Minna! Gomenasai telat lagi Update, manalagi waktunya tabrakan sama fic I Will Protect you.
Maafin Suki ya, akhir2 ini telat update terus. Tugas numpuk+ulangan+project naskah+...+...+...dan lain-lain.
Minna masih mau baca Fic ini kan? iya kan? iya kan? iya kan?
Pokonya makasih banget yang mau review ya. Maaf gak ada balesan dulu, hehehehe. ^_^
Oke Happy Reading.
Disclaimer : Nakamura Shungiku-sensei
Warning : sho-ai, sedikit OOC, OC, GaJe, angst, dll.
Rate : T
I DO NOT OWN SEKAIICHI HATSUKOI AND I WARNED YOU!
TRY TO REMEMBER, RITSU!
By : Sukikawai-chan
Chapter 3 : It's Hurt
"Bisakah kau melupakanku?"
"Eh?"
.
.
.
Untuk seperkian detik waktu berjalan, Takano hanya diam mematung di tempatnya. Ia tidak menjawab. Tidak menolak. Dan tidak merespon. Takano berusaha membiarkan sensor-sensor otaknya berjalan dan menerima 3 kata yang masuk ke dalam telinganya dan disalurkan menuju otak.
Bisakah
Kau
Melupakanku
Pertanyaan itu ambigu. Melupakan apa? Ingatannya? Siapa dirinya ini? Atau, perasaan cintanya?
"Aku tidak mengerti maksudmu, Ritsu." Takano tertawa masam, berusaha bangun dari mimpinya. "Apa yang sebenarnya kau bicarakan?"
Sebagian hati Ritsu ingin menyembunyikannya namun sebagian hatinya lagi ingin meneriakannya. Ia ingin mengatakan kalau Takano tidak perlu mengingat semua tentang dirinya termasuk perasaan cintanya. Ia ingin bilang kalau Takano lebih baik melupakannya. Karena Ritsu tahu, cepat atau lambat, ia juga akan melupakan semua itu. Tidak peduli sekeras apa Ritsu menolaknya. Namun, melihat Takano yang kebingungan akan permintaannya, membuat hati Ritsu perih kembali. Rasa sakit itu datang lagi dan mengoyak-ngoyak hati Ritsu tanpa ampun. Rasa sakit dan perih di hatinya karena Ritsu harus menerima kenyataan pahit yang melanda dirinya.
"Maaf, sepertinya aku membuatmu bingung." Ritsu berjinjit lalu menyentuh kedua pipi Takano dengan tangannya, rasa hangat langsung menjalari tubuh Takano. "Tidak perlu pikirkan kata-kataku tadi. Aku hanya bercanda. Kalau begitu, sampai jumpa besok Takano-san. Oyasumi," selesai berkata seperti itu Ritsu langsung melepaskan kedua tangannya, berbalik, lalu berjalan menuju pintu apartemennya.
"Tunggu!" dengan sigap Takano langsung menarik pergelangan tangan Ritsu dan nyaris membuat orang yang ditariknya terjungkal ke belakang jika tidak dengan sigap tangan Takano yang lain menyangga tubuh Ritsu. Yang Takano inginkan saat ini adalah membuat tubuh Ritsu berhadapannya dengannya.
"Apa maksud perkataanmu tadi?" Tanya Takano gusar,
"Takano-san sakit! Lepaskan aku," rengek Ritsu ketika merasakan sakit di pergelangan tangannya. Takano melonggarkan cekalannya, tapi tidak melepaskannya.
"Cepat jelaskan padaku, apa maksud perkataanmu tadi?!" Tanya Takano lagi.
"Sudah kubilang lupakan saja,"
"Jangan berbohong, Ritsu! Kau tidak pintar berbohong, sekarang kau jelaskan semuanya sebelum aku…"
"Takano-san," dengan enggan Takano menghentikan ucapannya karena Ritsu memanggil dirinya lembut, "Bukankah kau sudah berjanji padaku?"
Takano mematung. Ia menyesali perbuatannya itu. Jika permintaan Ritsu absurd seperti itu, Takano tidak akan pernah mau menerimanya seumur hidup. Bahkan memikirkannya ia tidak bisa.
