dia tidur lagi." Sasuke tidak bisa menyembunyikan nada kagetnya ketika mendengar dengkuran halus Shina.
"Shina memang begini." Naruto berbisik, menyeringai lebar. Ternyata secara tidak sadar Shina masih memilihnya daripada Sasuke. "Dia anak yang sangat was-was. Dia tidak pernah mau membuka diri pada orang lain. Dia bahkan tidak bisa tidur kalau aku tidak ada."
"Sejak dulu?"
Naruto mengangguk. "Kau tidak tahu sesusah apa membuatnya mendekatiku dulu. Ketika umurnya lima tahun, dia akan menjauh secara refleks kalau ada yang mendekatinya. Yah… setidaknya dia tidak menjauh kalau aku yang mendekatinya."
"Kau tidak tahu apa masa lalu Shina?"
Pertanyaan Sasuke sukses membuat Naruto melotot. "Aku tidak mau tahu." Lelaki itu tidak sadar kalau tangannya sudah merangkul Shina dengan protektif. "Masa lalu Shina tidak penting. Yang penting dia ada di sini sekarang."
Sasuke hanya bisa terdiam. Dia tidak bisa bilang pada Naruto kalau dia menyelidiki Shina secara diam-diam. Mau bagaimana lagi, sifat Shina itu tidak wajar untuk sifat anak kecil. Sasuke percaya kalau masa lalu Shina yang membentuk anak itu sampai dia bisa menjadi seperti itu.
Pikiran Sasuke terputus ketika Naruto beranjak dari sofa. Dia menggendong putrinya, berjalan menuju kamarnya.
"Kau masih tidak memberi Shina kamar sendiri?" Sasuke ikut beranjak, menatap Naruto dengan tatapan kesal. "Di rumah ini ada tiga kamar kosong, dobe."
"Sudah kubilang, Shina tidak bisa tidur tanpaku." Naruto balas melotot. Dia menyelimuti Shina, tersenyum singkat ketika melihat anak itu memeluk guling secara refleks. Namun, senyum Naruto menghilang ketika dia merasakan sesuatu yang hangat mendarat di tengkuknya. Dengan wajah merah padam dia memutar tubuh, menatap Sasuke yang memasang wajah patungnya. "Kau… apa yang baru saja kau lakukan?"
"Aku apa?" Sasuke balas bertanya.
Satu lagi kepribadian Sasuke yang Naruto tidak bisa tahan.
Sasuke selalu menciumnya tiba-tiba.
Naruto bukanlah lelaki yang tidak laku. Selama sepuluh tahun ini ada beberapa wanita yang mengincarnya. Namun mereka semua menunjukkan tanda-tanda seperti menyentuhnya atau menatapnya dengan tatapan 'bisa-cium-aku'. Tapi lelaki sialan di depannya ini selalu menciumnya secara tiba-tiba, membuatnya menegang.
"Oi, teme. Sudah kubilang jangan begitu." Naruto mendesis, mundur dua langkah dari lelaki berambut raven itu.
"Hn." Sasuke menjawab santai, memutar tubuhnya dan keluar dari kamar Naruto.
Naruto hanya bisa melongo. "Hei! Hei!" Dia cepat-cepat mengejar Sasuke yang sudah kembali ke ruang tamu.
"Apa?" Sasuke mendelik sesaat.
"Aku tidak bermaksud seperti tadi, kau tahu kan?"
"Hn." Sasuke melempar tubuhnya di sofa, memejamkan mata.
Naruto terpaku. "Hei, kau dengar tidak kata-kataku?" Dia langsung duduk di sebelah Sasuke, sama sekali tidak sadar kalau dia meletakkan tangannya di atas paha Sasuke. "Aku tidak bermaksud begitu, dattebayo! Tadi ada Shina di dalam kamar! Bagaimana kalau dia tiba-tiba terbangun atau…"
Sasuke tidak menjawab, membiarkan Naruto berceloteh panjang lebar. Sasuke punya prinsip 'pertahankan-ego-Uchiha'. Jika dia mau mendapatkan Naruto, dia tidak akan melakukan hal itu dengan cara memohon. Persetan dengan memohon. Dia bahkan tidak akan meminta.
"… makanya aku tadi begitu! Kau dengar?"
Sasuke tetap tidak menjawab, masih memejamkan matanya. Namun, di detik berikutnya dia merasakan sepasang bibir yang menyentuh bibirnya. Sasuke membuka mata, bertemu dengan sepasang mata biru.
"Kau dengar?" Naruto bertanya lagi. Dia mendengus kesal.
