Naruto Masashi Kishimoto
Kau tidak menyukaiku? ghostgirl20
Main Pair SasuSaku
Warning gajeness, ide pasaran, abal, alur cepat, miss typo(s)
Akhirnya, chapter 4 jadi.
Makasih, untuk para pe-review yang sudah memberikan semangatnya. Aku sangat-sangat-sangat berterimakasih dan sangat menghargainya.
Untuk silent readers, aku mengharapkan review kalian! Menerima segala bentuk kritik dan saran, asal jangan nge-flame. Gak kuat aku...
Sama seperti yang kubilang kemarin. Disini, Sasu ooc. Karena setiap dia ketemu Shion, dia akan jadi seseorang yang berbeda. Hehe...
Ok! Let's check this out! Happy reading
Chapter 4 : Pengakuanku!
"Itu, ak-aku se-sebenarnya menyukai..."
"Menyukai...Ga-Gaara!"
JEDEERRR
Rasanya baru saja aku mendengar suara petir yang sangat keras. Bahkan bunyinya membuat detak jantungku seperti detak jantung orang yang lari 3 km tanpa berhenti.
"La-lalu?"
Kok Sasuke-senpai jadi gugup begitu. Wajahnya tidak tenang. Apa dia...?
"Aku-aku mau me-meminta tolong padamu...untuk menyerahkan surat ini pa-padanya! Kau kan sahabat dekatnya!"
Kenapa dia jadi gagap seperti salah satu teman kelasku, Hinata. Lagipula apa hubungannya dengan Sasuke-senpai? Kalau mau, dia bisa menyerahkannya sendiri, kan! Apa dia memanfaatkan kedekatan Sasuke-senpai dan Gaara-senpai, supaya Sasuke-senpai membantunya?
"Ah, begitu rupanya. Baiklah. Akan...kusampaikan!" Sasuke-senpai menerima sepucuk surat dari tangan Shion-senpai. Menggenggamnya. Wajahnya terlihat begitu terpaksa.
"Kalau begitu, aku pulang duluan ya Sasuke. Aku sangat berterimakasih!" Lalu Shion-senpai langsung pergi keluar meninggalkan Sasuke-senpai sendirian.
"Sudah selesai?" Kataku bergumam sendiri. Suaraku cukup lirih, aku yakin dia tidak mendengarku. Entah kenapa hatiku merasa lega. Karena ternyata tidak terjadi sesuatu seperti yang kubayangkan. Apa yang kubayangkan? Tentu saja aku membayangkan Shion-senpai menyatakan cintanya pada Sasuke-senpai! Aduh, apa sih yang kupikirkan?
Kuputuskan untuk segera meninggalkan tempat ini sebelum ketahuan. Aku mulai merangkak menuju pintu keluar di samping kananku.
Aku merangkak sambil mengendap-endap. Persis seperti maling yang takut ketahuan sedang mencuri.
Saat aku sudah hampir mencapai pintu keluar, sialnya kakiku menyenggol keranjang yang berisi penuh dengan bola basket. Akibatnya, salah satu bola jatuh dan memental beberapa kali sampai akhirnya berhenti di bawah kaki Sasuke-senpai.
Ya ampun! Kali ini matilah aku! Aku langsung bangkit dan berojigi.
"Maaf, senpai. Aku tidak sengaja melakukannya!" Kataku. Tapi kok dia hanya diam saja, ya? Dia termenung sambil melihat surat yang tadi diberikan oleh Shion-senpai.
Tiba-tiba dia mengambil bola itu dan melemparkannya keras ke arah papan ring basket yang ada di depannya.
BRAAAKK...CRINGG
"SIAL!" Teriaknya.
"KENAPA? KENAPA GAARA? KENAPA BUKAN AKU?"
Aku merasakan hatiku seperti dicubit. Jadi begitu. Dia menyukai Shion-senpai. Jadi ini arti dari semburat merah yang tadi kulihat.
Kemudian, tiba-tiba ia jatuh bersimpuh. Sambil meremas surat itu di pangkuannya. Aku langsung berlari mendekatinya.
"Senpai!" Panggilku. Aku menyentuh pundaknya yang lebar. Pundaknya berguncang. Seperti saat ia tertawa waktu itu. Tapi kali ini berbeda. Pundak itu jadi terlihat begitu ringkih.
"Senpai!"
Aku pindah ke depannya. Kuulurkan tanganku menyentuh kedua sisi wajahnya. Tapi kuurungkan.