"Jangan bodoh! Kau tiba-tiba memintaku melupkanmu tanpa kutahu alasan sebenarnya?! Apa kau berpikir aku akan menepatinya begitu saja?! Apa kau pikir aku akan melakukannya dengan senang hati?! Kau anggap apa perasaanku selama ini?!"
Oh, demi Tuhan! Tak bisakah Takano menghentikan pertanyaan menyakitkan yang bertubi-tubi seperti itu? Apalagi menyangkut perasaan Takano sendiri! Apakah laki-laki itu berpikir kalau dirinya ini sedang mempermainkan perasaannya? Yang benar saja! Sampai kapan pun, Ritsu tidak akan berani mempermainkan perasaan Takano, ia tidak akan sudi melakukannya apalagi sampai menyakiti hati Takano. Tapi….jika Ritsu terus menahan Takano bersamanya, bukan tidak mungkin pada akhirnya Ritsu tetap akan menyakiti hati Takano. Sebesar apa pun Ritsu berusaha tidak melakukannya, pada akhirnya, Ritsu tetap akan melakukannya.
"Takano-san…." Dengan perlahan Ritsu melepaskan cekalan Takano di pergelangan tangannya, "Aku minta tepati janjimu sebelum kau menderita karena aku,"
Ritsu tidak membiarkan Takano bertanya lebih jauh dan menuntut dirinya penjelasan. Ia tidak mempedulikan Takano yang memanggilnya ketika Ritsu menuju pintu apartemennya, membukanya sepat, dan menutupnya cepat sebelum Takano masuk. Tidak dipedulikannya ketukan dan teriakan Takano yang meminta untuk dibukakan pintu. Tidak dipedulikannya sebesar apa Takano akan marah. Tidak dipedulikannya perasaan sakit yang terus menggerogoti hat dan perasaannya. Dan tidak dipedulikannya air mata yang mengalir terhadap lubang besar yang menganga di dalam dadanya. Tempat hatinya dulu berada.
.
.
.
Takano menyadari perubahan sikap Ritsu terhadap dirinya.
Takano sadar kalau Ritsu berusaha menghindarinya. Ia tahu kalau Ritsu berusaha tidak membuat kontak mata dengannya. Bahkan dalam keadaan apa pun, Ritsu selalu berlindung di belakang Kisa jika kesempatan datang ketika Takano bisa berhadapan secara pribadi dengan Ritsu. Namun Ritsu selalu mencari alasan agar Takano tidak menangkapnya sendirian. Dan itu benar-benar membuat Takano kesal setengah mati.
"Bisa kulihat mood-mu sedang tidak bagus hari ini, Masamune."
Kertas-kertas manuscript yang dibersekan Takano terhenti seketika. Meeting untuk pencetakan manga di bulan depan baru saja selesai. Meeting yang penuh dengan perdebatan. Tapi hari ini Takano sangat malas untuk berdebat karena terlalu banyak pikiran, sampai-sampai ia tidak menyadari meeting sudah selesai.
"Kau mengejekku, Yokozawa." Itu bukanlah sebuah pertanyaan, melainkan pernyataan. Hari ini pun, Takano malas berteriak-teriak jika berbicara dengan Yokozawa.
"Apakah ada masalah lagi dengan pacarmu itu?" Tanya Yokozawa sarkatis, ia sudah tahu tentang hubungan Takano dan Ritsu. Jadi ia hanya perlu menerimanya dan melupakan perasaannya terhadap Takano.
"Entahlah, akhir-akhir ini ia selalu bersikap aneh. Selalu berusaha menghindariku," ujar Takano, entah mengapa ia jadi mengatakan sedikit permasalahannya.
"Bukankah dia memang selalu begitu saat di kantor. Kau juga yang selalu bersikap seenaknya ketika di depan karyawan lain."
Takano mendengus, "Kau membuat mood-ku makin lebih berantakan."
Yokozawa memutar kedua bola matanya. Memang benar ada yang aneh dengan sikap Masamune Takano hari ini. Terlihat tidak bersemangat.
Lalu, seperti tersadar dari mimpinya, Yokozawa teringat akan sesuatu yang telah mengganggu pikirannya akhir-akhir ini.
"Lalu, sebenarnya pacarmu itu sakit apa?"