Satu lagi prinsip Sasuke adalah untuk mendapatkan apa pun yang diinginkannya. Tentu saja cara-cara yang dilakukannya bisa dibilang 'licik'.
Dia tahu kalau Naruto tidak tahan diacuhkan. Jika Naruto diacuhkan, lelaki pirang itu akan berusaha merebut perhatiannya. Dan Sasuke tahu kalau Naruto tahu bahwa 'ciuman' adalah cara efektif untuk merebut perhatiannya. Perlahan-lahan, senyuman mengejek muncul di wajah Sasuke, membuat Naruto tercengang.
"Teme. Kau sengaja kan?!" Naruto menggeram.
"Apa maksudmu?"
"Jangan pasang muka tidak berdosamu itu! Aku tahu apa yang kau pikirkan!"
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. Ada bukti, dobe?"
"Teme… kau…"
Sasuke tidak menjawab, menunduk kepalanya dan menempelkan bibinya di bibir Naruto. Lelaki pirang itu sempat menolak ciumannya, masih kesal. Namun di detik berikutnya mereka berdua sudah membuka mulut, berusaha mendominasi ciuman dengan lidah mereka. Napas Naruto memburu. Dia sama sekali tidak sadar kalau dia sudah duduk di pangkuan Sasuke. Dia meremas rambut Sasuke, memperdalam ciuman.
Satu lagi kebiasaan Naruto. Jika dia sedang berada dalam kondisi 'emosi', ciuman lelaki itu akan menjadi lebih 'membara'. Sasuke menyeringai singkat, namun cengirannya menghilang ketika Naruto mulai menggesekkan paha di selangkangnya.
"Masih bisa mengeluarkan senyuman mengejekmu itu?" Naruto menyeringai lebar, merasa menang ketika mendengar desisan pelan Sasuke.
Sasuke hanya bisa menggeram, menahan diri untuk tidak langsung 'menerkam' lelaki di depannya. Mau bagaimana pun, Shina hanya berjarak beberapa meter dari mereka berdua. "Pindahkan Shina di kamar baru."
"Tidak mau." Naruto menjulurkan lidahnya. Dia cepat-cepat memasukkan lidahnya ketika melihat Sasuke membuka mulut untuk menggigit lidahnya. "Kau mau tidur di kamarku dan ciuman semalaman kan? No way. Aku tidak mau."
Sasuke mendengus.
Tidak mau? Dia akan membuat Naruto memohon padanya.
Lihat saja.
xxx
Sasuke tidak percaya dengan yang namanya keajaiban, kebetulan, dan takdir.
Semua hal terjadi karena alasan dan fakta.
Namun, dia tidak mengerti kenapa Shina bisa 'semirip' itu dengannya.
Awalnya Sasuke tidak peduli. Ada 7 miliar manusia di muka bumi. Tidak aneh kalau ada dua orang yang punya sifat yang mirip. Namun kemiripan Shina dengannya semakin lama semakin terlihat.
Pertama-tama, Shina selalu mendapat nilai sempurna di kelas. Namun anak itu tidak pandai berkomunikasi dengan teman-temannya. Naruto selalu menyarankan Shina untuk berteman dengan cewek-cewek seumurannya. Namun Shina selalu menggelengkan kepala, bilang kalau dia tidak cocok berteman dengan anak-anak di kelasnya. "Mereka main boneka. Aku tidak suka boneka."
Cewek delapan tahun mana yang tidak suka boneka?
Dia teringat akan kejadian beberapa jam lalu. Shina dengan seenaknya masuk ke kantornya ketika dia sedang video conference dengan Itachi, meeting tentang cabang di New York. Karena sedang dalam percakapan penting, Sasuke tidak sadar akan bocah mungil yang muncul dari belakang. "Daddy. Aku mau jus tomat yang kemarin." Anak itu langsung duduk di pangkuan Sasuke, terpaku sesaat ketika melihat wajah Itachi dari layar laptop.
Sasuke tidak tahu wajah patung siapa yang paling 'mematung' pada waktu itu; dia yang mematung karena Shina tiba-tiba muncul, atau Shina yang mematung karena melihat wajah Itachi, atau Itachi yang mematung karena mendengar Sasuke dipanggil Daddy?
Sesaat, mereka bertiga hanya terpaku, tidak bicara apa-apa.
"Sasuke." Suara tajam Itachi membuat Sasuke semakin mematung. "Kau sex dengan wanita mana? Kalau ingatanku tidak salah kau sudah gay sejak umurmu sepuluh tahun."
Sasuke hanya bisa membekap wajahnya. "Itachi. Shina bukan anakku."