Hatiku terasa sakit sekarang. Aku tidak tahu Sasuke-senpai yang cuek dan dingin bisa jadi seperti ini. Aku tidak tahan melihatnya. Tanpa aba-aba, tanganku sudah terulur memeluknya. Menariknya ke dalam dekapanku.
Aku sangat mengerti perasaannya. Aku memeluknya dengan erat. Mendekapnya dengan seluruh hatiku. Karena jika kulepas, aku takut kalau Sasuke-senpai akan hancur berkeping-keping.
Akhirnya aku mengakuinya!
Aku menyukainya.
.
.
.
.
.
Argh! Sudah berapa kali aku menghela napas begini. Seperti orang bodoh saja. Dan lagi, tadi aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghibur Sasuke-senpai. Yang kulakukan hanyalah memeluknya dan tidak sanggup berkata apa-apa.
"Sakura! Makan malam sudah siap, cepat turun!" Kaa-san itu suka sekali berteriak, ya!
"Iya, tunggu!" Jawabku.
Makan? Sebenarnya aku tidak selera makan. Kejadian 2 hari ini, sungguh membuatku pusing. Tapi kalau tidak makan, aku tidak punya tenaga untuk menghibur Sasuke-senpai.
Kuputuskan untuk makan. Tenagaku harus penuh, besok. Untuk siapa? Tentu saja untuk Sasuke-senpai.
"Kenyangnya!" Kataku sambil bersandar di sofa yang ada di depan TV. Tou-san sedang sibuk dengan pekerjaannya. Lalu Kaa-san juga sudah tidur duluan. Katanya sih, capek dan segala macamnya itu. Tinggal aku sendiri yang termenung disini.
Aku mengambil remote TV dan memencet tombol berwarna merah. Seketika, TV pun menyala. Beberapa kali aku mengganti channelnya, tapi tidak ada acara yang seru.
Tapi ada satu yang membuatku penasaran. Drama korea. Sekarang sedang booming, kan! Ino saja sering memintaku menemaninya hunting ke mall membeli dvd drama-drama korea yang terkenal menguras air mata itu.
Disini sedang diputar satu. Kucoba menikmatinya. Berhubung aku belum mengantuk.
Beberapa menit aku melihatnya. Mataku mulai tidak bisa diajak kerjasama. Akhirnya, kuputuskan untuk mematikan TV dan kembali ke kamar.
Jam menunjukkan jam 10 malam. Saat tiba-tiba, ponselku berbunyi. Melantunkan nada sms.
Kuraih ponselku yang berada di atas meja belajar dan membukanya.
From : Ino
Sakura, kau sudah tidur?
Aku segera membalas sms Ino. Mengetikkan jari lentikku pada layar ponsel touch milikku.
To : Ino
Belum. Kenapa?
Sedetik kemudian, ponselku berbunyi lagi. Karena ini sudah malam, dan entah kenapa aku merasa terganggu dengan nada smsnya. Akhirnya, kuganti profilnya menjadi silent.
From : Ino
Tadi kau kemana? Tiba-tiba kabur begitu. Saat kukejar, kau sudah hilang!
To : Ino
Gomen! Aku tadi kembali ke sekolah sebentar mengambil bukuku yang tertinggal!
Sejak kapan aku pandai mengarang seperti ini?
From : Ino
Oh, ya! Aku tadi bertemu Naruto-senpai di dekat sekolah. Dan dia mengajakku makan Ramen di Ichiraku. Sepertinya dia menyukaiku! ;)
To : Ino
Ya sudah! Kau jadian saja!
From : Ino
Maunya sih begitu. Tapi kan, malu kalau aku yang nembak duluan. Harga diriku kan tinggi! Hihihi...
Hah! Lagi-lagi tentang itu. Kalau suka ya jadian saja! Begitu saja di bikin repot. Kadang aku suka bingung sendiri dengan kelakuan Ino.
To : Ino
Kalau begitu tunggu saja! )
From : Ino
Lalu kau bagaimana? Sasuke-senpai keren, loh?!
Nah, ini dia yang tidak kusuka. Pembicaraan yang hanya akan membuatku semakin galau. Ino benar-benar tahu kapan merusak mood orang.
To : Ino
Begitulah! Sudah dulu, ya Ino. Kaa-san memanggilku!
From : Ino
Oh, baiklah. Jaa..
