TITLE: LOVE ISN'T JUST A WORD

RATING: K+ / T

GENRE: Romance, drama, shonen-ai/yaoi

DISCLAIMER: Vocaloid belongs to Crypton Future Media and Yamaha

WARNING: Mengandung SHONEN-AI/YAOI, boy x boy, masih ada kesempatan untuk "back"

COUPLE: KaitoxLen


- CHAPTER 4: Sweet Trap -


Buat yg udah review..

Autorjelek: Mkch udah review..maaf ya tulisannya salah, hehehe..kalo lagi semangat jadi lupa ada yg salah..lain kali aku tidak akan mengulanginya..

Rya-chan X Shii-chan: Mkch udah review..ceritanya..ya gitu deh..

ReiyKa: Mkch udah review...


"DERT…DREEK! DREEKK! BREK.."

"Ada apa ini?" tanya Kaito dan Len hampir bersamaan. Mereka berhenti berpelukan.

Lift yang mereka naiki berhenti. Entah kenapa tiba-tiba berhenti seketika.

"Sepertinya lift-nya berhenti," kata Kaito seraya memencet-pencet tombol yang ada di lift. "Benar, lift-nya tidak beroperasi. Kita terjebak di sini."

"Eh…?" teriak Len.

Len kebingungan. Dia berjalan dari satu sisi ke sisi lainnya. Memeriksa dinding-dinding lift seolah-olah dinding itu punya pintu rahasianya.

"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Len memelas. Sepertinya tangisnya telah terhenti seketika.

"Nanti pasti ada orang yang menolong kita saat mereka sadar tiba-tiba kita menghilang," jawab Kaito berpikiran positif.

"Hp! Iya benar hp! Kita harus menghubungi seseorang!" sentak Len tiba-tiba. Dia mengambil hp di sakunya. Dilhatnya layar hp itu. "NO SIGNAL"

"Mana mungkin ada sinyal dalam lift.."

"Iya, aku lupa.."

Kaito mengacak rambut Len dengan tangannya.

"Ah..Kaito-nii..," protes Len dengan nada manja seraya memegang tangan Kaito untuk menghentikannya mengacak rambutnya.

Manisnya.. Tanpa sadar senyum lebar merekah di bibir Kaito.

Kaito menatap Len dengan tatapan lembut.

"Kenapa Kaito-nii melihatku seperti itu? Ada yang salah dengan wajahku?" tanya Len polos.

"Tidak ada," kata Kaito sambil menjatuhkan diri ke lantai lift. "Duduklah..sini."

Len menuruti apa kata Kaito, dia duduk di samping Kaito.

Kaito merangkulkan tangan kirinya pada Len. Lalu menyandarkan kepala Len pada bahunya.

"Tenanglah..semua akan baik-baik saja..," kata Kaito pelan.

Kaito-nii..dia..ternyata dia mengerti. Dia mengerti aku. Dia mengerti apa yang kurasakan. Arigato na Kaito-nii..

.

.

.

[Pada saat yang sama di taman belakang sekolah..]

Mikuo berjalan sendiri di jalan setapak taman belakang. Ditendangnya batu-batu kerikil yang bertebaran di sana. Tangannya dimasukkan ke dalam sakunya.

"Mikuo-nii!" sapa seorang gadis setengah beteriak.

Mikuo berbalik dan mendapati sosok gadis yang warna rambutnya sama dengannya.

"Ada apa?" tanya Mikuo.

"Aku ingin curhat.." kata gadis itu dengan wajah seperti mau menangis.

Mikuo menggiring gadis itu duduk di bangku taman yang letaknya tidak jauh dari kolam tengah.

"Ceritakanlah Miku, ada apa?"

"Tadi aku melihat Kaito-nii sedang sendirian. Mikuo-nii tahu sediri aku sangat menyukai Kaito-nii. Akhirnya aku punya keberanian untuk mengungkapkan perasaan cintaku padanya. Kupikir ini saat yang tepat, tempat yang bagus dan dia baru memenangkan pertandingan basket antar kelas senior. Akupun mendekatinya dan menyatakan cinta padanya. Tapi..dia menolakku. Dia bilang hanya menganggapku sebagai adiknya. Apa itu terjadi karena Mikuo-nii bersahabat dengan Kaito-nii sehingga dia tidak mau bersama denganku?"

Miku mulai menangis. Air matanya tak mampu dibendungnya lagi.

"Miku, sudahlah.."

"Mikuo-nii..kenapa Kaito-nii menolakku?"

"Miku, lupakanlah Kaito. Dia tidak bisa mencintaimu."

"Kenapa? Jelaskan padaku Nii-san!"

"Karena ada orang lain yang dicintainya. Sudah ada orang lain yang dicintainya."

"Siapa? Apa aku mengenalnya?"

"Aku tidak tahu."

Miku mulai menangis lagi. Mikuo memeluk Miku dengan penuh kasih sayang. Dia tidak tega melihat adiknya bersedih seperti itu, tapi dia juga tidak mau kalau sahabatnya harus membohongi perasaannya sendiri demi menerima Miku.

.

.

.

[Dalam lift..]