"Gay?" Shina memutar tubuhnya, menatap Sasuke dengan mata birunya yang bundar.
"Shina. Lupakan kata itu." Sasuke cepat-cepat menjawab. Dia bisa dibunuh Naruto.
"Aku tahu gay apa. Suke, kau gay?"
"Aku…"
"Iya. Dia gay." Itachi menjawab, membuat Sasuke melotot tajam ke layar laptop.
"Pantas kau suka dengan Ruto." Shina menganggukkan kepala, puas dengan analisanya. "Aku setuju."
Sasuke ternganga. Sebelum dia sempat menjawab, Itachi mulai berbicara lagi. "Bocah. Siapa namamu?"
"Aku bukan bocah." Shina melotot. "Namaku Shina Uzumaki."
Itachi terdiam sesaat, menganalisa ucapan Shina. "Kau cukup cerdas untuk anak seumuranmu."
"Banyak yang bilang seperti itu." Shina menjawab singkat.
"Kau menarik." Itachi menaikkan sebelah alisnya, tersenyum singkat. "Mau permen?"
"Aku tidak suka manis." Shina turun dari pangkuan Sasuke. "Lagipula, kau tidak bisa memberiku permen. Kau tidak ada di sini. Ini kan cuma Skype saja." Dia mendengus pelan dan keluar dari kantor Sasuke, meninggalkan dua lelaki berambut raven yang terpaku.
"Kau yakin dia bukan anakmu?" Pertanyaan Itachi membangunkan Sasuke dari lamunan.
"Tentu saja bukan." Sasuke menggeram. "Kau kira aku bisa sex dengan wanita?"
"Kalau begitu aku ganti pertanyaanku." Itachi menatapnya dengan tatapan serius. "Kau yakin dia bukan seorang Uchiha?"
Sasuke terpaku. "Bukan. Dia Uzumaki."
"Sasuke." Nada Itachi mulai menajam. "Aku sudah berada di keluarga terkutuk Uchiha ini selama 32 tahun. Aku tahu seperti apa karakter mereka."
"Sudah kubilang, Shina bukan…"
"Dan aku sudah menjadi kakakmu selama 27 tahun. Aku tahu kapan kau berbohong."
Sasuke terpaku. Tanpa sadar dia sudah mencengkeram jok kursinya, menunggu Itachi untuk membuka mulutnya lagi. Namun lelaki itu mengubah percakapan. "Sebentar lagi hari peringatan kematian Ibu. Aku akan kembali ke Jepang pada waktu itu. Pastikan kau tidak punya kegiatan apa-apa."
Sebelum dia sempat menjawab, Itachi sudah memutuskan panggilan.
xxx
Shina memanyunkan bibirnya.
"Ayolah, Shina! Masa kau tidak kangen dengan guru-guru di panti asuhan ini?" Naruto berusaha untuk menyemangati putrinya. Dia baru saja menjemput Shina dari kantor Sasuke. Anak ini seenaknya memanggil taksi dan pergi ke kantor Sasuke. Naruto sebenarnya mau mengajak Sasuke untuk ikut ke panti asuhan ini, namun lelaki itu sedang rapat dengan the big boss a.k.a Itachi Uchiha.
Demi keselamatan jiwanya, Naruto memutuskan untuk tidak mengganggu dua Uchiha itu.
"Ah! Naruto dan Shina! Wah! Shina sudah besar sekali ya!" Shizune menyapa mereka berdua. Shine refleks bersembunyi di belakang Naruto, membuat Shizune tersenyum sayu. "Masih malu seperti dulu ya?"
"Tidak. Dia sudah banyak berubah. Shina, kenapa kau sembunyi seperti ini? Ayo sapa Shizune!" Naruto mencoba untuk menyemangati Shina, namun anak itu semakin mengerutkan keningnya. "Ngomong-ngomong Shizune-nee, kenapa menyuruhku ke sini? Katanya ada sesuatu yang ingin kau berikan untukku?"
"Oh iya." Shizune tersentak. Dia cepat-cepat meraih kantong celananya, menyodorkan sesuatu.
"Apa itu?" Naruto mengerutkan kening.
"Kau ingat kan dulu ketika umurmu lima tahun, kau ditinggalkan di panti asuhan?"
Naruto menganggukkan kepala. Tanpa sadar, dia sudah terkenang akan masa lalunya. Dia putra dari Minato Namikaze dan Kushina Uzumaki. Ayahnya meninggal karena kecelakaan ketika umurnya tiga tahun. Dia dirawat oleh Kushina seorang diri. Dan ketika umurnya lima tahun, sesuatu terjadi padanya. Dia diculik oleh seseorang dan ibunya meninggal karena orang itu.