To : Ino
Jaa! Mata ashita
Bohong sekali! Kaa-san apanya. Kaa-sanku sudah hilang ke alam mimpi sejak tadi. Tapi baguslah dia mengerti. Kalau tidak, aku akan tetap terjebak di pembicaraan seputar Sasuke-senpai.
.
.
.
.
.
"Tumben, mau jalan kaki bersamaku?" Tanya Ino. Tadi pagi aku mengirim sms padanya agar berangkat bersamaku.
"Aku ingin saja!" Bohong! Aku sebenarnya punya maksud tertentu. Aku ingin bertanya padanya tentang bagaimana menghibur seseorang yang sedang patah hati.
"Ino, bagaimana ya caranya menghibur orang yang sedang patah hati?" Tanyaku tiba-tiba. Ino langsung berhenti berjalan mendengarku bertanya begitu.
"Kenapa kau bertanya begitu? Memangnya siapa yang patah hati?" Saking herannya, alis Ino naik sebelah. Lucu juga melihatnya penasaran.
"Bukan siapa-siapa. Aku hanya penasaran gara-gara melihat tayangan televisi kemarin. Aku melihat drama korea yang mengisahkan seorang gadis yang berjuang menghibur temannya yang patah hati!" Jelasku. Lagi-lagi aku mengarang indah tentang masalah ini. Tapi, biarlah. Daripada Ino mengetahuinya. Nanti malah jadi heboh.
"Ehm..." Ia sedang memeragakan pose Sherlock Holmes jika sedang berpikir. Satu tangan bersedekap di dada menopang tangan yang lainnya yang menyentuh dagunya sendiri.
"Coba saja kau mengajaknya ke taman hiburan!" Kata Ino.
"Bersenang-senang akan membuatnya melupakan sakit hatinya!" Lanjutnya.
Ha? Aku dibuat cengo oleh jawaban Ino. Aku jadi membayangkan bagaimana reaksi Sasuke-senpai saat aku mengajaknya ke taman hiburan.
"Apa tidak ada yang lainnya? Maksudku yang dekat-dekat saja. Tidak perlu jauh-jauh!"
"Ehm, apa ya?" Pikirnya lagi.
"Atap sekolah!" Pekiknya saat kami mencapai gerbang sekolah.
"Hah?" Duh, apa sih yang dipikirkan anak ini?
"Iya. Di atap sekolah biasanya digunakan oleh murid yang sedang sakit hati untuk melampiaskan kekesalan. Coba saja!"
"Maksudmu seperti di film, berdiri di pagar pembatas dan berteriak seperti orang gila?"
"Iya, mungkin juga. Atau sekedar merasakan angin yang menerpa wajah juga bisa! Perasaan dan pikiran akan lebih tenang setelah itu. Aku pernah mencobanya!" Katanya dengan wajah serius.
Aku menimbang-nimbang sejenak usulan Ino tadi. Atap sekolah? Mungkin bisa berhasil. Tapi kalau teriak-teriak, apa tidak jadi gawat, ya?
.
.
.
.
.
Rencananya saat pulang sekolah nanti, aku akan mengajak Sasuke-senpai ke atap sekolah. Tapi bagaimana caranya, ya?
"Dor!"
"Ino. Kau usil sekali!"
"Siapa suruh kau melamun!"
Aku melengos dan memasang wajah manyun padanya.
"Ini, roti melon, kan?"
"Un. Terimakasih!"
Kantin saat ini sedang penuh. Dimana-mana terlihat gerumbulan murid-murid yang mengantri makanan. Untung ada Ino. Dengan cara liciknya -menyerobot antrian dengan berteriak-teriak- aku dan dia bisa kebagian makanan. Tanpa perlu repot-repot menunggu.
"Naruto, jangan tarik-tarik!"
"Kalau begitu, cepat! Nanti kita tidak kebagian makanan! Aku ingin sekali roti melon yang dijual disana itu!"
"Ya, sudah kau kesana saja!" Itu Sasuke-senpai. Dia terlihat kesal karena Naruto-senpai menarik-narik tangannya. Tidak! Menyeret lebih tepat.
Aku dapat melihat Naruto-senpai yang berjuang mendapatkan roti melon di tengah kerumunan orang lapar.
"BIBI. AKU BELI ROTINYA SATU!"
"Baka. Jangan teriak di telingaku!" Tegur Sasuke-senpai sambil menutup satu telinganya. Aku terkikik geli melihatnya.
"Sudah habis. Rotinya sudah habis. Besok baru akan ada lagi!" Kata bibi penjual roti itu.