Takano mengerutkan keningnya, kata 'sakit' yang didengarnya membuat perasaannya mejadi cemas. Terlabih karena kata itu ditujukan untuk Ritsu. "Sakit? Apa maksudmu dengan sakit?"
"Kau tidak tahu? Dua minggu yang lalu aku melihatnya di depan rumah sakit."
"Oh," Takano manggut-manggut, pasti hari dimana ia tidak bisa menemani Ritsu ke rumah sakit karena tingkah Ritsu yang aneh akhir-akhir ini. Pasti begitu maksud Yokozawa. "Aku memang menyuruhnya untuk pergi ke rumah sakit."
"Begitukah?"
Takano mengangguk yakin. Namun beberapa detik kemudian dahinya mengernyit, "Kenapa kau menanyakan tentangnya? Biasanya kau selalu bersikap tidak suka terhadap Ritsu."
Yokozawa terdiam. Sebenarnya, ada satu hal lagi yang mengganggu pikirannya. Satu hal yang ingin ditanyakannnya kepada Takano. Namun, entah mengapa, hatinya merasa ragu apakah Takano mengetahuinya ataua tidak.
"Yokozawa, kau pasti tahu seseuatu kan?" selidik Takano ketika melihat raut wajah Yokozawa,
"Eh?"
"Ceritakan padaku. Aku tahu ini menyangkut Ritsu," terdapat sorot mata sungguh-sungguh di kedua iris gelap Takano. Cemas, khawatir, serta ingin tahu. Mau tak mau, melihat kedua binar Takano seperti itu yang ditujukan untuk Ritsu, membuat hati Yokozawa sakit. Rasa cintanya terhadap Takano masih belum juga dilenyapkan oleh hatinya. Ia masih belum bisa melupakan Takano meskipun kini Kirishima selalu menghantui dirinya. Ia masih menyimpan perasaan untuk Takano, meskipun Yokozawa tahu perasaan itu tidak akan terbalas oleh Takano.
"Ada yang aneh ketika aku bertemu dengannya." Jeda sejenak, Yokozawa berusaha menemukan kalimat yang tepat, "Dia….seperti tidak mengingatku."
"Eh? Apa maksudmu?"
"Kebetulan saat itu aku berpapasan dengannya. Awalnya aku berpikir dia akan menyapaku seperti biasanya. Membungkuk lalu menyapa. Namun ia sama sekali tidak melukukannya, bahkan melihatku saja tidak. Padahal aku benar-benar berada di sampingnya. Tapi ia tidak memyadari kehadiranku."
Takano mendengarkan dalam hening.
"Setelah itu aku berpikir kalau sikapnya sangatkah tidak sopan. Karena kesal aku langsung menghampirinya dan berkata 'Beginikah sikapmu pada seorang atasan? Sangat tidak sopan.' Dan apa kau tahu apa yang terjadi Masamune?"
Takano tetap diam. Tiba-tiba saja jantungnya berdetak tak karuan.
"Dia bilang 'maaf, sebenarnya anda siapa?' ditambah dengan tampangnya yang polos seperti benar-benar tidak mengenalku. Tatapan bingungnya begitu jelas ketika melihatku. Lalu setelah itu, ia pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun."
Takano mematung. Terbukti benar, ia merasa aneh dengan sikap Ritsu akhir-akhir ini. Sikap Ritsu yang belum pernah dilihat dan dikenalinya. Diawali ketika Ritsu mulai lupa pada apa yang dikerjakannya, dimana menyimpan manuscript, lupa letak lantai dimana dirinya bekerja, lalu kemarin malam di depan pintu apartemennya Ritsu memanggil Takano dengan nama Saga-senpai, bahkan Ritsu bertanya padanya apakah lebih baik ia berhenti bekerja, tiba-tiba Ritsu yang menangis, dan….
Ritsu meminta dirinya berjanji untuk melupakan.
Melupakan Ritsu.
Bukankah itu aneh?
Semua itu tercetak secara random namun berhubungan dalam benak Takano. Berjalan seperti roll film. Seperti kepingan puzzle yang mulai menyatu dan menemukan bentuk aslinya. Takano tahu memang ada yang salah dengan diri Ritsu.
"Masamune, apa yang dikatakan Onodera ketika pulang dari rumah sakit?"