Len berbaring di lantai lift dengan memakai paha Kaito sebagai bantal.

"Aku tidak marah ataupun khawatir terperangkap di sini," kata Kaito tiba-tiba.

"Kenapa?" tanya Len.

"Karena ada kau di sampingku."

Tiba-tiba wajah Len memerah. Langsung ditutupinya wajahnya dengan kedua tanganya.

"Saat..di lapangan basket itu, aku melihatmu. Aku senang sekali. Aku jadi punya pikiran untuk menghadiahkan sebuah gol untukmu."

"Gomen ne..aku sudah salah sangka padamu, Kaito-nii. Kupikir gol itu untuk Miku, karena saat itu Miku ada di bangku dekatku. Lalu setelah pertandingan selesai..Miku menemui Kaito-nii..jadinya…," Len tidak menyelesaikan kata-katanya.

"Miku dan aku memang dekat. Itu karena Miku adalah adik dari Mikuo. Tapi..lebih dari itu, aku hanya menganggapnya sebagai adik perempuanku. Hanya sebatas itu."

"Tadinya..aku merasa tidak bisa dekat denganmu Nii-san. Kaito-nii terlalu hebat, menjadi idola semua orang..sedangkan aku…"

"Jadi kau merasa kalau kau tidak pantas berada di sisiku? Tidak pantas menjadi temanku?" tanya Kaito jujur. "Aku ingin berteman dengan siapa saja, ingin bersama siapa saja, ingin mencintai atau menyayangi siapapun itu..itu semua pilihanku sendiri kan? Aku tidak peduli pendapat orang lain. Tapi aku akan tetap bersama denganmu. Jadi jangan pernah tinggalkan aku. Len..aku..aku.."

"Apa Kaito-nii?"

Kenapa aku tidak bisa melajutkan kata-kata ini? Ayolah, katakan Kaito! Jangan sampai Mikuo mengataimu BaKaito lagi seperti sebelumnya!

"Aku..ak, aku..ano, aku.."

Keringat dingin mengalir di sekujur tubuh Kaito. Jantungnya berdetak tak menentu.

"Ak..aku..kurasa kita harus di sini semalaman. Ini sudah 2 jam kan?" kata Kaito mengalihkan pembicaraan.

Kaito, kau ini benar-benar BAKA! Teriak Kaito dalam hati.

=';'=

Cinta..? Apa itu cinta?

Apakaha yang kurasakan ini cinta?

Ataukah ini hanya sekedar rasa kagum?

Tuhan..tolonglah aku..

=';'=

[Rumah Kaito..10.00 malam]

Mikuo melihat pemandangan di depannya melalui balkon kamarnya. Angin semilir berhembus dan menerbangkan rambut hijau toscanya perlahan.

"Kaito, kau kemana? Kenapa tiba-tiba kau menghilang? Apa kau sedang bersama dengan Len?"

Hp Mikuo bergetar. Ada telpon. Dengan sigap Mikuo mengambil hp di saku celananya. Tanpa melihat nama di layar hpnya dia langsung mengangkat telpon itu.

"Moshi-moshi," sapa Mikuo.

"Moshi-moshi Mikuo-nii..," sapa seorang gadis dari ujung telepon.

"Ada apa Gumi? Tumben sekali kau menelponku."

"Tidak ada yang penting.. Aku ingin meminta bantuan Mikuo-nii, boleh kan?" tanya Gumi dengan nada manja.

"Boleh saja."

"Aku ingin…."

.

.

.

Keesokan paginya di sekolah para murid mengajukan tuntutan pada Kepala Sekolah Hiyama Kiyoteru. Mereka mengirimkan surat keluhan tentang kerusakan fasilitas di Vocaloid Gakuen. Lift di Vocaloid Gakuen ada 6, tapi tak satupun dari ketiga lift itu yang bisa digunakan. Sementara gedung seolah sangat besar, tinggi, dan luas. Bagaimana mungkin mereka tidak protes kalau harus naik tangga terus kalau mau menuju kelasnya?

Kepala Sekolah Kiyoteru memanggil seseorang ke ruangannya melalui pengeras suara. Tidak lama kemudian orang yang dipanggil itu datang. Seorang pemuda dengan rambut ungu panjangnya.

"Kepala Sekolah memanggilku?" tanya pemuda itu sopan.

"Sebagai Ketua OSIS Vocaloid Gakuen aku harap kau segera menyelesaikan masalah fasilitas sekolah yang rusak," perinah Kepala Sekolah Kiyoteru.

"Baik, akan segera saya laksanakan."

Murid yang menjadi Ketua OSIS itupun beranjak keluar dari ruang Kepala Sekolah.

Di luar ruangan berdiri seorang gadis berambut putih panjang yang diikat satu dengan sebuah pita besar. Gadis itu menatap laki-laki berambut ungu itu.

"Bagaimana?" tanya gadis itu.

"Haku, segera panggil Akita Neru kemari," perintah laki-laki itu.

"Baik."