"APA? Argh, ini gara-gara kau Sasuke!"
"Kenapa gara-gara aku? Kau yang bodoh!"
"Tidak! Ini karena jalanmu yang lambat! Teme!"
"Naruto-senpai!" Panggil Ino sambil melambaikan tangannya. Aku tersentak kaget. Mau apa dia memanggil mereka. Nanti aku ketemu dengan Sasuke-senpai! Aku masih belum mempersiapkan hatiku!
"Oh, Ino-chan!" Sejak kapan dia memanggil Ino dengan suffiks chan? Mereka semakin dekat saja. Naruto-senpai terlihat senang melihat Ino. Beda dengan Sasuke-senpai yang mengerutkan alisnya tanda tidak suka. Mungkin karena tangannya masih ditarik-tarik oleh Naruto-senpai.
"Naruto-senpai kenapa tadi?" Tanya Ino sok perhatian. Mereka sudah duduk di depan kami sekarang.
"Aku tidak kebagian roti melon yang dijual bibi disana itu!" Keluhnya. Benar-benar seperti anak kecil. Atau memang seleraku yang lebih suka cowok seperti Sasuke-senpai, ya? Dingin, cuek dan membuat hatiku nyut-nyutan.
"Oh, roti melon? Aku punya satu, kalau segitu maunya senpai bisa makan punyaku!"
"Benarkah, Ino-chan? Ah, terimakasih sekali. Aku makan, ya!" Kata Naruto-senpai yang langsung merobek bungkus plastik roti itu dan melahapnya dalam satu gigitan besar. Cukup aku melihat kedua insan yang sedang jatuh cinta ini.
Sekarang tentang rencana mengajak Sasuke-senpai ke atap sekolah. Tapi kok rasanya agak aneh, ya? Teriak-teriak atau merasakan semilir angin di pagar pembatas atap sekolah. Sasuke-senpai bukan orang yang bisa teriak-teriak tanpa alasan yang jelas, kan? Apa benar perkataan Ino bisa dipercaya? Apa bisa aku melancarkan aksiku?
Takut-takut kulirik Sasuke-senpai yang sedang duduk di samping Naruto-senpai. Untung, dia tidak sedang melihatku juga.
Kutatap manik matanya yang sedang mengamati antrian panjang di sebuah stand makanan. Sedikit tersenyum aku jadinya. Wajahnya begitu tenang. Tapi seketika, aku kembali teringat kejadian kemarin.
Saat itu, aku yang tidak tahan melihat Sasuke-senpai yang patah hati, langsung memeluknya.
Aku berusaha menenangkannya. Sampai akhirnya, ia melepaskan pelukanku.
"Tolong rahasiakan tentang ini!"
Aku mengerti sekali, kenapa dia memintaku untuk merahasiakan hal itu. Dan aku tidak akan mencercanya dengan berbagai pertanyaan kenapa dia melakukan itu. Walaupun dalam hati, rasanya ada gejolak yang membakar batinku.
"Sakura? Kau melamun lagi!" Teguran Ino menyadarkanku dari lamunan. Dan saat aku mendongak, aku melihat Sasuke-senpai tersenyum.
Tipis sekali. Dan ketika aku menolehkan kepalaku ke arah yang dilihat Sasuke-senpai. Rasa panas di hati dan mataku datang lagi.
Tentu saja, ia tersenyum hanya dengan melihat Shion-senpai. Padahal setahuku, orang ini irit ekspresi. Shion-senpai terlihat sedang mengobrol dengan temannya di ujung antrian stand yang menjual makanan ringan.
Kenapa aku merasa tidak berdaya seperti ini? Aku merasa seperti orang yang kalah sebelum berperang.
"Sasuke! Kau kenapa? Melamun lagi! Sudah berapa kali kau melamun? Aku sampai bosan menyadarkanmu!"
Tampaknya Sasuke-senpai tidak menggubris kata-kata Naruto-senpai. Dia masih asyik melihat gadis idamannya. Argh! Kenapa kata-kataku provokatif begini!
"Sepertinya ada yang salah dengan, Sasuke-senpai," bisik Ino padaku. Aku hanya bisa diam dan mencoba tidak mempedulikannya. Karena aku tahu apa yang sedang dialaminya. Kalau tidak, hatiku bisa hancur seperti sepatu kaca cinderella yang dilempar dari menara Tokyo.
.
.
.
.
.