Takano menghela napas, lalu menjawab. "Ia bilang hanya kelelahan. Dokter menyuruhnya untuk istirahat,"
"Kau tidak menanyakannya langsung kepada dokter?"
Takano menggeleng pelan.
Yokozawa menarik napas panjang, lalu mengembuskannya denga berat. "Kau tahu, ada kemungkinan dia tidak menceritakan yang sebenarnya padamu. Lebih baik kau tanyakan langsung kepada dokter,"
Sebelum Takano merespon atau pun menjawab, Yokozawa menambahakan. "Dan biarkan aku ikut."
.
.
.
BRAAKK!
Takano berharap saat itu ia bisa berlari sekencang mungkin untuk menghindari kenyataan.
Takano berharap ia bisa memutar waktu ke masa lalu meskipun ia harus mengorbankan jiwanya.
Takano berharap ia ingin bisa hidup dalam mimpi sehingga tidak ada rasa sakit yang merangkak ke dalam hatinya.
Seperti sekarang ini, ketika ia bertemu dengan dokter yang menangani Ritsu, yang tentu saja ditemani Yokozawa, Takano lamgsung meminta penjelasan Dokter Yamada. Semuanya. Secara detail. Tanpa ada kebohongan, tanpa ada rekayasa, dan tanpa ada yang terlewati.
Namun, apa yang didengar Takano, bukanlah yang ingin didengarnya. Melainkan sebuah mimpi buruk.
Mimpi buruk yang tidak pernah terbayangkan oleh Takano.
"Jangan bohong! Katakan kalau semua itu hanyalah bercanda!" selesai mendengar penjelasan dokter Yamada di ruangan pribadi doter itu, tanpa sadar Takano menggebrak meja di depannya lalu membentak dokter lanjut usia itu. Tatapan matanya begitu nanar.
"Masamune! Jaga sikapmu itu!"
"Aku tidak peduli!" Takano melirik Yokozawa sekilas, mengisyaratkan agar laki-laki itu diam dan tidak ikut campur. Lalu matanya kembali terfokus pada dokter di depannya, "Katakan padaku kalau semua itu bohong. Katakan padaku kalau pasien yang bernama Onodera Ritsu tidak pernah menderita penyakit Alzhaimer!"
"Takano-san, hasil ronsen pada diri Onodera-san mengatakannya dengan jelas! Onodera-san divonis menderita penyakit Alzhaimer. Hasil ronsen tidak akan berbohong! Berapa kali pun kau mengulang hasil ronsennya, hasilnya akan tetap sama,"
"Pasti ada yang salah! Dokter, Onodera baru saja berumur 27 tahun, mana mungkin ia menderita penyakit Alzhaimer di usia muda sedangkan penyakit itu menyerang orang yang lanjut usia! Itu sangat mustahil,"
"Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, Takano-san. Onodera-san sudah harus menerima kenyataan ini. Penyakit alzhaimer telah menyerang tubuhnya, sedikit demi sedkit penyakit itu akan menyerang keadaan mentalnya lalu melaju pada fisiknya. Ia akan lupa pada hal di sekitarnya, orang-orang di sekelilingnya, bahkan dirinya sendiri. Lalu setelah itu, penyakit ini akan mengambil nyawanya."
Dengan cepat Takano menarik kasar kerah kameja yang dokter Yamada kenanakan, "Lalu kenapa kau mengatakan semua itu padanya?! Mengapa kau menceritakannya?! Kenapa kau tidak menyembunyikan semua itu darinya dan tidak segera memberitahuku!"
"Masamune, apa yang kau lakukan?! Cepat lepaskan!" beruntung saat itu Yokozawa bersamanya, karena ia bisa menarik Takano agar menjauh dari dokter Yamada. Untuk meredam emosi yang tersulut oleh amarah.
"Jika aku menyembunyikannya, hal itu akan menyakiti perasaan Onodera. Aku akan dilihat sebagai dokter yang buruk jika tidak memberitahukannya dan membiarkan Onodera hidup dalam kebohongan karena tidak tahu penyakit yang dideritanya. Itu sama saja kalau aku tidak mempercayai pasienku,"
Dengan kedua lengan yang ditahan Yokozawa, Takano menyahut lirih. "Tapi kenapa harus Ritsu? Mengapa harus Alzhaimer yang bersarang di tubuh Ritsu? Mengapa harus Ritsu yang mengalami semua ini? Mengapa? Mengapa?!"