Gadis bernama Haku itu tiba-tiba menghilang dari hadapan laki-laki itu. Sedangkan laki-laki itu berjalan cukup jauh sampai persimpangan koridor menuruni tangga untuk sampai di lantai 7 yang berada di 2 lantai sebelum lantai ruang Kepala Sekolah. Dia berjalan lagi dan berhenti di depan sebuah ruangan dengan papan bertuliskan "Manage and Fasilities Room". Tidak lama kemudian seorang gadis berambut kuning dan gadis berambut putih tadi terlihat berjalan bersama dari kejauhan. Mereka semakin dekat dan menghampiri laki-laki itu.

"Ada apa mencariku?" tanya gadis berambut kuning itu.

"Neru, kuminta kau memperbaiki lift yang rusak. Kau bisa kan? Ini kan pekerjaanmu," kata laki-laki itu.

"Iya, aku bisa Ketua OSIS," jawab Neru mantap.

Neru membuka ruang itu dan mendapati ruangan itu kotor. Berbagai macam sayur-sayuran tercecer di lantai.

"Apa-apaan ini? Siapa yang mengotorinya?" teriak Neru kesal.

Sayuran? Apa mungkin Gumi? Gadis itu, apa yang dilakukannya kali ini? batin laki-laki itu.

Neru berjalan mendekati alat pengatur energi dan juga pengaturan lift yang berjalan di sekolah itu. Dilihatnya baik-baik setiap kabel dan saluran yang ada. Tiba-tiba dia terkejut. Matanya melotot seolah akan keluar dari kepalanya.

"Ada apa?" tanya Haku, gadis berambut putih itu.

"Ada sebuah surat. Tulisannya 'Untuk Gakupo'," jawab Neru seraya memberikan secarik kertas bertuliskan 'Untuk Gakupo' pada laki-laki di belakangnya itu.

Laki-laki itu membuka kertas itu dan membacanya.

"Gakupo, saat kau membaca surat ini berarti rencanaku telah berhasil. Jangan marah ya. Kalau marah, berarti kau benar-benar 'BaKamui'. Gomen ne sudah membuatmu repot. Tapi tenang saja aku akan memperbaiki kekacauan ini. Untuk memperbaiki lift-nya cukup memasang sirkuitnya yang kulepas dan kutaruh di laci meja yang ada di sana. Kemarin aku sengaja menyelinap dan melepasnya. Tolong jangan laporkan aku ke Kepala Sekolah ya. Gumi."

"Gumi," gumam laki-laki it, Gakupo.

"Gumi? Jadi ini ulahnya?" tanya Neru terkejut. Dia langsung menatap Gakupo.

Gakupo memalingkan wajah dan berjalan menghampiri sebuah meja yang ada di ujung ruangan. Dibukanya laci meja itu dan sebuah sirkuit untuk lift tergeletak di sana.

"Pasang ini," kata Gakupo seraya memberikan sirkuit itu pada Neru.

Neru bergegas memasang sirkuit itu pada tempatnya.

"Bagaimana Gumi bisa melepas sirkuit ini? Dia benar-benar suka cari masalah," gumam Neru.

Gakupo dan Haku hanya tersenyum simpul.

"Sekarang lift sudah berjalan kembali. Gakupo! Kau harus menghukum adikmu itu karena masalah ini. Kalau tidak nanti bisa-bisa dia membakar sekolah ini. Dia kan selalu berbuat yang aneh-aneh. Dulu saja dia menciptakan password untuk pintu otomatis sampai-sampai semua murid tidak bisa masuk ke dalam gedung sekolah," protes Neru.

"Hahahaha.. Iya, akan kulakukan," jawab Gakupo sekenanya. Diapun berjalan keluar ruangan.

.

.

.

Sementara itu di lobbi sekolah beberapa murid yang baru datang menunggu di depan lift yang kabarnya sudah bisa dioperasikan. Di antara murid-murid itu ada Teto dan juga Mikuo. Teto berbicara akrab dengan Mikuo.

"TING.." pintu lift terbuka.

Para murid melihat ke dalam lift. Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.

"APA-APAAN INI!" teriak para murid itu hampir bersamaan.

Sudah dimulai..kata seorang gadis dalam hati. Terlihat seorang gadis dari kejauhan. Gadis itu memperhatikan semua yang terjadi.

TBC


Preview Ch. 5

(Gakupo dan Mikuo..)

"Sepertinya jawabanmu tidak ya Kaito, baiklah..tidak apa-apa."

Mikuo melihat ke arah Gakupo.

"Gakupo, bisa bicara sebentar?" tanya Mikuo.

"Boleh."

(Gumi, Gakupo, dan Mikuo..)

"Kalau kalian mengikuti perintahku, aku tidak akan membongkar rahasia kalian," kata Gumi santai.

"Apa!" teriak Gakupo dan Mikuo bersamaan.

(Kaito dan Len..)

Kaito berjongok di depan Len.

"Biarkan aku menggendongmu. Ayo, naiklah ke punggungku," suruh Kaito.

"Eh?"

(Kaito dan Len..)

"Tidak, aku tidak suka mereka."

"Kaito-nii, jangan-jangan kau…?"


makasih semua...yg udah baca chapter 4..terlalu singkat ya?

untuk chapter 5 akan segera kuselesaikan

silahkan kalau ada yg mau review..