"Sakura, aku pulang duluan, ya!" Kata Ino sambil buru-buru membereskan peralatan sekolahnya saat bel pulang sekolah berbunyi.
"Memangnya ada apa?" Tanyaku khawatir. Dia tampak gelisah.
"Tadi ibu mengirim sms padaku. Katanya paman Jiraiya meninggal!"
"Apa? Pamanmu yang tinggal di Oto itu?" Tanyaku yang ikutan khawatir. Tidak disangka pamannya Ino yang berambut putih dan jabrik itu meninggalkan dunia lebih cepat. Padahal orangnya baik dan lucu.
"Iya. Aku disuruh cepat pulang. Jaa!" Ino langsung saja berlari kencang keluar dari kelas. Sampai-sampai ia menabrak Kiba yang sedang membawa tumpukan buku yang harus diletakkan di meja guru.
"Hei, hati-hati Ino!" Kata Kiba. Ia masih mengomel sambil merapikan buku-buku yang jatuh berserakan di lantai. Lalu aku melihat Tenten membantu Kiba, ikut memunguti buku-buku itu. Sepertinya, banyak benih-benih cinta bertebaran belakangan ini.
"Aku jadi pulang sendiri, deh!" Dengan malas, kumasukkan semua barangku ke dalam tas dan menjinjingnya.
"Sakura!" Panggil seseorang padaku saat aku sudah berada di depan kelas. Aku menoleh dan ternyata yang memanggilku adalah Kakashi-sensei.
"Ada apa Kakashi-sensei?" Kataku.
"Bisakah aku minta tolong padamu? Catatkan semua barang yang ada di gedung olahraga. Lalu berikan padaku setelah selesai. Aku sedang banyak urusan!" katanya.
"Kok aku, sensei? Kenapa tidak anak laki-laki saja?" Tanyaku. Bukan maksudku menolak. Tapi, masa aku disuruh menginventarisasi peralatan olahraga. Anak laki-laki kan lebih mengerti hal begituan. Makanya, kebanyakan guru olahraga adalah laki-laki.
"Ya, berhubung kau yang kulihat duluan, jadi aku minta tolong padamu! Bisa, kan? Lagipula, anak perempuan biasanya lebih teliti!" Katanya. Huh! Memakai kata-kata manis untuk meminta bantuan. Dasar guru curang!
"Baiklah. Aku akan melakukannya. Kalau sudah selesai akan kuletakkan di meja sensei!"
"Baiklah, terimakasih banyak!" Katanya lalu melenggang pergi setelah menyerahkan sebuah buku padaku.
.
.
.
.
.
"Hah, akhirnya aku tidak jadi mengajak Sasuke-senpai ke atap sekolah!" Gumamku. Saat ini, aku sedang berjalan menuju gedung olahraga. Namun, saat semakin dekat, aku bisa mendengar suara orang sedang bermain basket dari dalam gedung olahraga.
Apa itu Sasuke-senpai? Aku penasaran dan langsung saja berlari ke dalam.
Aku melihat Sasuke-senpai sedang berlatih basket. Dia masih memakai seragamnya. Tapi, kemeja putihnya sekarang sudah basah karena keringat. Rambutnya pun juga terlihat basah.
Indah memang. Tapi saat ini yang aku khawatirkan adalah ekspresinya. Ekspresi terluka, tapi mencoba tegar. Itulah yang kutangkap.
DAK..
Bola basket yang dilemparkannya itu tak berhasil masuk ring. Hanya menabrak papan ringnya saja.
DAK...
Lagi. Hal yang sama terjadi.
DAK
Lagi
DAK
Lagi
DAK
Lagi dan lagi. Akhirnya dia kelelahan dan menidurkan tubuhnya ke lantai.
Ayolah, apa tidak ada yang bisa kulakukan? Aku ingin sekali menghiburnya dan mengatakan bahwa dia tidak perlu bersedih. Aku bisa menjadi temannya. Walau aku akan terluka bila ia menceritakan tentang rasa sukanya pada Shion-senpai. Tapi aku siap menjadi sandarannya. Walaupun dia tidak membalas perasaanku. Tidak masalah, karena aku suka padanya dengan tulus.
Aku berjalan mendekatinya.
"Sasuke-senpai!" Panggilku.
-tsuzuku-
Don't forget, to reviews !
Special thanks to
iqma96
hanazono yuri
hidan gila
pertiwivivi2
desypramitha2
arigatou gozaimasu