Naruto menggigit bibirnya. Orang yang menculiknya itu membuatnya menjadi yatim piatu sehingga dia dikirim ke panti asuhan. "Apakah… amplop itu petuntuk tentang kejadian itu?"
"Tidak. Hanya foto lama." Shizune berbisik sesaat. "Emmm… apa kita harus bicara secara privat? Nanti Shina…"
"Tidak apa-apa. Dia masih kecil. Dia tidak mengerti." Naruto tertawa. "Iya kan, Shina?"
"Papa bicara apa sejak tadi?" Shina bertanya dengan nada bingung.
"Tuh kan. Tenang saja, Shizune-nee." Naruto menyeringai, sama sekali tidak sadar kalau Shina sudah menyerap semua percakapan mereka. Naruto membuka amplop itu, senyumnya melebar ketika melihat foto wanita cantik berambut merah panjang. "Ahh! Foto ibuku?! Terima kasih banyak, Shizune! Aku tidak punya foto orang tuaku sama sekali!" Naruto tidak bisa menahan suaranya yang mulai bergetar. Wajah ibunya mulai muncul kembali di benaknya. Kushina yang baik, selalu memanjakannya… Dia sangat merindukan ibunya itu. "Shina! Lihat ini! Ini dia wajah ibuku! Namamu kuambil dari nama dia loh!"
"Ah! Naruto! Nanti dulu! Jangan kasih Shina…"
Sebelum Shizune sempat menahan Naruto, lelaki itu sudah memberi foto itu pada Shina. Anak itu menatap foto itu sesaat. Mata Shina terbelalak.
"Cantik kan?" Naruto menyeringai lebar. Namun, senyumnya menghilang ketika melihat wajah Shina. Wajah anak itu memucat. Dia menjatuhkan foto itu dan berlari menjauh dari Naruto dan Shizune. "Shina! Hei!" Naruto memungut foto ibunya di lantai. Dia hendak mengejar Shina, namun Shizune menahan tangan Naruto.
"Naruto, sebelum kau mengejar Shina, ada yang harus kau ketahui." Shizune meneguk ludah. Dia meraih amplop yang tadi, mengeluarkan selembar foto yang terselip di sana. "Aku tahu kalau kau selalu menolak untuk tahu masa lalu Shina. Tapi, kau harus tahu ini." Dia menyodorkan foto yang satu lagi untuk Naruto. Mau tak mau mata Naruto terbelalak ketika melihat foto itu. "Ibu kandung Shina meninggal dalam kondisi yang parah. Jenasahnya tidak bisa ditemukan. Namun, polisi akhirnya bisa menemukan identitas ibu Shina. Dan ini adalah wajah ibunya."
Naruto tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Foto di tangannya menunjukkan wanita berambut pirang dan bermata biru.
Wanita itu mempunyai wajah yang sama dengan Kushina Uzumaki.
xxx
Sasuke terpaku diam di kursinya. Dia memutar kembali percakapannya dengan Itachi. Kakaknya itu langsung sadar kalau Shina sangatlah familiar. Dia tidak tahu akan masa lalu Shina dan Suigetsu tidak bisa diandalkan. Dia cuma berhasil menemukan sedikit info akan Shina.
Sasuke terpaku, menatap surat keterangan di depannya.
Shina Uzumaki
Umur: 8 tahun
Kelamin: Wanita
Nama asli: Nama tidak diketahui
Ibu Kandung: Nama tidak diketahui
Ayah Kandung: Uchiha (marga)
Shina adalah seorang Uchiha.
Itu tidak bisa diragukan lagi. Dia punya bukti tertulis di tangannya dan bukti nyata di sifat Shina sendiri.
Tapi siapa ayahnya?
Uchiha siapa?
Sekarang, keluarga Uchiha yang tersisa hanyalah keluarganya. Dia, Fugaku, dan Itachi.
"Tidak..." Sasuke bergumam. "Masih ada satu Uchiha lagi." Dia menyabet ponselnya. "Suigetsu. Aku butuh bantuanmu."
TBC
AN: chapter kali ini pendek. Maaf ya pembaca! Soalnya aku udah sekolah, susah cari waktu buat nulis. Ini aja ngebut, sebentar lagi udah harus tidur.
Aku udah tau reviewnya bakalan nanya apa. hahaha. Jadi aku jawab dulu. Cerita ini bakalan tetap jadi rate T. ahhahaha, gak bakalan rate M :p
Segitu dulu... sampai jumpa di chapter berikutnya!