Takano mengerti sekarang mengapa Ritsu memintanya untuk melupakan dirinya. Takano mengerti mengapa Ritsu selalu lupa. Takano mengapa Ritsu terlihat aneh. Demi Tuhan! Mengapa semua ini harus terjadi?
"Takano-san, apa kau mencintainya?"
Takano tertegun. Ia tidak menyangka dokter Yamada akan bertanya seperti itu.
"Ya, aku sangat mencintainya. Aku tidak bisa kehilangan dirinya. Aku tidak bisa hidup tanpanya."
"Aku tidak akan mengejek atau pun merasa jijik karena kau mencintai seorang laki-laki. Karena itu, aku mohon padamu untuk menerima semua kenyataan ini."
Takano tertawa sinis, menerima? Apakah ia akan semudah itu menerima ketika ia akan kehilangan orang yang dicintainya? Sudah sepuluh tahun Takano pernah kehilangan Ritsu dan itu membuat hidup dan hatinya begitu hancur. Lalu ini! Apa yang akan terjadi pada hidupnya jika Ritsu akan selamanya menghilang dan pergi darinya?
"Aku tidak bisa. Aku sangat mencintainya, aku tidak ingin ia melupakan semuanya."
"Aku mengerti perasaanmu, Takano-san. Tapi kau harus tahu penyakit Alzhaimer sangatlah mematikan. Tidak menutup kemungkinan, kalau Onodera akan melupakanmu."
Tidak. Takano tidak ingin hal itu terjadi. Takano tidak ingin Ritsu melupakan dirinya sebagaimana ia melupakan Ritsu. Ia tidak ingin Ritsu melupakan rasa cintanya. Bagaimana pun juga, Takano tidak ingin Ritsu lupa akan perasaannya.
"Penyakit ini benar-benar tidak ada obatnya?" kini giliran Yokozawa yang bertanya, melihat Takano yang frustasi di depannya, membuat hatinya meminta sebuah harapan. Sekecil apa pun harapan itu. Berharap untuk Takano.
Dengan lemah, dokter Yamada menggeleng. "Tidak ada. Obat yang kuberikan kepada Onodera-san hanya berguna untuk mencegah penyakit ini cepat menyarang, bukan untuk menyembuhkan."
Satu harapan hilang.
"Aku mohon dokter…." Takano menutup wajahnya dengan kedua tangannya, "Bagaimana pun caranya, aku mohon….sembuhkanlah Ritsu. Aku mohon, jangan membuatnya menderita seperti ini. Aku tidak ingin kehilangannya, aku tidak ingin ia pergi, aku tidak bisa hidup tanpanya. Aku mohon….."
"Masamune….."
Dokter Yamada menutp kedua matanya, terdiam sejenak berusaha mengangkat beban pikirannya, setelah itu ia membuka matanya kembali dengan perlahan.
"Maafkan aku, Takano-san. Sudah kulakukan apa yang kubisa, tapi aku belum bisa menyembuhkan penyakit Alzhaimer."
Takano menekankan talapak tangannya di depan dada. Lalu mencengkeram erat kameja yang dipakainya. Berusaha menerobos sehingga ia bisa mengambil hatinya saat ini.
Sakit.
.
.
.
Ritsu menatap pandangan di depannya dengan tatapan kosong. Kereta yang ia tunggu masih belum tiba. Perasaannya saat ini begitu campur aduk. Namun perasaan sakit-lah yang paling dalam ia rasakan. Ia tidak menyadari seseorang yang tengah melihat dirinya dengan tatapan kaget sekaligus rindu. Lamunannya buyar ketika sebuah tangan menepuk bahunya pelan, dengan cepat Ritsu menoleh, dan saat itu juga tatapannya membelalak.
"Onodera-kun, sudah lama tidak bertemu."
"Shin?"
Gimana? gimana? Makin Gajekah Fic ini?
Angst-nya gak kerasa ya? memang di sini sih masih belum terlalu masuk ke dalam masalah.
Maaf ya kalo aneh. ^_^
Review tetap di tunggu. Ja nee...
